Hola MInna!

Saya kembali datang memenuhi fandom ini dengan karya saya yang luar biasa ancur ini. Mohon dimaklumi. Hehehehehehe

DISCLAIMER :TITE KUBO

RATE : M (For Safe)

WARNING : OOC, AU, MISSTYPO, Cerita Gak Menarik, Pasaran, Gaje!

.

.

.

"Tolong katakan yang sebenarnya. Apakah... gadis itu... benar anakku?"

Sehari saja. Rukia hanya minta sehari saja ada hal waras yang bisa dia dengarkan hari ini. Entah kenapa beberapa hari ini kepalanya terasa mau meledak. Bagaimana mungkin tidak meledak? Semua hal kurang waras harus dia dengarkan. Dimulai dari tentang balas dendamnya... pernyataan cinta dari bocah dan mantan senpai-nya... lalu mengenai keponakannya. Tak adakah yang bisa membuatnya tenang walau sehari?

Semua hal tak masuk akal ini? Semuanya... bagaimana mungkin...

Rukia memijat pelipisnya sejenak lalu kemudian menarik nafas dalam. Dengan gerakan cepat dan setengah terburu, Rukia membereskan berkas yang tadinya dia serahkan untuk segera ditandatangani. Tapi tampaknya ini tak akan semudah itu.

"Maaf Predir. Saya akan datang lagi lain waktu. Mungkin... sebaiknya kita tunda dulu hari ini." Elak Rukia sambil membawa berkasnya.

"Mau sampai kapan kau menyembunyikan ini! Gadis itu... gadis itu berhak tahu yang sebenarnya. Tentang kebenaran ini. Dan kurasa Hisana juga menginginkan hal ini."

"Jangan sebut nama kakakku selancang itu dengan mulutmu di depanku! Kau tidak berhak... menyebut namanya!" bentak Rukia emosi, rasanya kesal saja pria brengsek ini menyebut nama kakaknya tanpa berpikir dan seenaknya. Apakah dia tidak tahu semenderita apa kakaknya ketika pergi meninggalkan pria sialan ini? Rukia semakin menggeram kesal sambil menggenggam erat berkas di tangannya itu.

"Tolong katakan. Atau... kau ingin aku sendiri yang memastikannya?"

"Jika kau berani menemui Senna, dan mengatakan hal yang tidak perlu... percayalah. Kali ini, aku sendiri yang akan membunuhmu dengan tanganku. Apa kau mengerti!" ancam Rukia dengan nada sedingin es itu. Menusuk dan tajam.

"Aku berhak menemuinya! Kau tidak boleh menyembunyikan ini semuanya! Katakan kenyataan yang sebenarnya..."

"Kalau kau ingin tahu, silahkan temui kakakku di alam sana. Temui dia dan tanyakan kebenarannya. Karena aku... sama sekali tidak akan membiarkan kau tahu!"

"Kau!"

Tampaknya Isshin benar-benar kesal dengan wanita ini. Secepat kilat dia berdiri dari kursinya dan maju mendekati wanita mungil ini. Dengan sekali sentakan, Isshin menggenggam dengan kencang pergelangan tangan Rukia hingga wanita berambut hitam ini meringis kesakitan. Tapi Rukia tetap memandang tajam pada Presdir-nya ini.

Tapi ini adalah satu-satunya kesempatan Rukia untuk membuat pria brengsek ini merasakan sakit kakaknya 17 tahun yang lalu. Biarkan dia merasakan pedih selama ini. Rukia membatalkan balas dendamnya karena berbagai alasan. Dan sekarang... Rukia ingin membiarkan pria ini menderita dulu.

"Apa yang kau inginkan dariku!"

"Membuatmu menderita!"

"Jadi... kalau aku menderita, baru kau mau mengatakannya padaku?"

"Tidak."

Dengan kata-kata singkat itu, genggaman di pergelangan tangan Rukia semakin kencang, hingga akhirnya Rukia malah menjatuhkan berkas yang ada ditangannya. Rukia sebisa mungkin menahan rasa sakit sialan itu.

"Apa kau tidak tahu aku ini sudah menderita selama 17 tahun ini!" bentak Isshin.

"Lalu apa kau tahu 17 tahun ini bagaimana kakakku? Meski kau datang padaku untuk meminta maaf sekalipun, aku tak akan pernah memaafkanmu. Yang kulakukan ini adalah... aku hanya ingin kau... merasakan rasa menderita yang kakakku alami selama ini. Kau tidak berhak untuk jadi orang egois. Karena kau... tidak pantas untuk itu!"

Suara sebuah pintu membuyarkan suasana mencekam dalam ruangan itu. Rukia bernafas lega kala seseorang melepaskan tangannya dari genggaman menyakitkan itu dan menarik Rukia bersembunyi di belakang punggungnya.

"Sudah cukup Tou-San. Sudah... cukup." Ujarnya parau.

"Kaien..."

"Aku tidak bisa menahan diriku lagi. Kumohon... hentikan ini sebelum terlalu jauh. Atau Tou-San sendiri yang akan menyesal. Ayo Kuchiki."

Kaien menarik lembut lengan Rukia untuk menjauh dari ruangan itu. Entah kenapa ada rasa sesak yang tiba-tiba menghampirinya. Tapi Rukia tak bisa katakan itu. Terlalu...

.

.

*KIN*

.

.

Kaien berdiri membelakangi Rukia. Kini mereka berdiri di atap gedung kantor ini. Rukia sudah tahu. Cepat atau lambat ini akan terjadi. Rukia bahkan belum sempat untuk terkejut karena berbagai perasaan menyelinap dalam kepalanya. Dan Rukia tak akan pernah bertanya bagaimana Kaien tahu dimana Rukia tadi.

"Apakah tidak ada yang ingin kau tanyakan, Kuchiki?" ujar Kaien masih membelakangi Rukia. Sedangkan Rukia hanya saling menggenggam tangannya. Pertanyaan? Yah... dan ada banyak.

Kaien berbalik menghadapnya. Matanya begitu pedih menatap Rukia.

"Senpai... apa Senpai selama ini... sudah tahu tentangku?" di saat kalimat terakhir lidah Rukia terasa kelu untuk mengatakannya. Suaranya pun terdengar begitu kecil dan lemah. Sambil menundukkan kepalanya begitu dalam, Rukia berusaha untuk tidak memperlihatkan emosi berlebihannya pada senpai-nya ini. Karena jujur... Rukia tak tahu harus bagaimana sekarang ini. Seperti penjahat yang tertangkap basah.

