Gomen... lama updatenya, bukan karena Cha sibuk sih, tapi karena Cha lupa. #pluk Seriously, mungkin karena keasikan dengan pekerjaan baru sampai lupa buat lanjutin fic. Hihihi...

Please enjoy this story, minna!


Mood orang hamil itu tidak pernah stabil, sama seperti anak kecil yang selalu menggunakan emosi pada setiap pemikirannya. Tidak terkecuali Hisana, terkadang emosinya yang tidak stabil saat kehamilan anak pertamanya dan Byakuya ini membuat pria beriris abu-abu itu geleng kepala.

Karena terkadang kesabaran itu juga ada batasnya.

Bleach (Another Story):
Byakuya and Hisana

-#-

-Anata no Egao-
[あなたの笑顔, Your Smile]

-#-

Empat: Mood
Bleach © Tite Kubo

Kehamilan Hisana telah menginjak usia empat bulan setengah hari ini, perutnya mulai kelihatan membesar dan sudah jarang terdengar morning sickness di pagi hari; Unohana-taichou bilang kalau masa kehamilannya sudah memasuki trimester kedua dan sudah lebih stabil. Hanya saja, memasuki trimester kedua, mood Hisana seringkali naik turun. Terkadang bisa begitu lembut dan baik sekali, terkadang bisa tiba-tiba tidak banyak bicara, bisa menjadi keras kepala, atau tiba-tiba terlihat sedih. Benar-benar tak bisa diprediksi.

Biasanya untuk menghindari pertengkaran, Byakuya hanya bisa geleng kepala dan mengalah saja, menuruti setiap kemauan istri tercinta. Namun sore ini berbeda, dengan pekerjaan yang menumpuk, sedikit membuat Byakuya penat ketika tiba di mansionnya.

Biasanya jika sore menjelang seperti ini, Hisana tengah duduk di teras sambil memandangi halaman. Sayangnya ketika Byakuya mencarinya ke sana, wanita itu tidak ada. Gusar, pria berambut hitam itupun mencari ke seluruh penjuru rumah, hingga seorang pelayan terpaksa mengikutinya.

"Anda mencari apa, Byakuya-sama?"

"Dimana Hisana?"

"Hisana-sama belum kembali sejak siang tadi, Byakuya-sama."

"Hmm... baiklah. Siapkan makan malam segera."

"Baik," pelayan itu mengangguk patuh.

Ini adalah waktu yang sangat tepat jika Hisana bermaksud untuk membuat Byakuya marah. Ia sedang dalam mood yang tidak baik dan emosinya sangat mudah tersulut jika sedang penat begini. Pria itu hanya menghela napas kesal, kemudian melangkah menuju ke kamarnya dan Hisana.

Byakuya bukan tipe pria yang bisa sabar—prinsipnya: jika pekerjaan bisa dilakukan saat itu juga, maka ia akan lakukan. Maka menunggu adalah salah satu hal yang dibencinya. Lalu hari ini Hisana membuatnya melakukan hal yang dibencinya itu; menunggu sang istri kembali lebih dari setengah jam. Ia bahkan sampai lupa untuk menikmati mandi sorenya seperti yang biasanya ia lakukan sepulang kerja.

Sreeeeg.

Pintu digeser, Hisana takut-takut berdiri di depan pintu sambil menunduk, memandangi perutnya yang kini mulai membesar. Byakuya berusaha tetap terlihat tenang berdiri di tempat; meski kedua irisnya tidak bisa menutupi perasaan leganya melihat sang istri sudah kembali ke rumah.

"Byakuya-sama..."

"Aku sudah bilang kalau kau mau keluar, setidaknya beritahu aku."

"M-Maaf," Hisana menunduk semakin dalam.

Byakuya melangkah mendekat, membuat Hisana semakin gugup.

"Kini kau bukan hanya harus menjaga dirimu, tapi bayi kita, Hisana. Kalau terjadi apa-apa, bagaimana aku bisa tahu? Haruskah aku tahu dari orang lain?" tanya Byakuya, kali ini pria itu tidak dapat lagi menutupi rasa khawatirnya.

Hisana menggeleng pelan, "Maafkan saya, Byakuya-sama."

"Entah apa yang harus kukatakan, Hisana. Aku tidak tahu berapa kali kau akan bilang maaf."

"Tapi, Byakuya-sama, saya hanya berpikir, jika saya memberitahu Anda kalau saya akan pergi, Anda tidak akan mengizinkan saya untuk pergi."

