Hola MInna!

Saya kembali datang memenuhi fandom ini dengan karya saya yang luar biasa ancur ini. Mohon dimaklumi. Hehehehehehe

DISCLAIMER :TITE KUBO

RATE : M (For Safe)

WARNING : OOC, AU, MISSTYPO, Cerita Gak Menarik, Pasaran, Gaje!

.

.

.

Ichigo tak bisa diam. Matanya terus melirik ke arah meja yang tak jauh dari mejanya itu. Saat ini, Ichigo tengah menunggu Senna menghabiskan es krim yang dia pesan. Dia terus melihat wanita mungil itu bersama dengan kakaknya tengah duduk berhadapan sambil memakan es krim itu. Mereka seperti tengah berkencan. Wanita mungil berambut hitam itu tanpa menikmati es krimnya sambil sesekali tersenyum dan tertawa lebar. Sepertinya Kaien tengah mengatakan sesuatu yang lucu pada wanita itu. Wanita mungil itu pula, sesekali menutup mulutnya dengan sebelah tangannya ketika ingin tertawa keras. Ichigo suka melihat adegan wanita itu yang tertawa lepas. Dia suka melihat wanita berambut hitam itu memandangi Kaien yang sedang bercerita padanya dengan pandangan fokus dan serius. Kenapa wanita itu tak pernah seperti itu pada Ichigo? Kenapa setiap kali didekat Ichigo, wanita itu akan marah-marah padanya? Padahal... Ichigo menyukainya... hah?

Menyukainya?

Ichigo... suka wanita yang lebih tua 12 tahun darinya itu? Yang benar saja... tapi... Ichigo juga tak menyangkalnya. Dia memang suka. Dia memang...

"Aku sudah selesai. Kau kenapa bengong dari tadi?" celetuk Senna membuyarkan lamunan Ichigo yang sesat itu. Ichigo menggeleng kuat sambil memegangi sebelah kepalanya. Entah kenapa dia kurang enak badan. Apakah karena berpikir aneh tadi?

"Ichigo?" paling Senna lagi yang merasa khawatir karena laki-laki berambut orange ini tak kunjung menjawab pertanyaannya tadi.

"Hah? Oh... tidak. Aku baik-baik saja. Kuantar kau pulang." Ujar Ichigo sembari bangkit dari kursinya. Senna melihat tingkah Ichigo agak aneh begitu laki-laki melihat bibinya tadi. Dan sejak tadi, sepertinya Ichigo bukan melihat ke arah Senna. Melainkan...

Baru beberapa saat yang lalu Ichigo bilang tidak tertarik pada orang yang dikenal dan tidak sembarangan menyukai seorang gadis. Lalu... apa itu? Karena Senna merasa pandangan Ichigo tadi seperti sedang... melirik seorang gadis yang dia sukai? Hah?

Selain gerombolan gadis SMA lain yang tadi mau menggoda Ichigo dan beberapa pasang remaja yang membawa kekasih masing-masing itu, tidak ada lagi gadis lain di dalam toko ini... yah... tambahan seperti... bibinya mungkin? Tapi itu juga mustahil.

"Oba-chan, aku pulang dulu ya..." ujar Senna sebelum pergi dari toko itu. Ichigo berdiri di belakang Senna sambil mencuri pandang ke arah wanita mungil itu.

"Oh? Sudah mau pulang? Kalau begitu... sama-sama saja, aku juga sudah mau pulang. Kaien Senpai pasti tidak keberatan 'kan?" pinta Rukia pada atasan yang duduk di depannya ini. Kaien langsung menoleh ke arah Senna yang tersenyum manis padanya.

"Tentu saja! Untung gadis manis sepertimu, aku pasti akan mengantarnya." Jawab Kaien santai.

"Terima kasih Oba-chan, Kaien-san. Tapi... Ichigo akan mengantarku pulang." Sela Senna. Kontan saja Kaien dan Rukia menoleh ke arah laki-laki berambut orange itu yang berdiri di belakang Senna sambil memandangi seisi toko itu.

"Hoo... jadi benar kalian berkencan ya? Ichigo sudah besar rupanya!" celetuk Kaien. Ichigo menoleh ke arah kakaknya yang menganggapnya seperti anak kecil itu.

"Nii-san! Sudah kubilang kami Cuma makan es krim saja. Kenapa dibilang berkencan?"

"Hohoh... kau malu ya mengakui itu kencan karena ada Kuchiki di sini?" goda Kaien. Yang dimaksud Kuchiki itu tentunya adalah Rukia. Rukia melirik ke arah Senna yang tersenyum lebar dan menunduk malu karena wajahnya kini bersemu merah. Rukia sendiri geli melihat keponakannya yang tiba-tiba jadi pemalu itu. Seperti bukan keponakannya saja. Biasanya dia selalu berteriak, membantah dan bicara seenaknya. Dan kini... seperti gadis remaja umumnya yang sedang jatuh cinta terang-terangan.

"Tidak apa-apakan? Kurasa umur kalian memang sudah pantas untuk kencan. Tenang saja... aku tidak akan memberitahu pada Otoo-sanmu. Nah... kau harus jaga Senna baik-baik, Ichigo!" ujar Rukia santai dan sebenarnya itu... hanya kata-kata biasa dari seorang bibi yang mempercayakan keponakannya jalan dengan seorang laki-laki yang disukai keponakannya. Hanya itu saja. Rukia juga tahu, ini adalah kencan yang diinginkan Senna. Karena gadis berambut ungu itu memang menyukai pemuda itu.

Tapi Ichigo menanggapinya tidak suka. Dia menanggapi lain. Ichigo mengira, Rukia juga ikut-ikutan menggodanya seperti kakaknya. Kenapa wanita itu bersikap seolah tidak ada apa-apa diantara mereka? Hah? Ada apa-apa? Hanya karena Ichigo menginap semalam di apartemennya? Dan sampai sekarang Ichigo sendiri tidak yakin ada apa di antara wanita mungil itu dan dirinya selama satu malam itu. Sejak Ichigo bertemu dengan wanita ini dari pagi tadi dia selalu marah-marah pada Ichigo. Kini didepan Kaien, Rukia seolah bertindak biasa dan tidak ada apa-apa. Bahkan dia tidak marah lagi pada Ichigo. Apakah karena ada Kaien?

"Wuah? Bagaimana ini Kuchiki? Sepertinya adikku tertarik pada keponakanmu ya? Kita bisa jadi saingan Ichigo! Karena aku... suka pada bibinya."

