"Nyahahahaha... Chouci, kau mengompol," tawanya dengan terus menunjuk-nunjuk Chouji.

"Diam kau Naru," teriak Chouji dengan wajah sangatlah memerah malu.

Hah... aku tidak tahu darimana bisa dia tertawa seperti itu, padahal dia baru saja bangun dari tidurnya. Tanpa mempedulikan ucapan Chouji, si bocah pirang ini terus saja tertawa.

"Nyahahaha... Sasyuke lihat, Chouci mengom- HUWAA," teriaknya hendak menghampiriku namun terjatuh karena tersengkat oleh selimut.

KECIPAK

"HUUEE... Nalu kena ompolnya Chouci," ucapnya ketika terjatuh tepat digenangan ompolnya Chouji.

"Mwuuahahahaha... rasakan itu, Naru," tawa Chouji puas.

"Sasyukeeee..."

"Ih... jangan dekat-dekat," ucapku mengulurkan tangan mendorong tubuhnya yang hendak memelukku.

"Hyaa... Naruto! Jangan peluk Sasuke-kun dengan tubuh bau pesing begitu!" teriak Ino menarik tubuh si Dobe.

"HUUWAA.." teriaknya dengan mendorong Ino dan menarikku untuk menyeimbangkan dirinya yang hendak jatuh.

Dan akhirnya... kami bertiga mandi ompol Chouji. Tampak Ino menatap tajam ke Naruto sedangkan si Dobe itu malah berlindung di belakangku. Dan Chouji... dialah yang saat ini terlihat sangat bahagia melupakan rasa malunya.

'Hah... akan jadi apa hari-hariku ini.'

Hari-Hari Sasuke

Naruto © Masashi Kishimoto

Rate : T

Pairing : SasuNaru

Genre : Friendship

Warning : Typo, OOC, Alur secepat roket, AU, dll.

"Nah, anak-anak, acara menginap kita berakhir, apa acaranya menyenangkan?" tanya Iruka-sensei.

"Menyenangkan," jawab semua serempak minus aku dan dua sahabatku.

Dengan begitu, semua pun bubar. Anak-anak lain mulai menghampiri orang tua mereka yang datang untuk menjemput mereka. Aku pun memilih duduk diam dikursiku selagi menunggu seseorang menjemputku.

"Ne, ne, Sasyuke... Sasyuke malah sama Nalu ya?" tanyanya yang tiba-tiba saja muncul didepan wajahku dengan wajah hendak menangis.

"Hn," jawabku singkat.

"Hn itu altinya apa Sasyuke? ... tuh 'kan, Sasyuke malah..." ucapnya dengan butiran air menggenang dimata indahnya.

"... tidak, aku tidak marah kok," ucapku mengelus-elus surai pirangnya.

"Hontou? Aligatou, Sasyuke. Aku syayang Sasyuke," ucapnya memelukku.

'Mungil,' pikirku dengan memeluknya balik.

Setelahnya, ia pun melepaskan pelukan kami dan menatapku lurus.

"Ne, Sasyuke, apa kau belum dijemput?" tanyanya.

Aku pun hanya menggelangkan kepala yang kemudian ditarik olehnya keluar kelas.

"Kita main di kotak pasil aja yuk," ajaknya dengan tersenyum lima jari khas-nya.

Tanpa banyak protes, aku pun membiarkannya terus menarik-narikku menuju kotak pasir. Sesampainya disana dia langsung berlari dan masuk ke kotak pasir itu mendahuluiku. Tampak wajahnya sangat senang sekali. Entah karena pasirnya atau karena dia bersamaku ya.(Lihat, betapa percaya dirinya si Uchiha bungsu kita ini.)

Aku pun mengikutinya masuk ke kotak pasir dan diam menatapnya yang entah sedang membentuk apa dari pasir-pasir itu.

"Kau sedang buat apa?" tanyaku.

Kemudian dia mendongakkan kepalanya dengan senyum lebarnya, "Aku sedang membuat onigili untuk Sasyuke."

'Onigiri? Dia bilang dia sedang membuat onigiri?' tanyaku heran bila melihat apa yang ia bentuk. Bentuk itu... bukanlah segitiga, kotak ataupun bulat. Oval pun tidak.

"Dobe," ucapku yang ternyata terdengar olehnya.

"Ih... Sasyuke, sudah belapa kali Nalu kasih tau, nama Nalu itu bukan Dobe, tapi Na-lu-to," ucapnya dengan mengeja namanya tersenyum manis.

