Hola MInna!
Saya kembali datang memenuhi fandom ini dengan karya saya yang luar biasa ancur ini. Mohon dimaklumi. Hehehehehehe
DISCLAIMER :TITE KUBO
RATE : M (For Safe)
WARNING : OOC, AU, MISSTYPO, Cerita Gak Menarik, Pasaran, Gaje!
.
.
.
Sebelah lengan pemuda berambut orange ini tengah dijadikan bantal yang empuk oleh seorang wanita mungil yang tengah tertidur lelap. Pemuda nekat ini tampak begitu nyaman memandangi wajah tidur si wanita. Sesekali, bocah berusia 17 tahun ini menyisir rambut sehitam malam wanita ini. Wajahnya terlihat damai. Tidak ada kesan marah-marah yang selalu ditangkap bocah ini setiap kali mereka bertemu.
Mereka tak mengenakan apapun selain selembar selimut yang menutupi tubuh polos mereka. Ichigo tak pernah berpikir, bahwa akhirnya dia benar-benar jatuh cinta dan begitu menginginkan wanita yang lebih pantas jadi bibinya ini. Entah kenapa, sejak mengenal wanita ini, dia tak begitu peduli. Dan seandainya saja dia memang tidak akan peduli.
Sesaat, kerutan di wajah wanita ini bertambah. Keningnya begitu banyak menumpuk kerutan persis seperti Ichigo. Wajahnya langsung berubah tak nyaman. Gelisah. Dan tampak cemas. Seperti ingin menangis. Pelan-pelan Ichigo mengusap pipi wanita itu mencoba menenangkannya. Sepertinya dia tengah mengalami mimpi buruk. Yah... Ichigo juga sering bermimpi buruk. Tentang ibunya.
Dan kini... mimpi buruk itu akan semakin bertambah jadi dengan kenyataan yang akhirnya harus dia ketahui. Kalau bisa, Ichigo lebih memilih tidak ingin tahu tentang ini. Dia memang membenci masa lalu ayahnya. Juga wanita di masa lalu. Tapi, Ichigo sampai matipun tak akan membenci wanita yang begitu dicintainya ini. Entah apa saja yang membuatnya harus membenci wanita ini. Memang ada banyak alasan untuk membencinya. Sangat banyak. Dan tak terhitung. Dan kata-kata wanita bermata indah ini soal, seribu juta alasan kenapa dia harus menolak Ichigo, memang ada. Tapi tak satupun dia sebutkan di depan Ichigo. Semuanya berlalu begitu cepat.
Kalau sekali lagi dia boleh memilih, dia tentu tak ingin tahu tentang kenyataan mengerikan ini dan meminta maaf pada ibunya jika harus mengkhianati ibunya karena sudah mencintai wanita yang seharusnya dibenci oleh Ichigo juga. Tapi ayolah... baik Ichigo maupun Rukia... sama sekali tidak ada sangkutpautnya pada masalah ini. Tidak ada hubungannya dengan masa lalu antara ibunya, ayahnya dan selingkuhannya itu. Dan sebenarnya itu juga bukan selingkuhan. Ichigo tahu, bahwa ayahnya mengenal wanita itu jauh sebelum ayahnya menikah dengan ibunya. Yang Ichigo sesalkan adalah... kenapa ayahnya masih menikahi ibunya dan meninggalkan wanita itu. Dan membuat wanita itu jadi masa lalu yang pahit untuk ayahnya dan ibunya. Juga membuat ibunya menderita karena tidak pernah dicintai begitu tulus oleh ayahnya. Hanya itu saja.
Perlahan, Ichigo menarik seluruh tubuh wanita mungil itu masuk ke dalam dekapannya. Wanita itu masih tertidur lelap dan tak banyak bergerak. Ichigo memeluknya begitu hangat dan begitu erat. Menciumi puncak kepalanya dan perlahan menyesap aroma wangi tubuhnya. Wangi yang menghipnotis Ichigo untuk terus mendekapnya.
Jadi... salahkah perasaan Ichigo sekarang?
Apakah ini adalah karma untuknya karena ayahnya? Karma karena diapun mungkin... akan begitu sulit mendapatkan wanita yang diinginkannya. Belum lagi kenyataan bahwa ayah dan kakaknya tampak sibuk memperdebatkan status wanita ini. Mungkin kalau ayah dan kakaknya tahu dimana Rukia tinggal, sudah lama mereka menyerbu wanita ini dengan berbagai pertanyaan dan menyudutkannya. Tapi tidak dengan Shiba Kaien. Ichigo tahu pria itu juga mencintai Rukia. Sama seperti dirinya. Atau mungkin lebih dari Ichigo.
"Tolong... jangan tinggalkan aku." Bisik Ichigo berkali-kali hingga akhirnya dia tertidur lelap sambil tetap mendekap wanita yang dicintainya ini.
.
.
*KIN*
.
.
Demi apapun itu!
Bunyi sialan itu sudah membangunkan Ichigo!
