CKLEK

"Donghae, bangung!" perintah Il Woo pada sesosok namja yang masih berbalut kaos putih dan selimut. Namja itu hanya menggerakkan mulutnya seaakan dia sedang memakan sesuatu.

Il Woo berjalan mendekati Donghae dan menarik paksa bantal yang menjadi penyangga kepala namja itu. Merasakan hentakkan yang tak lazim pada kepalanya, Donghae mengerjapkan matanya. Membiasakan diri pada cahaya yang berlomba-lomba memasuki pupil matanya.

Kamarnya masih sama, lampu kamarnya masih menyala–tentu saja karena tidak tidak pernah mematikan lampu saat tidur. Yang membuatnya berbeda hanya sesosok laki-laki bertubuh tegap yang memegangi bantalnya.

"Ada apa, Hyung?" tanya Donghae lalu melirik jam. Ini masih jam setengah enam pagi! Tentu saja dia masih mengantuk. Dia baru tidur jam dua pagi ini setelah kemarin malam Super Junior menjadi pengisi acara di salah satu acara penganugerahan musik.

"Cepat bangun! Kau punya pekerjaan pagi ini!"

Bukannya menjawab, Donghae kembali bergelung dengan selimutnya. "Hm… lima menit lagi…."

Il Woo menggeleng. Kalau bukannya karena Magnae Setan itu, dia juga masih akan bergelung dalam selimut seperti yang dilakukan Donghae. "Ya! Kau ada pemotretan dengan salah satu agensi travel. Mereka mau mengambil pemandangan pagi hari!"

"Mwo? Sejak kapan?" tanya Donghae setengah sadar. Dia terduduk sambil mengucek-ngucek mata dan mengumpulkan nyawa.

"SEKARANG!"

.

.

Cara Ketiga : Buat dia sadar dengan kehadiranmu.

.

.

.

.

.

.

.

Paparazzi © Kazuma B'tomat

Warning : KyuMin / YeWook / SiBum / HeBum (GS)

Kazuma House Production present…

.

.

Ketujuh personil SuJu dengan penyamaran mereka menyambangi kediaman Sungmin, Ryeowook, dan Kibum setelah sepagian ini sampai sore berlatih koreo. Tidak berapa lama setelah mengetuk pintu, Ryeowook keluar dan mempersilahkan ketujuh laki-laki itu masuk, dan segera menutup pintu.

Hanya Kibum yang masih setia duduk di meja makan sambil menyantap ramyun instannya sambil membaca buku, sementara dua temannya telah bergabung dengan namja-namja itu. Alasannya hanya satu. Tentu saja Siwon. Sedari tadi dia tidak berusaha untuk berbasa-basi dengan mereka. Tetap datar, dingin, dan cuek.

"Barang apa saja yang harus di bawa?" tanya Sungmin.

"Um… sepertinya kalian tidak harus membawa apa-apa. Tinggal menyembunyikan barang-barang yang berbau Super Junior," jelas Kyuhyun. "Sebenarnya, kami benar-benar membutuhkan temanmu yang datar itu dalam hal ini." Kyuhyun melirik Kibum yang tengah memandangnya.

"Apa?" tanya Kibum. "Aku tidak akan ikut."

Kyuhyun mengacak rambutnya. Tuhan… kenapa aku harus bertemu dan berurusan dengan manusia sedingin es di kutub, sih? Mau memancingnya dengan cara apa? Tidak mungkin dia memohon pada Kibum dengan cara yang sama dengan yang ia ajukan pada Heechul.

Siwon diam sejak awal. Hanya memandangi sosok yeoja yang menjadi objek Kyuhyun. Dia tidak bisa berbuat apa-apa sekarang. Mungkin kalau keadaannya seperti dulu, dia bisa saja memohon pada Kibum. Nyatanya, yeoja itu kini menghindarinya.

Sungmin bergerak mendekati Kibum, dan memeluknya tiba-tiba dari belakang. Semburat kemerahan memenuhi wajah personil Super Junior tidak terkecuali Ryeowook dan Yesung. Bagaimana tidak? Tiba-tiba diberikan tontonan shojo-ai seperti itu?

"Kibumie…" panggil Sungmin dengan wajah aegyo-nya. Bukan hanya Kibum yang merona, tapi juga Kyuhyun.

"Y-YA!" teriak Kibum. "Lepaskan pelukanmu."

