Setelah aku dan si pirang Dobe kembali ke kelas. Ternyata kami melewatkan salah satu kegiatan, yaitu menggosok gigi. Yah, teman-teman kami yang lain telah melakukan kegiatan itu. Dan sekarang mereka semua tengah berada di tempat tidur mereka masing-masing sembari mendengarkan guru Iruka mendongeng. Tinggallah aku dan Naruto yang belum menggosok gigi.

Huuh... kalau saja si Dobe itu tak perlu melakukan hal bodoh ketika ke warung. Pasti aku sudah bersama yang lainnya. Dasar baka dobe!

"Iluka sensei... Iluka sensei ini kue sama koyonya,"ucap bocah pirang itu sembari menyerahkan koyo dan kue yang tadi kami beli.

"Ah... iya Naru-chan makasih ya,"jawab guruku sembari tersenyum kearahnya dengan tatapan menjijikan. Entah kenapa rasanya aku ingin sekali membawa pergi si Naruto itu dari hadapan guru Iruka.

"Nalu kan cowok, masa dipanggil 'chan' syi?"gerutunya tak terima dengan bibir yang sengaja dikerucutkan. Dengan pipi tembamnya serta mata birunya, menjadikan dia nampak menggemaskan sekali. Rasanya ingin sekali kucubit pipi gembilnya itu.

"Ahaha iya-iya Naru itu memang cowok, tapi wajahmu itu manis sekali. Tak apa ya sensei panggil Naru-chan. Boleh kan?"

"Iya deh telselah sensei aja. Nalu ngantuk. Hoaam,"ucapnya sambil menguap dan menggaruk-garuk kepalanya yang kuyakin tidak gatal.

"Yasudah Naru-chan ganti baju dulu sama gosok gigi. Baru nanti Naru bergabung sama kami. Naru bisa 'kan mengerjakannya sendiri? Gomen-ne sensei gak bisa membimbing Naru. Kalau Naru tidak bisa tanya aja sama Sasuke. Sasuke bisa kan?"ucap Iruka sensei panjang lebar. Yang kujawab dengan dua huruf andalanku yaitu 'Hn.'

Apa dia tidak menyadari bahwa si Dobe itu tak mendengarkannya? Sepertinya dia lelah sekali, kasihan. Eh? Apa? Aku simpati padanya? Yang benar saja. Tetapi mana ada sih orang yang bisa tahan dengan keimutan dan kepolosan bocah itu? Semua orang pun akan berpikiran sepertiku 'kan?

.

Title: Hari-hari Sasuke

Disclaimer: © Masashi Kishimoto

Rated: T

Genre: Friendship

.

Aku telah selesai memakai piyama kesayanganku yang berwarna biru dongker dengan motif pesawat. Ketika aku baru saja mengoleskan pasta gigi ke sikat gigiku, suara rengekan si dobe itu menggelegar ke seisi toilet. Huh dasar merepotkan.

"Huwaa Nalu gak bisya pakai ini,"teriaknya didalam kamar mandi.

Tanpa aba-aba lagi langsung saja kudobrak pintu kamar mandinya yang ternyata tidak dikunci olehnya.

"Ada apa sih Naruto? Kau ini berisik sekali,"omelku.

"Um... Sasyuke ini Nalu ngga bisya pakai piyama ini. Soalnya Kaa-chan yang selalu memakaikan piyama Nalu," terangnya.

"Dasar anak manja. Kau ini makanya sekali-sekali belajar mandiri dong. Huh. Lihat saja masa kancing yang paling atas kau kaitkan di kancing nomor tiga. Dasar Dobe!"ucapku sambil membetulkan kancing piyamanya.

"Gomen ne Nalu lepotin Sasyuke," ucapnya sambil memperhatikanku yang tengah memakaikan piyamanya. Yang kutanggapi dengan dua huruf andalanku.

"Nah selesai. Lain kali kau harus belajar memakai piyamamu sendiri. Bagaimana kau mau memacari seorang gadis jika kau pakai piyama saja tidak becus," tuturku padanya begitu selesai memakaikan piyamanya.

"Kata Kaa-chan Nalu masih kecil, jadi ngga boleh pacal-pacalan. Lagian 'kan ada Sasyuke yang temenin Nalu. Jadi Nalu ngga mau punya pacal," ucapnya. Aku sedikit tercengang mendengar ucapannya. 'Ngga mau punya pacar karena ada aku yang menemaninya?'. Yang benar saja. Kurasa kan kedua pipiku menghangat.

Aku segera tersadar bahwa aku ini seorang Uchiha. Lantas saja aku menyuruhnya menggosok gigi demi menutupi rasa maluku. "Sudahlah Naruto lebih baik kita menggosok gigi, sepertinya yang lain tengah menunggu kita."

"Um!"

Kami lalu melanjutkan kegiatan kami dengan menggosok gigi. Naruto, dia itu orang yang bawel sekali. Bahkan disela-sela kegiatan menggosok giginya, dia masih sempat-sempatnya mengoceh hal-hal yang tidak penting. Dengan mulut yang penuh dengan busa masih saja dia mengoceh.

"Babuke ogolnya wasanya mangis sekawi ya. Kaya pelmen Nawu jagi pengen wakan ogolnya," ucapnya ngga jelas dengan mulut penuh busa.

"Hei Dobe! Kau itu selesaikan dulu menggosok gigimu. Lalu kumur-kumur, jangan bicara disaat kau menggosok gigi nanti kau bisa tersedak," omelku padanya setelah aku selesai menggosok gigi.

