Halo. Untuk chap kali ini, idenya saat melihat keluarga baru hamster Cha nih. Mereka punya anak loh. Umurnya baru dua minggu. Lagi lucu-lucunyaaaa banget. Larinya cepet. Oke, abaikan. Hihihi...
Please enjoy this story, minna!
Memiliki seorang anak adalah keinginan setiap pasangan yang telah menikah. Tak terkecuali pasangan Kuchiki, mereka tentu saja ingin dikaruniai anak yang lucu dan menggemaskan untuk menemani hari-hari mereka. Lalu, ketika keinginan terkabul, akankah itu semua adalah mimpi yang berubah menjadi kenyataan?
Tidak ada hal yang mustahil.
Bleach (Another Story):
Byakuya and Hisana
-#-
-Anata no Egao-
[あなたの笑顔, Your Smile]
-#-
Dua: Halo
Bleach © Tite Kubo
Sore menjelang, matahari baru saja akan kembali ke singgasananya ketika warna langit berubah menjadi keemasan. Hisana duduk di teras samping kediaman Kuchiki sambil memegangi perutnya yang masih rata. Tadi siang ia merasa bahwa kesehatannya kurang baik dari biasanya, jadi ia memutuskan untuk pergi ke divisi empat dan memeriksakan dirinya. Ia sama sekali tidak memberi tahu suaminya bahkan hingga pemeriksaan selesai.
"Kau hamil, Kuchiki-san, selamat."
Kata-kata Unohana-taichou masih terngiang di kepalanya. Hisana masih tidak percaya bahwa dirinya kini tengah mengandung—ada kehidupan kecil di dalam rahimnya, dan ini buah cintanya dengan suaminya, Byakuya Kuchiki.
Sreeeeg.
Pintu digeser, Hisana tak bergeming. Ia masih duduk mematung di tempatnya tanpa menoleh sedikitpun. Adalah Byakuya yang baru saja masuk ke ruang santai di lantai bawah mansion Kuchiki. Melihat istrinya sama sekali tidak bergeming, Byakuya memutuskan untuk menutup pintu kembali, kemudian mendekati sang istri.
"Hisana."
Tidak ada jawaban. Wanita itu masih memandang datar ke arah sudut halaman, dimana ada pasir putih dan beberapa batuan sebagai hiasan. Byakuya mengerutkan keningnya bingung, kemudian merendahkan sedikit tubuhnya dan berbisik di telinga Hisana.
"Hisana Kuchiki."
"A-AH!" Hisana memekik, dan langsung ditahan Byakuya dengan pelukannya dari belakang tubuh wanita itu, tangan Byakuya tepat mendarat di perut Hisana.
"Jangan berisik, nanti kau dimarahi."
"M-maaf, Byakuya-sama, Anda membuat saya terkejut."
"Hmmp," Byakuya menahan sedikit tawanya, kemudian mengecup rambut Hisana, "apa yang kau pikirkan sampai tak menyadari kedatanganku, hn?"
"Bukan hal yang penting, Byakuya-sama."
"Bagiku penting. Katakan."
Byakuya mengeratkan pelukannya, kemudian duduk bersila di belakang Hisana sambil menempelkan dagunya diatas kepala sang istri. Hisana menunduk tersipu sambil mengelus lembut tangan Byakuya yang ada di atas perutnya dan menyandarkan kepalanya ke dada bidang suaminya.
"Sebelum itu, ada yang ingin kutanyakan, Hisana."
"Tentang apa, Byakuya-sama?"
"Kudengar tadi kau pergi ke divisi empat. Apa kau sakit lagi?"
Hisana menggeleng, kemudian menghela nafas panjang.
"Saya pikir begitu, karena saya merasa tidak enak badan, tapi ternyata tidak."
"Dan kau tidak memberi tahuku bahwa kau tidak enak badan. Itu kebiasaan buruk, Hisana."
"Maaf, Byakuya-sama," Hisana menunduk lagi.
Hening.
Suara angin yang berdesir terdengar di telinga pasangan itu. Seekor burung kecil melompat-lompat kecil di halaman rumah mereka, kemudian kembali terbang mengikuti angin. Hisana menarik nafas panjang. Byakuya harus tahu kabar gembira ini.
"Byakuya-sama."
"Hm?"
"Bagaimana menurut Anda jika kita memiliki anak?"
Diam. Andai saja saat ini Hisana tengah saling bertatap muka dengan Byakuya, mungkin Hisana takkan pernah memiliki keberanian untuk berkata seperti ini. Dan andai saja Hisana tengah menatap Byakuya, pasti wanita itu akan tahu bahwa suaminya kini sedang tersenyum tipis.
"Byakuya-sama."
"Kurasa itu bukan ide bagus. Memiliki anak akan merepotkan."
"Begitu..." terdengar nada kecewa di suara Hisana.
"Kenapa kau bertanya begitu? Apa kau hamil?"
"T-tentu saja tidak, Byakuya-sama, itu akan membuat Anda repot."
Byakuya mengangguk pelan, kemudian mengecup rambut Hisana sekali lagi. Wanita itu dapat merasakan desah nafas suaminya setelah itu.
Hening lagi. Bahkan kali ini, angin saja tidak ada.
"Lalu bayi yang ada di dalam sini mau kau apakan?" tanya Byakuya datar, sambil mengelus perut Hisana dengan tangan kanannya.
Sepasang violet Hisana membulat, kemudian ia menoleh, menatap wajah suaminya yang memandangnya dengan segores senyum di wajah. Ketika tangan Byakuya berpindah mengacak lembut rambut segelap malamnya, air mata Hisana menetes.
"Hisana?"
"Byakuya-sama sudah tahu?" Hisana tidak berani menatap wajah suaminya.
"Ya, aku diberi tahu oleh Unohana-taichou."
"Lalu Anda pasti tidak senang, kan?"
Byakuya memegang dagu Hisana dan mengangkat wajah jelita istrinya agar mata mereka bertemu. Hisana takut dengan kata-kata selanjutnya yang akan keluar dari mulut Byakuya. Ia takut suaminya akan memintanya untuk menggugurkan kandungannya.
"Aku tidak bisa lebih bahagia daripada ini, Hisana. Sungguh."
Diam.
Hisana tidak dapat menahan air matanya lagi kali ini. Sama sekali tidak ada kebohongan dari sepasang mata abu-abu itu, suaminya terlihat gembira, sama seperti di hari pernikahan mereka.
"Maaf, kurasa candaanku keterlaluan," Byakuya merengkuh Hisana ke dalam pelukannya, "bagiku memiliki seorang anak adalah sebuah kebahagiaan lain yang kau berikan untukku, Hisana."
"Byakuya-sama..." Hisana menangis lebih keras lagi, menumpahkan kebahagiaannya dalam pelukan Byakuya.
"Shhht..."
Langit perlahan mulai berubah menjadi semakin gelap, sepasang insan itu menghabiskan sebagian waktu sore mereka di teras samping kediaman mereka. Sebentar lagi, beberapa bulan lagi, ketenangan ini akan dipecahkan oleh tawa canda seorang anak. Sebentar lagi—
—halo, Kuchiki kecil.
— Halo: End —
— 777 words (story only) —
#curhat: Awww... seperti apa ya anak Byakuya sama Hisana? Yah, pokoknya kehamilan Hisana adalah inti dari drabble ini. Jadi, tenang aja, bakal Cha lanjutin kok sampai nanti Hisana melahirkan. ;) Oh, lagu yang Cha dengar waktu buat chapter ini Egao no Mahou yang dinyanyikan oleh Magic Party dari Opening Fairy Tail.
Nee, mind to RnR, readers?
