Holala... *nari-nari gaje* akhirnya Ra kembali dengan chap dua meski tergeser jauh dari jadwal hohoho. Sebenarnya chap 2 ini sudah ada sejak beberapa minggu yang lalu namun karena Ra sedang sibuk-sibuknya pendaftaran sekolah jadi lupa buat nge-update fic ini. Ra ucapkan terimakasih buat yang udah membaca dan mereview chap kemarin. Baiklah kalau begitu, selamat menikmati!
Naruto©Masashi Kishimoto
.
.
.
Dendam, Cinta dan Benci© Taira Shinju
.
.
Pairing: Itachi X Sakura X Sasuke
.
Warning: Ooc-nes, Gaje-nes,Typo(s), dan seabreg kekurangan lainnya yang terdapat dalam fic ini
.
.
.
Sakura terkejut mendapati para preman yang dipukulnya beberapa minggu lalu datang mencarinya dan membuat keributan di sekolahnya.
Salah seorang dari preman itu yang badannya paling kurus menarik kerah baju seragam Sakura, menamparnya, dan mendorong tubuhnya hingga terjatuh ke aspal yang keras.
"Kenapa kau tidak melawan gadis tengik?" Tanya preman itu penuh emosi. Sakura hanya bisa terdiam dengan darah yang mulai mengalir dari sudut bibirnya, pipi kanannya terasa perih sekali. Sakura tentu saja ingin melawan, tapi dihadapan para murid yang sedang berkumpul itu bagaimana mungkin Sakura melakukannya? Itu akan membongkar jati dirinya.
Preman itu hendak menarik kerah baju Sakura kembali namun kemudian, Buaghh... Sebuah bogem mentah dilayangkan Sasuke Uchiha si pantat ayam yang kesal karena dari tadi para preman itu menghalangi jalan masuk mobilnya yang hendak ia parkirkan di pekarangan sekolah.
"Menyingkirlah!" Perintah Sasuke dengan nada rendah, matanya berubah merah pertanda dia sedang marah, khas Uchiha sekali.
"Kau siapa, anak kecil?" Tanya preman berbadan kurus itu. "Mencoba menjadi pahlawan, eh?" Kedua temannya yang berada di belakang langsung tertawa.
"Aku?" Sasuke balik bertanya dengan nada angkuh. Tiba-tiba datang Itachi kemudian membantu Sakura berdiri.
"Bawa dia kedalam." Kata Itachi menyerahkan Sakura pada adiknya. "Aku ada sedikit urusan kecil."
Sasuke tersenyum sinis mendengarnya. "Matilah kalian." Desisnya. kemudian menarik pergelangan tangan kiri Sakura dan membawanya ke dalam sekolah. Sakura berjalan dengan sedikit tertatih-tatih karena lututnya terluka akibat bergesekan dengan aspal saat tubuhnya di dorong sampai terjatuh.
Uchiha Itachi berdiri dengan angkuh bak seorang iblis yang siap menghabisi mangsanya. Dengan kedua tangan dimasukkan kedalam saku celananya dan iris mata yang berubah menjadi merah Itachi berjalan perlahan mendekati ketiga preman itu. Atmosfer terasa menjadi lebih berat, itu yang dirasakan orang-orang yang berkumpul disana.
Itachi sedikit membungkuk dan tepat di telinga preman kurus itu itachi berbisik dengan nada dingin, gelap dan rendah. "Klan Uchiha akan membungkam mulut kalian untuk selamanya. Larilah dan carilah tempat yang aman untuk bersembunyi, tapi itu akan tetap sia-sia."
Ketiga preman itu menyadari telah bermain-main dengan mainan yang salah, bocah berambut pink itu mainan milik klan Uchiha dan inilah kesalahan fatal yang mereka perbuat. Klan Uchiha tidak suka jika ada yang bermain-bain dengan mainan miliknya. Menyadari hal buruk yang akan terjadi, ketiga preman itu langsung lari terbirit-birit dan hal ini mengundang banyak tawa dari para murid yang berkumpul apalagi ketika melihat preman yang berbadan paling besar terjatuh dan menghasilkan suara debum yang keras sementara Itachi kembali masuk kedalam mobilnya kemudian mengemudikan mobilnya kembali ke mansion Uchiha untuk menyelesaikan schedule yang telah disusun untuk hari ini.
Di atap sekolah yang sepi Sasuke mengobati luka Sakura, namun karena Sasuke menekan lukanya terlalu keras hingga membuat Sakura meringis, Sakura meminta kapas yang dipegang oleh majikannya itu dan berkata akan mengobatinya sendiri.
Sasuke berdiri membelakangi sakura, kedua tangannya dimasukkan kedalam saku celananya, pandangannya lurus ke arah tebing yang telah di ukir dengan wajah-wajah para pemimpin negara Hi. Di ketinggian duapuluh meter angin berhembus cukup kencang sehingga mengibas-ngibaskan rambut raven Sasuke. Sakura yang telah selesai mengobati lukanya berdiri dibelakang Sasuke dan menatap punggung tegap pemuda itu.
"Apa alasanmu?" Tanya Sasuke sambil berbalik menghadap Sakura. Onyx-nya menatap emerald Sakura dengan tajam.
"Sama seperti kebanyaakan orang lainnya, aku ingin membalas dendam. Masuk kedalam Klan Uchiha dengan kemampuan yang sudah aku asah sejak kecil, kemudian dari sana aku bisa mendapatkan kekuatan yang cukup untuk membalaskan dendamku." Jawab Sakura sambil balik menatap mata Sasuke dan kedua tangan yang mengepal menahan emosi.
"Pada siapa?" Tanya Sasuke lebih lanjut
"Pada orang yang telah membuatku menderita, yang telah mendepakku hingga aku di buang ke panti asuhan. " Jawab Sakura namun tidak sepenuhnya jujur.
"Apa ini tentang pertikaian keluarga?"
"Ya, klasik sekali bukan? Tapi aku tidak terlalu mengingat masalaluku, tentu saja saat itu aku masih berusia dua tahun. Politik yang mengorbankan seorang anak yang tidak berdosa, pada siapa aku harus menuntut keadilan? Aku bahkan tidak ingat nama keluargaku karena dalam memoriku mereka hanya menyebutku dengan nama Sakura."
"Haruno?"
"Semua anak di panti asuhan yang tidak memiliki nama keluarga, diberi marga Haruno. Mulai dari situlah kami membentuk keluarga baru. Tampaknya pembicaraan ini tidak bisa dilanjutkan karena kita sudah melewatkan satu jam pelajaran." Kata Sakura mengakhiri pembicaraan.
Mereka berduapun kembali ke kelas mereka yang ada di lantai dua. Karena mereka berdua terlambat terpaksa mereka harus pasrah menerima hukuman namun tampaknya Shizune-sensei guru biologi itu sedang dalam mood yang bagus sehingga dia berbaik hati dengan tidak memberikan hukuman namun sebagai gantinya mereka harus menjadi teman sekelompok karena murid-murid yang lain sudah memiliki pasangan tinggal Sakura dan Sasuke sehingga mereka di jadikan partner dalam praktik biologi kali ini.
