Hola MInna!

Saya kembali datang memenuhi fandom ini dengan karya saya yang luar biasa ancur ini. Mohon dimaklumi. Hehehehehehe

DISCLAIMER :TITE KUBO

RATE : M (For Safe)

WARNING : OOC, AU, MISSTYPO, Cerita Gak Menarik, Pasaran, Gaje!

.

.

.

"Kenapa... Oji-san bisa ada di sini?" tanya Senna bingung.

Melihat ayahnya Ichigo datang menjenguknya adalah sesuatu yang luar biasa aneh untuk Senna sendiri. Bagaimana ayahnya Ichigo bisa tahu? Yah... mungkin dari anaknya sendiri. Tapi... ada hal apa sampai ayahnya Ichigo sengaja datang begini? Yang jelas bukan sekadar basa basi atau iseng atau tidak sengaja atau lebih parah... tidak ada kerjaan. Pasti yang jelas bukan itu.

Pria itu... pria berjanggut tipis itu melihat Senna dengan mimik aneh. Sepertinya dia begitu merindukan Senna, sangat rindu. Wajahnya memancarkan kerinduan. Entah kenapa itu yang dilihat Senna pertama kali. Perlahan pria itu mendekati tempat tidur Senna sambil terus menatapnya. Senna tak bisa mengartikan arti tatapan itu. Sungguh!

Dia justru takut kalau-kalau pria ini bertingkah aneh. Tahukan seperti... mmm... om-om yang aneh begitu?

Tapi tidak. Mana mungkin ayah Ichigo seperti itu. Sungguh tidak.

"Oji-san?" panggil Senna lagi mencoba menyadarkan pria itu untuk kembali ke realitas. Ok! Senna sama sekali tidak mengerti hal aneh ini. Siapa saja!

"Kau... Senna? Kau... sudah sadar? Kau... baik-baik saja kan?" dan kata-kata itu meluncur dari bibir pria itu. Aneh. Kesannya aneh. Seperti tengah mengkhawatirkan seseorang yang sangat berarti untuknya.

"Ada apa sebenarnya Oji-san?" tanya Senna lagi. Dia baru saja satu kali bertemu pria ini. tentunya dia bertemu saat menjenguk Ichigo sakit dulu. Tentu saja.

"Syukurlah kau baik-baik saja sayang... sungguh... aku sangat lega."

Sayang?

"Oji-san... Oji-san ini bicara apa? Aku tidak mengerti."

"Sebenarnya aku ini―"

"Kurosaki-san!"

Serentak Isshin dan Senna menoleh ke arah pintu masuk.

"Tou-chan..."

Isshin kembali menoleh pada Senna. Mendengar kata ayah keluar dari mulut Senna―dan sayangnya bukan ditujukan padanya―sungguh membuat Isshin begitu pilu. Rasa menyesal dan bersalah menguar begitu jelas dalam dirinya.

"Maaf Senna, ada yang perlu kukatakan pada orang ini. Bisa kau menungguku?" pinta Byakuya. Senna bertambah bingung tak mengerti. Kenapa sepertinya semuanya berjalan terlaluu rumit? Ada apa sebenarnya?

"Kuchiki-san. Bisakah kali ini kita jelaskan sebenarnya pada Senna? Dia harus tahu. Aku... aku tak bisa menahannya lebih lama lagi!" pinta Isshin memohon.

"Kita harus bicara di luar." Ulang Byakuya.

"Tou-chan... apa... ada sesuatu yang harus kuketahui?" sela Senna. Dan Senna berharap ini bukan masalah... Ichigo dan... bibinya. Nah. Mengingat kejadian itu, yang rasanya baru saja terjadi kemarin, membuat kepala Senna berdenyut pusing.

"Tidak apa-apa Senna. Tidak ada yang gawat. Semua baik-baik saja. Seperti yang Anda tahu, Senna baru saja sadar. Kita berikan dia waktu sebentar. Saya yang akan menjamin semuanya." Kata Byakuya bergantian dari Senna kepada Isshin. Setelah menimbang beberapa saat, Isshin mengangguk mengerti dan membuntuti Byakuya keluar. Setelah sebelumnya Isshin sekali lagi melihat wajah Senna yang penuh dengan tanda tanya. Pasti ini adalah bagian terberat dalam hidupnya. Pasti. Isshin kecewa karena dia harus menyakiti hati gadis itu. Tapi jika ini semakin lama dikubur, Isshin takut akan semakin menyakiti hati gadis itu.

.

.

*KIN*

.

.

Ichigo tidak diijinkan menengok Rukia oleh pria berambut panjang dengan dandanan aristokrat itu. Ichigo tak banyak tahu mengenai keluarga Kuchiki. Yang dia kenal Kuchiki itu hanyalah Senna dan Rukia. Jika memperhatikan bahwa sebelum Rukia pingsan, dia memanggil pria ini Nii-sama, artinya pria aristokrat itu adalah kakaknya. Yang artinya... dia pasti ayahnya―ayah tiri mungkin?―dari Senna. Selama ini Ichigo memang tahu kalau Senna tak punya Ibu dan hanya punya Ayah saja.

Ichigo gelisah sepanjang koridor itu ingin tahu keadaan Rukia. Tapi dia tidak bisa masuk. Yang Ichigo tahu, sepertinya Rukia sedang istirahat. Karena mendadak pingsan seperti itu pasti dia mengalami tekanan yang serius.

Sebaiknya Ichigo melihat keadaan Senna saja dulu.

Baru saja akan membuka handle pintu ruangan Senna, Ichigo mendengar suara ayahnya dan suara seorang pria. Ichigo ingat suara pria satu itu. Apa... dia kakaknya Rukia?