Bukannya melepaskan, Sungmin malah semakin mengencangkan pelukannya. "Sekali ini saja… Kibum, tolong kami…."

"N-ne. Sekarang lepaskan tanganmu!" kata Kibum terbata-bata. Hanya dengan melirik dari ekor matanya saja telah membuat Kibum meluluh seperti ini. Sepetinya kekuatan terpendam Sungmin itu benar-benar dahsyat.

"Terima kasih, Kibum…" Sungmin kemudian memandang Kyuhyun sambil tersenyum teramat manis. "Masalah selesaikan?"

Kyuhyun mengangguk. Ingin sekali rasanya dia bertukar tempat dengan Kibum sekarang juga. "Y-ya sudah, ayo ke dorm."

.

.

.

.

.

Dan bukan hanya kamar Kyuhyun saja yang berantakan. Tapi dorm mereka juga berantakkan. Kebiasaan anak cowok, maunya cepat dan seenaknya. Ryeowook, Sungmin, dan Kibum yang baru perama kali memasuki dorm yang kelewat luas itu hanya mematung di tempat.

"Berantakan, ya?" tanya Leeteuk sebagai leader. Dia hanya bisa tertawa canggung.

"Pura-puranya, kalian yang menempati tempat ini nanti," kata Kyuhyun menjelaskan rencana awalnya. "Nah… berhubung Donghae sedang kerja selama seharian tanpa kami, jadi kita bisa kerja sekarang. Dia pulang kira-kira jam tujuh."

"Kita mulai dari mana?" pertanyaan Ryeowook menyadarkan mereka semua. Seketika, semuanya menjadi hening.

"Ambili semua barang!" kata Shindong.

Mereka langsung bekerja. Dan tentu saja Kyuhyun dan Yesung mengambil kesempatan dalam kesempitan. Kyuhyun mendekati Sungmin yang sedang menyapu. Dengan sengaja, dia menginjakkan kaki pada kotoran hasil sapuan Sungmin. Tujuannya hanya satu, menarik perhatian Sungmin. Polosnya, dengan sabar Sungmin kembali menyapu walau berkali-kali dijahili oleh Si Setan itu.

"Hyung, kenapa dia nggak marah?" tanya Kyuhyun sambil duduk memperhatikan Sungmin yang kini membereskan tumpukan majalah.

Kangin tertawa selebar-lebarnya bersama Shindong dan Leeteuk. "Sabar, ya. Hidup itu penuh cobaan. Dan sekarang adalah karmamu."

Kyuhyun melirik ketiga hyungnya dengan sinis. "Bukannya kasih solusi, malah diledekin. Hyung macam apa kau?" cibirnya sambil memikirkan cara lain agar yeoja berwajah imut-imut itu menyadari dirinya. Percuma kalau hampir setiap pagi dia mengantar yeoja itu, tapi sang objek malah tidak menganggapnya ada.

Tiba-tiba Kyuhyun bangkit memakai topinya dan menarik tangan Sungmin. "Mwo?"

"Sudah ikut aku saja!" kata Kyuhyun. "Hyung, aku pergi dulu!"

Setelah pintu di tutup, Kangin menyeletuk. "Bisa saja cara Si Anak Setan itu."

Ryeowook yang sedang memasukkan piring dan gelas ke dalam lemari, menatap Yesung di sampingnya yang cengar-cengir luar biasa aneh. "Ada apa dengan Kyuhyun? Dia mendekati Eonni melulu," tanyanya bingung.

Yesung menatap kekasihnya itu dengan mata sipit dan cengiran lebar. "Nanti kau juga akan tahu, Chagiya," kata Yesung semakin membuat Ryeowook bingung karena tumben sekali manusia berkepala besar itu memanggilnya dengan sebutan chagi.

.

.

.

.

.

"Kita mau ke mana?" tanya Sungmin pada Kyuhyun yang fokus menatap jalan.

"Mau membeli perlengkapan untuk mengerjai Donghae. Kemarin kami belum sempat beli," jelas Kyuhyun.

Berkat ide dari otak Gamer Evil ini, Sungmin kembali terjebak satu mobil dengan idola kaum hawa yang masuk dalam jajaran dua puluh artis terpopuler se-Korea Selatan. Entah ini bisa dibilang beruntung atau tidak, tapi Sungmin harus berterima kasih pada Kyuhyun karena telah membuatnya bebas dari pekerjaannya sehari ini, meski harus dibayar dengan harga yang mahal

"Kau kenapa membuat perjanjian yang aneh seperti itu?" tanya Sungmin mengingat kejadian minggu lalu. "Mengingat kau yang adalah orang sibuk, rasanya terdengar konyol."

