Hola MInna!
Saya kembali datang memenuhi fandom ini dengan karya saya yang luar biasa ancur ini. Mohon dimaklumi. Hehehehehehe
DISCLAIMER :TITE KUBO
RATE : M (For Safe)
WARNING : OOC, AU, MISSTYPO, Cerita Gak Menarik, Pasaran, Gaje!
.
.
.
Rukia menggeliat dalam tidurnya. Entah kenapa perasaannya pagi ini begitu hangat. Padahal inikan musim dingin. Apakah tiba-tiba ada matahari yang muncul di dalam kamarnya? Terasa hangat dan nyaman. Mungkin karena dia terlalu lelah semalam. Karena sejak bertemu dengan pria brengsek itu, Rukia jadi gugup, karena sepertinya pria brengsek itu mulai sadar pada keanehan Rukia. Bagaimana bisa mengatasinya?
Rukia merenggangkan tubuhnya dengan masih berada di dalam selimut. Sambil menutup matanya menikmati bangun pagi ini. Tapi tunggu dulu! Rukia tidak ingat dia pulang sendiri ke apartemennya. Rasanya ada yang aneh. Tapi apa ya? Dia'kan mabuk berat?
Begitu membuka matanya, Rukia mengerjap bingung. Sejak kapan gulingnya berubah jadi warna jadi ungu? Seingatnya gulingnya masih berwarna cokelat polkadot deh. Rukia juga melihat tubuhnya yang terbungkus rapi dengan selimut sambil ke lehernya. Dan... tangan? Ada sebuah tangan melingkar di pinggangnya? Jelas ini bukan gulingnya. Lalu apa?
Begitu melihat lebih atas lagi, ada seorang laki-laki berambut orange cerah tidur dengan lelapnya berbantalkan sebelah lengannya yang lain. Heh? Masa sih?
Kalau begitu... ini jelas bukan gulingnya tapi orang? Dan... terlebih lagi itu... bocah?
Rukia langsung sadar dari tidurnya dan langsung bangun. Tidak percaya di pagi yang indah ini dia malah menemukan bocah tidur di sampingnya. Karena kesal...
"KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA PERGI SANA!" Rukia menendang bocah ingusan itu sampai jatuh terguling ke bawah kasurnya. Wajah Rukia masih memerah dan memeriksa tubuhnya apakah ada yang aneh. Atau ada pakaiannya yang hilang. Ok! Jangan panik! Semua masih lengkap. Rukia menarik nafas buru-buru dan menarik selimut membungkus tubuhnya. Mendadak kepalanya terasa sakit seperti terhantam batu besar. Ukhh... pasti karena mabuk semalam.
"Aduhhh... hei! Kau pikir aku ini apa sembarangan kau tendang begitu!" teriak bocah itu yang rupanya sudah sadar dari tidurnya. Dia tampak duduk di bawah lantai sambil memegang kepalanya yang sepertinya terbentur sesuatu.
"Heh bocah mesum! Apa yang kau lakukan di kamarku! Kenapa kau bisa ada disini! Bagaimana kau masuk hah!" bentak Rukia kesal. Dia tak ingat bagaimana bisa dia satu ranjang dengan bocah ini.
"Apa? Tampaknya kau memang mabuk berat! Aku sudah berbaik hati mengantarmu pulang, menggendongmu sampai ke kamarmu, tapi kau... bukan mauku tidur di kasurmu, tapi semalam, kau mengigau dan memegang jaketku dengan kuat, bagaimana aku bisa pergi! Aku bermaksud menunggumu sampai kau bangun, tapi aku ketiduran! Memangnya itu salahku?" jelas bocah itu sampai urat lehernya nampak. Sepertinya dia juga kesal karena Rukia sembarangan menendang bocah itu dari kasurnya. Rukia masih tidak bisa berpikir jernih. Kepalanya masih pusing dan matanya tidak fokus. Sake sialan! Berapa banyak yang Rukia minum tadi malam?
"Kau masih pusing?" tanya bocah berambut orange itu hati-hati.
"Apa... semalam... terjadi sesuatu?" tanya Rukia hati-hati.
Sebenarnya Rukia menolak memikirkan kemungkinan ini. Tapi semalam dia mabuk, dan hampir tidak ingat semuanya. Dia takut kalau semalam dia bicara dan bertindak di luar batas. Karena seingatnya ada sesuatu yang membuatnya merasa tidak nyaman sekarang ini. Bagaimana bisa? Astaga...
"Semalam? Oh... tentu ada." Jawab bocah itu santai.
Ada? Apanya? Apanya yang ada?
"A-ada?" kini giliran Rukia yang panik tidak karuan. Wajahnya memanas otomatis.
"Semalam... kau bilang padaku... kalau kau..." Ichigo bingung antara mau melanjutkan atau tidak. Kalau dia tidak lanjutkan tentu saja ini akan percuma sia-sia. Kalau dia lanjutkan, dia takut respon yang akan dia terima nanti. Tapi semalam dia sudah bertekad? Dan tidak mungkin mundur 'kan?
"Apa! Kau membuatku gugup!" teriak Rukia frustasi. Well, tidak ada yang lebih frustasi selain mabuk di depan seorang bocah dan melakukan tindakan di luar batas.
"Kau bilang... kau jatuh cinta padaku." Jawab Ichigo tanpa ekspresi.
Deg.
Jantung Rukia dengan sukses jatuh ke tanah dan hancur berkeping.
Dalam keadaan mabuk? Rukia mengatakan hal seperti itu? Pada seorang bocah? Astaga! Kuchiki Rukia kemana akal sehatmu! Beberapa saat Rukia diam sambil mengutuki botol-botol sake sialan itu. Kalau dia tidak mabuk tentu saja ini tidak akan pernah terjadi seumur hidupnya!
"Kau pasti bohong! Mana mungkin aku bicara begitu pada bocah ingusan!" sangkal Rukia.
Ichigo berdiri dari posisi duduknya dan menatap lekat mata ungu yang menatapnya tidak percaya dan setengah gugup itu. Sudah Ichigo duga. Pasti seperti ini.
"Aku tahu kau pasti menyangkalnya. Aku lebih suka melihatmu mabuk seperti semalam karena kau bicara jujur padaku. Kenapa kau harus menyangkalnya? Aku juga... jatuh cinta padamu..." kata Ichigo datar. Tapi mata cokelatnya menatap sendu pada Rukia. Dia sungguh kecewa, Rukia terang-terangan menolak pernyataannya yang semalam itu.
"Dengar bocah. Apa yang kukatakan semalam adalah 100 persen gurauan. Mana mungkin aku jatuh cinta pada bocah sepertimu. Aku ini. Wanita dewasa. Umurku sudah 30 tahun. Bukan bocah remaja yang akan langsung jatuh cinta pada pandangan pertama sepertimu. Mungkin yang kau katakan soal jatuh cinta padaku itu, karena kau terbawa suasana saat aku mabuk semalam. Kau jauh lebih pantas bersama gadis sebayamu." Jelas Rukia. Kini dia sudah berkepala dingin.
