sebelumnya :
Lucifionne : belum, tenang aja. nanti juga ada x)
nattually : ok deh ^^
"Apa yang salah sih dengan kalian berdua?" tambah Sai.
"Yang salah, aku dan dia harus bertemu disini!" aku dan si Pantat Ayam itu mengatakan hal yang sama secara bersamaan, membuat Ino dan Sai terkekeh geli.
"Hahaha ... kalian ini lucu sekali, berbicara saja sampai sama seperti itu."
Eh? Apanya yang lucu? Idih ... ada juga aku muak melihatnya! Hal seperti itu disebut lucu.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Warning : Typo(s), gaje, abal, EYD belum benar, rush, dll
Summary : Beraninya dia! Kyaa~ beraninya kau menciumku! Brengsek kau Uchiha!
Pair : SasuSakuNaru
.
.
If you dont like, dont read!
Happy Reading (^,^)
Benar 'kan? Apa kataku! Uchiha bungsu itu pasti kalah bila harus berdebat denganku. Haha ... bagus bukan? Tapi, aku heran mengapa tadi aku mengatakan hal yang sama dengannya? Aku dan dia tidak janjian ko! Ahhh ... mungkin kebetulan.
"Sakura, kau mau makan siang bersama kami?" ucap Sai tiba-tiba.
"Apa?" lagi-lagi aku dan si pantat ayam itu mengatakan hal yang sama! Sebenarnya apa sih yang salah dengannya? Hingga setiap perkataanku harus selalu sama dengannya.
"Tch ... berhenti mengikuti perkataanku, Jidat!" geramnya kesal seraya mengepalkan kedua tangannya.
"Aku tidak mengikutimu, kau yang mengikutiku! Pantat Ayam!"
"Kau yang mengikutiku, akui saja!" jari telunjuknya berada tepat di depan hidungku, membuatku tersentak kaget dan langsung sangat merasa diremehkan.
"Hey, turunkan telunjukmu, Baka!" ucapku seraya menepis jari itu, "Masih banyak kata yang bisa ku ucapkan, jadi buat apa aku mengatakan kata yang sama sepertimu?"
"Buktinya tadi kau berkata yang sama denganku," ia mengalihakan pandangannya dengan tangan yang ia silangkan di depan dada.
"Itu hanya kebetulan saja, bodoh!"
"Hey, sudah! Kenapa berantem lagi? Sudahlah Sakura, kendalikan emosimu," ucap Ino seraya menepuk bahuku pelan, menyuruhku untuk tetap sabar dan mengontrol emosiku.
"Kau juga Sasuke, tenangkan dirimu," ucap Sai seraya menepuk dadanya perlahan.
"Tch ..." aku hanya mendengus kesal, mataku tak henti-hentinya memberi deathglare pada pria dengan mata obsidian itu.
"Nah, bagaimana Sakura? Kau mau ikut makan siang?"
Mendengar pertanyaan Sai, emosiku tiba-tiba mereda. Aku menatap Ino sejenak, matanya berkedip beberapa kali dengan cepat. Yah ... aku tau maksudnya. Dia pasti menyuruhku berkata iya. Baiklah, tapi? Sama si Pantat Ayam ini? Aku tidak mau!
"Maaf Sai ak- aawww!" tiba-tiba saja Ino mencubit pinggangku dengan lumayan keras. Membuatku meringis akan luka yang disebabkan cubitannya tadi.
"Sakit, Ino," bisikku pelan pada sahabat perempuanku yang berambut pirang.
"Eh?" Sai menatapku heran, "Kau kenapa?"
"Ti-tidak, hehehe," jawabku dengan tangan yang mengelus pinggangku yang sempat dicubit, "Umm ... aku mau makan siang bersamamu," ucapku terpaksa. Jelas terpaksa! Karena Ino, pasti dia mau mendekati Sai. Makanya dia menyuruhku berkata iya.
"Syukurlah, ayo berangkat."
"Ayo," ucap Ino bersemangat.
Aku menatap Ino tajam, sedangkan dia hanya nyengir seperti Naruto. "Kau berhutang padaku Ino!" aku berbisik pelan ke arah Ino.