Aku pun memalingkan wajah tak mau ia melihat pipiku yang saat ini tengah menghangat melihat senyumnya.

"Wah... kau sedang buat apa? Bagus lho,"

Mendengar suara yang asing itu, aku kembali menatap si Dobe. Tepat disamping si Dobe itu, seorang anak laki-laki berkulit pucat dan bersurai hitam pendek ikut berjongkok dan merangkul pundak Naruto.

"Makasih... hehehe, Nalu sedang buat onigili lho," jawabnya riang karena dipuji.

"Um.. jadi namamu Naru, namaku Sai, apa aku boleh minta onigiri buatanmu?" tanya si anak laki-laki yang mengaku bernama Sai itu dengan terus mendekati Naruto.

"Kita pergi!" ucapku dengan menariknya menjauh dan kembali masuk ke dalam gedung.

"Ih.. Sasyuke kenapa sih? Dadah... Sai," ucapnya melambaikan tangannya pada si Sai yang juga sedang melambaikan tangannya tersenyum... mencurigakan.

Tanpa peduli lagi, aku terus menariknya menjauh. Dasar, apa-apaan si Sai itu, seenak jidatnya merangkul DobeKu ini.

Belum lama berjalan, saat dipersimpangan lorong, kami bertemu dengan Iruka-sensei yang tampak kebingungan.

"Naru, Sasuke, kalian darimana saja? dicari-cari ternyata ada disini," Ucap Iruka-sensei yang ternyata sedang bingung mencari kami.

"Aku habis main di kotak pasil belsama Sasyuke," jawab Naruto mengangkat kedua tangannya.

"Kalau begitu sebaiknya kalian menemui ayah kalian yang sudah menjemput kalian," jawab Iruka-sensei.

"Asyik..." teriaknya berlari menuju kelas.

Aku hanya mengikuti dibelakangnya. Sesampainya di kelas, tampak ayahku sedang berbincang dengan seorang pria muda yang mirip sekali dengan Dobe. Ketika melihat pria muda itu, Naruto segera berlari dengan berteriak "Otou-san," yang disambut pelukan hangat pria muda itu.

'Jadi itu ayahnya Naruto,' pikirku.

Pandanganku tak dapat lepas dari ke dua orang itu. Melihat ayah Naruto, aku jadi bisa membayangkan seperti apa Naruto ketika ia besar nanti dan tinggal serumah denganku. Betapa bahagianya aku bisa memiliki mertua setampan dia.

"Sasuke?" tanya Ayahku dengan menepuk pundakku ringan.

"Ah... itu anakmu? Perkenalkan, aku Namikaze Minato, ayahnya Naruto," ucapnya tersenyum padaku.

"Na-namaku Uchiha Sasuke, salam kenal, Namikaze-san," jawabku gugup melihat senyumnnya itu.

"Panggil aku Minato saja, ya. Fugaku-san, anakmu pintar sekali. Tidak seperti Nar- Aw! Naru! Sakit tau," ucapnya mengelus pipinya yang tadi ditarik oleh Naruto yang saat ini tengah digendongnya.

"Baiklah, Nam- eh, Minato-san,"

"Anakmu manis sekali, Minato," ucap ayahku yang saat ini tepat disampingku dan mengelus pipi Dobe.

'AYAH! Jangan sentuh Dobe MILIKKU!' teriakku dalam hati tapi dengan menatap tajam ayahku yang tampaknya tidak dipedulikan olehnya.

"Makasih, paman," jawabnya senang.

"Kau bisa memanggilku Fugaku," ucap ayahku tersenyum.

Tersenyum? Ayahku TERSENYUM? Andaikan ada Aniki dan Ibu disini, mereka pasti akan langsung memotret dan mengabadikan momen ini. Jarang sekali ayah untuk tersenyum. Sangat langka.

"Iya, Fukaku-san," jawab Naruto yang mengucapkan nama ayahku dengan tidak benar. Dasar Dobe.

Setelahnya, kami pulang dengan berjalan berdampingan. Aku dan Naruto berjalan tepat didepan mereka sedangkan mereka tampak asik dengan perbincangan mereka. Dan si Naruto, dia malah asik nyanyi lagu tak jelas dengan mengayun-ayunkan tanganku yang ia gandeng.

