Sebelumnya :

Kitty Kuromi : Hehe iya, mau nampar aja pake nunggu segala. Ckck~

myelf : Yah, tenang aja. Masih panjang ko ceritanya.


"Hey hey hey ... ada apa ini?" Naruto yang baru saja kembali dari toilet, menatap heran ke arahku dan Sasuke.

Aku memalingkan wajahku dari si pantat ayam itu. Merasa sangat kesal atas kejadian tadi. Menyebalkan! Kenapa harus seperti ini? Tak adakah kejadian yang lebih elit dari ini? Misalnya, aku menceburkan dia ke selokan kek, atau apalah yang membuat aku tertawa. Tapi ini malah sebaliknya! Ugh! Sial!

"Tidak ada apa-apa, Dobe," ucap Sasuke yang sama memalingkan wajahnya dariku.

"Eh? Kau kenapa, Teme? Pipimu merah."

Deg! Aku yang mendengar itu hanya menahan tawa. Sepertinya lucu, memandang wajah Uchiha bungsu ini yang di pipinya berbekas tamparan telapak tanganku tadi. Seperti apa ya wajahnya?


Disclaimer : Masashi Kishimoto

Warning : Typo(s), gaje, abal, EYD belum benar, rush, dll

Summary : Kenapa dia? Tiba-tiba saja sikapnya berubah. Apa aku salah bicara?

Pair : SasuSakuSaso

.

.

If you dont like, dont read!

Happy Reading (^,^)


Hoaammppt! Pagi ini aku bangun lebih pagi, meski sekolah diliburkan selama seminggu yang katanya sih akan ada renovasi. Sejenak aku mengucek mata, lihat! Wajahku kusut, rambutku berantakan, sungguh masih terlihat mengantuk tapi aku tak mau kembali tidur. Sejenak mengingat kejadian kemarin saat di restoran sungguh menggelikan sekali! Haha ... aku tak bisa berhenti tertawa saat membayangkannya, membayangkan betapa merahnya bekas tamparan itu. Ckck~ Pantat Ayam yang malang!

Sambil terus tertawa, aku mulai beranjak turun dari tempat tidur lalu kakiku ini mulai berjalan menuju kamar mandi, aku akan menyegarkan badanku. Dengan rasa lemas yang masih bersarang di seluruh tubuh, tanganku terulur untuk mengambil handuk di gantungan dekat kamar mandi, lekas aku masuk dan memulai acara membersihkan diri.

20 menit berlalu sudah, huaaa! Badanku rasanya segar sekali. Mandi pagi-pagi ternyata enak juga. Seperti biasa, sesudah mandi aku selalu mencari hpku, mana dia? Hn ... tadi aku sudah cari di tempat tidur, tapi tidak ada. Mungkin di meja, tapi eh? Ko tetap tidak ada. Hah? Hpku? Kemana kau Keitai-chan?

"Tada, kimi o aishiteru... tada, kimi o aishiteru..."

Terdengar sayup-sayup suara lantunan sebuah lagu. Eh? Bukankah itu lagu dari hpku? Aku lekas mencari asal dari suara itu yang kemungkinan bersumber dari hp-ku, mencari, mencari, dan ketemu! Ternyata di bawah tempat tidur. Loh? Ko bisa di sana? Huaaa ... pasti terjatuh. Ugh! Dasar ceroboh! Ku lihat layar hpku, pantas saja berbunyi, ternyata seseorang menelponku. Syukurlah, aku jadi bisa menemukan hpku.

"Ehm ...," aku mempersiapkan suaraku, detik selanjutnya lekas aku mengangkat telponnya, aku tidak mau seseorang itu menunggu, "Moshimoshi, ohayougozaimasu ..."

"Ohayougozaimasu ...," terdengar suara seseorang dari ujung sana. Ternyata itu adalah suara laki-laki, tapi siapa? Aku tidak mengenali suara ini.

"Maaf, dengan siapa ya?" tanyaku pada pria itu dengan sopan.

"Kau tidak mengenaliku, Sakura?"

Emerald-ku terbelalak, aku tak percaya orang ini mengenalku, padahal aku sendiri tak mengenali kenapa aku merasa pernah mendengar suara ini? Hnn ... bikin penasaran saja.

"Umm ... tidak. Memangnya kau siapa?"

"Aku Sasori," jawabnya enteng seraya terkekeh pelan.

DEG! Jantungku serasa berhenti berdetak, nama itu ... nama yang membuat dadaku sesak, kini muncul kembali dalam hidupku. Aku kira dia telah pergi jauh, namun sepertinya dugaanku salah. Tanganku bergetar hebat saat menggenggam telpon pribadiku, aku pun terdiam, tidak tau harus berkata apa pada orang yang selama 6 tahun ini menghilang dari pandanganku.

Aku tak percaya, dia ... Sasori si rambut merah itu, Sasori si Keras Kepala itu, Sasori si kakak kelasku yang pindah sekolah itu, Sasori ... Sasori mantan kekasihku. Aku mulai menengadah ke langit-langit rumah seraya mengedipkan mataku beberapa kali. Jangan menetes! Jangan menetes! Aku mohon. Huhuhu...

"Hey, Sakura? Kau disana?"

"I-iya. Aku disini," jawbku gelagapan masih dengan menatap langit-langit rumah.

"Syukurlah, bagaimana kabarmu, Sakura-chan?"

"Aku baik-baik saja, Sasori-kun."

Upz! Apa yang aku katakan barusan? Ah ... bodoh! Kenapa aku memanggilnya dengan embel-embel '-kun' ? lalu kenapa dia menambahkan embel-embel '–chan' pada namaku?

