UNTIL THE END
Main Pair : YeWook
Cast : Suju Member
Genre : Romance, Angst / Tragedy
Rating : T
Warning : Gender Switch, Typos, tidak sesuai EYD, etc
Desclaimer : Cast bukan punya saya *Sigh* Tapi FF ini pure milik saya.
Preview
"Diagnosa sementara saya emm.. Ryeowook menderita ataxia."
Yesung POV
Ataxia? Wookie menderita ataxia? Kurasakan mataku memanas, tanpa bisa kutahan, air mataku pun membasahi pipiku.
"Tapi ataxia bisa disembuhkan kan, dok?" tanya Jongsoo-ajhuma sambil terisak. Youngwoon-ajhusi yang masih berusaha menunjukkan ketegarannya menahan tubuh Jongsoo-ajhuma yang lemas.
"Beberapa jenis ataxia tidak dapat disembuhkan. Kita berdoa saja, mudah-mudahan yang terbaiklah yang terjadi padanya."
"Ne. Gamsahabnida, uisanim." Youngwoon-ajhusi menuntun Jongsoo-ajhuma ke kursi yang tersedia di lorong rumah sakit itu.
Choi-ajhusi menepuk bahuku pelan. "Kuatlah, Jongwoon. Kuatlah untuk yeojachigumu. Dia pasti membutuhkanmu."
"Ne. Gomawo, Siwon-ajhusi." Segera kuhapus air mataku dan kuperhatikan dirinya dari kaca jendela kecil di pintu itu.
Wajah pucat nya sekarang terlihat tenang dan damai. Berbeda sekali dengan yang tadi.
Tuhan, tolonglah. Aku tidak pernah memohon apapun padaMu. Semua yang terjadi selalu bisa aku terima. Tapi, kali ini saja Tuhan. Ini permohonan pertamaku dan mungkin juga yang terakhir. Biarkan aku bersamanya selamanya.
~Skip Time~
Disinilah tubuhku, di ruangan kelasku. Dan disanalah pikiranku, di lapangan dimana seorang yeoja berwajah pucat namun manis duduk sendiri memandang sedih teman-temannya yang sedang berolahraga entah apa. Tidak penting. Hanya yeoja itu yang kulihat. Penjelasan Park seosae tentang bahan kimia pun tak kudengarkan lagi.
Ini sudah tiga bulan sejak kejadian 'tersedak' itu. Dokter pun sudah memvonis bahwa Wookie menderita ataxia. Kuhabiskan waktuku sebulan ini hanya untuknya. Sungguh, tak ada hal lain yang ingin kulalukan selain bersamanya. Choi-ajhusi juga menyuruhku selalu memantau keadaannya.
"Kim Jongwoon!" Seseorang memanggilku namun aku tak berniat untuk mengalihkan pandanganku.
"Kim Jongwoon!" Panggilnya lagi. Kali ini Donghae mengikutku.
Kualihkan pandanganku. Kini Park seosae berada di hadapanku.
"Ne. Waeyo, seosaenim?" Pertanyaanku sepertinya membuat dia marah namun ditahannya.
"Bisakah kau memperhatikaku saat aku mengajar?" Tanyanya. "Kalau dulu kau tidak mempaehatikan pelajaran, tak jadi masalah karna nilai-nilaimu selalu bagus. Tapi sekarang.." Tia diam dan tidak melanjutkan ucapannya. "Ah, sudahlah. Kau temui saja Kim seosae sekarang." Titahnya.
"Ne, seosae." Akupun melangkahkan kakiku keluar kelas menuju ruangan yang bertuliskan BK di pintunya.
Tok.. Tok.. Kuketuk pintu itu. Dari sini aku dapat mendengar suara Kim seosae yang menyuruhku masuk.
"Permisi, Kim seosae. Park seosae menyuruh aku untuk menemuimu."
"Ne, duduklah." Katanya sambil menunjuk kursi didepannya.