Kontan saja mereka bertiga, Ichigo, Rukia dan Senna terbelalak lebar mendengar pernyataan itu. Sebenarnya sih... Kaien bermaksud bercanda, tapi sepertinya ditanggapi serius oleh 3 orang ini.

"Senpai..." gumam Rukia yang bingung, entah ini... bercanda atau malah...

"Nii-san jangan bercanda begitu." Timpal Ichigo yang semakin tidak suka tingkah kekanakan Kaien ini.

"Loh? Kenapa? Bukankah ini menarik? Kita bisa jadi keluarga loh. Kuchiki... berkencanlah denganku..."

Rukia mendadak diam. Apalagi Senna yang membelalakan matanya selebar mungkin. Ini... luar biasa... ada yang menembak bibinya didepan matanya sendiri. Apalagi yang menembaknya adalah... atasannya sendiri dan seorang... pria dewasa yang tampan!

"Oba-chan! Terima saja! Kaien-san 'kan tampan! Kau akan menyesal menolaknya. Kaien-san, tolong jaga Oba-chanku ya. Oh ya! Oba-chan ini suka bicara seenaknya. Tapi percayalah dia adalah wanita yang baik. Semoga lancar. Kami duluan ya..." sela Senna yang tiba-tiba bicara di keheningan itu. Lalu setelah menunduk, Senna langsung mendorong Ichigo keluar. Sebenarnya Ichigo ingin mendengar jawaban Rukia. Karena dia... mulai penasaran dengan apa yang dirasakan wanita itu untuk kakaknya.

Dasar Kaien sial! Kenapa dia terang-terangan seperti itu! Rutuk Ichigo.

.

.

*KIN*

.

.

"Kuchiki? Kenapa kau diam saja? Apa aku... mengagetkanmu?" tanya Kaien yang melihat ekspresi terkejut dari Rukia yang sampai sekarang belum juga hilang.

"Hah? Oh... ya, sepertinya... Senpai terlalu bercanda. Jangan bercanda didepan anak-anak begitu. Mereka jadi salah paham..." jelas Rukia yang akhirnya menundukkan kepalanya. Selain malu, dia tak sanggup memandangi senpainya yang mulai memandangnya serius pula.

"Apa tadi aku kelihatan seperti bercanda?" tanya Kaien serius. Meskipun bukan serius seperti ingin membunuh orang. Wajahnya memang masih santai dan biasa saja, tapi nada suaranya mulai bicara serius. Kaien sedang bicara serius dengan wanita mungil berambut hitam di depannya ini.

"Senpai?" gumam Rukia. Karena menyadari Senpai-nya ini sedang serius.

"Aku... serius. Berkencanlah denganku. Tolong jangan menolak dengan mengatakan alasan konyol seperti aku adalah atasanmu dan kau bawahanku. Aku sama sekali tidak mau dengar itu. Karena ketika kita tidak berada di kantor, kau adalah Kuchiki Rukia sedangkan aku... adalah Shiba Kaien."

"Senpai... bagaimana kalau ini menimbulkan gosip? Aku tidak mau Senpai dipermalukan oleh karyawan lain."

"Apa masalahnya di sini? Kau wanita yang belum menikah dan tidak punya kekasih. Dan aku adalah pria yang belum menikah dan tidak punya kekasih. Gosip macam apa yang bisa timbul? Lain kalau ceritanya salah satu dari kita sudah menikah dan punya kekasih. Dan umur kita ini... sudah pantas untuk segera menikah bukan?"

Rukia senang Senpai-nya berkata seperti itu. Tapi entahlah... Rukia merasa ini... tidak benar.

"Maaf aku mengagetkanmu dengan kata-kataku yang tiba-tiba ini. Tapi... aku merasa sudah saatnya kau tahu... aku ingin memulai hubungan baru denganmu. Bukan hubungan sebagai atasan dan bawahan. Hubungan yang lebih serius." Lanjut Kaien.

Shiba Kaien adalah... laki-laki yang dikagumi oleh Rukia sejak SMA dulu. Laki-laki yang Rukia rasa adalah seorang laki-laki sejati yang menyenangkan. Beberapa waktu mengenal Kaein, Rukia sampai merasa dia adalah tipe pria idaman yang sedang dicari oleh Rukia. Tapi kenapa ini terasa tidak benar. Kenapa Rukia sekarang tak merasakan apapun untuk Senpai-nya ini? Jantungnya terasa biasa saja dan sama sekali tidak berdegub kencang karena Senpai-nya bicara serius seperti itu padanya. Diam-diam Rukia memegang dadanya sendiri. Tidak berdebar. Tidak berdegub kencang. Tidak ada jantung yang serasa mau melompat keluar. Dan tidak ada nafas yang tidak teratur. Semuanya terkesan biasa saja.

Lain sekali saat malam itu. Saat seorang bocah laki-laki mendadak menciumnya tanpa sadar. Jantungnya terasa mau melompat keluar, berdebar kencang, dan berdegub luar biasa. Kenapa perasaannya berbeda? Apa yang sebenarnya terjadi?

.

.

*KIN*

.

.

Ichigo menjambak rambutnya geram! Grr! Apa sih yang sebenarnya dia pikirkan? Bukankah hal wajar kalau kakaknya mengajak kencan seorang wanita? Dan tentunya itu bukan wanita sembarangan. Itu juga bukan gadis SMA yang polos. Bukan juga wanita yang ada di pinggir jalan! Kuchiki Rukia... adalah wanita baik-baik.

Tapi kenapa Ichigo tidak suka dengan kenyataan bahwa kakaknya serius menyukai Rukia. Karena selama ini Ichigo hanya berharap, Kaien sekadar suka biasa saja pada Rukia. Dan bukannya serius ingin... kencan dengannya.

Yah... Shiba Kaien mungkin bisa mendapatkan Kuchiki Rukia. Karena mereka adalah pasangan dewasa yang sudah cukup umur untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi dari sekadar kencan. Mereka sudah sama-sama dewasa dengan pola pikir yang matang. Mereka juga bisa saja... karena mereka dewasa.

Untuk sesaat, Ichigo menyesali dirinya yang terlalu jauh dari umur mereka. Ichigo yang sekarang adalah remaja labil yang belum mengerti mana yang baik mana yang buruk. Dia hanya remaja yang ingintahu saja. Remaja yang ingin menapaki kehidupan orang dewasa. Kurosaki Ichigo... hanya seorang remaja.

