Hola MInna!

Saya kembali datang memenuhi fandom ini dengan karya saya yang luar biasa ancur ini. Mohon dimaklumi. Hehehehehehe

DISCLAIMER :TITE KUBO

RATE : M (For Safe)

WARNING : OOC, AU, MISSTYPO, Cerita Gak Menarik, Pasaran, Gaje!

.

.

.

"Masuk."

Isshin masih memijat pelipis kepalanya yang terasa pusing. Sudah beberapa waktu berlalu sejak putra sulung angkatnya itu membawa pergi wanita itu. Isshin belum begitu puas menekan wanita itu. Jelas kedatangannya kemari adalah dirinya. Lalu apa yang terjadi? Kenapa wanita mungil itu tidak meneruskan balas dendamnya saja? Kenapa dia menghindari Isshin? Dan anak... anak siapa yang sebenarnya dilahirkan oleh Hisana? Apakah mungkin anak dari suaminya? Kenapa Isshin merasa menolak untuk mengakui semua itu. Rasanya tidak mungkin. Ada perasaan mengganjal. Isshin seharusnya melihat siapa anak itu. Anak yang dilahirkan Hisana dengan pertaruhan nyawanya.

Begitu Isshin sadar, ternyata yang berdiri di depan mejanya adalah orang yang baru saja dia bicarakan tadi. Dengan pandangan datar, Isshin mendongak melihat wajah pria berambut hitam itu. Kini anaknya memandangnya penuh minat dan penasaran.

"Kenapa? Ada yang ingin kau tanyakan?" ujar Isshin, merasa bahwa Kaien sudah pasti punya maksud tertentu di sini.

"Apa yang Tou-san inginkan dari Kuchiki Rukia?" tanya Kaien telak. Dia merasa tak perlu lagi basa basi menanggapi ayah angkatnya ini.

"Kuchiki Rukia? Kenapa kau tanyakan wanita itu? Kau bilang dia hanya bawahanmu. Kenapa tiba-tiba bertanya apa yang kuinginkan dari Kuchiki Rukia?"

"Penyebab kematian Kaa-san Masaki, dan tentang pertengkaran delapan tahun yang lalu. Tou-san pikir aku tidak tahu?"

Mata Isshin membulat ketika Kaien menyebut masalah kematian Masaki dan pertengkaran delapan tahun yang lalu. Dia pikir, tak seorangpun anaknya yang tahu masalah ini. Sungguh. Lalu ada apa dengan Kaien?

"Tou-san pikir aku tidak tahu? Selama ini aku menutup mata dan telinga untuk menjaga perasaan Ichigo, Yuzu dan Karin. Makanya aku diam dan bertindak seolah tidak ada yang terjadi. Aku tahu... soal wanita yang Tou-san cintai sebelum menikah dengan Kaa-san Masaki. Aku juga tahu... kalau Kuchiki Rukia mengingatkan Tou-san pada wanita itu." Jelas Kaien panjang lebar.

"Kau... sebenarnya kau tahu sampai dimana?"

"Kumohon Tou-san. Hentikan ini. Jangan mengganggu Kuchiki Rukia lagi. Demi Ichigo. Juga Yuzu dan Karin. Tou-san harus berhenti menemui wanita itu lagi. Seberapa besarpun keinginan Tou-san untuk bertemu dengan wanita masa lalu Tou-san, jangan lagi melibatkan Kuchiki Rukia." Pinta Kaien memohon. Wajahnya terlihat sendu. Dia tak ingin sebenarnya ikut camput masalah ayahnya. Masalah masa lalunya ini. Tapi kalau sudah menyangkut wanita mungil berambut hitam itu, Kaien tak punya jalan lain. Dia tak ingin Rukia tersakiti. Apalagi Kaien paham benar... seberapa benci Ichigo pada wanita masa lalu ayahnya. Kaien selama ini hanya diam dan tidak berniat mengungkitnya. Karena Kaien pikir semuanya sudah usai. Tapi ternyata Kaien salah. Semuanya belum usai. Apalagi semenjak Rukia ada di sini. Ayahnya selalu bersikap tidak wajar pada Rukia. Kaien selalu mengawasi itu tanpa diketahui siapapun. Dan puncaknya adalah hari ini. Dimana ayahnya begitu keras membentak dan menekan Rukia.

"Tahu apa kau. Kau masih muda. Belum paham apa yang kurasakan. Aku tak akan berhenti hanya karena kau yang memintanya. Dan soal ketiga anakku. Sudah seharusnya mereka menerima masa lalu ayahnya. Ibu mereka... sudah tidak ada."

"Tou-san!" bentak Kaien. Darahnya begitu mendidih ketika tanpa berpikir, Isshin malah dengan jelas mengatakan hal itu.

"Kau tak akan pernah tahu, bagaimana perasaanku, meninggalkan wanita yang kucintai. Terpisah selama 17 tahun. Dan ketika aku ingin sekali bertemu dengannya, dia sudah tiada. Apa kau paham perasaanku? Apa kau tahu rasanya! Kalau kau tidak tahu, maka jangan ikut campur lagi! Keluarlah."

