Hola MInna!

Saya kembali datang memenuhi fandom ini dengan karya saya yang luar biasa ancur ini. Mohon dimaklumi. Hehehehehehe

DISCLAIMER :TITE KUBO

RATE : M (For Safe)

WARNING : OOC, AU, MISSTYPO, Cerita Gak Menarik, Pasaran, Gaje!

.

.

.

"Apa? Golongan darah AB rhesus positif?"

"Ya. Persediaan golongan darah ini cukup langka. Kalau anda punya keluarga atau kerabat yang memiliki golongan darah ini tolong informasikan secepatnya. Kami butuh kurang dari satu jam. Kami juga sedang berusaha meminta tolong dari bank darah, tapi takutnya tidak cukup waktu."

Rukia bersandar lemas pada dinding rumah sakit itu. Apa katanya tadi?

Perawat itu begitu cepat mengatakan pada Rukia, lalu dia kembali buru-buru masuk ke dalam ruang instalansi gawat darurat itu. Nafas Rukia seakan tercekat luar biasa.

Kejadian tadi begitu cepat bahkan sampai membuatnya kaku mendadak dan sulit bergerak. Jaraknya dari dua orang itu hanya terpaut lima meter. Seharusnya Rukia saja yang tertabrak. Jangan dua orang itu. Matanya sedari tadi tak kunjung berhenti basah. Mata ungu itu terus menatap pedih pintu instalansi gawat darurat itu. Sedari tadi beberapa dokter dan perawat bergiliran masuk dan keluar dengan wajah panik.

Saat Rukia sadar keadaan ini, dua orang itu sudah diangkut dengan ambulans dan dibawa ke rumah sakit terdekat. Mereka sama-sama tak sadarkan diri. tapi salah satunya mengalami luka yang cukup serius dan pendarahan hebat. Rukia tak sanggup berpikir siapa yang berada dalam kondisi itu. Siapa yang membutuhkan darah secepatnya?

"Rukia!"

Seakan ada oase yang menaunginya, Rukia mengangkat kepalanya dan melihat kakak iparnya berlarian ke arahnya dengan wajah panik. Ketika kecelakaan itu berlangsung, Rukia langsung buru-buru menelpon kakaknya agar bisa menemaninya di sini. Yang Rukia lihat, wajah kakak iparnya juga panik dan pucat.

"Apa... bagaimana bisa... Senna kecelakaan? Apa yang terjadi?" tanya Byakuya panik. Rukia menutup mulutnya berusaha meredakan emosinya. Tak sanggup rasanya menceritakan alasan kenapa gadis itu bisa kecelakaan bersama pemuda itu. Byakuya tak tahu soal Rukia selama ini. dan Rukia berharap Byakuya tak akan pernah tahu. Tapi... kecelakaan ini...

"Nii-Sama... apa... golongan darahmu?" tanya Rukia ragu.

"Untung apa tanya golongan darah? Apa yang terjadi sebenarnya?"

"Tolonglah Nii-Sama... apa... golongan darahmu?"

Byakuya bingung dan penasaran kenapa Rukia menanyakan hal ini.

"B... rhesus positif."

Untuk menyelamatkannya memang perlu orang itu. Pasti orang itulah yang bisa menyelamatkannya. Walaupun pada akhirnya dengan situasi seperti ini mau tak mau kenyataan itu harus terungkap.

Rukia mengabaikan tatapan wajah panik dari Byakuya dan mengulurkan tangannya bermaksud meminjam ponsel Byakuya. Tanpa banyak bicara Byakuya memberikan ponselnya pada sang adik ipar.

Rukia berjalan agak jauh meninggalkan Byakuya yang masih penasaran dengan keadaan dari balik pintu instalansi gawat darurat itu.

Setelah cukup jauh, Rukia menghembuskan nafas panjang seraya menyiapkan hatinya. Dia tak boleh egois sekarang. Tidak boleh.

"Senpai... apa aku... boleh bicara dengan Presdir? Ya... ini hal penting. Sangat penting."

.

.

*KIN*

.

.

Dua pria itu datang begitu cepat dari dugaan Rukia. Senpai-nya bersama pria brengsek itu berlarian panik ke arah Rukia dan Byakuya dengan wajah pucat. Rukia sudah menjelaskan garis besar masalah ini pada Kaien. Dengan wajah tenang, terbalik dengan Byakuya yang membelalakan matanya walau tak kentara ketika melihat pria brengsek itu, Rukia berjalan pelan sambil bersedekap dada mendekati dua pria yang berlarian itu.

"Apa maksudmu tadi! Kenapa bisa dia kecelakaan?" tanya Kaien panik. Dan dia di sini sudah pasti Ichigo. Bukan Senna. Karena Rukia belum memberitahukan masalah ini pada Senpai-nya.

"Maaf, kalau aku agak lancang. Tapi... boleh aku tahu apa golongan darah Senpai dan Presdir?" tanya Rukia datar.

Byakuya masih menatap Rukia tak percaya. Tapi ini bukan situasi yang bagus untuk menyulut dendam lama. Tidak dipungkiri Byakuya rasanya ingin menghantam pria itu dengan apa saja. Rasanya sakit 17 tahun lalu kembali menguar dalam benaknya. Dan lalu apa itu... Presdir?

