Ini chapter terakhir dari Anata no Egao. Mohon maaf banget akhirnya Cha memutuskan untuk menamatkannya. Hehehe... Untuk selanjutnya, Cha sedang membuat ficnetron (yang tentu saja AU. Hihi...)

Please enjoy this story, minna!


Hari ini tanpa sengaja Byakuya bertemu dengan seorang gadis kecil beriris violet yang mirip sekali dengan Hisana saat ia tengah dalam tugasnya untuk berpatroli di sekitar Inuzuri. Ia ingin memberi tahu pada istrinya tentang hal ini, namun begitu banyak pertimbangan dalam pikirannya, yang paling utama adalah bagaimana Hisana akan menanggapinya?

Byakuya tidak bisa lagi melanggar peraturan untuk memasukkan seorang plus dari Rukongai ke dalam keluarga Kuchiki.

Bleach (Another Story):
Byakuya and Hisana

-#-

-Anata no Egao-
[
あなたの笑顔, Your Smile]

-#-

Tujuh: Rukia
Bleach © Tite Kubo

Sore itu Byakuya pulang dengan wajah lesu, ia menyeret langkahnya menuju ke kamarnya tanpa semangat. Meski ketika bertemu dengan beberapa pelayan atau tetua di Mansion Kuchiki, ia terpaksa harus memasang wajah dingin tanpa ekspresinya.

Sreeeg.

Ketika menggeser pintu, pemandangan pertama yang ia lihat adalah sang istri yang tengah menimang Ryuki sambil bersenandung menina-bobokannya. Byakuya berusaha untuk tersenyum tipis dan melangkah mendekati Hisana.

"Selamat datang, Byakuya-sama," sapa Hisana ceria.

"Ya," jawab Byakuya singkat.

Hisana tersenyum, lalu meletakkan Ryuki yang sudah tertidur di atas tempat tidur kecilnya, kemudian menghampiri Byakuya lagi, membantu suaminya melepaskan kenseikan yang melekat di kepalanya. Menyisiri rambut segelap langit malam itu dengan jari-jari tangannya.

"Ryuki tidur lebih cepat?"

"Ya, hari ini dia menolak tidur siang, Byakuya-sama."

"Dia mulai nakal."

"Hihihi... dia baru berusia tiga bulan, Byakuya-sama, hal itu wajar."

Hening lagi. Byakuya tidak bicara lagi. Pria itu hanya menghela nafas panjang. Hisana masih belum menghentikan gerakan tangannya menyisiri helai demi helai rambut Byakuya.

"Ada masalah, Byakuya-sama?" tanya Hisana memecah keheningan, gerakan tangannya terhenti dan wanita mungil itu duduk di samping suaminya.

Byakuya tidak menjawab lagi, bahkan menghindari tatapan lembut istrinya. Ia ingin sekali memberi tahu Hisana mengenai gadis kecil yang ia temui tadi siang, namun hatinya masih urung untuk bicara.

"Tidak apa-apa kalau Byakuya-sama tidak mau bercerita," ujar Hisana sambil tersenyum lagi, "saya akan menyiapkan teh untuk Byakuya-sama."

Wanita itu kemudian beranjak dari tempat duduknya. Melangkah lambat-lambat menuju ke pintu kamar. Sinar matahari sore masuk melalui pintu kamar yang digeser Hisana meski tanpa izin, menimpa wajah Byakuya.

"Hisana," suara Byakuya menghentikan langkah Hisana.

"Ya, Byakuya-sama?" Hisana menoleh.

"Aku menemukannya."

"Maksud Byakuya-sama?" Hisana memiringkan kepalanya bingung.

"Menemukan yang selama ini kau cari..." Byakuya mencoba mengumpulkan segala keyakinan hatinya, "...adikmu."

Kedua iris violet Hisana membulat, wanita itu mematung di depan pintu, wajahnya tampak mengeras. Adik yang selama bertahun-tahun ini dicarinya itu kini ditemukan oleh suaminya. Rasa senang, terkejut, dan bingung bercampur jadi satu di hati Hisana, membuat wanita itu jatuh terduduk lemas karena kedua kakinya tidak dapat menopang tubuhnya lagi.

"Hisana!" Byakuya buru-buru menghampiri istrinya, "Kau tidak apa-apa?"

Hisana menggeleng lemah, kemudian menangis.

"Anda menemukan Rukia... ya, Byakuya-sama?"

Byakuya mengangguk, kemudian menepuk bahu Hisana pelan, mencoba memberi sedikit kekuatan pada sang istri.

"Boleh saya bertemu dengannya?"

"Besok akan kuantarkan kau bertemu dengannya."

"Tidak bisa sekarang?"