Meskipun Isshin membentaknya sedemikian dan menyuruh Kaien keluar, pria itu masih tetap bergeming. Dia tak mundur selangkahpun.

"Kalau begitu... maaf Tou-san. Akhirnya aku harus mengatakan hal ini. Tou-san tidak boleh mengganggu wanita itu lagi. Karena aku... sudah memutuskan untuk membawanya pergi dari sini. Membawanya untuk hidup bersamaku, agar Tou-san tak bisa lagi melihatnya."

"Shiba Kaien! Kau tahu apa yang kau katakan?"

"Ya. Sangat tahu. Kalau begitu aku permisi. Presdir."

Kaien menunduk hormat pada ayah sekaligus atasannya itu. Kemudian berjalan menuju pintu keluar dan pergi dari ruangan itu.

Kaien berhenti di koridor itu lalu menyandarkan seluruh tubuhnya ke dinding koridor. Sekarang dia tahu. Seberat apa beban Kuchiki Rukia. Pilihan yang bagus, jika Kuchiki Rukia menghindari ayahnya. Karena ayahnya... bukan orang yang mudah. Kaien tak bisa membayangkan apa yang seandainya terjadi, kalau ayah angkatnya itu tak mendapatkan apa yang diinginkannya.

.

.

*KIN*

.

.

Rukia menghentikan mobilnya di ujung sebuah lorong. Tak jauh dari lorong itu adalah rumah Ichigo. Mungkinkah itu kediaman rumah Shiba? Hari sudah beranjak malam. Sebenarnya Rukia sama sekali tidak tega menyuruh pemuda menyebalkan yang belum sepenuhnya sehat ini pulang ke rumahnya. Ketika Ichigo memaksa akan pulang sendiri, terpaksa Rukia memaksanya mengantarnya pulang. Padahal beberapa waktu lalu dia belum ingin pulang. Entah kenapa mendadak dia langsung ingin pulang. Apa yang dia pikirkan itu? Rukia tak mengerti.

Selesai mematikan mesin mobilnya, Rukia menoleh ke samping. Dan mendapati pemuda ini malah tertidur lagi. Tadi Rukia sengaja membawakannya dan memakaikannya selimut karena udara malam sangat dingin. Lama, Rukia memperhatikan wajah itu. Wajah yang terlihat damai. Baru kali ini Rukia memperhatikan wajah bocah ini begini dekat. Garis wajahnya, lekuk wajahnya, entah kenapa wajah ini terasa tidak begitu asing. Apakah karena mengingatkannya pada Shiba Kaien? Jika itu benar... pantas saja mereka bersaudara. Wajah yang begitu mirip. Tapi kembali pikiran lain memenuhi kepala Rukia. Rasanya bukan hanya mirip dengan mantan kakak kelasnya saja. Ada seorang lagi. Tapi entah siapa. Wajah siapa yang mengingatkannya pada Ichigo? Siapa?

"Ichigo. Rumahmu sudah sampai. Bangunlah..." ujar Rukia lembut sambil menggoyangkan lengan pemuda itu. Ketika Rukia memaksa mengantarnya pulang, Rukia minta alamat lengkap pemuda itu. Walaupun akhirnya, bocah sial itu menggodanya dengan segala macam. Ichigo menggeliat sebentar lalu membuka matanya dan mengerjapnya cepat beberapa kali. Mungkin pembiasan cahaya malam.

"Sudah sampai?" tanyanya sambil menguap.

"Ya. Sudah sampai. Turunlah. Aku juga mau pulang." Rutuk Rukia.

"Bukakan pintu untukku." Pinta Ichigo masih tetap bersandar di bangku penumpang itu. Mulut Rukia menganga dengan sukses.

"Hei! Batas kesabaran orang itu ada batasnya. Aku memperlakukanmu begini karena kau sakit! Coba kalau kau sudah sembuh, jangan salahkan aku kalau aku mematahkan tulang-tulangmu!" ancam Rukia.

"Tuh 'kan. Kau selalu begitu. Baa-chan! Kau ini kenapa selalu marah-marah padaku? Aku 'kan tidak menyulitkanmu? Aku hanya minta dibukakan pintu. Karena kepalaku masih pusing. Kalau aku jatuh nanti bagaimana? Kalau tubuhku lecet dan―" Ichigo berhenti mengoceh karena sepertinya bibi itu sudah memandang sadis padanya.

Setelah menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan penuh emosi, Rukia melepaskan dengan kasar sabuk pengamannya dan membuka pintu mobilnya. Mengitari mobil depannya untuk membuka pintu penumpang. Diam-diam Ichigo menyeringai geli. Alasan sakit, sungguh sangat berguna untuk Kuchiki Rukia.

Wanita mungil itu membuka pintunya dengan malas. Lalu menyingkirkan selimut Ichigo dan menyuruh dengan isyarat agar pemuda itu keluar. Ichigo patuh mengikuti perintahnya. Tapi baru akan menginjakkan kakinya di aspal, kepalanya pusing. Rasanya efek sakit kepala itu masih terasa hingga kini. Reflek Rukia memegangi lengan pemuda itu dan berwajah panik. Tapi sedetik kemudian pemuda itu tersenyum geli.