"Lalu apa yang membuatku tidak pantas untukmu?" tanya Ichigo tajam.
"Kenapa kau tidak mengerti juga? Dari segi umur saja kita sudah berbeda! Bagaimana mungkin kau bisa jatuh cinta pada wanita yang lebih pantas jadi bibimu? Kau hanya... kagum padaku sesaat saja. Dan bisa kupastikan itu bukan cinta seperti yang kau pikirkan. Kau masih terlalu muda dan labil untuk bicara cinta. Kembalilah ke realitas."
"Apa dimatamu aku ini hanya seorang bocah yang masih lugu dan terlalu dini untuk mengenal cinta? Apakah jatuh cinta ada batasannya? Apa dalam cinta ada aturan yang mengharuskannya mencintainya orang yang sebaya dengannya?"
"Ya. Tidak. Dan tidak."
"Apa?" tanya Ichigo tidak mengerti
"Ya. Aku hanya menganggapmu bocah yang masih lugu dan labil untuk bicara cinta. Tidak, dalam cinta tak ada batasan apapun. Dan tidak ada aturan yang mengharuskan seseorang jatuh cinta pada orang yang sebaya dengannya. Tapi tetap saja. Aku dan kau... kita ini tidak pantas untuk saling jatuh cinta."
"Kau salah Kuchiki Rukia. Kau sendiri yang bilang bahwa tak ada batasan dalam cinta, dan tidak harus mencintai orang yang sebaya. Aku mungkin memang masih terlalu lugu dan labil. Tapi aku tahu apa yang kuinginkan. Dan ini bukan sekadar main-main."
"Kau masih terlalu muda." Kata Rukia lelah. Dia mulai merasa bocah ini mulai keras kepala.
"Aku bisa lakukan apapun dengan umurku yang sekarang. Apanya yang terlalu muda?"
"Bagaimana kau bisa tahu kau jatuh cinta padaku?"
"Aku terus memikirkanmu setiap hari. Aku kesal kau tersenyum pada laki-laki lain. Aku ingin kau hanya tersenyum untukku. Jika aku tidak bertemu dan melihatmu rasanya hariku seperti kosong. Dan aku ingin menghabiskan sisa umurku untuk bersamamu. Apakah itu terdengar konyol?"
Rukia diam. Jelas pemuda di depannya ini adalah pemuda labil yang belum mengerti apa itu cinta. Dan Rukia sendiri? Bagaimana dengannya?
"Pergilah sebelum kupanggil keamanan." Kata Rukia singkat.
"Apa?" merasa seperti orang bodoh untuk Ichigo.
"Kau tidak dengar? Aku... tidak mau bertemu denganmu lagi."
Ichigo diam. Ternyata pernyataan jujurnya mendapat hasil seperti ini. Ichigo menarik nafas panjang.
"Baiklah. Aku akan buktikan kalau aku bukan bocah yang main-main denganmu. Tapi kalau kau sendiri yang datang menghampiriku, jangan salahkan aku kalau aku tidak mau melepaskanmu."
Ichigo meninggalkan Rukia sendiri di kamarnya dan melangkah keluar dari apartemennya.
Begitu yakin Ichigo sudah pergi, Rukia menumpahkan tangisannya. Jujur saja, dia juga punya perasaan itu. Tapi bagaimana kalau ini salah? Jika dia membalas perasaan bocah itu, dia bisa saja merusak anak itu dan masa depannya. Lalu apa yang akan orang-orang katakan tentang hubungan mereka? Apa yang akan Senna katakan kalau bibinya sendiri merebut laki-laki yang dia sukai? Lalu Kaien, senpainya? Apa yang akan dia pikirkan kalau Rukia menyukai adik mantan kakak kelasnya itu?
Beberapa saat kemudian, Rukia bisa merasakan perasaan kakaknya. Perasaan kakaknya yang mencintai orang yang tak bisa dia cintai. Mencintai orang yang tak bisa di miliki. Apakah sesakit perasaannya saat ini?
Rukia menutup rapat mulutnya dengan sebelah tangannya. Dia juga menginginkan pemuda itu. Dia juga bahagia menerima perasaan tulus pemuda itu. Tapi bagaimana? Takdirnya bukan seperti ini. Dia ingin pemuda itu bahagia. Tapi tidak bersamanya.
.
.
*KIN*
.
.
Ichigo sempat pulang ke rumahnya untuk mengganti seragamnya. Keadaan rumahnya kembali sepi. Sepertinya semua penghuninya sudah pergi. Ichigo hanya melewatkan jam pertama. Bukan hal buruk. Sejak percakapannya dengan wanita itu di apartemennya, Ichigo jadi berpikir berkali-kali. Bahwa dia semakin menginginkan wanita itu. Mungkin benar kata wanita itu, Ichigo masih muda dan labil. Itulah yang membuat Rukia jadi berpikir berkali-kali. Tapi Ichigo tetap percaya bahwa Rukia sudah pasti mencintai Ichigo meski wanita itu terus menyangkalnya dan mengelak dari kenyataan. Ichigo tidak peduli. Rukia hanya perlu sedikit pemaksaaan saja.
Ichigo melompat dari balik tembok 2 meter sekolah. Pintu gerbang sudah pasti ditutup. Dia tinggal lewat belakang, mengendap ke bagian loker dan menyusup masuk kekelasnya saat pelajaran kedua nanti.
"Kurosaki-kun!" panggil seorang gadis. Ichigo menoleh ke belakang. Rupanya gadis teridola di sekolahnya. Bukannya Ichigo suka julukan itu. Tapi dia hanya tiba-tiba ingat karena Keigo selalu berisik berteriak seperti itu. Inoue Orihime mengenakan pakaian olahraga. Sepertinya kelasnya akan ada pelajaran itu.
"Oh... Inoue. Ada apa?" tanya Ichigo santai. Tapi gadis ini selalu bertingkah malu-malu di depan Ichigo sambil menunduk.
"Ba-bagaimana bekalku kemarin?" tanya Orihime.
Bekal? Oh no! Ichigo lupa sekali soal itu!
"Oh... enak kok. Maaf aku lupa bawa kotak bekalmu." Kata Ichigo sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Tidak apa-apa. Mm... bisakah jam istirahat nanti kita bertemu? Ada yang ingin kubicarakan denganmu." Kata Orihime malu-malu.
"Denganku?" ulang Ichigo.
Orihime mengangguk cepat.
"Yah... tidak masalah sih."
"Terima kasih Kurosaki-kun."
Ichigo melihat gadis itu begitu girang lalu pamit untuk pergi ke lapangan. Ada apa sih dengan gadis itu?
.
.
*KIN*
.
.
Tadi Rukia nyaris menabrak anak kucing dan tiang listrik. Ini adalah efek dari sake sialan itu. Benar-benar bikin sebal saja sih! Dengan ini Rukia menyatakan dia kapok minum sake!