"Ok, aku mengerti. Terimakasih, Sakura-chan!"
Aku mengangguk pelan seraya tersenyum palsu, lalu aku memberi deathglare pada si Pantat Ayam itu. Makan siang bersamanya? Apa jadinya nanti? Fyuuhh~ siap-siap perang! Demi sahabatku Ino, tak apalah.
"Sakura, kau dibonceng Sasuke, ya?" ucap Sai seraya mulai menaiki motornya.
"Apa?" mataku terbuka lebar saat mendengarnya, "Kenapa aku harus dengannya? Aku tidak mau!"
"Memangnya aku mau memboncengkanmu, heh? Tidak mau!" ucap si Pantat Ayam yang tiba-tiba menyerobot.
"Isshhh! Jangan bilang begitu, Sasuke! Kalau kau tak mau memboncengkannya, lalu Sakura sama siapa? Memang kau mau bersama Ino?"
"Aku mending sendiri," jawabnya acuh tak acuh.
"Heh! Dasar egois!" bentakku dengan keras.
"Apa kau bilang, Jidat?"
Pertengkaran kami berlangsung lagi, tapi kali ini tidak begitu lama karena ...
"Woooyyy!" seru seseorang yang sedang mengendarai motor, ia mendekat ke arah kami. Seseorang itu memakai helm, mengenakan jaket hitam yang disamakan dengan warna celananya, dan kaos putih yang sama dengan sepatunya. Setelah orang itu memarkirkan motornya, lekas ia membuka helm. "Sedang apa kalian? Sepertinya ada kumpulan keluarga, nih?" aku melihat wajahnya dengan jelas dan wow! Naruto! Yipiii~ sama Naruto saja. Bagus.
"Hai Naruto," ucap Sai dengan senyuman manis terlukis di bibirnya..
"Hai, Sai. Mau kemana?"
"Eh? Naruto ... kami mau pergi makan siang, kau mau ikut?" tanya Ino.
"Tentu saja. Lho?" mata biru miliknya menatap ke arahku. "Ada Sakura juga ya? Hehe ... baguslah, aku makin bersemangat!"
"Ya sudah, aku dengan Naruto saja. Dari pada denganmu, Pantat Ayam!" ucapku seraya menjulurkan lidah, tanda mengejek.
"Ya sudah sana! Aku tak peduli!" wajahnya yang mulus itu terlihat marah, sangat marah. Sebelumnya aku tak pernah melihat wajahnya yang seperti ini. Tapi masa bodolah!
"Eh? Ada apa ini?" tanya Naruto heran.
"Tidak, ayo berangkat," ucapku.
Dengan segera kami berangkat menuju restoran favorite kami. Dalam perjalanan, aku selalu bercanda dan mengobrol dengan Naruto. Asyik sekali mengobrol dengannya, sahabatku. Tentu saja! Dia 'kan tipe orang yang tak bisa diam, kalau diajak bicara pasti tak bisa berhenti. Lalu, tiba-tiba saja aku teringat kata-kata Naruto waktu itu, sebenarnya aku ragu untuk menanyakannya tapi aku masih penasaran. Apa maksudnya? Maksud perkataannya? Yah... dengan ragu akhirnya aku menanyakannya juga.
"Emmhh ... Naruto?"
"Ya, apa Sakura?"
"Boleh aku bertanya?"
"Tentu saja. Memang apa yang ingin kau tanyakan?"
"Aku ... aku mau tanya soal perkataanmu waktu itu di aula."
Naruto terdiam beberapa saat setelah mendengar pertanyaanku. Laju motornya pun perlahan melambat, menghadirkan angin yang terlalu kencang untuk menyelusup dari sela-sela pakaian.
"Naruto?" aku panggil namanya sekali lagi, aku harap kali ini dia mau menjawabnya.
"I-iya, Sakura."
"Maksudmu apa berkata seperti itu, Naruto? Apa kau benar-benar ..."
"Iya."