"Lihat, kau masih saja cemas padaku. Tapi kau sok berakting marah padaku." Sindir Ichigo. Rukia melepaskan tangannya dari lengan besar pemuda itu. Kemudian menutup pintu mobilnya. Entah kenapa pemuda itu malah bersandar di pintu mobilnya tanpa berniat bergerak selangkahpun. Kini Rukia tepat berdiri di depannya.

"Kau tidak mau bergerak? Kalau begini aku akan meninggalkanmu di sini."

Baru saja Rukia mau melangkah, tangannya digenggam lemah oleh bocah orange itu. Sebetulnya, bisa saja Rukia menepis genggaman itu. Apalagi kelihatannya bocah itu belum sepenuhnya sehat. Paling tidak dia butuh istirahat sampai besok. Tapi... entah kenapa Rukia justru berhenti dan menatap bingung ke wajah pemuda itu.

"Apa... lain kali nanti... aku masih boleh datang ke apartemenmu? Kapanpun?" tanya Ichigo dengan suara seraknya. Padahal tadi dia mengoceh begitu panjang. Sekarang suaranya kembali serak.

"Kau ini... kalau sakit suka jadi orang gila ya?" sindir Rukia.

"Aku serius."

"Biar kutanya padamu. Apa selama ini... kau datang ke apartemenku, pernah minta ijin padaku untuk masuk? Pernah? Bukankah kau selalu saja seenaknya masuk tanpa peduli aku tidak suka padamu?"

Ichigo menunduk dan melepaskan genggamannya. Wajahnya terkesan merasa bersalah dan sedikit menyesal. Sekarang, entah kenapa lagi, Rukia merasa kata-katanya tadi cukup berlebihan. Meskipun sebenarnya itu betul.

"Datang saja. Kau boleh datang kapanpun kau ingin. Asal..." jeda sebentar karena Rukia ragu untuk mengatakannya atau tidak. Tapi Ichigo merasa begitu penasaran dengan lanjutannya. Dia tak pernah melihat Rukia begini baik padanya. Jantung Ichigo mendadak gugup dengan lanjutan kalimat itu. Entah itu menyakitkan atau menenangkan untuknya.

"Asal kau jangan seperti kemarin. Jangan lagi berdiri di depan gedung apartemenku dalam cuaca buruk begitu. Apa kau tahu seberapa khawatir aku? Kupikir kau akan mati karena demam tinggimu. Kalau kau ingin membuat khawatir, setidaknya jangan padaku. Aku tidak bisa melihat orang menderita karena aku! Aku juga... tidak mau kau sakit karena menungguku begitu."

Sudah. Rukia memang sudah gila. Tanpa sadar dia mengatakan hal itu pada pemuda ini. Entah apa dipandang apa atau mau direndahkan bagaimana. Rukia sudah tak bisa lagi mengendalikan dirinya. Ini terlalu sulit. Sangat. Apalagi bocah ini terus menerus memberikannya keyakinan yang begitu mendalam. Memang salah memercayai bocah yang baru saja beranjak. Bocah... mana mungkin bisa memegang kata-katanya sendiri. Suatu saat perasaan itu pasti akan berubah. Tapi untuk saat ini... Rukia ingin berharap, bahwa apapun yang ditawarkan oleh bocah itu padanya adalah benar. Entah itu perasaannya... bahkan tubuhnya. Juga hatinya.

Ichigo memasang senyum lebar mendengar kata-kata wanita ini. Dia yakin sekarang Rukia sudah mulai memikirkan perasaannya. Sedikit lagi, pasti wanita ini akan terbuka untuknya. Dan akan menerimanya cepat atau lambat.

"Kalau begitu... kau tidak boleh protes setiap aku melakukan apapun padamu ya..."

"Hah?"

Tangan Ichigo bergerak menyentuh pipi wanita mungil itu. Lalu merambat mengelilingi lehernya hingga sampai di tengkuknya. Satu tangannya lagi menarik pinggang Rukia untuk mendekat ke arahnya. Entah mau dikatakan apa, Ichigo tak peduli. Laki-laki ini menekan lembut bibirnya ke dahi Rukia begitu tubuh mereka merapat. Menyesap aroma tubuh wanita yang sudah mencuri hatinya ini. Dan wanita mungil ini diam saja dengan perlakukan Ichigo. Setelah puas menempelkan bibir hangatnya ke dahi wanita berambut hitam ini, Ichigo memeluknya rapat. Seolah ingin merasakan kehangatan tubuhnya.

"Aku benar-benar tidak ingin melepaskanmu." Lirih pemuda itu.

Rukia... dosamu... sungguh besar.

Membiarkan pemuda ini jauh lebih tersesat ke dalam dirimu. Mungkin tak akan ada jalan keluar lagi bagimu dan bagi pemuda ini untuk kembali ke dunia nyata.

.

.

*KIN*

.

.

"Kaien Onii-chan? Cepat sekali sudah datang kemari." Kata Yuzu tak percaya.

