UNTIL THE END

Main Pair : YeWook

Cast : Suju Member

Genre : Romance, Angst / Tragedy

Rating : T

Warning : Gender Switch, Typos, tidak sesuai EYD, etc

Desclaimer : Cast bukan punya saya *Sigh* Tapi FF ini pure milik saya.


Preview

"Aku tak ingin menjadi yeojachigu Oppa lagi."


Wookie POV

"Aku tak ingin menjadi yeojachigu Oppa lagi."

Aku mengatakannya. Kubuang semua keegoisanku yang selama ini memenuhi hatiku dan mengatakannya. Aku terlalu mencintainya. Aku tak ingin Oppa mengorbankan semuanya.

"Ani." Hanya satu kata itu yang keluar dari mulutnya.

Kualihkan pandanganku padanya. Dia sedang menatapku sekarang. Jantungku berdetak kencang. Tenanglah, Wookie. Tenanglah.

"Tapi aku tak ingin menjadi yeojachigu Oppa lagi."

"Kau tidak boleh memutuskannya secara sepihak, Wookie. Kau tidak mendapat ijinku."

Aku berdiri. "Terserah apa kata Oppa. Sekarang aku bukan yeojachigu oppa lagi."

Kulangkahkan kakiku dari tempat itu. Kubalik tubuhku sebentar. "Tapi tepatilah janjimu, Oppa." Lalu kulangkahkan kakiku lagi.

Greb!

Yesung oppa memelukku dari belakang.

"Please, Wookie. Jangan begini. Saranghae, Wookie." Dapat kudengar suaranya mulai bergetar.

Aku ingin bertahan seperti ini. Aku ingin mengatakan 'Nado'. Tapi aku tidak boleh seperti ini.

Kulepas paksa pelukannya dan memaksa tubuhku ini untuk bergerak lebih cepat menuruni tangga ini.

Mianhe, Oppa.

Jeongmal Mianhe.

Berbahagialah. Lupakan saja aku.

Saranghae, Oppa.

Yesung POV

Ini sudah seminggu setelah kejadian itu. Wookie tak pernah muncul lagi. Dia tak pernah masuk sekolah lagi. Apa penyakitnya semakin parah?

Sudah kucoba mendatangi rumahnya. Namun kata tetangganya rumah itu seperti tak berpenghuni lagi. "Rumah itu seperti tak ada yang meninggalinya lagi. Kadang-kadang saya mendengar suara mobil tengah malam. Mungkin itu Youngwoon-shi atau Jongsoo-shi yang pulang sebentar kemudian pergi lagi." Begitu kata tetangganya.

Sudah kuciba juga meneleponnya berkali-kali. Bahkan menelepon kedua orang tuanya. Namun tak diangkat.

Sungmin dan Eunhyuk pun tidak tau dimana Wookie sekarang –atau mungkin tidak mau memberitahu-.

Kupejamkan mataku. Mencoba mengingat senyumnya yang sudah lama tak kulihat.

Normal POV

Seorang namja duduk di bawah pohon yang rindang di taman SM High School itu. Matanya terpejam. Entah apa yang ada di pikirannya.

Setetes butiran bening turun dari matanya membasahi pipinya. Dua tetes. Tiga tetes. Dan sekaran sudah tak terhitung lagi seberapa banyak butiran bening itu membasahi chubbynya.

Sementara itu ada 5 orang yang memperhatikannya dari jauh.

"Hyukkie, apa seharusnya kita memberitahunya saja?" Tanya seorang yeoja berwajah aegyo.

"Ani. Minnie-ah, kita harus menepati janji kita. Bukankah Wookie meminta kita untuk merahasiakannya?" Jawab yeoja yang diketahui bernama Hyukkie itu.

"Tapi aku tak bisa melihatnya seperti itu." Kata Minnie mulai terisak.

Seorang namja berambut ikal yang juga berada di tempat itu menatap cemburu pada yeoja yang ada di sampingnya ini dan kembali menatap namja yang merupakan hyungnya itu. Sekuat tenaga menahan kecemburuannya. 'Ternyata Minnie masih menyukai Yesung hyung.' Batinnya.

"Ini semua salahmu, Kyu." Kata yeoja aegyo itu lagi. "Kalau saja kau tidak bicara seperti itu pada Wookie. Pasti sekarang mereka masih bahagia berdua."