Sakura dan Sasuke memakai jas putih yang selalu digunakan saat akan praktik, kemudian memakai sarung tangan dan mengambil seekor tikus putih yang tersisa. Sakura mulai melakukan pembedahannya sementara Sasuke yang sudah mempelajari bab ini di sekolah lamanya di Oto langsung mengisi kertas ujian. Dengan waktu yang tersisa merekapun menyelasaikan tugas itu dan menyerahkan hasilnya pada Shizune-sensei. Dan hasilnya mengejutkan mereka mendapat nilai tertinggi, merekapun mendapatkan tepuk tangan yang meriah dari teman-temannya. Sakura tersenyum senang sementara Sasuke hanya tersenyum tipis saking tipisnya hanya terlihat sebagai garis lurus.
Pelajaran berikutnya adalah sejarah, namun di tengah pelajaran ketika para murid sedang konsentrasi memperhatikan penjelasan dari guru, datanglah lima orang berseragam hitam yang tampak seperti bodyguar mencari Uchiha Sasuke. Tanpa ba bi bu Sasuke membereskan alat tulisnya dan pergi meninggalkan sekolah dengan para bodyguard itu. Selepas kepergian Sasuke banyak anak yang berbisi-bisik tentangnya sehingga membuat kelas menjadi sedikit riuh. Guru sejarah yang kesal itupun keluar dari kelas padahal sisa jam mengajarnya masih banyak.
Ino yang dari tadi tidak bisa diam karena mengkhawatirkan keberadaan sahabatnya itu berjalan menghampiri Sakura dan duduk di kursi murid lain yang duduk di depan meja Sakura sementara si empunya kursi entah pergi kemana.
"Sakura kau kemana saja? Dan apa yang terjadi tadi pagi? Kudengar kau ditolong oleh kakak beradik Uchiha? Kau memiliki hubungan dengan salah satunya, eh? Dan jam pelajaran pertama tadi kau menghilang dengan Sasuke. Apa yang sudah kalian berdua lakukan? Apa kau tahu kalau fansgirl-nya itu tadi pagi mengamuk?" Tanya Ino cerewet, sederet pertanyaan yang diberikannya pada Sakura membuat Sakura pusing untuk menjawabnya. Tampaknya Ino berbakat menjadi seorang wartawan. Tapi kemudian Ino mengacak rambutnya frustasi ketika helaan nafas yang diberikan Sakura sebagai jawaban.
"Jawab, Sakura!" Pinta Ino dengan wajah yang mulai lusuh, make up-nya sudah sedikit berantakan karena tampaknya dia belum memulasnya kembali sesampainya di sekolah. Sakura jadi kasihan juga melihat sahabatnya menderita karena mengkhawatirkan dirinya.
"Ya, aku memang di tolong oleh kakak beradik uchiha itu dan bukannya kau tahu kalau sebelumnya aku sudah menghajar tiga kucing yang mengeong padaku? tampaknya mereka ingin membalas dendam padaku. Hah... Tampaknya saat istirahat nanti aku harus mengumpulkan kesabaran ketika diintrogasi oleh fansgirl-nya. Dan selebihnya dari itu tidak ada." Jawab Sakura panjang lebar meski sedikit malas menjelaskannya. Ino mengangguk puas dengan jawaban yang diberikan Sakura sedangkan Hinata yang duduk di kursi Ino dengan arah menghadap padanya hanya tersenyum senang mengetahui Sakura baik-baik saja meski darah segar masih nampak di sudut bibir Sakura.
Sakura menyandarkan punggungnya kesandaran kursi, entah kenapa tiba-tiba dia merasa sangat lelah dan kepalanya terasa pening. Dilihatnya Hinata yang mulai mendekat padanya kemudia menyentuh dahi dan pipinya.
"A-apa kau sakit, Saku-chan?" Tanya Hinata dengan nada khawatir. Sakura menggeleng lemah, entahlah diapun tidak mengerti dengan tubuhnya.
"Jadi kau gadis murahan yang bernama Sakura itu?" Tanya seseorang yang baru saja muncul. Gadis itu melipat tangannya di dada dan memandang Sakura dengan tatapan merendahkan.
"Apa maumu? Pergilah, aku sedang dalam mood yang buruk." Jawab Sakura yang masih tetap dalam posisi duduknya.
Gadis yang tengah kesal itupun menjambak rambut Sakura. "Kuperingatkan kau, jauhi Sasuke! Atau kau akan tahu rasa."
"Lepaskan tanganmu, Tayuya!" Kata Sakura kemudian menepis tangan gadis bernama Tayuya itu hingga membuat rambutnya menjadi kusut. "Seharusnya aku yang memperingatkamu. Meskipun aku tidak tertarik pada bungsu Uchiha itu, tapi jika kau bersikap seperti ini terus terhadapku, aku akan merebut pujaanmu itu!"
Tayuya tercengang mendengar perkataan Sakura, sementara Sakura dan kedua temannya berlalu dari tempat itu dan berjalan menuju aula karena seorang guru mengumumkan semua murid untuk berkumpul.
Aula sekolah yang mampu menampung 2000 siswa itu telah sesak dipadati para murid yang sudah berkumpul. Ada yang menggerutu kesal dan tak sedikit pula yang senang karena dengan berkumpulnya mereka di aula berarti kegiatan belajar-mengajar berhenti untuk sementara.
"Semuanya tolong dengarkan." Kata Danzo-sama yang menjabat sebagai kepala sekolah Konoha High School. "Sekolah kita akan berganti kepemilikan, oleh karena itu selama seminggu ke depan kalian akan belajar di rumah."
Para siswa-siswi bersorak senang, liburan, tentu saja mereka sudah menantikannya sejak lama. Ruangan aula langsung riuh oleh suara para murid yang mulai membicarakan rencana yang akan mereka lakukan untuk mengisi liburan.
"Baiklah, sekarang kalian dipersilahkan untuk pulang kerumah masing-masing." Danzo-sama mengakhiri pengumumannya dan para murid pun kembali ke kelas masing-masing untuk mengambil tas kemudian pulang.
Sakura tengah berdiri di halte bis menunggu kedatangan bis yang akan mengantarnya menuju rumah, di cuaca yang panas begini dia harus menunggu bis yang tak kunjung datang. Peluh mulai membasahi leher dan pelipisnya, Sakura menghela napas. Seharusnya tadi dia menerima ajakan Sai dan Ino yang akan mengantarkannya ke rumah. Tapi tidak enak juga mengganggu orang yang sedang berduaan, pikir Sakura. seandainya diapun memiliki seorang kekasih mungkin akan ada orang yang menjemput dan mengantarnya kerumah dan ke sekolah setiap hari.
"Apa sih yang kau pikirkan, Sakura?" Batinnya pada diri sendiri.