Dengan kesal, Ichigo akhirnya terbangun dan mendapati bahwa ponselnya sendiri yang berdering. Sepertinya dari adiknya. Yuzu. Satu-satunya adiknya yang mencemaskannya. Karin juga mencemaskannya, hanya saja dia lebih memilih diam dan menghormati Ichigo untuk tidak banyak bertanya. Ichigo mematikan ponselnya dengan cepat tak ingin membangunkan Rukia yang kini tidur memunggunginya. Ichigo sudah bilang bahwa dia tidur di rumah teman dan tak perlu dicemaskan. Tapi tampaknya, sejak bertengkar dengan ayahnya dan jarang pulang, Yuzu jadi berubah begitu mencemaskan Ichigo. Ichigo juga tak mau adiknya secemas itu padanya. Tapi mau bagaimana lagi?
Karena sudah terlanjur bangun, Ichigo perlahan mendekati punggung putih yang terang-terangan ada di depannya itu. Ketika sudah dekat, Ichigo mengecup lembut bahu yang terbuka lebar itu. Menyibak rambut pendeknya yang menutupi leher putih itu. Masih ada bekas kemerahan sisa semalam. Ichigo jadi geli, apa yang akan ditanyakan orang kalau melihat tanda ini. Masih dengan semangat paginya, Ichigo mulai mengecup bertubi-tubi sudut leher Rukia. Tangannya bergerak perlahan mengelus perut Rukia yang masih tertutup selimut itu.
"Enghh..."
Dan akhirnya wanita ini sadar juga dengan tingkah Ichigo. Bocah ini hanya menyeringai lebar sambil tetap mengecup punggung Rukia.
Rukia mulai sadar kalau sejak tadi tubuhnya sudah digerayangi oleh seseorang. Apalagi kini perutnya dielus dengan lembut dan membuatnya geli bukan main.
"Nghhh... Ichigo! Ini masih pagi..." rutuk Rukia berusaha melepas tangan Ichigo di perutnya. Memang lepas, tapi kecupan pemuda itu di bahunya bertambah intens.
"Makanya masih pagi aku ingin melakukannya. Kau tahu 'kan kalau remaja itu selalu haus dengan soal seperti ini. Aku ini... remaja yang penuh gairah." Bisik Ichigo di telinga Rukia. Rukia bergerak geli dan menyingkirkan wajah Ichigo yang begitu dekat dengannya. Rukia berbalik menghadap Ichigo yang sudah berbaring menghadapnya dan menumpu sebelah tangannya agar tingginya sedikit lebih tinggi dari Rukia.
"Dan aku wanita yang sudah berumur! Bukan lagi remaja! Jadi jangan menggodaku pagi-pagi begini!" nah ini dia yang Ichigo tidak suka. Wanita ini marah-marah lagi padanya.
"Jangan marah-marah begitu... semalam kau begitu lembut, kenapa kau begitu cepat berubah sih?"
"Itu semua karena tindakanmu itu tahu! Dan lupakan soal semalam! Huh!"
"Mana bisa... kau semalam begitu―arghh!"
Rukia menjitak kepala Ichigo dengan kencang karena terus menerus menggodanya. Ichigo berguling ke sana ke sini karena kesakitan akibat jitakan di kepalanya. Ini dia...
"Kalau kau tidak mau berhenti, aku akan memukulmu lagi! Cepat bangun sana! Kau harus sekolah tahu!"
Rukia bergerak mengambil kimono tidurnya dan bergerak keluar kamar setelah berteriak pada Ichigo agar pemuda itu mandi dan membersihkan tubuhnya untuk segera pergi ke sekolah.
Lagi-lagi Rukia melakukannya.
Sebenarnya bukannya Rukia tak sadar dengan perbuatannya itu. Dia sangat sadar. Sepenuhnya sadar. Tapi, dia juga seorang wanita. Apa ada wanita yang bisa menolak dengan sentuhan seperti itu? Kalaupun ada, Rukia tak yakin wanita itu bisa menghindari perasaannya sendiri. Rukia sudah terjebak di dalam lumpur dosa yang menjijikan. Entah sampai kapan dia sanggup menahannya.
Dan tanpa sadar, dia jadi bisa merasakan perasaan kakaknya 17 tahun yang lalu. Perasaan ingin memiliki yang tidak mungkin bisa memilikinya. Ketika kau mencintainya sepenuh hati, rela mengorbankan hidupmu, saat itulah kau sadar betapa takdir tak adil padamu. Ketika ingin memiliki sesuatu yang tak termiliki. Jika situasinya seperti itu, kau memang ingin bertindak egois. Tapi begitu memikirkan perasaan orang lain, kau tak sanggup melakukannya. Dan kini, di sinilah Rukia.
Terjebak.
