Hola MInna!

Saya kembali datang memenuhi fandom ini dengan karya saya yang luar biasa ancur ini. Mohon dimaklumi. Hehehehehehe

DISCLAIMER :TITE KUBO

RATE : M (For Safe)

WARNING : OOC, AU, MISSTYPO, Cerita Gak Menarik, Pasaran, Gaje!

.

.

.

Kematian memang sesuatu yang paling tidak bisa diterima oleh kenyataan. Kematian adalah satu-satunya takdir yang paling mengerikan. Tak bisa dihalangi oleh apapun. Bahkan oleh malaikat sekalipun. Tak ada yang bisa menghalanginya kecuali mukjizat yang datang dari Atas sana.

Dan itulah yang dialami oleh Kuchiki Rukia.

Rukia masih terisak di dalam kamar keponakan yang selama 17 tahun ini dirawatnya dengan penuh kasih sayang. Merawatnya seolah dia adalah ganti sang kakak yang pergi meninggalkannya lebih dulu. Semua pernak pernik masih sama.

Dalam kimono hitam, demi menghormati keponakan yang baru saja dimakamkan itu, Rukia masih berharap takdir bisa berubah tiba-tiba. Walau itu mustahil.

Pemakamannya memang sudah selesai tadi pagi. Semua orang turut berduka dan berbelasungkawa. Tapi yang jelas, orang yang paling terpukul adalah Presdir itu. Baru beberapa waktu menemukan putrinya, dan dia harus kehilangan lagi. Rukia juga sempat merasa bersalah karena tidak memberi tahukan dari awal. Tapi kalau Rukia tahu akhirnya seperti ini, tentu saja Rukia tak akan pernah bersikap begini egois. Kalau saja dia tahu masa depan lebih dulu, Rukia tak akan pernah memulai semua ini. Kakak iparnya juga cukup terpukul. Apalagi kemarin sore, ketika Ichigo menghubungi Rukia memberitakan kabar mengerikan ini, semua orang mendadak histeris. Rukia yang sudah tahu keterangannya dari dokter Unohana hanya bisa terisak dan menangis. Rukia sudah tahu tapi sayang terlambat. Dan Senna terpaksa di makamkan keesokan harinya. Namun, Ichigo sempat berkata kalau Senna pergi dengan senyum di wajahnya dan sangat tenang. Senna tak menangis ataupun sedih ketika tahu waktunya sudah habis. Dia benar-benar menikmati waktu terakhirnya.

Walau hari beranjak malam, tapi Rukia belum juga beranjak dari kamar Senna. Rasanya terlalu mustahil Senna pergi seperti ini. Tidak mungkin anak egois, menyebalkan dan tidak bisa diatur itu pergi dengan begini tenangnya. Bahkan Rukia dulu sempat ragu apakah dia bisa menangis di hari kematian anak yang selalu membuat masalah itu. Anak yang dianggap Rukia bekas luka paling menyakitkan dalam hidupnya. Dan ternyata... Rukia tak bisa berhenti menangis meski lewat satu hari.

Rukia lupa menutup jendela kamar Senna. Pantas saja angin kencang berhembus begitu dahsyat.

Dengan gontai, Rukia beranjak untuk menutup jendelanya. Tapi kemudian, begitu menutup daun jendela itu, sebuah kertas melayang masuk ke dalam kamar dan terjatuh di atas meja belajar gadis itu.

Setelah menutup jendelanya, Rukia bergegas mengambil kertas itu.

Sebuah kertas yang berbentuk... surat.

Kenapa bisa ada di sini? Terselip di mana sebelumnya?

Tak sabar, Rukia membuka kertas itu. Kertas yang memiliki ciri khas dari seorang Kuchiki Senna.

Dan Rukia semakin terisak begitu membaca kertas itu. Pesan terakhir Senna.

.

.

*KIN*

.

.

Oba-chan...

Kau pasti tak akan menyangka kalau aku, gadis yang selalu merepotkanmu, selalu membuatmu kesal dan pembuat masalah ini akan menulis surat yang begini dramatis. Astaga! Karena kau, aku jadi begini cengeng tahu!

Oba-chan...

Kau pasti tahu dimana aku ketika kau menemukan surat ini. Dan alasan surat ini ada. Mungkin ketika kau menemukan suratku ini, aku sudah tidak ada di sini lagi. Mungkin aku sudah terbang begitu tinggi dan tak akan kembali lagi. Pasti sudah ada malaikat bersayap putih yang menjemputku pergi. Oh! Atau kau ingin aku dijemput malaikat bersayap hitam? Kau selalu bilang begitu kalau aku berbuat nakal. Makanya aku membencimu kalau kau sudah marah-marah padaku. Huh!

Tapi Oba-chan... ketika kau membaca surat ini, aku sama sekali tidak berbohong. Semua yang kukatakan di dalam surat ini adalah benar. Kenapa aku menulisnya? Sebab aku terlalu malu untuk mengatakannya secara langsung padamu. Aku terlalu pengecut untuk meminta maaf padamu karena semua perbuatanku.

Selama ini, aku selalu menganggapmu wanita menyebalkan. Nenek yang menyeramkan. Dan segala macam ejekan mengerikan untuk wanita sepertimu. Yang selalu memarahiku dan mengomeliku. Awalnya aku sama sekali tidak mengerti kenapa kau begitu membenciku. Kenapa kau begitu suka memarahiku? Aku tidak mengerti. Aku sering berpikir, apa mungkin aku ini selalu berbuat salah di depanmu? Dan kupikir bukan itu. Karena suatu saat, kau akan baik padaku, seperti seorang ibu.

Dan ketika aku akhirnya tahu semuanya, fakta tentang kelahiranku... aku jadi mengerti kenapa kau membenciku.

Karena akulah satu-satunya penyebab kematian satu-satunya keluarga yang kau miliki. Satu-satunya kakak yang begitu kau cintai. Karena aku adalah bekas luka yang sangat menyakitkan untukmu. Bekas luka yang tak mungkin bisa hilang.

Sejak itu aku sangat merasa bersalah padamu.

Ketika aku merasa tak punya ibu dan sendirian, kau datang dan menjadi ibuku untuk menemaniku. Kau memelukku dan menjagaku sepanjang waktu ketika aku sendirian dan merasa tidak memiliki siapapun. Selama 17 tahun ini kau sudah berusaha jadi ibu yang baik untukku. Dan sayangnya aku terlambat menyadari itu. Terlambat menyadari betapa banyak yang kau korbankan untukku.

Oh, aku yakin kau sedang berlinangan air mata karena membaca surat ini. kau tahu kalau aku pandai mengarang dan merangkai kata-kata. Jadi pasti kata-kata yang kupakai ini menyentuh hatimu kan? Hehe...

Dan sebenarnya aku mengetahui semua ini dari Ichigo. Oh Oba-chan. Laki-laki itu benar-benar mencintaimu! Dia yang menyadarkanku tentang dirimu.