"Mau kuantar, Sakura?" Tawar seseorang yang baru saja berhenti di hadapan Sakura.
"Oh, Lee. Apa tidak membuatmu repot?" Tanya Sakura pada teman sekelasnya ketika dulu masih kelas 1. Rock Lee adalah orang yang mencintai Sakura sejak pertama mereka bertemu, dan Sakura tahu akan hal ini.
"Tentu saja tidak. Naiklah." Sakurapun naik ke atas motor Lee. Bukannya dia bermaksud memanfaatkan Lee dan memberikan harapan kosong pada pemuda itu. Tapi di saat cuaca panas seperti ini tidak ada salahnya 'kan menerima uluran tangan orang lain hehe.
Lee mengendarai motornya dengan kecepatan sedang, selama di perjalanan mereka banyak berbincang-bincang tentang hal yang sepele meski Lee terlihat gugup dan canggung ketika berbicara dengan sakura, tapi komunikasi mereka lancar-lancar saja.
"Terima kasih atas tumpangannya." Kata Sakura sambil tersenyum yang sukses membuat Lee bersemu merah.
"Sa-sama-sama. Kalau begitu aku pulang dulu." Lee yang wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus langsung berlalu memacu sepeda motornya dengan kecepatan tinggi hingga membuat tubuhnya tersentak, Sakura kembali tersenyum melihat tingkah Lee kemudian masuk kedalam rumahnya.
"Tadaima." Seru Sakura sambil memutar kenop pintu, begitu pintu terbuka diapun masuk dan menutup pintunya kembali.
Selalu begini, desahnya. Setiap kali dia berseru 'Tadaima!' tidak pernah ada orang menjawabnya. Tentu saja, selama bertahun-tahun dia tinggal di rumah ini tidak pernah ada yang berubah kecuali kayu-kayu yang semakin habis di makan rayap dan cat dinding yang terkelupas.
Hidup sendirian selama bertahun-tahun tidak membuat Sakura terbiasa dengan kesepian. Dia ingin hidup seperti anak-anak yang lainnya, ketika dia bangun di pagi hari sudah ada sarapan yang disiapkan ibunya, dan setiap kali pulang ke rumah selalu ada yang menyambutnya dengan hangat. Sakura menginginkan semua itu, sangat menginginkanya. Betapa irinya dia ketika bermain kerumah Ino atau kerumah Hinata. dirumah Ino, Sakura bisa melihat kasih sayang Ibunya Ino dengan cara membantu menguncir rambut dan memulaskan make up ke wajah anak semata wayangnya. Sementara di rumah Hinata, Sakura melihat kedekatan seorang ibu dan anak melalui kegiatan merajut pakaian bersama dan bercengkrama sambil meminum teh. Kapan terakhir kali dia merasakan semua hal itu? Sebelas tahun yang lalu? Bahkan saat itu dia masih terlalu kecil untuk memahami betapa berharga waktu yang dilewati bersama orang tua.
Sakura masuk ke kamarnya yang hanya berukuran 2x2m, kemudian mengemasi barang-barangnya kedalam sebuah koper yang sudah dipersiapkannya seminggu yang lalu. Mulai hari ini dia akan tinggal di mansion Uchiha tapi walau begitu dia tidak akan pernah menjual rumah bobroknya karena bagi dirinya rumah ini sudah seperti keluarga yang selalu ada disaat dia membutuhkannya, susah dan sedih dia lewati di rumah ini.
"Selamat tinggal." Gumam sakura pada rumahnya. Diapun mulai menapaki jalan setelah mengunci pintu rumahnya.
Klan Uchiha yang kaya raya dikenal sebagai klan yang bengis dan kejam, memiliki pengaruh yang kuat di negara Hi dan Oto serta beberapa negara lain. Bergerak dalam berbagai bidang penting yang menjadi pilar perekonomian negara, meski memiliki nama yang sangat dikenal, klan Uchiha tetap saja terkesan misterius apalagi terdengar desas desus yang miring tentang klan ini.
Saat ini klan Uchiha dipimpin oleh Uchiha Fugaku dan istrinya Uchiha Mikoto, Fugaku memiliki dua orang anak yaitu Uchiha Itachi dan Uchiha Sasuke. Namun sepertinya Fugaku lebih perhatian terhadap anak sulungnya yang akan mewarisi seluruh kekayaan dan kekuasaannya, hal ini membuat si bungsu cemburu dan menganggap dirinya telah terlupakan oleh ayahnya. Tapi betapa iripun ia pada kakaknya dia sangat menghormati kakaknya itu dan dia menyayangi kakaknya seperti kakaknya menyayangi dirinya.
Disebuah ruangan bergaya jepang kuno, tampaklah seorang laki-laki paruh baya yang tengah duduk bersila sambil menyesap roko dari cerutunya. Pria itu tampak berwibawa meski hanya dalam kedian duduk berdiam diri.
"Bagaimana dengan sekolah baru Sasuke?" Tanyanya pada seseorang yang duduk berhadapan dengannya
"Kita berhasil memilikinya, sekolah itu akan di rehab dalam waktu satu minggu, dan selama satu minggu itu pula kita akan melakukan pelatihan untuk anggota baru Yakuza." Jawab Itachi yang tengah duduk berhadapan dengan ayahnya.
"Bagaimana dengan para peserta ujian yang tidak lolos?"
"Seperti biasa, kita sudah berhasil membungkam mulut mereka." Fugaku tersenyum mendengar jawaban anaknya kemudian Fugaku menyuruh anaknya keluar dari ruangan pribadinya. Itachi pun pamit undur diri.
Itachi berjalan dengan ritme yang sedang, banyak yang dia pikirkan saat ini. Penampilannya tidak serapi tadi pagi, kemejanya mulai terlihat kusut dan rambutnya sedikit berantakan. Dua kali pertemuan dengan para petinggi negara Takumi membuatnya hampir gila. Para petinggi itu terus mendesaknya agar mau memasok persenjataan kepada militer Takumi, tapi tentu saja semua itu tidaklah mudah. Akhir-akhir ini militer Konoha mulai memperhatikan mereka, meski Itachi sudah berhasil membungkam mulut orang-orang yang bisa membahayakan klannya. Belum lagi saat ini dia harus melakukan penyelidikan latar belakang dua puluh anggota barunya, ini akan sangat menyita waktu. Dan terakhir sesi pelatihan yang harus dia buat untuk para anggota baru.
Itachi menghela nafas, wajahnya terkesan datar meski dilihatnya seorang wanita tengah berdiri di depan pintu kamarnya. Wanita itu berperawakan tinggi semampai, dengan rambut violet yang panjangnya mencapai pinggang. Wanita itu tersenyum melihat kedatangan Itachi, di peluknya Itachi dengan penuh rindu namun Itachi hanya diam tak bergeming. Wajah wanita itu menampilkan raut kecewa, apa Itachi sudah tidak menginginkannya lagi?