Beberapa waktu lalu, Yuzu memberitahu bahwa Ichigo sudah kembali ke rumah. Meski dalam keadaan kurang sehat. Ichigo tak banyak bicara pada kedua adik kembarnya ini. Dia hanya masuk dan langsung menuju kamarnya. Yuzu tampak membawa nampan makanan. Kaien ingin bertemu dengan adiknya itu. Ingin menanyakan apa yang selama ini dilakukannya.

"Kaien-Nii? Kau sudah datang?" sela Karin. Kaien melihat gadis kecil berambut hitam itu baru turun dari tangga. Tampaknya dia baru saja dari lantai dua. Lantai dimana kamar Ichigo berada.

"Ichigo?" tanya Kaien.

"Sedang istirahat di kamarnya. Sepertinya dia sakit. Wajahnya pucat." Jelas Karin.

"Oh... kalau begitu kalian tidur saja. Besok masih sekolah 'kan? Biar aku saja yang membawa nampannya." Kaien mengambil alih nampan berisi makanan dan minuman juga obat-obatan itu dari tangan Yuzu. Sebenarnya dua kembar ini belum ingin tidur, tapi Kaien memaksanya. Ayahnya terbiasa pulang larut malam. Bahkan sering pulang ketika semua anaknya sudah tertidur. Dan untungnya dua kembar ini sudah terbiasa seperti itu. Tepatnya setelah kematian ibu mereka.

Kaien melangkah naik ke tangga menuju pintu berhiasankan angka 15 itu. Begitu membuka pintunya, dia melihat Ichigo yang memakai selembar kaus putih tengah tertidur di atas kasurnya dengan selimut penuh. Kaien meletakkan nampan itu di meja belajar Ichigo. Kemudian mendekat ke arah pemuda itu untuk mengecek suhu tubuhnya. Agak dingin. Tapi wajahnya memang pucat. Mungkin masih pusing dan tidak enak badan.

"Nii-san?" mata Ichigo terbuka separuh ketika merasakan tangan hangat menyentuh dahinya.

"Yo! Dari mana saja kau ini. Semua orang cemas padamu. Kan sudah kubilang, kalau kau tidak mau pulang, setidaknya hubungi aku, Yuzu atau Karin. Mereka sangat cemas tahu." Celoteh Kaien sambil mengambil kursi di meja belajar Ichigo. Sesaat kemudian, Ichigo sudah beralih jadi duduk bersandar di kepala ranjangnya.

"Yang penting aku baik-baik saja. Nii-san tidak perlu sampai sengaja datang malam begini." Balas Ichigo.

"Aku khawatir tahu. Memangnya seorang kakak sepertiku tidak khawatir pada adiknya? Oh... seorang lagi juga mengkhawatirkanmu. Kuchiki Senna. Tadi dia menemuiku dan bertanya tentangmu." Jelas Kaien panjang lebar.

Kuchiki Senna?

Oh... tampaknya temannya satu itu memang cemas padanya. Ichigo jarang bolos. Dan tadi dia bolos. Tentu saja gadis itu akan cemas padanya.

"Kau jangan menyia-nyiakan gadis sebaik dan secantik Senna-chan. Nanti kau menyesal loh."

"Aku tidak menyia-nyiakannya. Lebih baik dia bersama laki-laki yang menyukainya sepenuh hati. Aku tidak pantas untuk gadis sebaik itu." Ujar Ichigo.

"Kenapa? Kau seperti yang pernah melakukan kesalahan besar saja." Sindir Kaien.

Yah... jika seandainya kakaknya ini tahu. Kesalahan seperti apa yang dilakukan oleh Ichigo.

"Naa Ichigo. Hari ini... aku bertengkar dengan Tou-san." Buka Kaien. Mata Ichigo membelalak lebar. Seingatnya... Kaien bukanlah orang yang pembangkang dan pembantah seperti dirinya. Kaien selalu menurut pada ayahnya dan tidak pernah sekalipun membuat ayahnya marah padanya. Tidak heran kalau ayahnya begitu sayang pada Kaien, meski dia bukan anak kandungnya.

"Kenapa? Seperti bukan dirimu saja." Timpal Ichigo.

"Yah... karena menurutku... Tou-san sudah kelewatan. Kalau kau tahu ini, mungkin kau juga akan marah seperti aku. Mungkin juga lebih."

"Nii-san 'kan tahu. Tou-san selalu seenaknya. Tanpa memikirkan perasaan orang lain. Dan itu terjadi pada Kaa-san." Lirih Ichigo. Sakit sekali setiap kali mengingat ibunya. Ibunya yang sepanjang ini menderita. Bahkan sampai kematian menjemputnya.

"Karena itu Ichigo. Mungkin sebaiknya... aku menjauh dari Tou-san saja ya? Menikah... dan menetap di luar Jepang. Mungkin itu lebih baik."

"Kau ini kenapa. Tiba-tiba bicara menikah."

"Seharusnya aku membicarakan ini denganmu sejak lama. Aku sangat menyukai wanita itu. Mungkin lebih dari sekadar suka. Kalau aku nanti menikah, aku ingin menikah dengannya. Membawanya pergi dari sini. Dan hidup bahagia. Aku ingin sekali melakukan itu."

