Hola MInna!

Saya kembali datang memenuhi fandom ini dengan karya saya yang luar biasa ancur ini. Mohon dimaklumi. Hehehehehehe

DISCLAIMER :TITE KUBO

RATE : M (For Safe)

WARNING : OOC, AU, MISSTYPO, Cerita Gak Menarik, Pasaran, Gaje!

.

.

.

"Nii-san kenal wanita itu waktu SMA?" tanya Ichigo setelah masuk ke ruangan Kaien. Sikap kakaknya selalu saja santai. Tidak ada yang berubah darinya meski dia adalah seorang Direktur di perusahaan ayahnya.

"Kan sudah kubilang dia teman SMA-ku. Kau tidak dengar dia memanggilku Senpai? Ahh~ ternyata setelah sekian lama dia masih tetap terlihat cantik. Tidak kusangka." Gumam Kaien.

"Kalau begitu umurnya tidak lebih dari 30 tahun. Sudah terlalu tua."

"Disitulah letak menariknya wanita dewasa. Meskipun umurnya sudah 30 tahun, dia bahkan jauh lebih cantik dari ketika dia berumur 17 tahun. Ada beberapa wanita yang makin tua makin cantik. Seperti Kuchiki itu contohnya!"

"Jadi... Nii-san suka padanya?" tembak Ichigo.

"Hah? Tentu saja. Aku 'kan laki-laki normal. Kau tadi juga bilang dia cantik 'kan? Kalau begitu bersiaplah. Mungkin dalam waktu dekat ini... dia bisa jadi kakak ipar untukmu."

Entah kenapa mendadak Ichigo tak suka gagasan itu.

.

.

*KIN*

.

.

Shiba Kaien adalah sepupu dari Ichigo. Setahun sebelum orangtua Ichigo menikah, Isshin mengangkat anak dari saudaranya yang meninggal dunia. Karena kasihan tak punya orangtua, akhirnya Isshin membawanya masuk ke keluarga Kurosaki sampai akhirnya Isshin menikah. Saat Isshin membawa Kaien, umurnya masih 12 tahun. Isshin tidak memaksa Kaien untuk mengubah nama keluarganya. Dia tidak punya alasan untuk itu. Isshin juga senang jika, Kaien lebih menyukai nama yang diberikan orangtuanya dulu. Dan itu agar dia tidak lupa siapa dirinya. Setelah Ichigo lahir, Kaien begitu senang karena bisa mendapat seorang adik. Jadilah Kaien dan Ichigo kakak beradik yang berbeda umur yang terpaut jauh. Tapi tak lantas perbedaan itu membuat keduanya berbeda. Karena entah mengapa, mereka cenderung menyukai hal yang sama. Mulai dari hobi nonton sepakbola, tim kesayangan yang sama, sepeda yang sama dan perlu diingat, Kaien dulu juga memakai sepeda saat masih sekolah. Kaien lebih suka hidup sederhana. Dan dia selalu berusaha untuk tidak menyusahkan paman yang sudah dia anggap ayahnya sendiri. Maka dari itu selama sekolah, Kaien selalu mendapatkan beasiswa.

Dia tidak mau menyusahkan siapapun.

Dan ternyata hal itu menurun pada Ichigo. Ichigo begitu sayang pada orang yang dia anggap kakak ini meski tidak sedarah. Karena itu, Ichigo cenderung menuruti apapun yang Kaien lakukan. Tapi belakangan mereka mulai jarang bertemu dan membuat Ichigo agak kesepian. Tepatnya semenjak Kaien memutuskan masuk perusahaan. Mereka tak punya lagi waktu bersama. Tapi tentunya kebiasaan mereka tetap masih sama satu sama lain. Tidak pernah berubah. Dan entah mengapa... untuk kali ini... Ichigo merasa sedikit aneh.

Katanya wanita itu adalah adik kelas kakaknya waktu SMA dulu. Dan terlebih lagi wanita itu kelihatannya begitu gembira bertemu lagi dengan kakaknya. Entahlah... rasanya ada yang aneh saja. Selama ini Ichigo tak pernah mendengar kakaknya membicarakan seorang wanita manapun. Bahkan berkomentar wanita mana yang cantik dan berkelas. Dia juga selalu menolak setiap kali ayahnya menyuruh mengikuti kencan buta. Yang Ichigo tahu, seorang Shiba Kaien, jarang melirik wanita manapun. Dan ini adalah hal yang sangat aneh.

Karena Shiba Kaien mulai membicarakan seorang wanita bernama Kuchiki Rukia.

.

.

*KIN*

.

.

Rukia mulai merasa tidak nyaman. Ada kakak kelasnya di sini. Meskipun di satu sisi dia senang bahwa boss langsungnya adalah orang yang dia kenal, Rukia jadi tidak perlu memasang sikap. Tapi di satu sisi dia jadi khawatir kalau rencananya tidak berjalan sesuai keinginannya. Ini tidak bagus. Sebaiknya apa yang Rukia lakukan? Apakah dia akan tetap pada rencana awal, atau mulai menghentikan keinginannya sebelum terlambat? Karena bagaimanapun... dia tidak mau kakak kelas yang dihormatinya itu tahu siapa dirinya dan... siapa Presdir itu.

Beberapa hari ini, Rukia sibuk rapat pribadi dengan Presdirnya. Itu adalah salah satu rencananya. Dia memang sengaja. Dan Presdirnya memang selalu mencari waktu luang untuk bicara dengan Rukia. Sejauh ini, Kaien belum curiga dan menampakkan kesan aneh. Masih terkesan wajar seorang GM bertemu dengan Presdir. Bukankah semua urusan ada pada GM? Dan Presdir berhak tahu. Sedangkan Direktur hanya berusaha untuk menyesuaikan perintah Presdir. Rukia masih bisa bersikap profesional. Baginya tidak sulit untuk berurusan seperti ini. Rasanya memang tidak sulit.

