Lagi-lagi karena tidak ingin memberatkan tema, sedikit unsur humor Cha masukkan. Anata no Egao memang dibuat untuk menjadi sebuah drable ringan. Semoga tidak mengecewakan. :)
Please enjoy this story, minna! ^^
Pagi ini Byakuya dibuat panik ketika Hisana mencengkeram tangannya erat-erat sambil memegangi perutnya, ditambah peluh yang bercucuran di wajah istrinya, fix, sang istri akan segera melahirkan buah hati mereka.
Rasanya ingin ia bertukar peran dengan sang istri ketika melihat Hisana mengerang kesakitan dengan wajah pucat. Pria itu sangat tidak ingin melihat sang istri menderita.
Bleach (Another Story):
Byakuya and Hisana
-#-
-Anata no Egao-
[あなたの笑顔, Your Smile]
-#-
Enam: Kuchiki Junior
Bleach © Tite Kubo
"Tubuh istri Anda lemah, Kuchiki-taichou. Saya tidak bisa menjamin untuk keselamatan keduanya. Maaf."
Masih terngiang kata-kata Unohana-taichou beberapa jam lalu, Byakuya tidak bisa menyembunyikan kecemasan dalam wajah dinginnya. Ini menyangkut keselamatan istri dan anaknya—dua orang yang tidak bisa Byakuya pilih salah satunya, ia ingin keduanya selamat. Ia ingin menimang putra pertamanya, sekaligus merawatnya bersama dengan Hisana.
Ia tahu tubuh Hisana lemah. Kalau bisa, ia bahkan ingin menukar posisinya dengan sang istri sekarang—biar ia yang merasa kesakitan, biar ia yang berjuang demi sang anak. Rasanya sedikit tidak adil Hisana yang lemah harus bertaruh nyawa demi seorang bayi mungil yang sudah susah payah dikandungnya. Harusnya Byakuya saja. Hisana sudah cukup repot di masa kehamilannya.
Tapi itu namanya melawan takdir. Byakuya tahu itu. Dan kini yang ia lakukan hanya berdoa, berdoa, dan berdoa.
Berharap sang istri akan keluar dari ruang operasi dengan senyum di wajahnya.
Berharap sang anak akan tertidur lelap sambil tersenyum dengan imut dalam gendongannya.
Sudah empat jam berlalu dan selama itu pula Byakuya hilir mudik di depan ruang operasi, duduk, berdiri lagi, hilir mudik, kembali duduk, lalu berdiri, tanpa lelah. Sesekali menempelkan telinganya ke pintu ruang operasi ketika tidak ada shinigami yang berlalu. Hatinya luar biasa dirundung kecemasan.
Hingga suara tangis bayi mencerahkan mendung di hatinya.
"Oaaaa... Oaaa..."
"Selamat, Layla-san! Anak Anda perempuan."
Sial. Dari kamar operasi sebelah. Sejak kapan istrinya berganti nama menjadi Layla? Byakuya nyaris memukul dinding yang ada di depannya kalau saja tidak ada shinigami yang berlalu. Pria itu menghela napas kemudian kembali duduk di kursi tunggu dekat ruang operasi.
Ayolah, Hisana...
"Namanya Ryuki, Byakuya-sama. Bagaimana menurut Anda?"
Ryuki Kuchiki bukan nama yang buruk. Byakuya setuju akan menamai anaknya Ryuki jikalau laki-laki dan Yuki jikalau perempuan. Masalahnya sekarang hanya tinggal menunggu saja, anak berjenis kelamin apa yang akan dilahirkan Hisana? Rasanya setelah empat jam menunggu, mau perempuan atau laki-laki bukan masalah untuk Byakuya, yang penting anak dan istrinya selamat. Urusan akan jadi anak perempuan tomboy atau semi laki-laki itu perkara yang bisa dipikirkan nanti.
"Oaaaa... Oaaa..."
Tangis bayi lagi. Semoga kali ini bukan dari kamar operasi sebelah. Memangnya berapa banyak yang akan melahirkan hari ini, sih? Padahal hari ini bukan tanggal yang istimewa berderet seperti 10-11-2012 atau 20-12-2012 apalagi 12-12-2012.
"Selamat, Hisana-san!"
Anaknya, itu anaknya! Kalau saja tidak ada shinigami yang berlalu, mungkin Byakuya sudah melompat dari kursi sambil bersorak girang akan kelahiran anaknya.
Perjuangan Hisana selama empat jam tidak sia-sia.
Pintu kamar operasi dibuka ketika Byakuya melangkah mendekatinya. Isane-fukutaichou menggendong seorang bayi mungil dengan rambut hitam legam yang tengah terisak. Bayi itu sangat mungil sekali, seperti peri.
"Laki-laki, Kuchiki-taichou. Dia sangat tampan. Apa Anda mau menggendongnya?"
"Bolehkah?"
"Tentu saja."
Isane memindahkan bayi kecil itu dari gendongannya ke gendongan Byakuya. Bayi kecil itu sedikit merasa terusik karenanya, ia menangis kecil, namun langsung terdiam ketika Byakuya menimangnya. Bagi Byakuya, ini moment paling membahagiakan dalam hidupnya—setiap moment yang berkaitan dengan istri dan anaknya adalah yang paling membahagiakan.
Saat pertama Byakuya menggendong anak pertamanya.
"Bagaimana keadaan Hisana?"
"Hisana-san sedang dalam keadaan lemah, namun ia baik-baik saja, Kuchiki-taichou."
"Boleh aku melihatnya?"
"Tentu saja. Anda sudah boleh melihatnya."
Tanpa aba-aba, Byakuya masuk ke dalam ruang operasi itu. Hisana ada di sana, tengah tergolek lemah di atas sebuah tempat tidur. Selang infus menancap di lengan kanannya beserta alat bantu pernapasan. Byakuya mendekati wanita itu dengan sang anak dalam gendongannya.
"Hisana," panggilnya.
"Byakuya...-sama," ujar Hisana lemah.
"Shhtt... istirahatlah. Anak kita sehat sekali. Laki-laki, berarti kita akan menamainya Ryuki."
Hisana tersenyum lemah, ia melirik bayi laki-laki yang ada di dalam gendongan Byakuya, kemudian menyentuh pipi bayi itu dengan punggung telunjuk kanannya. Anak itu bergeming, menolehkan wajahnya ke arah berlawanan.
Hisana tersenyum lagi.
"Hei, jangan nakal, Ryuki. Itu Okaa-sama."
"Ryuki..." ucap Hisana lagi, suaranya sudah lebih baik daripada dua menit lalu.
Byakuya mengecup wajah sang anak, kemudian mengecup dahi Hisana dengan lembut. Ia tidak pernah tersenyum dengan hati sebahagia ini sepanjang hidupnya. Namun Hisana dan Ryuki-nya telah membuat sikap dinginnya runtuh.
Selamat datang, Kuchiki junior.
Inilah duniamu.
— Kuchiki Junior: End —
— 999 words (story only) —
#curhat: Ah, sebenarnya fic ini sudah akan diupdate beberapa hari lalu, namun karena Cha harus pulang ke Lampung, jadi sulit juga untuk mengupdatenya. Hari ini Cha menemukan warnet! Jadinya cepat-cepat ketik cerita dalam 30 menit. Jadi maaf kalau mengecewakan, ya. Sambil dengerin lagu Sakurabito dari , enak juga, loh.
Nee, mind to RnR, readers?