"Lakukan saja. Kau selalu melakukan semua hal tanpa berpikir dulu. Kenapa sekarang kau ragu? Apa... wanita itu tidak suka padamu?" goda Ichigo.

"Enak saja. Siapa yang bisa menolak pesonaku? Aku hanya belum bertanya padanya. Apa menurutmu... aku langsung tembak saja dia ya?" tanya Kaien meminta saran. Sebenarnya Kaien sudah lama tidak curhat dengan adiknya satu ini.

"Tembak saja. Kau juga tidak muda lagi. Sebaiknya di umurmu seperti ini, segeralah menikah dan berikan aku keponakan laki-laki."

"Apa? Mana bisa secepat itu. Tapi... aku ragu. Wanita itu... bukan wanita sembarangan. Dia... tidak begitu saja mudah jatuh cinta. Orangnya sulit. Aku ragu aku akan berhasil."

"Wah... seleramu payah sekali. Jangan-jangan wanita itu tidak suka pria."

"Enak saja! Wanita secantik itu pasti suka pria tahu!"

"Lalu... siapa wanita itu? Seperti apa orangnya?" tanya Ichigo penasaran.

"Orangnya sudah kau kenal kok."

"Sudah... kukenal?" ulang Ichigo bingung. Kepalanya terasa pusing lagi. Ichigo tak begitu banyak mengenal wanita mana saja yang dekat dengan kakaknya. Tapi...

"Yah. Kuchiki Rukia. Dia orangnya. Wanita yang pernah kau bilang cantik itu..."

"Kuchiki... Rukia? Kau... serius padanya?"

Ichigo terdiam. Dia tahu Kaien memang pernah membahas hal ini padanya. Tapi Ichigo tak menyangka bahwa akan seserius ini. Dia pikir, Kaien hanya tengah menggoda adik kelasnya saja saat itu.

"Tentu. Aku serius padanya. Yah... mungkin dalam waktu dekat ini aku akan mengatakan semuanya padanya. Sedikti gugup sih. Eh... tapi kau jangan bilang pada keponakannya ya, Senna-chan. Nanti tidak jadi surprise lagi. Oh ya, kau istirahat saja. Wajahmu semakin pucat tuh."

Kaien beranjak meninggalkan kamar Ichigo.

Ichigo tahu... Rukia suka padanya. Tak perlu dibuktikan lagi. Tapi tidak menutup kemungkinan bahwa Rukia tak akan menolak Kaien. Kenapa jadi... begini rumit.

.

.

*KIN*

.

.

"Hei! Kau bilang mau temani aku... kenapa kau tidak datang?" rutuk Senna.

"Yang dekat dengannya 'kan kau. Masa aku mau ikut campur. Hei... manfaatkan saja kesempatan ini sebelum si dada besar itu yang duluan. Kau ini bodoh sekali sih." Balas Riruka.

"Tapi... kakaknya bilang, Ichigo tidak di rumah."

"Bukannya kau sudah tanya Keigo? Si bodoh itu 'kan menelpon Ichigo. Sudahlah! Kalau besok kau tidak membawa berita bagus, jangan salahkan aku, kalau kepala jeruk itu masuk besok, akan kubuat perhitungan!" tutup Riruka.

Senna mengeluh bingung. Dia masih memeluk keranjang buah itu sambil memaki ponselnya sendiri. Awalnya sepulang sekolah ini dia janji bersama Riruka akan datang menjenguk Ichigo. Tapi gadis berambut merah itu langsung membatalkan janji dan memaksa Senna untuk muncul sendirian di rumah ini. Senna mendapat alamatnya dari Keigo si bodoh itu. Memang tidak sulit sih mencarinya.

Senna setengah panik masuk ke rumah ini. Di jam pulang sekolah seperti ini, rasanya aneh saja dia langsung datang kemari. Tapi... ini pertama kalinya dia datang ke rumah orang yang dia sukai itu.

Akhirnya setelah mengumpulkan segenap keberaniannya, Senna membunyikan bel rumah orang yang disukainya itu.

Terdengar suara gadis kecil dari dalam rumahnya. Dan benar saja. Ada seorang gadis kecil yang sepertinya berusia 13 tahunan dengan rambut pirang cokelat berkuncit dua berdiri di ambang pintu rumah itu.

"Maaf aku mengganggu. Aku Kuchiki Senna. Teman Ichigo. Apa... Ichigo ada?" tanya Senna ragu. Meskipun dia masih bingung siapa gadis ini, yang jelas gadis ini sudah pasti adiknya Ichigo.

"Oh... teman Onii-chan. Ya dia ada di kamarnya. Langsung saja naik ke kamarnya di lantai atas ya. Biar kuantar."

Apa? Ke kamarnya? Senna masuk ke kamar laki-laki?

Tanpa banyak bicara Senna menurut saja. Dia mengikuti langkah gadis kecil itu. Begitu tiba di lantai dua, gadis itu berteriak memanggil kakaknya. Rupanya memang ada. Ichigo tengah duduk bersandar di kasurnya sambil membaca komik. Laki-laki berambut orange itu juga terkejut melihat Senna tengah berdiri di ambang pintu kamarnya. Dengan segera Ichigo menyuruhnya masuk. Tapi Senna masih gugup. Akhirnya, dia mulai bersikap biasa, ketika gadis kecil itu sudah meninggalkan mereka berdua.