Sepertinya iya. Sepertinya mereka tengah berdebat akan sesuatu. Dan Senna sudah pasti mendengar mereka. Ichigo baru akan menyela masuk, tapi mendadak bersembunyi di balik sudut dinding koridor itu begitu pintu akan dibuka. Tampaknya dua pria itu akan bicara serius sekarang. Itu bagus. Biarkan mereka bicara dan biarkan Ichigo bicara juga.

Cepat atau lambat semua ini akan diketahui. Tidak perlu mengulur waktu lebih lama lagi. karena... selama ini pun waktu sudah terlalu lama diulur. Senna bukan lagi gadis kecil yang masih kekanakan. Dia sudah cukup dewasa untuk menerima semua ini. memang kejam untuk Senna sendiri. Tapi akan menjadi kejam juga untuk Ichigo dan Rukia kalau sampai semua ini berlarut terlalu lama. Dan akan menjadi kejam untuk semua orang yang terlibat dalam lingkaran bodoh ini. karena satu-satunya masalah di sini hanyalah Senna seorang. Hanya dia kunci dari semua kejadian mengerikan ini.

Ichigo membuka handle pintu ruangan Senna setelah memastikan dua pria itu tidak di dekat sini lagi. Gadis itu masih terduduk di atas kasurnya dengan wajah bingung dan penasaran.

Tapi begitu melihat Ichigo yang berdiri di depan pintu, wajah gadis itu langsung berubah menakutkan. Dia menunjukkan sikap tidak suka dan wajah sinis yang luar biasa jahat. Tidak pernah Ichigo melihat wajah gadis cantik dan baik ini berubah sedemikian jahat. Dan perlu disesali, semua ini terjadi karena dirinya. Karena dirinya yang terlalu pengecut untuk menghadapi gadis ini. dan sekarang... Ichigo sudah memutuskan tidak akan lari lagi.

"Pergi! Aku tidak mau melihatmu!" bentak Senna emosi.

Ichigo diam dan tak peduli. Setelah menarik nafas perlahan, Ichigo melangkah mendekati tempat tidur gadis itu.

"Kubilang pergi! Kau... dan wanita itu! Aku benci kalian!" teriak Senna sambil melempar apa saja yang ada didekatnya. Dan terakhir Ichigo menerima hantaman bantal tidur dari Senna. Ichigo tetap diam sambil terus mendekati gadis itu tanpa ragu. Ini adalah sikap yang wajar dari Senna. Ichigo memang brengsek.

"Belum cukupkah kalian membuatku begini? Pergi sekarang juga! Aku muak padamu! Aku benci!" jerit Senna frustasi. Karena tak ada yang bisa dilemparnya lagi, Senna mencengkeram erat seprai kasurnya sambil terisak histeris.

Kini Ichigo sudah berdiri tepat di samping gadis itu. Memandang Senna dengan raut wajah bersalah.

"Kalau kau membenciku... kenapa kau mendorongku? Bukankah aku yang seharusnya berada di atas tempat tidurmu? Tidak sadarkan diri. Koma. Dan meregang nyawa. Bukankah seharusnya itu aku? Karena motor itu melaju ke arahku. Bukan ke arahmu." Jelas Ichigo tenang. Dia tidak ingin membuat gadis ini merasa tersuduti.

Senna tetap diam dan terus menangis. Apakah Senna harus katakan dengan jujur bahwa dia tak ingin laki-laki yang dia cintai sepenuh jiwa ini yang meregang nyawa dan tidak sadarkan diri? Bahkan kemungkinan mati pun ada. Apakah Senna akan terlihat bodoh, karena menyelamatkan orang yang dia benci sekaligus dia cintai? Apakah Senna bersikap begini karena dia masih belum bisa menerima kenyataan bahwa Ichigo ternyata mencintai bibinya sendiri? Bahwa wanita yang seringkali Ichigo katakan sebagai wanita yang dia sukai selama ini adalah bibinya sendiri?

"Senna... ada yang harus kau ketahui." Buka Ichigo.

"Soal hubunganmu dengan bibiku? Apa kau mau minta maaf karena tidak mengatakannya padaku dan memintaku menyetujui hubungan kalian? Dan kau... harus jadi pamanku? Begitu?"

"Tidak. Bukan itu. Hal yang harus kau ketahui... lebih serius." Ujar Ichigo.

Senna diam. Ini adalah kali pertama dia melihat wajah Ichigo seserius ini. begitu serius seolah tak ada kata 'aku bercanda'. Ini... pembicaraan yang serius.

"Apa?" tanya Senna akhirnya. Tak dipungkiri Senna pun penasaran. Kalau masalah Ichigo dan bibinya tidak serius, lalu apa?

"Kau... sudah bertemu ayahku?"

Senna mengernyit tidak mengerti. Ayah?

"Ayahmu?" ulang Senna.

"Yah. Ayahku. Apa kau sudah bertemu dengannya?"

"Ya. Aku... sudah tahu."

Ichigo mengambil nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Entah kenapa ada rasa sesak dan tak sanggup. Tapi semua ini harus berakhir sekarang. Tidak ingin berlarut terlalu lama.

"Kau tahu Ibuku meninggal karena kecelakaan. Tapi sebenarnya bukan itu saja. Sebelumnya, Ibuku sempat depresi karena kecewa pada pernikahannya. Yah... karena Ayahku, belum bisa melupakan cinta pertamanya bahkan setelah menikah dengan Ibuku. Sebelum menikah dengan Ibuku, Ayahku pernah menjalin hubungan dengan seorang wanita. Tapi... karena Ayahku dijodohkan dengan paksa oleh mendiang Kakek, Ayah terpaksa menikahi Ibuku. tapi sebelum menikahi Ibuku, wanita itu... menghilang."

Senna diam. Ichigo tak pernah bercerita begini detil tentang keluarganya pada Senna.

