Balasan repiyuw :

Lucifionne : Ok, makasih sarannya, itu membantu banget. Dan makasih semangatnya ^^

Karikazuka : Salam kenal juga dariku, hehehe ... makasih atas sarannya. Ini dia kelanjutannya seperti yang diminta :D

Huicergo : Iya, salam kenal juga. Diusahakan setiap chapternya akan lebih baik. Makasih buat saran dan semangatnya :)


'teng ... tong ..." bel pelajaran pertama berbunyi nyaring dari sudut atas ruangan yang disana terdapat dua buah speaker.

Saat menyadari bel itu telah berbunyi, sang Uchiha bungsu pun beranjak berdiri dari posisi duduknya, lalu tersenyum simpul ke arahku, dan tentu saja ia mendapat deathglare dariku.

"Senang bisa melihatmu lagi, Sakura," ucapnya seraya melengos pergi.


Disclaimer : Masashi Kishimoto

Warning : Typo(s), gaje, abal, EYD belum benar, rush, dll

Summary : Aku merasa terkejut dengan Gaara yang benar-benar menembakku di aula dengan tentu saja bantuan dari Naruto. Lalu, aku masih mencari maksud dari perkataan Naruto sebelum pergi meninggalkanku sendiri di aula, apa sih maksudnya?

Pair : SasuSakuGaaNaru

.

.

If you dont like, dont read!

Happy Reading (^,^)


Pelajaran pertama dimulai, pelajaran Asuma-sensei, Sosiologi!

Huaaa ... menyiksa! Sungguh! Derita seorang siswi pintar nan cantik ini dimulai saat Sensei mengoceh ria di depan kelas tanpa henti. Ingin kabur! Ingin pergi! Dasar sial!

Dengan penuh paksaan, akhirnya pasrah sajalah dengan derita ini, memang nasibnya kali ya? Akhirnya untuk menghilangkan rasa bosan ini, aku dan Ino bersekongkol untuk ... untuk tidur! Ya, benar, T...I...D...U...R! Hal yang selalu kami lakukan jika menghadapi pelajaran membosankan seperti ini.

Sejenak aku mulai memejamkan mataku, begitu juga dengan Ino. Belum juga aku merasakan berpijak ke alam yang bernama alam mimpi, kepalaku terasa ditimpuk secarik kertas beberapa kali.

Siapa sih? Baka! Ngga tau orang lagi ngantuk ya? Aku mencoba menoleh ke balakang, melihat siapa orang yang dengan beraninya menimpuk kepalaku saat aku hendak tertidur, dan ternyata...

Oh Kami-sama! Kenapa si Pantat Ayam itu lagi? Kenapa hidupku selalu terlibat masalah yang tidak penting bersama dia? Benar-benar tidak elit! Sungguh!

"Jangan tidur!" dia berbisik dari bangku belakang paling ujung, dan bisikkannya itu terlalu pelan hampir tak terdengar dengan beberapa isyarat tangan ataupun muka, mungkin agar aku mengerti apa maksudnya.

"Apa kau? Cari masalah, heh?" aku balas berbisik ke arahnya, dan tentu saja tangannku menunjukkan isyarat-isyarat tak jelas, hanya sekadar membuatnya mengerti. Dan eh? Coba tebak dia menjawab apa?

"Kau itu terlihat lebih cantik saat tidur, bodoh! Jadi kau jangan tidur, agar kau tetap terlihat jelek dengan wajah marahmu itu," ucapnya seraya tersenyum licik, "Aku lebih suka melihat wajahmu yang jelek itu," lanjutnya.

Aku hanya menggeram kesal saat mengetahui bahwa dia itu sebenarnya sed-

PLETAAKK! Tutup spidol mendarat dengan mulus tepat di dahiku, jelas aku lekas meringis. Entah siapa yang melakukannya, tapi orang itu pasti sangat menyebalkan! Lihat saja bagaimana caranya melempar tutup spidol dengan tidak elitnya. Tidak tau apa kalau aku sedang sebal pada si pantat ayam itu? Dan seharusnya orang itu melirik ke kanan dan ke kiri sebelum melempar, agar tidak kena orang. Lagi pula untuk apa dia melempar...