"Kenapa Itachi?" Tanya wanita itu dengan suara parau. Dia sudah tahu kelanjutan dari pembicaraan ini, namun tetap saja dia ingin memastikannya, mungkin saja keadaannya dapat berubah kembali.
"Jangan pernah muncul dihadapanku lagi, Kau tidak berguna." Jawab Itachi sadis dan sukses membuat wanita di hadapannya meneteskan air matanya.
Jadi inikah alasannya? Alasan selama ini Uchiha sulung itu menjalin hubungan dengannya, untuk memanfaatkannya? Lalu setelah keluarganya tidak lagi memiliki kedudukan di hadapan klan Uchiha, lantas mereka mendepaknya? Cukup! Dia sudah tidak tahan lagi, diapun berlari meninggalkan Uchiha sulung itu dengan air mata yang terus mengalir.
Itachi masih dengan berdiri dengan angkuhnya, selang beberapa saat ia menyandarkan punggungnya ke pintu kamarnya. Matanya berkilat marah, dia tak suka apabila ada orang yang menguping pembicaraannya.
"Keluar!" Perintahnya entah pada siapa. Beberapa saat kemudian terbukalah pintu yang ada di depan kamarnya lalu keluarlah seorang gadis berambut pink dari balik pintu itu. Tubuhnya sedikit gemetar, dan mata emeraldnya menyiratkan ketakutan. Sungguh dia tidak sengaja mendengar dan melihat adegan tadi. Itachi mencengkram lehernya hingga ia merasa tercekat tak mampu bernafas.
"Ma..ma-af... Sa..ya ti-ti..dak se..nga-ja." Ucap Sakura dengan susah payah kemudian dirasakannya cengkraman Itachi di lehernya mulai melonggar dan perlahan Itachi melepaskannya.
Itachi melenggang pergi meninggalkan Sakura yang tiba-tiba jatuh terduduk, lututnya serasa lemas hingga tak mampu menopang tubunya lagi. Jelas, sangat jelas, Sakura bisa merasakan kemarahan dari tatapan mata orang yang biasanya terlihat tenang itu. Tapi apa salahnya? Dia benar-benar tidak sengaja melihatnya ketika hendak keluar kamar. Salah mereka berdua beradegan seperti itu di depan kamar orang lain, apa mereka tidak malu? Dan lagi wanita yang bersama Itachi tadi sepertinya dia mengenalnya. Apa mungkin dia? Pikir Sakura namun buru-buru menepis pikirannya itu. Gadis baik seperti bosnya itu tidak mungkin menjalin hubungan dengan seorang kriminal, kan? Ah... Namun sepertinya Sakura lupa kalau dirinya yang terkenal baik dan sopan itu kini tengah berada di tengah-tengah para kriminal juga.
"Memungut kotoran, eh?" Tanya Sasuke yang baru saja datang entah dari mana. Bibirnyanya membentuk seringai mengejek. Sakura buru-buru berdiri dan mendelik sebal padanya.
Sakura hendak membalas namun handphonenya dan juga handphone Sasuke berbunyi menandakan ada pesan masuk. Diambilnya handpone yang tersimpan di saku jaketnya kemudian membaca pesan itu. Ternyata pesan dari klan Uchiha yang menyuruh mereka berkumpul di ballroom untuk rapat pertama mereka sejak bergabung.
Sakura berjalan di belakang Sasuke ketika mereka pergi ke ballroom. Langkahnya yang seperti mengekor Sasuke dari belakang membuatnya tampak seperti seekor anak anjing yang baru di pungut dan kemudian selalu mengikuti kemanapun tuannya pergi. Sakura mendesis kesal menyadari semua itu. Sesampainya di ballroom sakura langsung mendudukan dirinya di kursi yang sama ketika dia mendapat ucapan selamat telah bergabung kemarin malam.
Sasuke dan kakaknya serta beberapa seniornya yang lain duduk didepan dengan mengarah padanya sehingga posisi mereka dan para anggota baru saling berhadapan. Seorang laki-laki yang berwajah seperti hiu memulai rapat dengan memperkenalkan namanya terlebih dahulu. Kisame Hoshigaki yang ahli dalam memakai pedang akan menjadi instruktur mereka saat menjalani pelatihan di pulau Nagi nanti. Rapat itupun berjalan dengan cepat, rencananya besok mereka akan berangkat ke pulau Nagi jadi malam ini mereka harus berkemas dan menyiapkan mental untuk menjalani pelatihan neraka. Sakura menghela napas, dia sedikit tidak yakin dengan kemampuannya. Apalagi tidak ada diskriminasi antara laki-laki dan perempuan. Bukan hanya hal itu yang dia khawatirkan, di akhir acara rapat setelah semua orang pergi menyisakan dirinya dan Itachi, Sasuke dengan terang-terangan menantang dirinya, jika dia tidak mampu melewati pelatihan nanti maka dia harus menjadi budak Sasuke dengan waktu yang tidak di tentukan. Entah mendapat dorongan dari mana Sakura langsung saja mengiyakan dan menyanggupi tantangan Sasuke itu. Matilah dia, tapi mau menolakpun dia tidak bisa. Dia tidak mau si bungsu itu menertawakan dirinya dan itu akan sangat melukai harga dirinya.
Sakura terus mengumpat ketika mengemas pakaiannya, dia benar-benar ceroboh. Seharusnya dia tahu kalau Sasuke pasti akan mempermainkannya. Saat pelatihan nanti entah dengan cara apapun, si bungsu Uchiha itu pasti akan membuat dirinya kewalahan hingga tak sanggup mengikuti pelatihan sampai akhir.
"Arrghh..." Sakura berteriak frustasi namun kemudian sebuah ketukan dipintu menghentikan aktivitasnya. Sakura bergegas membukakan pintu kamarnya, dan tampaklah seorang laki-laki berambut perak berdiri di depan pintu kamarnya.
"Hai!" Sapa laki-laki itu. "Aku Juugo, teman Sasuke. Apa kau yang bernama Sakura?"
"Ya" jawa Sakura kemudian mereka berjabat tangan.
"Sasuke menyuruhku untuk membawamu ke lantai lima." Sakura memandang curiga pada laki-laki yang bernama Juugo itu. Mau apa Sasuke membawanya ke bar yang ada di lantai lima? Tanpa banyak bicara Sakura keluar dari kamarnya, menutup pintunya dan mengikuti langkah Juugo.
Sakura berjalan dengan was-was, mau apa sebenarnya si Sasuke itu? Apa dia mau mempermainkannya? Menjualnya pada teman-temannya? Arrghh... Berbagai pikiran negatif menghampiri pikirannya. Lantas jika dia takut kenapa dia malah menerima ajakan pemuda bernama Juugo tadi? Sakura merutuki kebodohan dirinya. Hari ini dia selalu mengambil tindakan tanda memikirkan akibatnya.
"Kau sudah datang?"
Sakura mengangguk singkat, "Ya, Sasuke-sama."
"Buatkan minuman untuk kami." Perintah Sasuke singkat. Dua temannya yang duduk mengitari meja yang sama tersenyum mencurigakan.
