Hola MInna!
Saya kembali datang memenuhi fandom ini dengan karya saya yang luar biasa ancur ini. Mohon dimaklumi. Hehehehehehe
DISCLAIMER :TITE KUBO
RATE : M (For Safe)
WARNING : OOC, AU, MISSTYPO, Cerita Gak Menarik, Pasaran, Gaje!
.
.
.
Rukia memasuki gedung tempat restoran yang dimaksud oleh senpai-nya itu. Rasanya sudah lama sekali dia tidak makan malam di sebuah restoran seperti ini. Rukia memang tipe wanita yang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dan makan di rumah. Kalau bukan karena tidak sempat makan di rumah, biasanya Rukia baru makan di luar. Dan makan malam kali ini sama sekali tidak ada pikiran apapun. Apalagi yang dimaksudkan Senna barusan. Tidak ada apapun yang terlintas. Dan ngomong-ngomong... Rukia sudah lama tidak berkunjung lagi menemui kakak iparnya itu. Yah, selain banyak masalah, entah itu di kantor atau di rumahnya, atau di dalam dirinya, Rukia jadi tidak pernah lagi berkunjung untuk sekadar menanyakan kabar saja pada kakak iparnya itu. Padahal... kakaknya sudah menitipkan kakak iparnya padanya. Seharusnya Rukia lebih perhatian. Bukan hanya berpikir soal balas dendamnya saja.
Setelah pintu lift terbuka, Rukia bergegas menggerakkan kaki mungilnya menuju pintu restoran itu. Well, restoran itu kelihatan berkelas dan cukup romantis tempatnya. Memang tempat makan malam khusus pasangan sepertinya. Rukia tak pernah tahu kalau senpai-nya ini punya selera seperti ini.
Begitu pelayan menanyakan meja untuk Rukia, Rukia menjelaskan kalau dia menunggu seseorang. Dan pelayan itu hanya menanyakan nama Rukia. Begitu Rukia menyebutkan namanya, pelayan itu tersenyum penuh arti lalu mengantar Rukia. Sepertinya pelayan itu mengerti siapa Rukia dan siapa yang ditunggunya. Dan benar saja.
Pelayan itu membawanya ke sebuah meja yang berada di deretan jendela besar yang menghadap ke jalanan di depan gedung restoran ini. Apalagi letak restoran ini berada di lantai yang cukup tinggi. Senpai-nya, duduk sambil membelakanginya. Pelayan itu bergegas maju dan memberitahu senpai-nya kalau Rukia sudah datang. Dengan penuh senyum, Kaien berdiri dan menyambut Rukia. Dan jujur saja, ini pertama kalinya Rukia melihat Kaien berpenampilan rapi selain di kantor. Blazer santai berwarna hitam, dan baju kaos berwarna putih. Celana jeans hitam. Rukia tak bisa membohongi hatinya kalau sebenarnya penampilan senpai-nya hari ini terlihat begitu menawan. Mungkin karena sering melihat Kaien berpakaian rapi di kantor, jadi Rukia lupa kalau senpai-nya ini juga menarik kalau berpakaian semi formal begini. Kaien menyilakan Rukia duduk dan langsung menanyakan pesanan Rukia. Mereka sudah memesan dan hanya berbasa basi sejenak. Kaien juga bilang kalau mereka makan dulu sebelum bicara. Jadi setelah makanan pesanan mereka tiba, Rukia dan Kaien langsung menyantapnya dan saling membicarakan hal lucu mengenai masa lalu mereka.
Masa lalu dimana senpai-nya itu selalu dikejar gadis-gadis dan tingkah nakal senpai-nya sampai betapa hebatnya seorang Shiba Kaien di dalam pelajaran. Dan semua itu sungguh membuat Rukia kagum bukan main. Tapi tentu saja Rukia terlalu gengsi untuk jujur soal itu. Dia tak mau senpai-nya jadi berpikiran aneh kalau Rukia memujinya begitu. Walau sudah lewat beberapa belas tahun tetap saja Rukia adalah tipikal wanita yang menjaga kata-katanya.
Hingga akhirnya makanan pembuka dan utamanya selesai, tinggal dessert yang belum, tapi Rukia sudah tidak tahan lagi. Sepertinya ada yang aneh. Masa Cuma mengajaknya makan saja? Tentu bukan.
"Senpai. Kita sudah makan malam. Tapi kau belum mengatakan apapun padaku. Katamu ada yang penting kan?" ujar Rukia sambil menatap penuh tanya pada Kaien.
"Eh? Oh... aku bilang begitu ya?" kata Kaien salah tingkah. Dia mulai menggaruk belakang kepalanya dan tidak fokus menatap Rukia. Kali ini Rukia merasa aneh.
"Ayolah Senpai. Jangan begitu. Hal penting apa yang ingin kau bicarakan denganku?" tanya Rukia lagi. Sampai saat ini Rukia sama sekali belum memikirkan apapun tentang senpainya. Belum...
"Anoo... Kuchiki. Sebenarnya... ahh sial! Kenapa aku jadi kikuk begini." Gumam Kaien sambil tetap menggaruk belakang lehernya. Tangannya mulai menarik-narik ujung taplak meja. Dia masih tetap tidak fokus memandang Rukia yang penasaran.
"Astaga Senpai. Kau lucu sekali... kenapa kau menatapku begitu? Seperti anak SMA yang mau menyatakan cinta saja..." dan tentu maksud Rukia adalah 100 persen gurauan. Rukia menunduk untuk menyantap dessert-nya tanpa melihat ekspresi wajah Kaien yang berubah pucat dan panas dingin.
"Ehh? Me-menyatakan... apa?" ulang Kaien gugup. Rukia mengangkat kepalanya dan menatap senpai-nya tanpa maksud apapun.