Ichigo tiba di rumahnya. Rumahnya memang selalu sepi. Apalagi ayahnya yang selalu sibuk di kantor hingga malam. Dan sejujurnya Ichigo juga tak peduli hal itu. Dia sedang tak ingin bertemu muka dengan ayahnya. Apalagi setelah malam kemarin dia minggat. Dan berakhir di sebuah apartemen seorang wanita. Dan wanita yang akan dikencani oleh kakaknya sendiri. Kenapa mereka bisa begitu mirip? Hanya karena kenyataan bahwa mereka adalah kakak beradik... dan sebenarnya merekapun... tidak terikat darah sama sekali. Mereka hanya dibesarkan bersama. Ichigo tahu... Kaien ada di keluarganya sejak dia berusia 12 tahun. Dan setelah Ichigo lahir, Kaien sudah berumur 14 tahun. Otomatis Kaien jauh lebih dewasa dari Ichigo. Dan kenyataan lain, bahwa Kaien jauh lebih pantas mendapatkan wanita yang baik untuknya. Tapi... Ichigo tak mau wanita itu adalah... Kuchiki Rukia. Dia tak ingin kenyataan itu. Tidak mau.

"Onii-chan? Kau sudah pulang?"

Ichigo tertegun menyadari suara perempuan kecil yang memanggilnya dari balik pintu. Yuzu. Adik perempuannya yang sekarang masih kelas 1 SMP. Yuzu memang mirip ibunya. Dia cenderung ceria dan selalu jadi penengah di keluarga ini. Dan sejujurnya... Ichigo memang cenderung suka dengan seorang wanita yang kepribadiannya mirip ibunya. Karena Ichigo begitu mencintai ibunya jadi terrefleksi pada keinginannya untuk mencari wanita yang mirip dengan ibunya.

"Onii-chan kemana saja? Kami semua cemas. Karin-chan bahkan tidak tidur menunggu Onii-chan pulang. Apa karena Onii-chan marah lagi pada Too-chan?" jelas Yuzu yang sekarang malah ingin menangis melihat kakaknya baru pulang setelah semalaman menghilang. Karin, adalah saudara kembar Yuzu. Karin cenderung tomboi dan pendiam. Dia juga jarang ada di rumah. Mungkin sibuk di tempat lain. Sifat si kembar ini jauh berbanding terbalik. Tapi Karin sangat menyayangi Ichigo.

"Maaf Yuzu. Hanya ada sedikit masalah. Dimana Karin?" tanya Ichigo. Semenjak sudah bekerja, Kaien sudah keluar dari rumah Kurosaki. Dia juga ingin hidup mandiri tanpa tergantung dengan keluarga Kurosaki lagi. Dan jujur saja, Ichigo juga ingin seperti Kaien.

"Karin-chan? Dia masih ada di sekolah mengurusi klub. Onii-chan mau makan?" tawar Yuzu.

"Tidak usah. Aku masih kenyang. Oh ya. Bisa kau bereskan ini?" Ichigo mengeluarkan kotak bekal dari tasnya. Kotak itu sama sekali belum di sentuhnya. Kalau sampai dia nekat memakannya, mungkin Ichigo bisa langsung muntah karena tidak kuat memakannya. Perutnya memang tidak pernah beres kalau makan banyak.

"Huh? Ini lagi? Onii-chan tidak boleh begitu. Kenapa selalu tidak menghabiskannya!" Yuzu juga tahu kakaknya ini selalu mendapat kotak bekal yang masih utuh. Ichigo tidak menanggapinya. Sudah lebih baik dia bawa pulang. Bagaimana kalau sampai dia buang di jalan? Itu malah lebih tidak sopan lagi.

Hhh... Kuchiki Rukia. Benar-benar membuatnya gila!

.

.

*KIN*

.

.

"Kuchiki." Panggil Kaien setibanya mereka di kantor lagi setelah acara makan es krim itu. Rukia menoleh dengan kikuk. Sepanjang jalan dari toko es sampai ke kantornya Rukia diam saja. Dia tidak enak hati untuk mengatakan sesuatu. Perasaannya masih tidak karuan saking gugupnya dia menanggapi kata-kata bosnya ini.

"Ya... Senpai..." gumam Rukia. Entah kenapa sejak pertama kali melihat Kaien, Rukia selalu memanggilnya senpai dan bukannya 'Pak'. Tapi Kaien juga sama sekali tidak keberatan dipanggil seperti itu. Mungkin karena sudah terbiasa.

"Jangan dipikirkan yang tadi. Aku tidak mau kau merasa bersalah karena kata-kataku tadi. Kau pikirkan saja dulu. Kalau kau sudah yakin, kau tinggal katakan padaku. Jangan sungkan seperti itu. Aku tidak mau hubungan kita jadi canggung hanya karena aku mengatakan hal itu. Kau mengerti?" jelas Kaien.

"Ya... Senpai. Aku... mengerti." Kata Rukia ragu.

"Bagus! Itu baru Kuchiki. Kalau kau canggung padaku, aku akan menghukummu. Mengerti!" Kaien tersenyum lebar sambil mengacak rambut Rukia. Kebiasaan yang selalu Kaien lakukan sewaktu di SMA. Astaga... Rukia bisa gila kalau begini.

Di satu sisi dia senang. Tapi di sisi lainnya dia malah tidak nyaman.

Rukia melihat Kaien yang sudah pergi duluan itu. Lalu Kaien yang dihampiri oleh sekretarisnya untuk membahas hal penting. Rukia tak bisa menebak perasaannya sendiri. Untuk kali ini biarkan mengalir saja dulu.

Rukia berjalan menuju lift. Lama Rukia menunggu lift itu terbuka. Hari ini dia tinggal menyelesaikan pekerjaannya yang tinggal sedikit lalu bergegas pulang. Dia tidak ingin memikirkan hal-hal aneh lainnya yang tidak masuk akal. Baik itu tentang Kaien ataupun tentang... bocah itu.

Rukia senang melihat Senna yang tersenyum lebar bersama bocah itu. Sebagai bibi yang pernah membesarkannya, jauh lebih penting kebahagiaan Senna daripada dirinya. Dia tak mau kenyataan yang suatu saat nanti terbongkar membuat Senna lebih sakit dari ini.

