Kyuhyun baru bangun saat jam menunjukkan pukul dua belas siang. Tidak ada yang mengkhawatirkan dia seperti waktu itu. Hari ini juga, semua member SuJu sedang menikmati hari bebas mereka. Tidak ada jadwal show di manapun. Manager mereka juga tidak menjadwalkan mereka untuk latihan. Jadilah mereka berdelapan menikmati waktu seharian dengan berleha-leha.

Setelah gosok gigi dan cuci muka, Kyuhyun mendekati hyungnya yang sedang membersihkan aquarium kura-kuranya. Siapa lagi kalau bukan Yesung. Yesung terlalu fokus pada pekerjaannya, sampai-sampai tidak menyadari sosok Kyuhyun yang tengah berjongkok di depannya sambil mengangkat Ddangkoma, salah satu kura-kura milik Yesung.

"Hyung," panggilnya.

Tanpa melihat lawan bicaranya, Yesung memberikan respon. "Hmm… ada apa?"

"Bagaimana caramu mendekati Ryeowook?" tanya Kyuhyun masih dengan memainkan Ddangkoma yang sama sekali tidak bergerak. Kadang dia berpikir, apa hewan itu masih hidup atau sudah mati karena jarang sekali terlihat bergerak.

Yesung langsung mendongak begitu mendengar nama kekasihnya di sebut-sebut oleh namdongsaengnya. "Wae?" tanya Yesung dengan wajah datar.

"Aku mau tahu," jawab Kyuhyun. "Lagipula, sepertinya selama ini aku tidak pernah melihatmu dekat dengan perempuan. Sampai tiba-tiba kau mengenalkannya pada kami sebagai pacarmu."

Yesung tampak berpikir sebentar. Lalu senyum tanpa dosa menghiasi wajahnya. "Apa kau sedang mendekati seorang gadis, eh? Evil Magnae?" tanyanya.

Kyuhyun gelagapan. "A-anieoyo! Cepat beri tahu saja! Aku tidak punya banyak waktu!" kata Kyuhyun sok sibuk. Bukannya menjawab, Yesung malah pergi ke kamarnya dan kembali ke hadapan Kyuhyun dengan membawa buku bersampul putih yang langsung diberikan pada Kyuhyun.

.

.

.

.

.

Cara pertama : Buatlah keadaan seolah kalian bertemu secara tidak sengaja, dan ajaklah dia mengobrol lebih dekat.

.

.

.

.

.

.

.

Paparazzi © Kazuma B'tomat

Warning : KyuMin GS

Kazuma House Production present…

.

.

Kyuhyun PoV

Kupacu mobil putih yang beberapa bulan lalu baru kubeli menuju sebuah café yang berada di dekat stasiun. Namanya Café Beans, tempat Sungmin bekerja. Setelah sampai dan memarkirkan mobilku di dekat café itu, bukannya turun aku malah masih duduk balik kemudi. Mengintai layaknya FBI di film-film.

Kulirik buku bersampul putih yang tadi diberikan Yesung Hyung. Seribu Satu Cara Mendapatkan Pacar. Dari judulnya saja sudah terdengar konyol. Bisa-bisanya Yesung hyung membeli buku seperti itu. Dan idiotnya, aku mempraktekan apa yang ada di dalam buku itu.

Aku memang dipanggil Evil Prince yang membuat para yeoja meleleh. Tapi dalam kenyataannya, pengalamanku berpacaran adalah nol besar. Memalukan, eh? Ya, ya, ya… kuakui hal itu. Dan Sungmin adalah yeoja beruntung yang pertama kali mendapatkan hatiku. How lucky you are.

Setelah memakai topi yang menutupi hampir sebagian wajahku, aku keluar dan masuk ke dalam café itu. Bau kopi pekat yang pertama kali tercium. Aku duduk di paling pojok dari café ini, sambil melihat situasi, kalau-kalau ada Sparkyu atau ELF yang melihatku.

"Selamat sore! Mau pesan apa?" tanya seorang pelayan yang menghampiriku. Langsung saja aku mendongak, mendapati Sungmin sedang berdiri dengan senyum yang memamerkan gigi kelincinya. Matanya terbelalak kaget. "Kau?" pekiknya.

