"Hyung, aku pergi," kata Kyuhyun yang langsung keluar dari dorm mereka tanpa menunggu jawaban dari hyungdeul-nya. Menyisahkan bunyi debuman pintu.

Leeteuk, Kangin, Hangeng, Yesung, Shindong, dan Donghae yang masih duduk melingkari meja makan saling pandang. Magnae mereka memang akhir-akhir ini sering kabur pagi-pagi. Tentu saja untuk menemui Sungmin. Apalagi kalau bukan itu?

Sebuah ide melintas cepat di otak Shindong. "Ikuti, yuk," kata Shindong yang buru-buru menghabiskan sarapannya dan memakai sepatu. Hal itu diikuti oleh member-member lain. Ini adalah kesempatan emas untuk melihat bagaimana perjuangan magnae mereka menggapai cintanya.

"Siwon, kau mau ikut tidak?" tanya Hangeng pada laki-laki yang masih tidur di kamar sebelahnya.

"Tidak. Kalian pergi saja," jawa Siwon, kembali menenggelamkan kepalanya dalam bantal. Hangeng tidak banyak tanya. Dia berlalu setelah menutup pintu kamar Siwon.

Tangan Siwon meraih ponsel yang tergeletak begitu saja di atas meja. Lama dia memandangi wallpaper ponselnya yang adalah wajah seorang yeoja manis berkacamata yang tengah tersenyum. Tanpa sadar, lengkungan bibir Siwon sedikit naik. Matanya berubah sendu, mengingat percakapannya kemarin dengan Kibum.

Kibum, sampai kapan kau menghindar dariku?

.

.

Cara Ketiga : Buat dia sadar dengan kehadiranmu.

.

.

.

.

.

.

.

Paparazzi © Kazuma B'tomat

Warning : KyuMin GS

Kazuma House Production present…

.

.

"Apa yang dia lakukan?" tanya Kangin memperhatikan Kyuhyun yang berdiri di depan sebuah gang dengan topi dan masker yang menutupi setengah wajahnya.

Keenam anggota Super Junior itu meminjam mobil milik manager mereka yang besar untuk menampung mereka semua. Setelah diikuti, mereka malah mendapati Kyuhyun diam saja, tidak melakukan apapun. Mereka memarkirkan mobil hitam itu berseberangan dengan Kyuhyun. Bocah yang sedang diawasi juga sepertinya tidak menyadari keenam hyung-nya.

"Itu… itu Sungmin, kan?" tanya Shindong sambil menunjuk yeoja berambut hitam yang keluar dari gang itu. Mereka menatap keluar melalui kaca mobil, seakan sedang menonton TV.

Yeoja itu tampak kaget saat Kyuhyun tiba-tiba mendekatinya. Kyuhyun membuka maskernya dengan cepat, lalu memakainya lagi. Setelah tahu bahwa orang di depannya bukanlah penculik, yeoja itu mengikuti Kyuhyun sampai berhenti di depan mobil yang sudah tidak asing bagi para hyungdeul-nya Kyuhyun.

Terjadi sedikit perdebatan ketika Kyuhyun membukakan pintu bagi Sungmin. Kalau saja mereka bisa mendengar apa yang dikatakan Kyuhyun, sayangnya jarak menjadi penghalang.

Donghae dan Leeteuk membuka kaca mobil di sisi mereka. "CHO KYUHYUN! FIGHTING!" terika keenam member yang langsung menjadi sorotan publik saat itu juga.

Kyuhyun merutuki tingkah sembrono mereka dan segera menyuruh Sungmin segera masuk. Secepat kilat, Kyuhyun melajukan mobilnya menuju universitas yang menjadi tujuan utama Sungmin.

"KYAAA! ITU SUPER JUNIOR!" pekik orang-orang yang mayoritas perempuan.

Leeteuk buru-buru menutup kaca mobilnya dan melaju di jalanan dengan kecepatan fantastis. Dia tidak langsung kembali ke dorm, dan malah berkeliling sampai para ELF berhenti mengejar mobil mereka. Dalam sekejap mata, pagi hari yang cerah berubah menjadi pagi penuh teriakkan dan kekacauan lalulintas karena para ELF turun ke jalan mengejar sebuah mobil yang mengangkut idola mereka.