"Bahagia? Minnie noona. Tak bisakah kau melihat mereka dua itu tidak bahagia. Wookie noona dengan egoisnya mengikat Yesung hyung dan hyung pun dengan sukarela membiarkan dirinya terikat terus sampai tidak memikirkan dirinya sendiri." Kyu berusaha menahan emosinya.

"Tapi keadaanya sekarang malah sepertinya lebih parah dari sebelumnya." Kali ini namja berwajah innocent yang sedari tadi diam ikut berbicara.

Kyuhyun diam. Walaupun dengan perasaan yang berat, dia juga merasakan seperti yang sahabat hyungnya ini rasakan.

'Setidaknya walaupun hyung seperti ini sekarang. Hyung sudah tak terikat lagi dengan Wookie noona. Nantinya dia akan pulih sendiri. Ya, mungkin. Lebih baik Wookie noona meninggalkan nya dengan cara seperti ini. Daripada Wookie noona meninggalkannya karena penyakitnya yang sudah tak tertolong –meniggal- ' Batin Kyu.

'Apa yang harus kulakukan untuk sahabat/sepupuku itu?' Itulah isi pikiran Donghae dan Zhoumi.

'Wookie-ah. Apa pilihanmu ini tepat?' Batin Hyukkie.

'Oppa.. Yesung Oppa.. Jangan menangis seperti itu. Aku tak kuat melihatnya.' Batin Minnie sambil menahan air matanya. 'Wookie-ah. Apa kau akan senang melihat Yesung Oppa seperti ini?'

Keheningan menerpa mereka. Sibuk dengan pikiran masing-masing.

Sekarang hanya menatap namja yang duduk di bawah pohon sana yang sudah membuka matanya. Namun butiran bening masih menghiasi mata dan pipinya. Pandangan matanya kosong.

Tiba-tiba seorang namja berambut ikal beranjak dari tempat itu. Melangkah mendekati namja yang merupakan hyungnya itu.

"Kyu, apa yang akan kau lakukan?" Tanya Zhoumi.

Namun namja itu tidak menjawab dan terus melangkah.

Kyuhyun POV

"Annyeong hyung!" Kusapa dirinya dengan –pura-pura- ceria.

Hyungku itu mengangkat wajahnya menatapku namun tidak menjawabku. Hanya tersenyum –palsu-.

"Hyung! Tak malukah dirimu ketahuan sedang nangis oleh dongsaeng tampanmu ini?" Tanyaku berusaha untuk merubah cuaca hatinya. Kuposisikan diriku disampingnya.

"Tampan? Hahaha… Aku ledih tampan darimu." Katanya sambil tertawa.

Syukurlah dia sudah bisa tertawa sekarang.

"Iyah. Tapi itu dulu. Sebelum hyung jadi seperti ini. Sekarang hyung jelek sekali."

Seketika itu wajahnya berubah muram lagi. Apa aku salah bicara? Pabbo Kyu!

"Ya. Sekarang aku sudah sangat jelek. Bahkan Wookie pun tidak ingin bersamaku lagi." Katanya.

Aish! Pabbo Kyu! Kenapa hyung malah ingat Wookie noona lagi.

"Hyung, apa hyung lupa sudah berjanji pada Wookie noona?"

"Hmm?"

"Janji bahwa hyung akan kembali seperti dulu."

Jangan tanya aku tau darimana tentang janji itu. Tentu saja karena aku mencuri denar saat mereka berada di atap sekolah waktu itu.

"Hahaha…" Tawanya paksa. "-Mantan- Namjachigu seperti apa aku ini. Aku melupakan janjiku."

"Karena itu, hyung. Kembalilah menjadi hyung yang keren seperti dulu." Kutepuk bahunya pelan dan berjalan meninggalkannya ke tempat hyungdeul dan noonadeul tadi.

"Apa yang kau katakan Kyu?" Tanya Hae hyung.

"Hanya mengingatkannya pada janjinya." Jawabku.

"Janji apa?" Tanya mereka semua berbarengan. Sepertinya diantara mereka tidak ada yang tau tentang janji itu.

"Rahasia." Kataku sambil melirik hung ku yang sekarang sudah berdiri dari tempatnya lalu aku pun pergi dari tempat itu.