"Ya. Aku sudah tahu. Semua tentangmu. Lalu... apa kau tahu... tentangku?" tanya Kaien perlahan. Bermaksud ingin menjelaskan situasi konyol ini pada wanita mungil ini.

"... ya... aku... baru saja tahu." Lirih Rukia. Benar-benar menyebalkan sekali rasanya!

"Jadi... apakah kau... membenciku?"

Rukia sesegera mungkin mendongakkan kepalanya dan menatap intens mata hijau milik mantan kakak kelasnya itu. Sungguh... membenci senpai yang selama ini sangat dikagumi dan disayanginya adalah hal yang tidak ingin Rukia lakukan. Tidak.

"Senpai..."

"Kau... pasti membenci Ayahku yang membuat hidupmu dan kakakmu menderita. Jadi pasti kau juga membenciku karena aku... tidak pernah memberitahumu yang sebenarnya... soalku padamu..."

"Senpai... kumohon jangan seperti itu. Sungguh ini bukan salahmu. Aku juga... tidak mungkin membencimu karena kau... punya hubungan dengan orang itu. Sungguh! Ini sungguh bukan salahmu. Dan kau... tidak punya alasan untuk menjelaskan semuanya padaku." Jelas Rukia bertubi. Berharap kata-katanya bisa membuat Kaien mengerti, bahwa sama sekali tidak ada alasan Rukia untuk membencinya. Sekalipun... Kaien punya hubungan dengan orang itu.

"Kenapa aku tidak punya alasan untuk memberitahumu?" sahut Kaien.

Rukia hanya menunduk lagi. Angin sore yang berhembus kencang ini membuat helaian rambut hitamnya berkibar begitu kencang. Udara di atas atap inipun membuatnya menggigil. Karena emosi dan perasaan yang tidak menentu ini sungguh membuatnya begitu bimbang dan frustasi.

"Kau tahu... aku menyukaimu―tidak! Lebih dari itu. Perasaanku lebih dari suka. Aku juga... punya alasan untuk menjelaskan semua ini padamu. Meskipun kau tidak membenciku... tapi kau pasti sulit menerima kenyataan ini. Kenyataan kita berdua." Kaien terkesiap sendiri saat menyebut kalimat terakhirnya. Tidak. Bukan mereka berdua saja. Semua orang yang terlibat dalam lingkaran bodoh ini. Tentu saja, tidak hanya mereka berdua yang terluka. Akan ada banyak orang lainnya.

"Tolong jangan bahas ini lagi Senpai. Aku... tidak ingin tahu lebih jauh lagi." Lirih Rukia. Ketika itu perasaannya berkecamuk luar biasa. Dia bisa dengan tenang menghadapi Isshin yang terus merongrongnya dengan segala macam kenyataan bodoh yang pria brengsek itu inginkan. Tapi... menghadapi mantan kakak kelasnya yang sedari tadi menyampaikan berbagai kenyataan pahit sungguh membuatnya terluka. Kenapa selama ini dia justru berhubungan dengan orang-orang yang sepatutnya dia benci? Kenapa dia harus mengagumi dan menyayangi―bukan dalam konteks cinta―orang yang berhubungan dengan masa lalu kakaknya? Apakah salahnya yang selama hanya memikirkan balas dendam bodohnya saja?

"Kuchiki. Kumohon katakan sesuatu. Seperti kau membenciku atau apa saja. Kau berhak melakukannya. Jangan terus menerus menghindar seperti ini. Menghindari perasaanmu."

"Aku tidak bisa membencimu! Aku tidak bisa lakukan hal seperti itu. Aku... hanya ingin satu orang yang menderita. Hanya satu orang. Dan itu... bukan kau Senpai. Bukan juga orang lain. Aku hanya ingin pria brengsek yang sudah menyakiti kakakku itulah yang pantas menderita. Jadi... tolong jangan memintaku untuk membencimu."

"Apa... Ichigo juga termasuk dalam hitungan orang yang tidak ingin kau benci?"

Mata ungu Rukia membulat kala nama itu disebutkan. Air matanya meleleh tak karuan. Sulit menahannya. Sangat... sulit.

"Sen... pai..."

"Apa benar Kuchiki? Apa itu benar? Kalau kau pun... tak bisa membenci Ichigo? Anak kandung ayah angkatku?"

Rukia menghapus airmatanya dan segera berlari menghindari senpai-nya itu. Kaien tak bermaksud untuk mengejarnya. Jadi Rukia hanya perlu buru-buru pergi dari sana secepat mungkin. Dia tidak ingin lagi membahas hal yang membuat hatinya hancur dan kecewa luar biasa.

Rukia sampai di lantai bawah atap gedung itu. Berlari menuju lift kantornya. Rukia terus menekan tombol lift itu sekencangnya dan berkali-kali. Tidak peduli jadi apa tombol itu, karena yang dia inginkan hanyalah pintu itu terbuka untuknya dan membawa pergi dari gedung ini.

"Rukia!"

Rukia membatu sekali lagi. Suara itu...

Rukia mendengar derap langkah yang begitu cepat akan menghampirinya. Dadanya terasa sesak. Selalu sesak di saat seperti ini. untungnya pintu lift itu segera terbuka dan Rukia langsung melompat masuk. Tanpa menunggu apapun lagi, Rukia menekan tombol lift itu agar tertutup dengan cepat. Rukia juga tak peduli orang lain yang ingin masuk ke dalam lift. Karena Rukia sendiri sudah menutupnya dengan sempurna tanpa mengijinkan seorangpun masuk ke sana. Tidak di saat kondisinya seperti ini.

.

.

*KIN*

.

.

Ichigo menghentakan kakinya dengan kesal ketika pintu lift itu menutup dengan sempurna tanpa memberikan kesempatan untuknya masuk ke sana. Ichigo yakin wanita mungil itu mendengar suaranya. Ichigopun yakin alasan Rukia menutup pintu lift itu begitu cepat adalah ingin menghindarinya. Ketika tak punya harapan lagi untuk menunggu lift itu terbuka, Ichigo langsung berlalu menuju tangga darurat untuk menyusul Rukia. Apakah terjadi sesuatu padanya? Apa yang terjadi? Kenapa Rukia menghindarinya? Ada apa sebenarnya?

