'BRUK! BRUK! BRUK!'
Pintu kamar Kyuhyun diketuk dengan semena-mena oleh entah-siapa-itu yang ada di luar. Kyuhyun sendiri sudah bangun, duduk di atas kasurnya sambil memeluk guling dan membaca buku yang kemarin diberikan Yesung. Biarpun dia bilang konyol, kenyataannya dia tetap mengikuti apa yang tertulis di dalamnya.
"Hoi, Evil Magnae!" panggil suara nge-bass dari luar. "Buka pintunya!"
Kyuhyun lebih memilih untuk tetap di posisinya, meski suara sang manager sudah sangat marah. "Nggak mau!" teriaknya.
Setelah insiden keceplosan seminggu yang lalu, dengan seenak jidat para hyung-nya, terutama Kangin, Hangeng, dan Donghae yang paling getol membuatnya menjadi babu. Yeah, babu. Pembantu. Kalau bukan karena ancaman tentang perasaannya pada Sungmin, sudah dapat dipastikan dia tidak mau mengerjakan hal itu.
Biar begitu, mungkin hanya Leeteuk yang masih memiliki hati nurani pada namdongsaeng-nya itu dan menyuruh Kangin, Hangeng, atau Donghae yang mengerjakan kewajiban mereka. Dia juga tidak akan membiarkan Kyuhyun menyentuh wajan, begitu pula dengan member lain. Mereka masih sayang perut.
"Enak saja aku dijadikan pembantu, padahal di rumahku sendiri ada banyak pembantu," rutuk Kyuhyun sambil memonyongkan bibirnya beberapa mili.
"Kalau kau tidak segera keluar dan mandi, akan kutelfon Sungmin sekarang juga!" teriak Il Woo yang langsung membuat otak Kyuhyun bekerja saat mendengar nama Sungmin disebutkan. "Akan kukatakan kalau kau menyukainya, dan kau tidak mau mandi!"
"Iya! Iya!" balas Kyuhyun. "Bisanya ngadu!" cibir Kyuhyun lalu bangkit dari tempatnya dan keluar tanpa membereskan kamarnya yang seperti tempat pembuangan sampah.
.
.
.
.
.
Cara Kedua : Cari tahu segala hal tentang dia. Kalau bisa, bertemanlah dalam jejaring sosial
.
.
.
.
.
.
.
Paparazzi © Kazuma B'tomat
Warning : KyuMin / YeWook / SiBum / HeBum (GS)
Kazuma House Production present…
.
.
Kyuhyun PoV
Aish… bagaimana mau mendekati Sungmin kalau punya waktu untuk main PSP saja nyaris tidak ada. Seminggu ini adalah seminggu paling berat dalam hidupku. Bukan hanya karena promo album terbaru kami, tapi karena aku juga dijadikan pembantu. Harusnya julukan Evil yang mereka berikan padaku lebih cocok kalau diberikan pada hyungdeul-ku.
Malam ini, aku sekamar hotel dengan Yesung hyung. Seperti biasa pula, dia mengacuhkanku dan malah memilih untuk bermesraan dengan pacarnya lewat balok kecil berwarna hitam yang sejak tadi melekat di telinganya.
"Pulsanya mahal!" sindirku sambil membuka laptop. Sepertinya manusia berkepala besar itu tidak mendengarku.
Tiba-tiba pintu kamar kami terbuka, dan Si Siluman Ikan itu masuk. Aku berdecak kesal. "Mau apa?"
Dia malah tertawa-tawa dan seenaknya duduk di ranjangku. Dia menyodorkan ponselnya di depan wajahku. Langsung kuambil, dan berhasil membuat mataku terbelalak. "Dapat darimana?" Twitter Sungmin. Sudah lama aku mencarinya. Kenapa malah Siluman Ikan ini yang mendapatkannya duluan?
Dia merebahkan tubuhnya di kasur. "Bukannya berterima kasih…" desahnya. "Mudah saja, tinggal buka akun Yesung hyung, cari dalam daftar following-nya."
Kenapa hal itu tidak pernah terpikirkan olehku?
Aku hanya tersenyum masam. "Hmm… gomawo."
"Apa saja yang sudah kau lakukan untuk mendekatinya?"
"Hmm?" dengungku dengan mata masih fokus pada layar laptop yang menunjukkan halaman twitter, dan segera mencari akun Sungmin, lalu mem-follow-nya. "Hanya mengajaknya mengobrol. Kenapa?"
"Tidak bertanya padaku? Aku bisa saja memberikanmu petuah-petuah jitu untuk mendekatinya."
