Incheon International Airport yang terletak di Korea Selatan. Setelah bandara ini selesai dibangung, bandara ini langsung mengggeser posisi Changi Airport, Singapore, dari sebutan bandara nomor satu di dunia.
Seorang gadis dengan tinggi semampai dan berkacamata hitam menggeret kopernya. Dia melihat sekeliling. Ada begitu banyak orang yang berlalulalang, tentu saja. Tapi dari banyaknya orang-orang itu, dia tidak menemukan orang yang dia cari. Dengan cepat, jari-jarinya menekan nomor yang ia ingat luar kepala.
"Appa! Aku ada di bandara!" rengeknya tanpa mengingat usia.
"Mwo? Kau sudah sampai? Cepat sekali. Appa pikir, kau baru berangkat nanti malam." Laki-laki paru baya yang ada di seberang sana menghela napas. "Ya sudah, nanti kusuruh orang untuk menjemputmu."
"Tidak mau!" Gadis itu menggelembungkan pipinya. "Aku maunya Appa dan Eomma yang menjemput. Ne?" Dia tersenyum manis sekali.
"Kau ini, sudah berumur dua puluh enam tahun, tapi tingkahnya seperti anak kecil." Gadis itu tertawa mendengarnya. "Kau tunggu saja di sana, Appa dan Eomma segera ke sana."
Setelah sambungan telefon terputus, gadis itu merasa lapar sekali setelah semalaman berada di kursi pesawat. Dia melangkah menuju salah satu restaurant yang ada di sana.
.
.
Plan A : Jauhi dia untuk sementara waktu. Lihat reaksinya.
.
.
.
.
.
.
.
Paparazzi © Kazuma B'tomat
Warning : KyuMin / YeWook / SiBum / HeBum (GS)
Kazuma House Production present…
.
.
Kalau perempuan biasanya lama dalam urusan makeup dan memilih baju, lain halnya dengan Lee Ryeowook. Gadis berambut pendek itu dengan mudah memilih baju dan cepat sekali memoles wajahnya. Tapi dia paling lama dalam urusan rambut. Sudah hampir satu jam dia duduk di depan meja rias di kamar Kibum, namun belum ada tanda-tanda dia akan segera beranjak dari sana.
Kibum duduk di depan TV yang menampilkan talkshow Super Junior. Entah bagaimana, wajah kedelapan Super Junior sering sekali menghiasi layar kaca akhir-akhir ini. Mungkin ini juga yang membuat Yesung dan Kyuhyun tidak menemui Ryeowook dan Sungmin hampir semingguan ini.
"Super Junior ada acara lagi?" tanya Ryeowook. Matanya masih memandang kaca, bergelut dengan alat mencatok dan rambutnya.
"Ya. Dan daritadi pacarmu melulu yang disorot kamera," komentar Kibum. "Kau kapan mau pergi?"
Ryeowook menggedikkan bahu. "Jam setengah tujuh, mungkin. Tunggu Eonni pulang dulu." Dia melirik jam. "Sudah jam enam. Dia kemana?"
Pintu kamar tiba-tiba terbuka, menampikan sosok orang yang sedang menjadi pembicaraan dua yeoja itu. "Aku pulang." Sungmin menggantung mantelnya. Ketika dia melihat layar TV yang sedang menampilkan Kyuhyun, dia mendengus. Pikirannya kembali pada talkshow yang tempo hari ia lihat.
Tingkah aneh yeoja itu membuat Kibum dan Ryeowook menyerngitkan dahi. Sungmin tidak ambil pusing dengan tatapan meminta penjelasan keduanya. Dia berjalan menuju kamar mandi. Pikirannya penat sekali. Bukan hanya tentang skripsi, tapi juga tentang sikap Cho Kyuhyun yang seakan mendekatinya selama setengah tahun ini.
Ryeowook menatap pintu kamar mandi dengan cemas. "Dia itu… aneh. Apa ini ada hubungannya dengan Si Evil Kyu?"
"Mungkin saja." Kibum berpikir tentang sikap Sungmin beberapa hari ini. "Dia selalu menghindar bila kita berbicara tentang Kyuhyun ataupun saat kita menayangkan acara mereka."