"Ayahku merasa sangat bersalah karena wanita itu menghilang demi kebahagiaan Ayahku. Mungkin Ayahku berpikir, menikah dengan Ibuku semuanya akan berakhir. Tapi ternyata tidak semudah itu. Tentu saja. Bahkan ketika adik kembarku lahir, Ayah tetap tidak berubah. Karena itu... Ibuku jadi depresi dan akhirnya kecelakaan lalu meninggal dunia. Dan sejak itulah aku membenci Ayahku sampai sekarang.

"Sejak Ibuku meninggal, aku mulai membenci Ayah dan wanita yang dicintai Ayah itu. Aku membenci semua yang berhubungan dengan wanita sialan itu. Bahkan setelah kematian Ibuku, ternyata Ayah diam-diam mencari tahu tentang wanita itu. Walau ternyata mustahil untuk bisa menemukannya. Tapi Ayah tidak menyerah. Dia masih berharap wanita itu masih ada dan bisa bertemu dengannya.

"17 tahun berlalu sejak wanita itu menghilang, ternyata perusahaan Ayah kedatangan seorang GM baru untuk perusahaan. GM wanita yang ternyata mirip dengan wanita cinta pertama Ayah. Ayah mulai terobsesi pada wanita itu. Awalnya wanita yang baru menjabat sebagai GM ini menyembunyikan identitasnya. Tapi lambat laun... akhirnya... Ayah tahu siapa wanita itu. Dan GM baru ini... datang ke perusahaan Ayah hanyalah untuk balas dendam.

"Sayang sebelum membalas dendam, GM baru itu menghentikan niatannya. Karena aku... jatuh cinta padanya."

Senna membelalakan matanya selebar mungkin. Dari separuh cerita Ichigo, Senna merasa mengenal siapa saja yang diceritakan oleh Ichigo itu.

"Tanpa sadar, kami berdua jatuh cinta dan saling mencintai. Wanita itu menghentikan balas dendamnya, tapi kemudian setelah Ayah tahu jati diri wanita itu, Ayah menekannya untuk memberitahu dimana cinta pertamanya. Mendengar cinta pertamanya sudah meninggal, Ayah kecewa luar biasa. Tapi gantinya, dia menyadari ada satu hal yang lebih penting dari cinta pertamanya itu."

Ichigo menghentikan kata-katanya seolah menarik nafas yang terasa berat.

"Cinta pertamanya meninggal karena melahirkan seorang anak. Dan akhirnya... karena kecelakaan ini, Ayah jadi tahu... anak siapa itu."

Jantung Senna terasa akan lepas segera.

"Ichigo..." gumam Senna. Bibirnya bergetar berserta seluruh anggota tubuhnya.

"Ya Senna... kaulah anak itu. Kaulah anak dari cinta pertama Ayahku. Ayah menyesal sekali karena tidak mengetahui bahwa cinta pertamanya pergi dalam keadaan mengandung benihnya. Dia... menyesal sekali. Dan GM baru itu... adalah Bibimu. Rukia."

"Kau... bohong..."

"Alasan kenapa aku tidak bisa menerimamu adalah karena kita... satu darah. Kita... saudara kandung Senna. Kita―"

"HENTIKAN! JANGAN BICARA OMONG KOSONG!" jerit Senna sambil menutup kedua telinganya. Kenyataan? Yah... kenyataan kadang lebih mengerikan daripada cerita horror sekalipun.

"Aku tahu, kau pasti bohong. Kau mencari alasan agar aku tidak membencimu." Lirih Senna.

"Rukia sudah cukup menderita selama ini Senna. Kehilangan keluarga satu-satunya, kakak yang sangat dicintainya melebihi apapun, dan menanggung aib seumur hidup ini sudah cukup untuk Rukia. Kau... jangan menambahnya lagi. Apa kau tidak tahu sebesar apa cinta Rukia untukmu?"

"Cukup Ichigo..."

"Sampai kapan kau mau menyiksa Rukia? Tempatkan posisi Rukia untukmu. Kalau kau jadi dia, apa kau masih sanggup melihat bekas luka yang menjadi alasan satu-satunya kakak yang kau cintai meninggalkanmu? Dia tak bisa membencimu. Tapi tak bisa juga mencintaimu. Tapi... selama ini dia sudah berusaha melupakan segalanya dan mencintaimu. Kau... sudah dianggap sebagai refleksi dari kakak yang dia cintai. Dengan melihatmu, Rukia berharap bisa melihat kakaknya. Dengan merawatmu, Rukia berharap bisa merawat kakaknya. Dan dengan mencintaimu, Rukia berharap dia bisa terus mencintai kakaknya sampai akhir nanti."

Senna masih terus terisak mengabaikan kata-kata Ichigo.

"Asal kau tahu, aku pun membenci Ayahku. Aku ingin dia merasakan penderitaan Ibuku. tapi... kemudian aku berpikir. Suatu saat semua ini akan berakhir. Apa salahnya memaafkan dan memulai yang baru. Suatu saat pasti ada balasan yang setimpal. Dan aku... ingin kau pun begitu. Agar kisah bodoh dan menjijikan ini tidak terulang untuk kedua kalinya. Agar kita... tidak kehilangan apapun lagi. Tapi sekarang semua terserah padamu. Tapi ingat Senna. Kau boleh membenciku sesukamu. Bahkan jika nanti kau ingin membunuhku, aku rela. Tapi... jangan pernah membenci Rukia karena aku. Tolong... jangan benci dia. Karena kalau kau membencinya... Rukia akan merasa dibenci oleh kakaknya sendiri."

.

.

*KIN*

.

.

Ichigo tak banyak bicara lagi setelah itu. Dia meninggalkan Senna untuk sendiri. Tentulah ini berat. Sangat berat. Dan Ichigo tak tahu seberapa lama Senna bisa menahannya. Tentu ini akan berlarut-larut. Ichigo sudah melakukan apa yang perlu dia lakukan.