Membuatnya bicara aneh dan menimbulkan salah paham yang besar. Baiklah dia memang suka pada bocah itu. Tapi mana mungkin dengan bocah'kan? Apa kata dunia? Dan apa kata Nii-samanya nanti? Kalau Rukia tidak cukup waras, mungkin dengan girangnya dia akan menerima bocah itu untuk jadi kekasihnya. Ayolah siapa yang bisa menolak bocah dengan sejuta pesona itu? Senna bahkan bilang dia adalah laki-laki paling populer. Dan jujur saja, kalau Ichigo sedang tidak pakai seragam, kalau dia pakai pakaian bebas, orang tidak akan menyangka dia masih SMA. Tapi tenang... Rukia adalah wanita terwaras yang pernah ada. Dia mana mungkin begitu saja tergoda untuk memacari anak di bawah umur. Alihkan perhatianmu. Jika mereka tidak bertemu untuk waktu yang lama, tentu saja Rukia akan cepat melupakan pemuda ingusan aneh itu.
Kepala Rukia masih pusing karena pengaruh sake itu. Kapan pusing ini akan menghilang? Sok sekali dia menghabiskan berbotol-botol sake semalam? Benar-benar deh. Rukia akan turun dari tangga. Dia tadi naik lift ke lantai ini. Tapi kemudian, memilih turun ke lewat tangga karena tempat yang dia tuju jauh lebih dekat lewat tangga daripada lewat lift.
Rukia sebisa mungkin berpegangan pada pegangan tangga itu. Mabuk itu musibah. Jadi jangan dicoba lagi Kuchiki Rukia! Rutuk Rukia dalam hati.
"Yo Kuchiki!"
Karena kaget dan tiba-tiba, ditambah lagi kenyataan kepalanya pusing berat, Rukia nyaris tergelincir dari tangga itu. Rukia bersiap akan mendapat hantaman lantai itu. Tapi tiba-tiba dia malah mendarat di tempat lain.
"Kau kaget?" tanyanya lagi.
Rukia mendongak dan melihat wajah senpai-nya itu begitu dekat dengannya. Kaien Senpai?
Karena gugup dan malu, Rukia langsung bergerak heboh untuk melepaskan diri, tapi kemudian karena pusing sialannya belum hilang, dia kembali kehilangan keseimbangan. Kali ini lengannya yang ditangkap oleh Kaien sebelum Rukia jatuh lagi.
"Kau ini kenapa sih?"
"Aku... mabuk semalam." Jelas Rukia sambil memegangi kepalanya.
"Astaga. Ikut aku."
Kaien menarik lengan Rukia. Karena masih pusing, Rukia ikut saja.
Rupanya Kaien membawanya ke sebuah koridor di kantornya yang kebetulan menjual teh hangat otomatis. Rukia menerima teh hangat itu. Dia tak sempat bikin karena nyaris terlambat dan ditambah lagi perkara bocah sial itu.
"Kenapa kau mabuk semalam?" tanya Kaien sambil duduk di sebelah Rukia.
"Ada banyak masalah." Gumam Rukia.
"Kantor?"
Rukia hanya mengangguk setuju. Yah sebagian memang karena deadline proyeknya yang masih terbengkalai.
"Jangan terlalu dipaksa. Santai saja." Ujar Kaien. Rukia mengangguk setuju.
"Kuchiki." Lanjut Kaien.
"Ya Senpai?"
"Lupakan saja. Aku pergi dulu ya. Ada rapat sebentar. Kalau pusingmu sudah hilang baru kembali kerja. Oh... kalau kau butuh supir, aku bisa lakukan itu."
Sebenarnya... senpainya mau bilang apa sih?
.
.
*KIN*
.
.
"Mereka datang!" jerit Riruka kecil.
"Kau ini kenapa sih mengintip orang? Mungkin gadis itu Cuma memberi kotak makan lagi." Kata Senna malas.
"Kotak makan? Lalu kau lihat dia bawa semacam kotak? Apalagi? Ini pernyataan cinta! Minggu nanti'kan sudah festival musim dingin. Akhirnya! Dia lakukan juga!" kata Riruka berapi-api.
Begitu bel istirahat berbunyi, Riruka langsung menjemput Senna yang masih asyik di kelasnya sambil memecahkan soal Matematika dari pelajaran sebelumnya. Sebenarnya Senna malas ikut Riruka. Gadis berambut merah ini Cuma bilang dia melihat Ichigo dan Orihime pergi berdua ke belakang sekolah dan memutuskan untuk mengikutinya. Nah... sekarang siapa disini yang lebih tertarik pada Ichigo?
Senna sudah cukup mendengar pernyataan Ichigo kemarin. Apalagi yang mesti didengar? Pemuda itu mana mungkin bohong'kan?
"Ada apa Inoue?" Ichigo membuka suara.
"Mmm... sebenarnya..."
"Mereka bicara apa sih?" timpal Senna.
"Sstt! Kau ini diam dulu kenapa sih!" bentak Riruka kecil. Mereka bersembunyi di balik pohon besar yang tak jauh dari kedua orang itu ada.
"Ada yang ingin kutanyakan padamu. Tapi... maaf kalau ini terdengar memalukan." Lanjut Orihime.
"Apa?"
"Apakah... kau... mau kencan denganku?"
Senna mendengus. Gadis ini to the point sekali ya?
"Hah? Kencan?" kata Ichigo bingung. Well, ini sih terlalu tiba-tiba.
"Maaf kalau terdengar tidak sopan. Tapi... sudah lama aku menyukaimu. Dan aku... tidak tahu perasaanmu padaku. Jadi... bagaimana Kurosaki-kun?"
Ichigo diam sepersekian lamanya. Ada seorang gadis muda, cantik, seksi, jadi idola di sekolahnya yang terang-terangan menyatakan cinta padanya? Itu bukan hal aneh. Mereka sebaya.
Kau jauh lebih pantas bersama gadis sebayamu.
Kata-kata itu teringat jelas dalam benaknya. Sebaya? Iya... dia sudah menemukan seseorang yang sebaya dengannya. Tapi bukan orang yang dia sukai.
"Maaf Inoue. Tapi... aku sudah punya orang yang kusukai." Jawab Ichigo.
"Eh? Kurosaki-kun sudah... punya orang yang disukai?" ulang Orihime tidak percaya.
"Hah? Ichigo? Serius..." timpal Riruka dari balik pohon. Senna sendiri diam dan bingung. Tepat kemarin Ichigo bilang dia belum punya orang yang dia sukai. Lalu hari ini? Apakah Cuma ingin menghindar dari Inoue saja?
Setelah saling bicara dan mengungkapkan perasaan masing-masing, Orihime tersenyum lembut dan meninggalkan Ichigo untuk pamit duluan kekelas. Sedangkan Ichigo masih diam di tempat seakan memikirkan hal lain. Lalu tak lama seakan yakin pada pilihannya, Ichigo pergi dari sana.
"Siapa! Siapa gadis yang dia sukai itu? Apakah kau?" tanya Riruka berapi-api pada Senna.
"Mana kutahu. Kau'kan sudah kuceritakan kalau dia Cuma menganggapku adik. Darimana dia bisa menyukaiku." Balas Senna.
