"Ne, Donghae! Hwaiting! Ingat saja gerakan yang sudah kau pelajari!"

"Ya! Lagi-lagi kau melewatkan kelas malam dan membolos untuk latihan sendirian."

"Sini, tempelkan esnya di wajahmu. Lagi-lagi kau cari masalah dengan mereka."

"… Nado saranghae…"

"Donghae…"

.

.

.

Paparazzi © Kazuma B'tomat

Donghae X Eunhyuk (GS)

Kazuma House Production present…

.

.

.

.

.

Pagi hari di musim semi adalah hal yang paling menyenangkan. Bisa bebas melakukan apa saja, tanpa peduli harus memakai mantel setebal-tebalnya seperti musim dingin, ataupun berpanas-panasan sehingga harus berkali-kali ganti baju yang berkeringat seperti musim panas. Udara yang sejuk dan banyaknya pohon Sakura bermekaran, membuat hari semakin indah. Setidaknya, itu adalah isi pikiran seorang Lee Donghae.

Laki-laki berusia enam belas tahun itu duduk di atas sepedanya di dekat taman. Kegiatan seperti ini adalah kegiatan yang biasa ia lakukan saat musim semi dan gugur. Menunggu seorang gadis berambut pendek yang setiap pagi memintanya untuk pergi bersama.

Tahu-tahu, sepasang lengan melingkari lehernya. "Jalan!" perintah yeoja yang naik ke bagian belakang sepeda Donghae.

"Ya! Kau mengagetkanku! Seperti hantu saja, tahu-tahu berada di belakang. Sudah begitu, seenaknya saja pula menyuruhku seperti supir," cibir Donghae sambil perlahan mengayuh sepedanya.

"Mian…" kata gadis itu. "Hari ini kau mau latihan lagi?" Gadis itu mengarahkan wajahnya ke samping wajah Donghae.

Donghae melirik wajah gadis yang selalu dipenuhi senyum itu dari ekor matanya. "Iyalah. Audisi masuk SM tinggal beberapa bulan lagi."

Gadis itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

Lee Hyuk Jae, atau yang biasa dipanggil Donghae dengan sebutan Eunhyuk, adalah teman sepermainan Donghae sejak SD. Biarpun dibilang berjenis kelamin perempuan, Eunhyuk punya tingkah tidak seperti perempuan tulen. Gadis itu gemar sekali bermain Starcraft bersama teman-teman laki-lakinya. Gadis itu juga nekad untuk bergadang sampai jam lima pagi hanya untuk menonton pertandingan piala dunia. Satu-satunya hal yang menunjukkan dia adalah permpuan adalah, dia yang selalu memakai jepit rambut warna-warni untuk menyangga poninya, juga kegemarannya pada tari. Dia bergabung dengan klub balet di sekolahnya.

Eunhyuk turun dari sepeda Donghae sambil menepuk pundak laki-laki yang sudah mengantarnya itu keras-keras dengan sengaja. Gadis itu langsung kabur ke dalam saat mendengar bel sudah berdentang. "Gomawo, Lee Donghae!" serunya tanpa menghentikan larinya.

Dengan sedikit menggerutu, Donghae memarkirkan sepedanya, dan bergegas mengikuti jejak Eunhyuk yang masuk ke dalam kelas mereka. Beruntung, guru yang mengajar jam pertama hari itu belum hadir. Donghae mendudukkan dirinya di kursi paling belakang, bersebelahan dengan Eunhyuk yang tengah mengunyah permen karet.

Donghae mamandangi perempuan yang mendapat julukan "Monyet" oleh teman-teman dekatnya yang rata-rata laki-laki. "Perempuan macam apa yang dengan arogannya mengelurkan kemeja, memakan permen karet di kelas, dan duduk dengan cara seperti itu?"

Eunhyuk menoleh menatap Donghae. "Kenapa? Ada masalah?" Eunhyuk membuat balon dari permen karetnya. Donghae menggelengkan kepala. Eunhyuk kemudian menyumpal telinganya dengan earphone. Musik mulai mengalun dari earphone tersebut, membuat Eunhyuk menganggukkan kepalanya sesuai irama lagu. Kadang-kadang, dia membuat gerakkan wave dengan lengannya.