Ryeowook berbalik menghadap Kibum dengan mimik wajah serius. "Apa Eonni punya perasaan pada Si Evil itu, tapi Si Evil malah menjauhinya akhir-akhir ini."
Kibum langsung menaikkan satu alisnya tinggi-tinggi. "Itu kurang masuk akal. Tapi…" Kibum memegangi dagunya. "Mungkin saja hal itu terjadi."
Ryeowook nyengir dan menjentikkan jarinya. "Gotcha! Berarti Eonni punya perasaan yang sama dengan Kyuhyun."
"Bicara apa, kalian berdua?" tanya Sungmin yang baru keluar dari kamar mandi. Handuk melilit sambutnya yang masih basah.
"Tidak. Bukan apa-apa," jawab Kibum terlebih dahulu. Dia mematikan TV dan memandangi Sungmin yang hanya memakai kaos dan celana pedek. "Kau tidak jadi pergi?"
Sungmin menggeleng. Dia kembali mengutak-atik netbook-nya. "Makalah punyaku terus-terusan mendapat kritik dari Taecyeon, tutor-ku. Dia meminta hasil revisinya tiga hari lagi," jawab Sungmin sambil jari-jarinya bergerak lincah di atas keyboard.
"Eonni, kau kan sudah janji akan menemaniku," rengek Ryeowook.
Sungmin melihat adiknya dengan wajah memelas. "Tapi ini tentang masa depanku, Wookie… Lagipula, bisa-bisanya kau masih santai-santai saja padahal sudah mau sidang akhir."
"Kau ini kenapa sih, Eonni?" Ryeowook benar-benar tidak habis pikir pada kakaknya. "Kau berubah sekali akhir-akhir ini. Kau memakai sepatu high heels yang jarang sekali kau pakai. Membeli pengganjal sepatu. Dan kau minum susu banyak-banyak pagi dan malam. Padahal kau paling tidak bisa minum susu pagi hari. Aku sering mendapatimu hanya memandangi layar word-mu yang masih kosong. Tidak ada yang kau tulis akhir-akhir ini. Apa itu yang namanya persiapan skripsi?"
Sungmin diam.
"Kau juga menjauhi segala hal yang berbau Kyuhyun," lanjut Ryeowook dengan napas tersenggal-senggal. "Kau mencintainya, kan? Akui saja."
Yeoja manis itu mendengus. "Kau tahu apa tentang persaaanku?" Dia mematikan netbook-nya dan menatap Ryeowook tajam. Pandangan yang sama sekali bukan Sungmin. "Kau selalu mendapatkan apa yang kau mau. Hampir tidak pernah merasakan rasanya berjuang mendapatkan sesuatu. Tahu apa tentang perjuangan yang aku jalani?" Nada suaranya naik.
Ryeowook dan Kibum kaget. Mereka sama sekali belum pernah melihat yeoja manis itu sampai semarah ini. Biasanya, Sungmin yang sedang marah tidak akan sampai membentak.
Sungmin menyadari perubahan raut wajah mereka berdua. Dia segera membekap mulutnya. "Mianhae…" Dia lari menuju dapur, meminum air banyak-banyak.
Dia menyangga tubuhnya di pinggir wastafel. Wajahnya masih basah setelah ia mencuci muka. Dapur yang gelap hanya diterangi lampu-lampu kuning di bawah kitchen set. Napasnya terengah-engah. Dia sudah kelepasan.
"Ada apa denganmu, Lee Sungmin? Kenapa kau sampai seperti ini?" Gadis itu memegangi dadanya yang terasa sakit saat mengingat tingkah Kyuhyun yang begitu membuatnya nyaman dan juga
pernyataan Kyuhyun tentang tipe idealnya. "Kau menyebalkan, Cho Kyuhyun. Membuatku terbang, lalu membuatku jatuh. Kau menyebalkan."
Dari tangga, Ryeowook berjalan mendekati yeoja yang sedang merutuki dirinya di pinggi wastafel. Dia peluk kakaknya dan menenggelamkan kepalanya di leher sang Kakak. Aroma strawberry merangsang indra penciumannya. Aroma yang sejak dulu melekat erat dengan kakaknya. Aroma yang membuatnya merasa nyaman dan seperti berada dekat Eomma-nya.