"Menyatakan cinta. Kenapa? Apa Senpai sudah punya wanita yang kau sukai? Katakan padaku. Seperti apa wanita itu..." ujar Rukia penasaran. Tentunya masih dengan senyum lebar.
"Wanita itu? Wanita... yang kusukai?"
"Ya. Jadi... benar ada wanita yang Senpai sukai?"
"Ada." Jawab Kaien singkat. Rukia diam sambil memasang ekspresi penasaran, tentunya dengan wajah penuh senyum juga. Tapi Rukia mulai merasa, pandangan Kaien sekarang hanya ada padanya dan lurus ke dalam mata ungunya. Rukia sadar itu.
"Memang... ada wanita yang kusukai. Dan sudah lama. Aku hanya takut mengatakannya. Aku takut dia akan menolakku dan memandang aneh padaku karena aku menyukainya."
"Wanita seperti apa yang bisa menolak dan memandang aneh padamu Senpai?" canda Rukia.
"Yah. Wanita pendek, cantik, tegas, pintar, punya prinsip, dan sangat baik."
"Wah... beruntung sekali Senpai bisa menyukai wanita seperti itu. Seperti apa orangnya? Benarkah dia pendek? Apa sependek aku?" lagi Rukia bermaksud menghibur.
"Dia memang sependek dirimu. Berambut hitam dan bermata ungu. Dia bahkan selalu memanggilku Senpai meski aku bosnya. Dan aku... sangat suka setiap kali mendengar suaranya memanggilku Senpai."
"Eh? Sependekku, berambut hitam dan... bermata..." Rukia terdiam hingga kalimat itu. Jarang ada wanita yang berperawakan seperti itu. Apalagi penjelasan terakhir senpai-nya itu. Kini ekspresi senyum yang dilukiskan Rukia di wajahnya berubah jadi bingung dan tidak percaya.
"Senpai... wanita itu..." kata Rukia lagi. Mencoba meyakinkan.
"Ya Kuchiki. Kaulah wanita itu."
Rukia tak tahu kalau akhirnya seperti ini. Bukan hal buruk senpai-nya menyukainya. Tapi hal buruk yang terjadi, kalau senpainya tahu siapa dirinya. Apalagi hubungan Rukia dengan Presdir tempat Kaien bekerja. Dan juga... hubungannya dengan laki-laki ingusan bernama Ichigo. Rukia menunduk dengan mata yang nyaris berkaca. Tapi dia berusaha untuk menahannya. Tidak. Shiba Kaien memang pria dewasa yang menarik yang selama ini diimpikannya. Tapi tidak bisa. Setiap kali melihat wajah Kaien, yang terbayang justru wajah bocah itu. Dan dia... saat ini... benar-benar tidak pantas untuk seorang Shiba Kaien.
"Senpai... maaf, tapi aku―"
"Kumohon jangan minta maaf Kuchiki. Aku tidak mau mendengar kata maaf apapun darimu. Sungguh. Aku hanya ingin mengutarakan perasaanku padamu. Hanya itu saja. Aku ingin kau tahu, bahwa aku... adalah seorang pria yang siap untuk mendampingimu dan menghabiskan sisa hidupku untukmu. Jadi... apapun jawabanmu. Aku tidak mau mendengar kata maaf."
"Senpai..."
"Tolong Kuchiki. Berikan kesempatan pada hatimu untuk menerimaku. Kau berhak untuk bahagia dan dicintai siapapun. Jangan terikat pada masa lalumu. Aku akan menerima segala hal yang terjadi padamu. Aku juga siap menerimamu apa adanya. Aku juga tidak akan menuntut apapun darimu. Percayalah. Aku hanya ingin... bahagia bersamamu. Karena kaulah wanita yang aku pilih."
Rukia menelan ludahnya dengan susah payah. Tenggorokannya terasa tercekat. Hatinya juga terasa sakit sekali.
"Aku... tidak pantas untukmu. Kau berhak mendapatkan wanita yang lebih baik dariku. Aku ini... sudah sangat kotor Senpai. Aku bahkan tidak berhak dicintai siapapun."
"Kenapa kau berpikir begitu? Aku tak akan bertanya apa alasanmu mengatakan hal seperti itu. Tapi percayalah. Aku siap menanggung apapun penderitaanmu. Aku siap bersamamu kapanpun―"
"Bukan itu Senpai. Bukan itu masalahnya. Aku ini... bukan lagi wanita baik-baik yang kau kenal 13 tahun yang lalu. Aku ini sudah jadi wanita yang sangat jahat. Aku tidak mau kau menyia-nyiakan hidupmu hanya untuk bersama wanita brengsek sepertiku. Jadi... kumohon... jangan berikan hatimu untuk wanita seperti aku."
"Kuchiki. Aku―"
"Anggap saja kita tidak pernah membicarakan ini. Dan aku akan bersikap seolah Senpai tidak pernah mengatakan apapun padaku. Tolong... maafkan aku."
Rukia mengambil tas tangannya dan bergegas pergi tanpa menghiraukan panggilan Kaien padanya. Sejujurnya itu adalah hal terindah yang nyaris sama sekali tidak pernah dia mampu impikan. Bahkan mungkin, Rukia sendiri tidak berani memimpikan hal itu. Kaien terlalu baik untuknya. Sungguh. Dia terlalu... baik. Bahkan Rukia tak sampai hati untuk menyeret Kaien ikut dalam balas dendamnya yang sempat terlupakan itu.
"Rukia!"
Begitu keluar dari gedung restoran itu, Rukia mengangkat kepalanya dan melihat seorang pemuda berambut orange menyala berlari menuju ke arahnya. Tentu saja mata Rukia membelalak lebar. Tidak menyangka hal seperti ini...