"Rukia... apa maksudmu? Kenapa kau... memanggil orang itu... Presdir?" tanya Byakuya seakan tahu kemana sorot mata datar Rukia bermuara. Sudah pasti bukan pada pria yang seumuran dengan Rukia. Satu pria lagi yang membuat isterinya begitu menderita

"Kuchiki? Apa maksudmu? Apa Ichigo..." timpal Kaien.

"Tolong dijawab saja! Kita hanya punya waktu setengah jam!" sergah Rukia.

"Aku... O rhesus positif dan Tou-San―"

"AB... rhesus positif." Potong Isshin.

Rasanya pedih. Tentu saja.

"Maaf Presdir. Anda harus segera menuju lab darah. Salah seorang korban kecelakaan itu butuh darah anda. Dan waktunya kurang dari setengah jam lagi. Kalau anda berlama-lama, nyawanya bisa tidak tertolong lagi. Kumohon, segeralah pergi." Jelas Rukia.

"Apa yang sedang kau bicarakan ini? Apa Ichigo yang butuh darah itu? Tapi... bukankah Ichigo... golongan darahnya A?" sela Kaien.

"Tidak. Ichigo memang kecelakaan. Tapi hanya gegar otak saja. Tidak ada luka luar yang serius. Tapi, masih dalam keadaan kritis karena mungkin saja ada pendarahan di dalam otaknya. Yang butuh darah itu adalah..." mata Rukia beralih menatap Isshin yang berdiri di belakang Kaien. Mata yang begitu pedih.

"... adalah keponakanku. Kuchiki Senna. Dia yang butuh darah itu."

Semua mata tertuju pada Rukia dan membelalak tidak percaya. Apalagi Isshin yang langsung terkejut tak percaya. Setelah sekian lama Isshin menunggu ini, tapi...

"Pergilah Presdir. Selamatkan Senna. Kumohon." Pinta Rukia tulus.

Walaupun itu pada akhirnya mengakui bahwa Senna-lah anak yang dicari Isshin selama ini. kalau bukan karena kecelakaan ini, tentu saja hal ini tak akan pernah terungkap begini cepat. Isshin masih sulit menerima semua ini, tapi kemudian salah seorang perawat keluar dari pintu instalansi gawat darurat itu menanyakan stok darahnya. Rukia langsung menunjuk Isshin dan membiarkan perawat itu membawa sang Presdir menuju lab darah rumah sakit. Seketika itu pula Rukia langsung meledak. Rasanya benar-benar sakit.

"Rukia..." panggil Byakuya. Kaien masih berdiri di depan mereka berdua dengan tatapan tak percaya. Ada begitu banyak masalah yang melintasi wanita mungil ini.

"Maaf Nii-Sama. Maafkan aku. Aku harus melakukan ini agar Senna selamat. Maafkan aku..." lirih Rukia dengan nafas tersendat. Byakuya langsung menyentuh pundak adik iparnya itu lalu tak lama memeluk Rukia yang masih menangis itu.

"Tidak apa-apa. Apa yang kau lakukan sudah benar. Tidak apa-apa Rukia..." kata Byakuya menenangkan.

Setelah mendapatkan darah yang dibutuhkan, Senna langsung dipindahkan ke kamar operasi. Pendarahan di kepalanya cukup parah. Dokter sudah melakukan semua cara agar bisa menolong gadis itu. Dan Rukia-pun berharap demikian. Dia ingin keponakannya selamat tak peduli apapun. Bahkan jika Tuhan ingin menukar nyawa Senna dengan Rukia, Rukia pasti akan mengabulkannya. Kehilangan kakaknya sudah membuatnya begitu trauma dengan kematian. Dan tidak ingin kejadian yang sama terulang lagi.

Sudah hampir empat jam berlalu. Baik Rukia, Byakuya dan Isshin masih setia menunggu di depan kamar operasi itu. Kaien pergi untuk menjenguk kondisi Ichigo yang belum sadar, tapi sudah dipindahkan ke kamar rawat. Kritisnya sudah berlalu sejak dua jam yang lalu. Dan sekarang hanya butuh istirahat.

Mereka bertiga duduk agak berjauhan dalam diam. Isshin yang tampaknya begitu terpukul dengan kejadian ini. Entah kenapa waktu terasa begitu lama berlalu. Apalagi menunggu dengan gugup seperti ini. sedari tadi Byakuya diam sambil diam-diam memandangi Isshin yang duduk agak jauh darinya. Tentu saja penasaran. Karena pria itu yang sempat dicintai oleh isterinya sampai mati. Akhirnya Byakuya bisa bertemu dengan pria ini. tentunya ada rasa dendam dan kesal pada pria sialan ini. Tapi tidak. Byakuya bukanlah tipe pria yang emosinya meledak-ledak seenaknya. Dia masih bisa mengendalikan emosinya. Setidaknya untuk saat seperti ini. lagipula... masa lalu yang sudah berlalu 17 tahun, tak perlu diributkan lagi. Apapun yang terjadi sekarang tak ada sangkut pautnya dengan masa sekarang. Dan Rukia mengerti kakak iparnya jauh lebih bijak dari dirinya. Terbukti dengan Byakuya yang sama sekali belum membentak, menghina ataupun mengusir Isshin. Yah... tentunya perlakuan itu akan dilakukan oleh siapa saja yang membuat hidup orang yang dia cintai jadi begitu naas.

"Kuchiki..."

Baik Byakuya dan Rukia sama-sama menoleh ke sumber suara.