Dan perlahan, Rukia mulai tahu kebiasaan Presdirnya ini. Tapi... Rukia juga ingin tahu... sebenarnya bagaimana awal mula hubungan kakaknya dengan Presdirnya ini. Bagaimana pada akhirnya mereka berbuat demikian dan... sampai melanggar batas sejauh itu. Rukia ingin menyalahkan kakaknya yang tidak bisa menjaga diri. Tapi kalaupun kakaknya yang memang bersalah, bukankah ada seseorang lagi yang lebih bersalah. Orang yang memulai peluang kesalahan itu. Orang yang menjerumuskan kakaknya hingga sejauh ini. Lalu apa yang sebaiknya Rukia lakukan jika pada akhirnya dia tahu kebenarannya?

Siang ini juga, Rukia kembali makan siang dengan Presdir-nya. Seperti siang-siang biasanya. Memang terlalu aneh bagi Rukia yang makan siang bersama dengan seorang Presdir setiap hari jika tidak ada klien tentunya. Tapi Rukia juga tak bisa menolak itu. Situasinya memang seperti ini. Dan saat ini, Rukia sedang menjelaskan proposal yang akan dia ajukan untuk musim dingin bulan depan. Tapi ada yang janggal rasanya...

"... kalau kita bisa mengajukannya lebih dulu sebelum akhir bulan ini. Apa Anda menyimak saya Presdir?" tutup Rukia seusai membacakan proposal awal rencana proyeknya bulan depan. Walaupun Rukia tak melihat Presdir-nya langsung, tapi Rukia tahu pria ini sama sekali tidak memperhatikannya, melainkan hanya melihat wajahnya saja. Rukia menyadari hal itu. Tapi dia masih berpura-pura tidak tahu. Kalau sampai Presdir-nya mengelak bagaimana? Lebih baik dia menangkap basah saja'kan?

"Oh... aku menyimak. Usulmu sangat bagus dan terencana. Kita bisa memulainya minggu depan." jawab Isshin menanggapi penjelasan Rukia di awal tadi.

"Tapi sepertinya Anda tidak begitu. Kalau Anda benar menyimak saya, apa Anda tahu judul proposal saya?" tanya Rukia sopan sambil memasang wajah tersenyum. Dan Isshin langsung terdiam dan bingung. Jujur saja dia memang lupa judul proposal itu. Akan jadi aneh kalau Isshin tidak tahu judulnya tapi menanggapi isi proposal itu.

"Bercanda Presdir. Jangan seserius itu. Saya percaya kok. Memang apa yang Presdir bayangkan dari tadi? Istri Anda?" tebak Rukia asal. Itu bagus sebagai pertanyaan pancingan. Apakah benar Presdir-nya ini lebih memilih istrinya atau...

"Istriku sudah meninggal 7 tahun yang lalu." Dan itu adalah jawaban tak terduga dari Presdirnya. Istrinya... maksudnya?

Rukia yang awalnya hendak mengambil gelas minumnya jadi menaruhnya kembali dan menatap penuh tanya pada Presdir-nya ini. Jadi maksudnya...

"Istriku sudah meninggal 7 tahun lalu karena kecelakaan. Saat dia meninggal aku sungguh merasa bersalah padanya. Bahkan sampai sekarang aku masih bersalah padanya. Aku membuatnya hidup menderita dan mengkhianatinya. Aku benar-benar tidak tahu kalau ternyata berakhir seperti ini. Aku hanya... maaf aku membuatmu jadi mendengar ceritaku."

"Tidak apa Presdir. Tapi... apa maksud Predir dengan mengkhianatinya? Maaf kalau saya lancang menanyakan ini. Kalau Presdir merasa pertanyaan saya tidak pantas Anda jawab, Anda tak perlu menjawabnya."

Diam-diam Rukia menghembuskan nafas kesal. Tangan kanannya yang berada di bawah meja makan itu tiba-tiba terkepal erat. Rasanya buku jarinya memutih karena terlalu kencang mengepalkan tangannya. Ternyata dia bicara jujur di depan Rukia. Bahwa dia... mengkhianati istrinya. Apakah ini ada hubungan dengan kakaknya?

"Jauh sebelum mengenal istriku, aku sudah pernah jatuh cinta dengan seorang wanita. Dulunya wanita itu adalah sekretaris pribadiku. Saat itu aku belum menikah. Kami menjalin hubungan yang cukup serius. Tapi... mendadak aku dijodohkan dengan istriku yang sekarang. Begitu tahu masalah ini, wanita itu pergi dan tidak pernah muncul lagi. Aku kehilangan kontak dengannya dan dia tak pernah lagi menghubungiku. Aku... ingin bertemu dia lagi."

PRANNGG!

Entah kenapa, gelas yang dipegang Rukia jatuh berkeping di lantai. Matanya terbelalak tidak percaya.

"Ada apa? Apa yang terjadi denganmu?" tanya Isshin panik melihat wajah GM-nya yang aneh itu.

"Maafkan saya. Saya... perlu ke toilet."

Rukia segera menunduk dan pergi dari hadapan Presdirnya itu. Beberapa pelayan datang dan membersihkan pecahan gelas itu.