Aku tidak akan bohong. Aku memang sempat marah pada kalian. Kenapa kalian menutupi semua ini dariku. Padahal kau sudah tahu aku mencintai laki-laki itu lebih dari apapun. Dan Ichigo juga sama. Dia tahu aku menyukainya. Tapi akhirnya... alasan kenapa aku dan Ichigo tak mungkin bersama itu, karena kami saudara sedarah. Alasan klasik dan alasan konyol. Tapi kemudian aku paham. Mungkin... Ichigo memang ditakdirkan untukmu ya. Untuk di saat seperti ini. ketika aku sudah tidak ada, Ichigo akan menemanimu. Menghabiskan hari tuamu. Jadi kau tidak sendirian lagi.

Oba-chan...

Bahagialah bersama Ichigo. Meski kalian banyak perbedaan, tapi bahagialah. Jangan menangis lagi. Jangan bersedih lagi. Jangan tumpahkan air matamu lagi.

Aku akan mendukung kalian di mana saja. Karena aku akan jadi malaikat untuk kalian. Walaupun sulit, berjuanglah Oba-chan. Egoislah untuk kali ini. jangan seperti Ibuku. jangan seperti dia. Kalau Ibuku sanggup egois, tentu semua ini tak akan pernah terjadi. Tentu kita semua akan bahagia hingga akhir nanti. Dan kau... tidak perlu menjadi nenek menyeramkan untukku.

Baiklah... sepertinya aku terlalu banyak mengoceh. Sampaikan salam perpisahan terakhir untuk Tou-chan, Ichigo, teman-temanku, dan... Tou-san. Katakan pada Tou-san, maafkan aku karena meninggalkannya. Tapi pertemuan singkat dengannya benar-benar berarti untukku. Karena aku hingga akhir selalu bahagia. Kebahagiaan selalu mengelilingiku. Aku tidak akan pernah melupakan kalian.

Aku sudah tak sabar bertemu dengan ibuku. walaupun wajahmu mirip dengan Ibuku, tapi aku jamin ibukulah yang paling cantik dan paling baik. Akhirnya... aku bisa bertemu dengan ibuku. Aku akan bercerita padanya mengenai banyak hal. Oh, aku juga akan mengadukanmu pada ibuku karena sudah melakukan banyak kekerasan padaku. Biar kau nanti dimarahi oleh Ibu. Aku yakin ibu pasti sangat mencintaiku.

Ibu... akhirnya kita bertemu juga.

Senna.

.

.

*KIN*

.

.

Rukia memeluk erat-erat kertas-kertas itu. Tidak menyangka bahwa keponakannya satu itu benar-benar punya hati yang begitu besar. Setidaknya... Senna sudah memaafkannya dan mendukungnya. Dan Rukia bahagia, karena ternyata... hingga akhirpun Senna sangat bahagia. Benar-benar bahagia.

.

.

*KIN*

.

.

"Wajahmu buruk sekali Rukia. Kau menangis lagi?"

Rukia mengangkat wajahnya melihat kakak iparnya di depannya. Duduk di meja makan pagi ini. Dan ini sudah hari kedua semenjak kematian Senna. Byakuya memang sempat merasa terpukul dan menangis juga. Tapi, Byakuya cukup tenang. Akhirnya Hisana bisa bertemu dengan anaknya. Anak yang diperjuangkannya hingga akhir dan mengorbankan nyawanya sendiri. Semua memang berakhir. Dan tentunya dengan balasan yang besar. Sangat besar malah.

"Tidak apa-apa Nii-sama. Aku baik-baik saja."

"Bagaimana kalau lusa kau ikut denganku. Kita pergi ke Eropa."

Rukia mengangkat wajahnya dan menghentikan kegiatannya mengoles selai di roti tawarnya. Eropa? Mendadak sekali.

"Nii-sama?"

"Aku tahu banyak sekali kenangan buruk di sini untukmu. Jadi, kita pergi saja dari sini dan memulai hidup baru. Aku akan membuka cabang perusahaan di sana dan kita bisa hidup normal. Kau bisa mencari pria baik-baik di sana. Kita lupakan semua yang terjadi di sini."

"Nii-sama. Apa maksud Nii-sama? Kenapa mendadak seperti ini."

"Ini bukan mendadak. Sudah lama aku merencanakan ini. sebenarnya, aku ingin setelah Senna lulus SMA, kita semua pergi dari sini. Tapi ternyata, rencana tidak sesuai harapan. Jadi sekarang... ini kesempatan kita."

Rukia menunduk ragu. Meninggalkan... meninggalkan...

"Rukia..."

Eropa... itu tempat yang jauh kan? Sangat jauh malah. Haruskah Rukia mengambil keputusan ini? memang ada begitu banyak kenangan buruk di sini. Semua kenangan buruk. Tapi tak semuanya kenangan di sini buruk. Tidak semuanya. Dan Rukia...

"Atau kau tidak ingin meninggalkan bocah itu?"

Rukia terkesiap dan mengangkat wajahnya. Reaksi terkejut dan kaget.

"Nii-sama?"

"Kau pikir aku tidak tahu? Bocah yang satu sekolah dengan Senna. Anak dari Kurosaki itu. Aku tidak tahu hubungan apa yang terjadi di antara kalian. Tapi bocah itu mengatakan kalau kau kekasihnya. Aku bahkan tidak habis pikir bagaimana kalian bisa berkenalan. Selama kau di rumah sakit, bocah itu terus berada di sana untuk menemuimu. Dan tentu saja aku tidak suka dia."

Jadi itukah alasan kenapa Byakuya melarangnya keluar dari kamar dan menaruh penjaga di kamarnya waktu itu?

"Memang... ada yang salah dengan hubungan kami?" akhirnya suara Rukia keluar juga. Dia memang mengerti. Banyak perbedaan dan kesalahan dalam hubungan mereka. Tapi itu bukan alasan sama sekali kan?

"Tentu. Banyak kesalahan dalam hubungan kalian. Usia kalian terlalu jauh. Dia juga masih 17 tahun. Kau tidak pantas untuknya. Mungkin saat ini dia hanya coba-coba bersamamu. Tapi lihat beberapa tahun nanti. Ketika kau sudah berubah tua dan keriput, dia akan menyesal bersamamu dan mencari wanita lain yang seusia dengannya atau bahkan lebih muda darinya. Hubungan kalian saat ini, hanyalah hubungan semu."

Yah. Itu benar. Semuanya terlalu semu dan tak mungkin. Walaupun Rukia percaya Ichigo akan terus mencintainya, tapi tidak mungkin laki-laki itu mau dengannya setelah beberapa tahun nanti. Dan ketika umur Rukia sudah jauh berubah tua dan Ichigo nanti masih begitu muda, hubungan mereka mungkin akan goyah karena akhirnya Ichigo menyesal pernah bersamanya. Yah. Semua ini... Cuma semu belaka.