'Aku heran, kenapa ayah bisa mengenal ayahnya Naruto? Apa mereka itu teman sejak lama, apa baru saja berkenalan tadi? Tapi kalau baru berkenalan, mereka terlalu akrab,' Pikirku dengan melirik ke belakang melihat mereka masih berbincang dan terkadang ayahku tertawa kecil. Melihat ayah tertawa aku jadi merinding sedikit. Apakah hari ini akan terjadi hal buruk?

"Ne, Sasyuke, ayo kau ikut menyanyi," pinta Naruto dengan menatapku polos.

"Tidak,"

"Onegai..." mohonnya dengan puppy eyes no jutsu.

"Baiklah," aku menyerah.

Kemudian dia mulai tertawa bahagia karena jurus memohonnya itu berhasil. Tentu saja berhasil, wajahnya sangatlah manis ketika menggunakan jurus itu.

Dia pun memintaku untuk menyanyi dengan semangatnya. Mau tak mau aku pun mulai menyanyi,

"Marukate ebisu ni oshi oike. Ane-san rokakku tako nishiki. Shi aya bu taka matsu man gojyou. Setta chara chara uonotana. Rokujyou hijyou toorisugi. Hachijyou koereba touji michi. Kujyou oujite todomesasu."

Aku pun selesai menyanyi dan menemukan Naruto terdiam, begitu pula dengan ayahku dan ayah Naruto. Apa karena suaraku yang bagus ya?

PLOK PLOK PLOK

"Wah, Sasyuke, lagunya bagus sekali," puji Naruto bertepuk tangan.

"Terim-"

"Tapi sualamu jelek," potongnya.

KRRAKK

'Habis sudah percaya diriku'

"Sasuke-kun, kau belajar dari siapa lagu itu?" tanya Minato-san padaku.

"Kau tahu lagu itu?" tanya ayahku pada Minato-san.

"Aku pernah diajarkan teman kuliahku dulu, lagu itu seperti ini, Marukate ebisu ni oshi oike. Ane-san rokakku tako nishiki. Shi aya bu taka matsu man gojyou. Setta chara chara uonotana. Rokujyou hijyou toorisugi. Hachijyou koereba touji michi. Kujyou oujite todomesasu," jawab Minato-san dengan menyanyikan lagu itu dengan SEMPURNA.

Naruto menatap dengan mata berbinar dan ayahku terkagum. Sedangkan aku, terpesona. Semburat pink mulai terlihat dipipinya karena malu dipandang seperti itu.

"Lu-lusa nanti rencananya kami sekeluarga akan jalan-jalan ke Osaka karena Kushina-chan menang kupon jalan-jalan ke Osaka untuk 7 orang, apa kalian mau ikut? Kami masih kurang 4 orang lagi," tawarnya untuk menutupi wajah malunya.

"Kami akan ikut," jawab ayahku cepat, tepat, akurat dan terpercaya. O.O

"Osaka? Yang ada Kowosyiennya ya, Tou-san?" tanya Naruto menatap ayahnya.

"Maksudmu Koushien? Itu adanya di Nishinomiya, Dobe," jawabku.

"Kalau gitu, yang ada patung budha besal dan kijang?" tanyanya merentangkan tangan menggambarakan patung budha besar itu.

"Itu perfektur Nara, Dobe. Bagaimana sih geografimu itu,"

"Huuh... bialin aja," ucapnya ngambek dan mengembungkan pipinya. Imut.

"A-anakmu, sangat pintar Fugaku-san," puji Minato heran melihat anak sekecil itu tahu banyak hal.

"Hn,"

Sesampainya di perempatan jalan, kami pun berpisah. Naruto dan ayahnya berbelok ke kanan sedangkan aku dan ayahku ke kiri. Dengan masih penuh semangat, Naruto terus saja melambaikan tangannya dan berteriak.

"Sampai jumpa lusa, Sasyuke. Nanti kita akan jalan-jalan belsama-sama,"

Tbc

Bagaimanakah jadinya jalan-jalan ke dua keluarga itu? kita akan mengetahuinya setelah yang satu ini #ppllaakkk,memangnya acara televisi =3="

Oh ya, lagu yang dinyanyika oleh Sasuke dan Minato-san itu boleh dapet dari Detective Conan the movie (lupa judulnya, yang pasti waktu itu mereka lagi di Kyoto) mwuahahaha... keseringan aku nyanyiin jadi suka sama lagu itu XD

Ceritanya jelekkah? Hancurkah? Gak jelaskah? Atau bagus#pplaakk, hehehe

Please, review^^

Terima kasih juga bagi yang sudah membaca cerita ini^^