Senna meletakkan keranjang buahnya di atas meja belajar laki-laki ini. Kamarnya tidak terlalu luas. Tapi kesannya memang kamar anak laki-laki. Apalagi ada beberapa poster entah apa itu. Ichigo masih sibuk dengan komiknya.

"Kenapa kau kemarin tidak masuk? Tumben..." buka Senna sambil menarik kursi di meja belajar itu untuk mendekat ke kasur Ichigo.

"Kau tidak lihat aku sakit. Lagipula... tidak perlu sengaja datang menjengukku. Aku jadi tidak enak."

"Kenapa? Kita teman 'kan? Oh ya... aku sudah meminjamkan beberapa catatan dari kelasmu. Sepertinya kelasmu tertinggal satu materi dari kelasku ya?" ujar Senna sambil mengeluarkan beberapa buku dan meletakkannya di pangkuan Ichigo.

"Hei... aku sedang membaca komik tahu. Masa kau suruh baca buku-buku ini. Aku baru sembuh dari sakit. Kalau kepalaku pusing lagi bagaimana?" rutuk Ichigo.

"Justru membaca komik itu yang bikin pusing tahu! Kau harus pelajari sekarang karena ujian sudah dekat." Nasihat Senna.

"Nah... kau lebih mirip kakak yang cerewet daripada teman yang baik."

"Terserah kau saja. Karena aku... tidak mau kau repotkan untuk bertanya soal-soal yang tidak kau mengerti itu."

"Kau tidak bisa begitu. Kau 'kan tidak tega melihatku tinggal kelas..." gurau Ichigo sambil kembali fokus pada komiknya. Tapi sesaat kemudian, lagi-lagi dahinya terasa panas akan sesuatu. Cepat-cepat Ichigo mengelak secara otomatis.

"Kau kenapa? Aku mengecek suhu tubuhmu tahu. Sudah agak mendingan. Berarti kau bisa masuk besok 'kan?" tanya Senna.

"Ehh? Y-ya... aku bisa masuk besok. Aku hanya perlu istirahat."

"Syukurlah. Kupikir kau sakit parah sampai harus di rawat di rumah sakit."

Senna masih bersikap biasa pada Ichigo. Tapi tak dipungkiri, hatinya merasa sesak sesaat tadi. Baru sebentar Senna meletakkan tangannya di dahi laki-laki itu. Tapi dia langsung mengelak dan berwajah tidak nyaman. Apa mungkin Ichigo seperti itu karena dia sakit? Mungkinkah? Untuk saat seperti ini, Senna tak ingin banyak berkomentar.

.

.

*KIN*

.

.

"Hah? Menjemputmu? Kau kira aku ini taksi? Enak sekali!" rutuk Rukia sambil berjalan menuju parkiran mobilnya.

"Ayolah Ba-chan. Jemput aku... kau kan bawa mobil. Tidak sulit 'kan?" rengeknya lagi di seberang telepon itu.

"Baiklah. Kau dimana?"

"Rumah Ichigo!" jawab Senna girang.

"Eh? Apa yang kau lakukan di sana?"

"Menjenguk teman yang sakit. Aku tidak tahu kemarin dia bolos karena sakit. Jadi Oba-chan yang cantik. Aku tunggu 10 menit ya."

"Kalau mau minta jemput jangan banyak tingkah! Ya sudah tunggu di sana."

Rukia menutup teleponnya. Bagaimana mungkin Senna bisa ada di sana? Menjenguk? Apa Ichigo masih sakit ya?

.

.

*KIN*

.

.

Mendengar anaknya baru pulang―karena semalam Isshin tak sempat pulang meladeni dewan direksi sampai larut malam―ke rumah sesuai laporan Yuzu, Isshin berniat untuk segera pulang ke rumah. Apalagi Yuzu mengatakan bahwa Ichigo sakit. Meski kelihatannya dia sudah nampak sehat karena sudah istirahat seharian.

Baru saja tiba di pagar rumahnya, Isshin melihat seorang gadis berambut ungu yang diantar Yuzu keluar dari rumahnya. Gadis itu memakai seragam yang sama dengan sekolah Ichigo. Temannyakah?

"Oh, Tou-chan sudah pulang? Onii-chan baru saja tidur." Ujar Yuzu. Mendengar gadis kecil itu memanggilnya ayah, Senna cepat-cepat menunduk hormat. Kaget karena tiba-tiba bertemu seperti ini.

"Ya. Kalau begitu biarkan dia istirahat. Lalu... siapa gadis ini?" Isshin memandang penuh tanya pada Senna.

"Temannya Onii-chan, dia sengaja datang menjenguk Onii-chan tadi." Jelas Yuzu.

"Ohh... menjenguk Ichigo. Aku tidak tahu Ichigo punya teman secantik ini. Apa kau tidak pacaran dengan anakku?" gurau Isshin. Entah perasaan apa, rasanya dia begitu dekat dengan gadis ini. Seakan ada perasaan ingin dekat dengan gadis ini.