"Sakura-chan! Tolong perhatikan pelajaran!" ucap Asuma-sensei di depan sana, dekat papan tulis putih yang sudah terisi sebagian oleh tulisannya.

Upz! Jadi, orang yang melemparku tutup spidol adalah Asuma-sensei? Haduuhhh ... pasti dia melihatku sedang bicara konyol bersama si pantat ayam itu. Sialan!

"I-iya, baik Sensei."

Ku lihat dalam samar si pantat ayam itu tertawa. Dia menertawakan aku! Menyebalkan! Dasar baka! Puas kau melihatku ditegur Asuma Sensei? Lihat saja nanti, akan ku balas kau.

=0=0=0=

Bel istirahat memang telah berbunyi sekitar 5 menit yang lalu, tapi aku sama sekali tidak ada niat untuk pergi ke kantin, setidaknya menemani sahabatku Ino untuk makan siang. Tapi, sungguh! Aku sedang badmood gara-gara si pantat ayam itu. Bisa tidak sehari saja aku lepas darinya? Sepertinya menikmati hidup tanpa masalah yang ditimbulkan Sasuke cukup menyenangkan. Eh? Sejak kapan aku memanggilnya Sasuke? Umm ... maksudku si Pantat Ayam. Ahhh ... kenapa jadi seperti ini sih?

"Hey, Jidat!"

Telingaku mendengar jelas sebuah suara baritone yang berasal dari belakang punggungku. Panggilan itu, huuhh ... pasti dia, aku akan tetap diam. Mending membereskan buku bekas pelajaran Sosiologi tadi, namun entah mengapa mataku ini jadi liar! Maunya menatap si pemilik rambut model raven itu, eh tidak umm ... maksudnya rambut model pantat ayam! Ya, itu lebih baik. Sesekali aku melihat dia membawa sesuatu dalam genggamannya, berwarna pink. Apa? Apa itu?

"Woy, Jidat!"

"..."

"Hey, Jidat!"

"..."

"Hello, Jidat ..." dia mulai mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahku dan aku masih saja terdiam.

"Hey, Jidat! Kau dengar tidak? Jangan-jangan kau sudah tuli?"

"..."

"Err~ Dasar, Jidat!" geramnya kesal seraya menyilangkan kedua tangannya di depan dada, "Ya sudah, aku tak jadi memberimu puding strawberry ini."

Seketika itu juga emerald-ku terbuka lebar, aku tersentak kaget. Eh? Puding strawberry dia bilang? Kyaa~~ Kesukaanku!

"Eh tunggu!" secara tidak sengaja sepatah atau dua patah kata pun terlontar dari mulutku sendiri.

Waduh ... keceplosan, sial! Semua ini gara-gara puding itu. Siapa coba yang mau menolak puding seenak ini? Puding Konoha yang paling difavoritekan seluruh muridnya, baik laki-laki maupun perempuan. Lagipula, puding ini bisa dibilang terbatas perharinya, karena hanya dibuat 50 cup. Sering sekali aku berebut dengan ratusan murid Konoha untuk mendapatkan satu cup puding ini, dan sering sekali pula aku gagal mendapatkannya karena habis. Namun kali ini, eh? Tumben sekali dia membawakanku puding strawberry.

"Akhirnya kau bicara juga, Jidat. Sudah ku duga, tak akan ada yang sanggup menolak puding ini," senyum liciknya mengambang dalam raut wajahnya, seolah ia sedang menikmati kemenangan.

"Umm ... apa maksudmu, heh?" jawabku dengan gugup disertai malu.

Ihh ... ya tentu saja, malu! Kenapa sampai keceplosan sih? Lalu sekarang aku harus bicara apa coba?

