Lagi-lagi Sungmin terbangun dari tidurnya. Entah sudah berapa kali malam ini. Kamar masih gelap, Kibum dan Ryeowook terlelap di sampingnya. Tangannya menggapai ponsel merah muda yang kemarin dia taruh di bawah bantal. Masih jam dua pagi. Sialnya, matanya sama sekali tidak mau terpejam. Baru mau terpejam sebentar, pikirannya kembali terbayang akan sosok Kyuhyun.

"Aish…" Sungmin menyibakkan selimutnya dan berjalan keluar kamar. Dia berjalan menuju dapur untuk membuat susu panas. Coklat selalu membuatnya merasa tenang dan menjernihkan pikirannya di kala kacau.

Bagian yang paling Sungmin suka dari rumah besar ini adalah atap. Karena di sana, Sungmin bisa melihat bintang-bintang malam lebih jelas, meski harus berurusan dengan angin malam. Dan di sanalah gadis manis itu berada. Hanya sendirian, berdiri di dekat pagar membatas sambil memegangi mug susu panasnya.

Tangan kirinya merogo mantel merah muda yang melapisi piyamanya, mengambil ponsel yang sudah ia silent sejak delapan jam lalu. Pesan singkat dan panggilan terjawab menghiasi layar ponselnya. Semua berasal dari orang yang sama. Cho Kyuhyun.

Sungmin menghela napas. Dengan amat sengaja, dia mematikan ponselnya.

.

.

.

.

.

Nyatakan Perasaanmu!

.

.

.

.

.

Paparazzi © Kazuma B'tomat

Warning : KyuMin / YeWook / SiBum / HeBum (GS)

Kazuma House Production present…

.

.

Dua hari. Sudah dua hari sejak Kyuhyun menculik Sungmin untuk kencan. Dua hari pula Sungmin mematikan ponselnya, menutup akses Kyuhyun untuk menghubunginya. Sedikit banyak dia menyesal telah mengatakkan hal itu pada Sungmin.

"Shindong, tolong matikan musiknya," pinta Leeteuk di tengah-tengah sesi latihan. "Kyuhyun!" Namja yang dipanggil itu bergeming. "Cho Kyuhyun!"

"Ah, iya?" tanya Kyuhyun yang baru sadar dari lamunannya. Leeteuk dan enam member lain memandanginya seakan mereka ingin memakannya. "K-Kenapa?" Serius, bulu kuduknya berdiri dipandangi seperti ini. Seakan ketujuh hyungnya adalah singa kelaparan, dan dirinya adalah daging segar siap santap.

"Kau kenapa?" tanya Kangin. "Daritadi gerakkanmu salah terus. Fokus! Dua hari lagi kita ada meet and greet, lalu kita akan ke Thailand. Akan sangat memalukan kalau kau kedapatan salah melakukan gerakkan."

"Iya, Hyung," jawab Kyuhyun lesu.

Leeteuk melihat latihan ini belum bisa melanjutkan, memutuskan, "Kita istirahat dulu saja."

Member lain langsung menghabiskan air dalam botol mereka, sementara Kyuhyun lebih memilih untuk duduk di pinggir ruang latihan mereka. Benar apa kata Kangin tadi, Kyuhyun sama sekali tidak fokus. Pikirannya pecah karena Sungmin.

Kau kembali membuatku gila.

Yesung, Siwon, dan Leeteuk duduk mendekati Kyuhyun. Seharian ini namja itu benar-benar kacau. Dia tidak menghabiskan sereal bintang-bintangnya dengan napsu seperti biasa. Tidak juga memainkan kekasih sejatinya, Sang PSP. Namdongsaeng mereka yang seperti ini malah lebih memusingkan daripada ketika Aprilmop.

Tanpa perlu bertanya, mereka semua bisa menebak inti masalahnya. Pasti tentang Sungmin. Gadis itu ajaib. Bisa membuat magnae mereka berubah dalam satu kedipan mata. Bisa jadi semangat, alim-alim, galau, dan sekarang seperti kehilangan roh.