Rukia sampai di toiletnya. Dan untungnya sepi. Apa katanya tadi? Ingin bertemu? Jadi... ini yang terjadi. Jadi... ini...

Karena mendengar Presdir itu akan menikah dengan wanita lain, kakaknya langsung melarikan diri dan berakhir dengan kakak iparnya yang sekarang. Makanya kakaknya minta jangan lagi mencari orang brengsek yang bertanggungjawab akan kematiannya. Rupanya karena ini. Lalu kenapa kakaknya diam saja! Kenapa malah menghilang dan tidak menuntut apapun! Apa yang ada dalam pikiran kakaknya ini? Kenapa begitu bodoh!

Rukia mencuci wajahnya dan berkali-kali dengan air wastafel itu. Lalu bercermin dengan wajahnya yang basah itu. Seakan melihat apa reaksi kakaknya begitu mendengar Presdir yang pernah mencintainya itu akan menikah. Dan Rukia jamin, Presdir itu pasti masih mencintai kakaknya. Kalau dia sampai mengkhianati istri sahnya itu. Pria itu... menyakiti 2 wanita sekaligus! Bagus sekali!

Rukia... tak pernah akan memaafkan orang itu! Tak pernah sampai matipun! Bahkan Rukia rela ke neraka jika dia masih tidak bisa memaafkan orang itu! Hidup dalam penderitaannya yang sekarang adalah balasannya selama ini. Adalah... balasan yang setimpal!

.

.

*KIN*

.

.

"Kau yakin tidak apa-apa?" tanya Presdir-nya sekembalinya Rukia dari toilet. Wanita berambut hitam pendek itu kembali duduk di kursinya dan bersikap biasa.

"Maaf. Aku mungkin... agak tidak enak badan." Ujar Rukia.

"Oh, maafkan aku. Apa karena kau mendengar ceritaku?"

"Tidak Presdir. Saya masih baik-baik saja."

"Apakah... menurutmu... wanita itu masih mau menemuiku?"

"Saya... tidak tahu sejauh itu. Tapi... kenapa Anda membicarakan hal ini dengan saya?"

"Karena kau... mengingatkanku padanya. Wajah kalian mirip. Aku merasa melihatnya kembali begitu melihatmu."

Dan aku merasa melihat penderitaan kakakku selama ini begitu melihatmu. Bisik Rukia dalam hatinya.

Rukia tak bicara banyak lagi setelah saat ini. Mengetahui kenyataan yang begini saja sudah membuat Rukia muak. Dia semakin tidak percaya pada apa namanya itu cinta dan segalanya. Dia semakin benci dengan kenyataan bahwa cinta mampu mengorbankan segalanya. Rukia benci dengan pemikiran skeptis menyebalkan itu. Semuanya terasa klise dan omong kosong. Kalau memang Presdir-nya cinta dengan kakaknya, lalu kenapa dia mau menikah dengan perjodohan itu. Kalau memang Presdir-nya peduli pada kakaknya, kenapa dia tidak mencarinya. Kenapa membiarkan kakaknya menanggung dosa memalukan itu dan menderita bahkan sampai ajal menjemputnya. Rukia semakin tidak habis pikir. Apakah semua laki-laki seperti ini? Apakah seperti ini brengseknya?

.

.

*KIN*

.

.

"Ichigo. Berhenti sebentar," pinta Isshin malam itu. Dia sudah melihat anak sulungnya memasuki ruang tamunya. Masih dengan seragam sekolah pulang selarut ini. Isshin memang tidak sempat untuk mendidik dan memarahi kelakukan anaknya. Karena terlalu banyaknya pekerjaan. Dia hanya berharap, anaknya bisa baik-baik saja. Termasuk 2 anak kembar perempuannya.

Ichigo berhenti dan menyusul ayahnya. Sudah 7 tahun ini hubungan mereka tidak terlalu baik. Atau tepatnya setelah kematian ibunya. Sebelum kematian ibunya, Ichigo kecil saat itu sering mendengar ibu dan ayahnya bertengkar kecil di malam hari. Bahkan Ichigo mendengar ibunya menyebut wanita lain di dalam kehidupan ayahnya. Tapi Ichigo tak mau percaya itu. Dia belum melihat buktinya. Dan mereka selalu tampak baik setiap kali bertemu anak-anaknya dan orang lain. Hanya di malam hari ketika anak-anaknya sudah tidur. Dan itu hanya sekali Ichigo melihat mereka bertengkar kecil. Ichigo hanya kesal. Karena dia orang terakhir yang melihat ibunya meninggal. Dan tidak ada seorangpun didalam keluarganya yang menyalahkannya. Tidak ada. Hal itulah yang membuat Ichigo merasa sedikit kesal. Makanya dia jarang ada di rumah bila malam belum tiba. Dia... selalu merasa takut setiap kali akan pulang. Takut pulang sendirian tanpa ibunya.

"Ada apa Oyaji?" tanya Ichigo setelah dia bertemu ayahnya yang duduk di ruang keluarga.

"Sudah 7 tahun berlalu. Ada yang ingin kutanyakan padamu."

"Apa?"

"Ayah ingin... bertemu dengan... wanita itu." Kata Isshin pelan. Bermaksud untuk tidak mengagetkan. Ini sudah 7 tahun berlalu setelah kematian istrinya. Dan 17 tahun setelah terakhir kali bertemu dengan wanita itu. Butuh keberanian besar untuk jujur pada putra sulungnya. Dia tidak ingin dianggap sebagai ayah brengsek. Tapi lebih tidak ingin dianggap sebagai pria tidak bertanggungjawab. Isshin tidak ingin dibenci oleh anaknya sendiri.