"Eh? Ti-tidak kok. Kami hanya teman Oji-san." Sahut Senna masih tetap menundukkan kepalanya.

Yuzu tiba-tiba berlari masuk ke dalam rumahnya karena mendengar bunyi telepon berdering. Sekarang Senna begitu gugup berhadapan dengan ayahnya Ichigo. Ditambah lagi kenapa bibinya begitu lama menjemput dirinya!

"Kalau boleh tahu. Siapa namamu gadis cantik?" tanya Isshin lagi.

"Eh? Aku? Kuchiki... Senna. Itu namaku."

Isshin terdiam sejenak. Kuchiki. Nama wanita itupun Kuchiki. Apa ada yang salah di sini?

Mendadak suara ponsel terdengar. Rupanya ponsel dari anak itu. Isshin diam mendengarkan pembicaraan gadis ini. Tak berapa lama, pembicaraannya usai.

"Maaf Oji-san. Aku harus pulang. Bibiku... sudah menjemputku. Permisi."

Gadis berambut ungu itu pamit keluar dari pagarnya.

Isshin diam-diam melihat kemana gadis itu pergi. Dari jauh, Isshin melihat seorang wanita yang tak asing lagi berdiri dengan wajah kesal di depan mobilnya. Gadis berambut ungu itu tersenyum lebar menanggapi ocehan yang dikeluarkan gadis berambut ungu itu.

Marganya Kuchiki. Dan Isshin tahu... Hisana sudah pindah ke Kuchiki. Gadis itu... memanggil Rukia dengan sebutan Oba-chan. Mungkinkah... mungkinkah... gadis itu yang dimaksud oleh Rukia?

Gadis yang dilahirkan Hisana dan menyebabkannya meninggal dunia? Gadis itu?

.

.

*KIN*

.

.

Rukia masih melontarkan beberapa makian pada gadis di sampingnya ini yang masih tersenyum lebar tanpa peduli orang yang menunggunya 10 menit di sana. Rukia tak menyangka dia akan datang lagi ke rumah itu. Sekilas, Senna menceritakan tadi kalau dia bertemu dengan ayahnya Ichigo. Berarti... Senna sudah melihat ayah dua laki-laki tampan itu. Senna bilang... ayah Ichigo begitu ramah padanya. Senna juga menceritakan bagian dimana ayah Ichigo menyangka Senna kekasihnya Ichigo. Rukia tertawa geli. Senna begitu antusias sekali bisa bertemu calon mertua. Oh... yang benar saja.

Ponselnya mendadak berdering. Dengan sebelah headsetnya, Rukia mengangkat telepon itu. Karena sekarang dia sedang menyetir.

"Ya Senpai? Ada apa?" tanya Rukia begitu melihat calling-name-nya dari Kaien.

"Malam ini? Tentu ada... bertemu dimana? Baiklah. Jam tujuh aku kesana." Tutup Rukia. Tiba-tiba senpainya mengajaknya makan malam. Katanya ada hal penting pula.

"Heehh... Oba-chan! Kau mau kencan ya?" goda Senna.

"Kencan? Tidak. siapa yang kencan. Cuma makan malam biasa. Katanya ada hal penting."

"Hal penting? Sudah pasti Kaien Nii-chan mau menembakmu." Sindir Senna lagi.

"Nii-chan?" ulang Rukia tak percaya.

"Kenapa? Dia suka aku memanggilnya begitu. Oba-chan! Kau harus dandan yang cantik ya... jangan kecewakan Kaien Nii-chan. Dia itu pria yang sangat baik!"

"Sudahlah. Tutup mulutmu."

Memang aneh sih Kaien mengajaknya makan malam. Tapi selagi ada hal penting, bukankah sebaiknya diterima saja? Lagipula... dia sudah lama... tidak merasakan perasaan seperti ini.

.

.

*KIN*

.

.

Ichigo meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja belajarnya itu. Tubuhnya sudah lebih baik dari semalam. Kaien menelponnya di jam seperti ini?

"Ya ada apa Nii-san?" ujar Ichigo.

"Doakan aku ya." Kata Kaien gugup.

"Hah? Apa maksudmu? Kau mau perang di mana?" kelakar Ichigo. Rasanya begitu aneh mendengar Kaien mengatakan hal seperti itu. Out of character deh.

"Ini lebih menegangkan dari perang! Sebagai adik yang baik kau seharusnya mendoakan aku supaya berhasil." Rutuk Kaien.

"Memang kenapa?" ledek Ichigo.

"Malam ini... aku akan kencan dengan Kuchiki."

Senyuman yang awalnya tersungging indah di bibirnya mendadak lenyap begitu saja. Kuchiki mana lagi yang dimaksud oleh kakaknya ini. Selain...

"Rukia?" tanya Ichigo meminta keyakinan.

"Hei... kalau sudah resmi nanti, kau tidak boleh memanggil nama kecilnya begitu. Yah... Kuchiki Rukia. Oh... sudah dulu ya. Kurasa sebentar lagi dia akan datang. Sampai jumpa Ichigo."

"Ehh! Nii-san! Tungg―"

Ichigo menatap frustasi pada ponselnya. Tak menyangka secepat ini Kaien akan bertindak. Apa yang harus dia lakukan?

