" Apa—kau membenciku karena aku mencintai-mu, Su ? " Junsu membulatkan matanya , ia sama sekali tak mengerti bagaimana kakak kandungnya bisa mengucapkan kata penuh dosa semudah itu ? .
" Hyung , kau tidak mencintaiku . Kau hanya bingung karena kau terlalu menyayangiku . " Ucap Junsu pelan , ia berbalik menghadap hyung satu-satunya itu . Ia menggenggam pelan jari jemari besar milik Yoochun .
" Kau hanya bingung hyung , kau tak pernah mencintaiku . " Ucapnya lagi .
" Aku cukup dewasa untuk mengerti perasaan apa yang kurasakan saat aku berhadapan denganmu . Aku memang sangat menyayangimu . Aku menyayangimu lebih dari sekedar dongsaeng . Aku tau ini egois , aku tau ini sebuah dosa . Dan aku tak pernah menyuruhmu untuk membalas perasaanku , aku hanya mengungkapkan apa yang ada di dalam hatiku . " Junsu terdiam , entah mengapa ia juga merasa sedikit tersinggung dengan apa yang Yoochun ucapkan . Membuatnya mengingat hubungannya dengan Yunho , ia juga tau bahwa itu adalah sebuah kesalahan , ia tau itu adalah dosa . Tapi ia tak bisa melawan keegoisannya sendiri . Ia sangat berharap agar ia bisa bersikap seperti Yoochun-hyung-nya . Setidaknya , Yoochun tak memaksa Junsu untuk membalas cintanya .
" Tolong jangan pernah menghindar lagi dariku, Su." Junsu kembali bungkam, ia sama sekali tak tau kata apa yang tepat untuk ia ucapkan . Hingga pelukan Yoochun menyadarkannya ke dunia nyata. Ia memberontak, tapi pelukan Yoochun terlalu kuat mendekapnya.
" Mianhae, tolong lupakan semua ini, berpura-pura-lah ini semua tak pernah terjadi . " Junsu tertegun mendengar suara Yoochun yang terdengar begitu miris. Dan dengan perlahan, ia pun meng-angguk di dalam pelukan hangat hyung-nya sendiri.
*****Affair****
" Good morning, boo . " Kukecup keningnya pelan , dan jari jemariku mengelus lembut rambutnya.
" Emmhh, Yun ? " Ia mengusap matnya pelan, lalu tersenyum saat menatapku.
" Kau tak membuatkan aku sarapan ? Kau ini istri macam apa ? " Ia tertawa kecil mendengar candaanku. Dan aku tersenyum mendengar tawa indahnya . Itu terdengar seperti sebuah melodi indah di telingaku .
" Kau lupa ? Aku tidak bisa berjalan itu KARENAMU, huh ! " Ia memelukku , menyembunyikan pipi merahnya di dadaku. Aku kembali tersenyum melihat kelakuannya. Seandainya aku tak pernah bertemu Junsu . Mungkin semuanya tak akan serumit ini . Tapi, walaupun begitu aku pun tak pernah menyesalinya.
" Yunho-ah . " Ucapnya pelan , aku kembali mengusap rambutnya .
" Ne, baby "
" Aku mau kau berjanji untukku, Yun " ia menatapku dengan mata bulatnya.
" Berjanji ? " Ia mengangguk dengan cepat.
" Berjanjilah, Yun. Berjanjilah kau tak akan pernah meninggalkanku. " Aku merasa jantungku berhenti berdetak. Aku tak tau apakah aku bisa menepati janji itu atau tidak.
" Kau tau Jae, aku terlahir dan bertemu denganmu. Dan aku mencintaimu hingga mati. Jadi, tak akan ada alasan bagiku untuk meninggalkanmu." Suatu hari nanti, aku berharap cerita ini akan segera berakhir. Suatu hari nanti saat kegelapan ini menghilang, aku berharap sinar matahari akan mengubah segalanya menjadi lebih baik.
****Affair****
" Su, bangunlah." Aku melihat wajah pucatnya. Aku terdiam sejenak. Aku khawatir mungkin kau akan melihat perasaanku semakin dalam untukmu. Dan aku takut jika jarak diantara kita semakin melebar. Aku menahan nafas sejenak, lalu mengigit bibirku. Aku berdoa agar dia pergi dari sisimu. Walaupun aku tau aku tak akan pernah bisa bersama denganmu.
Kau tak pernah mengerti perasaanku. Karena itu, akhirnya aku sempat membencimu. Lalu aku berharap musibah akan datang menimpamu. Tetapi sekarang, air mataku mengering. Kucoba bicara denganmu , tapi aku sadar bahwa aku sendirian.
" Saranghaeyo, Su ." Setiap malam , aku akan melihat kembali dan berfikir. Jika aku sudah tau jawabanya, aku kembali menutup mata. Aku bermipi, sebuah mimpi yang tak pernah berujung. Dan aku kembali berdoa, semoga kau akan melihatku nanti.
****Affair****
" Yun, apa kau kerja hari ini ? " Ia terdiam, sedikit berfikir.
" Aku fikir tidak, aku ingin melwati hari ini HANYA bersamamu baby. Hahaha" Ia tertawa, membuatku tersenyum kecil. Aku duduk di sampingnya. Dan ia merangkulku mendekat.
Layar TV itu terus mengeluarkan suara bising. Tapi kami hanya terdiam dalam fikiran masing-masing.
" Jae, aku mencintaimu. Jangan pernah lupakan hal yang satu itu." Ia menggenggam tanganku. Menautkan jari-jemari kita. Aku mengangguk. Dari dulupun, aku tak akan pernah lupa dengan kata kata yang sering kau ucapkan itu.
" Ne, Yun."
" Kita akan bersama selamanya."
" Kita tak bisa bersama selamanya, Yun." Aku tersenyum menatapnya. Aku memang tak pernah percaya dengan kata 'selamanya' . Bagiku, semua yang ada di dunia ini tak akan pernah abadi. Dan suatu saat nanti, mungkin aku pun akan berpisah dengan Yunho. Walaupun, aku sama sekali tak ingin itu terjadi.
" Apa maksudmu, baby ?." Ia menatapku dengan heran.
" Suatu saat nanti, kau atau aku harus meninggalkanmu. Mungkin saja itu karena tuhan yang memisahkan kita. Tapi mungkin juga karena hal lain." Dan aku sama sekali tak siap jika itu benar benar terjadi.
Ia terdiam sejenak, lalu tersenyum pahit kearahku.
" Ya. aku tau, Jae."
Kami terdiam hingga suara bel pintu membuat kami sedikit terlonjak. Aku berdiri, dan Yunho-pun berdiri. Kami berjalan menuju ruang tamu. Suara bel itu semakin memekakan telingaku. Sepertinya orang itu benar benar tidak sabar. Aku menarik kenop pintu dengan pelan.
" Anyeong , Jaejoong-ah dan Yunho-hyung. Apa aku mengganggu ?"
TBC OR DISCONTINUE ?. Kalau banyak yng review mau di terusin nih :D Maaf ya telat mhehehe :D . Aku janji chap depan bakalan lebih rapih plus lebih panjang. Makasiiihh banget buat yang comment. Buat aku makin semangat :D Minggu depan balesin comment aaahh :D