"Apa? Wanita? Wanita mana maksud Oyaji?" tanya Ichigo bingung. Sebenarnya bukan bingung karena tidak tahu, tapi bingung apakah ada hubungannya dengan wanita yang pernah diributkan ibunya 7 tahun yang lalu.

"Seseorang yang pernah kucintai jauh sebelum Kaa-sanmu. Aku ingin―"

"Anggap Oyaji tidak pernah membicarakan ini." Potong Ichigo.

"Ichigo."

"Setidaknya pikirkan perasaan Kaa-san di surga sana! Memang Kaa-san sudah meninggal. Tapi... apa Oyaji benar-benar ingin membunuh Kaa-san dengan mengganti wanita lain di hidup Oyaji? Aku tidak pernah berpikir Oyaji akan mengganti Kaa-san dengan wanita lain. Dan aku... tidak akan pernah menerima wanita manapun. Aku juga tidak akan memaafkan wanita yang pernah Oyaji cintai itu. Karena wanita itu Kaa-san―"

"Ichigo! Kau tidak mengerti. Bukan wanita itu―"

"Cukup! Kumohon... cukup... jangan katakan apapun lagi. Atau aku benar-benar tidak akan pernah memaafkan wanita itu! Kalau Oyaji tetap ingin menemui wanita itu, biarkan aku pergi dari sini dan jangan anggap aku anakmu lagi!"

Setelah mengatakan hal itu Ichigo segera pergi meninggalkan rumahnya tanpa mengganti pakaiannya lagi. Kali ini dia tidak membawa mobil ataupun sepedanya. Dia hanya pergi dari sana dan tidak tahu mau kemana. Seumur hidup dia membenci wanita itu. Wanita yang membuat ayahnya mengkhianati ibunya. Wanita sial yang menghancurkan keluarganya. Ichigo tak akan sanggup memaafkan wanita itu seumur hidupnya. Meskipun belum pernah bertemu dan tak pernah tahu wanita itu seperti apa, tapi Ichigo tak pernah ingin melihatnya. Bahkan tidak ingin melihat wanita yang mirip dengannya. Tidak ingin!

.

.

*KIN*

.

.

"Kuchiki!" Rukia menoleh setelah keluar dari lift kantornya. Saat itu dia berada di lantai basement menuju mobilnya. Hari memang sudah malam. Dia terpaksa lembur karena harus konsentrasi mengejar proyek yang dia rencanakan. Tapi karena pembicaraan dengan Presdir-nya tadi siang itu yang menghambatnya. Otaknya masih tidak bisa bekerja dengan baik. Rasanya apapun yang Rukia kerjakan tidak ada yang beres. Dan sekarang, Rukia melihat mantan kakak kelasnya itu berlari kecil menuju ke arahnya.

"Senpai? Apa yang Senpai lakukan disini?"

"Hhh... larimu cepat juga ya? Aku hanya agak khawatir denganmu. Apa kau tidak enak badan?" tanya Kaien. Rukia dengan cepat meraba wajahnya sendiri. Apakah sejelas itu? Sepertinya Rukia tadi juga terlihat lesu. Wajar saja.

"Ahh~ tidak senpai. Aku baik-baik saja. Senpai jangan cemas."

"Bagaimana kalau aku mengantarmu pulang? Aku bawa mobil." Ujar Kaien sambil menunjuk jempol kirinya ke arah belakang.

"Terima kasih. Aku juga bawa mobil. Aku baik-baik saja. Sungguh Senpai."

"Kau tidak boleh menyetir dengan keadaan begitu. Kau juga tidak boleh menolak kebaikan Senpaimu ini! Dan satu hal lagi, kau tidak boleh menolak perintah Direktur!"

"Tapi Senpai. Ini sudah malam. Aku tidak enak. Bagaimana kalau lain kali saja?"

"Tidak! Harus hari ini. Mobilmu tinggalkan saja disini. Biar aku hubungi―sebentar..." Kaien menghentikan kata-katanya dan mengeluarkan ponsel dari saku jasnya. Rukia diam menunggu. Sepertinya telepon penting.

"Apa? Ichigo tiba-tiba pergi? Ada apa? Memang apa yang terjadi Too-san? Baiklah... aku akan mencarinya." Tutup Kaien. Wajahnya kini sedikit aneh.

"Ichigo... bocah yang waktu itu'kan? Dia... adikmu senpai?" tanya Rukia.

"Yah bisa dibilang begitu. Kuchiki... maaf aku harus mencarinya. Too-san bilang dia pergi dalam keadaan marah. Sepertinya ada yang terjadi. Kau tidak apa-apa'kan?"

"Tentu. Adikmu jauh lebih penting. Pergilah. Aku tidak apa-apa."

Kaien tersenyum singkat lalu menepuk lengan Rukia singkat dan berlari menuju mobilnya lalu menghilang. Sepertinya Kaien agak cemas dengan bocah itu. Apa yang dia lakukan sampai membuat orang lain panik?

Yah itu bukan urusan Rukia. Kenapa pula dia ikut-ikutan berpikir begitu. Tapi... rasanya sudah lama dia tidak bertemu bocah itu. Rukia memutuskan akan pulang. Tapi entah kenapa dia merasa tidak ingin pulang dulu. Pikirannya masih benar-benar kacau karena tadi. Dan ditambah lagi... dia tak habis pikir kenapa pria itu masih ingin menemui kakaknya. Bagaimana kalau pria itu tahu apa yang terjadi dengan kakaknya? Akankah dia menyesal dan memohon maaf didepan makam kakaknya? Tapi Rukia rasa itu... masih belum cukup.