Satu hal yang membuat Donghae iri setengah mati dengan gadis itu, kelenturan tubuhnya yang kelewat batas. Eunhyuk bisa melakukan semua gerakkan dance yang bahkan menurutnya sulit. Belajar balet dari kecil, sih, jelas saja badannya lentur.

"Hyuk Jae!" bisik Donghae sambil melemparkan bagian kecil dari karet penghapus. "Pulang sekolah, ajari aku gerakan wave!"

.

.

.

.

.

Eunhyuk duduk sambil menopang kepalanya bosan setengah mati pada Donghae. Sudah sejak sejam lalu, ia mengajari Donghae gerakkan wave dengan lengan, tapi laki-laki yang disebut-sebut mendapat gelar sebagai laki-laki tertampan di sekolah itu sama sekali tidak menguasainya.

Eunhyuk sudah berganti baju. Kini dia memakai kaos putih berhoddie bergambar pisang, buah kesukaannya, dengan celana training berwarna abu-abu Ia merebahkan tubuhnya di lantai kayu ruang dance yang hanya dipakai mereka berdua. Bila dilihat dari atas, tubuhnya akan seperti huruf X.

Donghae duduk di sisi Eunhyuk yang masih tiduran. Berada dalam posisi begini sama sekali tidak membuat Eunhyuk malu. Sepuluh tahun lebih bersama, telah membunuh rasa malu Eunhyuk dengan namja beken di sampingnya ini.

"Bagaimana kau belajar gerakkan itu?" tanya Donghae.

"Aku hanya melihatnya di TV, lalu aku mengikutinya. Selesai," jelas Eunhyuk ogah-ogahan. "Gerakkan itu mudah. Aku saja hanya sekali mencoba langsung bisa!"

Donghae mendengus kasar. Dia mengangkat lengan Eunhyuk. "Lenganmu lentur!"

"Masuk saja klub balet," balas Eunhyuk. "Di tiap pertemuan, kau harus melenturkan badanmu. Harus bisa split, dan berusaha berdiri dengan ujung jempol kakimu!"

"Tidak, terima kasih," tolak Donghae. "Aku bukan perempuan. Lagipula, dengan mengikuti klub balet membuatku terasa 'melambai'," kata Donghae sambil membentuk tanda kutip dengan kedua jarinya. "Pelatihmu yang laki-laki juga melambai. Aku tidak yakin dia memiliki istri. Yeah… mungkin istri namja."

Eunhyuk tertawa sekeras-kerasnya hingga bergema di ruang tertutup itu. "Hahahaha… kalau istrinya namja, bagaimana dia punya anak?"

Donghae menjitak kepala teman perempuannya itu. "Jaman sudah berkembang. Ke mana saja kau selama ini?" Donghae memandang Eunhyuk yang masih memegangi dahinya. "Bisa saja anak itu adalah anak angkatnya. Atau dia berbohong. Itu mungkin saja, kan?"

Donghae ikut merebahkan dirinya di samping Eunhyuk. "Kau sudah dengan gosipnya?"

"Gosip yang mana?" gadis itu melirik Donghae.

"Mereka bilang, kita berdua pacaran."

Tawa menggelegar kembali terdengar dari mulut Eunhyuk. Bahkan kali ini Eunhyuk memegangi perutnya yang kesakitan. "Aku… dengan Ikan ini? Pacaran? Hahahaha…"

"Ya!" Donghae menghardik Eunhyuk. "Berhenti tertawa."

Seberusaha apapun Eunhyuk menahan tawa, mulutnya tidak kunjung berhenti mengeluarkan suara-suara itu. "Hah… oke… Tapi itu lucu." Eunhyuk duduk bersila sambil melipat kedua tangannya di depan dada. "Membayangkannya saja membuatku tertawa sampai sakit perut seperti tadi."

Donghae ikut duduk bersila di depan Eunhyuk. Dia mendekatkan wajahnya ke wajah Eunhyuk sampai kira-kira jarak mereka hanya sekepalan tangan. "Bagaimana kalau kita mencobanya?"

Gadis itu menaikkan alisnya. "Mencoba apa?"

Deru napas Donghae serasa membelai kulit wajah Eunhyuk. Tanpa sadar, wajah gadis itu memerah samar. "Pacaran," jawab Donghae dengan senyum polos khas playboy menghiasi wajahnya.