"Lalu siapa gadis itu? Aneh sekali. Yang kutahu selama ini Ichigo jarang tertarik dengan gadis manapun. Gadis seperti apa yang bisa membuatnya tertarik ya?"
"Mana kutahu."
Itu juga adalah pertanyaan untuk Senna. Gadis beruntung mana yang bisa membuat idola sekolahnya ini tertarik padanya. Sulit untuk menarik perhatian dari laki-laki seperti Ichigo. Dia selalu dikelilingi gadis cantik dan pintar. Jadi jika Ichigo menginginkan gadis dengan kriteria cantik, pintar, ataupun seksi semuanya ada di sekolahnya. Bukan hal sulit mencarinya. Dan yang jadi pertanyaan sekarang siapa gadis itu? Bukankah Ichigo sendiri tidak tertarik pada gadis yang tidak dia kenal? Jadi... kalau dia sedang tertarik dengan seorang gadis, artinya dia kenal dengan gadis itu'kan? Untuk laki-laki seperti Ichigo, gadis-gadis yang dia kenal bisa dihitung dengan jari. Tidak banyak. Bahkan teman sekelasnya saja Ichigo mungkin lupa. Dia sangat buruk dalam mengingat hal yang tidak penting. Senna paham itu. Lalu... siapa?
.
.
*KIN*
.
.
Setelah minum teh dari senpainya itu, Rukia sudah merasa lebih baik. Pusingnya sudah agak berkurang dan dia bisa melanjutkan kerjanya. Setelah mengetik beberapa kata lagi dia akan selesai. Tapi baru akan kembali mengetik, ponselnya mendadak bunyi. Sebuah pesan. Dari senpai-nya.
Kita makan siang ya.
Rukia tersenyum geli. Bahkan bosnya sengaja mengirim pesan lucu seperti itu hanya untuk makan siang. Rukia senang senpai-nya perhatian seperti ini. Baru saja Rukia akan membalasnya, ponselnya berdering lagi.
Tunggu aku di lobby kantor. Aku segera datang.
Rukia kembali tersenyum. Apakah senpai-nya ini punya semacam telepati. Darimana senpai-nya tahu kalau Rukia setuju mau makan siang dengannya dan menyuruhnya menunggu di lobby kantor? Lucu sekali. Dengan senyum lebar, Rukia membereskan laptop-nya dan mejanya. Lalu beranjak untuk pergi menuju lobby kantor. Dia sebentar lagi selesai. Karena besok hari ini dia bisa lembur. Sebenarnya bisa saja Rukia kerjakan besok. Tapi lebih baik lembur sekalian karena besok dia bisa langsung mengajukannya pada Presdir-nya untuk disetujui. Proyek ini butuh waktu lama, dan Rukia tak mau membuang-buang waktu. Rukia sedang memutuskan sesuatu saat ini. Mengenai masa lalunya. Cepat atau lambat semua ini akan segera diketahui. Dan Rukia tak ingin itu.
Rukia menuju lift kantornya dan bergegas menunggu di lobby kantornya. Keadaan kantor saat ini cukup sepi. Karena banyak karyawan yang sudah makan siang di luar dan beberapa lagi tampak sibuk masing-masing. Rukia melirik jam tangan putihnya. Dia hanya punya waktu 40 menit untuk makan siang. Sebenarnya juga dia bisa saja pergi satu jam. Tapi menghemat waktu adalah prinsipnya. Rukia mengedarkan pandangannya mencari bos lucunya itu. Tapi sampai sekarang belum tampak batang hidung. Apakah bosnya bakal terlambat atau bagaimana?
"Kau menunggu seseorang?"
Rukia kenal suara itu. Sambil tersenyum geli, dia membalik tubuhnya ke belakang untuk bersiap memaki bosnya.
"Darimana saja sih, aku sudah men―"
Rukia kaget ketika melihat dengan teliti siapa pria yang berdiri di belakangnya ini. Seorang laki-laki. Remaja laki-laki dengan pakaian seragam SMA. Masih dengan tasnya tiba-tiba datang menemuinya seperti ini. Rukia menghela nafas lelah. Apakah dia kurang cukup jelas mengatakan pada bocah ini soal tadi pagi? Sekarang malah mendadak muncul lagi.
"Aku sudah bilang, aku tidak mau menemuimu lagi. Kau tidak dengar?" kali ini Rukia benar-benar kesal sekali. Remaja labil yang keras kepala.
"Tidak. Aku sudah memutuskan untuk keras kepala denganmu sampai kau menerima perasaanku dan mengakui perasaanmu padaku. Apakah itu sulit?"
"Ichigo!"
"Itu bukan hal sulit'kan? Kau tinggal jujur padaku dan aku sudah jujur padamu. Apakah kau benar-benar mempermasalahkan usia kita?"
"Ya. Aku mempermasalahkan itu. Tidakkah kau pikir apa kata orang kalau aku berkencan denganmu? Seorang wanita yang berusia 30 tahun berkencan dengan remaja SMA? Kau pikir itu lucu? Itu terlihat seolah aku ini wanita kesepian yang butuh hiburan! Aku bukan wanita seperti itu tahu!"
"Dan aku bukan remaja yang menemani wanita kesepian. Aku bukan laki-laki seperti itu. Soal usia, aku akan menyesuaikannya denganmu. Jadi tolong berikan aku kesempatan. Tidak peduli bagaimanapun kau menolaknya, aku tidak akan mundur."
"Inilah kenapa aku benci remaja. Mereka keras kepala dan tidak mau dengar kata orang tua. Kau pikir dengan bersikap seperti itu kau sudah jadi pria dewasa? Dengar Ichigo. Aku butuh seorang pria yang lebih dewasa dariku dan tidak keras kepala. Dan kau... bukan pria seperti itu." Jelas Rukia tegas sambil menatap tajam ke arah remaja ini.
"Kuchiki sudah lama―Ichigo? Kau... di sini?"
Rukia menoleh ke samping. Melihat senpai-nya sudah berlari menghampiri dirinya. Nafas Rukia sudah tidak beraturan lagi. Dia bisa gila kalau seperti ini. Kaien melihat dua orang di hadapannya ini sedang bertingkah tidak wajar. Bahkan Ichigo sedari tadi hanya melihat Rukia saja. Ada sesuatu di antara mereka. Tapi... bukankah kemarin Ichigo kencan dengan keponakan Rukia? Lalu ada apa ini? Kenapa mereka...
"Maaf membuat kalian menunggu. Oh ya, ada keperluan apa kau kemari Ichigo? Oh... kau semalam tidak pulang lagi. Kau tahu... Karin, Yuzu dan Tou-san mencemaskanmu. Seharusnya kau memberitahu mereka kalau kau tidak pulang. Semalam kau kemana?" tanya Kaien pada Ichigo.
"Senpai. Aku duluan. Sepertinya aku tidak bisa ikut makan siang denganmu hari ini. Badanku tidak enak." Ujar Rukia lalu berbalik menjauhi dua pria ini.