"Kau... sudah bertemu... Nii-san?" tanyanya lambat-lambat begitu tiba di depan wanita mungil ini. Nafasnya tersengal dan wajahnya memerah. Rukia tak berani membayangkan kalau pemuda ini berlarian dari rumahnya menuju tempat ini.
"Apa yang kau lakukan bodoh! Kau itu baru sembuh dari sakit! Kau mau sakit lagi?" bentak Rukia. Meski wajahnya ingin marah, tapi karena masih terpengaruh suasana tadi, wajahnya terlihat ingin menangis.
"Hah? Aku... sebenarnya..."
"Kuantar kau pulang dan jangan banyak protes kalau kau tidak mau aku habisi sekarang!" ancam Rukia.
.
.
*KIN*
.
.
Sepanjang jalan dari gedung restoran itu sampai ke rumahnya, Ichigo hanya mencuri lihat ke arah wanita pendek yang asyik menyetir ini. Darimana Ichigo tahu tempatnya? Tentu saja. Kaien selalu ingin melamar seseorang ke gedung itu. Katanya sih... tempat itu pernah jadi saksi bisu dari peristiwa paling bahagia sedunia. Entah peristiwa apa. Yang jelas Kaien suka sekali tempat itu. Dan Ichigo cukup tahu itu. Kalau seandainya Rukia sudah menemui Kaien, lalu kenapa Rukia keluar sendirian dari restoran itu. Wajahnya juga seakan ingin menangis dan menahan emosi. Terlebih lagi... apa yang sebenarnya diucapkan oleh Kaien hingga membuat ekspresi wanita ini jadi aneh? Seingatnya... Kaien-lah yang ingin menyatakan cinta. Kalau Kaien yang ditolak―dan mudah-mudahan itu benar―harusnya Kaien-lah yang mau menangis. Ichigo jadi penasaran dengan apa yang terjadi di sini.
"Turunlah. Kita sudah sampai." Kata wanita itu singkat. Wajahnya terkesan datar. Tapi masih menyiratkan kesedihan. Ichigo tidak langsung menuruti kata-kata wanita itu. Meski memang mobilnya sudah dihentikan di beberapa rumah sebelum rumah Ichigo. Dan suasana malam ini juga cukup sepi.
"Kubilang turun! Kau tidak dengar!" bentak Rukia. Tapi karena itu matanya jadi memerah dan bibirnya bergetar. Merasa matanya mulai basah, Rukia memalingkan wajahnya sambil menggenggam setir mobilnya dengan erat.
"Apa yang terjadi antara kau dan Nii-san? Apa yang Nii-san katakan? Beritahu aku..." pinta Ichigo berusaha selembut mungkin. Dia tahu ada yang membuat Rukia begini tertekan.
"Kau tidak perlu tahu. Ini bukan masalah untuk bocah sepertimu!" masih Rukia memasang suara tegas, tapi tetap tidak memalingkan wajahnya.
Perlahan, Ichigo memajukan tubuhnya beberapa senti dan menyentuh lembut bahu wanita itu. Ichigo pelan-pelan mengulurkan sebelah tangan lainnya yang tidak menyentuh bahu wanita itu untuk memalingkan wajah Rukia. Dan untungnya, wanita mungil ini sama sekali tidak menyentakkan tangan Ichigo atau berteriak padanya. Dia hanya diam dan... menangis. Matanya merah dan basah.
"Kenapa? Katakan padaku..." lirih Ichigo sambil mengusap pelan pipi putih Rukia yang basah itu. Mata ungunya terlihat pedih.
"Senpai... sungguh pria baik. Sangat baik... tapi kenapa... kenapa aku mengatakan hal yang menyakitinya... aku hanya tidak mau dia kecewa padaku... dia tidak pantas untuk wanita seperti aku. Aku ini wanita jahat yang―"
Ichigo menarik seluruh tubuh mungil Rukia untuk masuk ke dalam pelukannya. Wanita itu semakin menangis dalam dekapannya. Jadi... Rukia mungkin menolaknya ya... sebuah pernyataan lega yang membuat wajah Ichigo tersenyum licik. Sambil mengusap pelan punggung wanita itu, Ichigo mengecup sekilas puncak kepala Rukia sambil menyesap wanginya.
"Yah... kau benar. Kaien terlalu baik untukmu. Karena kau wanita jahat, jadi kau harus bersama orang yang jahat juga. Untungnya aku termasuk laki-laki jahat."
Rukia mendorong kuat dada Ichigo yang mendekapnya dan memandang Ichigo sadis sambil melotot padanya. Padahal matanya masih begitu basah.
"Kenapa kau bilang begitu!"
"Kenapa? Kau pasti menolak Kaien 'kan?"
"Apa?"
"Sudah kubilang... aku tidak akan melepaskanmu. Hanya aku satu-satunya laki-laki jahat yang boleh memilikimu. Dan kau... hanya boleh untukku."
"Siapa kau ini seenaknya saja! Lepaskan! Pulang sana!" bentak Rukia lagi.
Tapi kedua lengan mungilnya sudah ditahan oleh Ichigo. Perlahan dengan seringaian liciknya, Ichigo mendekatkan wajahnya ke wajah mungil gadis itu. Menahannya di sandaran kursinya dan menekan tubuhnya hingga tubuh mereka saling menempel. Puncaknya, bibir tipis Ichigo sudah menekan dengan lembut bibir Rukia. Rukia terbelalak, dan berusaha memberontak dalam paksaan itu. Tangan mungilnya berusaha mendorong-dorong dada Ichigo dan melepaskan genggaman tangan Ichigo di lengannya. Tapi itu tidak berhasil. Yah... tidak mungkin berhasil.