Eunhyuk kembali tertawa. "PABOYA! Bagaimana ide gila itu melintas dalam otakmu yang sempit?" Tangan Eunhyuk bergerak untuk menjitak dahi Donghae. Sayangnya, tangan Donghae lebih gesit untuk menangkap tangan yeoja itu.

"Wae? Kita sama-sama tidak punya pasangan. Lagipula, apa kau tidak ingin tahu bangaimana rasanya pacaran? Kita sudah enam belas tahun, Lee Hyuk Jae."

Meskipun wajahnya kembali memanas, Eunhyuk tetap tersenyum, sambil menjawab dengan nada menantang. "Siapa takut?"

.

.

.

.

.

29 Maret.

Donghae cengar-cengir sendirian di kamarnya mengingat tanggal bersejarah itu. 29 Maret. Dia berbaring memandang langit-langit kamarnya yang putih polos. Sudah sebulan sejak dia dan Eunhyuk resmi menjadi sepasang kekasih. Dan tidak ada yang tahu mengenai hal itu, kecuali Yunho yang selalu menjadi setan di tengah-tengah mereka. Entah bagaimana, dia yang dulu selalu merasa datar-datar saja dengan gadis itu, kini menjadi sering deg-degan kalau berada di dekatnya.

Hal yang sama terjadi pada Eunhyuk. Gadis itu sering bergadang karena memikirkan Donghae, kekasih sebulannya. Hari ini tepat mereka sebulan, tapi tidak ada perayaan yang mereka rayakan. Tidak seperti pasangan lain. Mereka yang sejak awal memang sudah terus-terusan bersama, bingung ingin melakukan apa. Pulang dan pergi bersama, apa itu cukup? Batin Eunhyuk bertanya-tanya.

Bip… bip…

Ponsel Eunhyuk berbunyi. Dengan hati berbunga-bunga, dia membuka ponsel flip-nya dan mendapati nama Donghae tertera di layar.

Kau mau tidak, kencan hari Sabtu besok?

From: Donghae (29/04/XX)

Eunhyuk membalas cepat, menyetujui ide Donghae. Dia masih akan melanjutkan khayalannya yang melang-lang buana ke sana ke mari kalau saja teriakan sang eomma tidak menyuruhnya untuk segera mematikan lampu dan tidur.

Mengganggu saja.

Lampu kamar memang dia matikan, tapi tidak dengan pikirannya. Dia memandangi tempelan bintang yang bersinar dalam gelap. Dia ingat, tempelan-tempelan itu ia tempel bersama Donghae saat umur mereka masih lima belas tahun, ketika kelulusan SMP.

Orang tuanya tidak marah saat Donghae masuk ke dalam kamar putri mereka karena orang tua Eunhyuk telah kenal dengan Donghae sejak laki-laki itu masih bocah SD. Setiap hari Donghae pasti datang untuk bermain playstation dengan Eunhyuk di kamar yeoja itu. Dan kebiasaan itu sedikit berkurang karena Donghae yang ingin fokus diterima masuk dalam SMEnt, sebuah agensi yang akan menerbitkan artis-artis berbakat.

Donghae telah mencoba ikut audisi empat kali. Dan dia selalu ditolak dengan komentar yang sama. "Gerakkanmu terlalu kaku." Pulang dari gagal audisi, hanya Eunhyuk yang bisa menenangkan Donghae dengan mengajak laki-laki itu makan es krim almond porsi triple kesukaannya.

Donghae-ah, besok apa yang akan kita lakukan?

.

.

.

.

.

"Hyuk Jae, Donghae menunggumu di bawah!" teriak Eomma para putrinya yang masih belum memberikan jawaban. "Tunggu sebentar, ya," katanya pada Donghae yang sedang duduk di sofa ruang tamu. Donghae hanya menangguk. Dia sendiri juga deg-degan, akan seperti apa penampilan kekasihnya nanti. Dia kembali mengamati penampilan dirinya. Hari ini, dia hanya menggunakan kaos dan jaket abu-abu, serta celana panjang dan sepatu kets. Tidak berlebihan, kan?

"Ayo pergi," kata Eunhyuk yang sudah berdiri di depan Donghae.

Sesaat, Donghae terpana melihat penampilan kekasihnya ini. Eunhyuk mengenakan hot pants kuning dan kaos over size yang memperlihatkan tanktop kuningnya. Rambut Eunhyuk sama seperti biasa, dipenuhi jepit-jepit kecil berbagai warna.