Hah? Aku tersentak kaget, nafasku seolah berhenti, dan degup jantungku terasa tak beraturan. Iya apa? Maksudnya apa? Kenapa dia selalu menyisakan beribu pertanyaan dalam benakku? Apa sih yang dipikirkan Naruto ini?
"Eh? I-iya apa?"
"Aku ... aku mencintaimu Sakura."
Deg! Apa ini? Apa yang menyerang hatiku ini? Dia ... sahabatku ... mencintaiku? Sejenak aku mencerna setiap perkataannya, dan aku menemukan sebuah perasaan yang mengganjal, aku tidak menemukan sebuah cinta. Apa ini artinya aku lebih menyukainya sebagai sahabat ketimbang sebagai kekasih?
Naruto kini meraba tanganku yang sedang berpegangan pada jaketnya. Lekas ia memindahkan tanganku, melingkarkannya pada tubuh atletisnya.
"Aku memang masih ragu. Aku takut. Perkataanku waktu itu, sungguh membuatku malu, Sakura. Aku kira aku tak bisa menemuimu lagi, tapi itu salah. Setelah kejadian itu, kau selalu bertanya padaku, bertanya akan maksud dari perkataanku waktu itu. Aku bingung untuk menjawab apa, karena aku memang mencintaimu tapi aku takut kau menolakku seperti yang kau lakukan pada Garaa. Aku takut kau menjauh dariku. Aku takut kau membenciku. Sebenarnya perasaan ini telah aku pendam selama 6 tahun. Dan selama 6 tahun itu, aku melihatmu bersama pria lain, kau menjadi kekasih orang lain, kau menjadi kekasih Sasori dan itu menyakitiku, Sakura. Namun, aku tak peduli. Asalkan kau bahagia, aku juga bahagia," jelasnya panjang lebar, dan kembali aku tersentak kaget saat mendengarnya.
Hening.
Suasana hening sesaat, hanya terdengar suara beberapa kendaraan yang berlalu lalang. Mendengar perkataannya tadi, tanpa sadar kedua tanganku memeluknya erat. Nyaman, mungkin itu yang aku rasakan. Maafkan aku Naruto, aku telah menyakitimu, maafkan aku karena aku tak pernah menyadari perasaanmu padaku. Memang, Sasori pernah menjadi mantan kekasihku, namun kau tak akan pernah menjadi mantan sahabatku Naruto. Lalu, maaf ... aku belum bisa mencintai sahabatku sendiri.
"Ne, Naruto?"
"Hn?"
"Maafkan aku, mungkin kau sudah tau perasaanku, kau tau hampir semuanya tentang diriku, dan aku rasa aku belum bisa mencin-"
"Hahaha ..." ia tertawa dari balik kaca helm-nya membuatku sedikit mengernyitkan keningku tanda tak mengerti, "Tidak masalah, Sakura. Aku memang tau, dan soal perkataanku tadi, lupakan saja, ok?"
Suasana kembali normal, namun kali ini tak ada tawa. Aku dan Naruto hanya terdiam, namun tanganku masih memeluknya erat pertanda bahwa aku menyayangi sahabatku ini, Naruto. Sahabatku dulu, sekarang, besok dan selamanya.
"Hey, Jidat." Naruto membuka pembicaraan.
Eh? Tunggu dulu ... Sejak kapan Naruto memanggilku jidat? Jangan-jangan tertular si pantat ayam itu!
"Apa kau, Cebol?" jawabku dengan senyuman hangat terukir jelas menghiasi wajahku.
"Hahaha ..." pria pirang itu kembali tertawa, "Kau ini lucu sekali, Sakura."
"Hehehe ..." aku hanya terkekeh pelan, masih dengan memeluk tubuhnya.
Akhirnya tawa itu kembali muncul, memecahkan kecanggungan yang tadi sempat terasa. Dan, selama itu tak terasa akhirnya sampai juga.