"Kau kenapa lagi, Evil?" tanya Leeteuk. "Dua hari yang lalu, aku menghilang seharian, tiba-tiba kembali dengan baju kuning itu. Sekarang kau malah begini."

Kyuhyun menarik napas, menceritakan semuanya pada ketiga hyungdeul-nya ini.

.

.

.

.

.

"Bagaimana kalau kubilang, tipe idealku sepertimu?" tanya Kyuhyun dengan raut wajah sedikit serius. Matanya berusaha menelisik kebenaran dalam mata Sungmin.

Gadis itu hanya tersenyum simpul. Matanya menatap sepatu boots yang ia pakai. "Jangan berbohong. Aku paling tidak suka dibohongi," kata Sungmin, "jelas-jelas waktu itu kau bilang kau menyukai berempuan berkaki jenjang. Dan kau juga bisa melihat kalau kakiku tidak jenjang. Aku pendek, Kyu."

"Lalu? Apa itu masalah?"

Sungmin terdiam. Wajahnya datar tanpa ekspresi berarti, sementara ia memainkan jari-jarinya. Dia menunduk dalam-dalam.

"Kalau sekarang kubilang, aku menyukaimu, bagaimana?" tanya Kyuhyun lagi.

Wajah Sungmin memerah. "Jangan bercanda, Cho!" Dia mengepalkan tangannya di atas paha. "Jangan mempermainkan aku!"

"Aku tidak bercanda, Lee Sungmin!" Kyunyun membalikkan perkataan Sungmin. "Kau tadi bilang, perasaan itu timbul sendirinya. Ini juga yang terjadi padaku."

Atmosfir di antara keduanya menjadi tegang. Masing-masing bergulat dengan hati dan pikirannya, terutama Sungmin. Banyak faktor yang ia pikirkan bila ia menerima pernyataan cinta Kyuhyun. Termasuk juga keselamatan dirinya.

"Bukannya…" Sungmin menggigit bibir. "Kau sudah memiliki pacar?"

"Mwo? Gosip dari mana?" Apa itu gossip terbaru, sampai-sampai Kyuhyun baru tahu sekarang?

"Perempuan yang bersamamu di Immortal Song itu. Bukannya dia pacarmu?" tanya Sungmin penuh selidik. "Kenapa sekarang malah menyatakan perasaan padaku?"

Kyuhyun menaikkan alisnya tinggi-tinggi. "Dia nuna-ku." Rasa malu menjalar ke wajah Sungmin yang sudah semerah buah strawberry kesukaannya. "Jadi, jawabanmu?"

Sungmin terdiam. Dia menggigit bibirnya keras-keras sampai rasa anyir masuk ke mulutnya. Darahnya sendiri. Setelah memikirkan sederet akibat dari menjalin hubungan dengan seorang Cho Kyuhyun, Sungmin menarik napas. "Aku… tidak bisa."

"Wae?"

Yeoja itu tidak menjawab, malah melemparkan padangannya pada kaca mobil di sampingnya. Dia bungkam. Bahkan tidak menghiraukan tepukan Kyuhyun di pundaknya. Kejadian manis yang berlangsung beberapa jam lalu seakan hilang. Menguap bersama udara yang keluar dari hidung mereka.

Kyuhyun yang masih tidak mengerti hanya menjalankan mobilnya menuju rumah Kibum, tempat Sungmin selama ini tinggal. Tidak ada kata-kata yang terucap dari bibir mereka. Menit-menit berlalu begitu saja tanpa ada alasan yang jelas.

.

.

.

.

.

"Hah?" Kibum terpekik kaget saat melihat bantal berbentuk kepala personil Super Junior yang sangat ia kenal. Kepala Siwon. Rasanya lucu saat menyebut bantal itu dengan sebutan "Kepala Siwon". Seakan namja itu korban mutilasi saja.

Henry yang berada tidak jauh darinya mendekat, "Kenapa?" tanyanya. Dijawab dengan anggukkan kepala. "Kau menyukai Super Junior."