Tapi Ichigo tidak banyak bicara pada ayahnya. Dia hanya menunggu keputusan Senna.

Dan Ichigo tetap tak bisa menemui Rukia.

Sudah tiga hari ini Rukia seperti dijauhkan darinya. Pria aristokrat itu melarang Rukia keluar dari kamarnya dan hanya menerima pesan dari kakaknya soal kondisi Senna. Rukia memang sudah lebih baik, tapi mungkin karena beberapa alasan, tubuhnya melemah tidak jelas. Yang Rukia lakukan hanyalah berbaring di atas tempat tidur. Dan Ichigo sungguh frustasi dengan keadaan ini.

.

.

*KIN*

.

.

Tiga hari ini Senna banyak berpikir. Ayahnya Ichigo memang datang rutin. Tapi Senna masih belum berani menemuinya. Takut, jika nantinya kenyataan itu malah terucap lagi oleh ayahnya Ichigo, atau... harus Senna katakan ayah Ichigo adalah... ayah biologisnya?

Ayahnya yang sekarang juga belum mengatakan apapun pada Senna. Mungkin... Senna pikir ayahnya sekarang ini sedang mempertimbangkan kondisinya. Dan sejak Senna menolak menemui bibinya itu, bibinya juga tidak menemui Senna. Mungkin masih merasa bersalah dan menyesal. Sudah seharusnya begitu. Awalnya Senna tidak paham bagaimana menempatkan posisi bibinya padanya. Tidak mengerti. Kenapa tidak sejak awal bibinya menjelaskan semua ini. kalau sejak awal Rukia menjelaskannya, pasti semua ini tidak akan pernah terjadi selamanya!

Ayahnya... Byakuya... mengatakan bahwa dia tidak sempat mengunjungi Senna. Karena ada masalah perusahaan. Dan Senna biasa ditinggal begitu. Tapi terakhir Byakuya mengatakan kalau kondisi Rukia agak menurun.

"Kuchiki-san."

Seorang dokter wanita masuk ke dalam ruangan Senna. Entah kenapa setelah sadar ini, kondisi Senna justru tidak bertambah baik. Beberapa bagian tubuhnya terasa sakit terus menerus. Dia sudah katakan keluhan ini pada dokter wanita ini. dan sepertinya, hari ini adalah hasil penelitiannya.

"Waktunya pemeriksaan Dokter Unohana?" ujar Senna.

.

.

*KIN*

.

.

Ichigo bingung ketika menerima pesan dari Senna. Entah kenapa.

Beberapa hari sebelumnya padahal Riruka sudah datang mengunjunginya dengan beberapa teman sekelasnya yang lain. Dan tampaknya, ada sesuatu yang dikatakan oleh Senna pada Riruka soal hubungan Ichigo dan Senna. Entah apa. Karena gadis berambut merah itu tidak lagi merecokinya seperti beberapa waktu lalu.

Ichigo tiba di rumah sakit. Ini adalah hari ketiga dia tidak bisa bertemu Rukia. Ada beberapa penjaga yang menunggu kamar Rukia. Dan Ichigo sangat membenci pria aristokrat itu. Pasti dialah yang melarang Ichigo menemui Rukia. Ichigo tak tahu alasannya dilarang seperti ini. tapi sepertinya, jika pria dingin itu sudah tahu soal ayah Ichigo dan... dirinya, sudah pasti dia tidak akan menyukai Ichigo. Apalagi mendekati Rukia. Tapi ngomong-ngomong, sejak bulan lalu, Kaien memilih pergi ke Austria mengurus sekolah masternya. Entah kenapa mendadak ingin sekolah lagi. Dan tentu saja Kaien sama sekali tidak tahu kondisi di sini.

"Kau sudah datang? Bisa bantu aku?" pinta Senna.

Gadis itu tengah berusaha turun dari kasurnya untuk mencapai kursi roda. Ichigo bingung dengan sikap mendadak Senna ini. apa itu... benar dirinya?

"Ayolah, jangan berdiri saja. Aku sulit turun nih." Rengek Senna. Masih dengan tanda tanya besar dalam benaknya, Ichigo membantu Senna untuk turun dari kasurnya dan duduk di kursi roda. Lalu membuat pernyataan yang membuat mata Ichigo terbelalak tidak menyangka.

Senna ingin diantarkan ke kamar Rukia.

Ichigo tak sempat lagi berpikir banyak karena terlalu senang akhirnya bisa bertemu wanita itu.

Begitu tiba di depan pintu ruangan Rukia, Senna dan Ichigo dihentikan oleh dua penjaga kamar itu. Rukia benar-benar seperti tawanan perang saja. Senna mengatakan kalau dia keponakan Rukia dan berhak masuk. Senna memang diijinkan, tapi kemudian melihat Ichigo, Ichigo dilarang masuk. Harus menunggu di luar.

Akal Senna tidak berhenti begitu saja. Senna memperingatkan kalau sampai terjadi sesuatu pada Senna karena kelakuan bodoh penjaga ayahnya ini, Senna benar-benar akan mengadukan pada ayahnya agar mereka dipecat. Dan ternyata... sangat berefek.

"Oba-chan..."

Rukia mengangkat wajahnya yang sedari tadi berfokus pada buku dipangkuannya. Mata ungunya membelalak lebar.

Senna bisa melihat bibinya memang sedang tidak sehat. Jauh lebih kurus dari biasanya. Wajahnya bahkan jauh lebih tirus. Mengerikan. Senna sampai menangis melihat Rukia seperti itu. Rasanya... aneh.

Karena terlalu senang melihat Senna, Rukia sampai tidak peduli pada tubuhnya dan langsung turun begitu saja. Beruntung Ichigo langsung reflek menangkap Rukia dan membantu wanita itu mendekat pada Senna.

