Selamat berakhir, anime Bleach! Hihihi... waktu ngetik chapter ini, Cha baru selesai nonton anime Bleach episode 366, yang katanya episode terakhir. Kamu udah nonton belum? ^^
Please enjoy this story, minna!
Byakuya suka makanan pedas—itu adalah makanan favoritnya. Masalahnya, orang hamil tidak boleh sering-sering makan pedas, karena tidak baik untuk kandungannya. Itu berarti, supaya istrinya tidak makan pedas, maka Byakuya harus menahan diri agar istrinya tidak ikut makan pedas dengan dirinya. Menahan diri untuk tidak makan makanan favorit sepertinya bukan hal mudah.
Tapi, demi istri tercinta, apapun akan dilakukan oleh pria tampan itu.
Bleach (Another Story):
Byakuya and Hisana
-#-
-Anata no Egao-
[あなたの笑顔, Your Smile]
-#-
Tiga: Itadakimasu
Bleach © Tite Kubo
Sudah hampir dua bulan lamanya Byakuya menahan diri untuk tidak makan makanan kesukaannya—makanan pedas yang merupakan pantangan untuk sang istri. Meski hasratnya untuk makan makanan pedas itu sudah membuncah, pria berambut segelap malam itu hanya bisa menahan diri saja, takut-takut Hisana melihat dirinya makan pedas.
Padahal, sang istri sama sekali tidak pernah melarangnya. Namun apa daya, Byakuya tak sampai hati untuk bisa makan pedas sementara sang istri harus menahan diri demi buah cinta mereka, apalagi jika mendengar morning sickness Hisana setiap pagi, Byakuya semakin tidak tega saja.
Dan pagi itu, seperti biasanya, Hisana masih mengalami mual-mual—meski tak sesering minggu-minggu awal kehamilannya. Wanita cantik beriris violet itu mengeluarkan seluruh isi perutnya pagi itu, dan wajahnya nampak pucat. Setelah Hisana keluar dari kamar mandi, Byakuya menatapnya cemas; tatapan seperti biasa, karena khawatir akan keadaan istrinya.
Hisana tersenyum lembut, "Saya tidak apa-apa, Byakuya-sama," ujarnya, menjawab kekhawatiran Byakuya.
"Kau tidak terlihat 'tidak apa-apa', Hisana."
"U-uwm," Hisana mengelus perutnya.
"Baiklah, kita sarapan dulu pagi ini," ajak Byakuya, kemudian berbalik dan berjalan pelan.
Hisana mengangguk pelan, kemudian berjalan di samping suaminya menuju ke ruang makan. Makanan sudah tersaji di atas meja ketika Byakuya dan Hisana tiba. Menu makanan pagi itu adalah dua porsi sup miso yang dihidangkan dengan sepiring ikan rebus dan semangkuk kecil nasi. Byakuya mengerutkan kening ketika melihat kuah dari sup miso-nya berwarna kemerahan.
Pria itu lantas bangkit kembali dari tempat duduknya.
"Ada apa, Byakuya-sama?"
"Aku sudah bilang untuk tidak memasak makanan pedas, tapi hari ini mereka membuatnya."
"Itu... saya yang memintanya, Byakuya-sama."
"Hm? Bukankah Unohana-taichou sudah bilang kalau kau tidak boleh makan makanan pedas dulu?"
"Sup saya tidak pedas, kok."
Byakuya melirik sup yang diletakkan di sebelah kiri mangkuk Hisana; kuahnya berwarna keruh kekuningan—berbeda dari sup miliknya.
"Saya sengaja meminta mereka membedakan mangkuk supaya sup saya tidak pedas."
"Untuk apa?"
"Supaya Byakuya-sama bisa makan pedas."
"Sudah kubilang kau tidak perlu memikirkanku, kan? Aku akan makan makanan yang sama denganmu selama kau hamil."
"Tapi ini permintaan bayi kita, Byakuya-sama. Anda tidak mau menurutinya?" Hisana menunduk, memandangi perutnya, kemudian mengelusnya lembut.
Byakuya menghela napas, kemudian duduk bersimpuh di dekat Hisana dan menempelkan tangan kanannya di perut sang istri. Belum ada reaksi apa-apa dari bayi di dalam sana, tapi Byakuya tahu anaknya merasakan sentuhannya.
"Pasti nanti dia keras kepala sepertimu."
"Tidak apa-apa kalau bisa membuat Ottou-sama berubah pikiran," Hisana tersenyum.
"Tidak bisa, tidak semua akan kuturuti, nanti dia bisa jadi anak manja."
Hisana tertawa kecil, "Saya juga tidak ingin dia menjadi anak yang manja, Byakuya-sama."
Byakuya mengangguk setuju.
"Ah, saya rasa sup miso pedas tidak enak dimakan saat dingin."
"Selamat makan, Hisana dan... anakku."
"Selamat makan, Ottou-sama," Hisana tersenyum tipis.
Kemudian pasangan muda itu menikmati sarapan paginya ditemani dengan semilir angin pagi dan kicauan burung-burung kecil yang terdengar dari luar jendela. Byakuya akhirnya mengalah dan menghabiskan sup miso pedasnya pagi itu.
Selamat makan.
— Itadakimasu: End —
— 494 words (story only) —
#curhat: Butuh beberapa hari untuk memikirkan judul chapter ini. Karena akhirnya menyerah dan nggak ada ide, akhirnya Cha memilih judul 'Itadakimasu'. Hahaha... saat mengetik ini, ditemani lagu Daidaioleh Chatmonchy (Ending Bleach ke 12) rasanya lumayan juga. :)
Nee, mind to RnR, readers?