"Eonni, maafkan aku," kata Ryeowook.
Sungmin menatap adiknya nanar. Tangannya terangkat untuk menyentuh lengan sang adik yang masih melingkari tubuhnya, semakin lama semakin erat. "Kau tidak salah. Aku hanya sedang emosi. Maafkan aku."
"Kalau ada apa-apa, ceritakan padaku dan Kibum. Jangan dipendam sendiri, Eonni."
Sungmin tersenyum, tangannya mengelus punggung Ryeowook lembut. "Ne…"
Dari meja makan, Kibum memandangi kedua kakak-adik itu berbagi hangatan. Ia iri pada mereka. Sejak kecil, dia menjadi putri tunggal dan tidak pernah merasakan rasanya memiliki saudara. Apalagi setelah kepergian Eomma-nya yang membuat dirinya semakin merasa sendiri karena Zhou Mi sibuk. Rasa rindu pada kedua orang tuanya menghantui hatinya. Namun, begitu mengingat Siwon, senyum kecil terukir di bibirnya.
Dia menyeka air matanya yang nyaris meleleh ke pipi. Kenapa aku harus menangis? Aku punya Siwon Oppa, kan? Dia kakakku yang terbaik.
.
.
.
.
.
Setelah kegiatan mengharu-biru khas drama di dapur rumah Kibum, Ryeowook berhasil membujuk dua yeoja itu untuk menemaninya ke acara Immortal Song. Meskipun telat dan mereka mendapat tempat duduk di deretan teratas, hal itu tidak melunturkan semangat Ryeowook untuk menonton kekasihnya secara langsung.
"KIM JONG WOON!" teriak Ryeowook sambil berdiri bersama para Clouds yang bersorak-sorak seakan mereka sedang menonton pertandingan sepak bola.
Sungmin hanya tertawa melihat tingkah adiknya bersama Kibum. "Aku jadi berpikir, apa yang membuat Yesung menyukai Ryeowook," bisik Sungmin pada Kibum yang masih terkikik pelan.
"Tanyakan saja padanya nanti," jawab Kibum. "Suara Yesung bagus, ya."
Sungmin mengangguk menyetujui pernyataan Kibum. "Dia bisa saja bersolo karir."
Ryeowook menatap kekasihnya yang sedang diberi komentar. Tiba-tiba saja, mata Yesung memandang langsung ke matanya. Ia merona. Sekalipun sudah menjadi sepasang kekasih yang sah, Ryeowook masih tidak terbiasa bila kekasihnya itu memandangnya secara langsung seperti itu.
Kakinya mendadak lemas. Jantungnya terasa jatuh sampai ke kaki saking bahagianya. Rasa yang ia dapatkan saat Yesung memintanya untuk menjadi kekasih laki-laki berkepala besar itu. Sudah lama Ryeowook tidak merasakan perasaan seperti ini. Lama sekali.
"Biarpun sudah lebih dari satu tahun menjadi kekasihnya, tatapan matanya selalu bisa membuatku deg-degan," rancu Ryeowook. Dia memadang lurus ke panggung. "Beruntung sekali kita datang saat Yesung sudah mau menyanyi. Habis ini penampilan Hyorin, penyanyi Sistar yang disebut-sebut sebagai Beyonce-nya Korea."
Wajah Kibum berubah datar. "Aku pernah satu sekolah dengan Hyorin saat di China dulu," katanya, membuat dua yeoja di sampingnya menoleh pada Kibum. "Dulu dia pernah pacaran degan Siwon Oppa saat SMA. Mereka menjadi best couple, itu yang kudengar. Entah mereka masih pacaran atau tidak, aku tidak tahu."
"Oppa?" tanya Sungmin. "Sejak kapan kau memanggil Siwon-ssi dengan embel-embel 'oppa'? Kalian saling kenal?"
Kibum menatap Sungmin yang balas menatapnya. "Sudah lama, kok. Dia sudah kuanggap sebagai kakakku. Orang tua kami juga saling kenal. Dulu juga dia sunbae-ku di sekolah."
"Sepertinya aku ketinggalan berita," kata Ryeowook. "Kau tidak pernah cerita padaku dan Eonni. Kau tahu apa saja tentangnya, Kibum?"
