"Sungmin, datang ke dorm kami!"
"Sungmin, Si Setan itu berulah lagi!"
"Sungmin-ah! Aku tidak tahan dengan tingkah Si Magnae!"
"Sungmin, Si Magnae ngamuk!"
"Sungmin!"
"Sungmin!"
"Sungmin!"
.
.
.
"LEE SUNG MIN! TOLONG KAMI!"
.
.
.
.
The Amazing Sungmin
.
.
.
.
Paparazzi © Kazuma B'tomat
Warning : KyuMin / YeWook / SiBum / HeBum (GS)
Kazuma House Production present…
.
.
.
.
.
Dua hari sudah Sungmin ditahan oleh ketujuh member Super Junior untuk mengurusi magnae mereka yang sakit. Sebenarnya Leeteuk bisa saja mengurusi Kyuhyun, atau Kyuhyun bisa mengurusi dirinya sendiri. Seharusnya. Tapi dengan manjanya yang tidak ketulungan, Kyuhyun menolak segala bentuk pertolongan yang diberikan, termasuk dari Eomma-nya yang khawatir setengah mati. Namja manja itu hanya mau Sungmin yang mengurusinya.
Sungmin menyendokkan bubur yang baru ia buat ke dalam mangkuk. Sudah waktunya untuk Kyuhyun makan. Yeoja manis yang baru lulus kuliah beberapa waktu lalu itu melangkah menuju kamar Kyuhyun dengan membawa sebuah nampan berisi semangkuk bubur dan air putih.
"Kyu," panggilnya membangunkan Kyuhyun. "Bangun. Makan dulu, lalu minum obat."
Kyuhyun mendudukkan dirinya. Wajahnya tampak pucat. Dua hari juga ia tidak menyentuh PSP-nya karena terlalu pusing. "Suapin," rengek Kyuhyun. Benar apa kata Leeteuk, Kyuhyun jauh lebih menyebalkan.
Sungmin hanya menarik napas menghadapi bayi raksasa di hadapannya. Dia menyendokkan bubur itu dan mengarahkannya pada mulut Kyuhyun. Namja itu memakannya dengan ogah-ogahan. Namun, baru beberapa sendok masuk ke mulutnya, Kyuhyun sudah tidak mau makan lagi.
"KYUHYUN EVIL MAGNAE! Ayo makan!" teriak Sungmin frustasi.
Bahkan Sungmin yang disebut-sebut sebagai pawang-nya Kyuhyun, kini menyerah menghadapi magnae itu. Bagaimana dengan hyungdeul-nya?
"Ya! Kau itu lebih muda dariku! Kenapa bisa-bisanya kau memanggilku Magnae?" Kyuhyun tidak terima. "Harusnya kau memanggilku dengan sebutan Oppa!"
"Tidak mau!" Sungmin mengerucutkan bibirnya. "Kalau kau lebih tua dariku, jangan bertingkah seperti ini, Kyu!" Sungmin berdiri sambil berkacak pinggang. Matanya melotot khas seorang ibu yang sedang memarahi anaknya. "Ayo makan!"
Seringai terlukis di bibir pucat Kyuhyun. Bahkan disaat seperti ini juga, otak evil-nya tetap berjalan. Mumpung dorm sepi. "Sini dulu!" Kyuhyun menyuruh yeoja di hadapannya untuk mendekat. Sungmin menurut saja. Dengan sangat pervert, Kyuhyun mencuri ciuman pertama Sungmin. Yeoja itu terpaku, masih shock dengan apa yang terjadi.
"YA! EVIL KYU! APA YANG KAU LAKUKAN PADA EONNI-KU, HAH?" Suara nyaring terdengar dari pintu setelah Kyuhyun melepaskan bibirnya dari bibir plum Sungmin.
Aih… kenapa setan yang satu itu harus datang di waktu yang tidak tepat, sih? rutuk Kyuhyun. Sudah menjadi rahasia umum bagi seluruh member SuJu kalau Kyuhyun sama sekali tidak bisa akur dengan kembaran Sungmin, Ryeowook. Pasti ada saja adu mulut di antara keduanya.
"Tidak sopan sekali, masuk kamar orang tanpa mengetuk pintu dulu," cibir Kyuhyun. "Darimana kau bisa membua pintu dorm kami?"
Dengan senyum kemenangan, Ryeowook menunjukkan sebuah kartu di tangannya. "Yesung Oppa memberiku ini selama Eonni kalian tahan."
Kyuhyun mendesis kesal. Namja berkepala besar itu tidak bisa membiarkanku tenang sebentar dengan Sungmin, apa? Kyuhyun memandangi Ryeowook dengan tatapan tidak suka. Dia melipat tangannya di depan dada.
"Ya! Cho Kyuhyun! Apa-apaan tadi?" bentak Sungmin yang baru sadar. "Itu-" wajah yeoja manis itu memerah. "Ciuman pertamaku."
"Itu juga ciuman pertamaku," jawab Kyuhyun acuh tak acuh.
Sungmin menggebuk Kyuhyun dengan bantal, tidak perduli kalau namja ini sedang sakit. "Bisa-bisanya kau berkata setenang itu! Kita tetap tidak memiliki hubungan. Ingat itu, Cho!" Sungmin bangkit berdiri dan mengambil mangkuk bubur yang masih setengah. Dia berjalan menuju dapur tanpa menghirukan panggilan Kyuhyun.
"Kau juga, kenapa tiba-tiba datang? Memangganggu saja!" Kyuhyun mengamuk pada Ryeowook.
"Aku tidak mau terjadi hal-hal di luar batas pada Eonni-ku. Dan aku tidak percaya padamu!" balas Ryeowook yang mengikuti Sungmin menuju dapur sejelah melewekan lidahnya.
Kyuhyun hanya bisa memegangi kepalanya yang terasa pening setelah digebuk Sungmin. Lalu dia menyentuh bibirnya yang tadi merebut ciuman pertama Sungmin. Dia tersenyum penuh arti. Bibirnya manis.
.
.
.
.
.
Sungmin dan Ryeowook menghidangkan makan malam bagi kedelapan namja penghuni dorm besar ini. Mereka menatap tiga piring menu makanan itu dengan napsu. Sudah lama rasanya sejak Ryeowook memasak di tempat mereka. Dan sumpah, enam namja yang masih menjomblo itu–kecuali Donghae yang entah bisa dibilang single atau tidak dan Kyuhyun–iri setengah mati pada Yesung yang bisa meminta Ryeowook memasak untuknya kapan saja.