"Ehh maaf. Maksudku... Kuchiki Rukia. Apa aku boleh bicara denganmu sebentar?" ternyata Kaien yang baru datang dari arah koridor kamar rawat. Kaien juga bermaksud meminta ijin pada pria yang sejak tadi duduk di sebelah Rukia. Kaien tahu, orang yang dipanggil Rukia Nii-Sama ini pasti kakaknya, dan kemungkinan besar ayahnya Senna. Tapi Kaien bertambah yakin kalau anak yang dimaksud oleh ayah angkatnya adalah Kuchiki Senna. Yah mereka sudah membahas ini sebelumnya. Benar-benar ikatan yang rumit dan membingungkan.

Setelah meminta ijin pada Byakuya untuk pergi sebentar, Rukia menemui Kaien yang berdiri tak jauh dari mereka.

"Ada apa Senpai?"

"Ichigo sudah sadar. Dia menanyakanmu tadi. Apa kau mau melihatnya? Kurasa dia akan langsung sembuh kalau melihatmu."

Rukia mengernyit bingung. Kenapa senpai-nya bicara begitu?

"Aku tahu kau pasti bingung. Tapi Ichigo sudah mengatakan semuanya padaku. Tentang kalian. Jujur saja aku sedikit cemburu dan kesal. Aku belum pernah melihat Ichigo yang begitu gigih pada pendiriannya. Kau pasti sangat berarti untuknya. Sekarang... apa aku boleh bertanya padamu? Yah... meski keadaannya tidak mungkin sih..."

"Ya. Tanyakan saja Senpai."

"Apa kau... mencintai adikku?"

Rukia tersenyum tipis. Dia sudah memutuskan untuk tidak lari lagi. Tidak lagi menutupi semuanya. Bahkan jika kakak iparnya tahu sekalipun dia tidak akan lari lagi.

"Ya. Aku mencintainya. Dan aku berharap, aku bisa egois. Aku ingin egois memilikinya. Kalau bisa..."

"Kalian ini... aku tidak menyangka kau justru akan mengiyakannya. Baiklah. Pergilah ke sana. Pasti bocah itu panik setengah mati karena kau belum di sana. Aku akan di sini menunggu Senna. Kalau ada kabar, aku akan segera memberitahumu."

"Senpai..."

"Ingat, aku belum menyerah! Suatu saat aku akan merebutmu dari bocah ingusan itu."

Rukia tersenyum lembut kemudian mengatakan terima kasih berkali-kali. Kaien lalu melambaikan tangannya dan bergabung dengan ayahnya. Byakuya juga sudah mengijinkan Rukia untuk pergi sebentar, walau sebenarnya Byakuya belum tahu apapun soal Ichigo dan... Rukia.

.

.

*KIN*

.

.

"Rukia! Aduhhh..."

Ichigo bermaksud untuk melompat memeluk wanita itu yang baru masuk ke kamarnya, tapi mendadak kepalanya yang diperban itu terasa berdenyut dan akhirnya Ichigo memilih duduk bersandar pada ranjangnya sambil memegangi kepalanya.

"Dasar bodoh! Apa yang kau lakukan?" rutuk Rukia.

Ichigo hanya menyeringai senang lalu meminta Rukia duduk tepat di sisi ranjangnya. Rukia menurut lalu memperhatikan wajah polos itu. Tidak ada luka berarti di wajahnya selain kepalanya yang diperban. Lengannya juga diperban ringan, mungkin karena lecet.

"Bagaimana Senna? Apa yang... terjadi dengannya? Bagaimana dia?" tanya Ichigo yang berubah cemas begitu menyebut nama Senna. Yah bagaimana tidak cemas. Ichigo begitu panik saat menyadari bahwa Senna-lah yang mendorongnya menjauh dari motor itu dan mereka berdua bergulingan di jalan. Kepala Senna sempat terantuk pagar pendek pembatas trotoar. Sedangkan Ichigo mendarat di atas tubuh Senna yang berlumuran darah itu. Kepala Ichigo juga sempat terantuk jalanan, karena itu mereka sama-sama tak sadarkan diri setelah keduanya terbaring di jalan. Samar-samar di setengah sadarnya, Ichigo melihat Senna yang banjir darah dengan kepalanya yang robek. Juga teriakan Rukia yang memilukan.

Begitu menanyakan keadaan Senna, mata Rukia kembali basah. Bibirnya bergetar. Maksudnya dia ingin membicarakannya dengan Ichigo, tapi ternyata...

"Rukia...?" panggil Ichigo.

"Maaf Ichigo. Maaf... sepertinya aku masih..."

Dengan sekali sentakan, Ichigo menarik Rukia masuk ke dalam pelukannya. Mengelus punggung kecil wanita itu kemudian menekan kepalanya ke dada Ichigo. Satu-satunya yang Ichigo tahu saat ini adalah, wanita ini butuh ketenangan. Dan pelukan adalah cara paling ampuh untuk menenangkan seseorang. Begitu banyak beban dan penderitaan yang Rukia pikul memang membuatnya jadi begitu lemah.

"Sudah. Senna pasti baik-baik saja. Tenanglah Rukia... semua akan baik-baik saja." Bisik Ichigo.

Rukia menangis begitu keras sambil mencengkeram piyama rumah sakit Ichigo. Yah... dia hanya berharap Senna bisa baik-baik saja. Dan bertahan. Kakaknya di atas sana pasti akan menolongnya. Pasti.

Pelukan hangat seperti inilah yang dibutuhkan Rukia. Menenangkan dirinya dari kenyataan yang pahit.