"PABO!"

.

.

.

.

.

"Sungmin-ssi, maaf aku menurunkanmu di sini," kata Kyuhyun meminta maaf pada yeoja manis yang duduk di sampingnya. Mereka berhenti di belakang gedung universitas tempat Sungmin belajar setelah melewati banyak jalan tikus. Jalan ini sangat sepi, bahkan tidak ada yang melewati. Hanya mereka berdua.

"Gomawo, sudah mengantarku sampai sini," kata Sungmin masih dengan senyum di wajahnya.

Kyuhyun menadahkan tangannya. "Pinjam ponselmu." Sungmin menyerahkan ponsel merah mudanya pada Kyuhyun yang segera mengetikkan nomor ponselnya. "Kalau ada apa-apa, kau tinggal menelfonku."

Sungmin mengangguk. "Terima kasih banyak. Hati-hati di jalan," katanya sebelum keluar dari mobil.

"YES!" seru Kyuhyun saat Sungmin sudah keluar dan berjalan menuju sebuah pintu kecil. Akhirnya dia berhasil mengantarkan Sungmin. Namun, mengingat tingkah bodoh hyungdeul-nya membuat waktu bersama Sungmin menjadi lebih singkat.

Yaaa… sekalipun tadi harus ada perdebatan dengan pertanyaan khas perempuan, 'Kenapa kau mau mengantarku?' dan 'Bagaimana dengan Kibum dan Ryeowook?' setidaknya ini adalah kemajuan pesat! Batin Kyuhyun.

Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Dia mendengus kesal saat melihat nama manager-nya yang ia dapati. "Apa?" tanya Kyuhyun tanpa basa-basi.

"YA! KALIAN DI MANA?!" Refleks Kyuhyun menjauhkan benda elektronik itu dari telinganya sebelum ia mengalami kerusakan dini.

"Aku sendiri, lagi di jalan. Sedangkan yang lain, aku tidak tahu."

"Jam setengah sembilan kalian ada latihan koreo! Cepat kembali!"

"Iya… iya…" Kyuhyun langsung memutus panggilan dengan segenap hati dan jiwa.

Setelah menghela napas dan menormalkan detak jantungnya yang tadi sempat berdegup teramat kencang karena seorang Lee Sungmin, Kyuhyun siap kembali melajukan mobilnya.

.

.

.

.

.

Angin malam berhembus kencang, membuat Kibum merapatkan jaketnya. Dia berdiri, menghadap kolam ikan yang berada di tengah-tengah taman. Di sampingnya, Siwon berdiri, menatap objek yang sama. Lampu taman yang minim, membuat keadaan menjadi remang.

Sejak Siwon "menculiknya", belum ada yang membuka percakapan. Bahkan Siwon yang dia bilang mau bicara, kini masih diam. Tidak nyaman dengan keadaan seperti ini sejak beberapa menit lalu, Kibum membuka suara.

"Jadi, apa yang mau kau bicarakan?" Yeoja itu menaikkan kaca matanya. Siwon masih diam. "Kenapa diam? Bukannya tadi kau–"

"Kau kenapa?" tanya Siwon menyela kalimat Kibum.

Kibum menatap namja tinggi di sampingnya, sementara Siwon masih melihat ikan yang berenang di kolam. "Maksudmu?"

"Sejak awal musim gugur waktu kelas dua, kau terus-terusan menghindar dariku, tidak membalas e-mail dan menjawab telfonku, sampai-sampai pindah sekolah tanpa memberi tahu. Kenapa?"

Seketika, memori-memori lama yang setengah mati berusaha Kibum kubur dalam-dalam, teringat lagi. Seperti putaran film lama yang sudah berwarna buram. Namun, tidak satupun detail yang terlewatkan oleh Kibum. Semuanya terasa nyata. Dia seakan terlempar ke masa lalu.

Ketika itu, Kibum masih duduk di bangku kelas satu sekolah menengah pertama. Dia masih berada di China. Karena pertama kali sekolah di asrama, dia tersesaat saat akan menuju aula ruang makan. Tanpa sengaja dia bertemu Siwon yang sering lupa makan di perpustakaan. Dan Siwon adalah laki-laki yang selalu dia temui ketika jam makan malam di asrama mereka.