Apa yang harus dilakukannya ketika wanita yang dia cintai akan jadi milik orang lain?

Tidak. Tidak bisa. Rukia tidak mungkin... Rukia hanya menyukainya saja. Itu pasti.

Tanpa berpikir, Ichigo mengambil jaketnya dan memilih keluar dari rumahnya.

.

.

*KIN*

.

.

TBC

.

.

Mungkin sekitar 4-5 chap lagi ini tamat. tapi kalo lebih dari itu berarti yaa gitu deh. yang jelas gak akan sampe 20 chap

ini masih belum ada konflik ya? ya soalnya saya mau buat Senna ketemu dulu ama Isshin. terus perasaan Kaien, terus gitu deh...

saya tahu kalo chap ini HANCUR banget. tapi saya gak tahu lagi harus bikin seperti apa. mungkin juga masih bad mood. tapi semangat update fic. hehehehe maaf ya senpai kalo kecewa sama fic yang ini. saya terus menanti dukungan senpai untuk setiap fic saya. mungkin tanpa dukungan senpai sekalin. semua fic saya gak bakalan sampe sejauh ini.

ehh curcol gak penting, kenapa ya tiap kali Ichi pake baju bebas, dia selalu aja pake warna ungu? itukan warna kesukaan saya... hhohohohoho tambah lagi saya suka banget suara Ichi yang manggil nama Ruki... kyaa! kayaknya romantis gimana gitu! hehehehe

yaa balas review...

R : makasih udah review senpai... kalo soal direstuin apa nggak saya belum tahu, apalagi soal hamil... hahaha kan baru sekali senpai. tungguin aja chap depan. saya belum fokus sampe klimaksnya. maaf ya senpai... hehehehe

Alexandra alran yesterday : makasih udah review Alex... boleh panggil gitu? hehehe iya, sejak awal, saya emang gak nonjolin romance di sini. karena yang ditonjolin masalah Rukia. tapi tenang, chap depan, saya bakal bikin romance semanisnya. tapi... gak tahu deh bakal manis apa nggak. heheheh

Wakamiya Hikaru : makasih udah review Hikaru... heheheh jangan gitu dong,,, saya kan jadi maluu hahahah ehh anaknya Hisana? kan Senna ya? hehehehe

snow : makasih udah review senpai... hehheh nih udah update maaf agak lama yaa hehehe

Zanpaku nee : makasih udah review senpai... iya saya beneran lupa sama angka. ketulis 13 saya ingetnya beda umur Ruki ma Ichi. hehehehehe nih di chap ini udah jelas kan Kaien mau ngomong apaan? hehehe

Voidy : makasih udah review senpai... maunya gitu senpai, mau saya selesaiin jadi satu. tapi entah kenapa nggak bisa. tetep gak bisa walo dipaksa. jadinya malah hancur begini. maaf ya senpai. hehehehe saya bakal berusaha di chap depan deh...

Hanari 18unnse : makasih udah review... hehehehe jangan senpai dong... KIn aja heheheh ooo endingnya? belum tahu nih bakalan merana atau bahagia... doain aja yang terbaiknya... hehheheh

FYLIN -chan : makasih udah review senpai... saya malah mau ngakak bikin adegan Ichi itu. rasanya ooc banget sihhh... hahahah tapi syukurlah senpai suka... hheheh

AkiraChan : makasih udah review senpai... iya dong. harus jaim... kan depan bocah... hehehehe

Ruki Yagami : makasih udah review senpai... hehehe seneng deh bisa liat review senpai terus... hehhehe nih udah update... review lagi yaaa

nenk rukiakate : makasih udah review nenk... hehehe jangan dong jedotin palak. ntar jidatnya tambah lebar deh... heheheheh

ichigo4rukia : makasih udah review senpai... hehehe sebenernya iya sih. Ruki tuh mulai galau pas tahu senpainya ada di kantor, terus istrinya Isshin udah ninggal. jdi dia mulai ragu. apa bisa berhasil. ada juga dia yang khawatir senpainya bakal kecewa sama dia karena balas dendamnya ni... heheheh

Dewi Anggara Manis : makasih udah review senpai... hehehe Senna ma Kaien? ngomongin Ichigo dong... masa Ruki? hehehehe

Xiah Julli : makasih udah review senpai... heheheeh iya nihh senpai jarang nongol di review saya... hehehehe padahal saya kan kangen... hehehe makasih udah dipuji gitu... saya jadi maluu dehhh hehehe mungkin chap depan deh baru bisa dikeluarin semua masalahnya... sabar aja yaa heheh... wuah? di fave ama senpai? rasanya saya mau terjun dehh seneng banget... bolee banget kok... saya makasih malah fic hancur ini di fave ama senpai... hhehe

ok deh udah saya bales. maaf ya kalo hancur. saya tahu kayaknya kualiatas tulisan saya agak turun sekarang, walo emang belum sampe taraf kayak novel resmi gituuu hehehe

seperti biasa, yang baca wajib review.. agar saya tahu apa fic ini layak lanjut apa nggak... hehehehe

Jaa Nee!