Suara dentingan halus terdengar dari pintu lift itu. Pintunya terbuka. Keadaannya kosong. Pantas saja lama. Pasti karena ini kosong. Beberapa detik pintu lift akan menutup, Rukia kaget karena ada yang mencoba membuka kembali pintu lift itu dengan memasukkan satu tangannya di antara pintu lift yang menutup itu. Mata ungu Rukia langsung membelalak tajam. Lalu mencoba bersikap biasa saja. Satu-satunya orang yang bisa membuatnya membelalak takut hanya satu. Rukia mengatur jarak dari orang itu. Cobalah bersikap biasa Rukia. Bersikap biasa.

"Kudengar kau... tadi makan siang dengan Direktur Shiba?" tanyanya tanpa menatap Rukia.

"Ya Presdir." Jawab Rukia singkat.

"Kelihatannya hubungan kalian dekat ya?"

"Hanya sekadar seperti atasan dan bawahan saja."

"Apakah seperti kita?"

Rukia diam. Rukia jadi tahu arah pembicaraan ini. Setiap kali bertemu dengan Presdirnya, tepatnya setelah dia membicarakan kenyataan itu, Rukia jadi tidak bisa mengendalikan emosinya. Bukan karena apa. Tapi... setelah terang-terangan mengkhianati istri sahnya, Presdir ini masih mau mencari kakaknya.

"Tentu tidak. Hubungan kita... hanya antara GM dan Presdir. Tidak lebih." Ujar Rukia.

"Kau mulai menjauh setelah aku menceritakan masa laluku, istriku dan... wanita yang kucintai itu. Aku tidak mengerti kenapa kau menjauh tiba-tiba. Tapi ketika aku mengatakan kau mirip dengan wanita yang kucintai... kenapa tidak ada ekspresi kaget dari wajahmu waktu itu?"

Rukia gemetar. Lift ini terasa begitu lama mencapai lantai atas. Dia tidak ingat hal itu.

"Umumnya... seorang wanita akan kaget karena Presdir-nya mengatakan bahwa dia mirip dengan wanita yang pernah dicintainya. Wanita yang bukan istrinya. Tapi saat itu, ekspresimu justru marah dan kesal. Aku mulai penasaran sejak itu. Kuchiki Rukia... siapa sebenarnya kau ini?"

Suara dentingan halus terdengar lagi. Kali ini Rukia langsung melompat keluar tanpa peduli apakah ini lantai yang benar atau tidak. Dia hanya ingin keluar saja. Rasa takut menjalarinya. Bagaimana kalau... bagaimana kalau dia ketahuan? Seharusnya Rukia jangan kabur seperti ini. Itu akan menimbulkan kecurigaan yang luar biasa.

Rukia merasa sudah cukup jauh. Rukia bersandar didinding koridor kantor yang cukup sepi itu. Tubuhnya bergetar lagi. Dia takut... entah kenapa dia jadi... takut.

Tangannya masih bergetar dan matanya memanas. Awalnya dia ingin balas dendam. Tapi kenapa sekarang justru dia yang takut ketahuan? Kenapa dia takut... kalau Presdirnya tahu... dia adalah adik dari wanita yang dia cintai itu?

.

.

*KIN*

.

.

"Kau jangan tidak pulang lagi. Otoo-san sangat mencemaskanmu tahu."

Ichigo diam sambil duduk bersandar dipinggir kasurnya. Saat dia entah kenapa, kakaknya jadi menelpon dirinya. Dan membahas soal kemarin. Sebenarnya Ichigo enggan membahasnya. Tapi...

"Nii-san tenang saja. Semuanya baik-baik saja. Memangnya Nii-san tidak pernah kabur dari rumah? Aku ingat kau pernah kabur dari rumah karena ketahuan bolos sekolah!"

"Hei! Siapa suruh kau bahas masa lalu? Pokoknya jangan buat orang panik lagi. Kalau kau sedang tidak mau pulang, katakan padaku atau pada Yuzu dan Karin. Agar kami tidak panik kau hilang. Semalam kau tidur dimana?" tanya Kaien lagi.

"Tempat seseorang. Dia orang yang baik! Sudahlah. Jangan membahas ini lagi." Rutuk Ichigo.

"Hoh! Kau kenapa? Apa kau masih marah karena aku menggodamu tadi siang? Seharusnya kau senang, ada gadis secantik Senna-chan yang sepertinya suka padamu. Kau tidak boleh menyia-nyiakannya."

Dan sialnya... Ichigo baru saja menyia-nyiakannya.

Hubunganpun terputus setelah Kaien menceramahinya panjang lebar. Ini sudah malam. Kenapa ayahnya belum pulang? Ahh~ peduli amat. Memangnya Ichigo peduli?

Dia masih kesal karena ayahnya seolah tidak lagi mencintai ibunya. Memang seorang pria yang ditinggal pergi oleh istrinya selama 7 tahun sudah pasti merindukannya setengah mati. Dan perlu juga tempat berlabuh. Apalagi untuk orang seperti ayahnya yang super sibuk itu. Pasti ada saat dimana dia merindukan seseorang yang menyambutnya pulang, membuatkannya teh, memberinya makan dan menemaninya tidur. Ichigo mengerti itu karena dia laki-laki. Tapi Ichigo tak terima kalau ayahnya menginginkan wanita yang pernah menjadi pemicu rusaknya hubungan ibu dan ayahnya. Ichigo benar-benar benci wanita itu. Ichigo bukan tipe laki-laki yang mudah menyukai wanita manapun. Dia sangat... membenci wanita itu. Bahkan benar-benar tidak ingin bertemu siapapun yang berhubungan dengan wanita itu. Kalau Ichigo tahu wanita itu dimana... tentu saja dia akan datang dan langsung melabraknya.

Ichigo melemparkan ponselnya ke atas kasurnya. Lalu mengambil jaket ungunya dan keluar dari kamarnya. Dia butuh udara segar. Rasanya memikirkan tentang ayahnya dan wanita sial itu membuat Ichigo kesal.

"Ichi-Nii mau kemana?" tanya Karin yang melihat kakaknya menuruni tangga dengan pakaian lengkap.

"Keluar sebentar." Jawab Ichigo singkat.

"Ichi-Nii pulang tidak?"

"Pulang. Jangan menungguku lagi. Tidur saja. Aku tidak akan lama."

Dan Ichigo keluar dari rumahnya. Dia tahu Karin cemas padanya. Apalagi sepertinya, Karin juga tahu masalah Ichigo dan ayahnya. Karin memang tertutup, tapi dia pintar membaca suasana. Dia juga pintar membaca alasan tersirat kenapa Ichigo jadi jarang di rumah dan dingin dengan ayahnya. Tapi karena tidak mau menambah masalah, Karin lebih memilih diam.

