Sebelumnya :
karikazuka : Siap, nanti diperbaiki deh.
Kitty Kuromi : Huaaa jahat! *lari* Ini juga udah updet T,T
nattually : Jhaha... masa bertengkar terus? Nanti akan ada akurnya.
Lucifionne : Hehe... arigatou gozaimasu.
Pandanganku lekas fokus tertuju pada satu cup puding strawberry yang berada tepat di atas mejaku. Tanpa pikir panjang aku lekas menghampirinya, wah beruntung sekali! Tapi, dari siapa?
"Untuk Sakura"
Mungkin seperti itulah tulisan dalam secarik kertas yang berada di bawah cup puding ini. Aku penasaran, siapa yang menaruhnya disini?
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Warning : Typo(s), gaje, abal, EYD belum benar, rush, dll
Summary : Berdebat dengannya itu membuatku sakit kepala! Sasuke sialan, kenapa kau tak pernah bisa sehari saja untuk tidak mengangguku?
Pair : SasuSaku
.
.
If you dont like, dont read!
Happy Reading (^,^)
Huaaaa ... pulang sekolah ditinggal sendiri! Gara-gara aku yang harus menyelesaikan tugas untuk membereskan kelas. Aku kira Ino akan menunggu untuk itu, ternyata tidak! Dia bilang, dia ada acara dengan keluarganya. Baguslah! Karena itu aku jadi pulang sendiri, ngok!
Ku langkahkan kakiku keluar, ku tatap lorong-lorong begitu sepi tanpa suara, aku jadi bergidik sendiri karenanya. Sesepi inikah sekolah saat semua murid telah pulang? Tuhan, jangan biarkan aku sendiri. Aku benci mengakuinya, tapi aku takut!
Segera ku percepat langkah kaki ini, di ujung sana terlihat jelas sebuah cahaya. Pintu keluar! Yupz, bagus! Aku berlari menuju cahaya itu sampai tiba-tiba ...
BUUGGHHTT! Percayakah? Aku menabrak seseorang.
"Aduh, gomen ne ..." aku berbungkuk padanya.
"Kalau jalan itu pake mata, Jidat!"
Mendengar perkataannya barusan, lekas aku menengadah ke atas, menatap wajah seseorang itu yang lebih tinggi dariku. Dan mataku terbuka lebar saat menangkap sorot mata obsidian itu.
"Eh? Dasar Pantat Ayam! Dimana-mana jalan itu pake kaki, bukan pake mata, bodoh!" jawabku ketus.
"Iya, pake kaki juga pake mata! Lagipula bagaimana caranya kau tau arah jalanmu kalau tidak pake mata, heh?"
Deg! Aku terdiam seraya menatap lapangan kosong yang tak jauh dari tempatku berada, memang benar sih omongannya. Lagi pula aku juga yang salah, berlari tanpa melihat kanan kiri. Jadi, sekarang? Terpaksa minta maaf.
"Terserah kau saja. Maaf sudah menabrakmu," akhirnya aku ucapkan kata itu dengan nada yang sedikit malas.
"Hn ..."
"Eh? Apa maksudnya itu?"
"Hn ..."
"Dasar Pantat Ayam! Maksudmu apa sih?"
"..." dia tetap tidak menjawab, ia malah memalingkan wajahnya ke arah lain seolah enggan untuk menatap ke arahku, dan itu benar-benar membuatku kesal.
"Woy! Katakan sesuatu kek! Kau memaafkanku tidak, heh?"
"Berisik kau ini, Jidat! Kau mau pulang tidak sih?"
"Aku berisik karena salahmu juga! Bukannya katakan sesuatu, kau malah diam. Ya, sudah jelaskan? Aku ini mau pulang."
"Ya sudah ayo."
Aku hanya termangu saat mendengar perkataannya barusan. Apa maksudnya dia berkata seperti itu?
"Hey, ayo! Menunggumu itu lama sekali, mendokusai!" ucapnya setelah beberapa detik aku menatapnya heran dan terdiam seraya mengangkat sebelah alisku.
Apa? Menunguku dia bilang? Dia menungguku? Yang benar saja! Untuk apa dia menungguku? Tak ada kerjaan lain apa?
"Woy, Jidat! Ayo!" dengan sembarang dia mulai menarik tanganku, memaksaku berjalan di sampingnya.
"Woy woy! Berhenti!" ku hentikan langkahku secara tiba-tiba, membuat dia juga terpaksa memberhentikan laju kakinya, dan lekas saja kami berdua saling bertatapan dengan tatapan tajam.
"Ada apa lagi, Jidat?"
"Kau bilang kau menungguku?"
"Iya. Memangnya kenapa? Kau tak suka?"
"Idh ... untuk apa kau menungguku?"
"Mengantarmu pulang."
"Tch ..." aku hanya berdecih sebal seraya menggulirkan bola mataku ke arah lain, "Memangnya aku ini anak kecil apa? Aku bisa pulang sendiri."
"Sudahlah aku tidak peduli, kau ini banyak bicara sekali, Jidat!"