Sebenarnya, Rukia punya beberapa pilihan terbaik dalam hidupnya. Meninggalkan Ichigo, beralih pada Kaien dan hidup bahagia. Toh walaupun tidak mencintai senpai-nya sepenuh hati, rasa cinta bisa tumbuh seiring dengan waktu. Dan itu adalah pilihan terbaik dalam hidupnya. Kaien bisa membawanya pergi dari sini dan memulai hidup baru. Bahkan mereka sama sekali tidak memiliki kaitan masa lalu apapun. Tidak ada benang hitam yang menjalin mereka. Benang hitam yang melarang hubungan ini.
Atau... dia tidak memilih siapapun dan pergi dari sini. Kalau perlu mengajak Senna dan kakak iparnya. Mereka bisa memulai hidup baru tanpa perlu takut masa lalu yang akan terbongkar. Tapi itupun tetap tak bisa.
Rukia selesai dengan nasi gorengnya. Kemudian menyediakannya di atas meja. Sedetik kemudian dia sadar. Kenapa dia melakukan hal konyol begini? Astaga! Otaknya pasti tidak waras. Seharusnya dia menendang pergi saja bocah itu semalam.
"Kau masak untukku?"
Dan bocah itu sudah siap dengan seragamnya untuk pergi ke sekolah. Rukia melihat seragamnya tampak kusut. Jelas saja. Itu seragam semalam. Kepala Rukia semakin berdenyut.
"Lepas bajumu." Ujar Rukia.
"Ehh? Kau... mau apa?" bocah itu nampak terkejut akan sesuatu.
"Kubilang lepas bajumu. Cepat!"
"Kenapa? Apa kau mau―adduhhh!" jeritnya ketika lagi-lagi Rukia menjitak kepalanya.
Rukia menggosok dan memberikan pewangi di baju kusut itu. Seharusnya semalam dia bisa mencucinya. Tapi tidak ada waktu. Bocah itu duduk di meja makan sambil memakan nasi goreng yang sudah disediakan Rukia. Untungnya, Rukia punya kimono handuk yang seukuran dengannya. Dan perlu disesali karena itu milik Nii-sama-nya!
Setelah selesai menyetrika seragam dan celananya, Rukia menyampirkannya di kursi makan. Agar setelah selesai makan, bocah itu bisa langsung pakai baju dan pergi ke sekolah. Rukia membuka bungkusan obat dan meminumnya.
"Kau minum apa?" tanya Ichigo.
"Ini untukmu tahu! Gara-gara kau aku harus minum ini!" rutuk Rukia dengan nada dan pandangan horror-nya. Terasa mencekam dan sangat dingin.
"Untukku? Kalau untukku... kenapa kau yang minum?" tanya Ichigo lagi. Dengan polosnya. Rukia memutuskan untuk tidak menggubrisnya sama sekali. Dia takut tensi darahnya akan naik kalau terus meladeni bocah ini. Dan Ichigo paham betul kalau Rukia sedang tidak mood meladeninya untuk main-main.
Ichigo selesai sarapan dan memakai bajunya. Kini dia tinggal pergi. Dan tumben dia tidak merengek minta diantar. Sebelum Ichigo pergi, Rukia menahannya sebentar. Ichigo menunggu Rukia untuk mengatakannya.
"Apa... menurutmu... sebaiknya ini... dihentikan saja?" tanya Rukia dengan suara seriusnya. Ichigo juga memandangnya dengan serius kali ini.
"Aku tidak mau membicarakannya."
"Ichigo..."
"Sudah sangat jelas semalam aku memintamu untuk tidak meninggalkanku seperti Ibuku meninggalkanku! Apa kau tidak paham? Aku tidak mau lagi ditinggalkan orang yang kucintai. Dan kuharap kau mengerti itu."
"Hubungan ini tidak mungkin! Bagaimanapun tidak mungkin! Apa yang akan dikatakan oleh orang nanti? Apa yang akan orang pikirkan tentang kita?"
"Tidak perlu mendengarkan orang lain. Apa orang lain tahu apa yang kurasakan? Sekali saja. Kenapa tidak sekali saja kau memikirkan aku? Apa sulitnya menerimaku? Apa karena aku masih bocah? Kuchiki Rukia... apa kau pikir karena aku masih bocah makanya kau menganggapku main-main? Kau pikir aku tidak bisa melindungimu dari―" Ichigo menghentikan kata-katanya dengan tiba-tiba. Mulutnya baru saja ingin mengatakan soal ayahnya dan fakta yang dia dengar kemarin secara tidak sengaja.
"Kumohon jangan menyudutiku lagi. Aku tidak mau meninggalkanmu. Aku juga tidak mau melepaskanmu. Titik. Biarpun hubungan ini menyakiti banyak orang aku tidak peduli. Suatu hari nanti, orang lain akan mengerti hubungan kita."
Hati Rukia goyah. Yah. Sangat goyah.
.
.
*KIN*
.
.
FLASHBACK 17 YEARS AGO.