Yesung POV

"Karena itu, hyung. Kembalilah menjadi hyung yang keren seperti dulu."

Aku tertawa dalm hati. Sejak kapan doangsaeng ku yang manja itu sedewasa ini. Apa aku yang menjadi kekanakan?

Kuangkat kepalaku menghadap langit. Sinar-sinar matahari menyinari wajahku dari celah-celah dedaunan pohon.

Wookie-ah. Aku akan menepati janjiku.

Aku berdiri. Aku harus melakukan apa yang harus kulakukan sekarang.

Kulangkahkan kakiku pergi dati tempat tenangku itu. Pergi ke sebuah ruangan yang bertuliskan Jung Seosae di pintunya.

Tok.. Tok..

"Masuklah."

Kubuka pintu itu dan melangkah masuk.

"Kim Jongwoon? Ada urusan apa?" Tanya Jung seosae.

"Seosaenim. Aku ingin memperbaiki semua nilaiku yang buruk itu. Bagaimana caranya?" Tanyaku to the point.

"Apa kau sudah sadar sekarang?" Tanyanya.

"Ne."

Dia tersenyum. "Baiklah. Gampang saja. Kau tinggal ujian kembali untuk ujian-ujian yang sudah 3 bulan ini kau lalaikan."

"Gamshahamnida, Seosaenim. Kalau boleh tau kapan ujiannya?" Tanyaku.

"Seminggu dari sekarang. Bisa?"

"Ne."

"Oh ya, kau juga harus belajar untuk ujian akhir sebulan lagi. Kau sudah tau kan kalau ujiannya dipercepat?"

"Ne."

"Berusahalah, Jongwoon. Aku tau kau bisa. Fighting! And Welcome back."

"Gomawo, seosae."

Kulangkahkan kakiku keluar menuju perpustakaan. Aku harus belajar mulai sekarang. Fighting!

Normal POV

Seorang namja berambut ikal tersenyum senang melihat hyung nya itu. Mengambil hp yang berada di saku celananya. Menekan beberapa tombol. Dan memposisikan hp nya di telinganya.

"Noona, Yesung hyung sudah kembali."

~Skip Time~

~3 Bulan setelah itu~

Yesung POV

"Chukae, Jongwoon." Jung seosae menyalamiku.

"Chukae." Kim seosae memelukku. "Aku tau kau pasti berubah."

"Gomawo, seosaenim." Dia melepaskan pelukannya.

"Sungie chagi." Suara yeoja yang sangat kukenal.

"Appa! Umma!" Aku berlari menuju mereka.

"Bogoshipo." Kupeluk kedua orang tuku yang selama ini tinggal di china meninggalkan ku dan Kyu disini.

"Nado." Kata umma.

"Appa, Umma kenapa datang tidak bilang-bilang. Aku kan bisa menjemput appa dan umma."

"Ini kan surprice untukmu. Ya kan Chullie?"

"Ne." Umma memelukku lagi. "Chukae, chagi. Anak umma ini memang pintar seperti ummanya."

"Jadi, aku tidak pintar seperti umma?" Tiba-tiba saja namdongsaengku itu muncul entah dari mana.

"Kau juga pintar kok, chagi." Umma memeluk Kyu sekarang. "Bogoshipo, Kyu chagi."

"Nado." Jawabnya. Dan sekarang dia sedang memeluk appa.

"Oh ya, hyung. Chukae. Kau dapat peringkat pertama kan?"

"Ne." Jawabku.

"Oh ya, dimana yeojachigumu itu, Sungie?" Tanya Umma.

Normal POV

"Oh ya, dimana yeojachigumu itu, Sungie?"

Namja bermata sipit itu diam. Begitu juga namja berambut ikal itu.

Namja paruh baya yang merupakan appa mereka sepertinya sedikit mengerti atmosfir yang diciptakan oleh isrtinya itu.

"Chullie, kita pergi dari sini. Ne? Biarkan Yesung bersama teman-temannya dulu."

"Tapi.. Tapi.."

"Kajja!"

Kedua orang tua itu pun pergi dari tempat itu.

Yesung POV

"Yesung! Chukae!"Seorang namja ikan tia-tiba memelukku. Menarikku dari 'dunia diam' ku tadi.