"Kau mau minum sesuatu?" Tanyanya.
"Ani. Langsung saja seosae."
Kim seosae menghela nafasnya.
"Aku sudah menghubungi orangtuamu perihal nilai-nilaimu akhir-akhir ini."
Aku hanya diam.
"Kim Jingwoon. Kau itu salah satu murid terpintar disini. Dan sepertinya aku mengerti alasan kenapa nilai-nilaimu turun akhir-akhir ini."
Ya, para seosae dan beberapa teman terdekatku dan Wookie mengetahui keadaan Wookie sekarang.
"Kau tentu tau. 2 bulan lagi seluruh siswa kelas XII akan ujian kelulusan dan ujian masuk universitas tentunya."
"Ne."
"Apa kau mau tidak lulus?"
Tidak lulus? Berarti aku akan mengulang. Dan mungkin aku dapat bersama-sama Wookie.
"Aku atau apa yang ada dipikiranmu, Jongwoon." Lanjutnya. "Kau ingin tidak lulus dan bersama Kim Ryeowook kan?"
Sepertinya seosae dapat membaca pikiranku.
"Kim Jongwoon. Bagaimanapun kau tetap harus memikirkan masa depanmu. Ryeowook-shi juga pasti tak ingin masa depanmu hancur. Pikirkanlah lagi. Pilihlah yang terbaik. Dan kembalilah menjadi Kim Jongwoon yang dulu sangat populer." Tiba-tiba ia berdiri dan mengambikan cermin untukku..
"Aigo, lihatlah. Kemana wajah tampan mu itu?"
Aku tersenyum tipis. Sekarang aku memandang pantulan diriku di cermin kecil itu. Pantas saja Kyu mengatakan kalau aku terlihat seram.
Wajahku kusut. Ada bundaran hitam disekitar mataku. Bibirku pecah-pecah. Dan tubuhku yang semakin kurus. Mungkin kalau aku jalan berdua dengan Wookie, orang-orang akan mengira bahwa akulah yang sakit.
"Gomawo, seosaenim."
Kim seosae membalasku dengan tatapan lembutnya.
Kulangkahkan kakiku keluar menuju atap sekolah. Sebenarnya ini masih jam pelajaran. Tapi aku ingin menyendiri dulu sebentar.
Kulihat lapangan yang sudah kosong sekarang dari sini. Mungkin Wookie sudah masuk ke kelasnya. Karena ada Sungmin dan Eunhyuk bersamanya. Aku lebih tenang.
Wookie POV
Ini sudah 3 bulan sejak itu. Aku senang Yesung Oppa selalu menemaniku. Aku ingin seperti ini selamanya. Umma menyuruhku agar meminta Oppa untuk menjalani hidupnya sendiri. Jujur, aku tak bisa. Aku tau ini egois terutama dengan keadaanku sekarang. Tapi aku tak mau Yesung Oppa meninggalkanku.
"Wookie, apa kau ingin pergi ke toilet? Aku temani." Tanya Minnie.
Seperti inilah keadaanku sekarang. Sahabatku terlalu mengkhawatirkanku dan selalu menemaniku kemanapun aku pergi kalau Oppa tidak menemaniku. Mereka mungkin takut tiba-tiba aku jatuh atau mungkin pingsan. Dan sebenarnya sekarang pun aku tak bisa jalan kalau tak ada yang menopangku.
Dan walaupun keadaanku seperti ini, aku tak mau melepaskan Yesung Oppa. Aku tau aku egois menginginkan seorang namja –hampir- sempurna itu untuk bersama seorang yeoja penyakitan sepertiku. Ya, sekali lagi, aku tau aku egois. Tapi aku tak bisa tanpanya.
"Wookie?" Tanya Minnie lagi.
"Ani. Aku mau pergi ke atap sekolah." Yesung Oppa pasti disana sekarang. Kalau diatidak menemuiku, pasti dia berada di atap atau taman belakang. Aku sudah hapal.