Hisana bekerja sebagai sekretaris pribadi seorang direktur di perusahaannya. Dia punya adik berusia 13 tahun yang begitu dekat dengannya. Hisana seringkali menceritakan tentang pria yang selama ini dekat dengannya dan memiliki hubungan yang spesial. Hisana dan ini saling mencintai. Tidak peduli dengan status mereka. Hisana tetap ingin mencintai pria ini. Seumur hidupnya dia hanya ingin pria ini.
Karena begitu cintanya dia pada pria ini, Hisana rela memberikan apapun untuknya. Hisana bodoh? Tentu dia bodoh. Kalau dia tidak bodoh, mana mungkin Hisana begitu ceroboh menyerahkan separuh hidupnya pada pria itu. Menyerahkan seluruh harta berharganya tanpa berpikir terlebih dahulu.
Dan tepat hari ini, Hisana ingin mengutarakan niatnya agar mereka bisa melangsungkan hubungan yang lebih jauh lagi. Karena jujur, orang-orang di kantor mulai banyak membicarakan dirinya. Apalagi hubungannya dengan pria itu. Pria itu...
"Apa? Menikah? Menikah dengan siapa Tou-san? Aku... aku sudah punya wanita yang kucintai."
"Berhenti bicara cinta. Kau tahu apa soal cinta kalau kau selalu berada di kantor sepanjang hari? Aku memberikanmu kesempatan untuk menikah dari keluarga baik-baik dan terpandang. Dia gadis yang baik. Hari pernikahannya sudah ditentukan."
"Tou-san tidak bisa begini. Aku benar-benar mencintainya! Dan aku... sudah berniat akan menikahi apapun yang terjadi!"
"Baiklah! Nikahi saja wanita yang kau inginkan itu. Tapi ingat. Kau harus melepaskan Kurosaki dan seluruh aset yang kau punya saat ini. Dan jangan harap aku dan ibumu akan datang ke pernikahanmu. Mengerti!"
Hisana merasa sesak sesaat mendengar kata-kata itu. Sudah dipastikan itu adalah suara ayah dari pria yang dia cintai. Ternyata... dia sudah dijodohkan. Hisana tak tega membiarkan pria itu memilih dirinya dan melepas semua miliknya. Lebih baik, Hisana saja yang pergi.
Tanpa kata-kata, Hisana menyerahkan surat pengunduran dirinya dan langsung menghilang tanpa jejak.
.
*KIN*
.
"Maaf Rukia... aku... aku hamil..."
Gadis kecil berusia 13 tahun itu tertegun mendengar penuturan kakaknya yang menangis di pelukannya. Mana bisa gadis sekecil itu menerima kenyataan aneh itu. Apa yang bisa dia pikirkan?
"Nee-san..." panggil Rukia.
"Maaf Rukia. Aku sudah jadi kakak yang jahat. Aku benar-benar... kakak yang tidak berguna. Maaf Rukia..."
.
*KIN*
.
"Aku akan menikahimu."
"Senpai..." gumam Hisana.
Entah daripada senpai-nya ini, mantan kakak kelas yang pernah menyukainya tapi tidak pernah mengatakan apapun kini melamar Hisana dengan mantap. Entah bagaimana caranya, Hisana akhirnya menceritakan masalah ini padanya. Hisana memang sempat dekat dengan Kuchiki Byakuya karena beberapa waktu lalu, Byakuya pernah datang ke kantor Kurosaki dan melakukan relasi bisnis. Hubungan mereka kembali dekat. Byakuya terus mendesak Hisana untuk menceritakan apa alasan Hisana keluar dari pekerjaannya. Bukannya membenci Hisana atau memandang jijik padanya, Byakuya malah mengatakan yang mencengangkan itu.
"Aku serius Hisana."
"Senpai tidak perlu seperti itu. Aku... menceritakan masalahku bukan karena ingin meminta belas kasihan dari senpai. Sungguh. Jadi... jangan libatkan―"
"Aku benar-benar tulus mencintaimu. Bahkan aku mau membesarkan anak itu. Tidak bisakah kau melihat ketulusan hatiku ini?"
.
*KIN*
.
"Byakuya senpai... sudah setuju menikahiku. Dan dia... bersedia menerima anak ini." Jelas Hisana pada Rukia kecil kala itu.
"Nee-san. Apa Nee-san... yakin?"
Hisana mengangguk lemah. Dia memang tak yakin. Tapi akhirnya dia harus memilih ini."
.
*KIN*
.
"Nee-san harus menggugurkan kandungan itu! Aku tidak mau Nee-san menderita lagi. Tolong..."
Rukia kecil kala itu menangis sejadi-jadinya saat tahu bahwa kandungan Hisana berbahaya untuk nyawanya. Saat itu, tepat tiga bulan pernikahannya dengan Kuchiki Byakuya. Rukia tahu bahwa terlalu baiknya seorang Kuchiki Byakuya ini untuk kakaknya. Menerima kakaknya sepenuh hati dengan bekas luka mendalam seperti ini. Tapi apa yang dilakukan kakaknya?