Ichigo berjalan keluar dari rumahnya. Hari ini udara semakin dingin. Mungkin karena sudah masuk musim dingin. Suasana Tokyo masih saja ramai. Meskipun sudah hampir larut... mobil, motor dan kendaraan lainnya masih banyak berlalu lalang di jalan besar. Ichigo berjalan di trotoar jalan sambil memasukkan kedua tangannya di saku celananya. Ada banyak hal yang sulit dilupakan tentang mendiang ibunya. Dia begitu dekat dengan ibunya. Begitu sayang dengan ibunya. Begitu merindukannya. Tapi takdir seolah begitu kejam padanya. Mengambil wanita yang paling dia cintai. Ichigo ingin bilang pada ibunya jika bisa... bahwa dia baik-baik saja. Bahwa dia... sedang memperhatikan seorang wanita. Bahwa dia... mulai merasakan apa itu namanya jatuh cinta. Ichigo ingin ibunya tahu itu. Tapi tidak tahu harus mengatakannya bagaimana.

Tiba-tiba langkah Ichigo terhenti pada kedai kecil dipinggir jalan itu. Kedai itu masih ramai seperti biasa. Dan well... itu adalah tempat Ichigo kemarin mabuk dan tak sadar. Ichigo pikir, karena dekat dengan rumahnya dia bisa pulang segera. Tapi ternyata dia mabuk dan di luar batas. Baru akan melangkah melewati tempat itu, matanya kembali menatap sosok seorang wanita berambut hitam yang duduk dipinggir jendela kedai itu. Mejanya persis didekat jendela dan dari luar orang bisa melihatnya. Ichigo menganga luar biasa. Wanita itu duduk sendiri sambil meneguk beberapa botol sake. Dari luar Ichigo menghitung botol-botol itu. Astaga... sudah 8 botol.

"Ba-chan! Akhu... minta lagihh!" teriak wanita mungil itu. Dia sudah mabuk. Tunggu! Apa Ichigo juga seperti ini?

Ichigo langsung masuk kedalam kedai itu dan menghampiri wanita itu. Dia ini... kenapa mabuk sendirian? Tunggu! Itu malah seperti sedang mendeskripsikan dirinya sendiri yang mabuk sendirian kemarin.

"Oba-chan! Tidak usah dibawa lagi. Kembalikan saja. Dia sudah mabuk." Ichigo menghalangi seorang bibi pemilik kedai itu membawa botol sake lainnya menuju meja wanita mungil itu.

"Oh... kau yang kemarin ya? Baiklah... sudah bawa pulang saja bibimu ini. Kasihan sekali dia mabuk seperti itu... oh ya... urus bon-nya ya..." jelas bibi pemilik kedai itu sambil kembali ke dapurnya. Ichigo melongo. Kenapa malah dibilang bibinya? Tidak masuk akal!

Wanita itu sudah menelungkupkan kepalanya di atas meja itu. Tangannya memegang botol sake yang kosong itu. Kenapa dia mabuk seperti ini? Bukannya tadi siang baik-baik saja dengan Kaien? Tunggu! Apa Kaien mengatakan sesuatu padanya sehingga wanita ini memilih untuk mabuk?

"Hei... kenapa kau mabuk begini? Bangun dong!" ujar Ichigo sambil menggoyangkan tubuh mungil wanita itu. Bukannya bangun, tapi tubuh wanita mungil ini seakan mau jatuh begitu saja karena didorong pelan oleh Ichigo. Secara reflek, Ichigo menangkap tubuh mungil yang rapuh itu dengan memeluk tubuh wanita berambut hitam ini dengan kedua tangannya. Wajah mereka berada begitu dekat. Ichigo melihat wanita ini sudah setengah tidur. Wajah cantiknya memerah karena pengaruh alkohol. Sekarang... laki-laki mana yang tidak berpikir aneh tentang seorang wanita cantik yang tidak sadarkan diri seperti ini? Bagaimana kalau ada orang iseng?

Ichigo menyandarkan tubuh mungil itu di kursinya dan bergegas menuju kasir kedai itu. Membayarkan biaya botol sake itu. Kelihatannya Ichigo jadi ingat kalau kemarin dia juga tidak membayar sake. Kenapa wanita itu tidak mengatakan apapun padanya? Berlagak jadi bibi yang baik?

Baru saja ditinggal sebentar, Ichigo kaget karena wanita itu sudah menghilang. Yang tertinggal hanya tas tangan dan mantel hitamnya saja. Ichigo panik karena wanita itu keluar begitu saja. Ichigo mengambil tas tangan dan mantelnya. Lalu keluar dari kedai itu. Mencari-cari wanita mungil berambut segelap malam itu. Ichigo panik kalau-kalau dia diculik orang karena kondisinya sedang tidak baik begitu. Ichigo baru akan berlari mencarinya ketika dia melihat seorang wanita berambut pendek yang sedang berjongkok di samping kedai itu. Terdengar suara seperti orang yang sedang mual. Ichigo langsung lega. Ternyata dia muntah!

Ichigo menghampirinya dan langsung memijat pangkal leher wanita itu. Tapi Ichigo mendengar suara lain selain suara mualnya. Suara tangisan. Wanita itu nampak memegangi dadanya dan menarik nafas yang dibarengi dengan isak tangisnya. Setelah dia baik-baik saja, wanita yang selalu dipanggil Kaien Kuchiki itu, berdiri dan bergerak linglung. Ichigo juga langsung menangkap tubuhnya yang bergerak sembarangan itu.

"Kau ini sudah dewasa belum sih? Mabuk sendirian! Memangnya kau tidak takut kalau ada yang jahat padamu!" bentak Ichigo. Tapi dia masih memegangi lengan wanita itu dengan kedua tangannya.

Wanita itu mengangkat wajahnya dan mendongak melihat Ichigo. Kini wajahnya selain merah juga matanya ikut merah. Ichigo yakin dia memang menangis tadi.

"Kenapa... kenapa aku... tidak bisa menyukai Kaien Senpai?" lirih Rukia yang tidak sadar itu. Matanya menatap sendu pada Ichigo. Sebaliknya... pemuda berambut orange itu membelalakan matanya bingung. Ichigo tahu... menurut psikolog, keadaan dimana seseorang tengah mabuk dan tidak sadar selalu saja mengatakan sesuatu yang tidak bisa dia katakan. Dan cenderung jujur tentang apa yang dirasakannya.