"Chukae, Oppa." Kali ini Hyukkie dan Minnie yang menyelamatiku berbarengan.

"Gomawo." Aku tersenyum lembut.

"Jadi, kau rencana akan kuliah apa?" Zhoumi bertanya.

"Molla." Jawabku. Aku sendiri juga belum tau. "Kalian?"

"Tentu saja Kedokteran." Jawabnya.

"Aku seni."

"Lebih baik, kau pikirkan mulai sekarang." Kata Zhoumi.

"Ne.. Ne.."

Tiba-tiba aku melihat sesosok yeoja yang sangat kurindukan berada jauh dibelakang Zhoumi.

Yeoja itu sepertinya tau aku elihatnya segera lari dan masuk ke dalm sebuah taxi yang baru diberhenrikannya.

"Wookie!" Aku mengejarnya. Mengejar taxi itu sampai akhirnya taxi itu menghilang dari pandanganku.

Aku pun terjatuh di tengah jalan yang sepi itu.

Kyuhyun POV

"Wookie!" Kudengar tiba-tiba Yesung hyung berteriak dan mengejar sesuatu –taxi-.

Aku ikut mengejarnya. Dan sepertinya Zhoumi Hyung, Hae Hyung, Hyukkie Noona dan Minnie Nonna juga ikut mengejar.

Aku menghentikan langkahku. Sekarang yang kulihat hanya Yesung hyung yand sedang terjatuh di tengah jalan. Kepalanya tertunduk. Bahunya bergetar.

Apa hyung nangis lagi? Apa dia akan kembali lagi menjadi dirinya saat Wookie noona meninggalkannya?

Normal POV

Namja sipit itu tiba-tiba berdiri dari tempat terjatuhnya tadi.

Namja itu berjalan kearah namja dan yeoja yang tadi mengejarnya dengan wajah yang menyeramkan (*bayangin Yeppa waktu di SS3 VCR nya Don't Don).

"Dimana Wookie?" Tanyanya entah pada siapa. Semua diam.

Namja itu memfokuskan dirinya pada seorang yeoja berwajah aegyo.

"Lee Sungmin! Katakan dimana Wookie!" Bentaknya pada yeoja yang sudah tertunduk menahan tangis.

Namja berambut ikal pun segera melindungi yeoja itu.

Namja sipit itu tidak menyerah. Sekarang ia fokus pada yeoja berambut pirang.

"Lee Hyukjae! Cepat katakan!"

Yeoja itu tidak menjawab.

"Yak! Yesung! Jangan membentaknya!" Namja berwajah innocent itu menunjukkan emosinya.

"Wae?" Kata namja sipit itu sambil menudukkan kepalanya. "Kenapa kalian menyembunyikannya dariku? Aku sudah bertahan selama ini." Namja itu terisak. "Sekarang aku tak bisa lagi." Namja itu pun terjatuh. Kakinya seakan tidak mampu menahan berat tubuh –dan perasaannya- lagi.

Sungmin POV

"Wae? … … … Kenapa kalian menyembunyikannya dariku? Aku sudah bertahan selama ini." Aku mendengar isakan Yesung Oppa. Kuangkat wajahku yang daritadi tertunduk.

"Sekarang aku tak bisa lagi." Katanya lalu terjatuh.

Sungguh aku tak bisa melihatnya seperti ini.

Kurendahkan tubuhku sejajar dengannya.

"Oppa.. Aku akan membawamu.." Yesung Oppa mengangkat wajahnya. "Aku akan membawamu menemui Wookie."

Wookie POV

"Chagi, darimana kau? Kenapa pergi tidak bilang-bilang?" Umma bertanya padaku.

"Cuma mencari udara segar sebentar." Ucapku berbohong.

"Oh, sekarang istirahatlah, chagi." Kata Umma sambil membaringkanku di tempat tidur rumah sakit ini.

"Ne."

"Jaljayo." Umma mencium keningku dan merapikan selimutku.

"Ne." Aku pun terlelap dalam tidurku.

Jongsoo POV

Kulihat Wookie yang baru sajah masuk ke kamar ini.

"Chagi, darimana kau? Kenapa pergi tidak bilang-bilang?" Tanyaku.

"Cuma mencari udara segar sebentar."