Dengan paksaan kuat darinya, akhirnya pasrah saja aku pulang bersama dia. Dan ... apa ini? Dia terus menggenggam tanganku? Hah? Kenapa aku baru sadar sekarang? Ah ... dasar bodoh! Sedikit ku coba melepaskannya, merenggangkan cengkraman tangannya yang kuat pada tanganku, tapi tidak bisa! Ku coba lagi, lagi, lagi, dan tetap saja tidak bisa! Sudah ku kibaskan tangannya, ku cakar, dan ku gigit, eh? Ngga sampai gitu sih, tapi tetep susah! Si Pantat Ayam ini! Apa sih maunya? Apa dia tak takut kekasihnya –Karin- salah paham tentang ini? Tch ... sudahlah, itu bukan urusanku dan aku tidak peduli.
Selama berjalan di sampingnya tak ada sepatah kata pun yang terlontar baik dariku atau pun dia, begitu juga saat dia telah memenuhi keinginannya, yaitu mengantarku pulang, aku dan dia tidak mengatakan apapun. Yah ... misalnya selamat bertemu besok kek, atau apalah. Tapi ini sama sekali tidak!
=0=0=0=
Pagi ini yang tepatnya hari minggu, aku dan Ino pergi ke toko elektronik untuk membeli perlengkapan membuat rangkaian listrik, tugas dari Anko-sensei. Saat membeli itu, Ino terus merengek padaku. Tidak bisa bikin lah, tidak bisa ini lah, tidak bisa itu lah, ini membuat aku naik darah! Sedikit ku keluarkan amarahku, setidaknya agar dia diam, dan nampaknya itu berhasil! Setelah perlengkapannya didapatkan, lekas aku berjalan pulang.
"Huaa ... Kenapa harus rangkaian listrik sih? Kau bisa membuatnya, Sakura?" tangannya mulai merangkul tanganku dengan manja, itulah salah satu kebiasaan Ino sejak dulu.
"Tidak, tapi aku akan coba," jawabku enteng tanpa menoleh ke arahnya.
"Kalau gagal bagaimana?"
"Aku tidak tau."
"Ihhh ... ko tidak tau sih? Nanti kalau Anko-sensei ngga kasih nilai, bagaimana?" ia mulai mengguncang tanganku perlahan, membuat kejengkelanku datang kembali saat telingaku mendengar rengekannya untuk kesekian kali.
"Ya ampun, Ino. Bisakah kau sedikit tenang dan diam? Semenjak di toko tadi, kau merengek terus, kepalaku sampai sakit. Lalu tentang rangkaian listrik itu, 'kan bisa minta bantuan sama otou-san," jelasku panjang lebar.
"Eh? Iya, kau benar juga ya. Hehe... Gomen ne."
"Hn ..."
Kami pun kembali berjalan menyusuri deretan toko yang berada di pasar Konoha ini. Dan masing-masing tangan kami membawa sekantung peralatan yang akan kami pakai untuk membuat tugas rangkaian listrik bersama.
"Oia, Sakura," Ino mulai membuka pembicaraannya lagi, "Aku dengar kau benar ditembak Garaa? Apa itu benar?"
DEG! Lagkahku terhenti, degup jantungku menjadi tak karuan, lekas saja aku menatap mata aquamarine itu. Sedangkan Ino hanya mengernyitkan keningnya saat mengetahui bahwa aku menatapnya dengan aneh.
"Hey, kau kenapa? Ko berhenti?"
"Eh? A-aku ..." kembali ku langkahka kakiku dengan hati yang masih tak karuan, "Kau tau dari mana tentang hal itu? Dari Naruto ya?"
"Loh ko tiba-tiba ngomongin Naruto? Jelas bukan!"
"Lalu?"
"Orang-orang sekelas sudah banyak yang membicarakanmu."
Aku memilih untuk diam tanpa berkata apapn lagi, jujur saja aku kira Naruto yang berkata seperti itu pada Ino, ternyata bukan, ya kalau bukan aku tidak peduli. Kaki jenjangku kini mulai berjalan lumayan cepat, membuat Ino tertinggal di belakang. Jelas aku tidak mau mendengar rengekkannya lagi dan aku tak mau dia terus bertanya soal Garaa. Itu membuatku mengingat perkataan Naruto saat itu, perkataan yang tak pernah ia jelaskan. Walau pun aku sering bertemu dengan Naruto, tapi dia tak pernah mau menjelaskannya, dia malah mengalihkan pembicaraan atau langsung pergi begitu saja. Menyebalkan! Lalu... oia, puding itu! Puding yang telah berada di atas mejaku saat aku baru kembali dari aula. Aku masih belum tau siapa yang menaruhnya disana.
"Hey, Sakura!" Ino berteriak di belakang, membuatku menghentikan langkahku sejenak.
"Apa?"
"Lihat itu!" Ino menunjuk lurus ke depan, dan disana terlihat dua orang lelaki, keduanya sedang berdiri di depan motor mereka masing-masing. Lalu, aku memperhatikan mereka sejenak. Hnnn... ternyata itu Sai! Dan... eh? Sedang apa dia disini? Haruskah aku bertemu dengannya lagi?
"Hai, Ino-chan, Sakura-chan!" Sai berteriak dari jarak yang lumayan jauh, dia pun melambaikan tangannya.