Jika Hisana melanjutkan kandungannya, maka nyawa Hisana akan terancam.
"Aku mungkin... akan mati kalau mempertahankan bayi ini. Tapi Rukia... apa kau tahu? Kebahagiaan terbesar untukku adalah melihat anak ini lahir dengan selamat dan tumbuh dewasa."
"Nee-san tidak boleh begitu egois! Nii-Sama... Nii-Sama sangat mencintai Nee-san. Masa Nee-san mau meninggalkannya begitu saja? Karena bayi ini? Jangan Nee-san. Kumohon jangan egois. Hentikan ini. Gugurkan saja!" teriak Rukia kecil itu. Rasanya benar-benar tak tega membiarkan kakaknya menderita untuk kedua kalinya.
"Aku memang egois. Meminta kakak kelas yang mencintaiku setulus hati dan menungguku selama ini, hanya untuk menyembunyikan anak ini. Bahkan aku belum pernah membalas cintanya sampai saat ini. Rukia... apa aku salah?"
"Ya! Itu salah Nee-san! Bagaimanapun itu salah!" teriak Rukia kecil sekali lagi lalu meninggalkan kakaknya.
Saat itu, Rukia kecil sama sekali belum mengerti apa maksud kakaknya ini.
.
*KIN*
.
Persalinan itupun tiba. Kakaknya bisa melahirkan bayi merah itu dengan selamat. Tapi kondisinya langsung drop karena kehilangan banyak darah. Byakuya yang menunggu Hisana tampak begitu terpukul karen keadaan ini. Tapi tetap tak bisa mencegah isterinya ini melakukan tindakan berbahaya sekaligus nekat ini.
"Sekali saja... sekali Rukia... kumohon... jangan benci anak ini. Jangan benci ayah anak ini. Ini semua adalah kesalahanku. Jadi... bencilah aku."
"Nee-san hentikan!" jerit Rukia kecil. Usia Rukia yang baru saja 13 tahun itu tidak sanggup melihat penderitaan kakaknya. Berkali-kali Rukia kecil menyebut pria sialan dan brengsek yang sudah membuat kakaknya begini menderita. Bagaimana mungkin Rukia kecil tidak membencinya.
"Rukia... lupakan semua ini. Jangan mengatakan soal balas dendam lagi. Kumohon padamu. Jangan buat... jangan buat Presdir menderita lagi.
"NEE-SAN!"
Dan setelah itu... Hisana benar-benar menutup matanya.
Rukia menatap penuh dendam gedung pencakar langit itu. Rukia dengar, jabatan Direktur pria brengsek itu sudah berubah jadi Presdir. Darimana kakaknya tahu? Sebegitu cintanyakah kakaknya pada pria brengsek itu?
Dan sejak itu... Rukia bertekad tidak ingin pria itu bahagia. Tidak ingin.
FLASHBACK END
.
.
*KIN*
.
.
"Ichigo!" panggil Senna.
Sekarang adalah jam istirahat di sekolahnya. Dia melihat Ichigo tengah duduk di atas atap sekolah mereka. Tempat dimana biasa anak SMA minggat dari pelajaran. Dan rupanya Senna cukup tahu tempat dimana saja Ichigo akan pergi.
"Senna."
Senna berdiri di samping Ichigo sambil memegang pagar pembatas atap sekolahnya. Ichigo tampak begitu santai menikmati angin yang berhembus. Angin musim dingin.
"Kau minggat lagi? Dua minggu lagi kita ujian loh. Kau tidak takut nilaimu jeblok?"
"Kan ada kau. Kau pasti membantuku kan?"
"Huu memangnya aku malaikat? Oh ya, festival nanti... kau mau pergi?" tanya Senna.
"Festival apa?" tanya Ichigo datar.
"Festival musim dingin. Huh! Anak lain sudah banyak membicarakannya. Masa kau tidak tahu sih? Dasar..."
"Ohh... rasanya tidak. tapi tidak tahu juga sih."
"Bagaimana kalau pergi denganku? Kita bisa ajak yang lain. Bagaimana?"
Ichigo menoleh menengok gadis itu.
"Pasti Kuchiki Rukia tahu siapa Kuchiki Senna itu! Dia pasti anakku!"
Ichigo sesegera mungkin mengalihkan pandangannya dari wajah gadis itu. Sungguh... Senna sama sekali tidak bersalah. Tapi kenapa memandangnya saja membuatnya begitu sesak dan kesal? Lain ketika dia tahu Kuchiki Rukia adalah adik kandung dari wanita sialan itu. Ichigo sungguh berharap bukan Kuchiki Senna yang ini. Sungguh. Karena dia tak sanggup membayangkan bahwa dialah anak yang dimaksud oleh ayahnya. Jika berarti iya... maka... mereka satu darah!
Ichigo mengepalkan tangannya mengingat betapa brengsek ayahnya itu.
"Ichigo..." panggil Senna yang mulai menyadari mimik anehnya.