"Senna? Kau... kau di sini?" ujar Rukia terbata.

"Oba-chan bodoh! Apa yang terjadi padamu? Kenapa kau tampak begitu mengerikan! Kau bahkan lebih buruk dari penderita busung lapar!" maki Senna sambil menangis melihat kondisi bibinya yang dipapah oleh Ichigo itu.

Rukia berhambur memeluk gadis yang masih duduk di kursi rodanya itu.

"Maaf Senna. Maafkan aku... sungguh maafkan aku. Kau pasti membenciku..."

"Tentu! Aku membencimu! Aku sangat membencimu!" maki Senna lagi sambil mengeratkan pelukannya.

Ichigo sampai terharu menyaksikan ini semua.

.

.

*KIN*

.

.

"Aku sudah tahu semuanya." Buka Senna ketika Ichigo selesai mendudukkannya di atas kasur Rukia bersama dengan wanita itu. Sedangkan Ichigo mengambil kursi untuk duduk di samping kasur Rukia.

"Kau... sudah tahu? Tapi... Nii-sama tidak bilang apapun," ujar Rukia bingung.

"Karena Tou-chan memang tidak tahu. Ichigo yang memberitahuku semuanya."

Rukia menoleh ke arah laki-laki berambut menyala itu.

"Kupikir... ini harus segera diakhiri Rukia. Kalau melihat dari gelagat kakakmu, dia sama sekali tidak ingin Senna tahu dengan alasan kesehatan Senna." Sela Ichigo.

Rukia mengusap kepala Senna dengan sayang.

"Jadi... bagaimana? Apa yang akan kau lakukan Senna? Maaf... semua ini salahku. Kalau saja aku tidak datang ke perusahaan itu, kalau saja aku―"

"Sudahlah Oba-chan. Kau melakukan itu juga demi Kaa-chan bukan? Semua sudah berlalu. Maaf aku terlambat menyadarinya."

"Apa yang harus aku lakukan untuk menebus kesalahanku?" sambung Rukia.

"Dengan hidup lebih baik. Maaf kalau selama ini aku egois sekali. Maafkan aku. Tidak seharusnya aku menghalangi kalian. Sungguh."

"Senna..."

"Mau marah juga... aku tetap tidak berhak. Aku akan mengatakan semuanya pada Tou-chan. Supaya semua ini cepat berakhir. Karena aku tak akan tahu kapan ini bisa berakhir."

.

.

*KIN*

.

.

Sesuai kata-kata Senna, dia menerima semuanya. Entah kenapa sepertinya ini terlalu mudah untuk dijadikan kenyataan. Senna terlalu mudah menerima semuanya. Bahkan begitu cepat menerima Isshin menjadi ayah biologisnya.

Byakuya sempat khawatir dengan semua ini. tapi tetap saja semuanya ada di tangan Senna. Dan Byakuya tidak berhak untuk menghalangi keinginan putrinya. Semuanya memang terlalu cepat untuk berakhir semulus ini. bahkan terlalu mendadak. Tapi asalkan semuanya bahagia, tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi.

Setelah tiga hari masa perawatan, Senna sudah diperbolehkan pulang bersamaan dengan kepulangan Rukia. Kondisi Rukia juga berangsur membaik. Mungkin karena beban dan tekanannya sudah berangsur menghilang. Hanya saja... tekanan baru mulai bermunculan karena hubungan Ichigo dan Rukia sudah terkuak. Byakuya belum mengurus masalah itu karena masih mengutamakan kondisi Senna terlebih dulu. Gadis itu memang tampak jauh lebih baik. Tapi tubuhnya yang tetap pucat dan melemah tidak bisa dibohongi. Sekali lagi... karena membiarkan kondisi Senna dulu, banyak orang tak melarangnya.

Isshin sudah bisa menemui Senna dengan wajar dan tampaknya gadis itu tak begitu keberatan. Rukia juga cukup merasa tenang karena ternyata apa yang dia takuti tidak terjadi. Semuanya berjalan terlalu lancar. Hanya kenyataan bahwa dia tidak bisa menemui senpainya lagi. Itu saja. Keberangkatan mendadak Kaien ke Austria sungguh di luar dugaannya.

Senna masih agak canggung untuk mengenal saudara barunya. Dua adik kembar Ichigo. Satu yang bernama Yuzu masih cukup kikuk menerima Senna. Tapi satu lagi bernama Karin tidak menunjukkan ekspresi berarti. Senna tahu situasi ini. tapi dia tetap harus menerimanya.

Satu permintaan Senna bahwa dia tidak ingin pindah. Isshin bebas menemui kapanpun yang dia inginkan. Tapi tidak memintanya keluar dari Kuchiki. Hanya itu yang tidak sanggup Senna lakukan. Dan Rukia, semenjak keluar dari rumah sakit menetap di rumah Kuchiki dan tidur bersama Senna. Itu yang Senna inginkan sejak keluar dari rumah sakit.

"Tou-chan! Aku buatkan sup jamur ini. apa rasanya?" tanya Senna begitu Byakuya duduk untuk makan pagi bersama adik ipar dan anaknya ini.

"Tumben sekali kau mau turun ke dapur?"

"Entah kenapa sejak tadi pagi dia begitu bersemangat." Sela Rukia.

"Jadi kau juga direpotkan?" balas Byakuya.

"Huh! Tou-chan! Awas saja ya kalau menyesal tidak mencicipi sup jamur super lezat buatanku ini!" rajuk Senna.

"Baiklah. Kita cicipi semengerikan apa rasanya."

Makan pagi itu dilalui dengan suasana menyenangkan. Senna terlihat cukup sehat dan tawa keluarga kecil itu memenuhi seisi ruang makan.

.

.

*KIN*

.

.

"Aneh... tidak biasanya kau mau keluar denganku?"