Semua pertanyaan itu membuat Ichigo frustasi. Rukia kembali menghindarinya. Dan itu membuatnya benar-benar kesal.

Ichigo sampai di lantai dasar. Tapi begitu sampai ternyata lift itu sudah terbuka dan menuju lantai basement gedung ini. tanpa banyak pikir lagi, Ichigo berlari menuju basement untuk mengejar wanita itu. Ichigo harus menjelaskan ini. Harus! Walaupun dia tak mengerti apa yang terjadi pada Rukia, tapi dia harus menyelesaikan ini. Dia tidak ingin wanita itu nantinya salah paham padanya. Tidak ingin sama sekali.

Ichigo sampai di basement dan menemukan wanita mungil itu berjalan begitu cepat sambil mengeluarkan kunci mobilnya. Kali ini Ichigo tak lagi memanggilnya tapi langsung melesat menyusulnya. Tapi sialnya, Rukia sudah keburu masuk ke mobil dan menyadari Ichigo yang berlari mengejarnya. Dari depan kaca mobilnya, Ichigo bisa melihat wanita berambut pekat itu terkejut luar biasa.

Kini Ichigo sampai di mobil itu dan berusaha membuka pintunya. Sayang, pintu itu sudah terkunci dari dalam. Terakhir Ichigo memukul-mukul jendela mobil itu, berharap jendelanya pecah saja.

"RUKIA! Buka pintunya! Rukia! Kumohon buka!" jerit Ichigo sambil terus menerus menggedor sekencang mungkin jendela kaca mobil itu. Tapi lagi-lagi yang Ichigo tangkap wanita itu nampak menggigit bibirnya lalu menyalakan mobilnya. Ichigo sadar Rukia sedang menangis. Karena itu, ketika mobil itu sudah berjalan menjauh dari Ichigo dan keluar dari basement itu, Ichigo semakin mengerti.

Rukia... menghindarinya karena suatu alasan.

Apakah... Rukia sudah tahu siapa dia?

.

.

*KIN*

.

.

"Apa? Oyaji... memberitahu semuanya?" ulang Ichigo ketika kembali menemui Kaien di kantornya. Kakak angkatnya itu tampak frustasi di ruangannya sambil menjelaskan kejadian yang sesungguhnya. Tak diragukan lagi. Ini alasan Rukia menghindarinya.

Ichigo menyentakkan tasnya untuk keluar dari ruangan kakak angkatnya itu.

"Kau mau kemana?" tahan Kaien melihat gelagat aneh adiknya itu.

"Mencari Kuchiki Rukia." Jawab Ichigo singkat, masih memegang kenop pintu itu.

"Apa yang akan kau lakukan dengannya?"

"Menjelaskan semuanya. Dia harus tahu. Kenyataannya dariku. Aku tidak ingin dia berpikiran aneh karena Oyaji yang mengatakan itu padanya."

"Menyerah saja. Kau tidak mungkin―"

"Aku belum mencobanya. Jadi Nii-san tidak perlu menyuruhku menyerah. Karena aku... tidak mau menyerah."

Seketika itu pula Ichigo menutup pintu ruangannya.

Kaien mendesah panjang. Adiknya memang keras kepala. Mungkin karena dia masih remaja. Sejujurnya Kaien begitu iri pada Ichigo yang begitu gigih pada perasaannya. Dan begitu berani pada kenyataan. Seandainya Kaien sanggup seperti itu. Bukan karena dia pengecut atau apa. Dia tidak ingin memaksanya. Tidak ingin membuat wanita itu bimbang dan terpaksa.

.

.

*KIN*

.

.

Setelah tiba di apartemennya, Rukia menyandarkan dirinya di dinding apartemennya. Tubuhnya benar-benar tak kuat lagi. Satu-satunya cara adalah mengakhiri semua ini. ternyata dia tak begitu kuat rupanya. Ternyata dia begitu rapuh rupanya. Dan ternyata lagi... dia begitu lemah. Konyol sekali dirinya dulu berani datang ke sana dengan lantang untuk membalas dendam. Dan apa yang terjadi sekarang?

Hari sudah gelap di luar sana. Dan... dingin.

Sambil menekan dadanya yang sesak itu, berkali-kali Rukia berbisik lirih untuk meminta maaf pada mendiang kakaknya. Karena dia tidak bisa membalas dendam tanpa menyakiti siapapun. Balas dendam itu akan menyakiti siapa saja. Dan Rukia menolak hal itu. Cukuplah dirinya yang tersakiti. Jangan sampai menambah korban lainnya.

Mendadak Rukia terkesiap karena bell apartemennya berbunyi begitu nyaring. Rukia bermaksud mengabaikannya. Tapi selain bell gedoran pintu apartemennya terasa begitu kuat. Bahkan mungkin sanggup menghancurkan pintu itu. Rukia beranjak dan mengintip dari layar interkom-nya sambil menekan bell interkom-nya bermaksud menanyakan siapa. Tapi dia tidak bisa melihat siapapun. Siapa yang datang seperti ini?

Karena gedoran dan bell itu berkali-kali bunyi, Rukia jadi kesal. Ini bisa mengganggu tetangga apartemen lainnya dan dia bisa dilaporkan karena membuat kegaduhan. Mau tak mau Rukia membuka pintu apartemen itu. Baru terbuka setengah sekali lagi Rukia melihat sosok itu berdiri di depannya. Rukia secepat kilat menutup pintu itu, tapi kalah cepat dan kalah tenaga.

Mata ungu Rukia membelalak lebar kala sosok itu memaksa masuk dan mendorong pintu itu begitu keras hingga Rukia tak sanggup untuk menutupnya lagi. Langkah Rukia termundur ke belakang karena sosok itu sudah masuk ke apartemennya dengan wajah kacau. Nafasnya terengah dan bajunya basah kuyup karena keringat. Wajahnya juga dihiasi peluh.

"Apa yang kau lakukan di sini! Pergi! Cepat pergi!" bentak Rukia penuh emosi. Tidak mau memberikan sedikitpun celah pada bocah ini.

"Ru... kia..." panggilnya dengan tersengal.

Rukia maju ke depan dan mendorong-dorong tubuh besar itu untuk keluar dari apartemennya. Tapi tubuhnya itu bahkan tidak bergerak sesentipun dari tempatnya. Sambil menunduk menahan kesal, Rukia memukul-mukul dengan kencang dada bidang pemuda berusia 17 tahun itu.