.

.

*KIN*

.

.

Suasana hiruk pikuk di sebuah kedai kecil dipinggir jalan membuat Rukia tergoda untuk ke sana. Itu adalah kedai kecil tempat biasa orang-orang datang berkumpul sekadar minum sake atau makan cemilan tertentu yang biasa dihidangkan sebagai teman minum sake. Selain karyawan kantor, ada juga pekerja konstruksi dan mahasiswa. Dari kalangan mana saja bisa menikmati kedai itu. Jujur saja, Rukia lebih suka ke kedai daripada ke klub malam yang bising itu. Baginya itu hanya tempat aneh dimana semua orang berpakaian minim dan aneh berkumpul jadi satu dan mulai berdansa tidak karuan. Tempat yang cocok untuk memecahkan gendang telinga karena saking berisiknya.

Memang tidak enak minum di kedai sendirian. Tapi lebih baik sendirian kalau suasana hati sedang galau tidak karuan begini.

Setelah memesan pesanannya, Rukia menunggu sambil melipat tangannya diatas meja. Dia duduk sendirian di pojok kedai. Kedai itu agak ramai karena sepertinya ada beberapa kumpulan karyawan kantor yang sedang merayakan sesuatu. Rukia mengeluarkan ponselnya dan melihat layar ponsel itu. Di sana terpajang foto kakaknya sehabis melahirkan dan menggendong anaknya yang berhasil dia lahirkan. Wajah kakaknya nampak bahagia bisa membawa kehidupan untuk anak itu dan menukar hidupnya sendiri demi anak itu. Tanpa terasa airmata Rukia mengalir deras. Dia tak tahu lagi bagaimana caranya memaafkan dirinya sendiri. Ini bahkan sudah 17 tahun berlalu. Tapi tak satupun kenangan buruk itu bisa Rukia lupakan. Tidak ada satupun. Semuanya masih terlihat baru dan sukar untuk dienyahkan begitu saja. Tentang sakit hati ini. Karena tak sanggup membayangkan kakaknya yang sedemikian menderita itu, Rukia mengganti wallpaper ponselnya dengan gambar snowflake. Setelah menggantinya... Rukia menghela nafas panjang. Lupakanlah Rukia... lupakan saja.

"Baa-chan! Tohlong... satuh... hik... lagi..."

Rukia melihat seorang pemuda yang masih memakai seragam duduk membelakanginya. Pemuda itu menggoyangkan botol sakenya sambil memanggil penjaga kedai itu. Jelas bocah itu masih SMA. Apa dia di putus cinta? Yang benar saja.

"Hei! Kau sudah minum 10 botol tahu! Memangnya tidak ada yang menjemputmu?" teriak penjaga kedai itu dari balik dapurnya. Rukia kembali memperhatikan bocah yang duduk didepannya itu. Bocah itu sudah terkapar karena mabuk. Tunggu! Warna rambutnya... orange?

Hah?

Rukia segera bangkit dari kursinya dan menghampiri meja tepat didepannya itu. Pemuda itu menelungkupkan kepalanya sambil menggenggam botol sake yang kosong. Dan beberapa botol lainnya yang kosong juga. Rukia menganga luar biasa. Kenapa bisa kebetulan begini? Ini benar-benar bocah ini!

"Hei! Kenapa kau mabuk di sini? Senpai mencarimu tahu! Bangun bocah!" bentak Rukia sambil menggoyang-goyangkan tubuh pemuda itu yang sudah tak sadarkan diri. Wajahnya bahkan sudah memerah karena pengaruh alkohol. Rukia jadi penasaran, apa yang membuatnya sampai mabuk berat seperti ini.

"Oh? Apakah anda... Ibunya?" ujar bibi penjaga kedai itu sambil membawa nampan berisi sake menuju meja pemuda mabuk berat ini. Rukia melongo mendengar sebutan bibi itu. Apakah tidak ada sebutan lain? Apakah dia terlihat seperti ibu-ibu?

"Hah? Aku? Bukan-bukan... aku―"

"Ahh~ berarti kau bibinya? Kau bawa pulang saja bocah itu. Dia sudah mabuk berat. Dia sudah disini selama 2 jam. Dan terus menerus memesan sake. Aku tidak mau melayani anak di bawah umur, tapi dia terus berteriak dan membuatku kesal. Karena sepertinya dia terlihat cukup depresi. Kuserahkan dia padamu! Oh ya, tolong urus bon-nya ya."

Apa?

Bibi itu terus bicara panjang lebar dan tidak memberikan Rukia kesempatan bicara. Sungguh kesalahan besar menghampiri meja pemuda brengsek ini! Rukia menepuk jidatnya sendiri. Seharusnya dalam keadaan mabuk berat itu dia! Dia punya masalah besar sekarang ini. Dan bocah ini... masih seorang bocah dan mabuk seperti orang yang punya segudang masalah!

Setelah membayar bon minuman bocah sialan ini, Rukia kembali menatapnya sinis. Sekarang bocah ini sudah setengah tidur. Seharusnya minuman itu Rukia yang habiskan. Sekarang dia malah membayar minuman yang tidak dia minum!

"Hei... cepat bangun! Hei!" panggil Rukia sambil menggoyangkan lengan bocah kecil itu.