"Ryeowook, daripada kau bekerja di perusahaan itu, lebih baik kau jadi koki di dorm kami," kata Shindong sambil mengambil lauk. "Masakanmu enak sekali."
Kedelapan namja itu makan dengan lahap, bahkan Siwon yang jarang menambah, kini meminta nambah. Jangan tanyakan berapa kali Shindong nambah. Karena tidak ada yang mau menghitungnya. Dan jangan lupakan Evil Magnae kita yang ternyata juga doyan makan.
Ryeowook tertawa menanggapinya seraya duduk di samping Yesung. "Kalau kalian mau makan enak, kan, tinggal pesan."
"Tapi lebih enak memintamu yang memasak untuk kami," kata Kangin dengan mulut penuh makanan. "Kami bisa meminta padamu sesuai keinginan kami."
Leeteuk tertawa. Tak sengaja, matanya menangkap Sungmin yang hanya mengaduk-aduk makanannya tanpa selera. "Sungmin-ah, kau kenapa?"
Merasa dipanggil, Sungmin mendongak menghadap leader Super Junior tersebut. Orang-orang yang mulanya tertawa, kini menatapnya penuh tanda tanya. "Aniyo." Dia melirik Kyuhyun yang ada tepat di sampingnya. Seakan ingin menunjukkan ia baik-baik saja, Sungmin melahap makanannya.
"Minnie-ah, gwenchanayo?" tanya Kyuhyun. Sungmin tidak menjawab, yeoja manis itu masih kesal dengan tingkah Kyuhyun tadi. Dengan amat sengaja, Sungmin menendang kaki Kyuhyun. "Akh! Minnie-ah! Kau jahat sekali, menendang kakiku."
"Tidak usah sok manis, Kyuhyun Ajussi!" bentak Sungmin yang sama sekali tidak disangka-sangka member lain. "Tampangmu itu tua."
Tawa membeludak. Baru kali ini ada perempuan yang dengan berani-beraninya mengatakan bahwa Kyuhyun memiliki wajah tua di depan namja itu. Kangin sama sekali tidak bisa mengontrol tawanya. Dia berjongkok di lantai, sambil menggebuk-gebuk lantai.
"Aih… kenapa yeoja manis ini berubah jadi galak?" Tangan Kyuhyun merangkul Sungmin. Yeoja itu hanya memajukan bibirnya beberapa mili. "Jangan memanyunkan bibirmu. Bisa kumakan lagi, bahkan sampai habis," goda Kyuhyun.
Sungmin mendorong namja itu sampai nyaris satuh. "YA! YADONG! PABOYA!" pekiknya. "Menjauh dariku!"
"Aku hanya bercanda, Minnie," kata Kyuhyun sambil memakan lauknya. "Atau kau yang sebenarnya mau?" Dia melirik Sungmin yang memerah padam. Seringai terlukis di bibirnya.
Lagi-lagi, tendangan bersarang pada tulang kering Kyuhyun. "Kau menyebalkan, Kyu!" Sungmin segera menghabiskan makannya yang tinggal sedikit. Tanpa menunggu member lain selesai makan, yeoja itu langsung mencuci peralatan makannya dan membereskan bajunya ke dalam tas.
"Kau benar-benar marah padaku?" tanya Kyuhyun memasuki kamarnya. Sungmin sedang melipati baju-bajunya. Ia tidak menyadari kehadiran Kyuhyun karena sejak tadi telinganya tersumpal earphone yang mengalunkan lagu Gee.
Namja itu duduk di hadapan Sungmin dan menarik paksa earphone yang menyumpal telinga gadisnya. "YA!" pekik Sungmin kaget. "Apa-apaan kau?" Yeoja itu meretsleting tasnya, lalu menempelkan punggung tangannya pada dahi Kyuhyun. "Sudah tidak panas. Jangan manja lagi. Cepat mandi! Kau bau!" Sungmin sudah mendorong-dorong Kyuhyun agar namja itu segera mandi, tapi namja kekanakan itu tetap bersikukuh berada di tempatnya.
Senyum lebar mengembang di wajahnya. "Minnie-ah, hari Kamis ayo kencan!" ajak Kyuhyun.
"Tidak," tolak Sungmin. "Aku sudah punya janji."
"Mwo?" Kyuhyun kaget bukan main. "Dengan siapa? Apa dia seorang namja?"
"Ya, dia namja. Kau mau apa? Marah?" tantang Sungmin. "Ingat, kau bukan siapa-siapaku, Cho."
"Tapi kan kau sudah janji kalau kau tidak akan jalan dengan namja lain!" Kyuhyun mengingatkan. "Apa kau lupa?"
Sungmin memegangi dagunya. "Kapan aku berjanji tidak akan jalan dengan namja lain? Aku hanya berjanji tidak akan menjalin hubungan dengan namja lain, kok." Skak mat. Kyuhyun sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. "Cepat mandi!"
"Iya… iya…" jawab Kyuhyun ogah-ogahan. Akhirnya namja manja itu berjalan menuju kamar mandi, membuat Sungmin bernapas lega.
Gadis itu memandangi sekeliling kamar Kyuhyun. Berantakan. Hanya bagian lemari yang penuh dengan CD game saja yang rapi, selebihnya jangan ditanya. Seperti Kapal Titanic ketika karam. Mulailah gadis itu membereskan kamar namja yang telah memenangkan hatinya.
.
.
.
.
.
"Apa?" jawab Ryeowook acuh tak acuh saat Si Evil Magnae tiba-tiba menelefonnya ketika ia sedang bekerja. "Cepat katakan, aku sibuk!" Ia mengapit ponselnya dengan pundak kiri, sedangkan kesepuluh jemarinya menari-nari di atas keyboard.
"Sewot amat," cibir Kyuhyun. "Sungmin pergi menemui siapa?"
"Ha?" Ryeowook menghentikan pekerjaannya. "Kenapa bertanya padaku? Tanyakan saja sendiri padanya," suara Ryeowook naik, padahal ruang kerjanya sedang hening. Dia langsung menjadi pusat perhatian. Dengan gestur tubuhnya, dia meminta maaf pada orang-orang yang memandanginya. "Jangan telfon aku lagi. Sedang sibuk," kata Ryeowook sambil mengecilkan volumenya.