"Maaf. Kurasa... aku kembali saja. Bell sebentar lagi berbunyi."
Senna tak banyak berkata lagi. Sesaat tadi, pandangan Ichigo terasa aneh padanya. Seakan dia sedang... marah? Kesal? Atau apa...
Ketika Ichigo berjalan melewatinya, Senna mencium bau yang tidak biasa dari tubuh laki-laki itu. Ichigo tak biasanya berbau begitu. Senna hapal betul bau tubuh laki-laki itu. Biasanya beraroma citrus. Tapi tadi... lavender?
Kenapa baunya mengingatkannya pada bibi cerewetnya itu? Bibinya sangat suka bau lavender. Itu sudah jadi ciri khasnya.
Apa ini hanya kebetulan saja?
.
.
*KIN*
.
.
Kaien berhenti menuruni tangga kantornya ketika melihat sosok wanita mungil tengah berjalan menuju tangga yang sama dengannya. Wanita itu membuka-buka mapnya sambil terus berjalan.
Kemarin hari terburuk sekaligus hari menyebalkan. Dia tak menyangka bahwa...
"Kau tidak tahu wanita seperti apa Kuchiki Rukia itu sebenarnya!"
Sungguh kata-kata ayah angkatnya itu begitu menyakitkan. Mana mungkin wanita cantik ini sengaja datang hanya untuk balas dendam. Mana mungkin wanita ini adalah adik kandung dari masa lalu ayah angkatnya. Mana mungkin itu Rukia... mana mungkin.
Kaien begitu keras menolak asumsi ayahnya yang mengerikan ini. Sungguh. Kaien berharap dia tidaklah mendengar kenyataan itu. Kenyataan mengerikan ini. Kalau itu benar. Apa yang akan Rukia lakukan kalau dia tahu Kaien ada hubungannya dengan ayahnya ini. Bagaimana bisa Rukia menghadapi Kaien nanti kalau dia tahu masalah ini.
Rukia berjalan terus tanpa mempedulikan apapun. Tampaknya dia begitu fokus melihat map itu. Dan ketika Rukia sudah berada di atas 3 tangga dari Kaien, pria itu baru memanggilnya.
"Kuchiki..."
Rukia menoleh ke samping dan mendapati senpai-nya yang memanggil itu. Dengan senyum lembut nan cerah, Rukia membalas panggilan itu.
"Ya. Ada apa Senpai?"
Senyumannya begitu menghayutkan dirinya. Kuchiki Rukia seolah seperti bayangan yang sulit dihapus. Kalaupun keinginan menghapus itu ada, Kaien tak yakin bisa menghapusnya. Ini sungguh terlalu sulit dan terlalu... rumit. Memandangi wajah itu saja membuat Kaien teringat kembali kata-kata ayah angkatnya yang begitu menyakitkan. Wajar saja kalau Rukia tak sanggup berlama-lama dekat dengan Presdirnya. Wajar saja.
"Senpai?" panggil Rukia lagi.
"Ehh? Ya... ada apa Kuchiki?" tanya Kaien.
"Kan Senpai yang memanggilku. Ada apa?"
"Tidak ada apa-apa. Lanjutkan saja pekerjaanmu."
Rukia mengangkat bahunya dengan mimik bingung lalu melanjutkan kakinya untuk melangkah menuju lantai atasnya. Kaien ingin bergerak menghentikan wanita itu. Meminta penjelasannya selama ini. Meminta wanita itu jujur padanya tentang apa yang selama ini diinginkan olehnya. Tapi Kaien malah lebih banyak menyimpan diam.
"Apa yang harus aku lakukan Rukia?" gumam Kaien meratapi kepergian wanita cantik itu.
.
.
*KIN*
.
.
Kaien ingin mengajak Rukia makan siang. Tapi entah kenapa tiba-tiba Ichigo mengajak ingin bertemu. Kaien tak tahu apa yang ingin dibicarakannya mendadak begini. Rasanya aneh saja. Biasanya kalau ingin bicara, Ichigo langsung saja mendatangi kantornya. Tidak pakai acara panggil memanggil begini. Apa sebenarnya yang diinginkan oleh bocah ini? Aneh!
Kaien keluar dari gedung itu dan sudah melihat bocah itu berdiri di sana. Sepertinya dia cepat sekali pulang akhir-akhir ini. Ichigo tersenyum tipis menyambut kakaknya dan langsung mengajaknya bicara di kafe terdekat. Sebenarnya Ichigo malas datang ke kafe, tapi tempat dimana yang nyaman bicara hanya tempat itu saja. Lagipula... ini bukan pembicaraan main-main.
"Nii-san. Apa aku bisa langsung saja?" ujar Ichigo menatap datar pada Kaien.
"Katakan saja. Kau mau apa? Tidak biasa begini." Kata Kaien sambil meneguk kopi mocca-nya.