"Apa pernah kau memikirkan hal ini sebelumnya saat menjalin hubungan dengan bocah itu? Selain banyak kesalahan dan perbedaan, apa kau sanggup menjadi menantu dari orang yang menyakiti kakakmu? Apa kau pikir orang itu akan merestui hubunganmu dengan anaknya yang masih sangat muda itu? Berpikirlah yang waras Rukia. Kau berbeda dengannya. Jadi... carilah pria yang seusia denganmu. Bocah itu, tak akan pernah serius denganmu. Jangan menghancurkan masa depan bocah itu."

Rukia tetap diam. Dia selama ini sudah terlalu banyak berpikir. Sungguh. Dia sudah terlalu lelah berpikir dan mempertimbangkan segalanya. Dan itu cukup membuat kepalanya sakit.

"Besok aku tunggu jawaban baik darimu," tutup Byakuya seraya beranjak dari tempat duduknya.

.

.

*KIN*

.

.

Pagi ini Rukia menaruh ranting-ranting kecil bunga sakura itu di tepi pantai. Ranting pohon sakura yang berisi beberapa kelopak sakura itu sudah dibawa pergi oleh gulungan ombak. Bunga-bunga itu berhamburan di laut biru kehijauan ini.

Rukia tak menyangka di sinilah terakhir Senna. Angin musim semi berhembus begitu kencang. Benar-benar hari yang indah untuk hari terakhir Senna. Saat bunga-bunga sakura ini bermekaran dengan indahnya. Mirip mendiang kakaknya yang juga menyukai bunga dengan kelopak kecil berwarna pink ini. Seluruh pohon sakura tak memiliki daun. Tapi semua kelopak pohonnya adalah bunga cantik ini. Senna pergi ketika bunga-bunga itu mengiringi kepergiannya.

"Rukia..."

Rukia menoleh dan mendapati bocah itu sudah berdiri di belakangnya. Wajahnya begitu sumringah. Walaupun beberapa hari lalu dia juga sempat depresi karena sebagai orang terakhir di sisi Senna. Tapi dia tak menyesal. Ada banyak hal yang dibagikan Senna padanya. Demikian juga dirinya. Dan Senna sendiri sudah bersedia mendoakan kebahagiaannya dengan wanita yang dia cintai melebihi dirinya sendiri.

"Kupikir kau akan terlambat," ujar Rukia sambil berbalik memandangi pemuda tinggi ini.

Hari ini hari Sabtu. Dan sekolah libur. Ichigo mengenakan jaket berwarna ungu, kaos ketat berwarna putih dan celana jeans. Juga sepatu keds-nya.

"Aku nyaris satu minggu tidak bertemu denganmu. Bagaimana mungkin aku bisa terlambat. Apa kau baik-baik saja?"

"Hmm... sepertinya aku masih belum baik-baik saja. Aku masih begitu terpukul."

"Semua akan segera berakhir."

Rukia diam dan kemudian kembali berbalik menghadap pantai. Ichigo berjalan sedikit menuju ke samping wanita mungil ini.

"Aku ingin... setiap tahun di hari peringatan Senna, memberikan bunga sakura itu di sini untuknya. Dia sangat menyukai bunga itu. Kalau bisa..."

"Apa maksudmu? Tentu saja kau pasti―"

"Karena aku akan ke Eropa. Besok."

Mata Ichigo membelalak lebar. Wanita itu mengatakan Eropa dengan wajah biasa dan santai saja. Apa maksudnya itu? Apa Rukia baik-baik saja dengan kata-kata itu.

"Eropa? Eropa kau bilang? Tapi... untuk apa?"

"Menetap di sana. Mungkin..."

Dengan kesal Ichigo membalik tubuh kekasihnya itu. Kekasih...

Mencengkeram erat kedua bahu mungilnya dan mengguncangnya.

"Kenapa Rukia? Kau sudah janji tidak ingin pergi kemana-mana kan? Kau janji kau tidak akan meninggalkanku! Kau tidak ingin seperti kakakmu kan Rukia?"

"Karena aku mulai berpikir. Bahwa hubungan kita ini adalah kesalahan."

"Kesalahan?" ulang Ichigo.

"Ya. Kesalahan. Tidak ada jaminan kau selamanya akan mencintaiku kan? Beberapa tahun lagi kau pasti akan menyesal bersamaku ketika aku berubah jadi tua dan mengerikan. Kau pasti akan berpikir bahwa sia-sia bersamaku dan memilih untuk mencari gadis lain yang―"

"Demi Tuhan Rukia! Aku tidak seperti itu! Kau pikir kenapa aku mau bersamamu sejauh ini kalau aku main-main! Kenapa kau jadi begini?"

Rukia memandang lurus ke mata cokelat yang menatapnya penuh emosi itu.

"Kau... masih muda Ichigo. Usiamu baru 17 tahun. Dan aku... sudah 30 tahun."

"Aku ingat kita sudah selesai membicarakan perbedaan umur ini!"

"Dan aku... tidak mungkin selamanya sanggup bersamamu. Kau pasti akan kecewa kalau memilihku. Mulai sekarang lupakan aku saja. Kau... bisa mencari gadis lain yang lebih sesuai untukmu."

"Sekarang siapa yang bermain-main? Aku atau kau? Apa selama ini kau hanya mempermainkanku karena aku masih muda dan labil? Kau berpikir aku hanyalah bocah yang mudah bosan?"

"Ya. Kau memang seperti itu Ichigo."

"Katakan alasannya Rukia!"

"Karena aku tidak mau menghancurkan masa depanmu."

"Masa depanku justru hancur tanpamu!"

Rukia yang menghadapinya dengan emosi yang datar, sedangkan Ichigo yang menghadapinya dengan emosi yang meledak-ledak. Ini memang harus diakhiri. Rukia tak sanggup selamanya seperti ini. Di antara banyak tekanan.

"Aku tetap akan pergi Ichigo."

Seketika itu pula Ichigo mulai merasa tak sanggup lagi menahan wanita yang berusaha ingin pergi darinya ini. Entah kenapa Ichigo mulai merasa bahwa Rukia yang sekarang terlalu keras kepala dan sulit untuk digoyahkan.

"Berapa lama?" lirih Ichigo kemudian setelah melepas cengkeramannya di lengan Rukia.

"Mungkin aku tidak akan kembali."

"Tidak. kau pasti akan kembali kemari. Aku akan menunggumu. 10 tahun, 20 tahun, bahkan 50 tahun sekalipun, aku tetap akan menunggumu. Dan aku akan membuktikan padamu kalau aku tidak pernah menganggap hubungan kita mainan."

"Kau tak akan sanggup Ichigo."

"Kau tak akan tahu sampai dimana kesungguhanku bukan? Kalau kau mau pergi, kau bisa pergi. Tapi aku tetap akan di sini menunggumu. Aku yakin kau pasti akan kembali."

"Kumohon jangan begitu. Kau berhak bahagia dengan gadis lain yang lebih―"

"Karena kau tak mungkin melupakanku. Kau tak mungkin semudah itu melepaskanku. Pasti ada alasan kenapa kau harus pergi. Tidak apa-apa Rukia. Pergilah. Kalau kau memang harus pergi."