Aku tau dia berbohong. Pasti tadi dia menemui –melihat dari jauh- Yesung. Tapi ya sudahlah.

"Oh, sekarang istirahatlah, chagi." Kubaringkan dia di tempat tidurnya.

"Ne."

"Jaljayo." Kucium keningnya dan merapikan selimutnya.

"Ne."

Tak lama, dia pun terlelap.

Kududukkan(?) diriku di sofa yang tak jauh dari tempat tidurnya.

Aku tau Wookie masih menyayangi Yesung. Dan mungkin juga sebaliknya. Aku sendiri tak tau kenapa mereka berpisah. Yang aku tau hanya kalau Wookie lah yang meminta untuk berpisah. Dan tidak mengijinkannya untuk menemuinya.

Sejak itu, keadaan Wookie semakin parah. Semakin sering jatuh. Semakin sering tersedak. Bahkan kadang samapai pingsan.

Aku tak kuat melihatnya begini.

Terapi yang dia lakukan pun sepertinya sia-sia.

Ceklek!

Suara pintu terbuka. Siapa itu? Bukankah Youngwoon sekarang masih di kantornya?

"Yesung?"

Yesung POV

"Yesung?" Jongsoo-ajhuma menatapku tak percaya. "Kenapa kau bisa disini?"

"Minnie yang membawaku kesini." Jawabku. "Ajhuma, tolong jangan mengusirku." Mohonku.

"Ani. Aku tak akan mengusirmu." Katanya. "Temanilah, Wookie." Jongsoo-ajhuma pun meninggalkanku.

Ku ambil kursi yang tak jauh dari tempat tidur Wookie dan duduk di samping tempat tidurnya.

Kusentuh wajahnya. Mata onyx nya masig sama. Pipi tirusnya juga masig sama. Hidung dan bibirnya juga masih sama. Yang berbeda hanya warna kulitnya yang lebih memucat dari terakhir kali aku melihatnya.

Kusentuh tangannya dan menciumnya. "Bogoshipo, Wookie-ah."

Wookie POV

Kurasakan wajahku disentuh seseorang dan seketika itu aku bangun dari tidurku yang hanya sebentar itu. Aku masih menutup mataku.

Tiba-tiba tanganku disentuh olehnya. "Bogoshipo, Wookie-ah."

Suara ini. Segera kubuka mataku. "Yesung Oppa?"

Yesung Oppa terlihat sedikit terkejut. Lalu tersenyum lembut padaku. Senyum yang sangat kurindukan.

"Wookie-ah apa aku membangunkanmu? Mianhe." Katanya.

"Pergi." Entah apa yang merasukiku sampai aku bisa mengatakan kata itu padanya.

Yesung Oppa diam. Namun tidak bergerak dari posisinya sekarang.

"Pergi!" Bentakku. Kurasakan mataku mulai basah.

"Wookie-ah, apa kau tidak merindukanku?" Tanyanya dengan wajah yang sangat sedih.

"Ani." Air mata menetes keluar dari mataku.

"Kenapa kau menangis? Apa kau benar-benar tak ingin melihatku?" Tanyanya sambil menghapus air mata yang membasahi pipiku.

Aku hanya diam.

"Mianhe." Dia pun melangkah pergi.

Yesung POV

"Yesung Oppa?"

Kuangkat wajahku lalu tersenyum lembut padanya. Pada seorang yeoja yang sangat kucintai.

"Wookie-ah apa aku membangunkanmu? Mianhe."

"Pergi."

Nyuut! Kurasakan sakit saat dia mengatakan itu.

"Pergi!" Katanya lagi.

Nyuut! Sekali lagi rasa sakit itu datang.

"Wookie-ah, apa kau tidak merindukanku?" Tanyaku.

"Ani." Kata itu yang keluar dari mulutnya dan air mata menetes keluar dari matanya.

Apa dia begitu tak mau melihatku? Jadi tadi kenapa dia datang ke acara graduasiku? Apa aku terlalu berharap? Mungkin saja dia hanya lewat.

"Kenapa kau menangis? Apa kau benar-benar tak ingin melihatku?" Tanyaku sambil menghapus air matanya.

Dia diam. Aku hanya pasrah.

"Mianhe." Aku pergi dari tempat itu. Kubuka pintu kamar itu.