"Sejauh mana... yang Nii-san ketahui tentang Kuchiki Rukia?" tanya Ichigo. Dan benar-benar langsung.
Kaien menghentikan minumnya dan menatap lurus pada Ichigo. Serius. Wajah bocah berusia 17 tahun itu terkesan serius. Kaien tak pernah melihat adiknya begini serius.
"Apa maksudmu sebenarnya? Kenapa kau tiba-tiba tanya Kuchiki begitu?"
"Kemarin... sebenarnya ada yang ingin kubicarakan dengan Nii-san. Tentang hal ini. Kemarin aku datang ke kantor ini dan mengunjungi ruangan Nii-san tapi Nii-san tidak ada. Jadi aku langsung ke tempat Oyaji. Kupikir, kau di sana. Dan ternyata benar. Kau memang di sana. Lalu tanpa sadar... aku mendengar kalian menyebut nama... Kuchiki Rukia." Ichigo menghentikan kata-katanya melihat reaksi kakak angkatnya itu.
"Ichigo... kau... kau dengar sampai mana?" kali ini Kaien mulai khawatir. Takut-takut kalau Ichigo marah-marah dan ingin menghajar habis wanita itu.
"Seluruhnya." Jawab Ichigo singkat.
"Apa? Seluruhnya? Jadi kau..."
"Nii-san tahu aku membenci wanita yang sudah membuat Kaa-san jadi begitu menyedihkan bukan? Bahkan sampai matipun tetap menyedihkan. Aku bahkan tidak ingin bertemu dengan siapapun yang berhubungan dengan wanita itu. Begitu mengingat wanita itu aku jadi teringat bagaimana Kaa-san meninggal. Sangat... menyakitkan."
Ekspresi Ichigo begitu pedih tiap kali dia ingat bagaimana ibunya meregang nyawa karena hal itu. Bagaimana ibunya merasa sakit karena dikhianati sampai mati seperti itu. Sungguh Ichigo tak rela. Sangat tidak rela! Tapi bersamaan dengan itu, Ichigo juga bisa merasakan, setiap kali melihat wajah Rukia yang terlihat pedih dan sedih ketika bermimpi tentang kakaknya yang meninggal itu. Sungguh ekspresi dua wanita yang dicintainya itu membuat hatinya teriris sembilu. Sakit.
"Ichigo..."
"Karena itu Nii-san. Beritahu aku. Apalagi yang kau ketahui tentangnya. Beritahu aku semua tentangnya." Pinta Ichigo.
"Kenapa kau ingin tahu tentang Kuchiki Rukia?"
"Karena aku sudah mencintainya." Jawab Ichigo mantap.
Mata Kaien membelalak lebar. Tak menyangka kalimat itu yang keluar dari bibir pemuda berusia 17 tahun ini. Sungguh. Kaien pikir, Ichigo tak mungkin tertarik dengan wanita itu. Dan sejujurnya, logikanya, jika Ichigo tahu siapa Rukia, otomatis itu akan membencinya bukan? Kenapa malah mencintainya? Itu aneh bukan? Ichigo bukanlah tipe laki-laki yang mudah membenci apa yang dia suka. Sekalipun apa yang dia suka itu membuatnya benci, dia tetap akan menyukainya sampai kapanpun. Kaien cukup paham masalah ini. Tapi tak mungkin kalau hanya beberapa kali ketemu―sejauh yang Kaien tahu―Ichigo bisa begitu mudah mencintainya.
"Kau... pasti bercanda. Mana mungkin―"
"Aku tidak bercanda! Apa Nii-san tak bisa melihat mataku kalau aku bersungguh-sungguh. Aku dan Rukia... sudah menjalin hubungan yang cukup serius."
"Tentu saja aku tidak bisa percaya! Bagaimana mungkin Kuchiki bisa mencintaimu? Bagaimana kalau dia tahu kau anak Tou-san! Apa mungkin dia masih ingin bertemu denganmu? Kau pikir sebenci apa Kuchiki pada Tou-san kita? Dan aku... kalau dia juga tahu... mungkin Kuchiki juga bisa membenciku."
"Tidak Nii-san. Rukia benar-benar mencintaiku. Kau yang tak pernah tahu itu. Karena itu... jika nanti dia tahu kalau aku anak Oyaji, aku akan menjelaskan semuanya. Aku akan membuatnya mengerti."
"Tidak Ichigo! Kuchiki bukan orang yang semudah itu. Kau... kau tidak pantas untuknya! Kalian terlalu berbeda! Hubungan kalian... tidak akan semudah itu."
"Lalu apa yang membuat Nii-san berpikir bahwa Nii-san pantas? Nii-sanpun... sama tak pantasnya denganku. Karena kita... sama-sama orang yang memiliki hubungan dengan pria yang sudah menyakitinya. Aku hanya ingin menyampaikan ini saja. Tidak ada yang lain. Aku hanya ingin Nii-san tahu ini. Karena aku... benar-benar tidak akan melepaskan Kuchiki Rukia. Apapun yang terjadi."