Bibir Ichigo terus menekan kuat bibir Rukia hingga Rukia mengalah dan mengerang di antara ciuman mereka. Wajahnya sudah memerah karena Ichigo tidak mau melepaskan ciuman itu. Lidahnya menjilat-jilat bibir Rukia dan menghisap kuat bibir bawah wanita bermata ungu itu. Setelah puas menghisap seluruh bibir mungil itu, Ichigo menjauhkan sedikit bibirnya. Hanya sedikit. Mungkin hanya tiga senti. Mata cokelatnya menatap lekat mata ungu yang masih basah itu. Sungguh, Rukia yang seperti ini, seakan ditawan oleh mata cokelat yang serius menatapnya itu. Dengan nafas memburu dan bergetar, bahkan menelan ludahnya saja Rukia sungguh kesulitan, Rukia berusaha berteriak lantang lagi sambil meronta dalam genggamannya.
"Lepaskan Ichigo!"
"Kenapa? Apa aku tidak boleh menciummu?"
Kontan saja wajah Rukia memerah.
"Memang aku... tidak boleh berpikir, alasan kenapa kau menolak Kaien... adalah karena aku?"
"Ichigo..." kali ini Rukia tidak membentaknya lagi. Benar. Salah satu alasannya memang bocah ini.
"Kau punya sejuta alasan untuk menolak Kaien. Tapi kau tidak punya satupun alasan untuk menolakku."
"Kenapa kau berpikir begitu? Mungkin aku punya seribu juta alasan untuk lebih menolakmu." Balas Rukia.
"Tidak akan. Walaupun ada alasan itu, tapi kau tidak akan menolakku. Karena kau... sudah jatuh cinta padaku."
Ichigo tersenyum lembut kemudian kembali mencium Rukia. Kali ini ciumannya lembut. Tidak ada tekanan apapun. Ichigo semakin memiringkan kepalanya untuk memperdalam ciuman itu. Kini akal sehat Rukia sudah terbang entah kemana. Dia justru membalas ciuman itu. Bahkan ketika Ichigo memberikan sinyal untuk masuk ke dalamnya, Rukia justru membuka mulutnya dan membiarkan Ichigo mengobrak abrik isi mulutnya. Menjilat permukaan mulutnya, giginya bahkan menghisap kuat lidahnya. Ciuman itu begitu terasa panas. Tapi terasa begitu lembut. Ichigo tidak lagi pemaksa seperti awalnya. Bahkan genggaman Ichigo di lengan Rukia berpindah menuju ke wajah Rukia dan menangkupnya. Sedangkan tangan Rukia mencengkeram kaos di dada Ichigo menahan getar tubuhnya. Lidah mereka saling bertautan satu sama lain. Desahan dan erangan silih berganti dalam ciuman yang memabukkan itu. Ciuman itu bahkan mungkin tidak ada ujung pangkalnya. Tapi mereka masih dalam batas waras. Tidak sampai melakukan hal lebih dari ciuman.
Setelah beberapa menit, ciuman itu dihentikan. Rukia menundukkan wajahnya yang memerah. Ichigo kemudian tersenyum lembut dan mengecup lembut kening wanita yang dicintainya ini. Begitu dicintainya. Ichigo tahu dia pemuda labil yang belum paham makna sebuah cinta. Tapi percayalah... Ichigo tak akan selabil itu pada wanita ini. Karena sekarang... Kuchiki Rukia adalah sebagian dirinya yang sulit dihilangkan.
.
.
*KIN*
.
.
Ichigo masuk sekolah seperti biasa. Bahkan hari ini ketika jam istirahat dia datang menghampiri kelas Senna. Biasanya untuk menanyakan mata pelajaran. Ichigo juga ingat Senna bilang kelasnya tertinggal satu materi. Bukannya di kelas Ichigo tidak ada murid yang lebih pintar dari Senna. Ada. Pasti ada. Tapi itu tadi. Ichigo jarang akrab dengan teman kelasnya sendiri. Bahkan dia tidak bisa mengingat sepuluh nama di kelasnya dengan benar. Yah kecuali di luar perhitungan seperti si bodoh Asano Keigo-lah. Walaupun mau dilupakan juga rasanya mustahil melupakan orang semacam itu.
"Jadi... apa yang terjadi waktu kau menjenguk kepala jeruk itu?" sindir Riruka setelah Ichigo keluar dari kelas Senna setelah mendapat ajaran singkat dari Senna. Ichigo itu orang yang cepat tanggap. Tapi itu tadi... dia juga orang yang cepat lupa.
"Apanya... biasa saja."
"Hei! Biasanya bagaimana. Kau itu ke rumahnya. Bukan ke kelasnya tahu! Jadi setidaknya adalah sedikit spesial."
"Apa? Ehh... aku bertemu ayahnya."
"Ayahnya? Seperti apa Ayahnya? Kau bilang kau sudah bertemu kakak Ichigo. Katamu juga kakaknya sangat tampan dan mirip Ichigo. Jadi Ayahnya..."
"Tidak. Ayahnya... biasa saja. Tapi entah kenapa rasanya... tidak begitu asing dekat dengan Ayahnya itu. Walau hanya mengobrol singkat, tapi terasa dekat sekali. Apalagi dia baik dan ramah."
"Heh? Benarkah begitu? Atau jangan-jangan... kau memang jodoh dengan Ichigo. Makanya dekat dengan Ayahnya saja sudah terasa begitu dekat."
"Kurasa... tidak seperti itu."
Entahlah... karena Riruka yang tanya, Senna jadi kepikiran. Karena selama ini, dia dekat dengan ayahnya sendiri saja agak terasa canggung. Makanya Senna tak terlalu dekat dengan ayahnya sekarang. Tapi Senna tahu, ayahnya sekarang ini sangat menyanyanginya. Ada yang aneh. Perasaan yang aneh. Atau Cuma... perasaan saja?
.
.
*KIN*
.
.