Greb!

Seseorang memelukku dari belakang.

"Oppa. Mianheyo." Katanya sambil menangis. "Saranghae, Oppa. Jeongmal Saranghae."

Kubalikkan tubuhku dan memeluknya erat.

"Nado.. Nado saranghae, Wookie-ah."

Aku menangis.

Aku tau aku jadi sering menangis. Menangis karena yeoja yang sedang kupeluk ini. Tapi kali ini aku menangis karena aku bahagia.

Normal POV

"Syukurlah, Kyu. Sekarang mereka bersama lagi." Kata seorang yeoja berwajah aegyo sambil menghapus air matanya.

Namja berambut ikal itu tidak menjawab.

"Gomawo, Minnie-ah. Ini semua karena kau membawa Yesung kesini." Kata seorang yeoja paruh baya.

"Sama-sama, ajhuma. Aku senang melihat mereka bahagia." Jawab yeoja aegyo itu.

~Skip Time~

Yesung POV

Sekarang aku sudah kuliah. Aku mengambil jurusan Kedokteran bersama dengan Zhoumi.

Yah, tentu orang-orang heran dengan keputusanku. Harusnya aku mengambil jurusan management atau perhotelan karena Appaku pemilik hotel Clouds atau mengambil jurusan design karena umaku memiliki boutique. Tapi aku tidak mau. Aku lebih memilih menjadi dokter dan menyembuhkan orang-orang seperti Wookie.

Walaupun sekarang aku sudah kuliah –yang berarti aku sibuk sekali-, tapi aku tetap menyempatkan diriku menemui Wookie.

Dan keadaan Wookie. Sepertinya tidak berubah. Aku sangat sedih saat melihatnya jatuh saat terapi. Namun, Jongsoo-ajhuma bilang bahwa sekarang Wookie telah kelihatan lebih ceria dan lebih semangat terapi. Youngwoon-ajhusi sangat berterimakasih padaku. Seharusnya aku yang berterimakasih pada mereka karena mengijinkanku terus bersama Wookie.

Appa Umma juga tidak melarang hubungan kami. Appa Umma orang yang sangat terbuka. Appa dan Umma ku juga sudah pernah menjenguk Wookie. Bahkan Umma ku memujinya karena ia manis. Saat itu rasa gugupnya pun berubah menjadi rasa malu karena menerima pujian seperti itu dari Ummaku yang cantik itu.

Niga animyeon andwae
Neo eobsin nan andwae
Na ireoke haru handareul tto illyeoneul

Bunyi ponselku membuyarkan lamunanku. Wookie meneponku.

"Ne. Waeyo, Wookie-chagi?"

"Oppa. Apa kau sibuk? Aku ingin kau menemaniku." Terdengar suara merdunya dari sebrang sana.

"Tidak kok. Oppa kesana sekarang yah."

"Ne." Ditutupnya teleponnya.

Segera kubereskan bukuku dan mengambil kunci mobilku.

"Yesung, kau mau kemana?" Tanya Zhoumi.

"Menemui Wookie." Jawabku sambil melangkah pergi.

"Hey! Kita masih ada jam kuliah! Hey! HEYYY!" Teriaknya.

Wookie POV

Entah kenapa aku ingin sekali menemui Yesung Oppa sekarang. Ya, harus sekarang juga. Rasanya seperti akan terjadi sesuatu.

"Chagi, kenapa kau meminta Yesung untuk menemuimu sekarang,chagi? Bukankah harusnya dia kuliah sekarang?" Tanya umma.

"Aku hanya merindukannya, Umma." Jawabku setengah berbohong.

~Skip Time~

"Kita mau kemana chagi?" Tanya Yesung Oppa padaku.

Sekarang aku sudah berada dalam mobil Yesung Oppa. Aku berpikir sebentar.

"Lotte World saja, Oppa. Bolehkan?" Jawabku.

"Ani."

"Tapi aku ingin sekali pergi lagi kesana bersamamu Oppa."

"Nanti, kau kelelahan Wookie-ah."

"Tidak akan. Kita naik wahana yang ringan-ringan(?) saja, Oppa. Boleh yah?" Kukeluarkan puppy eyes ku.