"Cepat turun! Aku ada di bawah. Kutunggu lima menit!" Telefon diputus sepihak, membuat yeoja yang baru bekerja tiga bulan di kantor itu merengut kesal.
"Dasar, Magnae Setan. Dia pikir siapa dia? Seenaknya saja menyuruh-nyuruh orang." Ryeowook memandangi layar ponselnya. "Artis gila." Ryeowook membereskan pakaiannya dan mengantungi ponselnya. "Bora-ssi, aku ijin pergi sebentar," pamitnya pada gadis yang berada di sampingnya.
Ryeowook berjalan menuju lift yang kebetulan sedang terbuka. Dia tidak mau menuruni tangga darurat yang letaknya lebih dekat dengan kantornya di lantai tujuh. Biar saja si Magne Setan itu menunggu.
Ketika lift berhenti di lobby, Ryeowook bahkan tidak menemukan siapapun di sana. Hanya ada dua orang resepsionis dan dua orang orang security. Yeoja itu berjalan keluar. Jalanan siang itu sangat ramai dengan banyaknya kendaraan dan orang yang berlalulalang. Namun, Ryeowook tidak juga menemukan Kyuhyun.
"Magnae menyebalkan!" geram Ryeowook. Tau-tau pipinya terasa dingin. "AAA! Kau mengagetkanku, tahu!"
Ternyata Kyuhyun telah berdiri di sampingnya dan langsung mempelkan minuman kaleng itu di pipi Ryeowook. "Untukmu." Namja itu terlihat agak mencurigakan dengan kacamata dan topi yang ia kenakan. "Aku tanya, Sungmin ke mana?"
"Aku tidak tahu, Cho Kyuhyun. Aku kan sudah bilang tadi," kata Ryeowook lalu meminum minumannya. "By the way, makasi, ya."
"Sama sama." Namja itu meminum minumannya. "Kemarin dia bilang ingin menemui orang. Katanya namja, tapi aku tidak tahu di mana," jelas Kyuhyun.
Seakan teringat sesuatu, Ryeowook buru-buru meneguk minuman dalam mulutnya. "Oh itu… kemarin dia bilang ada wawancara di kantornya yang baru. Di Perusahaan TV SBS, kan? Dia tidak memberi tahumu, ya?"
"Oke, makasi." Setelah mendapatkan info yang ia inginkan, Kyuhyun langsung melesat lagi dengan mobil putihnya menuju gedung SBS yang jaraknya cukup jauh dari sini.
Ryeowook hanya memandangi mobil itu saat keluar dari wilayah gedung kantornya. "Mau apa lagi dia? Jadi mata-mata? Pasaran sekali caranya,"gumam Ryeowook sambil berjalan menuju lift. "Minuman ini enak." Gadis itu membaca nama minuman itu. "Barang impor. Dapat dari mana dia?"
.
.
.
.
.
Dua setengah jam Kyuhyun menunggu dalam mobil dengan mata yang tidak pernah lepas dari pintu masuk gedung pertelevisian itu. Namun, yeoja manis berambut hitam yang dicarinya tidak muncul sama sekali. Apa Ryeowook mengerjaiku. Aih… harusnya aku bertanya pada Kibum saja.
Kyuhyun mengetik pesan singkat untuk Sungmin.
Kau di mana?
From: Kyuhyun (XX/XX/XX)
Kyuhyun menyandarkan sandaran kursi mobilnya. Dia memejamkan mata, merasakan hembusan udara dari AC mobil yang menerpa langsung wajahnya. Kalau saja ia tidak sedang fokus menatap pintu gedung, mungkin dia sudah tertidur. Namun sayangnya, yeoja-yeoja berbeda usia yang mencuri pandang ke dalam kaca film mobilnya yang sudah dia buat gelap, membuatnya tidak nyaman.
Dia melanjukan mobilnya menuju jalanan di Kota Seoul. Walaupun bisa dibilang jam makan siang telah usai, beberapa pekerja masih lalu lalang di jalan, membolos dari pekerjaan mereka. Kebanyakan baru keluar dari café atau rumah makan.
Matanya tak sengaja mendapati seorang yeoja yang sangat di kenalnya dengan pakaian rapi keluar dari sebuah café bersama seorang yang sama sekali tidak dikenali Kyuhyun. Yeoja itu pastilah Lee Sungmin, perempuan yang telah mendapatkan hati Evil Magnae Super Junior ini. Tapi siapa laki-laki itu?
Kyuhyun menepitkan mobilnya tepat di depan café tersebut. Dia tidak keluar, hanya memandangi kedua manusia berbeda gender itu saling membungkuk sampai Sang Laki-laki meninggalkan Sungmin sendirian dengan senyum bahagia terulas di wajahnya, sampai-sampai mata foxy gadis itu menyipit.
Tidak tahan hanya duduk di balik kemudi, namja itu langsung memakai topinya dan berjalan ke hadapan Sungmin.
"Ya! Sejak kapan kau di sini?" tanya Sungmin kaget mendapati namja manja yang hampir selalu menjadi alasan para member Super Junior memanggilnya untuk datang ke dorm mereka.
"Sejak kapanpun boleh," jawab Kyuhyun acuh tak acuh. "Siapa dia?"
"Waeyo? Kau cemburu?" ejek Sungmin sambil menoel pipi Kyuhyun. Dia tertawa melihat wajah putih namja di depannya ini. "Tenang saja, dia bukan namjachingu-ku," jawab Sungmin sambil menutup mulutnya. "Dia orang yang mewawancaraku. Kau tahu? Aku diterima bekerja!"
Bukannya melunak, ekspresi wajah Kyuhyun malah semakin mengeras. Dahinya berkerut, matanya menajam, tanda tidak suka. "Resign dari sana!" perintah Kyuhyun otoriter.
Yeoja manis di hadapannya membulatkan matanya. "Mwo?" Dahinya berkerut. "Siapa kau sampai bisa menyuruhku untuk mengundurkan diri bahkan sebelum hari pertama bekerja. Ingat, Cho, kau bukan siapa-siapaku."
"Makanya kita menikah, dan kau menjadi ibu rumah tangga. Aku yang menafkahimu!" Kyuhyun mengejar Sungmin yang melangkah menuju halte bus. "Ya! Sungmin-ah!"