Rukia menarik nafas panjangnya. Lalu mengeluarkannya juga. Dia masih mempersiapkan hatinya untuk masuk ke dalam ruangan Direktur-nya. Semalam sejak pembicaraan itu, Kaien sama sekali belum menghubunginya. Mungkin... Kaien masih kesal padanya karena kelakuannya itu. Tapi Rukia memutuskan harus melupakannya. Dia harus profesional.
Rukia mengetuk pintu ruangannya dan langsung mendapa ijin masuk. Begitu masuk, Rukia melihat Kaien yang tengah sibuk di meja kerjanya sambil meneliti beberapa berkas penting. Rukia tak tahu Kaien juga memakai kacamata kalau sedang bekerja. Sesaat Rukia terpesona melihat wajah serius sang senpai itu. Rasanya... seperti bukan melihat Shiba Kaien.
"Ada masalah apa Kuchiki?" ujar Kaien yang sadar tamunya itu belum beranjak dari pintu masuknya. Setelah Kaien menegurnya, wanita itu baru beranjak dan berdiri di depan mejanya sambil menyerahkan beberapa berkas.
"Saya perlu tandatangan Direktur untuk menyetujui usulan proyek yang sudah di lakukan di Kyoto. Ini mengenai proyek yang akan dirintis bulan depan." Jelas Rukia.
"Jadi... klien lain sudah setuju dengan usulan ini?" tanya Kaien. Tapi matanya tetap fokus pada lembaran berkas yang disodorkan Rukia tadi.
Benarkah ini senpai-nya? Kemarin-kemarin, Kaien masi bersikap ramah dan selalu tersenyum lebar setiap kali Rukia datang ke ruangannya dan bercanda. Tapi ini... apakah hal semalam masih berpengaruh padanya? Apakah Rukia semalam keterlaluan? Tapi... bukan tanpa maksud Rukia mengatakan hal itu. Dia hanya tidak ingin Kaien merasa―
"Kuchiki? Kau mendengarkan aku?" kini mata Kaien beralih menatap datar pada Rukia.
"Hah? Oh... itu..."
"Kalau kau sedang bekerja, jangan memikirkan hal lain. Fokus saja pada pekerjaanmu. Anggap semuanya tidak ada saat kau sedang bekerja."
"Baik." Jawab Rukia patuh.
Kaien menandatangani berkas itu lalu menyerahkannya pada Rukia. Rukia menerimanya dengan ragu. Karena wajah pria itu masih datar padanya. Jadi...
"Aku tidak marah. Sungguh. Jangan merasa bersalah begitu." Dan entah mengapa kini Rukia bisa melihat kembali senyum cerah senpainya itu. Senyum yang sangat disukainya.
"Sebenarnya tidak juga. Aku agak kesal karena kau meninggalkanku begitu saja tadi malam. Tapi tidak apa-apa. Aku mengerti maksudmu. Awalnya aku juga tidak mau memikirkannya. Tapi entah kenapa setiap kali melihatmu aku ingin marah saja."
"Marah?" ulang Rukia gugup.
"Ya marah. Karena kau... tidak mau membiarkanku tahu alasannya kenapa kau menolakku. Juga mengatakan berkali-kali kalau kau wanita jahat yang tidak pantas untukku. Ayolah Kuchiki... semua wanita itu jahat tahu. Tapi... tidak ada satupun wanita yang tidak pantas untuk seseorang. Cinta itu... bisa menilai siapa yang pantas dan siapa yang tidak. jadi jangan lagi bicarakan soal ketidakpantasanmu itu. Aku sangat marah kalau kau masih mengatakan hal itu. Mengerti."
"Ya..." ujar Rukia sambil tersenyum lembut.
"Nah... itu baru Kuchiki yang kukenal. Jadi... aku tidak akan bersikap seolah tidak ada yang terjadi kemarin malam itu. Aku tetap akan menunggumu. Menunggumu sampai kau siap menerimaku. Boleh?"
"Senpai..."
"Boleh 'kan Kuchiki? Aku benar-benar ingin... melindungimu. Apapun yang terjadi."
Rukia tak mengerti kata-kata itu, sungguh.
"Terutama dari Presdir."
Dan kata-kata terakhir itu sukses membuat Rukia membelalakan matanya selebar mungkin. Sejauh mana senpainya ini tahu soal dirinya?
.
.
*KIN
.
.
"Dimana Kuchiki Rukia?" tanya Isshin.
Sebenarnya dia ingin menemui Rukia, tapi yang muncul malah Shiba Kaien.
"Dia sedang makan siang dengan beberapa klien." Jelas Kaien.
"Tidak mungkin. Aku lihat dia sedang senggang tadi. Kau jangan coba-coba menyembunyikannya. Kau melarangnya menemuiku kan?"
"Ya. Itu benar." Jawab Kaien tegas.
"Apa? Kau! Berani sekali kau terhadap ayahmu sendiri!"
"Sudah kubilang untuk tidak lagi berurusan dengan Kuchiki Rukia. Meskipun dia mengingatkanmu pada wanita masa lalumu, Kuchiki Rukia tidak ada hubungannya dengan itu!"
"Siapa bilang tidak ada? Kau tidak tahu satu fakta penting bukan? Bahwa Kuchiki Rukia itu adalah adik dari wanita yang kucintai. Adik kandung Hisana. Dia datang kemari untuk balas dendam padaku. Membalas kematian kakaknya. Itu yang kau tidak tahu mengenai Kuchiki Rukia!"
Mata Kaien melebar. Tidak menyangka secepat ini dia...
"Bukan itu Senpai. Bukan itu masalahnya. Aku ini... bukan lagi wanita baik-baik yang kau kenal 13 tahun yang lalu. Aku ini sudah jadi wanita yang sangat jahat. Aku tidak mau kau menyia-nyiakan hidupmu hanya untuk bersama wanita brengsek sepertiku. Jadi... kumohon... jangan berikan hatimu untuk wanita seperti aku."