"Kenapa kau seperti ini?" akhirnya Rukia menyerah juga.

"Karena aku lebih mengenalmu daripada dirimu sendiri. Baiklah. Aku tidak akan mengucapkan selamat tinggal. Tidak juga mengantarmu ke bandara. Tidak akan mengatakan apapun. Aku percaya kau akan kembali. Kau pasti kembali Rukia."

Ichigo berbalik meninggalkan Rukia sendiri di sana. Rukia langsung terisak dan menangis hebat.

"DASAR ICHIGO BODOH! KAU BODOH! BODOH SEKALI! DASAR BODOH!" pekik Rukia dan terus memaki Ichigo, menghentakkan kakinya di pasir pantai itu, mengepalkan tangannya sekencang-kencangnya. Kenapa ada laki-laki yang begitu bodoh untuknya? Kenapa ada laki-laki yang begitu keras kepala untuk dirinya? Kenapa ada laki-laki―

Cup!

Mata Rukia terbelalak lebar ketika sepasang tangan besar menangkup wajahnya dan mencium bibirnya begitu lembut. Yang terlintas di depan matanya adalah wajah tampan bocah itu yang begitu dekat dengannya. Wajah tampan yang selama ini mengisi hatinya. Mata cokelatnya tertutup rapat sambil terus memagut bibirnya di bibir mungil Rukia. Rukia diam tak bisa membalasnya. Tubuhnya terlalu kaku untuk mencerna semuanya. Beberapa detik kemudian Ichigo menjauhkan bibirnya. Hanya sedikit. Membuka matanya pelan dan menatap sendu mata ungu kelabu yang memikatnya itu.

"Aku mencintaimu Rukia. Sangat mencintaimu," bisiknya. Dan suara itu cukup membuat Rukia mendengarnya.

Rukia kembali terisak dan membiarkan pemuda itu sekali lagi menyentuhkan bibirnya ke bibir mungilnya. Pelan-pelan Rukia membalas ciuman itu. Tidak menuntut dan tanpa nafsu. Ciuman yang menenangkan dan lembut.

Dan itulah kali terakhir Rukia bertemu pemuda itu.

Pemuda yang sempat mengubah hidupnya. Pemuda yang membawanya ke dalam hidup yang lebih baik. Pemuda yang menghentikan segala niatan buruknya. Pemuda yang mengenalkannya betapa indahnya sebuah cinta. Pemuda yang mencerahkan harinya. Dan pemuda... yang menghapuskan balas dendamnya.

Dan Rukia, tidak pernah berjanji akan kembali untuk pemuda itu. Tidak pernah.

.

.

*KIN*

.

.

7 years later...

"Oi Ichigo!"

Pria berusia 25 tahun dengan dandanan mirip pegawai kantoran itu, kemeja, celana kain, sepatu vantofle, astaga! Ichigo tak pernah merasa begini dewasa sebelumnya.

Tapi setelah tujuh tahun semuanya berubah seketika.

Dandanannya yang biasa amburadul dan cuek kini diperbaikinya pelan-pelan. Apalagi setelah dia lulus dari fakultas kedokteran, permintaan terakhir Senna, Ichigo berubah jadi dewasa.

Dan seperti terakhir kali tujuh tahun yang lalu, Ichigo berjanji akan berubah jadi pria yang dewasa dan pantas.

Meski selama tujuh tahun ini, sama sekali tidak pernah ada kabar dari wanita itu. Ichigo tak pernah berniat mencari tahu. Dia hanya percaya wanita itu akan datang walaupun entah kapan. Pasti dia akan datang dengan cara apapun.

Tapi, selama ini wanita itu memang tidak pernah kembali walau seharipun. Dia tak pernah kembali kemari. Bahkan ketika hari peringatan kematian Senna pun wanita itu tak kembali. Wanita itu... benar-benar pergi dan menghilang terlalu jauh. Ichigo bahkan tak tahu dimana wanita itu sebenarnya.

"Hei Pak Dokter! Apa segitu sibuknya sampai kakak sendiri mengajak keluar sulit sekali!"

Inilah dia. Shiba Kaien.

Tiga tahun lalu dia kembali ke Tokyo. Kembali menjalani perusahaan Kurosaki. Ichigo sudah berniat menjadi dokter. Jadi sama sekali tidak tertarik dengan segala macam perusahaan itu. Karena perusahaan itupun banyak kenangan untuknya. Kaien baru mengetahui kalau wanita itu sudah tidak tinggal di Tokyo sekembalinya dia dari Austria itu. Sedikit kecewa memang tidak bertemu terakhir kalinya. Tapi... sejak dua tahun lalu dia sudah menjalin hubungan serius dengan seorang gadis yang berbeda lima tahun darinya. Namanya kalau tidak salah Miyako. Gadis cantik berambut panjang itu adalah salah satu karyawan di sana. Ichigo tak menyangka akhirnya kakaknya ini menikah juga besok.

"Tadi ada jadwal serius tahu! Kenapa mendadak mengajak minum sih? Besok kau mau menikah... tidak pesta lajang dulu?"

Tradisi di Tokyo. Pesta lajang untuk orang yang akan menikah. Melepas masa lajang.

"Itu kan sudah minggu lalu. Aku hari ini khusus ingin bicara denganmu. Kau kan sudah jadi pria dewasa."

Ichigo duduk di meja bar di sebelah kakaknya ini. tak begitu banyak perubahan yang dialami Shiba Kaien. Masih tetap santai dan tenang seperti dulu.

Setelah memesan minuman, mereka berdua mulai terlibat pembicaraan serius.

"Kau sudah menghubunginya?" buka Kaien sambil meneguk martini-nya.

"Siapa?" tanya Ichigo acuh.

"Kuchiki-lah! Kau bilang dia akan kembali. Kau masih tidak menghubunginya selama tujuh tahun ini?"

"Tidak," jawab Ichigo singkat sambil meneguk wine-nya.

Bagaimana menghubunginya kalau Ichigo sendiri tidak tahu cara menghubunginya. Wanita itu menghilang. Dan... tidak tahu berada di mana.

"Jadi... hubungan kalian bagaimana? Kau yakin dia masih mencintaimu? Jangan-jangan dia sudah menikah di sana."

"Aku percaya dia. Perasaan kami belum berubah."

"Meskipun dirimu sudah jauh lebih dewasa, ternyata kau masih kekanakan ya? Kenapa kau begitu yakin? Wanita itu mudah berubah hatinya. Mungkin dia benar-benar tidak mencintaimu lagi."

"Lalu... ke arah mana pembicaraan ini?" sela Ichigo mulai bosan. Walaupun Shiba Kaien masih memiliki perasaan pada wanita Kuchiki itu, tapi Kaien tak bisa lagi mencintainya seperti di awal. Kaien mulai berpikir tidak mungkin perasaan Kuchiki itu akan berubah. Karena Kuchiki adalah wanita paling keras kepala. Mungkin Kuchiki itu sendiri akan merasa bahagia bila mendengar Kaien akan segera menikah.