Siang ini, Isshin sudah menjemput Senna di kediaman Kuchiki. Gadis itu memaksa ingin mengajaknya pergi bersama. Pergi kemana saja. Bahkan Isshin rela membatalkan tiga rapat penting sekaligus hari ini demi bisa pergi dengan putri kesayangannya ini.

"Yah... mumpung aku masih bisa malas-malasan. Tou-san tidak tahu kan kalau aku suka sekali belanja. Tou-chan tidak pernah menemaniku belanja. Dan Oba-chan cerewet itu akan bertambah menyebalkan jika melihatku belanja banyak." Cerocos Senna.

"Oh begitu. Baiklah. Apa yang ingin kau beli? Biar Tou-san beli semua untukmu."

Senna memang berkeliling di beberapa mall sampai sore hari bersama Isshin. Ada begitu banyak barang yang dia beli. Entahlah. Isshin juga tidak yakin.

Karena Senna kebanyakan membeli mainan dan boneka anak-anak. Kemudian dia membawanya ke beberapa panti asuhan. Baju-baju bagus yang dia belipun bernasib sama. Diberikan pada panti asuhan. Senna bilang, dia ingin orang seperti dirinya bisa jadi malaikat untuk orang-orang tidak mampu seperti ini. dan berbagi kebahagiaan pada anak-anak yang kurang beruntung. Senna memang kurang beruntung karena dibesarkan tanpa Ibu. Tapi lihat dia sekarang, Senna punya dua ayah sekaligus. Dan itu membuatnya begitu bahagia.

Seolah-olah tak ada kebahagiaan yang lebih berarti dari ini.

.

.

*KIN*

.

.

"Senna... bukankah pagi ini, kita ada jadwal mengunjungi dokter Unohana?" ujar Rukia begitu melihat gadis berambut ungu itu sudah bersiap dengan dandanan yang super cantiknya itu. Ini memang sudah musim semi. Waktu yang tepat untuk berkencan. Karena koma selama dua bulan itu, Senna terpaksa mengulang kelas duanya. Dan Ichigo juga teman lainnya sudah naik ke kelas tiga.

"Bisa ditunda hingga besok? Aku mau... seharian ini pergi melihat bunga sakura yang mulai bermekaran bersama Ichigo. Boleh?" pinta Senna.

"Ichigo?" ulang Rukia.

"Tenang saja. Oba-chan jangan khawatir. Aku tidak akan merebut Ichigo kok. Kan kami saudara..."

"Bukan begitu. Tapi―"

"Sudah ya Oba-chan!"

Tetap saja rasanya aneh. Biasanya Senna tidak pernah telat untuk datang ke dokter. Setelah seminggu keluar dari rumah sakit, waktu Senna banyak sekali habis karena dia melakukan kegiatan yang sepertinya... jadi begitu menyenangkan. Padahal itu adalah kegiatan biasa yang dia lakukan selama ini.

Ponsel Rukia berdering nyaring. Dan itu dari rumah sakit.

"Ya Dokter Unohana... ke rumah sakit sekarang?"

.

.

*KIN*

.

.

"ICHIGOOO!"

Ichigo menoleh ke arah sumber suara. Gadis berambut ungu itu berlarian mencapai tempat Ichigo menunggu. Hari ini pun Senna tetap cantik. Tidak. dia memang selalu cantik.

Gadis itu membawa sebuah keranjang bekal. Karena di pedestrian ini banyak di tumbuhi pohon sakura, banyak kelopaknya bertebaran tertiup angin.

"Kau bilang jalan-jalan." Ujar Ichigo setelah Senna sampai.

"Iya. Sekalian piknik. Bagaimana? Kau suka?"

"Sudah ijin dengan ayahmu dan Rukia?"

"Sudah. Kau tidak percaya?"

"Percaya. Nah... kita mau apa sekarang Nee-san?"

"Jangan memanggilku begitu. Sekarang ini aku jadi adik kelasmu tahu! Kau menyindirku ya?"

"Tidak. Siapa yang menyindirmu..."

Sesaat mereka terdiam karena ada angin kencang yang menerbangkan hampir separuh kelopak pohon sakura itu. Kelopak-kelopak berwarna pink itu berterbangan hingga mencapai puncak kepala dan baju Ichigo dan Senna. Mereka tersenyum mengambil kelopak sakura yang tersangkut di rambut mereka berdua.

"Ichigo. Boleh aku minta sesuatu?"

Ichigo mengangkat wajahnya dan menunggu gadis itu bicara.

"Boleh hari ini kita kencan seperti pasangan normal biasanya? Bolehkah satu hari ini kita kencan? Tanpa perlu mengingat kita ini sedarah? Boleh? Hanya hari ini..."

Ichigo diam. Ada apa...

"Ehh... kalau tidak boleh tidak apa-apa. Aku Cuma... ingin berkencan saja denganmu. Karena kita... belum pernah berkencan selama ini. setelah kencan hari ini, aku janji akan selamanya menganggapmu saudaraku."

"Boleh."

Senna mengangkat wajahnya dan membelalak lebar.

"Ichi... go?"

"Kubilang boleh... ayo..."

.

.

*KIN*

.

.

"Apa? Dokter..."

"Kami sudah memberi peringatan pada Senna. Apa dia... tidak mengatakannya apapun padamu?"

Senna memang tidak bisa kembali sehat seperti sedia kala seperti yang ditakutkan oleh Unohana. Gadis itu tidak akan bisa hidup sampai matahari terbenam hari ini.

Sebenarnya Unohana sudah mengatakan pada gadis itu untuk melakukan semacam terapi untuk memperlambat kerusakan yang terjadi pada otaknya nanti.

Jika dibiarkan, otaknya akan semakin melemah dan kehilangan fungsi. Setelah kehilangan fungsi, perlahan-lahan, kesadaran akan menipis dan berakibat pada penyempitan pembuluh darah. Dan jika itu terjadi, pembuluh darah yang menyempit akan pecah dan mengakibatkan kematian mendadak pada pasien.