"Hanya suka beberapa lagunya," jawab Kibum. Dia mengambil ponselnya, lalu memotret bantal Kepala Siwon itu dan mengirimnya pada laki-laki yang sudah dia anggap sebagai kakak.

Wajahmu komersil sekali sampai dibuat bantalnya. :P

*picture*

To: Siwon Oppa (XX/XX/XX)

Sepulang kuliah, dengan senang hati Henry menunggui Kibum sampai gadis itu keluar dari kelasnya. Kibum mulanya kaget dan benar-benar malu ketika mereka berdua menjadi pusat sorotan lorong kampus sore tadi. Tapi mengingat perkataan Ryeowook yang lebih berpengalaman, "Abaikan saja", maka di sinilah mereka berada. Di salah satu toko hadiah dekat kampus.

Ada apa di antara mereka?

Complicated.

Serumit benang kusut. Mungkin lebih tepatnya dibilang HTS, Hubungan Tanpa Status. Dibilang pacar, bukan. Bahkan mereka berdua sama-sama belum menyatakan perasaan masing-masing. Dibilang sahabat, juga bukan. Namun kedekatan mereka sangat jauh dari kata sahabat. Apa laki-laki dan perempuan yang tiap malam ber-video call ria dan hampir di setiap malam minggu pergi menonton itu masih bisa disebut sahabat? Rasanya tidak.

"Adikmu suka apa?" tanya Kibum. Mereka memang sedang mencari hadiah ulang tahun untuk adik perempuan Henry yang akan berulang tahun ke tujuh belas minggu depan.

Namja itu menggaruk lehernya. "Aku juga tidak tahu. Kami sudah tinggal terpisah lama sekali. Aku mengikuti appa-ku ke sini," ceritanya. "Terakhir kali kami bertemu, itu dua tahun lalu."

Memilih hadiah adalah hal tersulit kedua–setelah ujan tetunya–bagi Kibum. Ada banyak sekali barang yang bisa dijadikan hadiah di sini. Tapi karena tidak tahu seperti apa hal kesukaan adik Henry itu, jadilah mereka berdu hanya berkeliling toko luas ini sambil mengira-ngira.

"Kau sama sekali tidak memiliki perkiraan tentang kesukaan adikmu?" tanya Kibum.

Henry menggeleng. "Dia orang yang susah sekali ditebak. Bisa berubah tiba-tiba. Seperti bunglon."

Diam-diam, Henry mencuri pandang pada yeoja yang sudah lama dia amati. Banyak perubahan yang terjadi pada yeoja yang terkenal memiliki wajah datar. Sebenarnya Kibum tidak sedatar yang mereka banyangkan. Dia kurang bisa mengekspresikan dirinya.

"Kenapa?" tanya Kibum merasa dirinya diperhatikan Henry. Pipinya memerah.

Henry tersenyum geli. "Tidak apa-apa." Dia meraih tangan Kibum. "Aku bisa gila di sini terus tanpa tahu harus membeli apa. Ayo ke sana," katanya sambil menunjuk café seberang jalan.

.

.

.

.

.

Setelah menemui Taecyeon dan menunjukkan makalahnya, entah apa yang merasuki Sungmin hingga yeoja itu kini duduk di atas rerumputan, matanya memandangi Sungai Han yang sering dijadikan tempat wisata dan foto pre wedding.

Tidak akan ada yang tahu apa yang sedang dipikirkan yeoja itu di tempat ini. Ini tempat umum dan ramai. Tempat pasangan kekasih mencari hiburan. Kekasih… satu kata itu terngiang dalam tiap sudut otak dan hati Sungmin.

Untuk kesekian kalinya, Sungmin kembali membohongi dirinya sendiri. Dia mencintai Kyuhyun, begitu pula dengan namja itu. Bodohnya, Sungmin menolaknya tanpa memberi penjelasan. Di satu sisi, keputusannya sangat bodoh. Tapi, di sisi lain, hal itu tidak bisa dibilang bodoh juga. Hidup itu seperti dua sisi mata uang. Selalu ada bagian yang bertentangan dan tidak akan pernah bertemu.

"Kau ke sini juga?"