Setelah memarkirkan motornya, aku dan Naruto berjalan memasuki restoran. Sejak tadi, Naruto tak pernah melepaskan tanganku. Aku hanya terdiam saat melihat tanganku yang terus digenggam erat olehnya. Aku pikir tak apalah, mungkin karena dia adalah sahabat dekatku. Ku lihat di dalam restoran terlihat Sai, Ino, dan si pantat ayam itu telah menunggu. Mereka menatapku dan Naruto heran. Tatapannya tertuju pada kedua tangan kami.
"Kalian ..." ucap Sai, tanpa melanjutkan perkataannya.
"Apa?" tanya Naruto.
"Ti-tidak, lupakan saja."
"Ya sudah, ayo kita cari tempat duduk," ucap Naruto seraya menarik tanganku perlahan ke arah sbeuah meja kosong di dekat jendela.
=0=0=0=
Kini aku duduk bersebelahan dengan Naruto, tepat di depanku adalah Sasuke. Ya, kali ini aku sedang malas menyebutnya pantat ayam. Aku kira sudah cukup perdebatannya untuk hari ini. Sai dan Ino duduk di meja yang berbeda, aku tak mengerti mengapa mereka berdua ingin terpisah seperti ini?
Beberapa menit setelah itu, Naruto memesankan makanan untukku dan Sasuke. 1 chicken katsu, jus strawberry dan ice cream strawberry untukku, lalu untuk Sasuke ... dia hanya memesan jus tomat kesukaannya. Sedangkan Naruto memesan ramen dan lemon tea.
Cukup lama sih menunggu pesanan itu datang. Perutku sudah keroncongan, kau tau. Hadeeehh ... lama sekali. Sampai kapan aku menunggu? Baru saja aku berpikir ini akan semakin lama, eh? Pesanan itu datang. Yipii~ akhirnya.
Tanpa pikir panjang, aku lekas mendekatkan chicken katsu ke hadapanku. Sejenak ku perhatikan, wahhh... sepertinya enak sekali. Cepat-cepat aku mengambil sumpit yang ada disebelahnya, dan...
"Itadakimasu ...," ucapku seraya mulai menyantap chicken katsu favorite-ku.
"Hn ... itadakimasu," ucap Naruto seraya mulai menyantap ramen-nya.
Sedangkan Sasuke ... dia hanya melihat tingkahku dan Naruto yang seperti orang kelaparan. Dia terkekeh seraya mulai meminum jus yang telah ada di hadapannya.
*skiptime*
"Huaaa ... enaknya!" ucap Naruto seraya merebahkan tubuhnya dikursi. Nampaknya dia menikmati ramen itu, lihat saja mangkuk ramen-nya begitu bersih seolah belum terpakai.
"Iya, enak sekali," timbalku seraya melahap sesendok ice cream terakirku, ice cream strawberry kesukaanku.
Dan baru saja aku melahapnya, tiba-tiba saja ... 'brukkbukkbrukkbukk' terdengar suara aneh yang membuatku menahan tawa. Suara apa itu? Dari mana? Mataku lekas menoleh mengikuti suara tersebut, eh? Naruto? Sepertinya dia harus ke kamar mandi deh, haha ...
"Aduh ... perutku! Emm ... Sakura, Sasuke, aku ke toilet dulu ya," ia mulai berdiri hendak berlari, namun sepertinya ia sedang menunggu jawaban dari Sasuke.
"Ya sudah sana, jangan terlalu lama," ucap Sasuke seolah tak peduli. Tanpa berpikir dua kali, Naruto langsung berlari menjauh, mencari toilet karena perutnya sedang bermasalah. Sedangkan aku hanya terkekeh geli melihat Naruto. Ada-ada saja bocah itu, ckck~
Sejenak ku perhatikan, onyx hitam milik Sasuke ternyata menatap tajam ke arahku. Mau apa lihat-lihat? Belum pernah ya melihat gadis secantik aku, eh?
"Apa yang kau perhatikan, heh?" ucapku ketus.
"Itu," Sasuke menunjuk sesuatu pada bibirku.
"Eh? Itu apa?"
"Itu, bodoh!"
"Apaan sih?" lekas ku mengelap bibirku, takut memang ada sesuatu disana.