Senna sudah menyadari itu sejak awal dan sudah tahu. Tapi dia tidak memberitahukan semua itu pada yang lain. Gadis itu takut jika hal ini diketahui oleh orang lain, mereka akan merasa bersalah dan Senna akan terbebani. Karena itu... di sisa seminggu terakhirnya ini Senna tetap diam dan bungkam.

Rukia terisak hebat mendengar penjelasan dari dokter wanita itu.

Dan sekarang... sudah tidak ada cara untuk menyelamatkan gadis itu. Sungguh tidak ada.

.

.

*KIN*

.

.

Senna sengaja tidak membawa ponselnya. Dan ponsel Ichigo ada padanya. Senna beralasan, ponselnya tinggal karena habis baterai dan dia nanti perlu ponsel untuk menghubungi ayah atau bibinya. Alasan itu cukup kuat hingga Ichigo rela memberikan ponsel itu pada Senna.

Senna tahu, pasti bibinya saat ini sudah tahu karena janji ke rumah sakit itu Senna sendiri yang membuatnya. Agar Rukia bisa menemui dokter itu untuk mengetahui kebenaran di saat terakhir. Senna tidak mematikan ponsel Ichigo. Tapi hanya menggetarkannya saja.

Setelah jalan-jalan sebentar menikmati pohon sakura, mereka bermain di taman ria sejenak. Dan sorenya―keasyikan main―mereka memakan bekal di pinggir pesisir pantai di dekat taman bermain itu. Cuaca benar-benar mendukung.

Tapi malangnya, Senna sudah merasa bahwa waktunya sebentar lagi akan habis. Kepalanya terasa pusing sekali.

"Ada apa? Kau... pucat sekali Senna." Ujar Ichigo menyadari mimik aneh Senna.

"Tidak apa-apa. Mungkin sedikit kelelahan. Aku kan baru keluar dari rumah sakit."

"Tentu saja. Seharusnya kau istirahat. Bukan―"

Senna menyandarkan kepalanya di bahu Ichigo. Mereka masih duduk di pinggir pantai itu. Cuaca juga sudah cukup teduh.

"Bibiku sudah cukup cerewet. Jangan menambahnya lagi Ichigo. Kau tak akan tahu semenyebalkan apa mulutnya itu." Gerutu Senna.

Ichigo tersenyum simpul mendengar kata-kata Senna. Dia membiarkan gadis itu bersandar di bahunya seperti ini. mungkin Senna memang sedang sakit karena kelelahan.

"Ichigo..." panggil Senna.

Ichigo menggumam sambil memandang lurus ke depan. Memandang gulungan ombak rendah yang saling bersahutan itu.

"Menurutmu... aku ini bagaimana?"

"Kau? Baik... cantik. Dan pintar. Kenapa?"

"Lebih baik mana... aku atau Orihime si seksi itu?"

"Kau." Jawab Ichigo singkat.

"Kalau aku dan... bibiku?"

Senna tertawa pelan sambil mengeratkan pelukannya di lengan Ichigo.

"Pasti bibiku ya?" jawab Senna sebelum Ichigo memberikan jawaban.

Senna menarik nafas panjang. Waktunya sudah mendesak. Dan Ichigo belum menyadarinya. Itu bagus. Kepalanya semakin terasa pusing dan Senna yakin wajahnya bertambah pucat pasti.

Ichigo mencoba menunduk untuk melihat wajah Senna.

"Jangan menunduk. Kalau kau menunduk aku akan menciummu."

Ichigo berhenti bergerak. Reflek saja.

"Bagaimana kalau aku yang menciummu?" tantang Ichigo.

"Kau mau?" balas Senna.

"Kalau kau sudah ijin pada Rukia."

Senna tertawa pelan lagi. Dia sudah berjanji akan mendukung hubungan mereka. Lagipula... adanya Ichigo yang tulus dan bersungguh-sungguh pada Rukia adalah hal terbaik. Senna tak akan merasa terbebani jika seandainya dia meninggalkan Rukia.

"Ichigo... katakan padaku. Apa jika nanti... jika di kehidupan nanti, ada aku dan bibiku. Dan kita tidak berada dalam satu ikatan darah, siapa yang akan kau pilih?"

Ichigo diam. Berpikir cukup lama. Senna tahu Ichigo mungkin bimbang. Tapi dia tidak bisa menunggu selama itu.

"Hei. Katakan saja," sambung Senna.

"Aku... memilih Rukia. Aku tetap memilih Rukia."

"Kau setia ya?" sindir Senna.

"Kau pernah bilang... hubungan kakak beradik adalah hubungan yang paling abadi. Aku nyaman bersamamu seperti aku nyaman bersama dengan saudaraku. Dan selama ini... aku tidak pernah memikirkan hubungan kita akan berubah lebih dari saudara. Kalau seandainya, anak cinta pertama ayahku itu bukan kau... aku pasti tidak akan pernah bisa menerimanya seperti aku menerimamu sekarang..."

"Hmm... jadi artinya, kalau bibiku adalah anak cinta pertama ayahmu, kau tidak akan menerimanya jadi saudara, begitu?"

"Ya..."

Mereka terdiam cukup lama. Senna sudah melihat bayangan putih di depan matanya, berdiri di depannya bersama Ichigo. Seolah memberitahu waktu yang Senna miliki.

"Hei Ichigo... maukah kau mendengar permintaan terakhirku?"

"Permintaan terakhir?"

"Kumohon jangan menyela. Aku... ingin jadi dokter,"

"Senna..."