Sungmin semakin menenggelamkan kepalanya di antara dua lututnya. Suara berat yang khas ini adalah suara Kyuhyun. Dan sejujurnya Sungmin masih belum mau bertemu Kyuhyun.

"Kenapa mau malah menjauhiku dua hari ini?" tanya Kyuhyun. Namja itu masih berdiri di samping Sungmin.

Mungkin ini takdir hingga mereka berdua bertemu di tempat seperti ini. Tidak seperti hari-hari dulu saat Kyuhyun dengan setia menjadi stalker Sungmin, hari-hari ini dia terlalu sibuk dengan Super Junior untuk persiapan Super Show. Ini benar-benar tidak disengaja.

"Kenapa?"

"Ada banyak hal yang kautanyakan, dan semuanya berawalan kata 'kenapa'. Tidak adakah pertanyaan lain?" Sungmin membuka mulut. "Pertanyaan kenapa itu membutuhkan jawaban yang panjang dan jelas."

"Aku butuh kejelasan darimu."

Jari lentik yeoja itu mencabut sehelai rumbut. Memisahkan antara daun dan tulang daunnya. "Bukannya jelas, aku menolakmu? Aku masih menggunakan bahasa Korea. Bukan bahasa Mandarin atau Jepang."

"Kau mengerti maksudku, Lee Sungmin," balas Kyuhyun. Kepalanya mendongak menatap langit. "Katakan yang sejujurnya."

Langit musim semi hari ini berawan jingga karena hari petang. Matahari sudah kembali ke peraduannya di ufuk Barat, menerangi bagian bumi lain. Langit kali ini benar-benar seperti lukisan cat minyak warna jingga yang bercampur dengan warna biru dan merah.

"Aku juga mencintaimu," aku Sungmin. Sebelum namja itu berkata, Sungmin sudah menyela. "Ada banyak pertimbangan yang kupikirkan saat kau menyatakan perasaanmu padaku. Pertama, tentu saja keselamatan kau dan aku dari Sparkyu, Elf, dan media. Kedua, karirmu. Ketiga, masa depanmu."

"Kau banyak memikirkan tentangku," jawab Kyuhyun. "Dari tadi yang kau katakan hanya tentangku, tapi…" Dia berjongkok di samping Sungmin. "Tolong pikirkan lagi."

"Berapa kalipun aku berpikir, jawabannya pasti sama. Aku tidak mau seperti Wookie saat dia ketahuan sedang kencan dengan Yesung." Sungmin mengingat kejadian Ryeowook dulu. Kembarannya sulit melakukan apapun. Banyak orang yang menghalanginya. "Itu menyebalkan. Lagipula, kau artis. Artis membutuhkan fans untuk membuat dirinya tetap bersinar. Dan dengan menjadi kepunyaan orang lain, fans akan berkurang. Perlahan karirmu bisa mati."

Kyuhyun berdecak. Matanya menatap kilauan cahaya matahari senja yang terpantul dari permukaan air sungai. "Ternyata kau hanya menyukaiku sebagai, Kyuhyun Super Junior. Bukan Cho Kyuhyun. Dari tadi kau mengatakan tentang karirku. Bukan tentang perasaanku."

"Karena aku menyukaimu sebagai Cho Kyuhyun, makanya aku memikirkan itu!" Nada Sungmin naik. Dengan berani, dia menatap wajah Kyuhyun. Matanya berkilat penuh emosi. "Kalau aku menyukaimu sebagai Kyuhyun Super Junior sudah pasti akan kuterima!"

"Buktikan padaku," tantang Kyuhyun. Yeoja itu menunjukkan ekspresi bingung. "Tunjukkan padaku kalau kau memang mencintaiku sebagai Cho Kyuhyun, bukan sebagai Kyuhyun Super Junior!" Kyuhyun menarik napas dalam-dalam. "Menikahlah denganku."