Awal yang merupakan ketidaksengajaan, berubah menjadi kebiasaan yang terpupuk selama setahun lebih. Di mana ada Siwon, di sana ada Kibum. Begitu juga sebaliknya. Mereka seperti pasangan kekasih, meskipun Siwon sudah masuk SMA. Kibum sadar, perasaannya pada Siwon sudah berubah. Bukan sekedar adik pada kakak, tapi seorang perempuan pada laki-laki.

Sampai suatu hari, Kibum mendengar percakapan Siwon bersama teman-temannya yang hendak menjadikan Kibum sebagai bahan taruhan. Memang, Siwon menolak hal itu mentah-mentah. Tapi kalimat selanjutnya yang dikeluarkan salah satu teman Siwon membuatnya tertohok.

"Ya, ya, ya… aku tahu, kau menganggapnya sebagai adik. Tapi, kau kan sudah punya Hyorin. Dia pacarmu, kenapa kau malah selalu nempel anak SMP itu?"

Mendengar hal itu, Kibum langsung menelfon Zhou Mi, papanya, minta dijemput pulang. Berhubung hari itu adalah hari Jumat, dan mereka diijinkan pulang dengan syarat, hari Minggu malam sudah harus kembali ke asrama.

Zhou Mi bingung dengan putri tunggalnya yang mengurung diri selama dua hari sejak pulang dari asrama. Bahkan Kibum meminta untuk pindah ke Korea, tempat kakek dan nenek dari mamanya tinggal. Tidak tega melihat keadaan Kibum, akhirnya dua minggu kemudian, dia mengirim Kibum ke Korea hingga hari ini Kibum kembali bertemu face to face dengan Siwon.

Kibum hanya diam, tidak menjawab pertanyaan Siwon. Bahkan sampai Siwon mengguncang pundaknya. "Jawab, Kim Kibum!"

"Karena aku menyukaimu!" Titik-titik air mata mulai jatuh dari mata Kibum, menuruni pipi putihnya. Siwon tidak mampu berkata apa-apa. Pegangannya pada pundak ringkih Kibum melemah, dan akhirnya tangannya menggantung di kedua sisi tubuhnya.

"Ya, aku menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu." Kibum menyeka air matanya, dengan hidung yang menjadi sakit, dia melanjutkan, "Awalnya, aku mengagumimu hanya sebagai senior. Seiring waktu berjalan, aku sadar perasaanku padamu berubah." Ia menatap mata Siwon yang juga menatapnya. "Dan aku mengetahui kau telah mempunyai kekasih. Itu menyakitkan setelah semua perhatiannya kau beri ternyata hanya sebatas kakak-adik."

"Kibum…"

"Aku tahu, itu kekanakan. Dan seharusnya aku tidak marah padamu. Itu bukan salahmu." Kibum menatap ke arah lain. Mengamati rerumputan di bawahnya.

Rasa canggung menyergap di antara mereka. Kibum menyeka air matanya, lalu berbalik menuju pintu keluar taman. Meninggalkan Siwon yang masih mematung di tempatnya. Siwon tidak mengejar, hanya memandang punggung kecil yang semakin lama menghilang di belokkan sana.

"Mianhake…"

.

.

.

.

.

Kibum membuka matanya setelah semalaman dia tidak bisa tidur. Pertemuannya lagi dengan Siwon membuat kepalanya pening. Dia lihat sekeliling, Sungmin dan Ryeowook sudah tidak ada. Dia hanya tertawa sendiri pada dirinya. Tentu saja tidak ada, ini sudah hampir jam tiga sore, kata Kibum sambil menyadari seberapa lama dia tertidur.

Untuk pertama kalinya dia membolos kuliah. Dan dia membolos untuk suatu alasan yang tidak jelas. Kibum masih di atas kasur. Menopang kepalanya dengan tangan. Berharap kemarin hanyalah khayalan semata, dan juga mimpi buruk. Namun, sekeras apapun dia memaksa dirinya untuk menganggap hal itu hanya mimpi, kenyataannya, hal itu nyata.