Buru-buru kuberikan tanda padanya dengan menaruh telunjuk di bibirku agar dia tidak berteriak dan membeberkan siapa aku sebenarnya. Hei! Nggak lucu kalau nanti aku pulang ke dorm dengan keadaan badan yang seperti zebra. Sungmin yang sepertinya mengerti, menganggukkan kepalanya.

"Aku mau ice cappuccino," kataku.

Sungmin mengangguk sambil menekan-nekan PDA-nya. "Pakai gula atau tidak?"

"Iya," jawabku. Dia segera pergi ke dapur, sementara aku duduk menunggu di sini sambil mengawasi keadaan.

Keadaan di sini sama sekali tidak membuatku nyaman. Kebanyakan pengunjungnya adalah perempuan, dan itu dia yang menjadi pusat permasalahan! Hei, hei! Jangan berpikiran aku ini homo. Aku masih normal. Buktinya, aku menyukai Lee Sungmin sampai-sampai rela melakukan hal ini.

Kuturunkan lebih dalam topiku yang membuatku terlihat seperti teroris. Terserah apa yang dibilang orang pada penampilanku, asalkan aku aman.

"Ini pesanannya!" seru suara yang kini mudah sekali kuingat. Tentu saja suara Sungmin. Dia meletakkan gelas plastik itu di meja yang berada di hadapanku. Kemudian dia duduk di hadapanku. "Sudah tidak takut berkeliaran?"

"Berkeliaran?" tanyaku dengan kata yang kuanggap kurang manusiawi. "Kau mengatakannya seolah aku bukan manusia." Kuminum ice cappuccino yang kupesan dan membuatku mendelik. "Ya! Pahit sekali!" seruku. Padahal minuman berwarna coklat muda itu belum sama sekali masuk ke kerongkonganku.

Sungmin buru-buru kembali ke dapur dan membawa sebuah botol berisi gula cair. "Sini, biar kutambahkan," katanya. Setelah ditambahkan gula, rasa cappuccino itu setidaknya tidak sepahit tadi.

"Kau tidak masalah keluar seperti waktu itu?" tanya Sungmin. Apa dia mengkhawatirkan keadaanku?

Aku mengeluarkan evil smirk yang biasanya membuat para gadis memerah. Tapi tidak seperti gadis di depanku ini. Wajah putihnya bahkan tidak menunjukkan adanya rona kemerahan. "Tidak apa-apa, selama mereka tidak tahu."

Dia mengangguk-angguk, hendak berdiri. Langsung saja kutahan tangannya. "Eh?" dia kaget, "ada apa?"

"Temani aku mengobrol sebentar," kataku menunjukkan senyum termanisku. "Tidak apa-apa, kan?" tanyaku dijawab dengan anggukkan dan senyuman. Sungmin kembali duduk, dan aku mulai berceloteh banyak tentang segala hal.

.

.

.

.

.

Kibum PoV

"Ne, Kibum, aku tidak bisa menemanimu nonton pertandingan basket!" kata Ryeowook padaku, "aku harus bekerja. Tidak mungkin aku bolos hari ini. Sudah menjelang ulangan umum!"

"Sekali saja!" Aku terus merajuk sambil menarik tangannya menuju lapangan basket indoor, tempat pertandingan dilaksanakan. "Lagipula kau mulai bekerja jam empat. Dan ini masih setengah empat. Lima belas menit saja."

Hanya Ryeowook yang bisa kuminta menemani. Sungmin sudah pergi ke tempat kerjanya beberapa menit lalu, meninggalkan aku dan Wookie sendirian. Dan sekarang, yeoja berambut bergelombang ini juga akan meninggalkanku dengan keadaan wajah berlapis makeup dari pagi tadi. Aish… aku malu bila bertemu Henry dengan keadaan seperti ini nanti.

"Wookie…" kataku sambil memeluk lengannya.

"Bummie…" balasnya. Percuma berimut-imut ria dengan Ryeowook karena kami berdua tidak akan mempan dengan keimutan seperti itu. Lain lagi masalahnya kalau Sungmin yang sudah mengeluarkan wajah aegyeo-nya yang kelewat batas. Tidak akan ada yang tega untuk menolaknya.

"Kibum… kau tahu, kan, aku harus pulang dulu dan mengambil buku, baru pergi bekerja. Dari sini ke rumah juga lima belas menit." Aku menghela napas. "Masa kau tega melihat temanmu ini dipecat dari pekerjaannya karena telat?" Ryeowook mengerjapkan matanya.