"Menyela sekali lagi aku akan benar-benar menciummu! Aku... ingin jadi dokter. Ingin jadi dokter yang bisa menyelamatkan banyak pasien. Agar tidak ada pasien yang meninggal seperti Ibuku. agar aku... bisa menyelamatkan jutaan nyawa yang berharga. Karena aku baru sadar... ternyata... kematian adalah suatu hal menyebalkan yang tidak akan sanggup disembuhkan dengan apapun. Kematian... tidak akan pernah bisa ditukar dengan apapun. Jika tidak bisa menghalangi kematian... aku berharap bisa memperlambatnya. Karena itu... aku ingin jadi dokter."

"Lalu?"

"Kau bisa membantuku meraih itu semua."

"Boleh. Karena aku sudah jauh lebih pintar darimu..."

Nafas Senna sudah terputus. Sesak melanda dadanya. Sekuat tenaga Senna mencengkeram lengan Ichigo. Ichigo tahu itu. Tapi dia tidak berpikir kenapa.

"Terakhir... bahagiakan Bibiku ya... dia itu... kurasa kau lebih mengenalnya. Tapi percayalah. Dia adalah bibi yang baik. Dia juga wanita cantik yang sangat baik. Kau tidak akan menyesal bersamanya. Yah... kecuali fakta kalau umur kalian terlalu jauh."

"Tenang saja, itu bukan masalah untuk kita bahagia."

"Naa Ichigo... boleh aku mendengar kau mengatakan 'aku mencintaimu' padaku?"

Sejak tadi apa yang dikatakan oleh Senna sedari tadi adalah keganjilan yang luar biasa aneh. Ichigo tak memikirkan sampai detik ini.

Perlahan, cengkeram kuat yang melanda lengannya perlahan mengendur. Ichigo tidak peduli lagi Senna yang mengancam akan menciumnya jika dia menunduk, Ichigo langgar. Dan ternyata... lengan gadis itu sudah terkulai lemah dengan wajah yang memucat mirip mayat.

Sesaat Ichigo tak merasakan hawa kehidupan dari gadis itu.

.

.

*KIN*

.

.

TBC

.

.

Oh no! apa yang saya lakukan? saya ngebunuh Senna? ckckck... sebenernya sih ini alasan saya, kalau ternyata Senna bisa sehat seperti biasa, Senna gak bakalan bisa nerima kenyataan yang ada. jadi biar aja begini. ada yan sedih? hehehe lagi-lagi harus saya katakan scene ini terinspirasi dari 49 Days. hohoho... dan soal penyebab kematian Senna itu, sumpah saya karang sendiri. saya gak beneran yakin apa bisa begitu? tapi pecahnya pembuluh darah memang bisa menyebabkan kematian mendadak loh. hehhe

Ok deh gak banyak komen karena chap depan adalah chap terakhir. jadi senpai-senpai yang mau rikues akhir dari hubungan IchiRuki silahkan keluarkan unek-unek kalian. karena sepertinya saya mau bikin ending yang gak terduga nih... hehehe

dan sekali lagi maaf kalo lagi-lagi saya rada memaksakan ending chap ini. hohoho

balas review...

Ray Kousen7 : makasih udah review Ray... hehehe sebenernya kalo gak ada kerjaan, saya bisa aja publish semuanya. hehehe 30 ding, umur Rukia 30... hehehe iya ya, kalo kepanjangan gini malah kayak sinetron. tapi sebenernya saya bisa aja bikin yang instan, tapi kan gak alami lagi. jadinya saya bikin agak panjang. hehehe nih udah update...

lola-chan : makasih udah review senpai... iya mau tamat. chap cepan chap trakhir... hehehe wah... jangan dong kawin lari, kan capek... hhehe, tapi kayaknya saya belum ada rencana mau bikin sekuel fic ini. karena sekuel lain aja belum saya selesaiin... heheheh

snow : makasih udah review senpai... hehehe apa ini udah update kilat? hohoho...

ika chan : makasih udah review senpai... gak kok senpai, gak serumit itu. tuh akhirnya semua berakhir bahagia... ehh gak semua ya? heheheh

Rama Diggory Malfoy : makasih udah review senpai... kyaa... ditunggu ya? wah... saya seneng banget. nih saya update kilat buat kamu... hehehe

ChappyBerry Lover : makasih udah review senpai... hehehe gak ada flashbacknya, tapi apa bisa senpai ngerti? intinya yang mau ketabrak itu Ichi, jadi Senna ngedorong Ichi supaya gak ketabrak. Last Rose udah saya update... hehheh

FYLIN-chan : makasih udah review senpai... nih udah tahu kan? heheheh

Voidy : makasih udah review senpai... kayaknya gak dikasih ijin nih sama Byakuya. hohoho Senna akhirnya tahu, kasian dia jadi begitu nelangsa. hiks...

Zanpaku nee : makasih udah review senpai.. heheh emang sulit sih, tapi akhirnya si Senna nerima juga. paling akhirnya gimana Ichiruki nyelesaiin masalah mereka. yang jelas Ichi gak akan nyerah. heheheh

RK-Hime : makasih udah review senpai... ya gak lah... kan Ruki minum obat pencegah kehamilan. heheheh iya nih udah tahu, tapi kok pada nyangka Senna adeknya? ya? hehehe

AkiraChan : makasih udah review senpai... ya Senna nerima banget. apa ini udah update kilat ya? hehehehe

nenk rukiakate : makasih udah review nenk... heheh gak segitunya nenk... heheh saya juga suka banget sama tipe cowok kayak begini ya? hohoo...

hirumaakarikurosakikuchizaki : makasih udah review senpai... heheh nih juga udah update kilat...

kok pada kebanyakan bilang Senna adeknya Ichi? kan Senna lahir duluan sebelum Ichi? Isshin nikah kan setelah Hisana hamil? masih pada bingung ya? hehehe

ok deh silahkan review... karena review adalah penyemangat saya buat update terus... hohoho...

Jaa Nee!