Ichigo melangkah meninggalkan Kaien yang masih termangu itu.
"Kau benar-benar tidak apa-apa dengan ini? Bagaimana dengan mendiang ibumu Ichigo?"
Ichigo menghentikan langkahnya. Tanpa berbalik badan dia hanya mengepalkan tangannya sekencang mungkin.
"Aku akan meminta maaf padanya. Sekalipun harus ke neraka, aku tetap akan meminta maaf padanya."
Dan Ichigo meninggalkan kafe itu. Rasanya memang lega kakaknya sudah tahu ini. Tapi rintangan akan tetap muncul di depan mata. Ichigo tahu ini memang tidak mudah. Tidak akan mudah. Tapi Ichigo bersabar. Dia bisa melewatinya. Harus.
.
.
*KIN*
.
.
"Kurosaki... Ichigo?" ulang Rukia tak percaya.
Mata ungunya membelalak lebar kala mendengar nama itu langsung. Apakah... Ichigo yang dimaksudnya adalah... Ichigo yang dia kenal?
"Kuchiki Senna datang hari itu, ke rumahku untuk menjenguk anakku. Yah... anakku. Kurosaki Ichigo. Dan aku bertemu dengannya. Kau pasti tahu... anak siapa dia sebenarnya. Kuchiki Senna itu."
Rukia bisa saja limbung sekarang. Tapi tubuhnya terus berusaha dia tahan untuk tidak merosot tiba-tiba.
Selama ini dia berpikir bahwa Ichigo adalah Shiba... karena dia adalah adiknya...
"Lalu... apa hubungan Ichigo dengan Shiba Kaien? Bukankah mereka... kakak beradik?"
"Mereka memang kakak beradik. Karena Shiba Kaien adalah anak angkatku."
Nafas Rukia tak teratur. Sungguh. Jantungnya terasa ingin terlempar keluar. Nafasnya sesak sekali.
Niatnya hanya ingin meminta tanda tangan Presdir-nya saja. Dan kemudian pria ini mulai merecokinya dengan pertanyaan-pertanyaan ganjil. Sampai pada... kenyataan ini.
Apa Ichigo tahu siapa dirinya? Apa Senpai-nya tadi siapa dirinya?
.
.
*KIN*
.
.
TBC
.
.
Hola Minna. saya update juga akhirnya. hehehe ok deh gak banyak cincong karena saya sadar, betapa hancurnya chap ini.
karena konfliknya udah dateng, jadi sebentar lagi bakal tamat. hepi or sed itu tergantung reviewnya senpai. karena saya masih ragu buat endingnya... hohoho
bales review... special thanks banget udah rela hati mau review... hehehehe
Ruki Yagami : makasih udah review senpai... aduh jadi malu lemonnya dibilang ok. padahal saya sendiri ragu bakal bagus apa nggak. makasih banyak senpai... heheheeh
Ya-chan : makasih udah review senpai... heheh nih udah update...
snow : makasih udah review senpai... nih udah update heheheh
FYLIN-chan : makasih udah review senpai... tahu beneran dong. masa nggak? heheheeh
Zanpaku nee : makasih udah review senpai... hehehe beneran mirip senpai jadi pembawa berita... heheh iya nih udah dikasih liat ekspresinya Ruki kan? hehehehe
lola-chan : makasih udah review senpai... aduhh saya malah gugup bikin lemon itu. kirain gak bagus... hehehe
Mitsuki Ota : makasih udah review alex... heheeh didelete yang gak karuan aja... heheheheh iya mau tamat. mungkin 3 sampe 4 chap lagilah... tergantung sitkon... hohooho
Voidy : makasih udah review senpai... hehehehe iya senpai. saya mau cepet-cepet seleseiin. jadi gimanapun pokoknya selesai deh... hehehe
AkiraChan : makasih udah review senpai... kayaknya saya gak yakin tuh Isshin mau... hehehe
nenk rukiakate : makasih udah review nenk... heheeh syukurlah nenk suka. kata-katanya terinspirasi dari film Korea sih. wkwkwkwk gak papa reviewnya panjang. saya suka review panjang kok... hehehehe Ichi kan masih muda emang... heheheh
R : makasih udah review senpai... hehehe jangan senpai dong. Kin aja. hohhohho ada juga yang nanyain fic itu ya? hmm... sedang proses... doain aja kelar. hehehehe
Bad Girl : makasih udah review senpai... heheh kan senpai yang mau... hohooh yang itu... kayaknya saya lagi salah ketik. makanya keketik begitu. maaf ya senpai... Ichi ada di kantor? maunya sih nemuin Kaien... eee malah nyasar ke ruangan bapaknya. dan akhirnya kedengaran deh... hohoho
makasih buat yang udah review... beneran saya terharu ada yang review... hahhaha
jadi... buat yang udah baca... silahkan direview yaa... karena itulah penyemangat buat author abal seperti saya.
Jaa Nee!