"Bukan yang itu! Kau ini bodoh sekali!" dia mulai mendekatkan wajahnya, membuatku sedikit waswas dengan apa yang akan dilakukannya nanti.
"Eh eh eh ... mau apa kau?"
"Membersihkannya, baka!"
Tangannya mulai menyentuh bibirku, jantungku berdegup kencang. Apa sih yang akan dilakukannya? Memangnya ada apa di bibirku? Wajahnya kini semakin dekat, tangannya mengusap bibirku lembut, aku kira selesai sudah ia membersihkan sesuatu pada bibirku itu, dengan berakhirnya sentuhan lembut yang ia berikan pada bibirku.
Aku menghela nafas seraya memejamkan kedua mataku, "Kau sudah seles- umph!"
Deg! Mataku seketika terbelalak, tanganku terkepal, sudah siap untuk meninju wajah mulus Uchiha bungsu itu. Perasaanku campur aduk, antara malu, marah, kesal, dan benci. Apa ... apa yang dia lakukan? Beraninya dia ... dia menciumku! Tch ... menyebalkan! Dasar brengsek, memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan! Awas saja kau!
"Aku sudah selesai, sudah bersih," ucapnya enteng seraya kembali duduk santai di kursinya.
Sedangkan aku, tubuhku menjadi kaku. Aku mencoba sabar, eh tidak! Maksudku aku sedang menunggu ...
Satu ...
Dua ...
Tiga ...
Dan ...
PLAAKKK! Tamparan keras mendarat dengan indah di pipi si brengsek itu! Baguslah, tepat sasaran. Lihat saja betapa merahnya kini bekas tamparan itu. Rasakan itu pantat ayam!
"Aww ... hey Jidat baka! Apa yang kau lakukan, hah?" ia membentakku denagn keras seraya mengelus bekas tamparanku tadi.
"Seharusnya aku yang bertanya, Pantat Ayam! Apa yang barusan kau lakukan padaku? Brengsek!" jawabku tak kalah kerasnya dengannya.
"Memang suruh siapa makan ice cream sampai belepotan seperti itu, hah?"
"Memangnya kenapa? Ini wajahku! Ini cara makanku! Meski belepotan, lagi pula aku bisa membersihkannya sendiri! Tanpamu! Tanpa bantuanmu! Dan TANPA CIUMANMU!" ku pertegas kata-kata itu, tepatnya pada akhir kalimatnya.
"Kau ini, tidak tau terimakasih! Sudah untung aku bersihkan! Kau malah menamparku, baka! Makanya, lain kali jangan belepotan seperti itu! Menjijikkan melihat wajahmu dipenuhi noda bekas makanan! Tch ..." dia hanya mendengus kesal, seraya merebahkan diri di atas kursi dengan tangan yang terkepal kuat.
"Hey hey hey ... ada apa ini?" Naruto yang baru saja kembali dari toilet, menatap heran ke arahku dan Sasuke.
Aku memalingkan wajahku dari si pantat ayam itu. Merasa sangat kesal atas kejadian tadi. Menyebalkan! Kenapa harus seperti ini? Tak adakah kejadian yang lebih elit dari ini? Misalnya, aku menceburkan dia ke selokan kek, atau apalah yang membuat aku tertawa. Tapi ini malah sebaliknya! Ugh! Sial!
"Tidak ada apa-apa, Dobe," ucap Sasuke yang sama memalingkan wajahnya dariku.
"Eh? Kau kenapa, Teme? Pipimu merah."
Deg! Aku yang mendengar itu hanya menahan tawa. Sepertinya lucu, memandang wajah Uchiha bungsu ini yang di pipinya berbekas tamparan telapak tanganku tadi. Seperti apa ya wajahnya?
TBC
Huaaa... duak...duak... *author jedotin kepala ke tembok
kenapa ditengah cerita ada narusakunya ya? *dipelototin readers
gak apalah, itung-itung memperpanjang cerita. haha
tetep inti utamanya sasusaku dong :P
ok deh, karena masih banyak chapter dan cerita baru yang mau dipublish, kayanya udah dulu deh ngoceh sessionnya.
jaa ne in the next chapter ^,~