Sungmin menekuk wajahnya. Bibirnya ia manyunkan. Bagaimana bisa jalan pikir namja yang lebih tua dua tahun darinya itu berpikiran semudah itu? Mereka masih muda. Terlalu muda untuk menikah menurutnya. Lagipula kedua orang tuanya tidak akan mengijinkan dia untuk menikah semuda ini. Kyuhyun pabo!
Kyuhyun menggelengkan kepalanya melihat tingkah yeoja yang kini mengacuhkan dia di halte bus. Beginilah hasilnya kalau Kyuhyun sudah mengungkit soal pernikahan. Yeoja itu akan mengambek sejadi-jadinya. Dia bisa mendiamkan Kyuhyun lebih lama daripada saat gadis itu menolak pernyataan cinta Kyuhyun.
"Chagi, mianhae, jangan mengacuhkanku begini," rengek Kyuhyun sambil menggandeng tangan Sungmin yang tidak membalas gandengan tangannya. "Ayo makan es krim, ne?" Lagi-lagi yeoja itu bergeming di tempatnya. Dalam satu hembusan napas berat, Kyuhyun mengeluarkan senjata terakhirnya yang selalu membuat yeoja ini berhenti mengacuhkannya. Dia mendekatkan bibrnya ke telinga Sungmin. "Baiklah, kalau kau tidak mau ikut denganku, akan kulahap habis bibirmu!"
"YADONG!" teriak Sungmin membuat orang-orang memandangi Kyuhyun dengan seribu satu makna.
Seringai terulas di bibir Kyuhyun. "Ayo makan es krim!" kata Kyuhyun riang sambil menggandeng tangan Sungmin menuju mobilnya. Sudah pasti tujuannya adalah Myeongdong, tempat kencan pertama mereka dan selalu menjadi favorit Kyuhyun.
Sungmin menghela napas. Bagaimana bisa aku jatuh cinta pada namja kekanakan seperti ini?
.
.
.
.
.
Kangin melengus bosan melihat Si Evil Magnae kembali mengumbar kemesraan di dorm mereka dengan Sungmin. Sebenarnya, yeoja itu hanya duduk biasa saja, tapi Kyuhyun terus-terusan menggoda gadis itu. Demi apapun di dunia ini, Kangin tidak akan segan-segan melenyapkan Cho Kyuhyun kalau tidak ada undang-undang yang mengatur tentang pembunuhan. Sebagai manusia normal yang sudah melajang selama dua puluh delapan tahun, sudah sepantasnya dia iri melihat namja yang jelas lebih muda darinya telah memiliki kekasih.
"Kyu!" panggil Sungmin sambil merengut kesal. Dia menunduk, memandangi Kyuhyun yang dengan seenak jidat menjadikan pahanya sebagai bantal, sedangkan namja itu asyik bermain dengan PSP-nya yang mengeluarkan bunyi senapan.
"Hm?" dengung Kyuhyun tanpa menoleh dari layar konsol. "Ada apa, Chagi?"
Jari-jari lentik Sungmin membelai lembut rambut kecoklatan Kyuhyun. "Berhenti main game dan antarkan aku pulang!" Kyuhyun bergeming di tempatnya. "Kyu! Cho Kyuhyun!"
"Waeyo?" Kyuhyun tidak berhenti bermain. "Nanti sajalah. Adikmu itu tidak akan hilang, kok," tebak Kyuhyun asal. Biasanya, kalau Sungmin sudah minta pulang, itu karena dia mengkhawatirkan adik kembarnya yang menyebalkan. "Paling dia pergi dengan Yesung Hyung."
Sungmin menghela napas bosan. Kyuhyun dan Ryeowook tidak pernah akur, dan tidak akan akur. Ada saja masalah di antara mereka, entah itu menyangkut dirinya ataupun tidak. Entah apa yang akan terjadi bila dia dan Kyuhyun telah menikah nanti. Apa mereka masih bertengkar atau tidak.
Eh? Menikah?
Wajah Sungmin memerah padam. Tangannya berhenti bergerak. Apa yang kau pikirkan Lee Sungmin?
"Kau kenapa, Chagi?" tanya Kyuhyun setelah mem-pause gamenya. Dia bingung melihat gadisnya mengetuk kepalanya sendiri dengan wajah memerah. "Kau memikirkan apa? Aku?" Seringai terlukis kembali di bibirnya.
"Te-tentu saja tidak!" Rona wajah Sungmin semakin menjadi-jadi. "Ayo antarkan aku pulang."
"Ke mana? Ke Spring Field 45?" goda Kyuhyun. Ya, itu memang rumah. Tapi jelas bukan rumah yang Sungmin tempati. Spring Field 45 adalah alamat rumah di mana kedua orang tua Kyuhyun tinggal. Yeoja itu menggebuk pundak Kyuhyun main-main. "Iya… iya…."
Namja itu mendudukkan dirinya di hadapan Sungmin setelah ia mematikan PSP-nya terlebih dahulu. Otak evil-nya kembali bekerja, menghasilkan seringai lebar di wajah tampannya. "Aku lapar."
Sungmin hanya memutar mata bosan. "Kau mau makan apa?"
"Kamu," jawab Kyuhyun sambil menahan tangan Sungmin yang hendak berjalan menuju dapur. Dia tertawa melihat wajah horor Sungmin. Tatapan Kyuhyun melembut. "Buatkan aku makanan terenak, Chagi." Dia mengarahkan tangan Sungmin ke wajahnya.
Melihat Kyuhyun selembut ini, membuat Sungmin benar-benar luluh ke dalam pesona seorang Cho Kyuhyun. Mungkin hal ini juga yang membuat para Sparkyu menggilainya. Mungkin. Yeoja itu tersenyum manis, menampilkan sederetan gigi putih kelincinya.
"Akan kubuatkan sup labu!"
.
.
.
.
.
"Sungmin-ah!" teriak Leeteuk pada telefonnya yang baru tersambung dengan gadis manis itu. "T-tolong kami!" kata Leeteuk sambil berusaha menghindar dari kejaran Kyuhyun dengan sendok kuahnya. Bukan hanya Leeteuk yang dikejar, tapi juga semua member Super Junior.
