Hari Senin, dimana orang-orang biasanya baru memulai hari pertama kerja, Sungmin malah baru libur di hari ini. Dan ini membuat keisengannya bersama kembarannya itu meningkat berkali-kali lipat. Seusai dari kampus, mereka langsung menyeretku ke dalam toilet yang sepi.

Aku melongo ketika melihat mereka berdua mengeluarkan sebuah tas besar berwarna merah muda masing-masing satu. "Kalian mau apa?"

"Mendandanimu, Kim Kibum!" kata Ryeowook sambil membuka tas itu dan mengeluarkan barang-barang makeup yang masih baru. Alat makeup yang baru kubeli kemarin.

Aku berjalan mundur menuju pintu, setelah mencium adanya gelagat aneh dari kedua temanku ini. Namun sayang, Sungmin lebih cepat untuk memegang tanganku dan membawaku kembali para Ryeowook. Serasa jadi akan dieksekusi mati. Tanpa sadar, aku menelan liurku sendiri.

Dari kami bertiga, memang aku dan Sungmin yang tidak bisa makeup. Tapi setidaknya, Sungmin tahu cara menggunakan bedak dan lip gloss yang selalu membuatku menghisap ludah kalau memakainya. Sementara aku nyaris tidak pernah menggunakan makeup bila bukan acara formal bersama Appa. Jangan tanyakan tentang Ryeowook, karena dia yang paling bisa menggunakan segala jenis teknik makeup.

Aku menutupi wajahku. "Aku nggak mau, Wookie!" kataku menolak tangan Wookie yang sudah ada cream entah apa itu.

Ryeowook berdecak kesal di depanku. "Lalu untuk apa kau membeli alat-alat makeup itu kalau bukan untuk dipakai, Kibum?"

Aku memandang lirih ke samping. Rasanya akan aneh. Pasti aneh. Aku yang tidak pernah memakai makeup ini, tiba-tiba memakai makeup. "Untukmu saja," kataku. Padahal aku sudah keluar uang banyak untuk itu.

Ryeowook semakin berdecak kesal. Sementara Sungmin masih membujukku. "Tidak," kata Ryeowook. "Bagaimana dia mau melihatmu?"

Aku membayangkan dia yang dimaksudkan oleh Ryeowook. Seorang pemain basket kampus ini. Kembali wajahku merona merah. Membayangkannya saja sudah membuatku begini. Bagaimana kalau aku bertemu dengannya langsung seperti ide gila Ryeowook?

"Ayolah, sekali saja. Tipis saja, kok," kata Sungmin sambil tersenyum.

Aku menghela napas pasrah. "Hanya sekali…."

Dan semuanya kuserahkan ke dalam tangan Ryeowook. Entah apa yang akan terjadi pada wajahku. Aku hanya menikmati tangannya dan sapuan kuas di wajahku.

.

.

Paparazzi © Kazuma B'tomat

Warning : KyuMin GS

Kazuma House Production present…

.

.

Kangin memandangi namdongsaengnya yang sedang cengar-cengir sendiri memandangi sebuah topi merah muda yang entah di dapat dari mana. Sejak kembali ke tempat pemotretan, Kyuhyun cengar-cengir. Bahkan sampai tidak menyentuh PSP hitam kesayangannya.

Kangin menyenggol Leeteuk. "Dia kenapa?" tanyanya sambil melirik Kyuhyun. Leeteuk ikut melirik namdongsaengnya lalu menyerngit bingung dan menggedikkan bahu. Kangin menanyakan lagi hal yang sama pada semua penghuni mobil, sampai-sampai Kyuhyun dipandangi mereka secara bersamaan untuk waktu yang lama.

Seakan sadar, Kyuhyun mendongak. "Wae?"

Mereka semua mengerjapkan mata. "Kau kenapa, Setan?" tanya Donghae yang menghasilkan sebuah jitakan dari Kyuhyun. "Sakit, babo!"

"Aku bukan setan, Ikan!" balas Kyuhyun sengit. Ia memandangi semua orang yang memandanginya. "Kenapa? Ada yang salah?" Kyuhyun memandangi dirinya yang sudah mengenakan kaos abu-abu bergaris putih.

Mereka semua mengangguk. "Kenapa kau cengar-cengir melihat topi itu?" tanya Il Woo.

Kyuhyun kembali menatap mereka satu persatu. "Mau tahu?" tanyanya dan disambut dengan anggukan serempak dari semua yang ada di dalam mobil. "KEPO!"

Emosi seketika meledak dalam setiap orang, terutama Kangin. Memang pantas kalau Kyuhyun mendapat julukan Evil Prince karena dia bisa membuat orang keki di segala suasana. Seperti saat ini. Kangin kembali merutuki dirinya yang mengkhawatirkan Kyuhyun seperti tempo hari lalu.

Sementara Kyuhyun menyeringai penuh kemenangan setelah dapat menjahili para hyungnya.

.

.

.

.

.