Yesung Oppa melihatku sejenak lalu menghela nafasnya. "Baiklah."

"Yeey!" Teriakku senang.

Yesung POV

"Oppa.. Oppa.. Ayo kita naik itu." Kata Wookie sambil menarik-narikku.

"Wookie chagi. Kita istirahat dulu ne? Aku tak mau kau kelelahan."

"Baiklah. Tapi nanti kita naik itu ya, Oppa."

"Iyah. Sini duduklah." Kutepuk kursi yang ada di sampingku.

"Ne." Katanya sambil duduk. Namun tidak duduk di kursi yang tadi kutepuk, namun di pangkuanku.

"Kenapa kau duduk di sini, chagi?" Tanyaku.

"Kursi itu keras. Aku tak mau duduk disitu. Lagipula dengan begini aku bisa deket dengan Oppa." Katanya sambil tertunduk. Sepertinya dia malu karena ucapannya sendiri.

Kupeluk tubuhnya. Menenggelamkan kepalaku di lehernya.

"Op..pa? A..pa yang oppa laku..kan?" Tanyanya tergagap.

"Aku hanya sedang istirahat." Jawabku sekenanya.

Kami pun terdiam dalam posisi ini sampai..

"Umma.. Umma.. Lihat. Meleca sedang huggie huggie seperti Umma dan Appa."

Segera kubuka mataku dan menatap shock anak kecil itu. Begitu juga Wookie.

"Mianhe mengganggu kalian." Kata ajhuma itu sambil membawa anak kecil itu pergi.

Sekarang kulihat Wookie yang wajahnya sudah memerah. Aku tertawa kecil.

"Oppa kenapa oppa tertawa?" Tanyanya bingung.

"Tidak ada apa-apa. Ayo kita naik itu. Ini yang terakhir. Araso?"

"Araso."

Kami pun pergi menuju bianglala itu.

Wookie POV

Indah sekali pemandangan dari atas sini.

"Kau senang chagi?"

"Senang sekali Oppa. Gomawo." Kualihkan pandanganku padanya. Yesung Oppa sedang memandangku. Mata obsidiannya sedang memandangku lembut.

Perlahan tapi pasti jarak kami semakin menghilang sampai tak ada lagi jarak itu.

Bibirnya ada pada bibirku sekarang. Entah siapa yang menyatukan bibir kami. Aku atau Oppa? Tapi aku tak peduli. Kunikmati ciuman lembut kami ini.

"Ehm.. Ehm.."

Aku dan Yesung Oppa terkejut dan segera melepasan tautan bibir kami.

"Maaf. Tapi kalian sudah di bawah sekarang." Kata petugas itu lagi.

"Mianhe." Kataku dan Yesung Oppa berbarengan.

Yesung Oppa pun segera menarik tanganku keluar dari sana.

Kulihat wajah Yesung Oppa yang sudah merah sekarang tak jauh beda dengan kondisi wajahku.

Aaah… Aku malu sekali.

~Skip Time~

Sekarang aku sudah berada di mobil Yesung Oppa.

Aku menghela nafasku. Hari yang indah ini akan segera berakhir.

"Kau lelah, Wookie? Mianhe. Sekarang minumlah ini dan tidurlah. Aku akan membangunkanmu nanti." Katanya sambil memberikan sebotol air.

"Hanya sedikit lelah. Bukan salah Oppa kok. Kan tadi aku yang minta." Kataku sambil menerima botol itu.

"Sekarang tidurlah." Katanya.

"Ne."

Kuteguk air itu lalu mencari posisi nyaman.

Tiba-tiba kurasakan rasa sesak di dadaku. Sakit sekali.

"Op..pa.."

Tiba-tiba semua gelap.

Yesung POV

"Op..pa.."

Kulirik Wookie yang tiba-tiba memanggilku.

"Wookie-ah, kau kenapa?" Tanyaku.

Tak ada jawaban. Kugoyang tubuhnya dengan satu tangan ku dan tangan lainnya masih memegang stir.

Perasaan tak enak menyelimutiku. Kuhentikan mobilku.

"Wookie-ah. Kau kenapa?" Tanyaku panik.

Tetap tak ada jawaban.

Segera kunyalakan mesin mobilku lagi. Kupacu mobilku dengan kecepatan tinggi.