"Kau tadi pusing dan sekarang tidak enak badan? Kau mau pulang? Biar aku yang mengantarnya." Kata Kaien beralih ke Rukia.
"Tidak perlu. Aku harus lembur, ada banyak pekerjaan. Aku duluan."
"Tidak peduli apapun penolakanmu aku akan menunggumu! Sampai kau datang." Kata Ichigo dan itu sukses membuat langkah Rukia terhenti. Begitu Rukia akan berbalik ke belakang, remaja itu sudah melangkah pergi ke luar dari lobby kantornya. Rukia jadi serba salah. Apa yang harus dia lakukan untuk menghadapi bocah itu?
"Sepertinya... ada sesuatu antara kau dan... Ichigo ya?" sela Kaien melihat Rukia yang tampak serba salah setelah kepergian Ichigo itu.
"Tidak Senpai. Tidak ada apapun. Hanya sedikit... salah paham." Jelas Rukia dengan suara kecil. Aku permisi."
Ichigo... tolong mengertilah. Kenapa kau tidak mau mengerti? Bisik Rukia dalam hatinya.
Rukia suka... Rukia sudah jatuh cinta pada remaja itu. Bukan tanpa alasan. Karena baginya, Ichigo seperti angin musim semi untuknya di saat keadaan Rukia seperti ini. Di saat dia sedang kebingungan tentang balas dendamnya. Ketika ada Ichigo, Rukia benar-benar lupa akan balas dendamnya. Rukia yang tak pernah menemukan pria sekeras kepala Ichigo dan sikap pemuda itu yang begitu lembut padanya. Memang Senpai-nya juga bersikap lembut pada Rukia. Tapi terkadang yang namanya jatuh cinta tidak mengenal tempat 'kan? Dia bisa saja jatuh pada semua orang. Tapi kenapa harus bocah itu? Kenapa harus orang yang disukai keponakannya sendiri? Rukia bisa gila kalau seperti ini.
.
.
*KIN*
.
.
Hujan deras turun sejak sore tadi. Hingga malam ini, pukul tujuh malam belum juga berhenti. Rukia memutuskan lembur untuk menghilangkan pikirannya soal tadi siang. Benar-benar tidak disangka setengah mati. Seandainya Rukia tidak menyukainya juga tentu saja hal ini tidak perlu terjadi. Sekeras apapun Rukia berusaha tetap tak ada hasil sama sekali. Sepertinya tinggal dia sendiri yang ada di kantornya. Kaien tadi sudah berniat untuk menemaninya. Tapi Rukia menolak dengan tegas. Pekerjaan Direktur jauh lebih berat dari seorang GM. Dan Rukia tak mau menyusahkan bosnya itu.
Setelah selesai mengetik plot terakhir, tugas Rukia selesai. Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Sepertinya dia keasyikan sendiri. Dan entah kenapa hujannya tidak turun juga. Ada apa sebenarnya dengan hujan kali ini?
Rukia bergegas keluar dari kantornya yang sudah gelap. Sedari tadi penjaga gedung sudah memperingatkan Rukia untuk segera meninggalkan kantornya karena sudah malam dan hujan terus turun. Rukia akhirnya bisa keluar dari basement kantornya dan pulang menuju rumahnya. Tampaknya hari ini adalah hari terletih dalam hidupnya. Rukia belum pernah lembur selama ini.
Hujan juga tinggal rintiknya saja. Tapi bisa dipastikan udara kali ini akan jauh lebih dingin dari malam biasanya. Kenapa harus sedingin ini coba?
Begitu tiba di depan gedung apartemennya, Rukia melihat sesosok pria yang samar-samar dia kenal. Pria itu berdiri di depan gedungnya dengan baju yang basah kuyup. Rukia terbelalak kaget melihatnya disana. Astaga!
Cepat-cepat Rukia turun dari mobilnya dan keluar menghampiri remaja gila itu. Apa maksudnya menunggu itu, menunggu di depan gedung apartemennya?
"Apa yang kau lakukan!" bentak Rukia kesal sambil menarik lengan bocah itu. Tapi dengan segera, tangan Rukia ditepis oleh bocah berambut orange itu.
"Aku... menunggumu." Ujar pemuda keras kepala itu dengan suara serak.
"Apa? Kau menungguku? Apa maksudmu... sejak kau meninggalkan kantor tadi hingga sekarang kau tidak pergi juga?" tanya Rukia tak sabar.
"Bukankah... aku sudah bilang... apapun penolakanmu... aku... aku..."
Rukia terkesiap kaget lalu reflek memeluk bocah yang sudah tak sadarkan diri itu. Tubuh besar remaja ini menimpa tubuh mungil Rukia. Sepertinya dia kelelahan berdiri sejak siang tadi dan ditimpa hujan pula. Rukia benar-benar terkejut luar biasa. Dia benar-benar keras kepala!
Dengan susah payah Rukia memasukkan tubuh besar ini ke dalam mobilnya dan beranjak menuju basement apartemennya. Dan kejadian ini kembali terulang ketika Rukia membawanya pertama kali masuk ke dalam apartemennya. Rukia tahu ini salah, tapi bagaimana lagi? Dia mana mungkin tega membiarkan pemuda ini semalaman berada di luar'kan? Di tengah cuaca seperti ini?
Setelah tiba di depan apartemennya, Rukia menjatuhkan pemuda ini di sofa ruang tamunya. Tidak di kamarnya lagi. Dengan kesal, Rukia mengambil ponselnya dengan kasar dari dalam tas tangannya. Lalu mencoba menekan beberapa nomor dan menunggu sambungannya. Dia tidak mau sesuatu yang tidak diinginkannya terjadi sekarang.
"Halo. Senpai? Bisa bantu aku? Ya... karena―ahh!"
Tangan Rukia yang memegang ponsel terasa berdenyut nyeri. Bocah berambut orange itu sadar dari pingsannya dan menarik kasar tangan Rukia. Lalu membuang ponsel Rukia dan kini menatap tajam wanita ini. Rukia sudah tak mengerti lagi bagaimana caranya menghadapi pemuda keras kepala ini.
"Apa yang kau lakukan! Kau menyakitiku tahu!" bentak Rukia sambil mengibaskan tangannya berusaha melepaskan diri dari cengkeraman pemuda aneh ini. Tangan Ichigo terasa hangat. Wajahnya juga memucat. Matanya cokelatnya redup menatap Rukia. Ichigo berdiri dan mulai mendekati Rukia lalu menghimpitnya ke dinding. Rukia mulai takut melihat bocah ini bertindak aneh dan di luar batasnya.
"Ap-apa yang mau kau lakukan?" tanya Rukia gugup sambil mendongak menatap Ichigo yang kini berdiri sangat dekat dengannya. Tangan mungilnya berusaha mendorong pergi tubuh pemuda besar ini.
"Aku... sudah bilang... kalau kau yang datang menghampiriku... aku tak akan... melepaskanmu." Ujar Ichigo dengan suara serak. Sepertinya ada yang salah dengan tenggorokannya.