"Cepat pergi! Aku tidak mau melihatmu! Pergi dari sini sekarang! Aku ingin kau pergi! Arrgghhh!" pekiknya histeris. Sayang Rukia hanyalah wanita mungil yang tak memiliki tenaga sebesar yang dia butuhkan. Bagi pemuda itu, pukulan Rukia tak berarti apapun selain rasa gatal.

Tapi Ichigo hanya membiarkan wanita bermata indah ini melampiaskan kekesalannya pada tubuhnya dan membiarkan Rukia memukulinya tanpa henti. Ichigo tahu sekesal apa Rukia padanya. Jadi... ketika pukulan dan pekikan histeris itu perlahan berhenti dan berganti isak tangis Ichigo baru menggerakkan tangannya dan meraih kedua lengan mungil yang kelelahan memukulinya itu. Rukia masih menundukkan kepalanya sambil menangis. Isakan yang begitu memilukan. Dan Ichigo tak percaya bahwa dirinyalah yang membuat wanita yang dicintainya ini menangis begini hebat.

"Rukia..." panggil Ichigo lagi.

"Per... gi. Kumohon... pergi dari sini..." isak Rukia. Sungguh, kalaupun bisa, dia tidak ingin pemuda ini pergi. Dia ingin pemuda ini merengkuhnya. Memaksanya agar dia bisa melupakan beban ini.

Ichigo tak berani untuk memeluknya seperti biasa ataupun menciumnya seperti yang dia inginkan. Wanita ini sungguh-sungguh membencinya.

"Aku tahu... kau membenciku. Aku tahu alasanmu membenciku. Karena ayahkulah... penyebab kematian kakakmu. Aku tahu itu Rukia." Kata Ichigo perlahan.

Masih dengan menundukkan kepalanya, mata Rukia membulat lebar. Jadi... Ichigopun...

"Maaf aku menyembunyikan ini darimu. Tapi sungguh aku tak tahu sebelumnya soal ini. Aku baru tahu... kemarin. Hari dimana aku, datang ke apartemenmu. Aku baru tahu hari itu ketika aku datang ke kantor Nii-san. Aku mencari Nii-san-ku, dan sampai ke ruangan ayahku. Aku tak menyangka... mereka sedang membahas soal... dirimu."

Ichigo menghentikannya sejenak karena lengan Rukia di dalam genggamannya bergetar walau tak kentara. Ichigo menghirup nafas panjang lalu menghembuskannya dengan pelan sambil menguatkan genggaman tangannya di lengan kecil Rukia.

"Aku baru tahu... kalau kakakmu... pernah menjalin hubungan dengan ayahku. Wanita yang selama ini... aku benci setengah mati, adalah kakakmu. Aku juga baru tahu, kalau kau datang ke perusahaan ayahku... karena kau ingin balas dendam dengannya. Awalnya, aku bingung harus bagaimana. Aku tidak tahu harus berbuat apa padamu. Tapi... mungkin karena aku lebih mencintaimu daripada membencimu, aku jadi tak memikirkan soal itu. Menurutku... ayah memang pantas mendapatkan apa yang pantas dia dapatkan. Membuat dua wanita menderita bersamaan seperti itu, kupikir... ayah pantas mendapatkannya. Mendapatkan balas dendammu.

"Tapi... karena hal itu, aku jadi takut. Aku takut kau juga akan membenciku karena aku anak kandung ayahku. Tidak apa-apa. Kalau kau memang ingin membenciku, sungguh tidak apa-apa. Aku rela. Kau memang pantas membenciku. Karena... posisimu memang harus seperti itu. Tapi Rukia... kalau posisinya saat ini dibalik, aku... tidak mungkin membencimu. Karena bagaimanapun... kita berdua tidak ada hubungannya dengan masa lalu ayahku dan kakakmu. Kita berdua... tidak pantas saling membenci karena masa lalu orang lain.

"Rukia... mungkin kau tak mau dengarkan ini, tapi... kumohon egoislah. Kumohon lupakan masalah aku adalah anak kandung orang yang kau benci setengah mati itu. Kau boleh membalas dendam apapun pada ayahku. Aku tidak akan menghalangimu. Tapi jangan lepaskan aku. Jangan pernah. Kalau kau lepaskan aku, artinya kau ingin mengulang kesalahan yang sama seperti kakakmu. Seandainya waktu itu kakakmu bisa sedikit egois, ayahku pasti akan bersama kakakmu. Dan kalau sekali lagi kau bersikap sama seperti kakakmu, kau akan kehilangan apa yang seharusnya jadi milikmu. Sama seperti kakakmu kehilangan apa yang seharusnya jadi miliknya."

Perlahan Ichigo melepaskan genggamannya di lengan Rukia. Kini kedua lengan wanita itu terkulai lemah di sisi tubuhnya. Tubuh mungil itu terlihat begitu rapuh setelah mendengar semua kata-kata Ichigo.

"Kali ini... aku biarkan kau memilih. Kau ingin... menggenggamku, atau kau ingin melepaskanku. Aku tidak akan menghalangimu lagi. Karena bagaimanapun... itu hakmu untuk memilih. Aku tahu ini berat untukmu. Karena itu aku biarkan kau memilih. Tapi... apapun pilihanmu, aku tidak berniat melepaskan diri. Karena aku... tidak akan pernah menjadi ayahku. Aku tidak akan melepaskan wanita yang kucintai apapun yang terjadi."

Setelah mengatakan hal itu, Rukia tak mendengar suara Ichigo lagi. Yang Rukia dengar hanyalah suara pintu yang dibuka dan ditutup. Dan ketika Rukia mendongakkan kepalanya, sosok bocah itu tak lagi ada di depannya. Yah itu benar. Kalau kakaknya bisa egois, tentu saja kakaknya tidak akan seperti ini. kalau kakaknya menuruti kata hatinya, tentu kisah tragis dan balas dendam ini tak akan terjadi. Yang Rukia perlukan hanyalah egois. Dia hanya perlu egois. Agar kisah ini tak terulang untuk kedua kalinya.