"Bahkan jika kau memintaku untuk memberikanmu bulan pun mungkin akan kupenuhi, Hisana!" nada bicara Byakuya meninggi—ia benar-benar marah.

"Saya hanya butuh sedikit kebebasan saja, Byakuya-sama, tidak lebih," jelas Hisana tidak mau kalah.

"Jujur saja, hari ini kau membuatku kecewa dengan pernyataan keraguanmu tentangku, Hisana."

Lalu pembicaraan terhenti.

Hisana tidak lagi menjawab, dan Byakuya tampak tidak bermaksud untuk melanjutkan untuk menumpahkan semua amarahnya. Pria itu hanya berlalu melewati istrinya tanpa melirik Hisana sedikitpun.

"Makan malam sudah siap, sebaiknya kau makan."

Kemudian hening. Hisana hanya mengangguk patuh, sementara Byakuya berlalu tanpa bermaksud untuk menunggu istrinya. Derap langkah Byakuya terdengar menjauh ketika air mata Hisana perlahan menetes. Baginya, hari ini suaminya sangat berbeda—lebih arogan tanpa mau mendengar sedikit saja alasan darinya. Tidakkah pria itu ingat bahwa dirinya tengah mengandung dan tidak boleh dibuat stress?

Sambil menyeka air matanya, Hisana menyusul Byakuya ke ruang makan. Ya, pria itu sudah duduk di meja makan ketika istrinya tiba, ia sedang menikmati makan malam hari itu. Takut-takut, Hisana duduk di hadapan Byakuya seperti biasanya. Sang suami masih tidak merespon.

Hisana kemudian mengambil mangkuk berisi nasi di hadapannya kemudian mencoba menikmati makan malam hari itu.

Suasana makan malam hari itu bisa dibilang membuat tidak berselera. Baik Byakuya maupun Hisana nampaknya tidak bermaksud untuk memulai pembicaraan. Hanya terdengar suara sumpit dan mangkuk yang terkadang beradu.

"U-Uhwmm..." Hisana meletakkan mangkuk nasinya yang baru dihabiskan setengah, kemudian memegangi perutnya.

"Hisana?" Byakuya pun segera meletakkan mangkuk nasinya dan menghampiri sang istri, "Kau tidak apa-apa?"

Hisana menggeleng pelan, kemudian tersenyum tipis, "Tidak apa-apa Byakuya-sama, bayinya menendang untuk pertama kali, saya hanya kaget saja," jawabnya dengan suara agak serak.

Byakuya mengelus perut Hisana pelan, kemudian merengkuh tubuh sang istri ke dalam pelukannya. Hisana tertegun, perubahan atmosfer yang cepat sekali hanya karena tendangan dari si kecil.

"Maaf, seharusnya aku bisa mengerti kalau kau juga butuh kebebasan."

"Tidak Byakuya-sama, harusnya saya yang meminta maaf karena membuat Anda khawatir."

Byakuya kemudian mengecup kening Hisana lembut.

"Bahkan sampai anak kita menegurku."

"Saya rasa dia hanya tidak ingin kita bertengkar, Byakuya-sama," Hisana mengelus perutnya lagi, air mata mengalir dari kedua sudut matanya.

Ibu jari Byakuya segera bergerak untuk menyeka air mata itu, "Maaf, hari ini aku membuatmu stress. Seharusnya aku bisa menjagamu."

Hisana tersenyum tipis, kemudian mengangguk pelan.

Byakuya menghela napas lega, kemudian menempelkan telinganya ke perut Hisana, "Hei, Ottou-sama dan Okaa-sama sudah berbaikan, kau jangan sedih lagi, ya?"

Ada tendangan kecil di sana, seolah menjawab pertanyaan Byakuya. Ia dan Hisana pun saling memandang dan sama-sama tersenyum.

Setidaknya, karena kejutan kecil dari buah hati mereka, mood bukanlah sebuah masalah besar.


— Mood: End —

— 1111 words (story only) —


#curhat: Tidak sempat memperhatikan typo, laptopnya dipakai gantian sih. Hihihi... Well, saat menulis fic ini, ngga sengaja terputar lagu Sen No Yoru Wo Koete versi Byakuya dan Renji. Yah, suara Bya-kun bisa dibilang lumayan sih. ^^

Nee, mind to RnR, readers?