Bagus Sakura kau masuk dalam permainan mereka. "Jadi kalian semua mau memesan apa?"
"Terserah padamu" Jawab Sasuke singkat. Kedua temannya menganguk setuju.
Sakura berjalan kebalik meja bartender kemudian mulai menyiapkan bahan yang akan dipakainya untuk membuat minuman. Dia memutuskan membuat "Queen's Park Swizzle" untuk Sasuke dan kedua temannya. Disiapkannya 2 oz Demerara Rum, mint segar, ½ oz simple syrup, ¾ oz jus lemon dan Angostura bitters.
Sakura meletakkan mint, sirup dan jus lemon dalam gelas kemudian muddle perlahan. Selanjutnya rum ditambahkan sampai hampir penuh dengan es batu. Berikutnya Sakura menambahkan satu dash bitter lalu semuanya dicampur. Terakhir top off dengan es batu, hias dengan daun mint dan potongan lemon. Minuman hasil buatannyapun siap disajikan dengan sedotan.
Sakura membawa tiga gelas minuman buatannya kemudian di letakan di meja Sasuke. Sasuke meminum minuman yang di bawa Sakura dan tersenyum tipis. Lumayan, pujinya dalam hati. Kedua temannyapun mencoba mencicipi dan mereka berdua juga ikut tersenyum puas. Sakura bangga dengan hasilnya yang memuaskan.
"Kenapa kau tidak duduk dengan kami dan bersenang-senang?" Tanya seorang teman Sasuke yang diketahuinya bernama Suigetsu.
"Tidak, terima kasih. Aku masih ada urusan." Jawab sakura sambil mencoba tersenyum. Dia hendak berlalu namun laki-laki bernama Suigetsu itu menari pergelangan tangannnya hingga dirinya terjatuh dan duduk dipangkuan Suigetsu. Suigetsu menyeringai senang.
"Lepaskan, tuan!" Kata Sakura masih mencoba berkata dengan nada lembut. Namun Suigetsu tak menghiraukannya dan malah memeluk tubuh Sakura dengan erat.
Sakura geram diperlakukan seperti itu, dia memang bergabung dengan Yakuza tapi bukan berarti dirinya adalah wanita murahan. Dengan sedikit kekuatan dilepaskannya tangan Suigetsu yang memeluknya dan tanpa berkata apapun dia berjalan meninggalkan meja Sasuke dan temannya. Tapi tangan Suigetsu menahan pundaknya. Sakura tersenyum sinis, di cengkramnya tangan Suigetsu yang menahan pundaknya dan dalam hitungan ketiga tubuh Suigetsu sudah terbaring dihadapanya, Sakura membanting tubuh laki-laki itu dengan kekuatan penuh.
Suigetsu meringis kesakitan sementara Sakura kembali melangkahkan kakinya menuju kamar, dia kembali tersenyum sinis. Lumayan, untuk latihan besok. Pikirnya ketika dia ingat telah membanting tubuh Suigetsu.
Sasuke duduk dimeja belajarnya dengan kedua tangan menopang dagunya. Kamarnya sedikit gelap karena Sasuke hanya menyalakan lampu tidurnya. Dia tengah berpikir saat ini, entah apa yang dipikirkannya. Botol red wine yang terletak disampingnya hanya terisi setengah botol lagi.
Sasuke meneguk kembali minuman yang ada didalam gelas yang tengah dipegangnya, dia menghela napas lelah. Kenapa ayahnya selalu saja membandingkan dirinya dengan kakaknya? Repot-repot mengirim sepasukan bodyguard hanya untuk mengatakan "Kau harus mencontoh kakakmu, Sasuke!"
Dilemparkannya flute glass yang tengah dipegangnya hingga menabrak dinding kemudian hancur dan serpihan gelas itu berserakan dilantai kamarnya. Kurang apa dirinya? Selama ini selalu menuruti perkataan ayahnya. Dalam segi kemampuan dia tak kalah hebat dari kakaknya yang dia banggakan. Diapun yakin, jika dia terlahir sebagai anak sulung, diapun pasti bisa memimpin perusahaan dan mengontrol pergerakan para Yakuza. Mungkin ayahnya lebih menghendaki keberadaan kakaknya, Sasuke tersenyum miris menanggapi pemikirannya.
Sakura mengumpat kesal, gara-gara kejadian semalam dia lupa untuk kembali membereskan barang bawaannya dan sekarang diapun terlambat bangun. Tanpa sempat mandi dan sarapan di ambilnya koper yang baru terisi ¾ nya kemudian berlari menuju atap tempat pemberangkatan helikopter.
Sakura menjadi peserta terakhir yang menaiki helikopter, terlambat satu menit saja maka akan tamat rimawayatnya karena lehernya akan di tebas Kisame-san menggunakan Samehada pedang kesayangannya.
Sakura naik kedalam helikopter itu bersama empat orang lainnya. Selama diperjalanan mereka semua terdiam dan sibuk dengan pemikirannya masing-masing. Sakura memandang keluar kearah hutan yang hijau oleh pepohonan. Saat ini dia tengah gugup, bagaimana jika seandainya dirinya tidak lolos? Apa klan Uchiha akan mendepaknya sama seperti para peserta yang tereliminasi? Jika begitu bagaimana dia membalaskan dendam keluarganya? Sakura menghela napas pelan, diikatnya rambut merah muda miliknya yang tadi pagi belum sempat disisir. Setelah perjalanan melelahkan selama hampir seharian akhirnya helikopterpun turun dilandasan pesawat yang terdapat ditengah pulau Nagi.
Sakura turun dari helikopter dengan wajah kusut, tubuhnya di balut training hitam yang belum sempat disetrikanya. Kopernya diseret dengan langkah gontai. Sasuke datang menghampirinya dengan seringai menyebalkan. Sakura mendengus sebal, belum-belum Sasuke sudah mencoba membuatnya kesal.
"Kau sudah siap, Haruno?" Tanya Sasuke sambil melepas kacamata hitam yang dipakainya. Ah... Benar-benar keren sekali jika Sakura mau mengakuinya. Tubuhnya dibalut kaos berwarna biru yang dipadukan dengan celana berwarna putih dan mata onyx-nya tertutup sebuah kacamata hitam untuk menambah kesan cool, angin yang berhembus membelai rambut ravennya.
"Tentu Sasuke-sama. Akan saya pastikan anda dapat melihat saya pada hari ketujuh." Jawab Sakura dengan senyum manisnya. Sasuke bergeming, disaat seperti ini gadis itu masih dapat tersenyum? Menarik, pikirnya.
"Berjuanglah." Sakura mendongakkan kepalanya kaget namun Sasuke sudah tidak ada dihadapannya lagi. Uchiha Sasuke yang sombong itu menyemangatinya, apa dia tidak salah mendengar? Sakura tersenyum tulus, mungkin ada saat dimana para Uchiha itu berkata baik dan sopan. Sakura kembali melangkahkan kakinya menuju tempat berkumpul.