"Tou-san mulai khawatir padamu. Dia ingin kau segera mencari kekasih. Sepertinya dia mulai terpengaruh sejak pernikahanku. Dan dia ingin kau juga segera menikah."

"Astaga! Ternyata itu lagi."

Dan bukan hal aneh lagi Ichigo mulai dipaksa mencari jodoh. Banyak gadis yang mulai dikenalkan oleh ayahnya, teman-temannya termasuk Kaien. Tapi tak satupun menarik hatinya. Yah kalau Ichigo bisa semudah itu beralih, dia tak mungkin memerlukan waktu selama ini untuk menunggu seseorang kan?

"Aku sudah yakin kau akan bilang begitu. Ya sudahlah. Kita minum saja. Siapa tahu di antara teman Miyako nanti kau akan bertemu dengan salah satu gadis cantik yang masih lajang. Besok jangan terlambat ya."

"Sepertinya aku akan terlambat."

"Hah? Kenapa? Besok itu hari pernikahanku tahu!"

"Karena besok adalah hari peringatan untuk Senna."

Kaien langsung diam mendengar nama itu. Tujuh tahun ternyata cukup lama ya.

.

.

*KIN*

.

.

Angin pagi ini begitu kencang berhembus. Ini musim semi. Musim semi yang ketujuh untuk Ichigo meletakkan sekumpulan ranting bunga sakura di pantai ini. Ichigo hanya berharap ada ranting lain yang akan datang sebelum dirinya. Tapi tak pernah ada ranting lain itu.

Ichigo menghentikan mobilnya di pinggir pantai. Jalanan cukup sepi. Mungkin karena masih pagi. Dan selama tujuh tahun Ichigo akan seperti ini. menemui Senna.

Ichigo sudah bersiap dengan tuksedo hitamnya. Dia bermaksud akan langsung pergi ke Tokyo Hall untuk menghadiri pernikahan kakaknya itu.

"Ichigo!"

Ichigo menoleh begitu namanya dipanggil. Seorang gadis berambut hijau pendek baru turun dari sebuah taksi. Gadis itu mengenakan mantel bulu berwarna putih. Dan dibaliknya ada sebuah gaun pesta ketat di atas lutut berwarna hijau tosca. Gadis itu melambai ke arahnya dan berlari menuju Ichigo. Apa dia tidak keseleo dengan hak setinggi itu?

"Rupanya Kaien-Nii benar. Kau di sini."

"Apa yang kau lakukan Nozomi?"

Kujo Nozomi. Anak dari relasi ayahnya. Usianya baru 23 tahun. Cukup muda. Dia juga lulusan Oxford University. Setelah lulus dari sana, dia tidak banyak melakukan kegiatan berarti selain bersenang-senang dengan uang orang tuanya. Rencananya dia bulan depan baru akan masuk ke perusahaan. Dan gadis inilah salah satu gadis yang dikenalkan Isshin pada Ichigo.

"Isshin Oji-san bilang kalau kita sama-sama saja ke Tokyo Hall. Dan aku tidak keberatan kok."

Ichigo memijat pelipisnya. Oyaji bodohnya itu pasti bertingkah yang tidak perlu. Isshin juga tahu tentang hari ini. tapi biasanya Isshin akan datang sehari setelah peringatan kematian ini. entah kenapa.

"Baiklah. Setelah aku meletakkan bunga ini."

Ichigo berjalan menuju pantai diikuti dengan gadis cantik itu. Tapi gadis itu langsung berlari mengikuti Ichigo. Langkahnya sedikit terseok.

"Maaf, bisa tunggu aku? Sepertinya aku kesulitan..."

Ichigo berhenti dan menunggu gadis itu. Tentu saja sulit. High heels di pasir?

"Untuk apa membawa bunga ini kemari?" tanya Nozomi setelah menggaet lengan Ichigo.

"Untuk seseorang yang berarti untukku."

"Berarti untukmu? Apa dia kekasihmu?"

"Bukan. Lebih dari itu."

Nozomi diam. Dia jarang mendengar Ichigo membicarakan tentang seseorang yang berarti untuknya.

"Siapa?" kejar Nozomi lagi.

"Saudara perempuanku."

"Yuzu dan... Karin?"

"Tidak. bukan mereka."

"Oh... lalu dimana dia?" Nozomi mengedarkan pandangannya mencari sosok perempuan yang dimaksud oleh Ichigo.

"Sudah meninggal."

"Ehh? Tenggelam?"

"Tidak. bukan tenggelam. Dia memang meninggal di sini."

Dari jauh Ichigo melihat seseorang yang berdiri di sana. Sendirian. Sepertinya seorang wanita. Dengan syal pinknya yang berkibar, dress ungunya selututnya, sepatu boots berwarna cokelat dan jaket kuningnya. Wanita itu mengenakan topi dengan pinggiran lebar. Dia berjongkok sebentar untuk menaruh sesuatu di sana. Kemudian sesaat setelah Ichigo sampai, wanita itu berbalik pergi. Wajahnya tidak kelihatan karena mengenakan kacamata hitam.

Dan begitu Ichigo tiba di pinggir pantai itu, dia melihat seikat ranting sakura yang baru saja hanyut terbawa gulungan ombak. Selama tujuh tahun ini belum ada yang menaruh bunga sakura selain dirinya di sini.

Dengan panik Ichigo berbalik dan melihat wanita itu sudah berdiri di pinggir jalan.

"Tunggu dulu Ichigo!" pekik Nozomi.

Ichigo langsung meninggalkan Nozomi dan berlari mengejar wanita itu. Sayangnya wanita itu sudah naik taksi.

Ichigo jamin 100 persen. Tidak mungkin salah!

Itu pasti Rukia.

.

.

*KIN*

.

.

"Kuchiki di sini? Mana mungkin... aku sudah berdiri di sini hampir satu jam. Tidak ada dia menampakkan diri," elak Kaien.

Buru-buru Ichigo meletakkan bunga sakura itu dan tak sempat bicara banyak pada Senna. Dia langsung pergi, tentunya membawa Nozomi juga untuk sesegera mungkin ke Tokyo Hall. Kalau matanya tidak salah, itu pasti Rukia.

"Tapi aku yakin dia ada di sini! Pasti satu-satunya alasan dia di sini adalah kau!"

"Hah? Aku? Memangnya aku kenapa?"

"Kau mengiriminya undangan via e-mail kan?" tuntut Ichigo.

"Iya sih. Tapi aku tidak yakin dia baca karena tidak ada balasan darinya―ehh! Oi Ichigo!"

Setelah bertanya pada kakak bodoh itu, ternyata tetap sama. Sejak dulu tidak berubah bodohnya. Ichigo segera berlari ke meja penerima tamu. Mungkin ada sedikit petunjuk.