"Kau cantik, Kibum!" pekikku histeris melihat wajah Kibum yang terpoleskan makeup. Kibum memandang tak percaya dirinya sendiri pada cermin.

"I-ini aku?" tanyanya. Aku dan Ryeowook mengangguk.

Kibum benar-benar imut dan cantik. Apalagi rambut panjang yang selalu dia kuncir itu kini digerai dan hanya dikuncir setengah. Namun sayangnya, makeupnya ini tidak cocok dengan bajunya yang terlalu seperti laki-laki. Lihat saja, dia memakai kaos yang dilapis kemeja kotak-kotak merah, jeans belel, dan sepatu sneakers.

Ryeowook menggeleng. "Bagaimana dia bisa melihatmu sebagai perempuan kalau kau seperti laki-laki? Ayo ganti baju!" perintah Ryeowook.

"Ganti baju?" tanyaku namun tidak dijawab. Ryeowook mengobrak-abrik tas besarnya, dan mengeluarkan sebuah kaos lengan panjang dan celana pensil, lalu menyerahkannya pada Kibum yang terkaget-kaget.

"Tasmu seperti kantong Doraemon, Wookie," katanya. Aku setuju. Ryeowook hanya nyengir. Lalu Kibum masuk ke dalam. Ketika dia keluar, dia kembali membuat kami takjub. Dia benar-benar bermetamorfosis menjadi Kibum yang lain.

"Foto dulu!" kataku sambil mengeluarkan ponsel. "Hal seperti ini harus diabadikan!" Kami berfoto ria sebelum akhirnya keluar dari toilet yang lama-lama terasa pengap.

Aku merasakan beberapa mahasiswa yang mencuri pandang dan bahkan ada yang terang-terangan menatap Kibum yang berjalan dengan menunduk. Mungkin mereka kaget dengan metamorfosis dari Kibum.

"Kibum, dongak dong," kataku. "Kalau kau menunduk malah aneh."

Kibum menurut, dan tepat saat itu, Henry, laki-laki yang disukai Kibum selama ini berjalan mendekati kami. Wajah Kibum merona dan dia kembali menunduk. Kulihat wajah Henry juga sedikit kemerahan. Entah itu karena melihat Kibum atau habis berlari dari lapangan basket.

"Kibum," panggilnya. "Emm… besok kau ada waktu, nggak?" tanyanya. Aku langsung nyengir, sedangkan Kibum masih cengo di tempat. Kusenggol lengan Kibum, begitu pula dengan Ryeowook.

"Me-memangnya ada apa?" tanya Kibum tergagap. Dia memegangi tanganku erat sekali. Bahkan tanganku sampai basah karena tangan Kibum yang berkeringat.

Henry menggaruk tengkunknya. "Besok aku lomba basket. Nonton, ya?" pintanya.

Kibum masih tampak kaget dan belum bisa menjawab. "Tentu saja! Akan kupastikan dia menontonmu besok!" ucapku menggantikan Kibum.

Henry mengangguk-angguk, "Baiklah. Annyeong." Dia kembali pergi lagi secepat kilat.

Aku dan Ryeowook langsung menggoda Kibum yang merona hebat. Ryeowook mengulang kata-kata Henry tadi. Benar-benar kisah cinta yang manis. Kadang akupun iri dengan pada yeodongsaengku ini. Mereka mencintai laki-laki yang mencintai mereka juga. Sedangkan aku, cintaku bertepuk sebelah tangan. Ah sudahlah, itu masa lalu.

Ryeowook mengajak kami pergi ke mall. Katanya pacarnya sedang tampil di sana. Kalau menurutku, pacar Ryeowook itu aneh. Dia bisa cengar-cengir sendiri, dan dalam satu keadaan bisa mengeluarkan aura gelap dan dingin seperti setan. Aku juga tidak tahu, bagaimana caranya Ryeowook bisa kenal dengan laki-laki yang lebih tua lima tahun darinya itu. Terlalu abstrak.

.

.

.

.

.

Seperti dugaanku, mall sangat ramai. Tentu saja karena Super Junior sedang tampil. Dan kalau bukan karena rengekan Ryeowook, aku akan lebih memilih untuk mendekam di rumah bersama buku-bukuku dan memikirkan tentang Henry tadi. Seperti mimpi saja Henry tiba-tiba datang dan memintaku untuk menonton pertandingan basketnya. Padahal, tanpa dia mintapun, aku akan menontonya.

Henry adalah laki-laki yang kusukai sejak masa OSPEK. Dia tinggi, dan sangat jago bermain basket. Dia cukup populer di kampus. Dia juga mendapat beasiswa kuliah dari satu perusahaan karena kehebatannya bermain basket. Tak pernah sekalipun aku mendengar Henry dekat dengan seorang perempuan, sampai tadi dia menemuiku dan berkata hal yang masih terasa janggal di telingaku.