"Oh.. Kajja, kita ke atap."
"Ani. Aku sendiri."
"Tapi.."
"Gwenchana, Minnie-ah. Aku bisa sendiri. Lebih baik kau menemani dia saja." Kuarahkan jari telunjukku pada namja evil yang baru saja masuk ke kelasku.
Minnie pun mengikuti arah yang aku tunjukkan. Seketika rona merah terlihat di wajahnya.
"Ne. Minnie, aku pergi dulu ya." Aku berdiri dan melangkah pergi dari tempatku.
Kuakui aku agak susah bergerak. Rasanya kaku disekujur tubuhku. Tapi aku ingin memberi mereka ruang untuk berdua.
"Annyeong, Wookie noona." Sapa Kyu saat berpapasan denganku.
"Annyeong, Kyu."
"Mau kemana? Perlu ditemani?"
"Ani."
"Eumm.. Noona sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan sebentar dengan noona."
"Ne. Bicaralah."
~Skip Time~
Sekarang aku sudah di atap sekolahku. Kulihat namja yang kucintai tertidur dalam posisi miring bersandar di dinding. Pasti tidak enak tidur dalam posisi seperti itu. Kududukkan diriku di sebelahnya. Menarik pelan tubuhnya dan menidurkan nya di pahaku. Kuperhatikan dirinya.
Kusentuh wajah tampannya yang sekarang kelihatan sangat kusut. Seperti orang yang kelelahan. Rambutnya sekarang sudah sangat panjang. Dan tubuhnya kurus sekali.
Kenapa baru sekarang aku memperhatikannya? Sudah berapa lama dia seperti ini? Apa ini benar-benar karenaku?
Kulayangkan pikiranku pada percakapan ku dengan Kyuhyun yang diikuti Sungmin tadi.
Flashback On
"Noona, bagaimana keadaanmu sekarang?" Tanya Kyuhyun.
"Kau bisa lihat sendiri, Kyu." Kupaksakan sebuah senyuman terukir di bibirku.
"Apa noona tau keadaan Yesung hyung sekarang?" Tanya Kyuhyun lagi.
Aku berpikir sejenak. Sekilas dia terlihat baik-baik saja. Tapi kalau namdongsaengnya sampai bisa berbicara seserius ini berarti ada sesuatu yang terjadi pada Oppa.
"Emm.. Sepertinya aku tidak tau." Jawabku jujur.
"Dan apa noona tau tentang nilai-nilai Yesung hyung?"
"Ani." Aku benar-benar tak tau. Yesung Oppa tak pernah membicarakannya padaku.
"Pertanyaan terakhir. Apa noona tau noona begitu egois?"
Kulihat Minnie memukul Kyu karena pertanyaannya tadi.
"Ne. Aku tau." Jawanku. Aku memang tau aku egois.
"Wookie, tak usah pikirkan yang Kyu katakan. Kau tidak egois kok." Timpal Minnie sambil menggenggam tanganku erat.
"Tapi Minnie noona, Wookie noona harus tau kenyataannya. Yesung hyung terlalu sering menemani Wookie noona sampai tak ada waktu untuknya sendiri. Kalaupun ada, Yesung hyung hanya diam di tempat tidurnya. Di rumah hyung tak pernah makan. Hyung juga tak pernah belajar lagi." Kata Kyuhyun lagi. "Dan hyung juga tak pernah battle game denganku lagi."
Pletak! Kyu mendapat hadiah jitakan dari Minnie.
"Appo!" Ringisnya. "Wookie noona, intinya, bicaralah dengannya. Minta dia untuk kembali seperti dulu. Appa Umma yang memintaku untuk meminta bantuanmu. Karena sekarang Yesung hyung tak pernah mendengarkan mereka lagi. Hankyung appa dan Heechul umma tidak akan melarang hubungan kalian. Tapi appa umma ingin hyung kembali menjadi dirinya yang dulu."