Traffic light menunjukkan warna merah, membuat Kyuhyun menghentikan mobilnya, sehingga ia bisa melihat wajah berkulit putih dan mata foxy milik gadis di sampingnya.

"Kenapa? Tidak boleh?" tanya Kyuhyun sambil menunjukkan evil smirknya berniat menggoda Sungmin. Namun sepertinya gadis di sampingnya ini benar-benar tidak peka sama sekali. Dia tidak tersenyum ataupun merona, tetap bertahan pada ekspresi bingungnya. Tangannya terangkat untuk memelai rambut lurus Sungmin. "Tidak usah dipikirkan begitu keras."

Kyuhyun mengarahkan mobilnya pada supermarket. Setelah memarkirkan mobilnya, mereka turun dan mulai berbelanja. Mereka persis seperti pengantin baru. Kyuhyun mendorong troli, sementara Sungmin yang memilih.

"Kita beli telur dan tepung sebanyak ini buat apa?" tanya Sungmin setelah membaca daftar belanjaan mereka.

"Untuk mengerjai Donghae Hyung. Jadi saat dia turun ke tempat parkir, kami akan memecahkan telur di kepalanya," kata Kyuhyun. Sungmin mengangguk sambil memilih telur yang sudah di masukkan ke dalam pak-pak plastik.

Mereka berkeliling menuju jejeran minuman. Saat Sungmin mengambil kaleng-kaleng minuman soda, Kyuhyun menghilang. Ketika laki-laki tampan itu kembali, dia membawa lima botol bir yang lebih terlihat seperti botol kecap bagi Sungmin.

"Kau mau mabok?" tanya Sungmin sambil menunjuk botol-botol yang dimasukkan ke dalam troli.

"Lima botol sekecil ini, diminum untuk delapan orang, ya tidak akan sampai teler," kata Kyuhyun sambil tertawa-tawa. "Itu juga belum dihitung kalau kau, Kibum, atau Ryeowook yang ikut minum."

Sungmin diam saja sambil mengingat-ingat saat terakhir kali dia mencoba meminum salah satu jenis minuman beralkohol. Meskipun dibilang manis, tetap saja yang terecap di lidahnya adalah rasa pahit yang membuat dia tidak mau minum lagi.

"Aku pernah coba salah satu minuman sejenis itu yang warnanya pink," kata Sungmin tiba-tiba saat mereka berkeliling mencari snack. "Baunya sangat wangi dan manis. Memang waktu menyentuh ujung lidah rasanya manis, tapi semakin ke belakang, rasanya malah pahit sekali."

Kyuhyun mengingat-ingat. "Di botolnya ada gambar mawar?"

Sungmin menggedikkan bahu. "Entahlah, aku tidak ingat. Itu sudah lama sekali." Yeoja imut itu kini memandangi Kyuhyun. "Memangnya kau tahu namanya apa?"

"Lupa," Kyuhyun nyengir kuda, "tapi aku pernah meminumnya sekali."

Sungmin mengangguk-anggukkan kepalanya. Tiba-tiba ia teringat sesuatu. "Kau sudah membeli kue ulang tahunnya?"

"Sudah, kok." Kyuhyun melihat jam pada ponselnya. "Ayo, sudah jam setengah enam. Habis ini kita ambil kue, terus pulang. Takutnya jalanan macet, apalagi ini malam minggu."

.

.

.

.

.

Donghae merasa seakan tidak diberi waktu istirahat sedikitpun oleh managernya ini. Dia hanya tidur tiga setengah jam dan disuruh mandi jam setengah enam pagi, lalu demi profesionalitas, dia harus terus terlihat tidak mengantuk di depan banyak orang. Orang-orang yang memakeupnya sebisa mungkin menutupi mata panda Donghae dengan bedak.

Dan kini, setelah seharian disuruh kerja seperti kuda, dia berada di dalam mobil di tengah kemacetan. Untuk pertama kalinya dalam hidup, Donghae mensyukuri adanya kemacetan di jalan. Dengan begitu, dia bisa tidur sebelum akhirnya kembali di suruh memasak oleh hyungdeulnya. Ah sial, hari ini giliranku memasak.