"Aku tidak menghampirimu! Aku hanya membawamu pergi dari sana karena hujan! Dan aku akan menghubungi Senpai supaya dia membawamu pergi dari sini!" kata Rukia tajam.
"BERHENTI MENYEBUT KAIEN! AKU KESAL KALAU KAU MENYEBUT NAMANYA!" bentak Ichigo kasar. Rukia sampai kaget karena laki-laki ini meneriakinya begitu keras sampai telinganya berdenging.
"Apa... apa alasanmu menginginkan pria dewasa dan tidak keras kepala seperti Kaien? Dan karena aku masih seorang bocah kau menganggapku tidak dewasa? Apa aku harus seperti Kaien baru kau menoleh padaku?"
"Tolong jangan membuatku bingung! Kau membuatku serba salah!" jerit Rukia sambil memukul kencang dada bidang Ichigo. Lalu menyandarkan puncak kepalanya ke dada Ichigo. Rukia menangis. Dia kesal. Kenapa dia selalu seperti ini. Bersikap plin plan dan tidak bisa memegang kata-katanya sendiri. Dia benci dirinya yang seperti ini.
"Kau tidak tahu betapa berat ini. Meskipun aku bilang aku juga jatuh cinta padamu, aku juga menginginkanmu, tapi hubungan ini tidak bisa kita lakukan. Semua ini terlalu mustahil. Tolong jangan membuatku berharap banyak pada mimpi ini. Kita seharusnya kembali ke realitas. Kau masih muda. Jangan melibatkan hidupmu yang berharga denganku. Aku tidak mau kau menyesal bersamaku." Jelas Rukia sambil terisak.
"Tidak ada yang kusesalkan kalau bersamamu. Kau harus bertahan apapun kondisinya. Demikian aku. Jika semua orang mengutuk hubungan kita, aku tidak peduli. Asalkan ada kau, aku sanggup bertahan."
Rukia mendongakkan kepalanya menatap mata cokelat laki-laki ini. Masih setenang itu. Masih seperti angin musim gugur yang bertiup hangat ke arahnya. Rukia lelah seperti ini terus. Dia lelah bersembunyi dari perasaannya sendiri. Rukia tahu ini terlarang sekali. Apapun yang dia lakukan untuk menebus kesalahan ini sama sekali tidak akan bisa dia bayar dengan apapun.
Ichigo menghapus jejak basah di wajah Rukia dengan kedua ibu jarinya. Menyingkirkan anak rambut yang ada di wajah Rukia. Lalu memandang lembut pada wanita ini. Kepala Ichigo menunduk perlahan-lahan sampai mensejajarkan wajahnya pada wajah mungil itu. Lalu menutup matanya untuk langkah selanjutnya.
Bibir tipisnya menyapu lembut bibir mungil Rukia. Mengecupnya dengan hati-hati dan tidak ingin menyakitinya. Tangan kecil Rukia mencengkeram kemeja basah pemuda ini sekuatnya ketika kecupan itu semakin intens dan intim. Ichigo mulai berani memasuki ruang lembab dan basah milik Rukia. Mengajak lidah masing-masing untuk saling bertautan tiada henti. Menghantam semua batas yang ada. Tidak ada logika. Semuanya berlalu dengan insting. Tubuh Ichigo semakin rapat menekan tubuh mungil Rukia ke dinding di belakang Rukia. Wajah Rukia memerah menahan nafas akibat ciuman panas ini. Ichigo hanya sesaat melepas pagutan mereka untuk memberikan ruang bagi Rukia bernafas. Wajah wanita mungil ini berubah merah padam sambil memejamkan matanya. Nafas terengah-engah dan desahan keluar dari bibir mungil itu. Dada Rukia naik turun karena aktivitas singkat ini. Tapi Ichigo tidak membiarkan itu berlangsung lama. Sekali lagi dia menyerang bibir mungil itu.
Tangan Ichigo mulai bergerilya membuka blazer hijau gelap Rukia. Setelah blazernya lenyap jatuh ke lantai, kali ini giliran kancing-kancing kemeja Rukia. Dengan masih memulai pagutan yang lebih hangat, Ichigo melepas kancing itu hingga menampakkan tubuh putih milih Rukia. Rukia mendorong paksa wajah Ichigo karena merasa tubuh bagian atasnya terasa dingin terkena angin. Mengerti keinginan Rukia, Ichigo menjauhkan wajahnya dan menatap penuh tanya pada wanita ini. Tapi Rukia hanya menunduk dengan wajah merah dan malu.
"Jangan... hentikan ini... sebelum terlalu jauh..." lirih Rukia.
"Kau percaya padaku?" bisik Ichigo lembut.
"Kumohon... hentikan ini..." balas Rukia.
"Kau... tidak menginginkanku?"
Rukia mengangkat wajahnya dan mendongak menatap pemuda ini. Wajahnya tulus menatap Rukia. Yah... Rukia adalah wanita yang penuh hasrat. Siapa yang tidak menginginkan hal yang begini indah? Tapi akal sehatnya dikalahkan oleh insting liarnya yang ingin menyentuh Ichigo juga. Menyentuh pemuda ini lebih dalam di malam yang dingin ini.
Dengan sekali sentakan, Ichigo menggendong tubuh mungil Rukia sambil menciumi bibir Rukia lebih intens. Rukia lebih memilih melingkarkan kedua tangannya di leher pemuda itu. Ini adalah dosanya yang terbesar selain keinginan balas dendamnya.
.
.
*KIN*
.
.
Kemeja Rukia dan Ichigo sudah tanggal. Mereka tak mengenakan pakaian apapun pada tubuh atasnya. Kecuali Rukia yang masih memakai bra hitamnya untuk menutupi dada. Begitu menghempaskan tubuh mungilnya di atas kasur Rukia, Ichigo melorotkan rok Rukia dan membuangnya sembarangan. Kini Rukia hanya mengenakan pakaian dalam saja. Sungguh ini perbuatan yang tidak masuk akal. Tapi orang yang sudah terkena hawa nafsu mana bisa menghentikannya. Apalagi Ichigo yang notabene-nya adalah remaja yang selalu ingin tahu dunia dewasa dan keinginan melakukan hal-hal yang belum waktunya. Remaja yang terbakar nafsu seperti Ichigo tak mungkin bisa menghentikan tindakan liar seperti ini.
Lagi. Ichigo menindih tubuh mungil Rukia dan mencium lagi bibir wanita itu. Rukia bisa merasakan panas tubuh Ichigo yang di atas normal ini.
"Ichi―uhmmm... kau demam?" tanya Rukia di sela-sela ciuman mereka yang panas itu. Ichigo tak menjawab tapi beralih ke leher putih Rukia. Mengecupnya bertubi-tubi lalu menggigitnya pelan. Rukia mendesah geli saat lidah panas Ichigo menyentuh kulitnya.
"Ahh... hhh... mmhhh..." desah Rukia semakin tidak terkontrol.