Secepat mungkin, masih dengan isakan tangisnya, Rukia berlari keluar dari apartemennya. Mata ungunya mengelilingi seisi koridor apartemen itu. Tapi sosok itu tak ditemukannya. Hatinya kalut luar biasa. Tidak ingin seperti ini lagi. Rukia berlari dengan gelisah menuju lift apartemennya.

"ICHIGOOO!" pekik Rukia begitu melihat Ichigo berdiri di depan lift itu.

Ichigo menoleh dengan cepat dan tertegun melihat sosok Rukia. Tapi kaki mungil Rukia bergerak lebih cepat dari otaknya. Dia tidak ingin kakaknya melihat Rukia seperti dirinya. Rukia tak bisa membuat kakaknya bersedih di atas sana karena Rukia tidak bersikap egois seperti dirinya. Semua ini harus dihentikan. Ternyata... kakaknya benar soal menghentikan balas dendam ini. pasti kakaknya berharap Rukia tak mengulang kesalahan yang sama.

Dengan cepat, Rukia melompat dalam pelukan pemuda berambut orange itu. Memeluk lehernya begitu erat hingga tubuh mungilnya terangkat karena Ichigo menahan pinggangnya. Rukia membenamkan wajahnya di bahu lebar pemuda ini.

"Rukia..." gumam Ichigo menyadari wanita ini begitu erat memeluknya seperti tidak ingin melepaskannya.

"Tidak... Ichigo... aku tidak mau... tidak mau kakakku melihatku begini... tidak mau..." gumam Rukia. Karena kini... Rukia sadar. Sebenci apapun dia pada pria brengsek itu, dia tetap tak bisa membenci pemuda ini. sama seperti dirinya yang tak sanggup membenci Kaien.

"Rukia... Rukia... Rukia..." gumam Ichigo berkali-kali sambil menyesap wangi rambut hitam itu. Merasa seutuhnya wanita ini sudah menjadi miliknya.

.

.

*KIN*

.

.

"Ahh... hmmnghh! Hhh..."

Itu adalah sentakan terakhir yang Ichigo lakukan pada dirinya. Sejak satu jam yang lalu, tubuh mereka sudah polos dari semua benang yang mengganggu dan hanya tertutup oleh selembar selimut di atas tubuh mereka. Ichigo menghentikan gerakannya dan mengambil nafas dengan rakus. Wanita di bawah tubuhnya kini juga melakukan hal yang sama. Wajahnya memerah dan menutup mata indahnya itu demi merasakan sensasi membakar yang terjadi tadi. Dengan senyum lembut Ichigo mendekatkan wajahnya sekali lagi pada Rukia untuk meraih bibir merah itu. Ciuman panas kembali terjadi pada pasangan ini. dada mereka saling menekan sama seperti apa yang terjadi di bawah sana. Milik Ichigo masih begitu kuat menekan milik Rukia. Pergesekan itu akhirnya berhenti seiring dengan ciuman yang berhenti mendadak itu. Wajah Rukia sudah begitu merah dan dengan jujur mengatakan pada Ichigo kalau dia sudah tak sanggup lagi. Meskipun masih ingin melakukan ronde demi ronde, rasanya tubuh Rukia sudah begitu kelelahan mengimbangi permainan remaja ingusan ini. yah... Rukia sudah terlalu tua untuk mengikuti hasrat menggila sang bocah. Dengan lembut, Ichigo mengecup kening Rukia. Lalu tersenyum manis pada wanita ini, kekasihnya. Berlanjut mengecup hidung kecil itu dengan sensual. Dan terakhir, hanya kecupan, hanya sebuah kecupan ringan yang ditempelkan Ichigo pada bibir merah merekah itu. Kini, tidak hanya tubuhnya saja, hatinya Rukia pun saat ini adalah milik seorang Kurosaki Ichigo. Semuanya...

"Rukia..." panggil Ichigo. Kini kepalanya dia sandarkan pada dada Rukia. Rasanya begitu hangat dan dekat. Seperti perasaannya sewaktu kecil ketika ibunya mendekapnya begini erat dan hangat. Ichigo begitu erat memeluk tubuh yang kini beralih fungsi menjadi guling untuknya.

"Hmm?" gumam Rukia sambil mengelus rambut orange itu. Sisi keibuan yang Rukia rasakan ketika Ichigo bersandar pada dadanya dan mendekapnya begini erat.

"Katakan kau mencintaiku."

"Hah?" itulah respon bodoh yang Ichigo tangkap.

"Kenapa? Aku sudah sering mengatakannya. Tapi aku tidak pernah mendengarmu mengatakan itu padaku." Rengek Ichigo. Masih tetap mendekap tubuh Rukia dan bersandar di sana.

"Aku tidak mau!" bantah Rukia.

Kini Ichigo mengubah posisinya. Satu lengannya dijadikan penumpu dan menatap tajam pada wanita yang kini menatapnya tanpa dosa. Wajahnya masih sembab. Mungkin karena menangis tadi. Tapi tidak lagi terlihat pedih dan menderita.

"Hei! Kenapa tidak mau? Katakan cepat!" rengek Ichigo lagi.

"Kata-kata seperti itu harusnya Cuma dikatakan oleh laki-laki. Wanita tidak perlu mengatakannya. Cukup membuktikannya. Aku sudah membuktikannya bukan?"

"Bukti? Kau pikir itu cukup? Ayolah... katakan sekali saja... aku ingin dengar..."

"Ti-dak!"

Geram, Ichigo membuka selimut yang menutupi tubuh mereka berdua hingga Rukia berjerit kecil karena tubuh polosnya terekspose begitu saja. Ichigo menyeringai licik dan membuat Rukia gugup.

"He-Hei! Ichi―ahh! Jangan lagi... a-aku sudah lelah!" protes Rukia ketika Ichigo menjilati leher Rukia dan mengelus permukaan perut rata itu dengan tangannya.

"Aku akan berhenti ketika kau mengatakannya. Ayo..." goda Ichigo.

"Ba-baiklah! Hanya satu kali ini saja!" akhirnya Rukia gerah juga.

Ichigo menunggu dan mengawasi wajah Rukia yang semakin memerah karena malu itu. Mata indah itu tak fokus memandanginya. Rukia tampak menelan ludahnya. Gerakan di leher Rukia itu membuat Ichigo jadi gatal ingin menggigit leher putih―sepertinya tidak lagi berwarna putih karena semua area leher habis oleh gigitannya―itu sekali lagi.