"Kibum! Kami pulang," teriak dua suara tinggi yang sudah sangat dikenal Kibum.

Gadis itu mengambil kacamata yang ia letakkan di samping kasurnya, lalu mulai merapikan kasurnya. Ketika keluar dari kamar, bukan hanya Sungmin dan Ryeowook yang dia dapati. Tapi Yesung dan Kyuhyun juga ada di sana.

"Yesung-ssi dan Kyuhyun-ssi?" tanya Kibum pada ketiga manusia yang ada di ruang tamu. "Mau apa ke mari?"

Sungmin yang baru kembali dari dapur sambil membawa empat kaleng minuman ringan menjawab, "Tadi mereka mengantar kami."

Kibum hanya menganggukkan kepala. Dia berjalan mengambil handuk, dan langsung masuk ke dalam kamar mandi. Badannya sudah lengket setelah hampir seharian hanya bergelung dalam selimut.

"Jadi, kalian mau minta tolong apa?" tanya Sungmin setelah menaruh empat kaleng minuman ringan itu di meja. Dia mendudukkan dirinya di samping Ryeowook.

"Begini, hari Sabtu minggu depan kan ulang tahun Donghae, kami berniat mengerjainya dan kami butuh bantuan kali bertiga–dengan Kibum juga," kata Yesung, "sebenarnya bukan ide kami, sih. Ini idenya setan yang satu ini." Yesung menunjuk Kyuhyun. Kyuhyun hanya mampu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Biasa… salah tingkah di depan Sungmin yang kini berusaha menutupi senyumnya dengan telapak tangan.

"Kami bisa membantu apa?" tanya Ryeowook.

Kyuhyun menjelaskan rencana yang telah dia susun secara matang. Dan rencana ini melibatkan banyak orang, termasuk tiga yeoja yang tinggal satu rumah ini, juga manager mereka.

"Aku sepertinya tidak bisa membantu," kata Sungmin. "Maaf…"

Kyuhyun mendesah kecewa. "Kenapa?"

"Hari Sabtu aku kerja. Lagipula, aku tidak yakin kalau bisa mendapat ijin dari boss-ku," jelas Sungmin.

Setelah meminum salah satu minuman kaleng yang tersedia, Kyuhyun berkata, "Biar aku saja yang bicara pada boss-mu itu."

Kibum yang baru keluar dari kamar mandi hanya memandangi keempat orang yang sedang mengobrol dari dapur. Dia minum, lalu kembali ke kamarnya, tanpa berniat untuk ikut bergabung dengan keempat manusia itu, sampai akhirnya dipanggil Sungmin.

"Ada apa?" tanya Kibum, seraya duduk.

"Kami mau mengerjai Donghae, jadi kami minta bantuan kalian bertiga," kata Kyuhyun dengan semangat.

Kibum diam. Otaknya berputar cepat, memikirkan banyak kemungkinan. Donghae itu salah satu personel SuJu. Kalau aku ikut membantu mereka, secara otomatis, aku harus bertemu dengan dia lagi. "Tidak," jawab Kibum datar.

"Wae?" tanya Kyuhyun. Baru pertama kali dia melihat ada perempuan yang menolak dimintai tolong oleh mereka. Apalagi gadis yang ada di depannya ini menolak mereka dengan wajah datar.

Kibum bangkit berdiri. "Jangan pernah libatkan aku dengan segala rencana yang boyband-mu buat." Saat masuk ke kamar, dengan sengaja dia membuat pintu tertutup dengan suara debuman keras.

Kyuhyun masih memandangi pintu coklat yang tadi dibanting. "Dia kenapa?"

.

.

.

.

.

Seperti tadi pagi, Kyuhyun kembali mengantar Sungmin ke café tempatnya bekerja. Sementara Yesung dan Ryeowook masih bermesraan di rumah. Kyuhyun ikut turun dengan topi dan memakai hoodie jaketnya. Dia berjalan masuk ke café yang masih sepi mengikuti Sungmin.

"Sungmin, dia siapa? Sepertinya aku pernah melihatnya," kata Yoona sambil memperhatikan Kyuhyun yang masih dalam penyamarannya.