Kisame menjelaskan pelaturan yang diberlakukannya selama pelatihan yang akan berlangsung selama tujuh hari. Para anggota pelatihan boleh melakukan apasaja yang mereka mau dengan syarat tidak melukai anggota lain menggunakan benda tajam. Jika ingin berkelahi mereka hanya diperbolehkan menggunakan tangan kosong. Tidak boleh ada yang keluar dari pulau Nagi selama pelatihan berlangsung kecuali jika mereka mati maka jasadnya akan dibawa ke Konoha. Malam ini mereka akan mulai pelatihan dengan menyebar para anggota ke berbagai belahan pulau Nagi, tugas mereka pada dua hari pertama adalah bertahan hidup tanpa makanan dan cuaca yang buruk serta harus melindungi diri dari binatang buas. Tiga hari berikutnya pembentukan kelompok untuk memecahkan masalah dan mencari jejak. Dua hari terakhir battle untuk saling memperebutkan kalung perak yang dimiliki masing-masing anggota, siapa yang dapat merebut dua kalung ditambah satu kalung miliknya dan mempertahankannya sampai detik terakhir dianggap lulus.
Sakura memasukkan barang-barangnya kedalam ransel hijau yang telah disiapkan panitia pelatihan, dia merasa sedikit beruntung tadi malam tidak memasukkan banyak barang kedalam kopernya karena tidak banyak barang yang bisa dibawa dalam ransel hijau itu. Setelah selesai dia menggendong tas hijau itu dan melangkahkan kakinya menuju lapangan tempat berkumpul sebelum pemberangkatan.
Itachi mengambil pengeras suara yang tengah dipegang Kisame, dia berdiri dua meter didepan para peserta pelatihan dengan memakai celana training dan kaos hitam tampa lengan yang memperlihatkan otot lengannya yang membuat wajah Sakura sedikit memerah karena Itachi berdiri tepat dihadapannya. Seperti biasa, setiap kali Uchiha sulung itu hendak mengumunkan atau mengatakan sesuatu atmosfer seolah berubah menjadi lebih berat dan membuat sesak napas.
"Pelatihan neraka akan segera dimulai." Ujarnya dengan sangat tenang. "Bersiaplah"
Para peserta bergeming, apa yang akan terjadi nanti? Mampukah mereka melewati pelatihan neraka yang telah disiapkan Itachi dan Kisame? Lalu bagaimana dengan Sakura yang menjadi satu-satunya peserta wanita?
Sakura's POV
Aku menjejakkan kakiku dihutan yang gelap dan lembab. Sejauh aku memandang hanya kegelapan yang ditangkap indra penglihatanku. Klan Uchiha mengirimku kebagian barat pulau Nagi, sebenarnya tidak masalah aku ditempatkan dimanapun, tapi dicuaca berkabut seperti ini dengan jarak pandang yang pendek dan suhu yang mencapai lima derajat siapa yang mampu bertahan melindungi diri dari segala marabahaya yang siap menghadang. Sudah dua jam aku berjalan kaki dan sekarang sudah hampir sore jadi aku memutuskan untuk membuat tempat perlindungan.
Selama perjalanan yang kutemukan hanyalah ranting-ranting basah yang tak dapat terbakar. Meskipun aku bisa membuat tempat berteduh tapi bagaimana cara aku membuat tempat perlindungan dari binatang buas jika tidak bisa membuat api unggun? Percuma saja aku membuat tempat perlindungan toh aku benar-benar tidak terlindung dari binatang buas jadi pada Akhirnya Aku memilih sebuah pohon untuk dijadikan tempat peristirahatan.
Aku memilih pohon-pohon besar yang tidak terlalu rimbun karena dikhawatirkan menjadi sarang ular, serangga, atau binatang berbahaya lainku. Disaat seperti ini aku merasa sangat bersyukur karena Kami-sama mengirimkan pertolongan padaku, aku melihat sebuah pohon Sakura ditengah hutan yang tengah dipijak olehku. Aku tersenyum senang, akupun naik keatas dahan pohon Sakura itu kemudian mengambil selimut kecil yang dibawa dalam ranselku. Aku berusaha tertidur untuk mengistirahatkan badanku, namun dalam situasi dan kondisi seperti ini siapa yang dapat tertidur dengan nyenyak?
Sakura's POV end
Pagi itu hutan masih gelap dengan kabut yang turun, suara burung dan binatang-binatang lainnya yang bersahutan membangunkan seorang pemuda berambut hitam dari tidurnya yang tak nyenyak.
Laki-laki bernama Itachi itu membasuh wajahnya kemudian dilanjutkan dengan ritual pagi yang selalu dilakukannya, setelah semuanya selesai (Mandi, menggosok gigi, memakai pakaian) diapun pergi menuju ruang monitoring. Ruangan itu penuh dengan layar monitor yang menampilkan kegiatan yang tengah dilakukan keduapuluh peserta pelatihan.
Itachi duduk dikursinya sambil menyesap kopi pahit kesukaannya, matanya tertuju pada sebuah layar monitor yang memperlihatkan kegiatan yang tengah dilakukan seorang gadis berambut merah muda yang sejak kemarin mulai diperhatikannya.
Sejak keberangkatan gadis itu dari lapangan utama, Itachi sedikit mengkhawatirkannya, apalagi tadi malam ketika gadis itu tertidur disebuah pohon Sakura tanpa perlindungan apapun dan pagi ini gadis itu bangun dengan keadaan yang pucat dan lemah. Tentu saja, tidur di alam bebas tanpa perlindungan apapun dengan kabut yang turun semakin tebal bagaikan tidur didalam balok es. Dingin. Beruntung saja atau tepatnya gadis itu dibuat beruntung karena Itachi mau melindunginya. Kau pikir berapa banya binatang buas yang tadi malam hampir melukai gadis berambut permet karet itu? Tadi malam saat suhu mencapa nol derajat Itachi berdiri disamping gadis yang tengah tertidur itu kemudia membunuh setiap binatang buas yang mendekat mulai dari beruang, singa, serigala bahkan ular. Bukankah kini Itachi seperti jimat manusia yang harus datang dan pergi sebelum orang yang dia lindungi terbangun?
Itachi tersenyum menyadari dirinya yang seperti jimat manusia penangkal roh jahat atau lebih tepatnya penangkal binatang buas, Dia menayadri ini sama sekali bukan dirinya. Lalu kenapa dihadapan gadis berambut pink itu dia bisa bertingkah aneh dan diluar kendali? Oh betapa semuanya terasa aneh dan... menyenangkan?
Ketika Itachi tengah asyik dengan pikirannya, datanglah Kisame yang berwajah tegang. Itachi sudah tahu apa yang akan dikatakan Kisame dengan ekspresi seperti itu, pasti sesuatu yang buruk.