"A-aku... mencintaimu." Kata Rukia. Lebih terdengar seperti bisikan. Rukia mengambil bantal di sebelahnya dan menutup wajahnya.

"Hah? Kau bilang apa?" Ichigo memang mendengarnya, tapi sekecil itu dia jadi tidak yakin.

"Sudah kubilang aku akan mengatakannya satu kali! Kau pikir aku tidak malu mengatakannya!" bentak Rukia di balik bantal itu.

Ichigo menarik bantal itu dengan paksa lalu tersenyum jahil. Wajahnya kian mendekat pada wajah Rukia. Dan mengakhirinya dengan ciuman lembut. Bibir Ichigo begitu intens mengapit bibir Rukia. Gerakan kepalanya mengikuti alur ciuman yang disajikan bocah besar ini. lidahnya kini berpartisipasi pada perang selanjutnya. Kedua lengan Rukia kini dengan santai beralih memeluk leher pemuda yang sedang terbuai oleh ciuman mereka. Untuk saat ini, Rukia benar-benar lupa soal balas dendamnya. Soal siapa Ichigo. Dan soal masa lalu kakaknya. Benar-benar... tidak mengingatnya. Satu-satunya alasan Rukia mencintai Ichigo. Karena Ichigo... bisa membuatnya melupakan betapa pahitnya hidup ini.

.

.

*KIN*

.

.

"Apakah... Rukia menghubungimu akhir-akhir ini?"

Byakuya membuka percakapan di atas meja makan bersama putrinya ini. Hari ini adalah hari Sabtu. Biasanya, Rukia akan mengabari Byakuya dan berkunjung kemari. Atau menginap di sini untuk melihat keadaan Senna. Tapi beberapa minggu ini, tidak pernah ada kabar dari adik iparnya satu itu. Byakuya hanya berpikir kalau Rukia sibuk. Tapi sesibuk apapun bukankah lebih baik dia memberi kabar?

"Ehh? Oba-chan? Tidak Tou-Chan. Tidak ada kabar apapun. Sepertinya dia sibuk." Sahut Senna sambil mengoles roti tawarnya dengan selai strawberry-nya. Benar. Rukia juga tak pernah lagi menghubungi Senna. Biasanya bibinya satu itu akan memantau Senna walaupun sesibuk apapun dia. Karena itulah yang membuat Senna kesal pada bibinya itu. Awalnya memang menyenangkan bibinya tak mengganggunya seperti biasa beberapa minggu ini. tapi... ternyata sepi juga tanpa omelan khas bibi mungilnya itu.

"Coba kau hubungi dia. Suruh datang kemari." Pinta Byakuya.

"Ehh? Oh... biar aku ke sana saja sekalian. Aku juga mau membeli buku. Sepulang dari sana aku akan berkunjung dan menjemput Oba-chan untuk kemari." Usul Senna.

"Baiklah. Pastikan Rukia datang kemari ya."

Senna hanya mengangguk patuh. Ayahnya memang selalu mengkhawatirkan bibinya satu itu. Wajar juga sih. Seingat Senna, bibinya itu ditinggalkan kakaknya, yaitu ibunya Senna, satu-satunya keluarga bibinya, di usia yang masih kecil. Wajar kalau sampai sekarang ayahnya mengkhawatirkan bibinya itu.

Sebaiknya Senna nanti siang ke sana saja. Bibinya pasti sibuk kalau pagi begini. Atau bisa juga belum bangun karena lembur. Yah... bibinya selalu seperti itu.

.

.

*KIN*

.

.

Rukia membuka matanya dengan enggan. Karena lagi-lagi sinar matahari masuk ke dalam kamarnya. Ini sudah pagi. Dan ini adalah hari Sabtu. Kantornya libur dan Ichigo... juga begitu. Semalam bocah ini sekali lagi menginap di apartemennya. Setelah menguap lebar, Rukia baru sadar bocah ini masih terlelap di belakangnya sambil memeluk pinggangnya erat.

Pelan-pelan Rukia berbalik agar bisa menatap wajah bocah ini. kerutan di dahinya begitu banyak. Tidurpun seperti tidak pernah tenang. Tapi sepanjang Rukia tidur bersama bocah ini, baru hari ini Rukia melihat wajah Ichigo yang lelap sekali. Bahkan terkesan begitu damai. Orang-orang yang melihatnya pasti berpikir laki-laki ini menyeramkan. Tentu saja. Rukia juga begitu. Tidurnya malam tadi... benar-benar nyenyak. Sudah begitu lama Rukia tak pernah tertidur selelap tadi.

"Hmmngghh..."

Ichigo menggeliat pelan lalu sebelah tangannya yang tidak ditindih pinggang Rukia terangkat ke atas. Sepertinya dia baru saja meregangkan tubuhnya ketika bangun. Matanya merapat begitu kencang hingga akhirnya pelan-pelan sambil mengerjapkannya, mata cokelat itu terbuka lebar. Matanya begitu sayu. Rukia tersenyum lebar menyambut bocah ini untuk bangun.

"Pagi." Sapa Rukia.

"Hmm... pagi..." balas Ichigo sekali lagi memejamkan matanya dan merangkul Rukia.

"Ayo cepat bangun!" perintah Rukia.

"Nanti..." bisiknya malas.

"Tidak mau bangun?"

"Nanti Baa-chan... aku masih malas bergerak..."

"Baiklah. Aku paksa kau bergerak."

Sadar dengan kata-kata itu, Ichigo membelalakan matanya berusaha untuk menghindar tapi sepertinya kalah cepat. Tangan mungil itu sudah bergerak di atas kepalanya dan menjitaknya sekuat tenaga. Kontan saja Ichigo mengeluh sakit sambil berguling-guling menahan sakitnya jitakan itu. Rukia tersenyum penuh kemenangan.

"Makanya... kalau kubilang bangun ya―kyaa!" jerit Rukia kecil karena tangan Ichigo sudah menarik lengannya untuk terguling sekali lagi. Tanpa basa basi Ichigo mencium bibir Rukia begitu intens. Bukan hanya kecupan, tapi ciuman panas. Lidahnya menjilat-jilat bibir Rukia begitu gegabah. Gerakan kepalanya membuat Rukia sedikit terbuai sejenak. Ciuman ini baik dan menyenangkan... tapi...