"Apa kalian melihat seorang wanita dengan topi lebar, jaket kuning dan dress berwarna ungu datang kemari? Dia memakai syal pink juga," jelas Ichigo pada penerima tamu tersebut.

Kedua wanita itu saling berpandangan dan bertanya satu sama lain. Lalu satu wanita agak tinggi teringat sesuatu.

"Oh, gadis mungil itu ya? Dia memang ada di sini. Tapi hanya menitipkan kado ini."

Wanita agak tinggi itu memberikan sebuah kotak sedang yang dilapisi kertas kado berbentuk bunga sakura. Ichigo melihat sebuah note kecil di atas sana.

Maaf Senpai, cuma ini yang bisa kuantarkan. Semoga bahagia.

Kuchiki. Rukia.

Ichigo tersenyum bahagia. Dia memang pulang kemari. Pasti pulang kemari. Ichigo yakin itu.

Setelah mengucapkan terima kasih, Ichigo segera melesat untuk mencari wanita itu. Pasti belum jauh. Pasti!

Begitu sampai di luar hall, Ichigo melihat wanita dengan pakaian yang sama tengah berdiri di pinggir jalan. Sepertinya tengah memanggil taksi.

Ichigo... tidak ingin membiarkan takdir begitu lama memisahkan mereka. Tidak ingin. Sungguh. Kalau Tuhan nyata, Ichigo sungguh berharap jangan mempermainkan mereka lagi. Jangan lagi membuat takdir yang mengesalkan seperti ini.

Ichigo berlari sekencangnya dan menggapai lengan wanita itu sebelum dia masuk ke dalam taksi. Wanita itu terkesiap dan langsung menoleh begitu lengannya dicegat seseorang. Begitu membalikkan tubuh mungilnya, Ichigo langsung mengenali wajah yang masih memakai kacamata itu. Pelan-pelan Ichigo menarik kacamatanya turun, walaupun salah orang Ichigo tidak akan berhenti menurunkan kacamata hitam itu.

Tapi ternyata...

Kedua bola mata ungu kelabu itulah yang menyambutnya. Membelalak lebar dan penuh dengan keterkejutan.

"Apa kubilang. Kau pasti pulang... Kuchiki Rukia."

.

.

*KIN*

.

.

Ichigo mengabaikan keterkejutan wanita itu dan menariknya paksa masuk ke dalam mobilnya sendiri. Wanita itu masih diam dan tidak banyak mengatakan apapun. Ichigo juga tidak membawanya menemui Kaien lagi. Karena toh masih bisa lain waktu. Kerinduan selama tujuh tahun ini sudah begitu tak tertahankan. Benar-benar menyebalkan merindukan seseorang seperti ini. kalau Ichigo tidak bertahan, mungkin dia sudah lama menjadi gila dan menyusul wanita ini. Tapi kepercayaan selama tujuh tahun ini sudah dibayar dengan pertemuan mereka kembali.

Ichigo menghentikan mobilnya di pinggir pantai tempat awalnya tadi.

Rukia masih menunduk bingung. Pelan-pelan Ichigo membalik bahu wanita itu. Wajahnya masih sama. Bahkan bertambah cantik seperti biasanya. Rambutnya yang bertambah panjang itu malah tidak membuatnya semakin tua. Bahkan semakin cantik. Ichigo tidak menyesal menunggunya selama tujuh tahun. Kuchiki Rukia kembali dengan begitu cantik untuknya.

"Lepaskan topimu ini! kau bertambah tua Rukia!" rutuk Ichigo sambil menarik topi lebar itu dari kepalanya.

"Hei! Kau lupa aku memang sudah tua! Aku sudah 37 tahun tahu!" maki Rukia.

Tiba-tiba Ichigo memeluk tubuh mungil itu. Mereka bahkan masih di dalam mobil.

"He-hei! Ichigo..." ronta Rukia.

"Diamlah. Tujuh tahun Rukia. Kalau kau belum pikun, kita sudah tujuh tahun tidak bertemu."

Rukia berhenti meronta dan membiarkan bocah―atau haruskah seorang pria?―yang memeluknya begini. Rukia diam-diam menyandarkan sebelah pipinya di bahu tegap pemuda ini. Wangi Ichigo masih sama. Ichigo mencium tengkuk Rukia dengan begitu lama. Mengusap punggung wanita itu berkali-kali.

"Selamat datang kembali... Rukia," lirih pemuda ini.

Ichigo melepas pelukannya dan menatap intens bola ungu kelabu itu. Yang masih memandang datar padanya.

"Apa kau... akan pergi lagi?" tanya Ichigo.

"Menurutmu?"

"Oh ayolah Rukia! Jangan membuatku gugup! Kalau kau pergi lagi apa aku harus mengikatmu di dalam rumahku memastikan kau tidak pergi lagi?"

Rukia tertawa pelan.

"Haruskah kau semengerikan itu? Apa selama tujuh tahun ini kau berubah jadi dokter psikopat?"

"Kau... tahu darimana aku jadi dokter?" kata Ichigo terbata. Seingatnya Rukia tak pernah mengabari atau memberi kabar. Jadi... bagaimana mungkin...

"Kau... sudah janji pada Senna akan jadi dokter kan?" kata Rukia pelan.

Ichigo langsung terdiam. Sepertinya dia memang pernah bilang begitu pada Rukia.

"Lalu... apa kau akan pergi lagi?" kata Ichigo sendu.

"Tujuh tahun lalu... aku menunggu Nii-sama mengijinkanku memilih jalanku. Makanya aku ikut dia. Di sana Nii-sama terus menyuruhku mencari pria baik. Aku memang mencarinya. Tapi tidak ada satupun yang cocok untukku. Akhirnya dua tahun lalu Nii-sama menyerah dan membiarkan memilih jalanku sendiri."

"Dua tahun? Artinya kau sudah di sini dua tahun?"

"Tidak. Dua tahun lalu aku ada di Korea Selatan. Di sana aku bekerja sebagai penerjemah Bahasa Jepang dan tour guide. Cukup menyenangkan."

"Kau... jadi tour guide?"

"Dan sepertinya Nii-sama menyerah dan dia membiarkanku memilih jalanku sendiri. Mungkin dia masih khawatir padaku saat itu. Apalagi karena kematian Senna yang mendadak."

"Artinya... kau tidak akan pergi lagi kan?" pinta Ichigo memohon.

"Lalu untuk apa aku kemari hah? Senpai sudah menikah. Jangan-jangan kau juga sudah menikah!" gerutu Rukia.

"Apa?"

"Tadi kulihat di pantai kau bersama seorang wanita cantik. Dia isterimu ya?"

"Berarti kau mengenaliku di pantai tadi ya?"

"Kenapa kau mengalihkan pembicaraan?"

"Karena kau sudah berpikir yang aneh-aneh! Kalau aku sudah menikah kenapa aku repot-repot mengejarmu hah?"

"Siapa tahu kau cuma―"

Perasaan ini sudah tak tertahankan. Demi apapun. Tidak tertahankan lagi...