Aku menaikkan alis. "Buat apa mendapat petuah orang yang bahkan pacaran saja belum pernah." Aku menatapnya dengan tatapan apa-kau-bercanda. Seketika aku menghembuskan napas berat. Percuma menanyakan hal itu pada Ikan ini. "Lebih baik minta petuah dari Il Woo hyung."
Senyumku melebar, setelah melihat followers-ku bertambah dengan nama Sungmin di sana hanya setelah beberapa menit aku mem-follow-nya. Aku mematikan laptopku dan mendorong Donghae hyung agar berdiri dari kasurku. "Sudah sana kembali ke alammu! Aku mau tidur."
"Iya… iya…" cibirnya lalu keluar.
Kulirik Yesung hyung yang masih setia dengan ponselnya. "Kau juga, hyung! Suaramu berisik sekali!" Dan lagi-lagi, aku diabaikan.
Ini akan menjadi mimpi indah sepanjang masa.
.
.
.
.
.
Il Woo PoV
Menjadi manager sebuah boyband dengan anggotanya yang punya karakter berbeda itu sangat merepotkan. Yesung dengan kebiasaannya memegang daerah di atas bibir member lain. Kyuhyun, member paling muda dan selalu menjahili hyungdeul-nya. Dan masih banyak yang lainnya. Tapi mau bagaimana lagi, kalau tidak bekerja, bagaimana aku mendapat uang?
Saat baru saja akan membuka kamar Yesung dan Kyuhyun, teriakkan Bocah Setan itu sudah terdengar. Ya! Apa lagi yang dilakukannya kali ini?
Buru-buru aku masuk. "Ada apa?"
Aku mendapati Kyuhyung, Si Bocah Setan itu, berdiri dengan mulut terngaga. Dia masih menggunakan piyama biru gelapnya. "Sungmin… Dia meng-unfollow-ku," katanya sambil terus menatap layar ponselnya nanar. "Bagaimana ini, Hyung? Kenapa bisa begini?"
Aku menggeleng tidak percaya. "Aih… Cuma gara-gara itu kau berteriak? Kupikir kau melihat setan atau binatang buas!" kataku emosi sambil menjitak kepalanya.
Dia mengaduh-aduh pelan, memegangi kepalanya. "Kau tidak pernah merasakan rasanya jatuh cinta setengah mati, Hyung! Kau kan playboy!"
"Kau masih bocah dua puluh tiga tahun. Tahu apa tentang rasanya cinta mati?" Dia terlalu berlebihan. Sejak seminggu lalu, atau lebih, aku menjadi bulan-bulanannya yang dia katai playboy. Dan itu menggelikan. "Aku bukan playboy! Aku masih single!"
Dia melirikku. "Apanya yang single? Hampir setiap malam minggu aku melihatmu jalan dengan yeoja yang berbeda! Tak akan kubiarkan kau mendekati Sungminku!" katanya posesif.
Bocah ini semakin membuatku ingin menjitaknya. Apa-apaan tatapannya itu, seakan aku adalah penjahat. Terus yang tadi itu, dia mengatakan 'Sungminku'? Padahal belum resmi menjadi pacarnya saja sudah berani-beraninya menyebut Sungmin sebagai miliknya.
"Cepat mandi!" perintaku.
Dia malah kembali tidur di kasurnya dengan selimut menutupi seluruh tubuh. "Nggak mau!"
"Ya! Cho Kyuhyun!" teriakku. Habis sudah kesabaranku. "Kalau kau telat aku juga yang kena masalah!" kataku. Setelah ini, Super Junior memang harus off air di daerah dekat sini. Sialnya, lima belas menit lagi kami harus sampai di sana, tapi Setan yang satu ini malah kembali tidur.
"Itu sih deritamu, hyung!"
Aku mengambil botol aqua yang sejak tadi kupegang. Langsung kusiram dia.
"YA! KENAPA MALAH MENYIRAMKU?"
"Itu deritamu!" balasku. "Cepat mandi. Bangunkan juga Yesung. Kutunggu di depan van. Hari ini kita ada off air, lalu kita pulang. Dan kau bisa mengejar Sungminmu tercinta!"
BLAM! Kubanting pintu kamar bernomor 187 ini. Melangkah menuju restoran untuk menyantap sarapan.
.
.
.
.
.