Beruntung, Siwon tidak pulang ke dorm kemarin malam sehingga dia tidak perlu lari-larian keliling dorm seperti anak kecil karena kejaran magnae mereka. Kuda itu benar-benar dilindungi Tuhan. Beruntungnya lagi, namja itu tidak akan pulang sampai tiga hari ke depan.
"Hyung! Ayo makan!" teriak Kyuhyun lagi. "Aku sudah memasak untuk kalian. Masa kalian tidak makan? Tidak mungkin juga makanan itu dibuang!"
"Ada apa, Oppa?" tanya Sungmin diseberang sana. "Kedengarannya ada ribut-ribut. Dia berulah lagi?"
Leeteuk bersembunyi dalam kamar mandi. Pintunya digedor-gedor dengan tidak biadapnya oleh Kyuhyun. Namja dua puluh empat tahun itu terus berteriak menyebut nama Leeteuk dan Park Jung Soo. Leeteuk menyandar pada dinding.
"Halo?" tanya Sungmin yang ternyata masih ada di line telefon.
"Itu… Si Evil Magnae, dia memasak sup labu pagi ini," cerita Leeteuk. "Kau tahu sendiri bagaimana masakannya. Dan kami semua tidak ingin masuk rumah sakit dan masuk berita dengan judul konyol seperti 'Kyuhyun Meracuni Keenam Hyung-nya.' Atau 'Super Junior Keracunan Labu'. Apa kata artis lain?"
Sungmin hanya bisa tertawa tertahan mendengar penurutan lebay dari leader Super Junior itu. "Aku akan ke sana," jawab Sungmin yang cukup khawatir dengan tingkah namja manja itu. "Sepuluh menit lagi aku sampai."
"Cepat ke sini!" pesan Leeteuk.
.
.
.
.
.
Sungmin menatap layar ponsel merah mudanya, lalu memasukkannya kembali ke dalam saku celana jeansnya. Padahal pagi ini niatnya ingin menemui Kibum yang semakin susah untuk di temui. Tapi panggilan gawat darurat dari Leeteuk tadi memaksanya untuk ke dorm Super Junior.
Menjadi 'pawang' bagi Cho Kyuhyun, berarti harus siap sedia selama dua puluh empat jam untuk mendapat telefon dari salah-satu member boyband nomor satu se-Korea Selatan. Mungkin sebelum ia bekerja di salah satu stasiun TV swasta, dia bisa datang ke dorm mereka kapan saja. Tapi kini dia memiliki pekerjaan yang tidak bisa ia tinggalkan begitu saja.
Terkadang, dia harus mau menahan panas di telinganya untuk menasehati Kyuhyun agar tidak mengganggu hyungdeul-nya melalui telefon. Hal ini jugalah yang membuat Kyuhyun membelikan Sungmin ponsel baru beserta nomor baru yang operatornya sama dengan operator nomor telefon member Super Junior lain supaya lebih murah menelefon mereka.
Yeoja itu menaiki bus yang akan membawanya ke halte depan dorm Super Junior. Akhir pekanku harus dihabiskan lagi di sana… batin Sungmin sambil menekan nomor yang sudah ia hafal luar kepala.
"Kibumie!" panggil Sungmin. "Mianhae, aku tidak bisa ke tempatmu," katanya sambil menatap ke luar jendela, mengamati langit musim panas. "Kyuhyun berulah lagi."
"Namja itu menyebalkan," kata Kibum dari seberang sana. "Apa dia tidak bisa membebaskanmu sehari saja?"
Sungmin hanya meringis menahan senyum. "Lagipula, kau dan Henry pasti sibuk menyiapkan acara pertunangan kalian, kan? Apa Henry ada di sebelahmu?"
"Ne, kau mau bicara padanya? Akan berikan padanya."
"Tidak perlu," ucap Sungmin. "Kalau nanti masih sempat, aku akan ke sana," kata Sungmin lalu menutup sambungan telefon.
Tanpa sadar bus yang membawa Sungmin telah berhenti di halte tujuannya. Yeoja itu segera turun dan memasuki wilayah yang sudah ia hafal. Bahkan para security sudah hafal dengan Sungmin yang dulu hampir selalu datang tiap hari.
Yeoja itu membelalakkan matanya ketika ia membuka pintu dorm. Kyuhyun dengan celemek dan sendok sayur mendekati Hangeng di pojok ruangan. Laki-laki yang menganggap dirinya sebagai namja tertampan itu sudah mulai berbahasa mandarin, seolah ia tidak mengerti apa yang dikatakan Kyuhyun. Sayangnya, Kyuhyun sedikit-sedikit bisa berbahasa mandarin.
"Ya! Cho Kyuhyun! Apa yang kaulakukan?" tanya Sungmin sambil meletakkan tasnya di meja makan.
"Sungmin-ah," panggil Kyuhyun yang segera mendekati Sungmin. Hangeng dapat bernapas lega setelah Kyuhyun menjauh darinya. Namja itu buru-buru menenggak air banyak-banyak. Sungmin tertawa melihat Kyuhyun berlapis celemek seperti ini. "Waeyo?"
"Kau lucu." Sungmin melingkarkan tangannya di pinggang Kyuhyun, hendak melepaskan ikatan celemek di balik punggung namja tampan itu. Kyuhyun tidak mau melepaskan kesempatan ini begitu saja. Dia melingkarkan tangannya di tubuh Sungmin sehingga posisi mereka terlihat seperti sedang berpelukkan.
Leeteuk yang baru keluar dari toilet setelah mendengar suara Sungmin, termenung di tempatnya. Adegan ini terlalu seperti drama-drama yang sering ia tonton di KBS. Adegan seperti itu benar-benar ada ya, di dunia? Kupikir hanya khayalan.
"K-Kyu…" panggil Sungmin lirih. Dia mendongak menatap Kyuhyun yang juga tengah menatapnya. Wajahnya memerah. Kedua tangannya mencengkeram erat kaos coklat yang dipakai Kyuhyun. Dari jarak sedekat ini, yeoja itu dapat merasakan hembusan napas yang keluar dari hidung Kyuhyun.
Entah sadar atau tidak, Kyuhyun mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka bersentuhan. Perlahan tapi pasti, mereka memejamkan mata seiring dengan Kyuhyun yang memiringkan kepalanya sendikit. Kissing scene antara Kyuhyun dan Sungmin mungkin akan terjadi lagi di dorm itu kalau saja Shindong dengan polosnya tidak menyeletuk, membuat kedua manusia itu memisahkan diri. Bersamaan dengan desahan member lain yang sudah geregetan ingin melihat lanjutan dari adengan itu.