.

.

*KIN*

.

.

"Tu-tunggu seben―ahh... hmngghh... Ichigo!"

Setelah puas berkeliling Tokyo, Ichigo langsung membawa pulang Rukia ke apartemen pribadinya. Hari memang beranjak malam, makanya dengan tidak sabaran Ichigo langsung menumpahkan kerinduannya pada wanita ini. Benar-benar kerinduan yang memuncak dan tak terbendung lagi. Selama ini dengan jujur, Ichigo mengatakan kalau dia tak pernah menyentuh wanita manapun. Tidak pernah berkencan dengan wanita manapun selama tujuh tahun. Dan tidak pula melirik wanita manapun selama ini.

Dan di sinilah mereka.

Rukia selalu berakhir di bawah kuasa sang Kurosaki Ichigo ini. Tubuhnya langsung polos dan rata dengan kasur Ichigo. Dan di atasnya pria ini menikmati seluruh tubuh yang tersaji di depan matanya. Kuchiki Rukia kembali menyerahkan seluruh hidupnya pada pemuda ini. Tangan-tangan mereka saling bertautan tiada henti.

"Ichi... gohh..."

Desahan Rukia tak terbendung lagi saat pria ini―dan sekarang Rukia harus belajar memanggilnya begitu―intens memasuki dirinya. Menghentakkan dirinya begitu ceroboh dan tak sabaran. Rasanya sudah begitu lama mereka tak merasakan satu sama lain. Rukia terus memejamkan matanya mencoba meresapi apa yang terjadi di bawah sana. Jari-jarinya semakin rapat bertautan. Menggenggamnya agar tak lepas lagi. Tapi sepertinya justru Ichigo yang tak mau melepaskan tangan Rukia.

Ciuman mereka pun sama intensnya seperti pergerakan licin itu. Lidah pun saling bertautan tiada henti. Ichigo begitu rakus menghisap semua yang ada di Kuchiki Rukia. Entah itu bibirnya atau pun lidahnya. Rasanya masih tetap sama. Meski tujuh tahun berlalu ternyata masih tetap sama. Masih menggoda seperti dulu. Dan masih sama. Ichigo masih tidak rela melepaskannya. Tidak.

"Ahh... sudah Ichi―hmmnhggh!"

"Kau pikir... ini akan berhenti sekarang? Kau harus membayarnya Rukia. Karena meninggalkanku selama tujuh tahun!" perintah Ichigo yang masih setia melakukan pergerakan licin di bawah sana. Rukia hanya mengangguk panik, rasa membakar dan nafsu kian membuncah ketika gerakan itu semakin intens dan semakin cepat.

"Ichigohh!" teriakan Rukia rupanya sudah menyampaikan klimaks terakhirnya. Ichigo sadar itu. Karena itu dia kembali mempercepat langkahnya dan memberikan klimaksnya pada Rukia juga. Mereka berhenti mendadak. Ichigo mengatur nafasnya yang memburu demikian juga Rukia. Lalu tak sabar kembali melahap bibir mungil dan memerah itu. Wajah Rukia pun memerah dengan suksesnya. Sepertinya Rukia juga sama. Sama-sama sudah merindukan rasa ini.

"Aku... mencintaimu Rukia."

.

.

*KIN*

.

.

Seperti biasa, Rukia menyandarkan kepalanya di dada sang pria-nya. Oh... betapa menyenangkannya memanggil pria berambut orange ini sebagai pria-nya.

"Ayo kita menikah."

Rukia mengangkat kepalanya menatap bocah itu. Lagi-lagi bicara sembarangan.

"Apa?"

"Kita menikah. Secepatnya. Bila perlu bulan depan. Ahh tidak! bagaimana kalau minggu depan saja? Kau mau menikah dimana dan bagaimana―"

"Tunggu dulu, tunggu Ichigo," Rukia menghentikan mulut pemuda itu yang mulai berkoar tidak jelas. Rukia mengubah posisinya menjadi duduk menghadap Ichigo yang masih berbaring itu dan mengeratkan selimut di dadanya. Itu kalau Rukia ingat dia dan bocah ini masih belum memakai pakaian apapun.

"Ada apa lagi?" keluh Ichigo kesal sambil mengubah posisinya juga duduk berhadapan dengan Rukia di atas kasurnya.

"Kau ini, aku baru saja kembali setelah tujuh tahun, kenapa kau tiba-tiba―"

"Supaya kau tidak kabur kemana pun lagi! Ayolah Rukia... kita tak akan tahu apa yang akan kakakmu lakukan lagi. Kau... tidak mau bersamaku?"

"Bukan begitu. Usiaku sekarang sudah terlalu―"

"Aku bosan mendengarkan alasanmu soal usia! Kau pikir manusia tidak bertambah tua? Tentu saja bertambah tua. Aku juga akan bertambah tua Rukia. Bukan kau saja. Kita akan semakin tua kalau kau mengulur semua ini. Tujuh tahun kupikir sudah cukup untukmu berpikir. Apa menurutmu setelah kau kembali begini aku akan diam saja?"

Rukia diam memandangi Ichigo. Rukia tak pernah menang dari bocah ini. dia selalu saja tidak menuruti Rukia dan keras kepala. Selalu membantah dan tak mendengarkan apa yang dikatakan Rukia.

"Kau akan menyesal."

"Jadi kita lihat semenyesal apa nanti diriku kalau tidak memilikimu."

"Kau akan sulit meminta ijin dari kakakku."

"Kupikir itu salah satu tantangan dari setiap pernikahan."

"Tiga tahun lagi aku berusia 40 tahun."

"Makanya kita harus mengejar target sebelum kau berumur seperti itu."

Tidak peduli apapun yang Rukia katakan, Ichigo tetap punya jawaban di semua kata-katanya. Rukia tersenyum lebar lalu bergerak pelan memeluk leher pemuda ini.

"Aku menyerah. Lakukan apapun yang kau inginkan."

Ichigo mencium bahu kecil Rukia.

"Terima kasih Rukia. Terima kasih."

.

.

*KIN*

.

.

Ichigo serius. Dia memang mau menikah. Dan rencananya memang bulan depan. Selama beberapa hari di dalam sebulan ini dia sudah melakukan banyak persiapan. Isshin juga tak bisa menghalangi niatan pemuda itu. Karena sejak awal, Isshin sama sekali tidak mempermasalahkan ini. bukan salah anaknya kalau dia harus jatuh cinta pada wanita itu. Isshin tak pernah menentang apapun yang diinginkan Ichigo. Mungkin ini adalah bentuk dari permintaan maaf Isshin karena membuat putranya sedemikian menderita.

Rukia juga sudah bertemu lagi dengan Senpai-nya. Berkenalan dengan isteri senpainya yang begitu cantik itu. Kaien pernah bilang akan berusaha mendapatkan hati Rukia. Tapi di tengah jalan dia berpikir matang. Bahwa Ichigo tak mungkin semudah itu melepaskan Rukia. Dan Rukia, tak mungkin semudah itu melupakan Ichigo. Mereka sudah ditakdirkan bersama.