"Militer Konoha sudah mengetahui pergerakan kita." Kata kisame sambil menatap Itachi yang masih berkespresi tenang disaat seperti ini. Oh sungguh itu menyebalkan sekali, pikir Kisame.
"Bunuh mereka semua yang mengacau dan hancurkan tempat ini." Jawab Itachi kalem kemudian beranjak dari kursinya untuk mempersiapkan diri.
Kisame yang mendengarnya hanya menganga, What? Menghancurkan tempat ini? Tampakya dia harus menghubungi Kakuzu tema nya untuk menghitung semua kerugian yang didapat klan Uchiha.
Itachi pergi keruang senjata kemudian memakai vest anti peluru dan mengambil pistol FN FIVE-SEVEN kesukaannya serta mengambil peluru cadangan dan beberapa senjata kecil lainnya. Semua perbekalannya dia masukkan kedalam sebuah ransel hijau yang tersedia banyak sekali diruangan itu. Tak lama kemudian datang beberapa orang mengambil persediaan senjata, tampaknya Kisame sudah mengumumkan kalau sebentar lagi perang akan dimulai...
Para Yakuza Uchiha sudah menyebar untuk menyulitkan kemiliteran Konoha, para anggota yang sedang dalam pelatihanpun sudah diberitahu bahwa sekarang terjadi penyerangan dari kemiliteran Konoha sehingga mereka harus bersiap melawan. Setelah mereka semua menjauh dari markas utama, markas utamapun diledakkan agar tidak meninggalkan jejak. Sakura yang berjalar sepuluh kilometer dari markas utama dapat mendengar suara ledakan yang dahsyat itu dan diapun dapat melihat kepulan asap yang membumbung tinggi ke angkasa. Dia menghela napas berat. Bagaimana dia bisa melawan para militer Konoha itu sementara dia sama sekali tidak dibekali senjata. Hanya satu tujuan utama Sakura saat ini, dia harus selamat apapun yang terjadi.
Sakura berlari kencang menuju arah selatan, pakaiannya kotor oleh lumpur dan robek karena tergores ranting-ranting pohon, Ransel hijaunya sudah dia lemparkan entah kemana untuk mengurangi bebannya namun Sakura lupa kalau handphone-nya disimpan diranselnya itu diapun hanya mengumpat kesal saat menyadarinya.
Sakura tidak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang? kemana dia harus berlari? Dimana dia harus sembunyi? Bagaimana jika dia tertangkap? Disaat tengah berpikir keras dirasakannya tangan seseorang yang membungkam mulutnya. Sakura berusaha memberontak ketika orang itu menyeretnya kesebuah semak belukar. Dia hanya menghela napas lega ketika dia tahu bahwa Sasuke lah yang telah membungkam mulutnya.
"Ck... dasar bodoh!" desis Sasuke ketika melihat Sakura dengan penampilan yang berantakan bisa disimpulkan gadis itu tengah berlari dengan tujuan yang tidak jelas.
Sakura hanya mendengus kesal. "Kau menyebalkan!"
"Dengar" kata Sasuke. "Kakakku mengatakan kita harus menunggunya disebuah gua yang letaknya tak jauh dari sini."
"Kenapa kita harus menunggunya?" tanya Sakura dengan heran.
Sasuke menggeram. "Kau salah satu peserta terbaik tapi tak kusangka otakmu seperti keledai, bodoh."
"Aa... aku mengerti." Sahut Sakura sumringah."Jadi Itachi-sama membawa senjata untuk kita?"
Sasuke mengangguk kemudian ditariknya pergelangan tangan Sakura karena suara tembakan mulai terdengar dibelakang mereka. Tidak ada waktu untuk berhenti, napas mereka mulai tersenggal, peluh membasahi tubuh mereka. Sasuke dan Sakura mulai kehabisan napas tapi mereka terus berlari bagai seorang buruan yang takut tertangkap, setelah berlari sejau dua kilometer akhirnya mereka menemukan gua yang dimaksud Itachi dan syukurlah Itachi sudah ada disana dengan sepeda motor kecil yang sudah dimodifikasi agar dapat dikendarai dihutan yang lebat itu.
"Nii-san apa yang sedang terjadi?" tanya Sasuke yang sudah duduk dilantai gua yang basah.
"Militer Konoha mengetahui pergerakan kita." Jawab Itachi kemudian melemparkan dua tas yang telah disi dengan persenjataan kearah Sasuke dan Sakura.
"La-lalu apa yang akan kita lakukan Sekarang?" Tanya Sakura
"Kita akan menyerang balik mereka. Akupun sudah meminta bantuan." Jawab itachi
"Kalau begitu sebaiknya kita mulai bergerak."
"Ya, kita akan pergi ke sisi pulau bagian selatan."
Dan mereka bertigapun mulai bergerak, diledakkannya motor Itachi yang tadi dibawanya untuk menghapus jejak, gua yang tadi mereka tempatipun roboh. Suara ledakan, tembakan, dan jerit kesakitan terus terdengar ditelinga mereka. Sakura tidak pernah membayangkan semua ini akan terjadi. Dia sama sekali belum siap untuk berperang, menyelamatkan diripun rasanya sulit. Dan disaat seperti ini tiba-tiba saja lambungnya terasa sakit, oh tidak disaat seperti ini maag akutnya kambuh. Sakura tersungkur ke tanah, tidak kuat menahan rasa sakitnya. Itachi dan Sasuke yang berlari didepan menghentikan langkah mereka kemudian berbalik untuk mengecek keadaan Sakura.
"Ck... merepotkan. Disaat seperti ini penyakitmu kambuh?" ejek Sasuke.
Sakura meringis kesakitan entah kenapa mendengar perkataan Sasuke air matanya terjatuh. Sejak dulu dia sangat menyadari kalau keberadaannya hanya membuat repot orang-orang disekelilingnya. Mungkin karena dia anak yang merepotkan hingga orangtuanya membuangnya ke panti asuhan.
"Diamlah Sasuke. Kurasa sebaiknya kita mencari tempat yang aman untuk berlindung." Kata Itachi yang tengah berjongkok mengecek keadaan Sakura.
"Ti-tidak per...lu menung-gu...ku. selamat-kan...lah di..ri kali-an!" ujar Sakura dengan susah payah.
Sasuke dan Itachi saling bertatapan. Mereka berdiskusi apa harus menyelamatkan Sakura atau meninggalkannya kemudian ditemukan oleh pihak militer. Tiba-tiba saja tanpa mereka sadari datang dua orang dari pihak militer menghampiri mereka. Dua orang itu menyeringai senang karena telah menemukan buruan mereka.
"Sepertinya benar dengan apa yang dikatakan gadis berambut pink itu. Kalian tidak perlu menunggunya." Ujar seorang perempuan berwajah cantik dan berambut coklat panjang sepunggung."Toh pada akhirnya dia akan mati dan kalian berduapun akan menyusulnya."
"Kau benar Haku." Timpal seorang laki-laki bertubuh tinggi dan kurus yang berdiri disamping laki-laki bernama Haku itu.