Lebay…. Kalau dia telat juga tidak akan bermasalah dengan pekerjaannya. Padahal pekerjaannya yang paling enak. Hanya mengajar privat anak kelas tiga SD. Oke, yang paling enak itu aku, karena aku baru akan bekerja bila ada panggilan dari perusahaan penerbitan yang membutuhkan jasaku.

Dengan amat sangat terpaksa, aku melepaskan pelukanku dari tangannya. Lama-lama kasihan juga. "Ya sudah sana!" kataku sambil memajukkan sedikit bibirku.

Giliran Ryeowook yang memelukku. "Makasih, Kibum… Jangan lupa kasih tahu perkembangannya, ya, kalau diajak jalan!" Ryeowook mencubit kedua pipiku lalu langsung kabur keluar. Wajahku terasa panas. Apa sih yang dipikirkan Ryeowook! Tidak mungkin Henry mengajakku jalan. Dalam mimpi mungkin saja.

Kulangkahkan kakiku menuju gedung lapangan indoor dan memilih kursi tribun baling atas. Pertandingan berjalan sengit. Ingin rasanya aku meneriakkan nama Henry sekarang juga. Tapi tentu saja hal itu memalukan. Maka aku memilih diam, sementara yang lain berteriak-teriak.

.

.

.

.

.

Sungmin PoV

Entah sudah berapa menit kuhabiskan dengan mengobrol bersama namja yang baru kukenal beberapa hari lalu. Namanya Cho Kyuhyun, anggota termuda boyband Super Junior. Kuakui wajahnya sangat tampan, ditambah lagi dengan senyum tipisnya itu. Bukan berarti aku menyukainya. Tidak mungkin aku menyukai orang yang baru kukenal. Aku hanya mengaguminya.

Dia sibuk bercerita bagaimana para personel SuJu. Mulai dari leader mereka, Leeteuk yang baik seperti malaikat. Siwon yang selalu menceramahinya bila berbuat usil dengan para hyungnya. Sampai manager mereka yang katanya suka gonta-ganti teman kencan, tapi tidak pernah mengangap mereka sebagai pacarnya.

"Dari tadi aku terus yang bercerita. Kau bagaimana?" tanyanya. Lagi-lagi dengan senyum tipisnya.

"Aku?" tanyaku sambil menunjuk diri sendiri. Dia mengangguk. "Aku masih kuliah dijurusan design komunikasi visual. Aku punya adik kembar. Dan… um… aku bingung mau bilang apa lagi," jawabku kikuk. "Kau saja yang bertanya! Kau mau tahu apa?"

Dia tampak berpikir. "Kenapa kau masuk jurusan design komunikasi visual?" tanyanya.

"Karena aku suka," jawabku.

"Lalu, kenapa kau bekerja di tempat seperti ini?" Dia bersandar pada sandaran kursi. "Kau bisa saja kalau mau menjadi model majalah. Pernah mencobanya?"

Aku tertawa mendengarnya. Bukan dia yang pertama kali mengatakan hal itu. Ryeowook juga pernah mengatakannya. "Ani, aku belum pernah mencobanya. Menjadi model itu terlihat menyenangkan, tapi kenyataannya tidak semenyenangkan itu." Dia tampak menaikkan alisnya. "Kalau jadi model, bukan tidak mungkin kalau aku dilarang makan coklat dan segala hal yang berbau manis yang sangat kusuka untuk menjaga berat badan agar tetap stabil."

Dia menegakkan tubuhnya kembali. "Mwo? Kau suka makan coklat?" Aku mengangguk. "Kenapa tidak kelihatkan gemuk?"

"Aku juga tidak tahu," jawabku seadanya. Aku menoleh ke arah pintu, mendapati café yang kini bertambah ramai. "Sepertinya aku sudah tidak bisa menemanimu mengobrol, Kyuhyun-ssi. Aku permisi," pamitku baik-baik dan berlalu setelah dia mengangguk.

Saat kembali ke dapur, Sunny dan Yoona memberondongku dengan pertanyaan. "Dia siapamu, Minnie?" tanya Yoona.