"Kenapa? Aneh, ya?" tanya Eunhyuk saat Donghae menatapnya sedemikian lekat. "Akan kuganti, kalau begitu."

Donghae menahan lengan Eunhyuk yang akan berlalu. "Tidak, hanya… kau terlihat beda dari biasanya. Kajja."

Di depan rumah, tidak ada sepeda yang biasanya Eunhyuk dan Donghae naiki setiap pagi dan sore. Adanya malah motor keren berwarna hitam yang pernah Eunhyuk lihat di internet.

"Sepedamu bermetamorfosis?" tanya Eunhyuk sambil tertawa dan menerima helm yang diberikan Donghae.

"Sudah cepat naik! Jangan banyak tanya!" perintah Donghae. Tapi bukannya menjalankan kuda besinya, Donghae malah melepaskan jaket abu-abunya. "Nih, pakai. Jangan sampai hari Senin nanti kau sakit gara-gara kencan kita."

Gadis itu menerima jaket Donghae dengan wajah memerah hebat saat Donghae menyebutkan kata "kencan". Rasanya masih ganjil.

Perlahan tapi pasti, motor itu melaju di jalanan yang penuh dengan kendaraan lain. Lengan Eunhyuk melingkari pinggang Donghae. Dia tertawa kecil, menyadari kebiasaannya untuk memegang pundak Donghae kini berubah menjadi memeluk pinggang laki-laki itu.

"Kita mau ke mana?" tanya Donghae saat mereka berhenti pada lampu lalulintas yang menunjukkan warna merah.

"Terserah kamu. Emang maunya ke mana?"

Eunhyuk maupun Donghae sadar, cara bicara mereka juga berubah. Tidak ada kata-kata kasar di antara keduanya. Donghae tidak lagi melempari Eunhyuk dengan karet penghapus yang dia potong kecil-kecil saat gadis itu tertidur di kelas. Cinta mengubah segalanya, eh.

"Ke N Seoul Tower bagaimana?" Walaupun tidak melihat, Donghae merasakan anggukkan di punggungnya. Dia mengarahkan motornya menuju N Seoul Tower.

Seperti yeoja kebanyakan, secowok-cowoknya seorang Lee Hyuk Jae, dia tetaplah perempuan yang suka melihat sesuatu yang imut-imut dan mudah percaya takhayul dan ramalan di majalah-majalah. Eunhyuk merengek pada Donghae agar laki-laki itu mau memakai couple ring yang tadi dibelinya diam-diam tanpa sepengetahuan kekasihnya itu.

"Oppa! Ayo pakai!" Beginilah rengekan Eunhyuk. Dia akan memanggil Donghae dengan sebutan Oppa. Dan biasanya, Donghae langsung luluh. Namun tidak dengan kali ini.

"Aku tidak suka pakai aksesoris, Lee Hyuk Jae, Chagi!" balas Donghae dengan gombalan di akhir kalimat. "Lagian untuk apa, sih?"

Eunhyuk melepaskan pegangannya pada lengan Donghae dan berjalan menjauh. "Ya sudah, kita putus saja. Lagipula kita hanya coba-coba saja, kan? Tidak ada yang perlu disesali. Akan kubuang cincin ini ke danau." Donghae berlari menghalangi jalan Eunhyuk. "Kau mau apa? Kita sudah putus, kan?"

"Kata siapa?" Donghae meraih cincin yang ukurannya lebih besar dan memakainya pada jari manisnya. Dia menunjukkan hal itu pada Eunhyuk. "Sudah kupakai, kan? Sekarang giliranmu." Donghae baru saja akan memakaikan cincin yang ukurannya lebih kecil pada jari Eunhyuk.

"Tunggu, Oppa!" Eunhyuk merebut cincin itu, dan malah memakaikannya pada kelingking Donghae. "Aih… ternyata pas!"

"Mwo?" Donghae mengerjapkan kelopak matanya. "Memangnya kenapa kalau pas?" Dia melepaskan cincin itu dan memakaikannya pada jari manis kekasihnya.

"Katanya, kalau cincin perempuan muat di kelingking laki-laki, artinya mereka jodoh…" jelas Eunhyuk semangat.

"Ho… jadi kau mau menikah denganku?" tanya Donghae seraya mendekatkan wajahnya pada Eunhyuk.