Mungkin yang paling repot adalah Ichigo.

Dia harus berhadapan dengan Byakuya. Semua yang diperintahkan Byakuya dituruti Ichigo tanpa mengeluh. Dia tahu Byakuya pasti sedang mengujinya. Yah... mendapatkan Kuchiki Rukia memang tak semudah itu. Sejak awal.

Dan akhirnya, setelah setengah bulan berusaha meyakinkan si aristokrat yang tiba-tiba kembali kemari begitu mendengar Rukia akan menikah, akhirnya ijin diperoleh. Byakuya sendiri yang menyerah dengan kegigihan bocah itu.

Dan Rukia tak sanggup memikirkan segirang apa pemuda itu begitu mendapat ijin dari sang kakak.

.

.

*KIN*

.

.

Oh bagus!

Mual dan pusing di pagi hari di hari pernikahannya!

"Rukia-chan? Kau kenapa?"

Miyako. Isteri Kaien yang datang mendampinginya. Pernikahan mereka memang tidak mengundang orang lain. Hanya keluarga saja.

Awalnya Rukia yang keberatan jika ingin mengundang banyak orang. Dan Ichigo menurutinya. Ichigo tak peduli tentang undangan. Asal bisa bersama Rukia, apapun dituruti oleh Ichigo.

Mereka berada di hall kecil. Karena yang datang hanya keluarga saja. Tidak ada pesta besar-besaran.

Rukia akhirnya bisa mengendalikan perasaan tidak enaknya itu.

"Tidak apa-apa, mungkin salah makan."

"Itu bisa gawat. Kalau nanti kau bertingkah aneh saat pengucapan janji."

Rukia mengerti itu. Tapi dia juga tidak mengerti kenapa perutnya mendadak mual begini.

Tapi untungnya semua berjalan dengan baik. Setidaknya begitu setelah pengucapan janji selesai.

Karena begitu berbalik untuk menemui tamu yang hadir, yah... kedua adik kembar Ichigo, Kaien dan isterinya, Byakuya dan Isshin. Semuanya seolah baik-baik saja. Tentu. Semua akan―

"Hueek!"

Semua orang berpandangan panik melihat Rukia. Terutama Ichigo yang berada di sebelah Rukia. Dengan panik, Rukia menutup mulutnya yang tak terkendali itu.

"Rukia... kau..."

"Rukia-nee... kau kenapa mual begitu?"

"Tanda-tanda orang mual di pagi hari biasanya..."

"Astaga! Kau hamil Rukia?"

Dan teriakan terakhir adalah dari senpainya.

Wajah Rukia langsung memerah tak karuan. Rasanya gugup sekali harus menghadapi tuntutan semua orang di sini.

Ichigo yang tak mengerti situasi itu langsung terlonjak kegirangan dan memeluk Rukia seeratnya. Lalu menggendongnya di lengannya sambil berputar-putar saking girangnya.

"Rukia! Kita jadi orangtua loh!" jerit Ichigo di hall kecil itu.

"Dasar bodoh! Jangan segirang itu!" bentak Rukia sambil memukul kepala Ichigo dengan buket bunga.

"Jangan putar-putar Kuchiki begitu bodoh! Dia masih mual! Bagaimana kalau dia muntah hah?" Kaien ikut membentak ketika melihat Rukia yang masih diputar-putar Ichigo itu mendadak memegangi kepala dan mulutnya.

Suasana jadi bertambah kacau ketika Byakuya datang dan langsung menginterogasi Ichigo.

"Bahagialah Oba-chan. Karena di sinipun aku sudah bahagia."

.

.

*KIN*

.

.

FIN

.

.

Sooo saya senang akhirnya ini ending dari cry away. adakah yang menduga kalo IchiRuki akhirnya bakalan nikah? hehehe walo pernikahannya sederhana. karena jujur saya lebih suka pernikahan yang sederhana daripada ngundang ribuan orang yang gak penting. ehehehe

makasih buat semua perhatian senpai pada fic ini selama ini. sungguh saya sangat berterima kasih udah mensupport saya dalam pembuatan fic ini sampai sejauh ini. makasih banyak ya...

ok deh balas review...

kurosaki kuchiki ndak login : makasih udah review senpai... nih ada lemon dikit. hehehe soalnya mau banyak words-nya udah kebanyakan. hehehehe

Ray Kousen7 : makasih udah review Ray... hehehe masa sih? saya suka kok review yang panjang, karena saya suka bacanya hehehe. soal penyakit Senna, mungkin secara kedokterannya sih kayak efek sehabis kecelakaan gitu. tapi saya gak yakin apa beneran ada yang kayak gitu. tapi pecahnya pembuluh darah emang ada dan emang bisa menyebabkan kematian mendadak hehehe... semoga ngerti yaa...

ChappyBerry Lover : makasih udah review senpai... hehehe Senna kan emang perannya flesksibel. bisa baik bisa juga ngeselin. tergantung kebutuhan. hehehe

Zanpaku nee : makasih udah review senpai... heheh iya saya juga, tapi ini tuntutan cerita sih hehehe

snow : makasih udah review senpai... nah apa yang ini update kilat? hehehehe

FYLIN-chan : makasih udah review senpai... nih udah update kilat lum ya? hehehehe

nenk rukiakate : makasih udah review nenk... saya sih pas episode terakhirannya mau nangis, malah banjir banget hehhehe apalagi pas dia bilang dia bakal mati untuk kedua kalinya. duhh nyesek banget...

ika chan : makasih udah review senpai... apa masalah Ruki udah kelar di chap ni? hehehehe

RK-Hime : makasih udah review senpai... kayaknya emang musim ujian ya? hehehe amin... hehehe moga bagus. alasan Byakuya ada di chap ini. hehehe

Kim Na Na : makasih udah review senpai... saya emang ada rencana bikin fic yang terinspirasi dari city hunter. ditunggu aja ya saya ngepublishnya kayaknya minggu-minggu ini kalau gak ada halangan. hehehehe

VANY MALFOY CISSY : makasih udah review senpai... nih udah tahu gak jawabannya Ruki hamil apa kagak? heheheh

Voidy : makasih udah review senpai... ya senpai. saya juga gak berencana bikin sekuelnya. kalo bikin mah jadi cerita yang gimana lagi coba? hehehe Last Rose aja saya masih ngestuck banget. hehehe

Wakammiya Hikaru : makasih udah review Hikaru... nih udah update kilat lum ya? hehehe

Naa terima kasih sekali lagi buat semua senpai yang udah rela hati baca fic ini dari awal sampai akhir. maaf ya kalo selama dalam pembuatan fic ini saya banyak banget salah *plak* namanya aja manusia. hehhe

pokoknya terima kasih sekali lagi deh... hohoho lega akhirnya ada lagi fic saya yang udah tamat. hehehe

Sayonara!