"Kau menginginkan puding ini, 'kan?" dia mendekatkan wajahnya ke arahku membuat aku sedikit menjauhkan wajahku ke belakang.

"Umm ... ti-tidak! Siapa yang bilang begitu?" ucapku dengan sedikit gelagapan.

Wosshhh! Wajahku langsung merona merah, benar-benar memalukan! Ini sama saja dengan berkata, "Hello, Tuan Uchiha muda. Boleh aku meminta puding strawberry itu darimu? Aku menyukainya." Oh tidak! Aku tak akan pernah mau berkata seperti itu. Ayolah, aku harus kuat, jangan sampai tergoda olehnya.

"Eh? Jadi kau tidak mau?"

Huaaa ... bagaimana ini? Masa aku harus bilang "IYA" tepat di hadapannya? Wooyyy, gengsi coy! Ta-tapi... aku memang menginginkannya.

"Kenapa diam? Ya sudah kalau tak mau, aku buang saja," tanpa menunggu jawaban dariku, ia lekas berjalan pergi ke luar kelas.

Dari kejauhan aku masih sempat melihat puding itu, ini membuatku semakin badmood saja! Puding kesukaanku! Huaaa ... dia telah pergi. Sebenarnya aku ingin berkata iya, tapi ... tapi ... Ahhh! Menyebalkan! Masa bodolah, mau dia buang atau dia makan pun aku tak peduli! Lekas saja aku memalingkan leherku darinya, mencoba melupakan puding yang sempat menarik perhatianku itu.

"Yo, Sakura!"

Satu teriakan terdengar jelas olehku, dengan refleks leherku kembali tertoleh ke arah pintu kelas. Aku lihat, sahabat pirangku itu berlari-lari dari arah pintu menuju tempatku berada dengan cengiran khasnya yang terlihat.

"Eh? Naruto. Ada apa?"

"Antar aku ke aula," jawabnya setelah berada di hadapanku.

Aku pun hanya mengernyitkan keningku tanda tak mengerti. Memang mau apa dia ke aula? Lalu, kenapa mengajakku? Bukankah dia bisa saja meminta tolong pada Sai atau bahkan pada si Pantat Ayam itu.

"Aku ingin mengatakan sesuatu."

"Lho?" aku semakin tidak mengerti akan apa yang diucapkannya, "Mengatakan apa? Sekarang saja."

"Hn ..." dia menggeleng pelan, "Tidak disini."

"Kenapa?"

"Sudahlah, ayo."

Dasar, Naruto! Tanpa persetujuanku yang resmi disertai tanda tangan kaisar Jepang dan presiden Indonesia serta di saksikan perwakilan dari kedua negara, dia maen menarik tanganku, menyeretku ikut bersamanya pergi ke aula. Sebenarnya apa yang akan dibicarakan bocah ini? Pentingkah? Mungkin saja.

Kami berdua berlari melewati deretan ruangan kelas dan beberapa siswa dan siswi yang sedang asyik mengobrol di bangku dekat taman sekolah. Setelah beberapa menit berlari akhirnya sampai juga di tempat tujuan.

"Huh... sampai juga," Naruto menghela napas seraya melepaskan tanganku.

"Kau ini, aku 'kan belum bilang setuju untuk ikut bersamamu kesini."

"Hehe ... gomen nasai, Sakura-chan."

Hah? Sejak kapan dia memberikan embel-embel '-chan' pada namaku? Lalu hal sepenting apa sih yang mau dia bicarakan ini? Mungkinkah tentang pujaan hatiku, Sasori? Isshhh! Untuk apa sih aku mengingat Sasori lagi?

"Nah, Sakura. Sebenarnya bukan aku yang ingin bicara, tapi ..."

CKLEK! Pintu aula yang lain terbuka dengan perlahan. Menampakkan sosok pria berambut merah dengan tato 'Ai' di sudut kanan atas keningnya, ia mulai berjalan menghampiriku dan Naruto, sejenak ku perhatikan dia, dan eh?