Astaga! Bahkan dia tidak bergerak sesentipun! Suasana kedai itu sudah cukup sepi. Sepertinya rombongan karyawan tadi sudah pulang. Rukia menunggu pemuda itu sampai bangun. Dan sialnya dia tidak punya nomor ponsel Kaien. Dia juga tidak tahu dimana Kaien tinggal dan dimana pemuda ini tinggal. Kalau dia bertanya pada Senna, maka akan jadi masalah gawat. Dan Rukia tidak yakin Senna masih terbangun di jam seperti ini. Gadis itu selalu tidur paling awal. Mungkin itulah kuncinya dia bisa sepintar itu.

"Maaf Nona, kami sudah mau tutup. Apa kau sudah mau pergi?" tanya bibi penjaga kedai itu.

"Hah? Oh... ya... aku baru mau pergi." Rukia segera akan beranjak pergi sendirian sampai...

"Nona... anda... tidak membawanya juga? Dia kelihatan mabuk berat." Tunjuk bibi penjaga kedai itu pada bocah sial yang tidak bangun juga itu.

Rukia mendesah berat. Apa salahnya pada Tuhan selama ini? Apakah dia makhluk penuh dosa sehingga dia perlu diuji seperti ini?

Hhh!

Astaga! Punggung Rukia terasa akan segera berpindah tempat. Kenapa bocah remaja seperti ini bisa punya badan sedemikian besar? Rutuk Rukia dalam hati.

Ini sudah malam dan dia tidak tahu mau membawa bocah sialan ini kemana. Pilihan terberatnya adalah menunggu bocah ini bangun. Tapi tidak tahu kapan bangunnya. Rukia memandang sinis pada pemuda brengsek yang mengacaukan hari galaunya ini.

"Kau benar-benar berhutang padaku bocah!" geram Rukia.

.

.

*KIN*

.

.

"Ahh! Pinggangku!" jerit Rukia setelah menghempaskan tubuh pemuda itu di atas kasurnya sendiri. Seharusnya dia menghempaskannya dia lantai saja tadi!

Beruntungnya hari sudah malam dan tak banyak orang keluar dari apartemen mewah ini. Jadi Rukia tidak akan disangka tante-tante kesepian yang membawa masuk pemuda ingusan kedalam apartemennya. Setelah dari mobilnya, Rukia bersusah payah mengeluarkan bocah berambut orange ini dari mobilnya sampai pinggangnya mau patah. Tubuh mungilnya ini bahkan hampir tenggelam karena membawa beban seberat ini. Untungnya dari basement menuju lantai 14 apartemennya menggunakan lift. Kalau tidak... entah apa jadinya!

Sepertinya Rukia sungguh sedang tidak waras. Apa yang ada dalam pikirannya sampai membawa pemuda ini ke apartemennya? Bagaimana kalau kakak iparnya tahu?

Tidak. Tidak. Tidak!

Hanya malam ini saja. Malam ini dia bisa memaafkan pemuda sial ini!

Yah... Rukia bisa lihat pemuda ini. Dia seperti bocah biasa yang tidak bahagia. Tapi dia punya wajah yang tampan dan yah... popularitas di sekolahnya baik. Lalu apa yang membuatnya begitu sedih tadi? Tidak mungkin dicampakkan seorang gadis. Mungkin dialah yang mencampakkan seorang gadis. Apa mungkin masalah keluarga? Ahh~ entahlah. Itu bukan urusan Rukia.

"Kaa-san..." gumam pemuda itu dalam tidurnya.

Kaa-san? Ibunya? Dia... memanggil Ibunya?

Rukia melihat wajah pemuda itu seakan ingin menangis. Kalau dilihat-lihat ternyata dia hanyalah pemuda biasa yang cengeng! Tapi siapa saja boleh menangis kalau sedang memanggil Ibunya. Dan Rukia juga pernah melewati masa itu. Baru saja Rukia akan berbalik, tangannya ditahan oleh pemuda berambut aneh itu. Bukankah dia tidur?

"Jangan pergi..." gumamnya lagi. Sekarang, apa anak ini menyangka Rukia ibunya?

"Hei! Kau mabuk! Aku bukan Kaa-sanmu. Aku bibinya Senna! Kau dengar?" ujar Rukia berusaha melepaskan genggaman erat pemuda itu. Tapi tiba-tiba dalam sekali sentakan, Rukia jatuh kedalam pelukan pemuda ini. Rukia tepat berada diatas dada bidang bocah ingusan ini. Mata Rukia terbelalak lebar. Tapi akhirnya mata pemuda itu terbuka meski hanya separuh. Persis orang mabuk!

"Jangan tinggalkan aku." Lirih pemuda itu sambil menatap Rukia sendu. Apakah sebenarnya pemuda ini sadar apa yang dia lakukan? Rukia masih mengernyit tidak mengerti.

"Kalau kau tidak mabuk dan sepenuhnya sadar, aku benar-benar akan meninjumu!" ancam Rukia. Tapi pemuda itu malah mengeratkan pelukannya di pinggang Rukia sampai membuat wanita itu menjerit kecil.

Satu tangan Ichigo―pemuda sial dan brengsek ini―menekan belakang leher Rukia. Rukia mendadak membatu dengan sikap tiba-tiba pemuda mabuk ini. Dia berusaha menjauhkan dirinya dari pemuda tak sadarkan diri ini. Tapi kejadiannya begitu cepat.

Bibirnya dan bibir pemuda ini... menyatu?

Mata ungu Rukia terbelalak lebar. Untuk sesaat seluruh saraf tubuhnya kehilangan fungsi. Dia dicium? Dicium pemuda ingusan? Ini ciuman? CIUMAN!

.

.

*KIN*

.

.