Makanya dia menolak mati-matian untuk menerima ketulusan Kaien.
"Apa... maksud Tousan sebenarnya?"
"Kau tidak tahu wanita seperti apa Kuchiki Rukia itu! Dan Hisana meninggal... Hisana meninggal... dia bilang karena melahirkan seorang anak. Hisana memang sudah menikah. Tapi aku yakin, anak yang dilahirkannya itu adalah anakku. Aku yakin itu, karena Hisana sempat memintaku menikahinya. Kalau saja... kalau saja aku tidak mendadak menikah dengan Masaki... dan aku ingin anakku dari Hisana!"
"Tou-san... anak apa maksud Tou-san..."
"Karena aku yakin... Kuchiki Rukia... tahu siapa sebenarnya Kuchiki Senna itu. Seorang gadis yang sempat datang kemarin ke rumahku."
Tangan Ichigo yang memegang kenop pintu ruangan ayahnya itu berhenti bergerak. Tubuhnya terasa ikut dingin tak karuan. Kalau saja dia tidak sadar pada dirinya, mungkin sekarang dia lebih memilih ambruk dan hilang ingatan.
Masih teringat jelas di benaknya bahwa dia membenci siapa saja yang berhubungan dengan masa lalu ayahnya yang menyebabkan kematian ibunya. Kenapa... kenapa orang-orang yang berhubungan dengan wanita sialan itu malah... dua orang yang... dia kenal baik. Dan... Ichigo sudah terlanjur jatuh cinta pada... Kuchiki Rukia.
.
.
*KIN*
.
.
"Maaf Rukia... aku... aku hamil..."
"Byakuya... sudah setuju menikahiku. Dan dia... bersedia menerima anak ini."
"Aku mungkin... akan mati kalau mempertahankan bayi ini. Tapi Rukia... apa kau tahu? Kebahagiaan terbesar untukku adalah melihat anak ini lahir dengan selamat dan tumbuh dewasa."
"Aku memang egois. Meminta kakak kelas yang mencintaiku setulus hati dan menungguku selama ini, hanya untuk menyembunyikan anak ini. Bahkan aku belum pernah membalas cintanya sampai saat ini. Rukia... apa aku salah?"
"Sekali saja... sekali Rukia... kumohon... jangan benci anak ini. Jangan benci ayah anak ini. Ini semua adalah kesalahanku. Jadi... bencilah aku."
"Rukia... lupakan semua ini. Jangan mengatakan soal balas dendam lagi. Kumohon padamu. Jangan buat... jangan buat Presdir menderita lagi."
Rukia sadar dia sudah tiba di apartemennya sendiri. Hari bahkan beranjak malam.
Kata-kata mendiang kakaknya terlintas begitu saja.
Kata-kata terakhirnya. Dan Rukia benci bila harus mengingat ini. Sampai akhirpun kakaknya tetap memikirkan pria brengsek itu. Apa dia tidak tahu semenderita apa kakaknya? Jadi... apakah salah Rukia membiarkan pria itu juga menderita selama ini?
Pria sialan itu beruntung karena Rukia tidak jadi membalas dendam karena banyak pertimbangan untuknya.
Yah... kakaknya bodoh dan egois. Dan entah kenapa... semuanya seakan terulang pada dirinya. Dia juga tak bisa menerima kakak kelas yang mencintainya setulus hati dan membiarkannya menunggu. Walaupun Rukia mati-matian menolak itu, tapi Rukia tak bisa mencegahnya juga. Kakak iparnya memang terlalu baik. Terlalu mencintai kakaknya.
Dan sungguh... Rukia tak ingin kejadian yang sama terjadi pada Kaien. Tidak ingin.
Lelah dan penat berkumpul jadi satu dalam tubuhnya.
Rukia membuka pintu apartemennya dan menyalakan lampu-lampunya. Sebaiknya dia mandi dulu atau―
Bell apartemennya berbunyi.
Rukia melirik ke arah monitor interkom-nya. Bocah itu?
Bahkan wajahnya terlihat tergesa dan buru-buru. Berkali-kali memencet bell apartemen sekaligus menggedor-gedor pintu apartemen Rukia. Tentu saja Rukia bingung dengan tingkah bocah ini.
Tanpa banyak bicara lagi, Rukia membuka pintunya.
Rukia langsung melangkah mundur, saat bocah itu masuk dengan nafas tersengal dan wajah yang menahan emosi. Bibirnya bergetar. Rukia bingung. Apa bocah ini bermaksud marah padanya? Karena apa?
"Ichigo kau kenapa? Apa ya―mmphh!"
Begitu pintu apartemen itu tertutup sempurna, Ichigo dengan emosi menangkupkan kedua tangannya di wajah mungil Rukia dan langsung menciumnya dengan kasar. Menekannya dengan kuat dan memaksanya membalas ciuman aneh ini. Rukia berkali-kali mendorong dan memukul-mukul dada bidang pemuda berusia 17 tahun ini untuk menjauh darinya. Ichigo memang selalu bertindak seperti ini. Memaksa.
Ichigo juga sudah menggigit bibir Rukia dan memiringkan kepalanya untuk memperdalam ciumannya. Jujur saja, Rukia benci Ichigo yang begini. Ciuman ini terasa kasar dan menyakitkan. Mungkin karena kesal, tangan Ichigo beralih menggenggam pergelangan tangan Rukia untuk berhenti memukulnya. Tapi dia tetap melanjutkan ciumannya. Begitu ada kesempatan, Rukia menjauhkan kepalanya dari Ichigo. Berusaha menyembunyikan bibirnya untuk tidak diserang kasar lagi.