"Jangan berbuat mesum di dorm ini!" kata Shindong.
"Aaa…" desah Leeteuk, Donghae, Kangin, Hangeng, dan Yesung berbarengan. "Shindong-ah, kenapa kau malah merusak momen ini! Jarang-jarang aku melihatnya secara langsung!" omel Kangin tidak terima "acaranya" terputus begitu saja. Kapan lagi bisa melihat dua sejoli ini seperti itu?
Sungmin menghadap ke arah lain. Buru-buru ia mengalihkan topik. "Memangnya kau masak apa, Kyu?" tanya Sungmin mendekati panci yang sedang mengeluarkan uap panas di atas kompor. "Kau memasak sup labu seperti yang kubuat kemarin?"
Kyuhyun sudah berdiri di belakang Sungmin. "Ne, aku mau mencoba membuatnya sendiri dan meminta pendapat hyungdeul sebelum kau yang memakannya. Tapi mereka malah kabur saat kuminta mencicipinya."
Sungmin tersenyum. Wajar saja bila para hyungdeul-nya menjauh, Kyuhyun paling tidak bisa masak. Gadis itu mengambil sendok dan mencicipi kuah dari sup labu itu. "Terlalu tawar. Kau juga terlalu lama merebus labunya. Lihat, jadi lembek seperti ini." Sungmin memutar tubuhnya hingga berhadapan dengan Kyuhyun. "Sayuran tidak boleh di masak lama-lama, kalau tidak vitamin di dalamnya akan hilang," terangnya.
Kyuhyun diam di tempatnya dengan senyum lebar. Matanya tidak berpaling dari mata foxy yeoja mungil ini. Bahkan setelah Sungmin mengibaskan tangannya di depan wajahnya, dia sama sekali diam.
"Kyu?" panggil Sungmin sambil menjentikkan dua jarinya di depan wajah Kyuhyun.
"Ah, ne?" Kyuhyun tersadar dari lamunannya. "Ada apa?"
Sungmin menghela napas. Setelah ia berbicara panjang lebar, namja ini malah tidak mendengarkannya sama sekali. "Sudahlah," ia tidak ingin memperpanjang masalah, "sup ini mau diapakan?" Sungmin kembali menyendokkan kuah sup itu ke mulutnya.
"Sungmin, kau tidak takut makan masakannya dia?" tanya Kangin was-was sambil menunjuk Kyuhyun.
"Memangnya kenapa?" tanya Sungmin polos. "Biasa saja, kok. Malah sedikit tawar." Gadis itu mengambil sendok lain dan menyendokkan kuah sup itu lalu membawanya ke hadapan Kangin. "Coba saja," katanya. Dengan takut-takut, Kangin membuka mulutnya, menerima suapan kuah hangat dari Sungmin.
"Ya! Chagi-ah! Kau mau membuatku panas pagi-pagi begini, hah?" omel Kyuhyun tidak suka melihat Sungmin dekat-dekat dengan Kangin. "Kau juga, Hyung! Kau sudah tua! Harusnya kau mengambil sendoknya, bukan membuka mulutmu."
Kangin melemparkan bantal sofa yang sedang ia pegangi ke arah Kyuhyun. Dengan reflek yang bagus, Kyuhyun menangkap bantal itu sebelum mengenai wajahnya. "Kenapa? Kau cemburu? Kau sendiri sudah dua puluh empat tahun masih suka minta disuapi Sungmin, dan jangan menyebutku tua!"
Kyuhyun manyun mendengarnya. Dia duduk di salah satu kursi meja makan sambil menopang kepalanya dan memonyongkan bibir. Dia melirik Sungmin dari ekor matanya sesaat, lalu kembali setia pada kekasih lamanya, PSP.
"Jadi, sup ini mau diapakan?" tanya Sungmin pada ketujuh namja itu. "Kalau mau di makan, tinggal di tambahkan gula dan garam saja."
Keenam namja itu, minus Kyuhyun, saling berpandangan. Pikiran mereka bergulat, apakah memakan sup labu itu atau tidak. Tapi melihat reaksi Kangin yang sama sekali tidak muntah-muntah setelah memakan sup itu, setengah dari mereka percaya bahwa memakan sup itu akan baik-baik saja.
"Ya sudah, kami akan makan sup itu," kata Leeteuk sambil mendudukkan dirinya di depan Kyuhyun yang masih asyik dengan layar konsolnya. "Buatkan yang enak, Minnie-ah!"
"YA!" teriak Kyuhyun. Wajahnya panas. Saking emosinya, dia sampai lupa bahwa ia melempar PSP-nya ke meja. "APA-APAAN KAU MEMANGGIL SUNGMIN SEPERTI ITU?" Dia bahkan lupa untuk memanggil Leeteuk dengan sebutan Hyung.
Leeteuk hanya cengar-cengir melihat namdongsaeng-nya yang emosi. Melihat Kyuhyun dijahili itu adalah tontonan tersendiri bagi seluruh member Super Junior karena biasanya namja itu yang mengerjai hyungdeul-nya.
Sungmin mulai menyalakan kompor pada api terkecil. Dia memasukkan gula dan garam, lalu mengaduknya. Tidak berapa lama setelahnya, dia mematikan api, dan membawa panci itu ke tengah meja makan. Ketika tutup di buka, uap panas kembali keluar, menggoda air liur ketujuh namja itu untuk jatuh. Namun, Kyuhyun kekeh dengan pendiriannya. Dia tetap berusaha tidak melirik panci merah itu, meski perutnya sudah berbunyi tidak karuan.
"Kyu, ayo makan," kata Sungmin sambil menyodorkan mangkuk berisi sup panas untuk Kyuhyun. "Kau harus coba masakanmu sendiri." Kyuhyun fokus pada game-nya. "Kyu!"
"Iya… iya… tinggalkan saja di sana," kata Kyuhyun.
Sungmin mengangguk dan mematuhi perkataan Kyuhyun. Dia kembali mengambil tasnya dan memakai sepatunya. "Kalau begitu, aku pulang dulu," pamit Sungmin.