Kibum mempautkan bibirnya. "Jangan membuatku merasa seperti ibu-ibu penggosip. Cari tahu sendiri!"
Ryeowook menggelembungkan pipinya sebal karena Kibum memilih untuk tutup mulut. Pandangannya teralih pada Hyorin yang sedang menyanyi di tengah panggung. Suaranya begitu tinggi. Ryeowook sendiri mengakui kalau suara Hyorin seratus kali lebih bagus dari Yesung. Pasti yang menang Hyorin.
Setengah jam setelah menonton penampilan dari tiap peserta yang adalah member sebuah boyband dan girlband, acara Immortal Song selesai. Seperti dugaan Ryeowook sebelumnya, Hyorin benar-benar memenangkan acara itu.
Ketika semua orang berjalan menuju pintu keluar gedung, Ryeowook dengan nakalnya pergi menuju backstage. Sungmin merutuki tingkah adiknya yang suka menghilang sediri bila terlepas dari pengawasannya.
"Oppa!" panggil Ryeowook tanpa takut kalau di sana ada media masa atau Clouds. Yesung melempar senyum bahagia saat melihat kekasihnya.
Begitu Ryeowook sampai di depan Yesung, namja bertangan kecil itu melepaskan topinya dan langsung memakikan pada Ryeowook. "Kau tidak takut kalau ada Clouds yang melihatmu?"
Ryeowook menggeleng. "Tidak. Kalau ada Clouds yang melihatku, paling Kibum akan mengasingkanku darimu lagi," canda gadis berambut pendek itu.
Raut wajah Yesung berubah kesal. Ketika kejadian Clouds VS Ryeowook waktu itu, selama seminggu Kibum sama sekali tidak mengijinkan Yesung untuk menemui Ryeowook sampai gosip-gosip itu reda dengan sendirinya. Bahkan Kibum dengan ganas mengambil baterai ponsel Ryeowook. "Jangan begitu, Chagi. Kau tidak sayang padaku?"
Ryeowook hanya tertawa mendengarnya.
"Kenapa sih kau selalu menghilang tiba-tiba, Wookie?" tanya Sungmin yang baru menemukan Ryeowook bersama Yesung.
"Mianhae, Eonni." Ryeowook nyengir lima jari.
Kibum yang berada di samping Sungmin menatap tangan Ryeowook dan Yesung yang saling bertautan. Dia hanya bisa berdoa dalam hati supaya tidak ada Clouds ataupun paparazzi yang melihat mereka di sini.
"Ah, Kyuhyun-ssi, kau ada di sini?" tanya Sungmin sambil membungkukkan badannya sekilas. Dia mencengkeram mantelnya dikedua sisi dengan erat. Sebisa mungkin, dia mempertahankan senyum innocent yang selalu menghiasi wajahnya.
"Iya, aku tadi menjadi pengisi acara," jawab Kyuhyun. Sudah lama sekali rasanya namja itu tidak melihat senyum manis yang terpantri di wajah imut Sungmin. Kalau bukan ide gila dari buku itu dan keinginannya untuk mendapatkan kepastian hati Sungmin, dia tidak akan sudi untuk melakukannya.
Lengan kurus khas perempuan melingkari lengan Kyuhyun. "Ayo, GaemGyu! Aku sudah lapar!" kata perempuan cantik dengan tinggi semampai sambil menarik Kyuhyun keluar dari sana, sementara tangan yang satunya lagi memegang tas biola.
"Aku duluan," kata Kyuhyun pada yang lain.
Kyuhyun tidak sadar, tatapan Sungmin berubah tidak dapat diartikan. Entah marah, sedih, atau kecewa. Tidak ada yang tahu.
.
.
.
.
.
"Kenapa kau tidak bilang kalau kau akan pulang, dan malah datang tiba-tiba begitu?" tanya Kyuhyun sambil menyetir pada perempuan cantik yang duduk di sampingnya.
"Memang kenapa, Kyu? Kau tidak kangen dengan nuna-mu ini? Jahat sekali," kata gadis itu. Kyuhyun mendecak karena tingkah kakaknya ini, Ahra. "Jadi, siapa perempuan beruntung itu?" tanya Ahra ingin tahu.