"Hah? Garaa? Mau apa dia disini?"

"Kau pasti tau."

"Aku tidak tau, Naruto. Beritau aku!"

"Umm ... dia ... dia mau menembakmu, Sakura."

Mataku terbuka lebar dengan mulutku yang membentuk seperti huruf 'O', dia mau menembakku? Seriusan? Kenapa tiba-tiba sekali? Padahal baru saja 3 tahun lalu aku mengenalnya saat aku tinggal di Sunagakure, dan selama itu pun aku tidak terlalu dekat dengan orang yang bermarga Sabaku ini. Setelah aku bertemu dengannya lagi disini, aku dikejutkan dengan dia yang akan menembakku. Oh Kami-sama, apa-apaan ini?

"Sakura," Garaa mulai mendekat ke arahku, aku hanya menatapnya dengan heran, dan tanpa aku sadari, tangannya mulai menggenggam tanganku. Ia tersenyum penuh saat kedua bola matanya menatap mataku.

"Ga-Garaa? Umm ... ada apa?" tanyaku basa-basi.

"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu, Sakura."

DEG! Perasaanku mulai tidak enak, aku merasa tegang dan sedikit panik. Eh? Panik? Sekilas mataku menatap ke arah Naruto, dia hanya tersenyum tak jelas dengan tangan yang ia masukkan ke dalam saku celana.

"Hey, boleh aku memulainya?" tanya Garaa saat menyadari pendanganku tak tertuju padanya.

"Eh? Ba-baik."

"Kau tau? Sebenarnya saat pertama kali aku berkenalan denganmu di Suna 3 tahun lalu, aku merasa ada yang aneh pada diriku sendiri. Aku mulai sering memikirkanmu, bahkan bisa dibilang aku tidak bisa lepas dari bayangmu. Dan ... saat aku mendengar tentang perpindahanmu ke Konohagakure, aku merasa sakit. Aku kira aku tak akan melihatmu lagi, tapi beruntung aku juga bisa menyusulmu kesini, dan aku bisa menemukanmu di sekolah ini," jelasnya panjang lebar.

"Hah? Jadi kau kesini hanya untuk menemuiku?"

"Tidak," ia menggeleng pelan, "Aku sudah memutuskan untuk tetap tinggal disini, aku perlu suasana baru terutama kau ... aku membutuhkanmu."

"Eh?"

"Sakura, dengar aku baik-baik," tangannya semakin erat menggenggam kedua tanganku membuat hatiku semakin tidak karuan, "Aku mencintaimu."

CTAR! Hatiku terasa tersambar petir, tubuhku langsung bergetar hebat. Aku tidak menyangka dia benar-benar melakukan ini. Setelah beberapa detik dia berkata seperti itu, aku hanya terdiam dengan mataku yang tak henti-hentinya menatap sepasang bola mata berwarna Hazel hijau itu.

"Apa kau juga merasakan hal yang sama?"

"Garaa ... aku ..."

"Hn?"

"Ma-maafkan aku Garaa tapi ..."

"Tapi, kau tidak mencintaiku, 'kan? Benar begitu?"

Aku lihat mata Hazel hijau itu menyipit, dan satu senyuman terukir jelas menghiasi wajahnya, "Tak apa, Sakura. Aku mengerti, mungkin ini terlalu cepat."

"Hnn ... maafkan aku."

"Baiklah, tak masalah. Oia, aku harus kembali sekarang. terimakasih sudah mau menemuiku disini, Sakura. Untukmu juga Naruto, terimakasih."

"Hehe... jangan sungkan!" ucap Naruto dengan santai.

"Aku pergi dulu," dia mulai melangkahkan kaki menuju pintu aula, namun aku lihat dia menghentikkan langkah itu sejenak lekas ia menoleh ke arahku. "Sakura, jika kau membutuhkan seseorang untuk melindungimu, aku siap kapan saja."