"Kembali menjadi namja populer yang keren, tampan, pintar, jago olahraga dan bersuara merdu." Tambah Minnie.
"Yak! Minnie noona, kenapa noona bilang begitu. Aku juga populer, tampan, pintar dan suaraku juga bagus." Kyu cemberut.
"Ya, tapi kau nomor dua setelah Yesung Oppa." Celetukku. Minnie tertawa.
"Yak! Wookie noona. Dia namjachigumu. Karena itu kau bilang begitu." Kyu mengalihkan pandangannya ke Minnie. "Noona, katakan aku lebih tampan, pintar dan lebih segala-galanya dari Yesung hyung." Katanya sambil memberikan wajah aegyonya.
"Ani." Jawab Minnie. "Dan hentikan wajah aegyomu itu. Aneh." Katanya lalu tertawa.
"Aish!" Kyuhyun pergi. Anak manja itu ngambek.
"Apa tidak apa-apa Kyu pergi begitu saja?" Tanyaku.
"Gwenchana. Nanti dia juga akan kembali seperti biasa." Jawabnya.
"Emm.. Aku pergi dulu ya, Minnie."
"Ne. Hati-hati ya."
"Ne."
Flashback Off
Yesung POV
Apa aku ketiduran? Kubuka mataku perlahan.
Kulihat seorang yeoja seperi malaikat sedang memandang lurus ke depan.
"Wookie." Kupanggil yeoja itu.
Dia mengalihkan pandangannya padaku. "Ne. Waeyo Oppa?"
"Wake up kiss.."
"Pervert!" Wajahnya mulai memerah sekarang.
"Ayolah, Wookie. Kau sayang Oppa kan?"
"Ne.. Ne.."
Dia mendekatkan wajahnya padaku. Mencium sekilas bibirku.
Hanya sekilas. Tapi itu cukup membuatku senang. Biasanya wookie hanya mencium pipiku.
Kubangunkan tubuhku. Sekarang aku duduk di sebelahnya.
"Oppa, apakah kau akan bersamaku selamanya?" Tanyanya.
"Ne. Oppa akan selalu bersamamu, Wookie chagi."
"Walaupun hidupku sebentar?" Tanyanya lagi.
Kenapa tiba-tiba dia bertanya seperti ini?
"Ani. Chagiya, hidupmu tidak sebentar. Kau akan hidup lama. Sampai menjadi halmeoni dan akulah halbeojinya."
Dia tersentum tipis.
"Oppa, berjanjilah padaku. Oppa akan kembali menjad Oppa yang dulu."
"Apa kau tidak suka bersamaku terus, Chagi?" Tanyaku.
"Ani. Bukan itu maksudku. Tapi pikirkanlah juga hidupmu, Oppa. Aku tau selama ini aku egois sekali. Aku bahkn tidak memikirkan Oppa. Aku tidak tau sekarang Oppa begitu kacau."
Butiran bening mulai muncul di mata onyxnya. Segera kuhapus butiran bening itu sebelum membasahi pipinya.
"Ne. Ujima, Wookie-ah. Aku janji akan kembali seperti dulu."
Keheningan pun melanda kami.
"Oppa, maukah kau bersamaku sampai akhir?" Tanyanya memecahkan keheningan. Pertanyaan yang tidak jauh beda dengan pertanyaan pertama. "Bersama yeoja penyakitan sepertiku?" Tambahnya.
"Oppa akan bersamamu selamanya sampai akhir tidak peduli kau sakit atau tidak." Kataku bersuaha meyakinkannya.
"Tapi aku tidak mau bersama Oppa sampai akhir."
Apa maksud ucapannya?
"Aku tak ingin menjadi yeojachigu Oppa lagi."
TBC.
Annyeong!
Author bikinnya kilat nih. Hehehe..
Mian kalo kependekan.
Gomawo yah buat semua yang uda ngereview n ngebaca FF ini.
Akhir kata, review. Ne? :)