Baru saja aku selesai berucap. Sekarang dia malah tersedak busa gara-gara kebanyakan ngomong. Huh dasar dobe!

"Ohok... ohok... ohok," si Dobe itu terbatuk-batuk akibat ulahnya sendiri. Dia terus terbatuk-batuk sampai wajahnya menjadi merah matang. Awalnya aku malas sekali membantunya. Tetapi lama-lama aku merasa kasihan kepadanya.

Aku langsung memberinya segelas air keran dan menyodorkan kepadanya, "Ini kumur-kumur dengan ini, tapi pertama-tama kau muntahkan dulu busa yang ada dalam mulutmu itu."

Dengan cepat dia mengambil gelas yang tadi aku sodorkan kepadanya. Tunggu, kenapa dia malah meminumnya? Dia itu memang tidak tahu apa kelewat dobe 'si? Masa air mentah dia telan?

"Haah... Leganya," ucapnya sambil menyeka mulutnya.

"Dasar dobe! Airnya jangan ditelan itu hanya untuk kumur-kumur. Itu kan air mentah nanti perutmu bisa sakit!" omelku padanya.

"Habisnya Nalu telsedak, Kaa-chan selalu memberi Nalu ail putih ketika Nalu telsedak," jawabnya innocent. Aku hanya bisa menepuk jidatku ketika mendengar jawabannya. Kami-sama kenapa kau memberikan aku teman yang kelewat Dobe...

.

Ketika kami sampai diruang tidur dimana teman-teman kami menunggu ternyata Iruka sensei hampir selesai mendongengnya. Dan akan dilanjutkan dengan doa bersama dan tidur. Namun kulihat Shikamaru dan Chouji telah terlelap duluan.

"Sasuke, Naruto kenapa kalian lama sekali? Yasudah lebih baik kalian ke tempat tidur kalian masing-masing. Sudah hampir larut malam," ucap Iruka sensei. Tanpa basa-basi aku langsung menuju tempat tidurku. Kulihat si dobe juga langsung ke tempat tidurnya.

Setelah selesai berdoa. Iruka sensei mematikan lampu ruangan dan mengucapkan selamat tidur dan pergi keluar. Meninggalkan kami yang akan tertidur.

Baru saja aku menutup kedua mataku dan ingin menuju alam mimpiku. Namun lagi-lagi si Dobe mengganggu ketenanganku dengan menelusup kedalam selimutku. Membuatku terpaksa memperlihatkan onyxku kembali.

"Dobe! Kau ini apa-apaan sih? Aku mau tidur sana kembali ke tempatmu sendiri!" bentakku.

"Sasyuke, aku tidul sama Sasyuke ya, Nalu takut. Ditempat Nalu selam. Gelap sekali, Nalu ngga biasa tidul gelap," rengeknya.

"Huh Dobe! Aku mau tidur aku lelah. Tak ada yang perlu kau takuti. Sudahlah sana kembali ke tempatmu!" teriakku yang sepertinya cukup keras.

"Hush! Sasuke jangan berisik!" teriak Neji.

"Kumohon..." pintanya. Walaupun gelap namun aku masih dapat melihat mata biru itu yang tampak memelas. Karena lelah aku terpaksa membiarkan dirinya tidur bersamaku.

"Huuh... Ya sudahlah. Tapi kau jangan menggangguku."

"Benalkah? Aligatou Sasyuke," ucapnya girang.

"Hn."

.

.

.

Pagi hari yang indah. Suasana yang damai. Dimana burung-burung berkicau dan ayam berkokok. Kubuka perlahan kelopak mataku yang menampilkan iris onyx kelamku. Rasanya mataku kembali segar seusai tidur semalaman. Tetapi, mengapa rasanya badanku susah sekali untuk digerakkan. Apa aku mengalami kelumpuhan mendadak? Oh tidak, yang benar saja. Itu tidak mungkin. Lantas kenapa?

Huh... Pantas saja, si dobe itu menjadikan aku sebagai gulingnya. Ukh... Sesak sekali rasanya. Dengan hati-hati kusingkirkan kedua tangan dan kakinya dari tubuhku. Susah sekali rasanya. Dia kuat sekali mencengkramnya. Ketika aku tengah berkonsentrasi dengan cara melepaskan tangan si dobe. Indera pendengaranku menangkap teriakan yang sangat memekakan telinga.

"Huwaa!"

"Ino! Jangan berisik!" omel gadis bercepol dua yang kalau nggak salah bernama Ten Ten.

"Sasuke-kun, kau tak apa? Naruto! Tidak ada yang boleh merebut Sasuke-kun!" teriak Ino. Teriakan yang membangunkan hampir seluruh siswa, kecuali Naruto dan si gendut Chouji.

Baru saja rasa sakit ditelingaku menghilang. Sekarang rasanya telingaku terasa sakit kembali. "Huwaaa! CHOUJI KAU MENGOMPOL !"

Huh... mengapa diawal hariku ini harus diawali dengan hal-hal yang nggak jelas? Oh... Kami-sama...

.

.

Tbc~

Haah... akhirnya selesai juga chap.2. Gomenasai reader *sambil membungkuk* saya lama update ceritanya. Gimana hasilnya? Jelekkah? Hancurkah? Gak jelaskah? Atau bagus? #plaak yang itu ga mungkin -_-

Terima kasih banyak yaa buat yang udah mau baca fic buatan saya ini. Kritik, saran atau hanya sekedar memberi kesan terhadap fic ini silahkan dituangin di kolom review.

Big Hug for reader XD

Maesaroh-chan.