Sungmin menghembuskan napas berat-berat saat tiga gadis di hadapannya ini memberondong dirinya dengan pertanyaan yang menurutnya sangat tidak penting. Meski di wajahnya masih terlukis senyum manis seperti biasa, tapi hatinya sudah benar-benar gondok mendengar mereka menyebutkan nama Kyuhyun berulang kali. Sepertinya dia akan menghabiskan waktu makan siangnya dengan tiga gadis ini.
Seingatnya, dia sama sekali tidak pernah menceritakan pertemuannya dengan artis papan atas itu pada orang lain. Jadi, bagaimana bisa tiga manusia di hadapannya ini mengganggu makan siangnya seperti sekarang?
"Sejak kapan kau dekat dengan Kyuhyun oppa?" tanya Victoria, yeoja cantik bertubuh ramping dan rambut pirang itu bertanya tentang objek yang sama sejak beberapa menit lalu.
Lagi-lagi Sungmin menghembuskan napas, berusaha sabar. "Ani, aku tidak pernah dekat dengan Kyuhyun-ssi. Lagipula, dari mana ada berita aneh macam itu?"
Victoria menunjukkan foto pada ponsel keluaran terbaru miliknya. "Ne, ini kau di tempat kerjamu, kan?" Sungmin mengangguk. "Dan laki-laki bertopi itu adalah Kyuhyun oppa, kan?" tanya gadis itu gencar.
"Itu bukan Kyuhyun-ssi," kata Sungmin kekeh dengan jawbannya sejak awal.
"YA! Ngapain kalian di sana?" Suara Ryeowook menyela di antara mereka. Bibirnya menyerucut dengan mata memandang Victoria tidak suka karena mendesak eonni-nya. Di belakangnya, Kibum berdiri dengan wajah datar. "Pergi sana! Kami mau duduk."
Dengan mendecih singkat, Victoria dan dua temannya pergi dari meja Sungmin. Saat melewati Ryeowook, tatapan mereka bertemu. Dua-duanya sama-sama memandangi satu sama lain dengan sinis. Sudah menjadi rahasia umum kalau Victoria dan Ryeowook menjadi musuh abadi sejak SMA. Sialnya, mereka juga satu kampus saat kuliah. Untungnya, mereka bukan satu jurusan.
Ryeowook menjatuhkan dirinya tepat di kursi dengan kasar. "Mau apa Nenek Lampir itu datang?" tanyanya sambil membuka tempat makannya dan memakan sandwich yang dia buat dari rumah. "Tumben sekali."
"Tidak, dia hanya bertanya tentang Kyuhyun-ssi," jawab Sungmin jujur sambil memakan sandwich yang dibawa Ryeowook.
Adiknya memandang Sungmin penuh selidik. "Kenapa mereka menanyakan tentang Kyuhyun oppa padamu?" Ryeowook kembali mengerucutkan bibirnya.
Kibum yang sepertinya baru sadar dari lamunannya memandangi Sungmin. "Kyuhyun itu yang memberikanmu topi pink itu, kan?" tanyanya.
"Ya! Eonni! Kenapa kau tidak memberi tahuku apa-apa? Dan kenapa malah Kibum yang tahu duluan?" rengek Ryeowook tanpa melihat situasi dan kondisi kantin yang hampir seluru pengunjungnya mengarahkan kedua pasang mata mereka pada gadis berambut pendek itu. Tentu saja karena volume suara Ryeowook yang terlampau besar. "Ceritakan padaku!"
"A-aku tidak punya hubungan apa-apa dengan Kyuhyun-ssi. Kami saja baru kenal saat dia kabur dari kejaran fans-nya," kata Sungmin mencoba menjelaskan.
Tatapan Ryeowook beralih pada Kibum yang hanya menggedikkan bahunya. Lalu tatapannya kembali pada Sungmin. "Awas kalau Eonni ternyata memiliki hubungan dengan Kyuhyun oppa. Aku harus dapat pajak jadian paling besar."
Kedua tangan Sungmin terangkat untuk mencubit kedua pipi tirus milik kembarannya itu. "Khayalanmu terlalu tinggi, Wookie!"
Ryeowook masih mengerang minta dilepaskan, tanpa mereka sadari raut wajah Kibum sedikit berubah. Posisi duduknya menjadi tegang. Perasaannya berubah tidak enak. Pikirannya melayang, sampai-sampai tidak mendengar suara ponselnya sendiri.
"Kibum?" panggil Sungmin.
"Eh, iya?" tanya Kibum balik.
"Ponselmu bunyi." Sungmin menunjuk ponsel putih Kibum.