"Hah? Apa yang kau bicarakan ini? Aku tidak mengerti." Ujar Ichigo. Walaupun sama saja bohong bicara pada orang mabuk.

"Kenapa... hatiku... tidak berdebar... tidak berdegub kencang... tidak ada... jantung yang melompat keluar... begitu bersama Kaien Senpai? Kenapa!" tuntut wanita mabuk itu sambil mencengkeram erat kerah jaket Ichigo. Ichigo bertambah bingung.

"Mana aku tahu! Kenapa kau tanya aku? Sudahlah kau pasti mabuk! Kau bawa mobil'kan? Kuantar kau pulang..." ujar Ichigo sambil mencoba melepaskan tangan Rukia yang mencengkeram erat kerah jaketnya itu. Tapi tidak mau dilepaskannya.

"Padahal... aku begitu... kagum padanya... begitu... menyukai sifatnya... tapi kenapa aku... tidak bisa jatuh cinta padanya? Semua ini salahmu!" teriak Rukia diiringi dengan tangisnya yang sudah meledak. Ichigo melotot pada wanita itu. Ok! Ichigo sekadar benar-benar maklum kalau wanita ini sudah mabuk total sampai menyalahkan Ichigo tentang suatu hal yang sebenarnya tidak Ichigo lakukan. Hmm... tunggu dulu! Kalau itu benar... Ichigo senang Rukia tidak bisa jatuh cinta pada Kaien! Berarti dia ada kesempatan. Tapi sekarang... masalahnya... apa maksud Rukia yang tidak bisa jatuh cinta pada Kaien. Dan karena dirinya? Kenapa jadi salahnya?

"Kalau aku tidak membawamu pulang... kalau aku... tidak memikirkanmu... kalau kau... tidak menciumku... aku pasti... tidak akan jatuh cinta padamu!"

Dan inilah alasannya.

Berarti... malam dimana Ichigo mabuk itu sudah terjawab. Ichigo terdiam untuk sesaat. Akan penjelasan itu. Dan... kata-kata terakhirnya...

"Benarkah... kau jatuh cinta padaku?" tanya Ichigo ragu. Ragu sekali karena wanita ini selalu bersikap dingin padanya. Dan marah-marah tepatnya.

"Kenapa aku harus jatuh cinta padamu... kenapa ada... hati yang berdebar... berdegub kencang... dan jantung yang mau melompat keluar kalau... bersamamu?"

Ichigo senang karena perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan. Dia senang Rukia juga jatuh cinta padanya. Wanita itu sudah menangis hebat. Ichigo tidak menyesal mencium wanita ini saat dia mabuk. Dia tidak menyesal...

"Maaf... karena aku... juga punya perasaan yang sama." Lirih Ichigo.

Perlahan, Ichigo mengangkat kedua tangannya dan menangkupkan wajah mungil wanita itu dengan tangan kekarnya yang besar. Menghapus jejak airmata yang basah itu dengan kedua ibu jarinya. Wanita ini diam saja. Tangan mungilnyapun menggenggam erat kedua tangan Ichigo yang berada di wajahnya.

Ichigo tanpa sengaja menjatuhkan mantel dan tas tangan wanita itu. Lalu perlahan mendekatkan wajahnya dengan wajah mungil dan cantik Rukia. Ichigo memejamkan matanya dan mulai aksi selanjutnya.

Bibir mereka menempel erat. Seolah memberikan kehangatan di malam yang dingin ini. Ichigo mengecup bibir mungil dan merah itu tanpa ragu. Satu tangannya berjalan menuju tengkuk wanita itu. Menekannya untuk merapatkan tubuh dan bibir mereka. Ichigo terus menciumi bibir mungil itu. Lalu menjilatnya lembut meminta ijin ingin masuk kedalamnya. Rasa ciuman kali ini terasa lebih hangat. Mungkinkah karena mulut Rukia masih tersisa alkohol, sehingga Ichigo juga ikut merasakan hangat?

Rukia memejamkan matanya dan tangannya beralih melingkari leher pemuda besar itu. Rukia tanpa ragu membuka mulutnya dan mulai menyapa daging tak bertulang yang menggeliat masuk kedalamnya.

"Mnghhh... mnnnhhh..." desahan tak jelas terdengar dari bibir wanita itu. Ichigo menjelajah ruang lembab dan hangat itu. Mengajak lidah Rukia untuk saling bertautan satu sama lain. Ciuman itu semakin intim kala Rukia mengusap belakang leher Ichigo. Entahlah... apakah ini baik atau tidak.

Ichigo memang merasa bersalah menyerang wanita yang sedang mabuk berat. Tapi dia juga tak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Ayolah... dia adalah remaja laki-laki yang normal. Yang juga butuh kehangatan dari seorang wanita. Ciuman itu berlangsung lama, bahkan sepertinya mereka sudah melupakan satu kewajiban yang penting. Menghirup udara bebas. Bagi Ichigo... sekarang wanita mungil dalam dekapannya ini adalah udaranya.

Ichigo melepaskan ciuman intim itu mendadak karena wanita mungil ini jatuh tertidur. Ichigo mendekapnya lebih erat. Menciumi satu persatu wajah wanita mungil ini. Ichigo tak tahu, apakah setelah dia sadar nanti, Rukia akan mengakui perasaannya atau malah menyangkalnya. Ichigo tidak peduli. Sekarang... baginya... dia sudah cukup tahu bahwa Rukia juga merasakan hal yang sama. Meskipun itu bukan pernyataan resminya. Karena Rukia mabuk. Dan tidak sadar.

.

.

*KIN*

.

.

Setelah memarkirkan mobil wanita ini di basement apartemennya, dan yah... Ichigo payah dalam hal mengingat. Tapi... mengingat tempat tinggal wanita ini bukan hal susah. Meski baru satu kali kemari, tapi dia tahu bahwa ini adalah daerah elit yang mudah ditemukan. Ichigo membopong Rukia menuju apartemennya. Tubuh Rukia tak begitu berat untuk dibawa. Bahkan begitu ringan. Rukia masih nyenyak dalam tidurnya. Rukia juga mengalungkan kedua tangannya dileher Ichigo. Untungnya suasana apartemen ini sepi. Mereka tiba di lantai 14. Ichigo memang ingat ini lantainya. Lagipula... apartemen ini hanya punya 17 lantai. Dan yang jadi masalah adalah... bagaimana cara Ichigo masuk kedalam pintu apartemen ini. Kamarnya memang 1401 sih. Ini sistem password. Mana Ichigo tahu apa password-nya. Huh! Ada-ada saja!