Setelah yeoja itu keluar, Kyuhyun langsung melupakan game-nya dan melahap sup labu di hadapannya. Rasa manis dan asin menyergap lidahnya, membuat dia lebih bernafsu untuk menghabiskan isi mangkuknya. Saat dia ingin menambah, nyatanya sisi panci telah kosong.
"Hyung, kenapa di habiskan?" tanya Kyuhyun sedikit jengkel. Tadi sebelum Sungmin datang, mereka tidak ada yang mau memakannya. Giliran Sungmin menambahkan gula dan garam, mereka semua malah menghabiskannya tanpa memberi sisa pada Kyuhyun untuk menambah.
"Salahmu sendiri, tadi sok jaim di depan Sungmin," ledek Donghae yang terakhir kali menghabiskan isi panci. Kyuhyun menyendokkan sendoknya di mangkuk Donghae. "Ya! Kenapa kau menganggu makanku?"
"Kau tadi sudah makan banyak, Hyung. Berbagilah dengan namdongsae-mu ini!" kata Kyuhyun berusaha meraih mangkuk Donghae yang dijauhkan pemiliknya.
.
.
.
.
.
Tuk… Tuk… Tuk…
Kyuhyun mengetuk jarinya pada dashboard mobil, sedangkan matanya menatap pintu rumah mungil, tempat Sungmin dan adiknya tinggal. Rumah bercat putih itu terlihat tenang. Namun ada hal yang Kyuhyun curigai bila rumah itu kini kosong, jendelanya tertutup gorden. Padahal biasanya, Sungmin akan membuka semua gorden rumahnya.
Ia meraih ponselnya dan menelefon Sungmin. "Sungmin-ah, kau di mana?"
"Di rumah Kibum," jawab Sungmin. "Ada apa?"
Benar dugaan Kyuhyun, yeoja itu tidak ada di rumahnya. "Katanya kau mau pulang setelah dari dorm. Kenapa malah ke tempat Kibum?"
"Memangnya kenapa? Dia kan temanku. Dan kau bukan siapa-siapaku," ledek Sungmin. "Oke, hanya bercanda. Kau ada di rumah, ya? Kalau begitu aku akan pulang-"
"Tidak perlu," sela Kyuhyun, dia mulai menjalankan mobilnya. "Biar aku yang ke sana."
.
.
.
.
.
"Kekasihmu itu perhatian sekali, Sungmin-ssi. Padahal dia sibuk," kata Henry setelah menutup salah satu majalah yang sedang ia baca. Henry sedang berada di rumah Kibum untuk membahas tentang pertunangan mereka sejak pagi tadi, sebelum Sungmin datang.
Padahal, bisa dibilang Henry dan Kibum baru berpacaran selama empat bulan, setelah sebelumnya menjalin hubungan tanpa status. Kok bisa?
Ternyata, orang tua Kibum dan Henry adalah rekan bisnis. Awalnya mereka hendak menjodohkan Kibum dan Henry saat usia keduanya sudah dua puluh lima tahun nanti. Tahunya, anak mereka malah sudah menjalin hubungan ketika Henry mengenalkan Kibum pada ayahnya. Hal inilah yang membuat orang tua kedua belah pihak memutuskan untuk mempercepat pertunangan mereka.
Untuk menikah, sepertinya hal itu masih jauh, meski rencana pertunangan Kibum sudah tinggal dua bulan lagi. Keduanya masih ingin merintis karir masing-masing, sekalipun sudah sama-sama terjamin masa depannya.
Sungmin tertawa mendengarnya, "Ani, dia bukan kekasihku," jawabnya, membuat mata sipit Henry melebar.
"Kalian tidak pacaran? Padahal dekat sekali, lho," katanya, "aku juga pernah melihat kalian berdua kencan di Myeongdong. Benar tidak?"
Yeoja itu hanya bisa kembali tertawa mendengar penuturan kekasih Kibum. "Ya… kami seperti kalian berdua sebelum resmi."
"Setidaknya sekarang kami sudah resmi," cibir Kibum. "Dia sudah menyatakan perasaannya padamu, kan? Kenapa tidak di terima dan malah membuat hubungan yang menggantung seperti ini? Kau tidak takut kalau Kyuhyun pacaran dengan Seohyun, anggota SNSD itu? Mereka kan dekat sekali."
"Tidak, aku percaya padanya." Sungmin menyenggol Kibum dengan bahunya sambil nyengir kuda. "Sejak kapan seorang Kim Kibum mengikuti perkembangan infotaiment?"'
Henry tertawa lebar melihat wajah Kibum memerah. Berulang kali yeoja pintar itu menyuruh kekasihnya untuk berhenti tertawa, sayangnya, tawa laki-laki berwajah tampan imut-imut itu malah semakin membesar. "Henry-ah!"
"Permisi, Nona." Seorang pelayan menghampiri mereka bertiga yang tengah berada di samping kolam renang. "Ada tamu di depan. Katanya dia mencari Nona Sungmin."
"Sepertinya itu Kyuhyun," kata Sungmin sambil membereskan bawaannya. "Ne, aku pulang dulu, Kibum, Henry. Jaga Kibum-ku baik-baik," pesan Sungmin sebelum akhirnya berjalan ke luar.
Tepat seperti dugaannya, Kyuhyun sedang duduk di ruang tamu dan langsung berdiri begitu bertemu dengannya. Senyum lebar bukan hanya ada di wajah Kyuhyun, tapi juga di wajah Sungmin. Namja yang tadi pagi berulah di dorm-nya kini datang dengan memakai Couple-T yang mereka beli dulu. Yeah… kaos kuning Pikachu itu.
"Waeyo?" tanya Kyuhyun kemudian melihat kaos yang di pakainya. "Aneh, ya?"
"Bukan…" Sungmin mengibaskan tangannya. "Tapi waktu itu kau bilang, kau tidak akan menggunakan baju itu lagi. Kupikir sudah kau singkirkan dari lemarimu."
"Mana mungkin kusingkirkan. Ini kan waktu kencan pertama kita." Wajah Sungmin memerah mendengar penuturan Kyuhyun. Namja itu lalu merauh tangan yeoja manis di hadapannya. "Kajja."
"Mau ke mana?" tanya Sungmin.
"Nanti juga kau akan tahu."
.
.
.
.
.