Ichigo terbangun dari tidurnya. Rasanya kepalanya seperti terhantam palu raksasa. Ichigo terus berguling di tempat tidurnya sambil memeluk erat gulingnya. Karena sinar matahari menusuk matanya, Ichigo terpaksa bangun dan melirik jam dindingnya. Sudah jam setengah tujuh? Hah! Jam setengah tujuh? Dia harus pergi ke sekolah!

Tapi begitu sadar dengan situasinya yang masih memakai seragam sekolah ini dia mendadak bingung. Dimana dia? Wangi kamar ini terasa asing. Wangi bunga... tapi bunga apa? Kamarnya tak pernah memakai pewangi apapun.

Kenapa kamarnya terlihat berbeda? Ichigo mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar asing ini. Tidak! Ini bukan kamarnya. Ichigo langsung ketakutan sendiri. Apakah mungkin... dia diculik? Karena dia yakin ini bukan kamarnya maupun kamar Kaien. Lalu dimana dia?

Ichigo mencium wangi masakan dari suatu tempat. Terdengar seseorang sedang membunyikan berbagai macam peralatan masak yang berisik itu. Karena penasaran, Ichigo berdiri dari kasur itu dan keluar dari kamar asing itu. Jelas ini tempat tinggal seorang wanita. Tapi siapa?

Ichigo takut-takut keluar dari kamar itu. Suasana tempat ini... seperti sebuah apartemen. Ruangannya cukup luas dari kamar itu. Ada sebuah ruang tamu dengan TV yang lumayan besar. Tempat makan yang bersebelahan dengan ruang tamu itu. Dan tak jauh dari sana ada sebuah dapur yang sedang berasap. Apartemen ini terkesan mewah dan bersih. Ichigo masih mengedarkan pandangannya ke dalam apartemen yang di dominasi warna ungu, biru dan pink ini. Benar-benar tempat tinggal seorang wanita. Begitu tiba di dapurnya, Ichigo kembali mencium wangi masakan. Sepertinya enak. Selain masakan Yuzu, Ichigo sudah lama tidak mencium masakan orang lain. Karena selama ini dia kebanyakan makan di luar.

"Kau sudah bangun? Duduklah. Aku sedang buat sarapan." Ujar seorang wanita yang melihat Ichigo masuk ke ruang makan ini. Ternyata dia...

"Kau?" tunjuk Ichigo tak percaya. Wanita itu berkacak pinggang sambil memegang pisau ditangan kanannya.

"Apa? Kau pikir aku menculikmu? Enak saja! Semalam kau mabuk berat dan menyusahkanku! Aku tidak tahu apa masalahmu dan aku tidak mau tahu masalahmu. Setidaknya jangan libatkan orang lain. Mabuk sendirian di kedai. Memangnya kau pikir sudah dewasa seperti itu? Mabuk karena bermasalah! Dan asal kau tahu, kakak dan ayahmu khawatir padamu. Aku tidak tahu mau menghubungi kemana, dan karena sudah malam terpaksa kubawa kemari!" jelas Rukia panjang lebar disertai dengan nada kesal yang memuncak.

"Ohh... seperti itu. Tapi... tidak ada yang terjadi'kan? maksudku―"

Ichigo langsung melompat kaget karena wanita itu melempar pisaunya ke talenan kayu di atas mejanya itu. Kelihatannya wanita itu marah karena kata-kata Ichigo.

"Apa! Kau pikir aku... astaga anak ini! Hei! Aku cukup tahu diri untuk tidak berbuat macam-macam pada anak kecil sepertimu. Aku ini masih waras. Tapi kau itu sungguh keterlaluan! Menyangka aku Ibumu dan...!" Rukia berhenti di bagian itu. Dia tak sanggup menjelaskan bagian itu. Bisa disangka dia menikmati bagian itu! Kalau Rukia bisa langsung pergi saja saat itu tentu saja... astaga Rukia benar-benar sudah gila! Bahkan itu adalah... untuk pertama kalinya... dia... kenapa harus dengan bocah ingusan seperti ini!

"Menyangka kau Ibuku? oh... sepertinya aku benar-benar mabuk. Maafkan aku... tapi semalam kau... tidur dimana?" tanya Ichigo ragu. Dia takut pisau itu nantinya malah terlempar kearahnya.

"Aku tidur di sofa tahu! Sudah duduklah! Ini teh herbal. Buat pusingmu karena mabuk semalam. Dan makanlah sarapannya. Lalu segera mandi dan pergi ke sekolah! Ini masih sekolah 'kan? Sebaiknya kau bisa jelaskan situasi yang masuk akal dengan keluargamu! Dan jangan bawa namaku! Aku tidak mau disangka menyembunyikan anak kecil yang melarikan diri!" jelas Rukia panjang lebar. Meskipun dia tidak suka dengan penjelasannya, dia masih sibuk melayani pemuda itu dengan membawa teh herbalnya, sarapannya dan berbagai macam lainnya.

"Selagi kau makan, aku mau mandi dulu. Aku sudah makan tadi. Setelah sarapan kau bisa membersihkan dirimu di toilet luar." Jelas Rukia lagi lalu melepas celemeknya dan bergegas menuju kamarnya.

"Oh... terima kasih." Ujar Ichigo. Tapi wanita itu hanya tersenyum singkat dan masuk ke kamarnya.