"Hei Baa-chan! Apa password-nya? Aku tidak tahu!" ujar Ichigo sambil berusaha membangunkan Rukia dalam gendongannya. Tapi wanita itu seakan nyenyak saja dalam lengannya. Apa benar senyenyak itu dalam lengan seorang laki-laki?

"Baa-chan! Bisakah kau sadar dulu? Apa kau mau kita semalaman ada di luar begini?" jelas Ichigo lagi.

"Password-nya!" teriak Ichigo. Dia sudah frustasi dengan wanita mabuk ini.

"14... 0... 1." Bisik Rukia. Yang terdengar seperti gumaman.

"Hah?" ujar Ichigo tak dengar. Siapa yang bisa dengar suara sekecil itu?

"1401 BODOH! JANGAN GANGGU AKU!" bentaknya setengah sadar. Lalu wanita itu kembali tertidur.

Ichigo sekarang seperti orang bodoh saja. Dengan susah payah dia memasukkan angka yang dimaksud oleh orang mabuk ini. Dan ternyata angkanya benar.

Memang ada apa dengan angka 1401 ini? Kamar apartemennya juga berangka demikian. Itu bukan angka yang cantik 'kan?

Ichigo kembali lagi ke apartemen ini. Semuanya masih seperti tadi pagi. Oh... tadi pagi.

Ichigo membuka pintu kamarnya dan menghempaskan wanita ini dengan pelan. Lalu menyelimutinya. Rukia sudah tertidur lagi. Ichigo duduk di samping Rukia yang tertidur lelap ini. Wajahnya kelihatan damai. Tenang dalam tidurnya.

Tanpa sadar, tangan Ichigo bergerak menyusuri lekuk wajah cantik Rukia. Menyingkirkan poni yang mengganggu. Lalu tanpa sadar mengusap bibir mungil yang memerah itu. Wajahnya juga masih memerah karena pengaruh alkohol.

Ichigo jadi penasaran apa yang sebenarnya dikatakan Kaien padanya. Kenapa Rukia begitu serius menanggapinya. Apakah... Kaien sudah mengatakan sesuatu soal perasaannya pada Rukia? Ichigo harap itu tidak benar. Ichigo belum terlambat 'kan? Belum...

"Nee-san..." gumam Rukia.

Nee-san? Dia punya kakak perempuan? Pikir Ichigo. Lalu dimana kakak perempuannya itu kalau dia punya? Wajahnya seakan ingin menangis lagi. Baru saja Ichigo akan beranjak keluar, ujung jaketnya ditarik dengan kencang oleh wanita itu.

"Jangan... pergi..." lirihnya lagi.

Baiklah. Ini sudah aneh. Ichigo jadi tidak tega meninggalkannya.

Kuchiki Senna.

Kenapa terlintas dalam benaknya? Apakah... perasaannya ini akan menyakiti Senna? Ichigo tak mau menyakiti siapapun dengan perasaannya ini. Dia peduli pada Senna. Karena Ichigo tahu Senna juga tak punya ibu seperti dirinya. Mereka sama-sama anak yang ditinggal ibu mereka ketika masih kecil. Awalnya Ichigo simpati pada Senna yang bahkan tidak pernah mengenal siapa ibunya itu.

Kenapa perasaan ini jadi serba salah dan terlarang? Kenapa jadi... tidak bisa dimengerti?

Ichigo sungguh sudah... mencintai wanita ini...

Kurosaki Ichigo... sudah mencintai... Kuchiki Rukia...

.

.

*KIN*

.

.

"Temukan wanita itu sesegera mungkin. Aku tidak peduli dia ada dimana. Bahkan kalau dia ada di ujung dunia segera kejar. Aku yakin dia masih ada di dunia ini. Dia hanya ingin menghindariku saja. Dan jangan lupa... selidiki Kuchiki Rukia. Siapa dia. Siapa keluarganya. Dan siapa saja yang dekat dengannya."

Setelah memberikan perintah itu, Isshin menutup teleponnya dan menatap selembar foto wanita yang pernah dicintainya 13 tahun yang lalu. Apa yang di lakukannya? Apakah wanita ini sudah punya suami? Apakah dia selama ini hidup bahagia?

Isshin jadi merasa begitu bersalah luar biasa. Dia tak menyangka bahwa ini adalah akhirnya. Selama 7 tahun dia menanti hari ini. Apapun yang terjadi, Isshin sudah siap menanggungnya. Dia siap apapun akhir yang terjadi. Dia hanya ingin bertemu dengan wanita itu saja. Dia ingin bertemu dengannya.

Dan Kuchiki Rukia...

Entah kenapa ekspresi wanita itu selalu aneh setiap kali Isshin menyinggung wanita yang dia cintai. Apakah wanita itu tahu siapa yang dimaksud Isshin. Kuchiki Rukia datang ke perusahaannya juga rasanya begitu aneh. Dia sengaja masuk kemari meskipun pekerjaan sebelumnya jauh lebih hebat dari pekerjaan yang sekarang. Lalu kenapa dia datang ke perusahaannya?

Isshin yakin ada sesuatu tentang wanita itu yang dia sembunyikan. Isshin yakin sekali itu.

.

.

*KIN*

.

.

TBC

.

.

Hohoho! ini udah sampe di chap 5 lemonnya belum nongol ya?wkwkwkkwkw

saya lagi-lagi mau ngebuat Ichigo yakin 200 persen kalo dia itu cinta sama Rukia. apa udah kelihatan kalo dia udah bisa cinta sama Rukia? saya seneng ada senpai yang suka cerita ini. dan tentunya buat saya super semangat updatenya. oh ya... kalo senpai mau rikues lemon, syaratnya mesti review ya? wkwkwkw...

sulit juga nyampein perasaan Ichigo ke Rukia ya? apa karena perbedaan umur ini? kayaknya iya deh. saya jadi bimbang nih. apakah hubungan mereka itu bisa baik-baik aja? apa mereka bisa sama-sama? soalnya selama ini saya selalu lihat laki-laki yang menikah dengan wanita yang lebih tua itu gak bakal berlangsung lama. ada-ada aja alasan mereka pisah. saya gak mau kalau sampai seperti itu. karena disini Ichigo digambarkan remaja yang masih labil dan belum mengerti soal tanggungjawab. ditambah lagi kenyataan yang belum dia tahu soal masa lalu Rukia dan ayahnya.

heh? kok malah curhat begini ya? ckckckck... ok deh balas review dulu...