Wookie.. Tolonglah.. Jangan terjadi apapun padamu.. Tolonglah..

Wookie-ah..

~Skip Time~

~3 Tahun setelah itu~

Disinilah aku sekarang. RS Mitang. Aku magang disini. Disini tempat Wookie dulu dirawat. Taman ini dulu tempat kami kencan.

"Yesung." Jongsoo-ajhuma memanggilku.

"Ne, ajhuma. Waeyo?"

"Sudah hampir tiga tahun ya sejak itu. Kau masih sering mengingatnya?"

"Ne. Ajhuma. Aku sangat mencintainya."

"Gomawo, Yesung-ah. Gomawo karena sudah sangat mencintainya."

"Ne."

"Kalau begitu, aku pergi dulu ya." Katanya sambil pergi meninggalkanku.

Aku pun kembali larut dalam ingatanku bersamanya.

"Uisanim.. Uisanim.." Seorang yeoja berumur 5 tahun memanggilku.

"Ne. Taeminnie. Ada apa?"

"Minho jahat padaku uisanim. Dia memukulku." Katanya sambil cemberut. Lucu sekali.

"Dia memukulmu dimana?" Tanyaku sambil menggendongnya dan mendudukkannya di pangkuanku.

"Disini." Katanya sambil menunjuk tangan kirinya.

Kuraih tangannya dan mengecup nya. "Masih sakit?"

"Ani. Tidak sakit lagi." Katanya. "Uisanim.." Panggilnya lagi.

"Ne?"

"Nanti, kalau sudah besar, aku ingin menikah dengan uisanim. Boleh?"

Aku tertawa mendengar pernyataan yeoja kecil ini.

"Ne.. Ne.. Aku akan menikah denganmu." Jawabku.

"Tidak boleh!" Teriak seorang namja kecil bernama Minho.

"Kenapa tidak boleh? Aku kan suka sama uisanim. Lagipula uisanim baik, dai tidak memukulku." Kata Taemin.

"Mianhe. Aku tidak sengaja tadi." Kata Minho sambil menunduk.

"Baiklah. Aku maafkan."

"Jinjayo?" Terlihat binar-binar senang pada wajahnya.

"Ne. Kajja. Kita main lagi." Kata Taemin lalu mencium pipiku. "Uisanim. Mianhe. Sepertinya aku tak jadi menikah dengan uisanim." Lalu Taemin turun dari pangkuanku dan pergi bersama Minho.

"Dasar. Anak kecil." Gumanku.

"Jadi sekarang Oppa menjadi phedopil?" tanya seorang yeoja bertubuh mungil yang tiba-tiba muncul di hadapanku.

"Tidak. Hatiku hanya untukmu, chagi." Kupeluk tubuh yeoja yang ada di hadapanku ini.

"Oppa. Bogoshipo."

"Nado. Saranghae."

"Nado Saranghae."

End.


Oh ya buat yang mau tau ceritanya gimana. Ini dia.

Normal POV

"Choi-ajhusi, bagaimana keadaan Wookie sekarang?" Tanya seorang namja bermata sipit cemas.

"Dia sudah baik-baik saja. Tenanglah, Jongwoon."

Namja sipit itu menghela nafasnya lega.

"Oh ya, Youngwoon-shi Jongsoo-shi. Ada yang ingin aku bicarakan pada kalian."

"Katakan saja." Jawab namja bertubuh tegap itu.

"Aku sudah menemukan sebuah rumah sakit di Amerika yang terapinya sangat bagus disana. Aku menyarankan agar Ryeowook dibawa kesana. Memang tidak dijamin sembuh, tapi setidaknya dia bisa menjalani hidupnya seperti orang normal. Bagaimana?"

"Tentu saja, Dok. Terimakasih atas bantuanmu."

Seminggu kemudian yeoja yang bernama Ryeowook itu pun pergi ke Amerika bersama Choi Kibum –istri Choi Siwon- untuk menjalankan terapi.


Annyeong!

Akhirnya FF ini selesai juga.

Mianhe kalo ga romantis. Author ga bisa bikin yang romantis-romantis gitu. Hehe..

Gomawo yah buat yang uda ngereview. *deep bow*

Gomawo juga buat yang uda ngebaca ff ini.

Akhir kata, review, ne? :)