"Ichigo...?" sela Rukia ketika tangisannya mulai mereda. Ichigo masih mengelus punggung dan mencium puncak kepala Rukia.

"Hmm?" gumam Ichigo.

"Kepalamu masih sakit tidak?" tanya Rukia sambil sesegukan.

"Tentu. Ini karena kau selalu menjitakku setiap hari. Sakitnya dua kali lipat nih..."

Rukia mengangkat kepalanya dan melepaskan pelukan itu sebentar. Lalu beralih mengelus kepala Ichigo. Sedikit mengangkat tubuhnya, Rukia mencoba mendorong kepala Ichigo pelan supaya menunduk kepadanya. Dan kemudian, kecupan singkat mendarat di kening pemuda itu. Ichigo memang terkejut, tapi kemudian menyeringai senang. Ichigo memeluk tubuh Rukia begitu erat.

"Ahh~ aku jamin bisa langsung sembuh kalau kau setiap hari seperti itu."

.

.

*KIN*

.

.

Setelah mengobrol singkat dan menyuruh Ichigo kembali istirahat, Rukia baru meninggalkan kamar Ichigo. Karena sepertinya Presdir-nya satu itu juga khawatir pada Ichigo. Isshin sudah masuk ke dalam sana menengok putranya. Meskipun Ichigo masih bersikap dingin pada ayahnya sendiri. Tapi karena ada Kaien, Ichigo jadi tidak terlalu begitu dingin.

Rupanya, setelah Rukia pergi tadi, operasinya sudah selesai dilakukan. Byakuya memintanya untuk ikut menemui dokter yang menangani Senna.

"Sebenarnya... operasi sudah berhasil dilakukan." Buka sang dokter cantik itu.

Dari tag name yang ada padanya, namanya Unohana Retsu. Sepertinya dialah dokter yang bertanggungjawab pada operasi Senna. Byakuya dan Rukia duduk di depan meja dokter itu untuk mendengar penjelasan sang dokter perihal kesehatan Senna.

"Lalu? Tidak ada hal yang... aneh kan?" tanya Rukia ragu.

"Kepalanya mengalami benturan hebat. Rasanya... kalau pasien bisa melewati masa kritis saja sudah sangat bagus. Tapi tidak menjamin apakah pasien bisa... hidup normal seperti biasa."

Mata ungu Rukia membelalak lebar. Byakuya juga sama. Maksudnya...

"Maksud dokter... apa?" tanya Byakuya.

"Pendarahan hebat berlangsung di otaknya. Saat ini sebagian otaknya sudah tidak akan bisa berfungsi dengan normal lagi. Kalaupun dia sadar nanti, kecil kemungkinan dia bisa hidup lebih lama lagi. Saya mengatakan ini agar nantinya... anda, bisa mempersiapkan kemungkinan terburuk."

Setetes air mata Rukia meluncur melewati pipi putih mulusnya.

"Kemungkinan... terburuk?" ulang Byakuya.

"Tentu saja―"

"Tidak! Kumohon jangan katakan hal itu! Kalian harus berusaha semaksimal mungkin! Senna... aku yakin dia bisa bertahan. Dia bisa! Jangan katakan hal seperti itu! Ini... bukan akhir kan? Masih bisa... masih..." ujar Rukia terisak.

Byakuya mengusap punggung kecil Rukia yang gemetaran itu. Nafasnya tersendat karena isakan tangisnya. Unohana menatap Rukia dengan serba salah. Sebagai dokter tentu saja dia harus berusaha. Tapi ada kalanya sebesar apapun usaha dokter tidak menutup kemungkinan kalau... dia bisa gagal. Unohana juga tidak ingin gagal menyelamatkan pasiennya. Tapi takdir terkadang punya jawaban lain. Dan yang bisa Unohana lakukan adalah, berusaha semaksimal mungkin menyelamatkannya.

"Kami... pasti melakukan yang terbaik." Tutup Unohana.

.

.

*KIN*

.

.

Byakuya dan Isshin sudah bicara empat mata setelah memberitahu keadaan Senna padanya. Karena bagaimanapun, Isshin berhak tahu. Sebenarnya bukan hal yang mudah bertemu secara pribadi seperti ini, apalagi dengan situasi tidak mengenakan sebelumnya. Dan untungnya, Byakuya adalah tipe pria yang berhati lapang dan tidak serta merta mengamuk. Mengendalikan perasaan dan emosi adalah prioritas utamanya sebagai seorang pria. Sekaligus seorang suami. Meski mantan suami. Dan untungnya baik Ichigo maupun Isshin adalah pria yang sama-sama berkepala dingin. Isshin tidak menyinggung sedikitpun masalah Rukia pada Byakuya. Isshin cukup mengerti mengapa Rukia sampai melakukan hal itu padanya.

Kaien juga sudah mengerti situasi ayahnya dan Rukia. Dan tidak bermaksud ikut campur sama sekali.

Ini sudah berlalu dua bulan sejak peristiwa kecelakaan itu. Isshin rutin berkunjung ke rumah sakit sekadar menengok kondisi putrinya itu. Setiap kali Isshin datang, Rukia akan keluar dari kamar Senna memberikan waktu berdua untuk ayah dan anak ini. meski pada kenyataan Senna sama sekali tidak tahu soal ini. Ichigo juga Kaien sempat datang menengok. Tapi Rukia sudah melarang Ichigo datang lagi karena ujian sekolahnya sudah dimulai dan dia harus banyak belajar. Sudah bisa dipastikan Senna tak bisa ikut. Beberapa temannya juga datang berkunjung dan ikut prihatin.