"Hentikan! Hentikan! Hentikan! Kau ini kenapa!" jerit Rukia berusaha memalingkan wajahnya ke kanan dan ke kiri agar Ichigo tidak menciumnya lagi.
Gerakan Ichigo berhenti. Meskipun pemuda itu masih menggenggam pergelangan tangan Rukia di depan dadanya, Rukia memalingkan wajahnya untuk melihat Ichigo. Dengan takut-takut dia melihat wajah pemuda itu. Kini wajah Ichigo tertunduk dengan wajah sendu dan pilu. Dengan sekali sentakan Ichigo memeluk kencang Rukia. Tenggelam dalam dekapannya. Tangan Ichigo memeluk pinggang dan punggung wanita ini. Rukia bisa mendengar tarikan nafas yang tersendat dari bibir pemuda ini di telinganya.
"Ichigo..." lirihnya.
"Apa yang harus aku lakukan Rukia?" bisiknya dengan nada putus asa.
"Hah?"
"Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Aku tidak peduli kau mau bilang aku ini pemuda labil yang belum dewasa atau apa. Itu terserah padamu! Memikirkanmu saja membuat kepalanya terasa ingin meledak."
Rukia berusaha melepaskan pelukan Ichigo. Dan berhasil. Rukia mendongak melihat pemuda labil ini. Rukia belum pernah melihat wajah Ichigo yang seperti ini. Terkesan... marah, emosi, putus asa. Semua ada di sana.
"Katakan padaku. Ada apa?" tanya Rukia lembut.
"Kalau aku bisa... aku ingin pergi ke tempat Ibuku dan meminta maaf padanya. Tapi itu tidak bisa... kumohon Rukia... tenangkan aku." Pintanya dengan nada memohon.
"Menenangkanmu? Bagaimana caranya?" Rukia tahu pemuda ini sedang berada dalam satu masalah. Tapi Rukia tidak ingin membahasnya. Dia bukan tipe memaksa menceritakan masalah orang lain.
"Aku... ingin menyentuhmu."
"Ehh?"
Kali ini Ichigo kembali menciumnya dengan lembut. Tidak seperti tadi. Ichigo mengangkat sedikit pinggang Rukia hingga wanita mungil ini terangkat sedikit. Rukia memeluk leher Ichigo untuk dukungannya. High heels Rukia bahkan jatuh ke bawah karena kakinya tidak menapak lantainya lagi. Pagutan lembut itu berubah jadi pagutan liar ketika kepala mereka saling menekan dan memiringkannya untuk mendapatkan ciuman yang lebih dalam. Lidahnya juga tak diam saja. Saling bertautan dan menghisap. Ichigo begitu rakus menghisap bibir dan lidah Rukia hingga tak membiarkan wanita itu mengambil alih permainan.
Ichigo menghempaskan tubuh mereka duduk di sofa. Rukia yang kini duduk di atas pangkuannya hanya bisa menurut saja. Yah... setiap kali kontak fisik seperti ini, Rukia jadi hilang ingatan dan tidak peduli apa yang terjadi. Akal sehatnya pasti absen dan tidak mau menyadarkannya.
Ichigo dengan liar membuka blazer ungu Rukia dan menjatuhkannya sembarangan. Tangan Rukia tetap mencengkeram kemeja sekolah Ichigo. Kini tangan-tangan Ichigo juga membuka setiap kancing yang berada di kemeja dalam Rukia. Ichigo sampai kesal karena kemeja itu begitu sulit terbuka hingga harus merobeknya jadi dua.
"Ichigo! Jangan robek―ahh!"
Rukia ingin memprotes tindakan pemuda ini, tapi getaran tubuhnya merambat hingga ke sel otaknya. Lidah Ichigo bebas menelusuri leher putih itu. Menciuminya dengan penuh hasrat. Menggigitnya kecil hingga meninggalkan bekas memerah. Setelah berhasil melepas kemeja Rukia dan kini menampakan pemandangan indah, hanya tubuh Rukia yang putih dan berbalut bra putihnya.
"Ahh! Hhh... aah... ahhh Ichi―go!" erang Rukia setiap kali gigi Ichigo menggigit kulitnya begitu liar.
Sekali lagi tangan Ichigo melucuti pakaian terakhir Rukia. Bra-nya.
"Ahh... pelan-pelan. Sakit tahu!" jerit Rukia kecil ketika Ichigo mulai menggigit putingnya dengan keras. Sepertinya setiap kali Ichigo menggigit tubuhnya seolah ingin merobeknya jadi dua. Mendengar jeritan protes Rukia, kini Ichigo jadi mengulum putingnya dengan lembut. Seperti ingin menyedot isinya. Rukia mulai menikmati kegiatan ini, walau peluhnya mulai membanjiri tubuhnya. Rukia juga mengusap-usap belakang leher Ichigo. Tangan Ichigo masih setia memilin lembut puting lainnya dan mengulumnya bergantian. Ichigo yang sekarang terasa lembut untuknya.
"Ahh... ahh... Ichi―ahh! Ichi... gohh..." desah Rukia. Sulit juga menahan bibirnya untuk tidak mendesah.
Ichigo mulai memasuki tahap selanjutnya, menyingkap rok ketat Rukia. Rok putih itu sudah tersingkap hingga batas perutnya. Rukia hanya mengangkat pinggulnya sejenak, untuk melepas celana dalamnya yang memang sudah ditarik-tarik Ichigo dan mengubah posisi duduknya untuk lebih membuka akses masuk nanti. Rok Rukia belum terlepas dari tubuhnya hanya tersangkut di atas perutnya saja. Pelan-pelan Rukia mengangkat tubuh mungilnya agar Ichigo bisa membuka celananya. Rukia masih merasa kepalanya berkabut dan tidak bisa berpikir apapun. Dirinya... menginginkan pemuda ini.