"Terimakasih, Garaa."

"Hn..."

=0=0=0=

PLEETAAKK!

"Untuk apa kau membawa dia, Naruto baka?" geramku kesal seraya mengepalkan keduatanganku.

"Aduuhhh! Sakit Sakura!" ia meringis seraya mengels kepala pirangnya yang telah aku jitak dengan kerasnya.

"Aku tanya mengapa kau membawa dia, heh?" tanyaku dengan nada tinggi dan mata yang melotot.

"Aku hanya ingin membantunya," ucap Naruto lirih, membuatku mengernyitkan keningku tanda tak mengerti, dan alisku terangkat sebelah saat melihat atau lebih tepatnya mendengar perkataannya barusan.

"Eh? A-apa maksudmu?"

"Aku pikir karena aku yang tak bisa langsung mengatakan bahwa aku mencintaimu, mengapa aku tak membantu orang lain saja yang bisa mengatakan bahwa ia juga mencintaimu? Meski memang sakit tapi setidaknya dia juga mewakilkan perasaanku untukmu. Eh?" tiba-tiba saja perkataannya terhenti, mata birunya terbelalak, dan kedua tanganya lekas mengunci rapat mulutnya. Seolah ia telah membocorkan hal yang paling rahasia dalam hidupnya.

"Naruto, kau ..." aku hanya menatapnya heran.

"Ma-maaf Sakura aku harus pergi. Jaa~" ia berlari menjauh masih dengan tangan yang menutupi seluruh mulutnya.

"Eh ... Hey, Naruto!" aku berteriak keras, namun pria itu tidak menoleh atau pun merespon teriakanku.

Apa-apaan dia itu? Tadi mengajakku kesini, sekarang aku ditinggal sendiri, keterlaluan! Ya sudah, sebaiknya aku cepat kembali ke kelas sebelum bel berbunyi.

=0=0=0=

Kesunyian, ya mungkin hanya itu yang aku rasakan saat mulai melewati lorong. Dan beberapa langkah lagi, disana adalah kelas Naruto, sedikit ku percepat langkahku dan saat aku berada tepat di depan pintu kelasnya, mataku mulai mencari sosok itu, Naruto. Dan tidak ada! Kemana dia? Sebenarnya tadi aku ingin menanyakan maksud perkataannya tadi, tapi sudahlah orangnya juga ngga ada.

Dalam langkah memasuki kelas, aku teringat kata-kata Naruto. "Aku pikir karena aku yang tak bisa langsung mengatakan bahwa aku mencintaimu, mengapa aku tak membantu orang lain saja yang bisa mengatakan bahwa ia juga mencintaimu? Meski memang sakit tapi setidaknya dia juga mewakilkan perasaanku untukmu." Sebenarnya apa yang dia maksud? Apa dia benar mencintaiku? Eh? Haha lucu sekali, itu hanya omong kosong. Naruto itu 'kan sahabatku dari kecil. Mana mungkin dia bersikap ... lho?

Pandanganku lekas fokus tertuju pada satu cup puding strawberry yang berada tepat di atas mejaku. Tanpa pikir panjang aku lekas menghampirinya, wah beruntung sekali! Tapi, dari siapa?

"Untuk Sakura"

Mungkin seperti itulah tulisan dalam secarik kertas yang berada di bawah cup puding ini. Aku penasaran, siapa yang menaruhnya disini?

TBC


Yang ditunggu-tunggu publish juga ^^

Gimana? Makin gaje aja 'kan dengan Garaa dan Naruto yang tiba-tiba sama-sama suka Sakura.

Lalu, gomen nasai, pairing SasuSakunya masih sedikit, mungkin dua atau tiga chapter ke depan akan sering dimunculin.

Doumo arigatou gozaimasu buat yang udah baca, ditunggu repiyuwnya ^,~

Special thanks for Lucifionne, karikazuka, and Huicergo Montediesberg :D

see you..