Aku menoleh ke arah Kyuhyun. "Dia temanku," jawabku. Tidak mungkin aku membeberkan siapa Kyuhyun sebenarnya. Aku kasihan kalau harus melihat laki-laki itu kembali berlarian menghindari kejaran gadis-gadis.

Sunny melirik sinis. "Tingkahnya mencurigakan. Apa-apaan itu menggunakan topi sampai menutupi wajahnya seperti itu."

"Itu… kebiasaannya," kataku berbohong sambil menggaruk tengkukku yang tidak gatal sama sekali.

"Ya! Ngapain kalian ngerumpi di sana?" lengkingan cempreng dari Heecul Ajumma menganggetkan kami. "Aku membayar kalian bukan untuk mengobrol saja."

Takut-takut, kami bertiga membalik badan mengadap Heecul Ajumma. Bulu kudukku sudah berdiri semua. "N-ne, Ajumma," jawab kami. Heechul Ajumma masih berdiri dengan menggendong Heebum. Aku segera menuju wastafel dan mencuci gelas-gelas yang ada di sana.

Harus kuakui dari hari ke hari, bossku itu semakin menyeramkan saja.

.

.

.

.

.

Kibum PoV

Saking ramainya orang-orang yang menonton, aku sampai keluar yang paling terakhir karena duduk di paling belakang. Saat gedung sudah kosong, aku baru bisa keluar. Ah, bodohnya aku duduk di sana. Harusnya aku duduk di dekat pintu saja.

"Kibum-ssi!" panggil suara yang sudah sangat kukenal. Telapak tanganku basah. Lamat-lamat aku berbalik, mendapati Henry sudah berdiri dengan wajah berkeringat dan ransel di punggungnya. "Boleh aku mengantarmu pulang?" tanyanya.

Ya Tuhan. Ada badai apa sampai-sampai hal yang dikhayalkan Ryeowook tadi menjadi kenyataan. Dengan malu-malu aku mengangguk.

"Kajja," katanya lalu berjalan bersisihan denganku.

Selama perjalanan menuju halte depan kampus, tidak ada percakapan yang terbuka. Baik aku dan Henry sama-sama bergulat dengan pikiran masing-masing. Kenyataan ini masih sulit diterima akal sehatku. Dan aku yang hanya setelinganya, membuat banyak pasang mata memandang ke kami dengan berbagaimacam jenis tatapan.

"Kau tinggal di mana?" tanyanya.

"Dekat Seoul Hospital," jawabku sambil meremas ujung jaket yang kukenakan. "Kau sendiri?"

Dia menggaruk kepalanya yang kuyakin tidak gatal. "Dekat stasiun."

Langsung kuhentikan langkahku. "Kalau begitu, tidak usah mengantarku. Tujuan kita berlawanan arah."

Aku tidak berani memandang langsung ke matanya. Berada dalam jarak sedekat ini pun sudah membuat jantungku seakan terkena sengatan listrik. Padahal, leherku sudah sangat pegal menunduk terus dari tadi menonton pertandingan basket.

"Tidak apa-apa." Lalu kami kembali terdiam sampai dia buka mulut. "Kau dekat sekali dengan dua temanmu itu," katanya. Lagi-lagi dia yang memulai permbicaraan.

Aku mengangguk. "Ne, namanya Sungmin dan Ryeowook. Kami sudah berteman sejak SMP."

"Sudah lama, ya." Aku mengangguk. Tahu-tahu, tangan Henry ada di pundakku. "Jangan menunduk terus. Lehermu tidak pegal, apa?"

Aku menghadap ke depan. "Ne."

Kami berdiri di halte yang lumayan ramai sore ini, menunggu bus yang mengantar ke rumahku. "Aaa… kau, menjadi atlet itu enak, tidak?" tanyaku bingung sendiri. Malu-malu, aku meliriknya yang menyulingkan senyum.

"Menurutku, sih, enak." Tiba-tiba dia menoleh padaku. "Selama kau menyukai dan merasa nyaman dengan apa yang kau lakukan, menjadi apapun akan terasa menyenangkan." Senyum lebar kembali menghiasi wajahnya, membuat matanya menyipit. Tanpa sadar, aku menyulingkan senyum.

.

.

.

.

.