Sungmin tertawa. Ia bangkit berdiri dan membersihkan jeansnya dari sisa rerumputan. "Kau lebih tua dariku, tapi jalan pikirmu seperti remaja SMA labil. Kau pikir menikah semudah membalik telapak tangan? Semudah kau bernyanyi di depan Elf?" Sungmin kembali tertawa. "Serius, berbicara penuh pikiran seperti ini membuatku… tertawa. Terlalu berat bagi pikiran kekanakan kita. Juga terlalu konyol untuk pikiran kita sebagai orang dewasa."

Yeoja itu berjalan menjauh dari Kyuhyun, menuju halte bus. Kyuhyun dengan sigap meraih tangannya, membuat yeoja itu berbalik. "Berjanji padaku." Kyuhyun menatapnya intens. "Kau tidak akan menjalin hubungan dengan namja lain."

"Kenapa? Kau bukan siapa-siapaku, kan? Untuk apa aku membuat perjanjian yang mengekangku?" goda Sungmin. Saat ini dia benar-benar ingin tertawa melihat wajah namja yang lebih tua darinya tersebut. Terlalu serius. Berbanding terbalik dengan wajahnya yang menunjukkan raut wajah main-main.

Kyuhyun berdecak. Kenapa tiba-tiba yeoja ini jadi begitu jahil padanya? Ke mana Sungmin yang polos itu? "Tolong, jangan membuat ikatan apapun dengan namja lain. Kau milikku, Lee Sungmin." Secara egois, Kyuhyun menyatakan kepemilikannya atas Sungmin. "Lagipula kau akan terdengar sangat jahat bila menjalin hubungan dengan namja lain, sedangkan hatimu bukan untuk namja itu."

Tangan Sungmin membelai wajah putih Kyuhyun. "Kau tenang saja. Selama kau masih memiliki hatiku, aku tidak akan menjalin hubungan dengan namja lain." Tatapannya melembut, menyusui tiap lekuk sempurna namja di hadapannya ini. "Tapi aku tetap bukan kekasihmu!" Sungmin menunjuk dada Kyuhyun. "Aku tetap single. Mengerti itu, Cho?" katanya penuh penekanan pada kata 'tetap single'.

Kyuhyun tertawa mendengarnya.

.

.

.

.

.

"Kenapa dia?" tanya Leeteuk pada yang lain. Namja berambut pirang itu bersandar pada pinggir kolam renang hotel yang mereka inapi selama dua malam.

Hari ini mereka tiba di Thailand dan disambut banyak sekali teriakkan Elf yang katanya sudah menunggu selama dua jam lebih, juga sorotan kamera media yang mencari berita tentang mereka yang mengguncang negeri gajah putih tersebut. Kemanapun mereka bergerak, selalu ada lensa yang mengikuti mereka bersamaan dengan teriakan histeris dari para perempuan.

Donghae memposisikan tubuhnya di samping Leeteuk. "Ketika kita latihan waktu itu, dia terlihat seperti orang kehilang nyawa. Sekarang malah seperti robot kelebihan baterai." Kedua namja berbeda usia itu memandangi magnae mereka yang sedang berenang bolak-balik kolam renang yang berbentuk seperti angka delapan.

Kyuhyun memunculkan kepalanya dari dalam air. Tangannya menyibakkan rambut basa yang menutupi sebagian wajahnya. Senyum manis di wajah tampannya seakan tidak pernah bisa lepas, bahkan ketika ia terngah-engah sepetelah menahan napas seperti ini.

"Ayo berenang, Hyung," ajaknya. "Jangan hanya diam di sini!"

Leeteuk memandangi Kyuhyun terheran-heran. "Kau tidak sakit, kan, Kyu?" Leeteuk menempelkan punggung tangannya di dahi Kyuhyun yang langsung ditepis. "Kau berenang saja dengan Donghae. Aku sudah kedinginan di sini."

Kyuhyun menurunkan tubuhnya hingga kira-kira ketinggian air selehernya. "Air terasa lebih hangat daripada di atas. Padahal tadi air terasa sangat dingin."

Donghae menjitak kepala Kyuhyun, membuat namja berambut kecoklatan itu menrintih kesakitan. "Salahmu sendiri, tadi keluar dari kamar dan lari-larian seperti anak kecil menuju lift dan naik ke sini. Kalau kau berenang di bawah, pasti tidak akan sedingin ini."