Jujur saja, Ichigo tidak menyangka dia akan menginap di kamar wanita itu. Setelah menghirup teh herbalnya Ichigo mencicipi nasi goreng buatannya. Memang beda dengan cara Yuzu, adiknya itu, yang memasak. Tapi ini enak. Ichigo terus tersenyum sambil sarapan pagi ini. Apa yang akan Kaien katakan kalau dia ceritakan hal ini ya? Ahh~ dia tidak bisa cerita. Selain karena wanita itu yang melarangnya, dia juga tidak mau keluarganya berpikir yang tidak-tidak tentang wanita ini. Tapi Ichigo juga tidak menyangka ada takdir yang begini unik. Saat dia malam itu berpikir tak ada tempat selain Kaien dimana dia bisa bergantung dan berkeluh kesah, ternyata Tuhan mengirimkan seorang lagi di saat dia membutuhkan seseorang. Meski saat itu dia mabuk, Ichigo yakin dia merasa tenang dan baik-baik saja.

.

.

*KIN*

.

.

Rukia sendiri masih gugup berhadapan dengan pemuda itu. Dia berdiri sambil bersandar di pintu kamarnya. Jelas pemuda sial itu tidak ingat dengan apa yang dia lakukan semalam. Dia mabuk. Mana mungkin ingat. Kenapa dia berdebar hanya karena bertemu pemuda itu? Karena berdebar itu dia jadi mengeluarkan kata-kata sinis dan marah-marah tadi.

Tanpa sadar Rukia memegang dadanya sendiri. Berdetak cepat. Sangat cepat.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya dia membiarkan seorang pemuda asing masuk ke dalam apartemennya. Tidur di kamarnya. Dan menciumnya.

Dan itu adalah bocah remaja yang masih ingusan!

Takdir macam apa ini?

Senpai... gumam Rukia.

.

.

*KIN*

.

.

TBC

.

.

Yang bener itu umurnya 30... hehehe...

saya cuma mau pengen update doang. hehehe

bales review...

nenk rukiakate : makasih udah review... hehehe yang bener 30 nenk. salah ketik kemarin tuh... hohoho iya bagus ya... saya ampe ketawa geli tiap kali ngeliat cowok itu berusaha deket sama ceweknya. tapi ditanggepi dingin mulu... wkwkwkw

Bad Girl : makasiih senpai udah review... iya ya. bener tuh tapi kayaknya nenek cantik yang berusia 150 tahun cuma ama Rukia deh... hhoohoho. tenang senpai. review senpai selalu jadi B+ buat saya. hehehe abisnya senpai suka ngomong aneh gitu. hehehehe

corvusraven : makasih udah review senpai. hohoho iya Rukia dendem banget gara-gara kehilangan kakaknya satu-satunya itu. makanya segala cara deh. tapi belakangan setelah tahu rencananya gak berjalan mulus *semulusaspa*, kayaknya dia bakal mundur dari balas dendamnya.

JOe : makasih senpai udah review... haduh maaf senpai. saya gak tahu senpai cewek. abisnya nicknamenya gitu sih... hehehe kirain cowok. rupanya... saya meleset.

snow : makasih udah review. Shiba ya Shiba senpai. Ichigo tetep Kurosaki kok. tuh ada penjelasannya.

FYLIN-chan : makasih udah review. duh... jangan dong di panggil senpai. saya belum taraf itu. saya gak mau dipanggil senpai dengan cerita saya yang hancur gak karuan ini. cukup Kin aja gak papa kok... hehehe tenang aja saya bakal update semua kok... hohoh

Zanpaku Nee : makasih udah review... heheh gak papa senpai gak review chap1. asal chap lainnya mesti review semuanya yaa... hehehe yah belum bisa dibilang rebutan sih. Ichigo'kan lum naksir bener ama Rukia. hehehehe semoga aja gitu nantinya... heheheh

Capcus : makasih udah review senpai..

hoshichan : makasih udah review. heheeh iya ya.. gak tahu juga deh senpai... saya juga bingung...

Purple and Blue : makasih udah review yaa... heheh nih update. cepet gak updatenya? takutnya malah molor lagi...

ichigo4rukia : makasih udah review... hehehe iya ya. tapi 2 artis hollywood itu bedanya berapa tahun ya? saya gak tahu juga sih... hehehe emang mereka sodaraan gitu. tapi kan lum tahu deh... hehehe

Kimidori Ai : makasih udah review... hehehe nih udah update kok... masih penasaran lagi nggak?

Voidy : makasih senpai udah review... heheeh iya ya? kalo gitu yang ini juga dong gak berkembang dari kemarin... hiks. hehehe soalnya saya mau jelaskan semuanya di awal dulu. karena habis ini saya cuma mau fokus sama IchiRukinya aja. jadi gak terhubung sama segala urusan di awal ini loh senpai. hehee gak papa. coba bikin sesempetnya deh. saya mau baca lagi fic senpai. mau belajar ngerangkai kata gitu. heheheh ok deh ntar saya tanyain sama senpainya itu. hehehe

Kina Echizen : makasih udah review... jujur senpai, saya belum pernah denger lagunya afgan yang itu loh... *kubu* hehehe

avarol JR : makasih udah review senpai... hmmm saya cuma biasa liat GM yang ada di film Korea itu loh. saya sendiri gak terlalu paham apa fungsi GM itu sebenarnya. yang saya tahu mereka ada dibawah Direktur dan bertanggungjawab pada Presdir. saya tahu jabatannya tinggi, tapi kan senpai baru liat awalnya Rukia masuk kerja. jadi mana mungkin langsung saya jelasin dia langsung ambil ahli kerjaan gede kan? paling nggak bertahap dulu... hehehe

makasih sekali lagi sama yang udah review... bener-bener berharga banget loh untuk kelanjutan cerita saya... hehehe

kasih review lagi yaa... supaya saya semangat updatenya. karena review senpai itu sangat berarti buat saya... hehehe

Jaa Nee!