Setiap hari, bahkan Rukia pernah tak pulang ke rumahnya selama dua minggu untuk menunggui Senna. Byakuya yang membujuknya juga tak bisa apa-apa, karena wanita itu begitu keras kepala. Ditambah lagi Byakuya sangat sibuk. Ingin sih menelantarkan pekerjaannya dan memilih menjaga Senna juga. Tapi tidak bisa. Nyawa perusahaan berada di tangannya dan Byakuya tak punya pengganti dirinya. Kadang kasihan juga melihat Rukia menunggui Senna setiap saat seperti itu. Tanda-tanda Senna juga masih sama. Tidak ada perubahan signifikan. Dia memang masih bernafas seperti biasa. Tapi selang infus di tangan dan selang oksigen di hidungnya juga masih menempel. Berbagai alat pemacu jantung dan pernafasan masih menempel di tubuhnya. Apalagi perban tebal yang mengelilingi kepala gadis berusia 17 tahun itu.

"Senna... cepatlah bangun... aku merindukanmu..." lirih Rukia.

.

.

*KIN*

.

.

Kaien masih duduk di ruang kerjanya. Menatap selembar amplop putih di tangannya itu. Sebulan yang lalu, Rukia sudah mengundurkan diri dari perusahaan. Semua proyek sudah dia selesaikan dengan baik dan pengerjaannya sudah dia alihkan kepada kepala manager yang bertanggungjawab. Kaien juga tidak mudah menerima hal ini. Tapi alasan Rukia untuk keluar dari perusahaan ini adalah pilihan tepat. Dia... memang tak punya alasan untuk berada lebih lama di sini. Ayah angkatnya juga tak lagi menyinggung soal Rukia. Dan itu memang lebih baik daripada sebelumnya. Kaien selalu was-was setiap kali mengkhawatirkan Rukia yang masuk ke ruangan ayahnya. Dan setiap kali Kaien menemukannya, wanita itu akan bertengkar dengan ayahnya. Dan tak jarang ayahnya suka kalap pada wanita itu. Yang ayahnya masih tidak tahu adalah hubungan Ichigo dan Rukia. Sejauh ini, mereka berdua memang tidak pernah bertemu rutin seperti biasa. Apalagi bukan karena Senna. Ini pasti sulit untuk mereka berdua. Kaien tahu Senna yang menyukai pemuda itu, dan pemuda itu yang menyukai Rukia. Ini pasti jadi cinta yang rumit. Ada kalanya Kaien ingin meminta Rukia menghentikan ini, tapi kalau sampai seperti itu, artinya, Rukia akan bernasib sama seperti kakak perempuannya.

Tidak mendapatkan pria yang dia cintai.

Kaien hanya berharap semua masalah ini cepat selesai. Dan berakhir. Ichigo juga... pasti ingin secepatnya menyelesaikan semua ini. itu pasti.

.

.

*KIN*

.

.

"Ichigo!"

Ichigo mendongak. Siang ini, ketika istirahat makan siang, Ichigo berdiri di atap sekolah sambil bersandar di pagar pembatas itu. Riruka mendatanginya dengan wajah sangar. Ichigo tahu gadis ini sahabatnya Senna dan dia juga tahu kondisi Senna sekarang. Yang sekarang sedang Ichigo pikirkan, bagaimana dia bisa ke rumah sakit lagi dan menemani Rukia. Kalau bukan karena ujian konyol ini, dia tidak akan ada di sini.

"Apa?" tanya Ichigo singkat setelah Riruka sampai di depannya.

"Apa? Apa kau bilang? Kau sama sekali tidak memikirkan Senna yang di rumah sakit?"

"Aku memikirkannya. Dia masih... seperti itu."

"Bukan begitu maksudku! Apa kau tidak tahu Senna itu menganggapmu apa? Kenapa kau sama sekali tidak menyadari perasaannya sih? Senna itu... Senna itu menyukaimu tahu! Dan sudah lama! Kenapa kau sama sekali tidak menanggapinya? Padahal selama ini dia baik padamu dan perhatian padamu!" bentak Riruka.

Ichigo sudah tahu hal itu. Tapi sejak dulu, dia sama sekali tidak bisa membalasnya. Dan sekarang, ditambah kenyataan seperti ini, dia bisa apa? Kedua adik kembarnya memang belum tahu, tapi sepertinya Karin sedikit curiga karena ayahnya selalu berada di rumah sakit. Sepertinya Karin mengikuti ayahnya. Hanya saja Karin belum tahu siapa yang dijenguk oleh ayahnya itu. Ichigo juga tak banyak bicara. Biar ayahnya saja yang bicara nanti.

"Aku tahu."

"Apa! Kau ini dasar laki-laki brengsek! Kalau kau tahu kenapa kau diam saja! Paling tidak katakan sesuatu―"

"Karena hubungan kami memang tidak bisa! Kalau kau... kalau kau tidak tahu apapun, kumohon jangan ikut campur!"

Ichigo berkata sedemikian dingin dan langsung meninggalkan Riruka sendirian. Hingga akhirnya dia tahu. Bahwa gadis yang selama ini dianggap seperti saudara untuknya ternyata... benar-benar saudara sedarahnya. Entah apa yang akan terjadi pada Senna bila akhirnya dia harus tahu kenyataan ini.