Masih sibuk menikmati leher putih milik Rukia, tangan kanan Ichigo bergerak melepas tali bra Rukia. Lalu tangan kirinya yang mengangkat tubuh mungil Rukia untuk tahap selanjutnya. Sekarang tubuh atas Rukia benar-benar polos. Rukia bergidik merasa dingin saat dadanya tak lagi ditutupi branya. Tapi segera kembali hangat dengan tubuh Ichigo yang menindihnya lagi. Sudah bisa dipastikan, Ichigo demam!
Tangan Rukia bergerak liar ketika Ichigo menurunkan bibir nakalnya menuju bagian bawah dari lehernya yang kini sudah meninggalkan bercak merah. Jari-jari Rukia menekan kepala Ichigo dengan kasar.
"Ahhh! Mmnnnhhh... hhh.. ahhh... ahh..." rintih Rukia ketika gigi Ichigo menggigit dada mungil Rukia. Rasanya sakit. Tapi sebentar kemudian, ada sensasi nikmat tersendiri. Benar-benar terasa seperti di surga. Kemudian, lidah hangatnya menari di pusat dada Rukia. Ichigo tampak menikmati bagian itu. Tapi Rukia sendiri terus menerus menggeliat tidak nyaman. Rasanya geli. Satu tangan Ichigo meremas dada mungil Rukia yang menganggur. Dan satu tangannya lagi bergerak sambil memuat jejak dengan telunjuknya di tubuh Rukia. Tangan Ichigo yang bebas, segera menarik-narik kain yang menutup tempat terakhirnya itu. Mengerti... Rukia mengangkat sedikit pinggulnya mempermudah Ichigo dalam tugasnya.
Akhirnya, kain itu sudah tidak berguna lagi menutup tubuh Rukia. Kini, Rukia benar-benar polos tanpa sehelai benangpun.
Setelah menjilat permukaan dada Rukia, pemuda itu lantas mengulumnya dengan ketat. Rukia bisa merasakan hangat mulut Ichigo di setiap tubuhnya. Rukia juga mengelus punggung hangat pemuda itu. Intinya, semua tubuh Ichigo terasa panas karena demam.
Setelah puas dengan dadanya, Ichigo kembali beralih turun. Kali ini... perut Rukia. Tapi itupun hanya sebentar. Karena Ichigo sudah tak sabar pada bagian final. Ichigo sudah menemukan bagian terlarang itu. Titik itu begitu merah dan basah. Ichigo tersenyum simpul mendapati pemandangan menyenangkan ini. Seumur hidupnya, baru kali ini dia melihat langsung bentuk tubuh seorang wanita. Dan hasilnya... memuaskan.
Ichigo merapatkan wajahnya menuju tempat terlarang itu sambil membuka lebar paha Rukia untuk menampung wajahnya. Rukia melesakkan kepalanya ke bantalnya dan tangan-tangan mungilnya mencengkeram erat seprai di bawahnya hingga buku jarinya memutih. Nafasnya bertambah tidak teratur dan memburu kencang.
Dengan penuh nafsu, Ichigo menyapukan lidahnya ke daerah itu. Membersihkan cairan basah dan lengket itu.
"Aahhh... arggghh... hhh... hmmnggghh..." erang Rukia. Dia semakin tidak nyaman dengan perbuatan Ichigo. Rasanya geli dan aneh. Ada sesuatu yang masuk ke dalam daerah itu dengan liarnya. Rukia tak membayangkan ini bisa terjadi. Ketika kegiatan ini berlangsung, ada sesuatu di bawah Rukia yang mendesak ingin keluar. Rukia tak bisa mengendalikan dirinya untuk menahan desakan luar biasa itu. Hingga akhirnya, desakan tak tertahankan itu keluar semuanya. Tapi anehnya, Ichigo malah menghisap semua desakan itu. Yang Rukia tahu, itu adalah klimaksnya yang pertama dalam hidupnya.
Setelah puas menghisap semuanya, Ichigo bangkit dan melihat wajah memerah dan tubuhnya yang lemas karena klimaks itu. Rukia masih berusaha mengatur nafasnya yang memburu tidak karuan. Rasanya oksigen menghimpit dirinya. Ichigo bergerak melepas celananya. Lalu kembali menindih tubuh mungil itu untuk sekadar merasakan bibir mungil merah yang menggoda itu. Rukia tak bisa bergerak lagi saking lemasnya. Benar-benar lemas.
Ketika ciuman hangat itu berlangsung, Rukia melesakkan kepalanya lagi ke bantal. Ada sesuatu yang menyetrumnya.
"Ahh! Arghh..! itu... itu apa Ichi―oohh!" jerit Rukia merasa tubuh bawahnya tengah dimasuki sesuatu. Sesuatu yang lebih liar dari lidahnya tadi. Rukia menggeliat liar sampai pinggulnya naik turun karena sensasi ini.
"Jariku. Kau akan merasa baik setelah ini." Bisik Ichigo tepat di telinga wanita ini. Pandangan Rukia semakin berkabut ketika merasa jari itu bukan hanya satu. Tapi tiga sekaligus. Rasanya sakit, tapi begitu jari-jarinya itu digerakan dengan kecepatan tertentu rasanya nikmat. Ini sangat aneh.
Ichigo mengeluarkan jarinya karena lagi-lagi basah oleh klimaks ke sekian kalinya milik Rukia. Tak sabar, Ichigo membuka lebar paha Rukia. Wanita itu sudah lemas sejak tadi. Kini, tubuh Ichigo juga ingin mengambil bagian. Perlahan, dia mulai menggesekkan miliknya pada tubuh bawah Rukia. Rukia bergerak liar karena sensasi itu. Setelah menggeseknya, Ichigo mencoba memasukkannya perlahan-lahan.
"Tidak! Tidak! ahhh! Jangan Ichigo! Sakit... sakit sekali...!" jerit Rukia karena milik Ichigo yang nekat masuk ke dalamnya. Ini berbeda sakitnya ketika lidah dan jari Ichigo yang masuk. Kali ini terasa panas dan nyeri.
Ichigo menahan tangan Rukia dengan kedua tangannya. Karena sejak tadi tangan Rukia terus menyakiti dirinya sendiri dengan memukul kepala ranjang dan kasurnya. Ichigo maju kedepan untuk mencium bibir wanita ini mencoba menenangkannya.
"Hmmpphh! Mmmhhh! Mnnhhh!" jerit Rukia yang terbungkam oleh ciuman Ichigo. Jujur saja, sejak dulu Rukia tak pernah melakukan ini. Tidak sekalipun.
Dan akhirnya, sesuatu yang sejak tadi ditakutkan Rukia terjadi. Dirinya sudah terkoyak hancur. Tubuh bawahnya tak lagi mengeluarkan cairan bening dan lengket, melainkan merah dan pekat. Rukia membelalakan matanya selebar mungkin dan menangis dan ciuman panasnya. Dirinya... sudah bukan wanita suci lagi.
"Ahh... sabar Rukia... hhh... sebentar..." Ichigo ikut mendesah ketika dirinya sudah masuk seutuhnya di dalam sana. Tinggal membuat Rukia beradaptasi dengan miliknya saja. Tapi wanita itu masih bergerak liar dan mengangkat pinggulnya mencoba menahan sensasi aneh ini.