"Arghhh! Sakit Rukia! Kenapa kau begitu senang menjitak kepalaku! Bagaimana kalau aku bodoh!" rutuk Ichigo yang sekali lagi harus mengalah karena kepalanya sekali lagi berdenyut pusing. Rukia tersenyum jahil lalu bergerak untuk ke kamar mandi.

"Kau mau kemana?" tanya Ichigo.

"Mandi. Badanku lengket sekali! Dan itu salahmu!"

Ichigo menyeringai senang lalu bergerak dari tempat tidurnya untuk memeluk Rukia dari belakang.

"Kau mau apa!" bentak Rukia. Menyadari gelagat aneh bocah ini.

"Lebih seru mandi sama-sama kan?"

"APA! Enak saja! Tidak mau! Ichigo!" teriak Rukia karena lagi-lagi pemuda itu menggendongnya masuk ke dalam kamar mandi. Kalau sudah begini, mana ada bisa mandi. Lebih seru itu maksudnya... menghajar Rukia habis-habisan di kamar mandi!

.

.

*KIN*

.

.

Setelah sarapan bersama, mereka begitu dekat bercengkerama satu sama lain. Di meja makan itu Rukia begitu senang menyaksikan Ichigo makan dengan lahap masakannya. Seperti mereka memag biasa melakukannya seperti ini. entah kenapa, jujur Rukia mulai berpikir untuk melepaskan diri dari balas dendam konyol ini. tidak. dia memang harus melepaskannya. Untuk kebahagiaannya.

Setelah sarapan, mereka membaca buku. Ichigo membaca komik yang entah dari mana itu asalnya, sedangkan Rukia membaca majalahnya. Tentu posisinya bukan sekadar membaca biasa. Rukia duduk menyandar di sofanya, dan Ichigo berbaring di atas sofa itu dengan berbantalkan pangkuan Rukia. Ichigo tampak begitu menikmati posisi ini. bahkan dia begitu nyaman membaca buku seperti ini. sedangkan Rukia masih fokus saja. Rukia juga tampak nyaman-nyaman saja. Adanya Ichigo di dekatnya tak pernah membuat Rukia bosan.

"Rukia..." panggil Ichigo.

"Hmm..." Rukia masih setia membolak balik majalahnya. Ichigo menaruh komiknya di dadanya dan menatap wajah Rukia di atasnya.

"Sekarang... apa yang akan kau lakukan?" tanya Ichigo.

"Apa? Aku? Baca majalah..."

"Bukan. Maksudku... apa yang akan kau lakukan... pada ayahku?"

Rukia menghentikan gerakan tangannya. Menatap mata Ichigo di pangkuannya, kemudian mengelus rambut orange pemuda itu.

"Aku... akan menghentikannya. Dan aku... berpikir untuk... keluar dari sana. Keluar dari perusahaan ayahmu. Kupikir... itu satu-satunya cara."

"Tapi... balas dendammu..."

"Tidak. Tidak ada lagi balas dendam. Memilikimu... sudah lebih dari cukup balas dendam untukku. Kau janji tidak akan melepaskanku kan?"

"Ya... tentu saja."

"Kau juga harus janji untuk tidak melirik gadis lain yang lebih muda dariku kan?"

"Apa?"

"Tentu saja! Kau kan masih muda. Sedangkan aku―"

"Seseorang pernah berkata padaku, bahwa ada seorang wanita yang semakin tua semakin cantik. Dan itu... seperti dirimu. Sekarang saja kau masih cantik seperti gadis berusia 17 tahun. Kalau usiamu sudah 50 tahun tapi kau semakin cantik seperti gadis berusia 17 tahun, untuk apa aku melepaskanmu? Dan memilih gadis yang cantik saat usia 17 tahun kemudian berubah mengerikan ketika berumur 50 tahun."

"Gombal!" kata Rukia diiringi dengan tawanya. Ichigo suka melihat wanita ini tertawa seperti itu.

"Lalu... bagaimana dengan Kaien dan Senna? Mereka..." kata-kata Rukia terhenti.

"Bisakah kita membicarakan mereka nanti?" sela Ichigo.

Rukia tak mengerti apa maksud bocah itu. Tapi sedetik kemudian, Rukia terlonjak kaget karena Ichigo sudah menggendongnya. Tangannya menahan punggung dan bawah lutut Rukia. Majalah dan komik merekapun sudah jatuh ke bawah sana.

"Hei!" bentak Rukia.

"Karena aku... sudah menginginkanmu..."

"Ichigo!"

Tapi begitu menoleh ke belakang pemuda itu, Rukia melihat seseorang berdiri di depan pintu masuknya dengan mata terbelalak dan menutup sebelah mulutnya.

.

.

*KIN*

.

.

Senna menutup mulutnya tak percaya. Karena biasa masuk begitu saja, dan dia sudah tahu kode password apartemen bibinya ini, Senna masuk saja. Tapi matanya membelalak kaget melihat seorang pemuda... yang dia... cintai itu duduk berdampingan dengan bibinya dan begitu... intim.

Pemuda itu dia kenal. Ichigo. Ichigo tersenyum lembut pada bibinya lalu menggendong Rukia dengan hati-hati. Ketika bibinya menoleh ke belakang menghindari tatapan pemuda yang menggendongnya itulah baru dia sadar.

"Senna?"

Rukia memanggilnya dengan keterkejutan luar biasa. Seketika itu pula Rukia melompat dari gendongan Ichigo. Ichigo juga memandangnya kaget. Seperti melihat hantu.

"Apa yang... apa yang... Oba-chan dan... Ichigo lakukan... di sini?" lidah Senna terasa kelu untuk menyampaikan maksudnya. Rukia tampak gugup dan gelagapan menanggapi Senna.

"Senna... aku―"

"Oba-chan... kau dan... Ichigo... tidak mungkin kan? Kalian..." mata Senna sudah berkaca-kaca. Tak sanggup mengatakan apa yang mungkin terjadi di sini.

"Maaf Senna! Maafkan aku... aku―SENNAAA!" pekik Rukia menyadari gadis itu sudah berlari dengan linangan air mata keluar dari apartemennya.

Rukia bergerak menyusul keponakannya itu bersama Ichigo. Karena lebih dulu masuk ke dalam lift, Rukia dan Ichigo terlambat. Ichigo menyuruh Rukia menunggu di lift dan dirinya menyusul dari tangga darurat.