Serius, Donghae benar-benar ini dengan member SuJu lainnya yang hari ini sama sekali tidak memiliki jadwal. Mereka hanya latihan koreo, sementara dirinya harus mengikuti sesi pemotretan dan pembuatan video klip bersama SNSD seharian ini.

"Habis ini tidak ada jadwal lagi, kan?" tanya Donghae ketakutan.

Il Woo melihat agendanya. "Tidak ada." Entah sadar atau tidak, Donghae menghembuskan napas lega seakan dia bebas dari penjara.

Donghae mulai menutup mata, menikmati tidurnya yang tadi pagi tertunda. Saking capeknya, dia bahkan tidak merasa kalau sudah tidur hampir satu jam, dan kini mobil yang ia naiki sudah berhenti di depan gedung apartemen di mana dorm SuJu ada di lantai 11.

Entah bagaimana, gadung itu terasa sepi. Kini saja, dia hanya berdiri sendiri di dalam lift. Padahal biasanya, pada malam minggu begini, lift bolak-balik dengan cepat dan selalu terisi penuh. Kakinya menyusuri lorong lantai sebelas yang sama sepinya dengan keadaaan di dalam lift.

Sampai di depan pintu bernomor 212, dia langsung membukanya tanpa membunyikan bel lagi.

CKLEK

Ia mematung dengan sejuta tanda tanya di benaknya. Ini beneran dorm Super Junior, kan? Kenapa ada dua yeoja yang memandanginya begitu… intens? Donghae mengerjap matanya cepat, lalu beralih pada nomor yang terpasang di pintu. Tidak ada yang berubah, masih nomor 212.

"Siapa kau?" tanya perempuan berwajah datar dari meja makan. Rasanya dia pernah bertemu gadis ini.

"Ah, Donghae Oppa?" tanya suara yang dia kenal sebagai suara kekasih Yesung. "Sedang apa Oppa berdiri di sini?" tanya Ryeowook. Sepertinya ia baru saja sepesai mandi, terbukti dari handuk yang melilit rambutnya.

"Kalian ngapain di sini?" tanya Donghae masih bingung. "Ini kan dorm SuJu."

Ryeowook mengerjapkan matanya. "Ha? Bukannya sejak hari ini dorm SuJu resmi pindah? Makanya hari ini kami pindah ke sini," jelas Ryeowook dengan wajah sangat innocent.

"MWO?" Donghae langsung menekan sederet nomor di ponselnya. Sedangkan dua gadis di apartemen ini memperhatikannya. Tak berapa lama, panggilannya diangkat. "YA! KALIAN PINDAH?"

"Tenang dulu, Ikan," kata Leeteuk yang mengangkat telefon. "Kau di atas, ya? Sekarang cepat kau turun ke parkiran."

Panggilan terputus begitu saja. Donghae menapat Ryeowook dan Kibum bergantian. "Permisi."

Secepat kilat, dia turun ke parkiran di bawah. Namun, dia tidak menemukan satupun personil Super Junior. "Mereka mau mengerjaiku, ya?"

Tiba-tiba, air disemprotkan ke tubuh Donghae dari belakang. Saat dia berbalik, dia menemukan tersangka utamanya, Shindong. Belum sempat ia mengumpat kesal pada Shindong, sebuah telur mentah melayang ke kepalanya. Kali ini yang menjadi tersangka utama adalah Kangin. Bukan hanya itu, tiba-tiba tepung menghujani kepalanya.

"YA! KALIAN MENGERJAIKU, YA?" teriak Donghae sambil tertawa-tawa. Ia segera berlari menjauh saat melihat Kyuhyun tengah berlari bersama Leeteuk, Yesung, Kangin, dan Siwon mengejar dirinya dengan telur sebagai pelurunya.

"Hahahahaha… Donghae Hyung, tampangmu benar-benar seperti monster!" teriak Kyuhyun yang kini balik berlari menjauhi Donghae yang mengejar dia dan Leeteuk.

"BOCAH SETAN! KE MARI KAU! AKU TAHU INI PASTI IDEMU!" teriak Donghae dengan tebakan yang jitu.

Bukan Bocah Setan Cho Kyuhyun yang ia dapat, tapi Leeteuk yang langsung ia peluk. Berbagi rasa lengket karena tepung, air, dan telur. Ia benar-benar merasa seperti kue sekarang.