"Cepat... Ichi... go..." lirih Rukia. Ok! Dia sudah tidak waras. Saatnya memanggil dokter jiwa!
Ichigo tersenyum mendengar kata-kata itu. Dengan sekali sentakan, Ichigo memasukkan dirinya ke dalam Rukia. Tidak melakukan pemanasan lagi.
"Ahh! Ahh... aah... sa―kit..." erang Rukia yang merasa dirinya ternyata belum sesiap itu. Miliknya terasa panas dan perih. Ini bukan pertama kali, tapi Rukia tak pernah terbiasa dengan ini. Ichigo masih diam di sana tanpa melakukan apapun. Mungkin menunggu Rukia beradaptasi sejenak.
"Aku akan pelan-pelan. Katakan kalau sakit." Bisik Ichigo. Tapi dia tidak langsung bergerak, melainkan kembali menciumi dada Rukia pelan-pelan. Untuk merangsang Rukia agar miliknya tidak sesakit itu. Rukia mendongakkan kepalanya mencoba menerima sensasi ini.
"Ichigo... ber―bergerak. Rasanya aneh... kalau kau... ahh... diam saja."
Dengan senang hati Ichigo menggerakkan tubuhnya. Rukia terus menggeliat tidak nyaman, tapi mencoba menerima sentuhan ini. Ichigo juga mengangkat pinggang Rukia naik turun untuk menyeimbangkan gerakan mereka. Nafas Rukia terdengar tidak teratur. Milik Rukia sudah basah. Pergerakan di bawah sana sudah terasa licin dan basah. Rukia juga menenggelamkan kepalanya di persimpangan leher Ichigo. Beberapa sentakan terahir mereka berhenti. Apalagi bukan karena Ichigo sudah merasakan dirinya akan selesai.
Rukia sepertinya sudah klimaks berkali-kali sejak dirinya masuk ke dalam milik Rukia. Dengan dorongan terakhir, mereka menghentikan kegiatannya setelah klimaks Ichigo sampai. Ichigo memeluk tubuh Rukia lagi. Lebih erat dan hangat. Seakan takut sekali kehilangan dirinya.
"Rukia... tetaplah di sisiku. Kumohon... tetaplah di sisiku. Jangan tinggalkan aku seperti Ibuku meninggalkanku..." lirih Ichigo di telinga Rukia.
Dan Rukia... tidak bisa mengatakan apapun soal itu.
.
.
*KIN*
.
.
TBC
.
.
Ok! saya tahu ini adalah chap terhancur... apa iya? wkwkwkwk
saya tahu emang chap-chap saya selalu hancur kok. saya udah selipin masalahnya. Ichi udah tahu siapa Ruki. tapi kayaknya masih bimbang... ya senpai bisa bayanginlah... wanita yang dibenci jadi satu sama wanita yang dicinta. rumitlah... hehehehe dan saya umumkan... fic ini gak bakal lama lagi akan tamat! hehehe saya mau fokusin fic yang mau tamat dululah heheheh...
yang mau tahu masa lalu Hisana, udah sedikit tadi ya... chap depan bakal ada flashbacknya. moga-moga. ok deh. balas review dulu...
snow : makasih udah review senpai... heheeh iya kayaknya Byakuya gak nongol lagi nih. chap depan ditongolin deh... hehehehe
Zanpaku nee : makasih udah review senpai... heheh galau kok. udah ditolak malah. saya malah sempet kepikiran nih sama review senpai... jangan-jangan iya lagi si Ruki nolak gara-gara gak perawan lagi. wkwkwkw
AkiraChan : makasih udah review senpai... gak kok. Ichi malah telat datang. hohohoho nih udah update kok... heheh
FYLIN-Chan : makasih udah review senpai... jawaban Ruki udah tahu kan? hahahah iya nih udah update. makasih banyak ya mau review... hehehehe
Vios : makasih udah review senpai... hehehe iya ya kok usianya pada jauh... ckckckck... heheh review lagi yaa... hehehe
Bad Girl : makasih udah review senpai... kayaknya senpai jarang nongol lagi nih... hehehe iya senpai Ichi masih galau mau benci apa tetp cinta. iya... Ruki nolak Kaien nih... takut dibunuh senpai... hehehehe
Voidy : makasih udah review senpai... heheeh iya emang. chap kemarin hancur. saya akui banget. lagi ada kendala. blank.. heheh chap kali ini saya udah usaha kok... tapi kayaknya masih hancur ya senpai? maklum lagi gak mahir ngerangkai kata nih... heheheh
R : makasih udah review senpai... ok deh. nih udah update senpai... hehehehe
Alexandra alran yesterday : makasih udah review Alex... iya gak papa kok gak log in. saya suka kalau ada yang review... log in apa nggak, saya tetep hargai kok... hehehe apa IchiRuki di sini udah cukup banyak? hehehehe
nenk rukiakate : makasih udah review nenk... heheeh gak tahu kok. cuma nebak. pake mata batin... hehehe kan iya nenk. dari awal udah dibilang sayang... hehehe iya nih lemon khusus buat nenk. asem gak? kalo kurang tambahin sendiri yaa... wkwkwkwk heheheh
Ok deh. udah saya balas.
sebenernya saya nyaris kehilangan minat menulis lagi. tapi tiap kali ngeliat review senpai rasanya saya gak tega gak ngelanjutin fic saya.
karena beberapa waktu ini saya terus galau kalau ngeliat karya saya yang gak seberapa ini. sampai-sampai saya bahkan ngehapus satu fic saya. mungkin akan ada lagi yang saya hapus. karena jujur, saya mulai kecewa pada diri saya sendiri. hahahah... gitu deh.
ok... yang review wajib baca. saya sangat menghargai senpai yang mereview fic ini. karena review adalah satu-satunya penyemangat saya untuk tetap lanjut update fic ini.
Jaa Nee!