Yesung PoV

Sungguh, aku tidak mengerti dengan Si Bocah Setan Cho Kyuhyun itu. Sejak pulang entah dari mana, dia membuntutiku ke manapun aku pergi. Dan hasilnya, darahku naik sampai kepala, begitu juga emosi terpendamku padanya selama ini. Padahal tadi pagi dia terlihat begitu manis–ya, kuakui itu.

"Ya! Ngapain kau mengikutiku terus? Hari ini bukan April Mop!" teriakku saat hendak mengambil minum. Donghae yang tadi sedang menonton, kini menghampiriku dan Si Magnae Setan ini.

"Ada apa, Hyung?" tanya Donghae.

"Aku hanya mau bertanya, hyung!" katanya dengan wajah memelas yang minta ditimpuk Ddangkoma.

Aku berdecak kesal. "Dari tadi kau mengatakan hal itu, tapi sama sekali tidak bertanya!" teriakku lagi. Maunya apa sih bocah ini? Bikin keki saja.

Bukannya dia menjawa, dia malah menunjuk Donghae. "Masih ada Si Ikan di sini."

Aku menghela napas. Sabar Yesung… sabar…. Namdongsaeng-mu ini hanya ingin mengerjaimu seperti biasa. "Cepat bisikkan!"

Dia mendekatkan mulutnya pada telingaku dan mengucapkan sebuah kalimat yang membuatku kaget. "Mwo? Buat apa kau menanyakan tentang Ryeowook?" Dia menepuk dahi. Donghae menatap kami bergantian.

"HYUNG! KENAPA DISEBUTKAN?" teriaknya.

Aku langsung menjitak kepala bocah yang lebih tinggi beberapa centi dariku ini. "Kau yang aneh. Kenapa bisa-bisanya menanyakan banyak hal aneh hari ini. Mulai dari caraku mendekati Wookie, dan sekarang kau bertanya di mana rumah Wookie! Bagaimana aku tidak panas mendengarnya!"

"AKU TIDAK BERMINAT PADA PACARMU, HYUNG! AKU BERMINAT PADA KAKAKNYA!" teriak Kyuhyun yang emosi. Terlihat dari dadanya yang naik turun. Harusnya aku yang emosi.

Sebentar!

Seketika hening menyergap kami.

"E- itu. Bukan itu!" jawab Kyuhyun tergagap.

Aku dan Donghae tersenyum penuh arti. Sepetinya kami sepikiran. Langsung saja tangan kami terjulur untuk merangkul dan mengacak-acak rambut berwarna karamel yang selalu menjadi kebanggaan Si Setan itu.

"Ternyata Kyuhyun sudah besar!" kata Donghae.

"Ya! Jauhkan tangan laknat kalian dari rambutku!" teriaknya yang tidak kami gubris sampai Leeteuk, leader yang berhati malaikat, keluar dari kamarnya dan menghampiri kami.

Dia tampak tidak mengerti. "Kalian kenapa teriak-teriak?"

"KYUHYUN MENYUKAI LEE SUNGMIN!" teriakku dan Donghae serempak. Senyum lebar terpancar di wajah Leeteuk, disusul dengan member lain yang menghentikan aktivitas mereka setelah mendengarkan teriakkan kami.

Mulai hari ini, tidak ada yang namanya Evil Prince Cho Kyuhyun. Karena kau akan merasakan hari-hari seperti di neraka!

To Be Continue…

2.204 words

Yeah… Chapter ini panjang. Kalau jujur, waktu saya ngebuat chapter satu, saya beneran nggak tahu, lho, cerita ini mau dibawa ke mana. Tapi saya janji akan mengusahakan untuk update tiap hari.

Apa sceen KyuMin-nya cukup memuaskan? Kali ini sceen Henry X Kibum dulu, nanti (entah kapan, tapi pasti) ada sceen SiBum.

Ada yang minta sceen Donghae dan Eunhyuk? Kalo ada, nanti saya bikin.

Terima kasih untuk: Hyugi Lee, Cho97, Narunaru bofi, Vivinetaria, MinnieGalz, Asahi, nahanakyu, KyuLoveMin. Dan semua yang sudah membaca.

Sign,

Uchiha Kazuma Big Tomat

Finished at:

Wednesday, 20 June 2012

08.00 P.M.

Published at:

Wednesday, 20 June 2012

10.05 P.M.

Paparazzi © Kazuma House Production ® 2012