"YA! LEE DONGHAE! MENJAUH DARIKU! KAU BAU!" teriak Leeteuk.

"Sekarang badanmu juga ikut bau, Hyung," kata Donghae sambil terus terawa-tawa.

Sungmin muncul dengan kue coklat di tangannya, membuat Donghae melepaskan pelukannya dari Leeteuk. Begitu juga para personil SuJu yang lain, ikut melingkari Donghae dan Sungmin. Hangeng sibuk memotret Donghae yang wajahnya sudah benar-benar abstrak.

"Make a wish!" perintah Sungmin.

"Semoga Super Junior makin maju. Dan Evil Kyu berhenti mengerjaiku. Amin!" Donghae langsung meniup lilin.

"Hyung, kenapa permintaanmu seperti itu? Padahal mengerjaimu adalah kesenanganku," jawab Kyuhyun dengan muka yang dipasang sepolos-polosnya meski sama sekali tidak menutupi aura evil yang terpancar dari matanya.

"Sialan kau, Cho Kyuhyun!" Terjadi lagi adegan kejar-kejaran khas Tom and Jerry antara Kyuhyun dan Donghae.

.

.

.

.

.

"Yesung Hyung, aku benar-benar salut pada akting pacarmu. Dia membodohiku dengan wajah polosnya!" kata Donghae yang kini sudah bersih. Butuh waktu hampir satu jam untuk membuat rambutnya benar-benar bersih dari sisa gumpalan tepung yang sudah tercampur dengan telur.

Yesung tertawa mendengarnya sambil merangkul Ryeowook di sampingya. "Wajahmu lucu sekali waktu kubilang dorm SuJu pindah, Oppa," jelas Ryeowook.

Mereka duduk melingkar di depan ruang TV dorm yang kelewat besar ini sambil memakan kue tart dan meminum bir yang dibeli Kyuhyun tadi. Wajah Kangin sudah sangat merah, tapi dia tetap saja menuang isi sebotol bir ke gelasnya–entah sudah gelas yang keberapa.

"Kyuhyun, kau harusnya beli lebih banyak lagi!" kata Kangin sambil meminum cairan berwarna kekuningan itu.

"Chagiya, berhenti minum!" perintah Ryeowook pada Yesung. Nasib Yesung tidak ada bedanya dengan Kangin, wajahnya merah seperti kepiting rebut. Padahal ini baru gelas keduanya.

"Kau mau coba, Wookie?" tanya Yesung sambil menyodorkan gelasnya pada Ryeowook yang menolak.

Dengan gilanya yang kelewat batas, Kangin mengisi gelas Yesung lagi sampai penuh. "Minum lagi, Yesung!"

"YA! Oppa! Yesung Oppa sudah mabok!" kata Ryeowook sambil merebut gelas itu dan memberikannya pada Kyuhyun. Dengan senang hati dia menerimanya. Setelah meminum setengah dari isi gelasnya, otak evilnya mulai berjalan lagi.

"Ne, Sungmin, kau mau?" tanya Kyuhyun.

Sebelum Sungmin menjawab, Ryeowook dululah yang menjawab. "YA! EVIL MAGNAE! JANGAN RACUNI EONNI-KU DENGAN OTAK BEJADMU!"

"Ryeowook, sejak kapan kau mulai memanggilku dengan sebutan yang sama dengan yang diberikan hyungdeul?" tanya Kyuhyun melihat perubahan pada kekasih salah satu hyung-nya itu.

"Sejak sekarang!" Ryeowook menarik Sungmin mendekat padanya. "Jangan dekat-dekat dengan Si Evil itu!"

Kyuhyun kembali menarik Sungmin mendekat dengannya dengan cara merangkulnya. "Jangan dengarkan ajaran sesat adikmu, Sungmin!" Kyuhyun menjulurkan lidahnya.

"Ya, ya, Evil Magnae. Jangan mencari kesempatan dalam kesempitan!" celetuk Donghae. Kyuhyun langsung melepaskan rangkulannya pada Sungmin dengan wajah memerah. Berbanding terbalik dengan Sungmin yang wajahnya tetap putih dan terkesan bertanya-tanya arti dari kalimat Donghae.

"Kibum ke mana?" tanya Sungmin berbisik pada Ryeowook.