.

.

*KIN*

.

.

Ketika Rukia tengah mengelap lengan Senna―kegiatan yang selalu dilakukan Rukia untuk menjaga kelembaban kulitnya―mendadak Rukia terkesiap.

Jari-jari Senna bergerak sedikit demi sedikit. Rukia berhenti mengelap lengan gadis itu. Matanya tertuju pada wajah Senna yang masih terbalut masker oksigen dan perban di dahinya. Benar. Kelopak mata gadis berambut ungu ini bergerak terlalu perlahan. Meski perlahan, Rukia bisa melihat dengan jelas kalau Senna... kalau keponakannya itu... sadar!

Karena terlalu senang, sambil menutup mulutnya tidak percaya, Rukia berlari keluar kamarnya untuk mencari dokter atau perawat mana saja yang lewat untuk memastikan kondisi keponakannya itu. Rasa lega dan bahagia menguar jelas dari mata Rukia. Rukia begitu senang gadis itu sudah mau membuka matanya. Itu bahkan jauh lebih berharga dari balas dendam konyolnya.

Dengan diiringi isak tangis haru, Rukia menunggu dokter dan perawat itu memeriksa kondisi Senna. Unohana―dokter yang bertugas itu mengatakan kondisi pasien sudah jauh lebih baik. Bahkan di luar perkiraannya kalau gadis ini bisa baik-baik saja. Mungkin tubuhnya saja yang masih melemah karena sudah lama tidak bergerak dan beberapa luka di kepalanya, juga syaraf-syaraf otaknya yang sudah lama tidak berfungsi dengan baik. Dengan sedikit terapi dan obat-obatan gadis itu bisa pulih seperti semula. Sejauh dia sadar ini, gejala yang ditakutkan oleh Unohana sebelumnya, belum terbukti sama sekali. Bukannya tidak terbukti. Mungkin gejala itu belum tampak. Tapi sebisa mungkin Unohana akan berusaha agar gejala yang ditakutkannya tidak terjadi. Dan untungnya, pasien sama sekali tidak menunjukkan gejala yang mengkhawatirkan kecuali sakit di kepalanya akibat terlalu lama tertidur. Dan otak serta memorinya masih cukup baik.

Rukia sudah menghubungi Byakuya untuk segera datang. Dan tentu saja Byakuya senang setengah mati. Dia juga akan tiba beberapa saat lagi. Tapi... bagaimana dengan...

Sungguh Rukia sama sekali tidak... sanggup.

"Senna..." Rukia membelai lembut pipi tirus gadis itu. Masker oksigen sudah dilepaskan dari wajahnya. Gadis itu tapi malah menghindari belaian Rukia dan menatap tajam pada Rukia. Tentu saja Rukia terkejut.

"Per... gi." Lirih gadis itu.

Sekali lagi mata Rukia terbelalak lebar mendengar lirihan suara gadis itu.

"Senna..."

"Aku... tidak mau melihatmu." Lirihnya lagi.

"Senna..."

"Cepat pergi! Akh!" bentak Senna rendah lalu dia memegangi kepalanya yang terasa sakit itu dan mengeluh sakit di kepalanya. Rukia sekali lagi harus terkejut.

Unohana yang masih berada di tempat langsung menghampiri pasien untuk menenangkannya. Kenapa... Senna...

"Maaf, pasien tidak ingin Anda ada di sini. Bisakah Anda keluar sebentar? Ini bisa mempengaruhi kesehatannya." Jelas Unohana.

Rukia masih kaku di tempatnya. Senna... menolak dirinya.

Dengan enggan, Rukia akhirnya keluar dari ruangan Senna.

Rukia menutup mulutnya tidak percaya dan terduduk di depan pintu ruangan Senna. Apakah... Senna masih ingat kejadian sebelum dia kecelakaan itu? Apakah Senna sekarang membenci dirinya?

Ini memang salahnya. Rukia sungguh brengsek.

Dialah satu-satunya orang yang menyebabkan Senna seperti ini. Dan sekarang Senna menolak untuk melihatnya. Apa yang sebaiknya Rukia lakukan?

Seharusnya, jika Rukia tidak terlanjur masuk ke dalam lubang hitam ini, tentu saja ini tidak akan terjadi. Senna tak akan jadi begini. Dan demikian juga Rukia.

"Rukia?"

Rukia mengangkat kepalanya. Tubuhnya masih terduduk di lantai karena terlalu lemas setelah penolakan Senna itu. Dirinya masih terisak begitu hebat. Isakan tangis karena merasa bersalah. Di depannya berdiri menjulang sosok bocah berambut orange. Bocah itu lalu berlutut mensejajarkan tingginya dengan Rukia di lantai itu.

Ichigo mengusap bahu dan punggung Rukia untuk menenangkan wanita itu.

"Ada apa? Kenapa kau menangis di sini?" tanya Ichigo. Dia baru saja tiba di sini karena ujiannya sudah selesai dan dia bisa mengunjungi wanita ini juga... gadis itu. Karena selama beberapa waktu ini, Rukia melarangnya kemari kalau ujiannya belum selesai. Ichigo memang menepatinya. Tapi sungguh berat menjalaninya. Beberapa waktu itu... sungguh menyiksa untuk Ichigo.

"Senna... Senna..." Rukia tak sanggup bicara karena masih terisak dalam.