"Dia temanku," jawa Sungmin. Beruntung, Yoona hanya menganggukkan kepala dan mengantar pesanan salah satu pelanggan.

Mereka berjalan menuju lantai dua ruko ini dan berhenti tepat di depan sebuah pintu bercat coklat. Setelah menarik napas dalam-dalam, Sungmin mengetuk pintu. "Permisi, Heechul ajumma. Ini Sungmin, ada yang ingin kubicarakan."

"Masuk!" Setelah mendengar perintah boss-nya, Sungmin dan Kyuhyun masuk, mendapati Heechul dengan mengelus kucing dalam pangkuannya. "Ada apa?" tatapannya langsung mengarah pada Kyuhyun yang terlihat mencurigakan.

Sungmin malah memainkan kedua jari telunjuknya di depan dada. "Begini, Heechul ajumma. Sabtu minggu depan, boleh aku ijin tidak masuk?"

"Untuk?"

"Ada temanku ulang tahun. Dan kami ingin membuat pesta kejutan," jawab Sungmin jujur.

"Tidak bisa," jawab Heechul. Dimulailah perdebatan alot antara Heechul dan Sungmin.

Merasa keadaan sudah tidak memungkinkan untuk Sungmin membolos kerja, Kyuhyun membuka topi dan hoodie-nya hingga Heechul kaget, begitu pula Sungmin. Tentu saja kaget dalam konteks yang berbeda. Entah rencana apa yang ada di otak Kyuhyun, Sungmin tidak tahu.

"Kau… kau bukannya Cho Kyuhyun. Member Super Junior itu, kan?" tanya Heechul sambil menunjuk-nunjuk Kyuhyun dan mengerjapkan matanya berulang kali. Berusaha meyakinkan dirinya kalau yang ada di depannya ini nyata. "Ada hubungan apa kalian berdua?"

"Ne, aku memang Cho Kyuhyun," kata Kyuhyun sambil mengeluarkan senyum evil-nya. "Kami hanya teman. Dan kalau boleh, aku mau melibatkan temanku ini dalam ulang tahun temanku. Sayangnya, Anda tidak mengijinkannya." Kyuhyun memasang wajah sememelas mungkin.

Sepertinya Heechul masih tetap pada pendiriannya meskipun dia terpesona pada wajah pemuda di depannya ini. "Tidak bisa."

Kyuhyun menghembuskan napas berat. Percuma berlama-lama berdiskusi, tarik-ulur, dengan ajumma di depannya ini. "Bagaimana kalau kita buat sebuah kontrak?"

To Be Continue…

2.144 words

Masalahnya SiBum ketahuan, kan?

Maaf kalo fic ini semakin nggak jelas dan lebay. Yang di italic itu flashback, ya.

KyuMin sudah ada kemajuan, kan? Lalu, saya belom bisa ngasih tahu, kenapa Sungmin nge-unfollow Si Evil. Dan nggak mungkin saya bikin Kyuhyun dan Sungmin sekarang pacaran. Kan lagi masa penjajakan #eaa. Terus, yang dimaksud Sungmin cinta bertepuk sebelah tangan itu, kan biasa, remaja cewek itu pasti pernah naksir cowok. Dan di masa sekolahnya dulu, orang yang pernah disukai Sungmin tuh nggak suka sama dia.

Kalo masalah Eunhyuk, saya nggak bakal munculin di cerita ini kayanya #buagh, paling saya bikin side story.

Kata 'homo' di chap 4 itu maksudnya; kan di café itu pengunjungnya mayoritas perempuan, bukan berarti si Evil gak suka sama perempuan. Gimana ya jelasinnya? Ya begitulah.

Terima kasih untuk: Lucyant 6855, MinnieGalz, Cho Kyuri Mappanyukki, putzky putri, Purpleita, aoora, Asahi, lee min young, mykyu, Syubidubidu, Hyungi Lee, nahanakyu. Dan semua yang sudah membaca, fave, dan alert.

Sign,

Uchiha Kazuma Big Tomat

Finised at:

Friday, June 22, 2012

03.49 P.M

Published at:

Friday, June 22, 2012

04.10 P.M.

Paparazzi © Kazuma House Production ® 2012