"Kau membawaku ke mari lagi…" ucap Sungmin. Matanya menatap lurus Sungai Han dan Banpo Fountain Bridge yang mengeluarkan air mancur. "Tempat kita ribut."
"Ya, waktu kau mendiamkanku selama dua hari," tambah Kyuhyun.
Jari-jari mereka saling bertautan, seakan tidak mau dipisahkan. Sungmin menyandarkan kepalanya di pundak Kyuhyun. Nyaman dan hangat. Hanya wangi citrus pada tubuh Kyuhyunn ia resap dalam-dalam. Wangi yang menjadi ciri khas namja itu.
Langit sudah semakin gelap dan hanya ada mobil Kyuhyun yang berhenti di pinggiran Sungai Han. Tapi siapa peduli? Orang-orang di sini terlalu sibuk dengan urusan mereka masing-masing hingga tidak sempat memikirkan mobil yang terlihat asing di pinggir sungai.
Mereka bermesraan di dalam mobil, sekalipun bukan sepasang kekasih. Keduanya tidak pernah mempermasalahkan hal itu, karena itu sudah menjadi kesepakatan di antara mereka. Mereka berdua sama-sama tidak memiliki kekasih, kan? Tidak mengkhianati siapapun, kan?
"Chagi…" panggil Kyuhyun. Tangannya yang tadi dia gunakan untuk merangkul Sungmin, kini beralih pada rambut hitam yeoja itu. Jari-jarinya menyusuri surai hitam yang panjangnya kini sudah sepunggung. "Apa bedanya dengan kita berpacaran dan kita yang tanpa status, kalau malam minggu hampir selalu ke sini dan bermesraan?"
"Hmm…" Sungmin berpikir. "Kalau kita berpacaran, kau tidak bebas bila berdekatan dengan yeoja lain."
Kyuhyun menghentikan gerakkan tangannya. "Kau rela melihatku dengan yeoja lain?"
Sungmin menegakkan tubuhnya. "Bukan begitu maksudnya. Kau itu kan artis, dan ada banyak kemungkinan kalau kau bermain drama, kau akan diminta untuk berakting mesra dengan lawan mainmu. Bila kita berpacaran, aku merasa jadi milikmu bisa saja marah. Dan karirmu bisa terhambat." Sungmin menarik napas, "Sedangkan, bila kita dalam status seperti ini, aku bisa dekat denganmu dan tidak memiliki alasan untuk marah bila melihatmu dengat dengan yeoja lain. Kau bisa mengembangkan karirmu."
Kyuhyun menarik yeoja itu mendekat padanya, dan mengecup puncak kepalanya. "Kalau kau cemburu bila melihatku dekat dengan yeoja lain, katakan saja, Chagi…"
Sungmin mendongak. "Bukannya sudah kubilang, aku tidak punya alasan untuk cemburu?" Yeoja itu memainkan kedua jari telunjuknya. "Lagipula… dekat denganmu seperti ini saja, sudah membuat dadaku berdebar tidak karuan…" bisiknya lirih namun masih terdengar oleh Kyuhyun.
Namja itu menuntun tangan kanan Sungmin ke dadanya, letak jantungnya berada. Yeoja manis itu dapat merasakan getaran yang sama dengan getaran pada dadanya di dada Kyuhyun. Bukan hanya dia saja, namja itupun merasakan sengatan-sengatan listrik di dadanya bila berhadapan langsung dengan yeoja manis ini.
"Sungmin-ah," panggil Kyuhyun, "boleh kulanjutkan yang tadi pagi?" Namja itu meminta ijin. Matanya memandang dalam pada mata foxy Sungmin.
Sebuah anggukkan kecil dari yeoja di sampingnya ini, membuat niatnya semakin bulat. Dia mendekatkan wajahnya, hingga napas mereka sama-sama terasa. Perlahan, kelopak mata mereka menutup, diikuti benda kenyal yang menempel pada bibir masing-masing.
Kyuhyun lebih mendominasi dengan lembut. Sungmin membalasnya satu dua kali. Rasa strawberry dari lipgloss yang dipakai Sungmin, membuat namja itu semakin enggan melepaskan kulumannya pada bibir merah muda yeoja itu, sampai kebutuhan akan oksigen memaksa keduanya untuk memisahkan diri.
Dengan napas terengah, Kyuhyun memandang mata Sungmin lagi dengan hidung saling bersentuhan. "Lee Sungmin, saranghae…."
"Nado saranghae."
.
.
.
Dan kata selesai, bukan berarti kisah ini akan benar-benar menemui akhirnya. Kisah ini masih panjang. Lebih panjang dari yang dikira. Karena selamanya, kisah mereka abadi dalam hati masing-masing.
Done
.
.
.
5.308 words
Big thanks for: Aria-Nasu Potter-Malfoy, BABYKYUTAEMIN, Cho Kyuri Mappanyukki, chokyulate, choKYUlate'is'MINe, desroschan, Han Sung Young, Jang Young Wook, Jjyoung-yorikun, Kim Ayuni Lee, Kim Jung Min, Kim Soo Hyun, kim ye min, kyunny, Lee Min Ah, nodomi, puthri mala99, putzky putri, reaRelf, Royalblue5, ryeosomNia15, shifamuthia97, sparkyu, Syubidubidu, vina-fosa, at MarryMe KYUHYUN on twitter, Cho Rai Sa, Choi Hye Ant6855, honeyAnn13, Lya Clouds, mrs. Kim, R407, VainVampire, pikapika, KyuLoveMin, MinnieGalz, Song Ji Ra, Hyugi Lee, Stephanie Choi, rearea, Anonymouss, fishibuu, Heeyeon, Riyu, Cham", nahanakyu, minoru, laura mochi, ELLE HANA, wonniebummie, choi young gun, EvilmagnaeMin, umi elf teukie, Cho97, shi ah gi, KyuMin aegyoEvil, iruma-chan, asahi, kikihanni, Purpleita, aoora, mykyu, lee min young, jinggaaaa, SparSomnia, Narunaru bofi, Vivinetaria, Guest. Dan juga semua yang telah membaca.
KAMSAHAMNIDA!
Sign,
Uchiha Kazuma Big Tomat
Finished at:
Monday, July 09, 2012
09.55 P.M.
Published at:
Tuesday, July 10, 2012
7.58 A.M.
Paparazzi © Kazuma House Production ® 2012