"M-mwo? Kapan aku bilang aku mau menikah denganmu, Oppa?" tanya Eunhyuk polos. "Rasanya kau tidak pernah bilang."

Donghae meletakkan tangannya di kepala Eunhyuk. "Tadi yang kau bilang berarti jodoh, dan cincinmu muat di kelingkinku, bukannya secara tidak langsung kau mengatakan kalau aku mau menikah denganku?" Wajah Eunhyuk memerah. Donghae tertawa sejadi-jadinya. "Ya, Chagi. Wajahmu lucu, seperti apel." Dia merangkul kekasihnya. "Ne, tidak apa-apa kok kalau kau mengatakannya sekarang. Karena suatu hari nanti, aku yang akan mengatakannya padamu, dan mengganti cincin ini dengan cincin platina."

"Kau melamarku, Lee Donghae?"

"Kenapa tidak?"

Yeoja itu memukul dada kekasihnya main-main dengan tas kecil yang tersampir di bahunya. "Ya! Kita masih SMA!"

"Aku kan tidak bilang sekarang," kata Donghae sambil mengeratkan rangkulannya. Sambil mengeluarkan seringai khasnya, Donghae melanjutkan. "Kalau kau mau sekarang juga tidak apa-apa, Chagi."

Donghae kembali menerima gebukan yang lebih keras dari tas Eunhyuk. "YA! YADONG PABOYA!"

Laki-laki itu masih tertawa. "Biar kau bilang yadong, tapi kau tetap sayang padaku, kan?" goda Donghae lagi membuat wajah Eunhyuk memerah. "Ayo, beli gembok yang sama."

Ada satu tradisi bagi pasangamuda-mudi yang pergi ke N Seoul Tower. Di mana mereka yang memiliki pasangan akan membeli gembok yang sama, lalu menulis harapan mereka pada gembok tersebut dan mengaitkannya di pagar N Seoul Tower dan membuang kuncinya ke danau, meski pemerintah sudah memberi larangan untuk melempar kunci gembok itu.

"Kau menulis harapan apa?" tanya Eunhyuk.

"Rahasia. Kau sendiri?"

"Rahasia," balas gadis itu. "Kalau kau memberi tahuku, akan kuberi tahu juga."

Donghae membuang kedua kunci gembok mereka ke danau. "Nanti, saat kita tepat seribu hari, kita akan lihat sama-sama, ya?" Eunhyuk menganggukkan kepala. "Kita bisa selama itu, kan?"

Eunhyuk tertawa lebar. "Bisa, lah! Kita kan sudah sepuluh tahun lebih bersama, dan aku tidak pernah meninggalkanmu, eh."

Tangan Donghae terangkat untuk mengelus rambut kekasihnya. Senyum lembut tersuling di bibirnya. Ya, kita akan begini selamanya. Apapun yang terjadi, aku tidak ingin melepaskanmu. Tidak akan.

.

.

.

.

.

"Chagi! Aku diterima masuk SM!" seru Donghae saat keluar dari gedung audisi SMent untuk menemui kekasihnya. Dia langsung memeluk kekasihnya erat. "Aku lulus. Aku lulus."

Eunhyuk mengelus punggung kekasihnya lembut. "Ne, sudah kubilang, kan. Kau itu bisa melakukannya."

Mungkin satu hari di musim gugur saat itu adalah hari yang paling mengharukan untuk Donghae yang akhirnya lulus audisi SM. Satu hari yang mewujudkan impiannya, menurut Donghae. Namja itu pernah mengajak Eunhyuk untuk ikut audisi, tapi gadis itu menolak dengan alasan tidak ingin menjadi artis.

Donghae mengajak Eunhyuk makan es krim di tempat mereka biasa makan. "Aku yang traktir!" kata Donghae. Tidak ada yang beda dari biasanya karena Donghae memang selalu mentraktir Eunhyuk sejak mereka resmi menjadi sepasang kekasih.

"Tidak usah," jawab Eunhyuk lembut.

"Kenapa?" Donghae memandangi kekasihnya. Ada yang aneh. Padahal sebelum mereka jadian, Eunhyuk selalu meminta Donghae mentraktirnya. Tapi setelah mereka jadian, hari ini gadis itu malah tidak mau ditraktir Donghae.