IIHD : makasih senpai udah review... hehehe emang enak banget jadi Rukia. tapi ada juga gak enaknya senpai. gimana kalo dia tahu sebenarnya? kalo senpai review terus saya bakal udpate kilat plus gak bakal hapus nih cerita heheheh

FYLIN-chan : makasih senpai udah review... hehehe syukurlah kalo seru. saya selalu dagdigdug dengar komentar review yang masuk ke fic saya. hehehe saya sangat senang kalo ada yang bilang fic ini bagus. walo kesannya pasaran. hehehehe yang itu... saya belum dapet feelnya senpai. saya gak bisa update fic yang gak dapet feelnya. jadi... berdoalah semoga dalam waktu dekat ini saya bisa update fic yang itu yaa...

Voidy : makasih senpai udah review... hehehe iya ya? saya emang suka seenaknya bikin deskripsi. senpai bener deh. saya gak bisa bikin kata-kata yang ambigu. mau buat kata-kata ambigu malah gak bisa dimengerti. makasih banyak senpai... hohohohoh chap kali ini saya udah usahain. tapi kayaknya masih parah ya? hehehe nee senpai... soal FB-nya kayaknya saya gak ketemu deh... beneran. kenapa kayaknya gak bisa ketemu ya padahal saya udah ketik nama sesuai dengan yang dikasih. ntar saya merantau dulu cari info yaa..

snow :makasih senpai udah review... apakah chap ini juga bagus senpai? hehehe

ichigo4rukia : makasih senpai udah review... hehehe iya ya? saya juga suka geli sendiri ngebayangi Ichigo yang lagi ngebayangi Rukia itu. perasaan saya agak aneh. tapi untungnya gak ya. soalnya aneh aja ada remaja yang ngebayangi cewek yang umurnya 12 tahun lebih tua dari dia. wkwkwk

Dewi Anggara Manis : makasih senpai udah review... kayaknya kasihan banget yaa Ichigo suka sama tante-tante? hohoho ntar kita liat reaksi tuh bocah kalo tahu yang sebenarnya yaa.. hehehe ini emang konflik keluarga. kan udah ada genrenya senpai. hehehe saya sebenernya suka banget cerita yang nonjolin masalah keluarganya. jadi terkesan lebih serius gitu. heheheh

Zanpaku nee : makasih senpai udah review... hehehe dibaca sebelum tidur? nah loh kayak dongeng dong? hehehe mungkin bukan karena insting kesaudaraan. soalnya Ichigo cuman merasa dia senasib sama Senna. sama-sama gak punya ibu. itu mungkin alasannya kenapa dia merasa Senna kayak adiknya. hohoho kalo dilihat dari masa lalu kayaknya emang bener deh yang adik tuh Ichigo.. hehehe

Numpang lewat : makasih senpai udah review... senpai ngitungnya pas Isshin bawa Kaien ke Kurosaki ya? salah senpai. waktu Isshin bawa Kaien itu, Isshin belum nikah. jadi statusnya cuma bawa anak orang aja. nah setelah Isshin nikah, Kaien juga dibawa. Ichigo lahir, Kaien udah 14 tahun. kan jadi emang lebih tua dari Rukia tuh? hehehe

The-Shiirayukii : makasih senpai udah review... hheehee emang diawal bikin nih fic banyak juga yang gak suka sama perbedaan yang kelewat jauh. tapi disitulah konfliknya senpai. haduh... kok banyak yang nodongin piso sama saya yaa? saya jadi ngerasa bersalah banget selama ini. hiks.. hehehe

Purple and Blue : makasih udah review... hehehe duhh kayaknya image Ichigo disini hancur banget yaa soalnya suka sama tante-tante hohoho. belum ada kalo chap ini. kalo senpai review lagi saya pastiin ada deh... hohohoho

nenk rukiakate : makasih udah review... eeehh ada syndromnya gitu ya? wah gawat Ichigo! segeralah periksakan dirimu ke dokter jiwa! hehhe kayaknya sulit kalo sampe ada double date deh nenk. bisa ngamuk Ichigo kalo Rukia kencan sama orang lain. wkwkwk karakter Senna ya? iya nih. saya capek bikin dia jahat terus. jadi sekali ini saya mau buat dia sedikit mengerti. sebenernya bukan insting kesaudaraan gitu loh. Ichigo cuma ngerasa kalo Senna tuh senasib sama dia. sama-sama gak punya Ibu. hehehe kok ahlinya bikin konflik? saya jadi ngerasa kayak yang suka cari masalah deh... hehehe oh ya, saya udah baca 3 month punyamu. ntar ditanggapinya yaa... hehehe

R : makasih senpai udah review... hahah bener deh. yuni sama rafi... wkwkwk akhirnya putus juga kan? tenang... saya gak bakal ngebiarin itu terjadi sama IchiRuki. saya cekik kalo Ichigo mutusin Rukia. hehehehe

Bad Girl : makasih senpai udah review... saya udah nungguin review senpai loh di fic saya. soalnya senpai tiba-tiba ngilang gitu. heheheh yah kayaknya banyak yang salah paham sama umur Kaien ya? Kaien dibawa Isshin waktu dia umur 12tahun dan Isshin belum nikah. jadi Isshin nikah dia juga bawa Kaien. Ichigo lahir, Kaien udah umur 14 tahun. jadi gitu deh... hehehehe

Vios : makasih senpai udah review... hehehe tenang aja. mereka gak mungkin jadian. tapi gak tahu deh kalo malah 'terpaksa jadian'. hehehe jangan dong dikasih api. ntar pada kebakaran deh...

udah dibales? hehehe

naa kalo yang udah baca fic ini tanggungjawab buat review loh. dan yaaa... buat yang mau lemon, saya mau lihat seberapa banyak yang rikues lemonnya, baru saya hadirkan deh. karena ngebuat lemon tuh butuh proses yang matang. dari dia jadi bunga, jadi bakal buah, jadi benih, jadi lemon kecil warna ijo, sampe lemon kuning yang masih aja asem... hehehe loh kok? malah ngebahas lemon beneran ya?

pokokke... tanggungjawab nih. yang udah baca fic saya WAJIB banget buat review.. nah saya mau berpetualang dulu mencari inspirasi yaa?

Jaa Nee!