"Akhh... sakit... kau... menyakitiku..." lirih Rukia sambil menangis lagi.
"Tidak. aku tidak menyakitimu. Tenang... ini akan terasa baik." Ujar Ichigo sambil mengecup pipi Rukia yang basah oleh airmata.
Memang benar. Setelahnya tidak sakit. Tapi terasa nikmat dan baik. Rukia mencoba menikmati setiap gerakan Ichigo. Tangan mungil Rukia memeluk leher Ichigo kencang dan membawanya dalam ciuman yang Rukia inginkan. Kaki Rukia juga memeluk pinggul Ichigo agar lebih intim. Rasanya panas tubuh Ichigo sudah berpindah ke Rukia. Karena kini, Rukia yang merasa panas. Beberapa sentakan terakhir, mereka berhenti. Ichigo sudah mencapai klimaksnya. Rukia sendiri sudah mencapai klimaks berkali-kali.
Nafas mereka saling beradu satu sama lain karena Ichigo menempelkan dahinya ke dahi Rukia. Wanita berambut hitam ini memejamkan matanya mencoba menikmati saat puncak mereka. Ini memang tidak buruk.
"Aku mencintaimu... Rukia..." lirih Ichigo sebelum akhirnya memejamkan matanya rapat.
Haruskah Rukia juga membalas kata-kata itu?
.
.
*KIN*
.
.
"Bawakan padaku semua data yang kau miliki. Pastikan bahwa semua data mengenai Kuchiki Rukia itu benar dan tidak salah. Aku tunggu besok pagi."
Isshin menutup teleponnya. Isshin melesakkan kepalanya kesandaran kursi kerjanya. Jadi apakah selama ini dia sudah sia-sia saja? Pencarian yang selama ini dia lakukan sia-sia?
"Kuchiki Rukia... aku tidak akan melepaskanmu." Gumam Isshin.
.
.
*KIN*
.
.
TBC
.
.
Wuw... chap terpanjang... hehhe
biar sekalian sajalah. soalnya ini udah 6 chap. harusnya bagian ini ada di chap 5 kemarin. jadi saya kebutin aja deh... hohoho...
maaf senpai kalau yang ini kepanjangan dan bikin pegal. supaya bisa masuk konflik klimaksnya. jadi setelah ini saya rencana mau ngebuat Isshin tahu siapa Rukia dan dimana Hisana. hohohoo
maaf kalo lemonnya kurang anget. air angetnya habis buat mandi pagi saya... hehehe jadi sekadarnya saja yaa... heheeh saya udah bilang bakal kebutin semua fic saya. soalnya beberapa waktu lagi saya bakal mengembara. semoga gak pegel baca chap ini ya. saya takut senpai bosan dan gak mau review deh... hehehe
balas review dulu...
snow : makasih udah review senpai,,, heheh Senna? anak Isshin dong. hehehe review lagi senpai...
Voidy : *gulinggulingsampekejurang* makasih udah review senpai... heheeh iya ya? karena minggu lalu lagi gak mood nulis jadi ancur. wkwkw fic sayakan memang suka ancur senpai. hehehe kali ini saya hati-hati. tapi kayaknya masih ada yang salah ya senpai? maaf senpai... hehe ehh kirim via email? emain kemana senpai? review yang kedua... Rukia tuh sebenernya mulai suka pas dicium itulah. soalnya selama hidupnya dia belum pernah kena cium cowok manapun *kasihannya* makanya dia jadi ngerasa beda sama Ichigo. memang agak aneh sih... wkwkwkw
Purple and Blue gak sempet login : makasih udah review senpai... wohohoho senpai minta lemon ya? ini ada... tapi gak full chap sih. dan kesannya datar aja. saya gak berani bikin yang hot. hehehe soalnya, suka malu sendiri baca lemon bikinan sendiri. kalo bikinan senpai lain sih, langsung tancap!
Leory Agrimony : makasih udah review senpai... hehehe maaf gak bisa update cepet. kemarin ada sedikit gangguan... hehehe review lagi yaa
Bad Girl : makasih udah review senpai hehehe iya ya... emang chap kemarin rada gak masuk akal. saya jadi malu sendiri ngebacanya. hehehe kayaknya emang gaya penulisan saya ini tipe ancur ya? hehehe ok senpai. saya bakal fokus ke cerita kok. hehehe sad ending? hmm saya malah belum rencanain kesana senpai... hehehe endingnya masih kabur...
Zanpaku nee : makasih udah review senpai... itu loh senpai... 13 tahun lalu waktu dia ninggalin Hisana itu... nah itu fotonya Hisana... hehehe
FYLIN-chan : makasih udah review senpai... gak papa kok banyak tanya... hehehe kalo soal itu nanti kita bahas di chap depan senpai. biar senpai penasaran hehehe
Lhyn hatake : makasih udah review senpai.. wah... wah... kok gitu senpai? hehehe iya ya saya kurang ngebahas Byakuya semenjak chap... 3 kali ya? waduh... Byakuya ketinggalkan banyak chap nih... soalnya diambil Isshin sih... heheh
Shirayuki Umi : makasih udah review senpai... heheeh iya sih, agak gak enak emang, tapi kalo sama Kaien or Byakuya, gak IchiRuki lagi dong... hehehe
ichigo4rukia : makasih udah review senpai, hehehe adegan kiss? woow... saya gak nyangka senpai suka... hehehe aduh jangan dibunuh dong sayanya. saya masih punya utang banyak, entar bayar dulu biar langsung masuk surga... hehehe
nenk rukiakate : makasih udah review nenk... hehehe iya... kacau tuh urusannya... tapi kan beda mereka gak terlalu jauh nenk. gak sampe 10 tahun. lha ini? saya jadi ngerasa bersalah deh... hehehe
Wakamiya Hikaru : makasih udah review senpai... waduh... kok pada langsung nanya ending nih? apa trauma dengan ending Prickly Rose saya? hehehehe
The-Shiirayuki : makasih udah review senpai... wah... malah gergaji, jangan sadis dong senpai, langsung pake golok aja... hehehe
Mieko Asuka-kun : makasih udah review senpai... jangan panggil saya senpai ya... saya belum setaraf itu dengan cerita ancur saya. jadi panggil Kin aja gak papa kok... hehehe doain aja endingnya yaa...
R : makasih udah review senpai... heheeh iya sih, tapi emang sempet jadi pikiran pas umur yang jauh itu. harusnya bedanya 10 tahun aja ya...? hehehe hmmm reqnya? waduh... jangan sadis gitu dong senpai. kan konfliknya udah banyak. hehehe tapi saya pertimbangkan kok... hehehe
Nana the GreenSparkle : makasih udah review senpai... hmmm ya dikit-dikit sih... heheh review lagi yaa..
udah bereskan? ok deh...
kata terakhir...
tolong bantuan reviewnya yaa... review adalah penyemangat bagi seorang author dari reviewernya. makanya tolong dong...
yang udah baca wajib review yaa... hehehe
Jaa Nee!