Semua karena Kyuhyun. Namja berusia dua puluh empat tahun itu lebih memilih untuk berenang di kolam renang yang ada di atap hotel mereka, dibandingkan dengan di bawa, dekat taman di belakang hotel mereka. Alasannya karena terlalu banyak orang di sana. Memang di sini hanya kedelapan namja itu yang memakainya–atau lebih tepatnya hanya Kyuhyun, karena hanya dia yang aktif berenang bolak-balik seperti bebek.

"Memangnya Hyung mau dapat kejadian seperti Siwon Hyung di bandara tadi? Aku sih tidak," kata Kyuhyun mengingat kejadian tadi sore.

Dewi Fortuna memang belum bisa dibilang berpihak pada Siwon. Elf dan Siwonest menarik-narik baju namja yang punya panggilan Prince Thai itu hingga robek. Beruntung, Shindong langsung memberikan jaketnya karena udara Thailand tidak bisa dikatakan dingin seperti yang terjadi di Korea. Setidaknya dengan jaket kebesaran milik Shindong, tubuh six pack-nya tidak langsung tersorot publik.

Donghae tertawa. "Ne, bagaimana hubunganmu dengan Sungmin."

"Masih baik-baik saja," jawab Kyuhyun dia memandang jauh ke langit malam. Senyum terukir di bibirnya. "Meski kami tidak pacaran."

Donghae kaget. "Kalian tidak pacaran? Kupikir kalian iya. Lalu, chatting dan telfon tiap malam itu apa? Hanya main-main, begitu?"

"Entahlah, aku juga tidak tahu." Kyuhyun melirik Donghae. "Yang jelas, setelah umurnya seperempat abad atau lebih, aku akan melamarnya!" ucap Kyuhyun berapi-api, membuat Donghae sweatdrop di tempat. Pikiran magnaenya terlalu jauh. Bahkan dia sendiri tidak pernah memikirkan soal pernikahan.

"Dasar tua!" ejek Donghae sambil naik ke permukaan dan segera mengambil handuk untuk menutupi tubuhnya.

Kyuhyun sama sekali tidak terima dikatakan tua oleh namja yang jelas dua tahun lebih tua darinya. "Ya! Aku tidak tua! Kau yang lebih tua dariku, Hyung!"

Kyuhyun mengejar Donghae yang sudah hampir mencapai tangga darurat. Dia lupa untuk mengambil handuk, membiarkan angin malam menerpa tubuhnya yang basah. Entah besok dia akan sakit atau tidak, hanya Tuhan yang tahu.

To Be Continue…

2.455 words

Tidak sesuai harapan, ya? Saya tahu kok. Ngegantung? Ya gitu deh. Yang jelas chapter depan adalah chapter terakhir yang berarti EPILOG. Tapi bukan berarti cerita ini berakhir. Saya berniat melanjutkannya dalam fic lain. Kalau tidak saya ubah, fic itu akan saya beri judul, "U" dan lebih difokuskan pada Donghae X Eunhyuk! Yeah!

Sampai hari ini, saya juga masih belum menemukan alasan kenapa saya memberi judul fic ini "Paparazzi". Karena saya pikir, tidak ada hubungannya sama sekali.

Nama twitter saya: uchichHa. Kalo ada yang mau follow, silahkan.

Terima kasih untuk: Pakapika, Guest, Guest, Guest, Guest, Guest, Kim Ayuni Lee, Song Ji Ra, Guest, desroschan, Hyugi Lee, Guest, KyuLoveMin, reaRelf, Heeyeon, kyunny, Anonymouss, VainVampire. Dan semua yang telah membaca, review, fave, dan alert.

P.S.: jangan lupa nyantumin nama, ya, kalau review. :)

Sign,

Uchiha Kazuma Big Tomat

Finished at:

Tuesday, July 03, 2012

11.59 P.M.

Published at:

Wednesday, July 04, 2012

8.30 A.M.

Paparazzi © Kazuma House Production ® 2012