"Ng?" Kyuhyun mendengung. Matanya masih memandang jalanan Kota Seoul yang selalu hidup, tiada matinya. Jalanan masih sangat ramai. Café-café di pinggi jalan terlihat terang benderang dengan musik-musik yang keluar. Entah itu dari speaker atau ada live music.
"Kau bilang, kan, akan memberi tahuku siapa perempuan yang pertama kali mengucapkan selamat ulang tahun kalau aku pulang ke Korea!" Ahra bersidekap. "Tepati janjimu, Cho Kyuhyun."
Kyuhyun menaikkan rem tangannya saat lampu menunjukkan warna merah. "Perempuan itu yang tadi sedang berbicara denganku."
"Yang mana?" Ahra bertanya sambil mengingat-ingat. Meski keadaan mobil sama sekali tidak dapat dibilang terang, Kyuhyun masih bisa melihat dahi kakaknya yang berkerut. "Serius, aku tidak bisa mengingat wajahnya."
"Yang pendek," jawab Kyuhyun. "Dia pakai mantel merah muda, rambutnya hitam, dan memakai celana panjang garis-garis."
Ahra menganggukkan kepalanya. "Oh… dia. Cantik kok. Manis," komentar Ahra.
Kyuhyun menjalankan mobilnya menuju perumahan elit yang berada agak kepinggir Kota Seoul. Rumah-rumah yang relatif besar itu berjejer rapi. Kyuhyun mengarahkan mobilnya menuju jalanan yang berada di paling ujung dari komplek elit itu.
Sebuah rumah mini berlahan besar sudah terlihat dalam jarak seratus meter. Pagarnya langsung terbuka saat mobil Kyuhyun sudah berjarak lima meter. Sepertinya para penjaga rumah itu selalu siaga dua puluh empat jam.
Tanpa mau bersusah payah untuk memarkirkan mobilnya di garasi, Kyuhyun menghentikan mobilnya di depan rumah keluarga Cho. Rumah yang membesarkannya dari kecil hingga besar.
"Kyuhyun!" Eomma-nya langsung memeluk putra bungsunya. "Sudah lama kau tidak pulang? Apa dorm-mu lebih nyaman darpadai rumah?" cecar eomma Kyuhyun.
"Ani, Eomma," jawab Kyuhyun. "Aku sibuk."
"Rumah sepi sekali karena kalian berdua tidak ada di rumah. Ayo masuk ke dalam. Kau pasti tidak makan dengan baik di sana. Eomma sudah membuatkan makanan kesukaanmu," kata Eomma.
Ahra berdiri di samping Appa-nya sambil memandangi adegan ibu dan anak itu dengan sedikit jengkel. "Eomma! Kan aku yang baru pulang dari London. Kenapa yang Eomma peluk malah dia?"
"Sudahlah, Ahra. Ayo masuk," kata Appanya menengahi mereka sebelum ada adu mulut.
To Be Continue…
2.167 words
Sumpah, saya ngerasa diksi saya nge-stuck di sini. Dan chap ini terlalu kaya sinetron abal-abal. Gomena!
KyuMin-nya kurang? Memang. Namanya juga Si Kyu lagi ngejauhi Minnie. Yang minta SiBum, maaf. Itu bener-bener nggak bisa kalau lebih dari kakak-adik.
Dan, saya nggak pernah merasa tertekan kok sama komentar kalian. Malah itu menambah semangat saya. Maaf buat AN yang kemarin kalo itu ngebuat kalian merasa tersinggung. Gomenasai *ojigi.
Terima kasih untuk: Jang Young Wook, VainVampire, Minoru, nahanakyu, Riyu, reaRelf, Kim Soo Hyun, Guest, KyuLoveMin, Guest, Kyunny, laura mochi, Anonymouss, desrodchan, Hyugi Lee, Cho Kyuri Mappanyukki, Syubidubidu, BABYKYUTAEMIN, Stephanie Choi, MinnieGalz, Lee EunGun.
Sign,
Uchiha Kazuma Big Tomat
Finished at:
Sunday, July 01, 2012
07.23 P.M.
Published at:
Sunday, July 01, 2012
07.45 P.M.
Paparazzi © Kazuma House Production ® 2012