"Diam kalian!" geram Sasuke dan langsung berlari menerjang Haku yang berdiri tepat didepannya.
"Uchiha itu memang spontan ya, Zabuza?" komentar Haku dengan senyum liciknya dan Zabuza yang mendengarnya hanya menyeringai senang.
Dengan geraka cepat Itachi mengambil pistol kemudian menembakkannya kearah Zabuza namun Zauza dapat menghindarinya dengan mudah, dia sudah memperkirakan kalau Itachi akan melakukannya.
Itachi berlari kearah kiri kemudian bersembunyi dibalik sebuah pohon yang cukup besar, napasnya tersenggal sejurus kemudian dia kembali menembakkan pelurunya kearah Zabuza yang juga tengah berlindung dibalik sebuah pohon. Itachi dan Zabuza sibuk dengan pertarungan jarak jauh mereka sementara Sasuke dan Haku bertarung jarak dekat dengan menggunakan tangan kosong dan terkadang mereka saring melempar pisau kecil.
Sakura terduduk, rasa sakit dilambungnya sudah menghilang. Mata emeraldnya terarah pada pertarungan Itachi dan Sasuke. Disaat seperti ini dia merasa tidak berguna, kenapa dia idak bisa membantu salah satu dari kakak beradik Uchiha itu? Dan, hey! Bukankah jika mereka berdua tewas itu memudahkannya untuk membalas dendam? Tapi kenapa dihatinya tidak adalagi perasaan dendam yang dulu begitu membara dihatinya? Beberapa hari hidup bersama klan Uchiha dia merasa tidak kesepian lagi seolah menemukan keluarga baru. Tapi bagaimanapun dia tidak bisa meluppakan masalalunya yang membuatnya seperti ini. Sakura mengambil pistol yang tersimpan di tasnya, dia memutuskan untuk membantu kakak beradik Uchiha itu. Anggap saja sebagai balasan karena telah membuatnya tidak merasa kesepian lagi
Sakura mengarahkan pistolnya pada Haku, karena dilihatnya Sasuke sudah dalam keadaan yang menyedihkan. Tubuhnya penuh dengan goresan hingga darah mengalir keluar, Sasuke lebih membutuhkan pertolongan dibandingkan kakaknya yang terlihat baik-baik saja. Tubuh Sakura bergetar hingga pistol yang dipegangnya tidak bisa fokus, panik mulaimelanda dirinya. Dia sama sekali belum siap untuk membunuh seseorang.
"Aargghh..." Sasuke mengerang kesakitan, sebuah pisau menancap dipahanya.
Sakura yang mendengar erangan kesakita Sasuke langsung berdiri, dipegangnya pistolnya dengan kuat kemudian diapun menembak Haku namun Haku dapat menghindari peluru itu dengan melempar pisaunya kearah peluru hingga pelurunya terbelah menjadi dua.
Haku berjalan mendekati Sakura, ditinggalkannya Sasuke yang tergeletak ditanah dengan luka menganga dibeberapa temapt ditbagian tubuhnya termasuk perutnya. Sakura bergidik ngeri, namun dia tidak akan gentar. Ditembaknya lagi Haku beberapa kali namun karena tangannnya bergetar tidak ada satupun peluru yang tepat mengenai sasaran. Haku bersiap melempar pisaunya lagi, Sakurapun menekan pelatuk pistolnya.
Clek... tidak ada pelurunya yang keluar. Oh tidak... Sakura tidak sadar pelurunya sudah habis. Haku menyeringai dilemparnya pisau kecil itu dengan kecepatan tinggi, Sakura membentengi wajahnya dengan kedua tangannnya lalu melompat ke kiri untuk menghindari serangan namun tetap saja pisau yang dilempar Haku berhasil menggores tangan kirinya.
Sakura kembali berdiri, pistol yang tadi di genggamnya sudah dia lemparkan asal. Kini keadaannya terjepit, dibelakangnya terdapat jurang yang cukup dalam sementara didepannya Haku kembali siap menyerang.
Itachi melirik Sasuke, adiknya itu sudah dalam keadaan yang gawat, bisa-bisa adik kesayangannya mati kehabisan darah. Kemudian diliriknya Sakura yang tengah dalam keadaan terjepit. Sial, umpatnya.
Itachi melompat kearah kanan sambil menembakkan pistolnya secara beruntun kearah Zabuza, kemudian tembakan terakhirnya dia arahkan kepada Haku. Wanita tanpa pertahanan itupun roboh seketika. Sakura yang melihat Haku sudah menghembuskan napas terakhirnya hanya bisa menghela napas lega. Kemudian Itachi menghampiri Sakura namun disaat bersamaan tanah yang dipijakknya runtuh, Itachi berlari dan Zabuza yang melihatnya berusaha menembak Itachi yang tengah lengah namun tuuhnya terlebih dahulu roboh karena Sasuke yang terluka menembak dirinya.
Tangan kanan Itachi berpegangan pada akar pohon yang terdapat didinding jurang, sementara tangan kirinya menarik tangan Sakura yang hampir terjunbebas ke dasar jurang. Ditariknya tangan Sakura kemudian Sakurapun berpegangan pada akar pohon yang terdapat di dinding jurang.
Dia merangkak ke atas berusaha mensejajarkan dirinya dengan Itachi, Itachi meraih pinggang Sakura dengan tangan kirinya, Sakurapun mengalungkan tangan kanannya pada leher Itachi. Jarak mereka begitu dekat, emerals bertemu onyx. Mereka saling menatap, mata mereka mengatakan hal yang sama, laki-laki yang biasanya dingin itupun tak mampu menahan perasaan yang kini menyelimuti hatinya.
"Kau, gadis yang ceroboh!" ujarnya sebelum dia menghapus jarak diantara mereka.
seorang laki-laki berpakaian militer menemukan sebuah ransel hijau yang tergeletak ditanah. dia mengambil ransel itu kemudian menggeledah isinya namun dia hanya bisa menemukan pakaian dan sebuah handphone flip berwarna merah muda. dibukanya handphone itu kemudian mata onyxnya menangkap gambar seorang gadis cantik berambut merah muda menghiasi halaman depan layar handphonenya.
"Ternyata kau masih hidup, terimakasih Kami-sama." gumamnya pelan. lalu dibelakangnya terdengar suara orang-orang yang memanggil namanya. buru-buru dia memasukkan handphone yang di temukannya itu kedalam saku celananya kemudian ransel hijaunya dia lemparkan kedalam semak belukar yang ada didepannya.
"Ketua, apa anda menemukan sesuatu?"
"Tidak."
TBC
Chap dua selesai dengan tidak elit-nya. Entahlah fic yang Ra buat rasanya gak ada Feel-nya. Datar-datar aja gitu seperti hati penulisnya hohoho curhat.
Ra sudah berjuang dan inilah hasilnya. setelah membaca chap dua ini Ra mohon reviewnya untuk meningkatkan kualitas penulisan Ra.
terima kasih sebelumnya...
see you...