"Tidak apa-apa. Melihatmu lulus audisi dan tertawa seperti ini saja sudah membuatku senang." Eunhyuk menghembuskan napas berat. "Karena setelah ini, kita pasti jarang bertemu. Kau akan tinggal di asrama. Lebih banyak latihan. Dan mendapat guru-guru khusus dari SM."

Donghae menghentikan acara makan es krimnya. "Chagi, kau tetap guruku yang terbaik. Kau juga kekasihku yang paling kusayang."

"Memangnya kau punya berapa kekasih, Lee Donghae?"

"Dua," jawab Donghae jahil. "Lee Hyuk Jae dan Eunhyuk."

Eunhyuk langsung tertawa sejadi-jadinya, membuat pengunjung lain mengalihkan pandangannya pada gadis itu. "Itu satu orang!" Gadis itu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. "Cepat makan, dan antarkan aku pulang. Aku belum belajar untuk ujian matematika!"

Donghae segera melahap es krim almond-nya secepat yang ia bisa. "Ayo!" Dia menganggandeng tangan Eunhyuk. Keluar dari sana.

Selama perjalanan pulang, Eunhyuk memeluk pinggang Donghae erat, seakan tidak ingin kehilangan laki-laki itu. Aku tidak tahu kenapa, tapi perasaanku sangat tidak enak sekarang. Seakan ada sesuatu yang secara paksa hilang dari diriku. Kuharap itu bukan Donghae. Tuhan, jangan biarkan hal-hal tidak baik menimpa kami berdua. Jangan….

Eunhyuk turun dari motor dan mengembalikan helm yang sering ia pakai pada Donghae. "Chagi, lepaskan helmmu." Tanpa banyak bertanya, Donghae melepaskan helmnya. Dan secepat cahaya, Eunhyuk menempelkan bibirnya di bibir Donghae untuk beberapa saat.

Ketika gadis itu melepaskan bibirnya, Donghae masih membatu kaget. "Kenapa?"

Gadis itu menunduk. "Aku hanya takut kau meninggalkanku."

Donghae menakupkan keedua tangannya di kedua sisi wajah Eunhyuk, mendekatkan wajah mereka, dan mulai melumat bibir Eunhyuk lembut. Gadis itu menutup matanya, membiarkan kekasihnya menguasai bibirnya saat ini.

Setelah semenit berlalu, Donghae menjauhkan wajah mereka. "Aku tidak akan meninggalkanmu. Selamanya aku akan di sisimu." Dia mengecup dahi Eunhyuk singkat. "Ne, masuklah ke dalam."

Eunhyuk mengangguk patuh. Motor Donghae melaju menuju rumahnya yang berbeda tiga blok dari rumah Eunhyuk. Biarpun Donghae telah berkata bahwa dia tidak akan meninggalkan Eunhyuk, rasanya masih ada yang mengganjal di hati yeoja berusia enam belas tahun itu.

Tidak mengatakan "Aku pulang" saat masuk rumah sudah menjadi kebiasaan bagi Eunhyuk. Dan kebiasaan itu yang membuat Eomma-nya suka marah padanya. Begitu juga hari ini, Eunhyuk membuka pintu tanpa berkata sepatah katapun.

Dia mematung di mulut pintu. Matanya memandang jasad sang appa yang terbujur kaku di kursi dengan darah keluar dari dadanya yang ditikam pisau. Eunhyuk membelalak kaget. Dadanya terasa sesak, tapi dia tidak juga dapat bernapas. Apalagi di dekat tangga sana, sang eomma sedang….

Eunhyuk berlari sekencang-kencangnya menuju taman di mana biasanya Donghae menunggunya saat pagi hari. Dia duduk di balik salah satu pohon. Tidak memusingkan suara sirine mobil polisi yang melintas di belakangnya. Dia menangis sejadi-jadinya. Membayangkan eomma-nya sedang diperkosa seorang namja tak dikenal dan dada appa-nya yang mengeluarkan darah tanpa henti, membuat dadanya sakit setengah mati.

"Donghae… Donghae…"

.

.

.

.

.

04 April

"Hyung, bangun!" perintah Kyuhyun yang berdiri di samping kasur Donghae. Namja itu memandangi namdongsaengnya yang juga menatapnya. "Hyung…."