Sedangkan Senna tak mungkin tahan. Isakan begitu jelas keluar dari mulutnya. Tak menyangka apa yang dilihatnya pagi ini begitu menyakitkan. Kenapa! Kenapa harus bibinya?

Apakah benar... gadis yang selama ini sedang disukai dan dicintai pemuda itu, yang membuatnya menolak gadis paling populer di sekolahnya dan menolak dirinya begitu tegas... karena bibinya sendiri?

Senna segera keluar dari lift itu. Bermaksud menghilang dari apartemen bibi yang selama ini begitu dicintainya seperti ibunya sendiri.

Tapi... baru saja akan melangkah keluar dari pintu lobby gedung ini, lengan Senna di tahan.

"Senna! Tunggu dulu!"

Senna memberontak begitu keras dan menepisnya dengan emosi. Ichigo akhirnya melepaskan tangannya dari gadis itu.

"Mau apa? Menjelaskan sesuatu? Maaf. Aku tidak butuh!"

"Senna!"

"Aku terima kalau kau menyukai gadis paling populer di sekolah kita. Atau... seorang gadis dari sekolah lain yang lebih seksi dan cantik dari Orihime itu. Aku juga... terima kalau kau menyukai seseorang yang lebih... pantas untukmu! Tapi kenapa bibiku! Kenapa bibiku sendiri Ichigo!" pekik Senna.

Ichigo tampak diam dan serba salah. Senna melanjutkan langkahnya. Tapi Ichigo tetap mengikutinya sambil berusaha menjelaskan... entah apa yang mesti dijelaskan pada gadis ini. ichigo juga tampak begitu merasa bersalah karena merahasiakan semua ini. mereka tiba di tengah zebra cross jalanan. Senna berhenti begitu lampu yang memperbolehkan pejalan kaki menyeberang menyala.

"Berhenti mengikuti! Aku tidak mau dengar apapun darimu!" bentak Senna.

"Kau harus dengar. Karena bagaimanapun... kau akan mendengarnya."

"TIDAK MAU! JANGAN KATAKAN APAPUN PADAKU!" jerit Senna sambil menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya.

Pelan-pelan Ichigo melepaskan tangan yang masih begitu kuat menempel di telinganya itu. Ichigo tak menyadari apapun selain berusaha menenangkan isakan gadis ini.

Tapi dari arah berlawanan ada sebuah motor yang melaju kencang. Tepat menuju Ichigo. Mata Senna terbelalak karena pemuda itu tidak menyadari.

"TIDAAAAAAAAAAAAK!" pekik Rukia ketika kejadian itu berlangsung begitu cepat.

.

.

*KIN*

.

.

TBC

.

.

Alurnya rada maksa ya? Soalnya kalo bertele lagi kayaknya bakal panjang. karena fic ini udah mau selesi dua atau tiga chap lagi. boleh dibilang sebenernya chap ini adalah puncak perasaan Ruki yang udah gak kuat lagi. jadi dia ledakin deh emosinya di chap ini. hohoho

SAya tahu fic ini banyak banget kekurangannya. terutama alur yang kacau gak ketolongan itu. apalagi tulisannya hancur sangat... hehehe

ada yang penasaran sama adegan terakhir? hohohoho

makasih yang udah baca dan nungguin semua fic saya. saya beneran tersanjung... pokoknya senpai the best deh. maua baca semua fic saya sampe habis.

ok.. balas review dulu...

lola-chan : makasih udah review senpai... hohoho kan udah dari awal loh saya jelasin kalo Kaien anak angkat. senpai lupa ya? hehehehe review lagi ya... itung-itung salam terakhir sama fic ini yang bentar lagi tamat. hehehe

Rama Diggory Malfoy : makasih udah review senpai... loh kok panggil senpai? Kin aja. hehehehe review lagi yaa

FYLIN-chan : makasih udah review senpai... hehehehe kok senpai lagi? Kin aja. saya gak suka dipanggil gitu. hehhee nih udah update loh... ehehehe

Mitsuki ota males login : makasih udah review Alex... iya nih juga mau tamat. heheheheeh ngaji? wah rajin yaa... saya jarang tuh... hehehhe

snow : makasih udah review senpai... iya udah update. maaf telat... hehehehe

Voidy : makasih udah review senpai... hehehhe iya, saya juga mikirnya agak belibet yaa... tapi mau gimana lagi ya? ini aja saya maksa bener chap kali ini. soalnya mau dipikir berapa kali juga tetep gak dapet jalan yang bagus. semoga gak ngabal yaa... hehehhe

Zanpaku nee : makasih udah review senpai... hahaha iya, Ruki tuh punya perasaan yang sama, tapi karena berbagai pertimbangan dia cuma takut nyampeinnya. dan chap ini puncak perasaan Ruki pada Ichi. hehehehe

nenk rukiakate : makasih udah review nenk.. heheh doain aja mereka hepi end hehehehe

R : makasih udah review senpai... heheh iya saya usahain hepi deh... oh yang fic itu... saya juga sedang berusaha menggarapnya kembali. semoga saya masih inget alurnya. hehehehe

MUkyungs : hehehe makasih udah review senpai... walo gak ngereview fic ini. hehehe iya, saya mau fokus sama cerita yang mau tamat dulu. soalnya Last Rose itu udah rampung dalam kepala saya. jadi gak bakal lupa. nah kalo fic lain rada lupa. takutnya kalo gak di update malah jadi discontinue atau parahnya saya hapus. hehehe tungguin ya... saya usahakan update minggu ini...

Himetarou Ai : makasih udah review senpai... hehee iya nih udah update...

yensie : makasih udah review senpai... hehehe iya alasannya Last Rose udah rampung dalam otak saya, jadi updtenya agak ditunda dulu. saya update fic yang mau tamat dan beberapa fic yang alurnya masih belum tahu. takutnya kalo saya gak update bisa-bisa saya lupa dan ngapus fic lain itu. hehehe ditungguin minggu ini yaa

hoshichan : makasih udah review senpai...

Bad Girl : makasih udah review senpai... heheh iya nih sinetron versi saya. hohoho semoga chap kali ini gak ngecewain ya? hehehehe

Ok deh. makasih buat yang review dan baca. sungguh saya sangat menghargainya.

akhir kata... seperti author laeennn... review yaa... biar saya tahu apa cerita ini masih layak lanjut atau nggak...

Jaa Nee!