"Terlalu berbahaya. Lagipula tidak ada yang menjaga Ryuki nanti."

"Saya mohon..."

Hanya karena seorang gadis kecil yang katanya dulu pernah ditelantarkan oleh Hisana yang tidak mampu hidup berdua dengannya, sang istri jadi egois seperti ini. Byakuya mengerti Hisana sangat menyalahkan dirinya sendiri karena membuang Rukia dulu, tapi permintaan ini membuat Byakuya bingung harus melarang Hisana ataukah mengabulkan permintaannya.

Byakuya menarik nafas kemudian membuangnya dengan berat.

"Aku akan memanggilkan pelayan untuk menjaga Ryuki. Kau ganti pakaianmu lalu ikut aku ke Inuzuri."

Hisana tidak dapat lagi menyembunyikan kebahagiannya, ia memeluk Byakuya erat-erat, membuat Byakuya sedikit terhuyung ke belakang. Pria berwajah dingin itu melunak, ia tersenyum tipis sambil membelai rambut istrinya.

Bagi Byakuya kebahagiaan Hisana adalah segalanya.


"K-Kakak?" gadis mungil bernama Rukia itu mundur beberapa langkah, wajahnya tampak sangat bingung.

Permadani langit malam yang dihiasi sinar bintang terhampar di angkasa, Byakuya berdiri di belakang Hisana yang tengah menjelaskan semuanya pada Rukia. Gadis yang mirip sekali dengan sang kakak itu kini nampak kebingungan.

"Ya, Rukia, aku hanya ingin kau tahu tentang itu saja. Aku tidak akan marah jika kau tidak menerimanya. Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku sangat menyayangimu," jelas Hisana.

Rukia terdiam, mengepalkan tangannya kuat-kuat sambil memandangi kakinya.

Untungnya Renji tidak ada malam ini karena sedang mencari ikan di sungai sejak tadi sore—dan Rukia menolak untuk ikut karena tadi sedang sibuk mencari kayu bakar.

"Aku mengerti alasanmu membuangku. Tapi aku tidak mengerti... kenapa kau tetap mencariku?"

"Karena aku merasa berdosa telah membuangmu, Rukia."

Rukia mengangguk tidak jelas, lantas membalikkan badannya.

"Jika hanya itu yang ingin kau katakan, maka, aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Kau sudah bahagia tinggal di balik tembok besar itu, kan? Aku takkan memaksamu untuk hidup sulit bersamaku lagi," terang Rukia panjang, tanpa berniat menatap kakaknya lagi.

"Rukia..."

"Terima kasih, Hisana-san. Jika aku boleh bicara lagi, aku hanya ingin kau tahu bahwa keputusanmu mencariku itu sia-sia."

Air mata Hisana perlahan menetes, bersamaan dengan air mata Rukia yang juga menetes, mengalir melewati pipi putihnya. Byakuya mematung di tempatnya, memutuskan untuk membiarkan Hisana menyelesaikan permasalahan ini dengan Rukia tanpa campur tangannya.

"Terima kasih karena kau masih mau bertemu denganku, Rukia."

"Renji mengajakku untuk jadi shinigami. Jika nanti aku sudah jadi shinigami..." Rukia membalikkan badannya, "...apakah aku boleh sering-sering bermain ke tempatmu?"

Hisana menoleh pada suaminya.

"Silahkan," jawab Byakuya pendek.

"Terima kasih. Aku akan berusaha menjadi shinigami yang dapat diandalkan."

Hisana mengangguk pelan, kemudian tersenyum.

"Boleh aku memelukmu, er... Kakak?"

Hisana mengangguk lagi, membuat Rukia menghambur memeluk sang kakak dengan erat. Melepas sedikit kerinduannya, Hisana mengelus punggung Rukia dengan lembut.

"Aku sayang padamu, Kakak."

Dan Hisana tersenyum dengan sangat bahagia. Rasanya ia tidak bisa lebih bahagia lagi daripada ini: memiliki Byakuya sebagai suaminya, melahirkan anak laki-laki yang sangat tampan bernama Ryuki, dan kini ia menemukan Rukia...

Rukia adalah jawaban dari pencariannya selama ini.

...Byakuya pun akan sama bahagianya dengan sang istri hanya dengan senyuman kecil dari wanita beriris violet itu.


— Rukia: End —

— 999 words (story only) —


#curhat: Terima kasih sudah mengikuti perjalanan cinta (?) Byakuya dan Hisana selama 7 chapter ini. Maaf kalau ada typo dan kata-kata yang kurang berkenan. Untuk yang chapter terakhir ini, Cha lagi suka mendengarkan lagu Aitakatta milik JKT48. Lagunya keren loh!

Nee, mind to RnR, readers?