"Ya… kau keluar duluan," jawab Donghae yang masih berbaring. Kyuhyun mematuh dengan meninggalkan Donghae sendirian di kamarnya.

Namja kelahiran 15 Oktober itu menggapai ponsel touch screen yang sejak semalam tergeletak di meja samping kasurnya. Hari ini tanggal 04 April, hari ulang tahun Eunhyuk, kekasihnya. Entah masih bisa dibilang kekasih atau tidak, ia tidak tahu.

Kalau hari ini adalah delapan tahun silam, dia akan menelfon Eunhyuk saat tengah malam. Menjadi orang pertama mengucapkannya selama ulang tahun, lalu bernyanyi lewat telefon yang selalu menghubungkan mereka saat malam hari.

Sayangnya, hal itu adalah depan tahun lalu. Tidak mungkin memutar balik waktu. Hal yang paling mustahil di dunia. Andaikan bisa, namja itu akan melakukan apapun untuk mendapat kesempatan berharga tersebut. Dia tidak akan meninggalkan kekasihnya saat dia dinyatakan lulus audisi SM. Dia akan membawa yeoja itu pergi dari rumahnya.

Eunhyuk… Apa kau tidak ingin mengenalku?

"Donghae!" panggil Leeteuk yang berdiri sambil menyandar pada kusen pintu. "Cepat mandi. Kita ada show," perintah sang leader Super Junior.

Donghae mengangguk singkat, lalu merapikan selimut yang dia pakai. Dipandangi sekeliling kamarnya. Berantakan. Kalau Eunhyuk melihatnya, mungking gadis itu akan mengomel, dan menyuruh Donghae untuk merapikan kamarnya–sekaipun gadis itu jorok, tapi dia selalu menjaga kebersihan tempatnya–seperti dulu.

Ya, dulu.

Donghae menggelengkan kepalanya pelan. Percuma aku membanyangkannya, kalau pada kenyataannya, dia jadi seperti sekarang karena aku meninggalkannya.

Laki-laki itu berjalan keluar menuju kamar mandi sambil melirik member lain yang sedang berkumpul mengelilingi meja makan. Beberapa tahun bersama mereka, tidak membuat ketujuh laki-laki itu menyadari apa yang dirasakan Donghae. Laki-laki yang disebut Ikan itu terlalu pintar menyembunyikan perasaannya sendiri.

.

.

.

.

.

Dari dalam mobil, Donghae memandang bangunan bertingkat dua yang menjadi tempat pemberhentian mobil yang ia tumpangi. Yunho duduk di balik kemudi, menunggu Donghae yang masih termenung. Ia tahu apa yang teman semasa SMA-nya ini rasakan, karena dia adalah saksi hidup percintaan Donghae dan Eunhyuk.

"Sampai kapan kau akan merasa bersalah padanya?" Yunho mengacak-acak rambutnya. Setiap tanggal 29 Maret dan 04 April dia harus rela menjadi supir pribadi Donghae yang mengantar namja itu ke rumah sakit jiwa yang berada di pinggiran Kota Seoul ini. Dia sendiri tidak keberatan, karena Donghae dan Eunhyuk adalah temannya. "Bukan kau yang salah."

Donghae merenung. Memandangi boneka berungan putih yang ada di tangannya. "Kalau waktu itu aku tidak meninggalkannya sendirian, dia tidak akan jadi seperti ini."

"Kau tahu, kau banyak berubah sejak dia jadi seperti ini. Kau bohong padanya yang lainnya kalau kau tidak bisa menyetir." Yunho menarik napas. "Oke, kau memang tidak bisa bawa mobil. Tapi kau bisa bawa motor dan selalu balapan denganku waktu SMA." Yunho memandang cincin yang melingkari jari manis Donghae. "Kau masih menggunakannya?"

Donghae tersenyum. "Hanya cincin ini yang membuatku merasa dia masih berada bersamaku."

Yunho tertegun melihat temannya. Meski sudah delapan tahun, laki-laki yang kini melangkah menuju pintu masuk rumah sakit itu tidak mencoba untuk berpaling pada wanita lain. Kau begitu mencintainya, ya, Donghae?

Donghae berjalan menuju ruangan yang sudah ia hafal. Sejak kejadiaan naas itu, Eunhyuk dipindahkan ke rumah sakit jiwa karena trauma mendalam, bukan berarti kerabatnya tiak ingin menampungnya. Eunhyuk menjadi ketakutan setiap kali bertemu dengan laki-laki. Makanya, kamar Eunhyuk sekarang dipindahkan ke ruangan paling pojok yang berhadapan langsung dengan taman.