Ryeowook menyedot milk shake coklatnya sambil terus menyeretku dan Sungmin menuju panggung yang dipenuhi oleh gadis-gadis muda seusia kami. Harus kuakui, boyband Super Junior itu sedang naik daun dan terkenal. Beruntungnya Wookie menjadi kekasih dari salah satu personilnya.

"Ayo!" kata Ryeowook sambil berjalan menuju backstage dan bukannya depan panggung. Apa yang mau ditonton dari sini?"

"Kau mau menemui pacarmu itu, Wookie?" tanyaku. Ryeowook mengangguk. "Kalau gitu kau tinggalkan saja aku dan Sungmin di café tadi!" kataku setengah kesal.

"Aku malu kalau hanya berduaan saja dengan Yesung. Makanya kuajak kalian," katanya.

Bertepatan saat itu, Super Junior baru menyelesaikan lagunya dan turun dari panggung. Managernya yang waktu itu kulihat, memperbolehkan kami untuk masuk ke tempat Super Junior berada. Banyak artis yang sering kulihat di TV, kini lalu lalang bersamaku. Tapi aku tidak akan bertingkah norak seperti kebanyakan orang yang langsung minta foto. Bodo amat dengan mereka. Aku tidak mengenal mereka, kok.

Ryeowook langsung berlari begitu melihat kekasihnya. Aku memaku di tempat sambil memegangi tangan Sungmin erat-erat. Lidahku keluh saat melihat orang itu. Orang yang selama ini selalu kuhindari dan tidak ingin kutemui.

"Kau kenapa, Kibum?" tanya Sungmin dengan wajah sedikit panik melihat banyak peluh di wajahku. Aku menggeleng. "Kalau kau sakit, lebih baik kita langsung pulang."

"Ani… aku baik-baik saja," jawabku tidak ingin membuatnya panik.

Tahu-tahu, salah satu member SuJu yang bertopi merah muda mendekati kami berdua. Hei, sepertinya aku pernah melihat topi itu. Bukankah itu topi seragam milik Sungmin?

.

.

.

.

.

Ini seperti mukjizat, dapat bertemu dengannya lagi. Kupikir, aku tidak akan bertemu lagi. Dia bersama temannya yang berwajah datar itu. Aku yang mengenakan topi merah mudanya ini, langsung mendekati mereka. Tidak ada senyum di wajahnya. Adanya ekspresi panik.

Aku langsung memakaikan topi itu di kepalanya. Dia kaget. "Itu topimu. Terimakasih yang waktu itu," kataku.

Senyum manis langsung mengembang di wajahnya. "Ah, iya. Sama-sama."

Aih… semakin imut saja dia. "Ada apa ke mari?" tanyaku. Karena dia sepertinya bukan tipe orang yang akan mengejar-ngejar seorang artis seperti halnya yang dilakukan oleh Sparkyu.

"Aa… aku diajak Ryeowook," katanya sambil menunjuk Yesung dan Ryeowook yang sedang bermesraan di belakangku. Semakin membuatku iri saja.

Aku tidak mengerti dengan gadis berwajah datar yang ada di sebelahnya. Wajahnya pucat, seperti melihat setan saja. Umm… oke, aku memang dipanggil Setan oleh para hyungku. Tapi aku bukan setan dalam arti sebenarnya. Aku manusia, dan kakiku masih menapak pada tanah.

"Sungmin, ayo pergi," katanya sambil berbalik.

Sungmin kaget. "Kenapa, Kibum?" tanyanya. Gadis berwajah datar itu tidak menjawab dan semakin menyeret Sungmin menjauh. "Maaf, Kyuhyun-ssi. Annyeong," katanya lalu mengikuti gadis yang bernama Kibum itu.

Sebuah tepukan mendarat di bahuku. Aku menoleh, mendapati Siwon hyung sedang berdiri sambil menatap dua gadis yang tadi berdiri di depanku. "Mereka siapa?" tanyanya.

"Oh, yang tadi pakai topi merah muda namanya Sungmin. Dan temannya, Kibum." Entah aku salah melihat atau tidak, namun wajah Siwon hyung menegang. Dia pun terpaku menatap pintu keluar yang dilalui oleh dua gadis itu. "Kau kenapa, Hyung?" tanyaku ingin tahu.

Seakan sadar dari lamunannya, Siwon hyung menggeleng. "Tidak apa-apa," katanya lalu berbalik memasuki dressing room untuk Super Junior.

Ada apa ini? Apa Siwon hyung memiliki hubungan dengan gadis berwajah datar itu? Atau malah dengan Sungmin? Aku harus tahu!

To Be Continue…

1.611 words

Khusus hari ini, saya update dua kali. Berhubung hari ini adalah dua tahunnya Kazuma B'tomat menjadi warga FFn. Ahahaha… gak nyangka bisa selama itu.

Terima kasih pada MinnieGalz dan yang sudah membaca.

Sign,

Uchiha Kazuma Big Tomat

Finished at:

Tuesday, June 19, 2012

01.33 P.M

Published at:

Tuesday, June 19, 2012

04.57 P.M

Paparazzi © Kazuma House Production ® 2012