"Kenapa? Kenapa dengan Senna? Ada apa dengannya?" tanya Ichigo panik. Jujur saja, sejak Senna mengalami kecelakaan, batin Ichigo juga merasa tidak nyaman. Perasaan bersalah terus menghantuinya selama gadis itu berada di rumah sakit. Entah apa yang sebaiknya dia katakan pada Senna nanti setelah gadis itu...

"Senna... dia sudah sadar... tapi..."

"Senna sudah sadar?" ulang Ichigo.

Rukia mengangguk. Kemudian memegangi kepalanya sendiri dengan takut.

"Dia... menolak bertemu denganku. Bagaimana Ichigo? Bagaimana ini...?"

Ichigo memeluk erat tubuh Rukia yang sekarang jauh lebih kurus ini. dia sudah berada dua bulan di rumah sakit ini demi menunggu Senna bangun. Dan sekarang... Senna malah menolak bertemu dengannya? Jadi... apa artinya Senna masih ingat kejadian sebelum dia kecelakaan itu?

"Rukia?"

Rukia terkesiap kaget mendengar suara berat yang dikenalnya itu. Secepat mungkin Rukia berdiri dan melepaskan pelukan Ichigo.

Nii-sama-nya, Byakuya, sudah tiba di rumah sakit dan berdiri mematung memandangi adegan sebelumnya. Dan ini... pertama kali bagi Byakuya melihat seorang bocah dengan seragam SMA memeluk Rukia seperti itu. Wajah Rukia awalnya memang kaget. Tapi kemudian berubah aneh begitu melihat Byakuya. Byakuya bisa melihat wajah wanita itu sembab dan tidak karuan.

"Rukia... ada apa denganmu?" tanya Byakuya.

Rukia tidak menjawab. Tapi kemudian mendadak tubuhnya terasa ringan dan melayang. Hingga akhirnya dia benar-benar tidak sadarkan diri.

.

.

*KIN*

.

.

"Kelelahan. Butuh vitamin dan beberapa suplemen saja. Setelah istirahat sebentar dia akan kembali seperti semula." Jelas Unohana setelah mendengar ribut di luar ruangan pasien satunya itu.

Rukia pingsan beberapa saat setelah melihat Byakuya. Mungkin karena efek kelelahan selama di rumah sakit ini. tubuhnya ikut melemah karena terus menerus di dalam ruangan yang sama selama kurang lebih dua bulan. Dan ditambah lagi...

Bocah berambut mencolok itu masih menunggu di luar karena Byakuya masih di dalam. Dan Byakuya tidak begitu mengenal bocah itu. Ada hubungan apa Rukia dengan bocah SMA itu? Bahkan menurut Byakuya, bocah itu mungkin salah satu teman Senna yang ingin datang menengok. Tapi kenapa memeluk adik iparnya tadi? Memeluknya begitu intim seolah itu adalah perbuatan yang paling wajar yang seharusnya dia lakukan.

"Oh, Tuan kerabat pasien yang koma di kamar 12 itu atas nama Kuchiki Senna kan?" sela Unohana.

"Kuchiki... Senna? Oh... tentu saja. Apa ada perkembangan?"

"Ya. Beberapa saat yang lalu gadis itu sudah sadar. Dan sekarang sedang menjalani pemeriksaan."

"Oh, ya aku sudah tahu. Apa aku bisa menengoknya?"

"Tentu. Tapi... sepertinya keadaan pasien masih belum pulih sepenuhnya. Ada beberapa hal yang akan membuatnya syok tiba-tiba, dan saya tidak mau hal itu terjadi. Karena bisa mempengaruhi kesehatannya."

Tak berapa lama dokter itu keluar dari ruangan Rukia, Byakuya juga ikut keluar.

Bocah itu masih menunggu di sana dengan wajah khawatir dan cemas luar biasa. Setelah menunduk memberikan salam pada Byakuya, bocah itu menarik nafas panjang. Meskipun bersikap tenang dan biasa saja, tidak dipungkiri bahwa bocah itu luar biasa khawatir.

"Maaf. Apa aku... boleh tahu keadaan Rukia?" tanyanya.

"Kau siapa?" tanya Byakuya datar.

"Aku... sebenarnya aku teman Senna. Apa kabar? Maaf terlambat mengenalkan diri."

"Temannya Senna? Tidak diragukan lagi. Tapi... darimana kau mengenal Rukia?"

Bocah itu diam beberapa saat memandangi wajah datar khas Byakuya. Sepertinya ini sudah saatnya semua orang harus tahu. Resiko yang harus dia hadapi bila memilih wanita ini.

"Aku... kekasih Kuchiki Rukia."

Mata abu-abu milik Byakuya membelalak lebar. Hah?

"Omong kosong!" sahut Byakuya. Menyangkalnya mentah-mentah.

"Aku tahu Anda pasti tidak akan percaya. Tapi aku di sini untuk mengatakan yang sebenarnya. Dan aku... tidak meminta Anda harus percaya sepenuhnya. Aku tidak peduli itu. Asal aku... bisa bersama Rukia."

Entah kenapa Byakuya merasa bocah itu sedang tidak main-main. Matanya menatap Byakuya tanpa ragu dan begitu serius.

"Siapa... namamu?"

"Kurosaki... Ichigo."

.

.

*KIN*

.

.

"Senna?"