"Katanya dia mau pulang duluan." Ryeowook memelototkan matanya saat Kangin bersujud di samping Yesung sambil menyuruh namja berkepala besar itu langsung minum bir dari botol. "Oppa! Berhenti mencekoki Yesung Oppa!"

.

.

.

.

.

Kibum duduk di kursi halte sendirian. Dia malas berlama-lama satu ruangan dengan Siwon, maka dari itu, setelah Donghae meniup lilin, Kibum langsung bilang ingin pulang pada Ryeowook. Awalnya Ryeowook ingin mengantar Kibum. Tapi yeoja berwajah datar itu memaksa Ryeowook untuk menjaga Sungmin.

Entah mengapa, belakangan ini dia merasakan ada hal yang aneh antara Kyuhyun dan Sungmin. Bukannya dia mencurigai Sungmin. Tapi dia hanya khawatir dengan kedekatan Sungmin dan Kyuhyun yang terkesan berlebihan dalam konteks teman.

"Kibum?" Suara bass yang sangat dikenal Kibum memanggilnya. "Kau dari mana jam segini masih menunggu bus?"

Wajah Kibum memanas. Jantungnya bergetar hebat. Henry berdiri dan beranjak duduk di sampingnya. Laki-laki itu menggunakan celana basket dan jaket biru yang diretsleting sampai leher. Tangannya memegangi tali tas selempang yang menggantung di pundaknya.

Setelah berhasil menguasai getaran jatungnya, Kibum menjawab. "Dari rumah teman. Kau sendiri? Habis latihan?" tanya Kibum.

Henry mengangguk. Ketika bus yang mereka tunggu datang, mereka masuk dan duduk bersebelahan di deretan paling belakang. Kibum yang duduk pas bersebelahan dengan jendela, memandangi jalanan malam yang diterangi oleh lampu jalan setiap lima meter. Musing gugur kali ini benar-benar suram dan dingin, sedingin udara malam ini. Pertemuannya lagi dengan Siwon benar-benar membuat hidupnya berantakkan. Dia lebih banyak terlihat melamun. Dan dia sering lupa makan, sampai-sampai terkena maag yang membuat Ryeowook mengatur makannya dalam semingguan ini.

"Kibum?" panggil Henry dan tidak mendapat jawaban apapun dari gadis di sampingnya. Baru setelah dia menepuk pundak Kibum, gadis itu baru menoleh. "Setelah ini pemberhentian di halte dekat rumahmu."

Kibum buru-buru merapikan duduknya menjadi lebih tegak. "Oh, ya. Terima kasih."

Saat Kibum turun, Henry mengikutinya. "Wae?" tanya Kibum. "Bukannya rumahmu berlawanan dari sini?"

"Tidak baik seorang perempuan pualng malam sendirian," kata Henry dengan cengiran di wajahnya.

Wajah Kibum kembali memanas. Dia tertunduk sambil tersenyum samar. Saat mendongak, dia mendapati wajah Henry yang dihiasi senyuman tengah menatap lurus ke depan. Entah bagaimana, berada di dekat Henry membuat dirinya terasa nyaman lewat perhatian-perhatian klasik khas drama. Rasanya seakan bumi berhenti berputar, begitu pula waktu.

Apakah aku egois kalau aku ingin berada dalam keadaan ini selamanya?

To Be Continue

2.734 words

Hiaaaaa… ketahuan banget author pernah minum minuman pink itu. Tapi saya bukan peminum. Cuma nyobain waktu Imlek.

Siwon itu punya rasa nggak sama Kibum? Jawabannya nggak. Kan temennya bilang, kalo Siwon itu cuma nganggap Kibum sebagai adik.

Lalu, apa bagian KyuMin-nya udah banyak? Dan Sungmin bakal ngeh sama perasaannya Kyuhyun itu masih nanti banget. Maaf, fic ini malah jadi panjang.

Terima kasih untuk Cho Kyuri Mappanyukki, Cho97, kikihanni, KyuLoveMin, Han Sung Young, asahi, nahanakyu, Hyugi Lee, Syubidubidu, MinnieGalz. Dan yang sudah membaca, fave, dan alert.

Sign,

Uchiha Kazuma Big Tomat

Finished at:

Saturday, June 23, 2012

09.16 P.M.

Published at:

Saturday, June 23, 2012

09.50 P.M.

Paparazzi © Kazuma House Production ® 2012