Dari jendela yang dilapisi kaca nako, Donghae mengintip. Eunhyuk dengan rambutnya yang pendek, menatap datar pada televisi yang mati. Entah apa yang dipikirkan gadis itu, tapi dia hanya duduk di atas ranjang sambil memeluk kedua lututnya.

Setitik air mata turun ke pipi Donghae. Gadis itu masih memakai cincin yang mereka beli saat kencan pertama, dan mengelusnya. Apa gadis itu masih ingat padanya atau tidak, dia tidak tahu. Gadis itu juga tidak tahu kalau selama delapan tahun ini ada laki-laki yang selalu menemuinya, minimal dua kali dalam setahun.

Laki-laki itu kaget saat Eunhyuk tiba-tiba memanggil namanya. Tidak ada yang berubah dari posisinya, tetap memandang TV dengan tatapan kosong. Dalam hati, Donghae meringis sakit melihat kekasihnya seperti itu. Akan kulakukan apapun agar kau kembali seperti dulu, Lee Hyuk Jae.

Tanpa sadar, Donghae menekan perut bonekanya, sehingga lagu Happy Birthday terdengar. Keduanya sama-sama kaget. Donghae melihat Eunhyuk yang menatapnya dengan tatapan kaget dan takut sekaligus. Gadis itu merangkak menuju tombol bel untuk memanggil suster.

Dengan tergopo-gopo, dua perempuan berbaju putih masuk ke kamar Eunhyuk untuk menenangkan gadis itu. Gadis itu menangis dalam pelukan salah seorang suster. Sementara suster yang satu lagi pergi keluar.

"Boleh titip boneka ini untuk Lee Hyuk Jae?" tanya Donghae pada suster itu. Suster itu mengangguk dan memberikan boneka itu.

Setelah melihat Eunhyuk yang masih menangis dalam pelukan seorang suster, Donghae berjalan menjauh. Mungkin ini yang terbaik untuknya…

.

.

.

.

.

"Lihat ini, kau dapat boneka!" seru seorang suster pada Eunhyuk sambil menunjukkan boneka putih yang dia terima dari seorang laki-laki. "Ne, kau lihatkan." Suster itu tersenyum membujuk. Dia meraih tangan Eunhyuk dan memindahkan boneka itu ke tangan Eunhyuk.

"Oppa…" bisik Eunhyuk sambil menekan perut boneka. Dia menangis saat mendengar suara yang tidak asing di telinganya. "Oppa!" Eunhyuk berontak dari pelukan kedua suster itu dan berlari keluar kamarnya. Di ujung lorong, dia melihat lelaki berjaket kulit coklat yang berjalan menjauh dari kamarnya. "Oppa…"

"Tadi dia memanggil 'oppa'?" tanya salah seorang suster. "Apa traumanya sudah sembuh?" Mereka saling berpandangan.

Setelah menyuntikkan obat tidur pada Eunhyuk, kedua suster itu menggotong Eunhyuk masuk ke dalam kamarnya lagi. Wajah Eunhyuk terlihat damai dalam tidurnya.

"Kalau tidak salah, tadi Lee Donghae, personil Super Junior itu," kata suster yang menerima boneka dari Donghae ketika mereka berdua berjalan menuju ruang administrasi. "Ada hubungan apa mereka berdua?"

"Ya, jangan mulai menggosip!" sindir atasan mereka, membuat keduanya terdiam.

Side Story : END

To Be Continue…

3.757 words

Thanks for: laura mochi, ELLE HANA, wonniebummie, choi young gun, Kim Ayuni Lee, Anonymouss, EvilmagnaeMin, umi elf teukie, heeyeon, MinnieGalz, Hyugi Lee, Cho Kyuri Mappanyukki, Cho97, Shin ah gi, KyuLoveMin, Syubidubidu, nahanakyu. Dan semua yang telah membaca, fave, alert.

Sign,

Uchiha Kazuma Big Tomat

Finished at:

Wednesday, 27 June 2012

11.01 P.M.

Published at:

Wednesday, 27 June 2012

11.55 P.M.

Paparazzi © Kazuma House Production ® 2012