Buru-buru Kibum menjawab panggilan tersebut. Setelah menjawab dengan sepenggal kata, Kibum bangkit berdiri dan memasukkan ponselnya ke dalam tas selempangnya. "Aku pergi dulu. Sepertinya baru akan pulang sore nanti."
Belum sempat Sungmin kembali bertanya, gadis berwajah datar itu sudah kabur meninggalkan mereka. Tinggal Kibum dan Sungmin yang saling berpandangan.
"Dia kenapa?" tanya Ryeowook, dan mendapat gelengan kepala dari kakaknya.
.
.
.
.
.
"Siwon, kau mau ke mana?" tanya Leeteuk pada namdongsaeng-nya yang memakai jaket, topi, dan sepatunya. "Kita baru pulang, dan kau sudah mau pergi lagi?"
Baru setengah jam lalu Super Junior kembali ke dorm mereka setelah mengadakan off air di salah satu kota sambil promosi album terbaru mereka. Rasa lelah terpancar dari wajah tiap personelnya. Kyuhyun kembali bermain PSP–nya, melampiaskan kegalauannya akan masalah Sungmin yang meng-unfollow twitternya. Yesung bermain dengan Ddangkoma. Shindong makan. Donghae menonton TV. Sementara Hangeng dan Kangin tidur di kamar masing-masing.
"Aku tidak akan lama, hyung," jawab Siwon dan langsung keluar tanpa menghiraukan panggilan Leeteuk.
Dia berjalan menuju halte bus yang tidak jauh dari gedung SM Entertaiment yang bersebelahan dengan dorm mereka. Sejauh ini, belum ada yang menyadari bahwa manja bertubuh tegap ini adalah Choi Siwon.
Memang, dari delapan personil Super Junior, yang paling pintar dalam hal nyamar-menyamar adalah Siwon. Sejak awal bergabung dalam SuJu, Siwon baru sekali ketahuan berjalan di tengah masyarakat umum. Karena keteledorannya dan dia yang tidak sadar betapa populernya dia saat itu, dia pulang ke dorm dengan keadaan sangat kacau.
Dia turun di halte dekat sebuah gedung yang menjulang tinggi–entah apa namanya–lalu menyulingkan senyum tipis saat melihat gadis dengan rambut dikuncir pony tail dan tas selempang coklat berjalan dengan sedikit terburu-buru. Tanpa menunggu banyak waktu lagi, dia berjalan mendekati gadis itu dan menarik tangannya tanpa bicara.
"YA! Siapa kau?" teriak gadis itu sambil mencoba melepaskan cekalan tangan Siwon. "Tolong!" teriak gadis itu, namun sayang, tidak ada yang bergerak menolongnya. Mereka hanya diam memandanginya.
Siwon menghentikan sebuah taksi yang kebetulan sedang lewat di jalan, dan menyuruh gadis itu masuk baru setelahnya dia yang masuk. "Jalan, Ajusshi!" perintahnya.
"Ya! Berhenti!" perintahnya, membuat taksi kuning itu berhenti lagi. Sang supir memandangi mereka dari kaca spion.
"Jalan saja," perintah Siwon lagi.
Gadis itu masih berusaha melepaskan cekalan tangan Siwon yang membuat pergelangan tangannya sakit. "Siapa kau? Mau apa kau membawaku?"
Siwon melepaskan topi yang dari tadi menutupi wajahnya. "Kita perlu bicara, Kim Kibum!"
Tanpa sadar, Kibum menahan napasnya kaget.
To Be Continue…
1.805 words
Saya tahu saya payah dalam hal sudut pandang orang pertama. Hasilnya yang punya Kyuhyun dan Il Woo ya gitu deh… Saya juga merasa chap ini aneh. Gomenasai… Terus, apa fic ini membosankan?
Dan karena dalam satu detik di dunia, ada miliyaran kejadian (#reader: gak usah berbelit-belit!), jadi saya tarik kata-kata saya yang mengkhususkan fic ini untuk KyuMin. Akan ada empat pairing dengan masalahnya sendiri-sendiri. Kali ini masalahnya SiBum dulu, terus baru deh couple lain.
Terima kasih untuk: Lya Clouds, jinggaaaa, nahanakyu, Cho Kyuri Mappanyukki, Hyugi Lee, Kikihanni, SpakrSomnia, Asahi, Syubidubidu. Dan semua yang telah membaca.
Sign,
Uchiha Kazuma Big Tomat
Finished at:
Thursday, 21 June 2012
06.32 P.M.
Published at:
Thursday, June 21, 2012
06.55 P.M.
Paparazzi © Kazuma House Production ® 2012