Senna yang masih menjalani pemeriksaan dengan salah satu perawat itu membelalak tidak percaya. Setelah tidak ingin bertemu dengan bibinya, oh tentu saja, sekarang muncul yang aneh lagi. Darimana dia tahu kondisi Senna? Kenapa...

"Ayahnya... Ichigo?"

.

.

*KIN*

.

.

TBC

.

.

Hmm... Hola... hehehe ada gak yang nungguin fic ini?

Baiklah. silahkan panggang saya saja. karena sepertinya cerita ini mulai ngawur gak karuan. sebenarnya sih mau saya tamatin end gitu, tapi ternyata gak semudah itu. saya pengen yang alami dan gak terkesan bluak gitu... pengennya pelan tapi pasti. biar wajar. walau sebenarnya juga fic ini banyak banget kekurangannya. makanya saya update lama, yah... karena tugas juga sih sebenarnya. gak bisa nafas bener sebulan ini gara-gara tugas. grrr!

saya tahu masih banyak banget salah dan kekurangannya, tapi beneran fic ini akan segera tamat. tunggu aja ya...

dan minggu ini adalah minggu nafas buat saya. jadi update fic bisa tiap malem... wkwkwkw

ok deh balas review dulu...

Mitsuki Ota : makasih udah review Alex~~... hehehehe moga gak meninggal beneran yah. kan dia udah sadar tuh... hehehehe

ChappyBerry Lover : makasih udah review senpai... udah bisa nebak belum kira-kira gimana mereka kecelakaan? hehehehe LastRose? gak bisa... filenya ilang. jadi beneran gak bisa dipublish. saya masih nerawang dulu gimana fic itu... hehehe

himetarou ai : makasih udah review senpai... nih... belum ada yang mati kan? wah... banyak juga yang nungguin yang itu. tungguin aja yaa.. ehhehe

Meena-chan : makasih udah review senpai... hehehe makasih udah suka cerita gaje saya. jadi berbinar nih... hehehe Ichi emang kecelakaan juga sih, tapi bentar kan? udah liat responnya Ruki? hehehe

R : makasih udah review senpai... kayaknya yang OnlyOnePrincess udah saya update ya? hehehe

snow : makasih udah review senpai... hehehe gak bakal lama kok. kalaupun lama gak bakal nyampe 20 chap. saya juga gak sanggup bikin sebanyak itu. entah kenapa rada nyimpang nih dari perhitungan saya. heheheh endingnya? kita liat nanti yaa...

Voidy : makasih udah review senpai... hehehe gitu deh. emang dari awal ceritanya udah mumet. saya rada aneh juga bisa sampai sejauh ini. Senna... aduh kasihan dia emang, tapi perannya emang begitu. maklumkan saja.. hehehe

AkiraChan : makasih udah review senpai... hehehe doain aja biar mereka langgeng selamanya. hohohoh... iya deh. saya pertimbangkan buat gak ngapus mereka. tapi gak janji kalo saya gak bisa lanjutin lagi ya... wkwkwwk *kenagampar*

lola-chan : makasih udah review senpai... Ichi emang ketabrak juga. tapi gak mati kan? hoohoho... saya aja sampe bingung kok bisa sampai sejauh ini fic yang ini. hehehehehe

Zanpaku nee lagi ga login : makasih udah review senpai... heheheeh emang sih kayak anak durhaka. tapi karena banyak juga mendam perasaan benci sama ayahnya yang berkhianat sama ibunya sampe ibunya ninggal, saya rasa wajar sih sikap Ichi begitu walau emang gak pantes sebagai anak begitu. well, saya juga gak ngerti... hehehehe bisa kok bisa. saya gak suka korban-korbanan sebenarnya. lebih suka merelakan. *samaaja*

nenk rukiakate : makasih udah review nenk... nih udah dilanjut. duaduanya kok. tapi belum ada yang mati. hehehehe

FYLIN chan : makasih udah review senpai... emang Senna mesti nongol toh... hehehe nih udah lanjut...

Kina Echizen : makasih udah review Kina... gak Ichi juga yang ketabrak sayang... heheheh iya udah lanjut kok... end nya kita liat nanti ya... sama-sama. saya seneng banget bisa balas pm orang loh... hehehehe

Bad Girl : makasih udah review senpai... wah wah... iya senpai... Ichiruki tetep kok... jangan bawa pembunuh bayaran dong, ntar saya jadi maen film deh... hahahah *gaknyambung*

ichigo4rukia : makasih udah review senpai... gak kok. mereka berdua yang ketabrak. tapi belum ada yang mati. hohohohoh...

N-scorpio18 : makasih udah review senpai... buat aja senpai... hehehe taruh di rate M. biar banyak... sepi banget nih rate M nya FBI... hehehe jadi udah tahu nih siapa aja yang ketabrak?

Dewi Anggara Manis : makasih udah review senpai... gak papa kok telat... hehehe loh... kalo ketabrak semua, jadi siapa yang main di fic saya? hehehe

nyan : makasih udah review senpai... heheeh melelahkan? iya dong. saya aja capek bener bikin sebanyak ini... hehehe review lagi yaa

hirumaakarikurosakikuchizaki : makasih udah review senpai... hehehe nih udah update loh... hehehe

Ok deh. makasih yang udah baca, review, jadi silent reader, makasih sebanyak-banyaknya. karena masih ada yang sudi membaca fic abal nan aneh ini. heheheh

terakhir... review yaa... biar saya tahu apakah fic ini layak lanjut ato nggak...

Jaa Nee!