"Hai, Sai-kun!" teriak Ino, dan dia membalas lambaian tangan Sai. "Ayo cepat Sakura, Ino menarik lenganku, memaksaku ikut berlari bersamanya.
"Eh? Tunggu dulu, mau apa kita kesana?"
"Ketemu Sai," ucap Ino singkat.
=0=0=0=
"Hey, sedang apa kalian disini?" tanya Sai membuka pembicaraan setelah aku dan Ino sampai di hadapannya.
"Baru saja membeli perlengkapan untuk tugas," timbal Ino.
"Lho? Sakura-chan, kau kenapa?" Sai menggulirkan matanya ke arahku yang sedang mengambil nafas akibat berlari-lari tadi.
"A-aku ... ca-cape. Ini semua karenamu Ino! Maen seenaknya membawaku berlari begitu saja," aku memberi deathglare pada sahabatku itu, dengan masih terengah-engah, aku mencoba memulihkan kondisiku seperti semula.
"Hehe ... Gomen nasai."
"Tch ... manja!" ucap seorang pria yang berada di sebelah Sai.
Eh? Manja? Siapa tadi yang bilang, heh? Dimana-mana kalau lari itu ya pasti cape, dasar bodoh! Dengan refleks, aku menoleh dan menatap ke arah pria yang berada di samping Sai itu, dan ... Tch! Pantas saja bicaranya tidak sopan, ternyata si Pantat Ayam!
"Apa maksudmu, heh? Dimana-mana wajar saja kalau habis lari itu cape!" ucapku ketus dengan bibir yang mengerucut.
"Lari segitu aja cape," jawabnya enteng seraya menyunggingkan sebelah bibirnya tanda meremehkan.
"Makanya kau harus berlari dulu kalau kau ingin merasakannya!"
"Aku tidak mau, nanti kau terpesona padaku saat aku lari."
Aku hanya cengo sesaat dengan bibirku yang menganga, Ino dan Sai hanya saling bertatapan tanda tak mengerti. Apa tadi dia bilang? Terpesona? Hahaha! Sungguh! Itu menggelikan sekali. Untuk apa aku terpesona padanya? Terpesona akan wajahnya yang menurutku biasa saja.
"Hahaha ..." aku pun tertawa tak tertahankan setelah mencerna perkataannya, "Lelucon macam apa itu?"
"Eh? Kau pikir itu lelucon?"
"Iya! Bagiku itu menggelikan sekali untuk terpesona padamu. Hahaha ..."
"Harusnya kau lihat, bagaimana wajah para gadis saat mereka melihatku berlari saat lomba kemarin," ucapnya tidak mau kalah.
"Wajah mereka menunjukkan rasa ingin muntah, kau tau."
"Eh? Dasar sotoy! Mereka itu terpesona padaku! Ternyata kau tidak tau mana yang tampan dan mana yang jelek, ya? Dasar Jidat!" mata obsidian itu berkilat, tangannya telah ia tolakkan di pinggang, dan perang pun segera dimulai.
"Eh? Jelas aku tau! Dan kau itu memang jelek! Pantat ayam!" aku buka lebar-lebar kedua mataku, dan aku juga menolakkan kedua tanagn di pinggang seperti apa yang telah dia lakukan.
"Strawberry jelek!"
"Tomat busuk!"
"Jidat lebar!"
"Rambutmu seperti pantat ayam!"
"Kau bodoh!"
"Kau lebih bodoh!"
"Errr~ cukup! Aku muak berdebat denganmu, Jidat!"
"Memang aku tidak? Aku juga muak!"
"Ya sudah, diam!"
"Kau duluan!"
"Astaga! Sai bagaimana bisa kau menganggap monster dengan jidat lebar ini sebagai adikmu, heh?" mata itu melotot ke arah Sai yang sedang menyaksikan perdebatan antara aku dan si Pantat Ayam itu.
"Eh?" Sai menatap kami bergantian, "A-aku tidak tau," lanjutnya.
"Siapa yang kau bilang monster, heh? Pantat ayam!"
"Kau! Jidat!"
"Hey, kalian berdua! Berhenti bertengkar!" Ino sedikit berteriak dengan keras, membuat aku dan si Pantat Ayam sialan itu terdiam, "Kenapa malah ribut sih?"
"Apa yang salah sih dengan kalian berdua?" tambah Sai.
"Yang salah, aku dan dia harus bertemu disini!" aku dan si Pantat Ayam itu mengatakan hal yang sama secara bersamaan, membuat Ino dan Sai terkekeh geli.
"Hahaha ... kalian ini lucu sekali, berbicara saja sampai sama seperti itu."
Eh? Apanya yang lucu? Idih ... ada juga aku muak melihatnya! Hal seperti itu disebut lucu.
TBC
Ahihihi... sorry, tiba-tiba di tbc. biar readers makin penasaran! haha
Gimana cerita kali ini? Memuaskankah? Atau membosankan? Repiyuw ya! :)
Special thanks for karikazuka, Kitty Kuromi, nattually, and Lucifionne.
Keep reading! :D
Jaa ne...