"Hnn ... kau tau? Aku merindukan panggilan itu darimu."

Deg! Kembali aku tersentak kaget oleh perkataannya. Maksudnya? Apa maksudnya? Untuk apa dia merindukan panggilan seperti itu dariku?

"Oh ... hehe ... bagaimana dengan keadaanmu sendiri?" aku mulai berbasa-basi dan mencoba melupakan perkataannya tadi, aku rasa tadi itu tidak penting untuk diingat.

"Aku juga baik-baik saja," jawabnya dengan santai, kemudian ia menghela nafas sejenak sebelum meneruskan kalimatnya, "Kau tau, Sakura?"

"Tau apa?"

"Sekarang aku sudah kembali ke Konoha, karena semenjak aku pindah, aku merasa selalu teringat akan dirimu."

Untuk kesekian kalinya jantungku kembali berdegup tak karuan, semua perasaan campur aduk dalam jiwaku, aku tak mengerti mengapa dia menghubungiku dan mulai membicarakan hal seperti ini. Lalu, dia sudah kembali? Dan, apa maksudnya teringat aku? Kenapa, Sasori? Untuk apa kau mengingat gadis yang pernah kau tinggalkan dulu?

"Hnn ... aku tidak tau hal itu, dan jujur aku tidak peduli," jawabku ketus.

"Eh? Apa kau masih marah padaku, Sakura?"

"Tch ... marah padamu? Tentu saja tidak. Untuk apa aku membuang tenagaku hanya untuk marah terhadapmu?"

"..." dia terdiam, tak menjawab pertanyaanku. Ya, memang benar dia pernah meninggalkan aku. Dia tak memberitauku bahwa dia akan pindah sekolah -6 tahun lalu- dan parahnya dia memutuskan hubungan kami sebelum dia pergi ke Suna Gakure. Gila 'kan? Padahal aku kira di tak akan melakukan hal itu, namun sepertinya prediksiku salah besar.

"Sakura," ia kembali membuka pembicaraan, memecahkan keheningan yang sempat terasa, "Tolong maafkan aku soal-"

"Ssstt ... jangan dibahas lagi, aku mohon," pintaku padanya dengan nada yang sedikit memelas.

"Hnn ..." pria itu menghela nafas. "Baiklah jika itu keinginanmu. Oia, Sakura?"

"Terimakasih, umm ... apa?"

"Bisa kita bertemu sore ini jam 05.30?"

"Eh?" aku mengernyitkan keningku tanda tak mengerti, lagi pula untuk apa dia ingin menemuiku lagi?

"Kau bisa 'kan? Ayolah ..." ucapnya penuh harap.

"Tapi untuk apa?"

"Aku ingin bertemu denganmu."

Ne? Bertemu denganku? Yang benar saja! Kau mau apa menemuiku? Apa kau akan menebus kesalahanmu padaku?

"Bertemu denganku?"

"Iya, bertemu denganmu."

"Memangnya ada apa kau ingin menemuiku?"

"Umm ... Aku merindukanmu, Sakura-chan."

Demi Kami-sama! Berapa kali aku harus terkejut setiap mendengar perkataannya? Tak bisakah dia berbicara tentang hal lain? Yang tentu saja tak mengejutkanku seperti ini.

'Aku merindukanmu. Aku merindukanmu. Aku merindukanmu. Aku merindukanmu. Aku merindukanmu. Aku merindukanmu. Aku merindukanmu. Aku merindukanmu. Aku merindukanmu. Aku merindukanmu. Aku merindukanmu. Aku merindukanmu.'

Tch ... Kenapa lagi ini? Kenapa kalimat itu terus berkecamuk dalam kepalaku? Kenapa hatiku bergetar? Kami-sama, hentikan semua ini.

"Sakura?" ia kembali membuyarkan lamunanku.

"Eh ... Iy-iya, apa?"

"Kau bisa, 'kan?"

Aku terdiam sejenak, sekilas mempertimbangkannya. Apa yang harus aku katakan? Apa aku harus berkata iya? Atau tidak? Hnn ... aku tidak ingin menemuinya, aku kira aku masih sakit mengingat kejadian waktu itu, tapi apa salahnya jika aku bertemu dengannya? Lagipula sudah 6 bulan aku tak pernah melihatnya. Dan, bukannya dia menemuiku hanya untuk sekadar melihat keadaanku? Benarkan? Baiklah! Sudah ku putuskan.

"Baiklah, aku bisa."

"Benarkah?" nada bicaranya terdengan sangat gembira, "Syukurlah, nanti aku tunggu kau di jembatan dekat air terjun itu. Jaa~"

'tuuttt ... tuttt ...'

Telponnya terputus seketika, ia memutuskannya sebelum aku mengucap salam. Dasar Sasori, aku belum mengucapkan salam maen tutup aja. Tapi, eh? Jembatan dekat air terjun dia bilang?

*Flashback

"Sasori-kun!" aku berlari ke arahnya, ke arah kekasihku, Sasori. Dan tanpa meminta izin darinya, lekas aku berhambur memeluknya.

"Eh? Ada apa Sakura-chan?" ucapnya seraya mulai membalas pelukanku, sekilas aku melihat keningnya berkerut, mungkin merasa heran karena kekasihnya yang cantik ini tiba-tiba memeluknya begitu saja.

"Tidak," jawabku pelan dan sedikit menggelengkan kepalaku dalam peluknya.

"Hhnn ..." dia menghela nafas, lalu tangannya mulai mengelus lembut rambutku, "Eh? Sakura kau harus melihat ini."

"Memangnya ada apa?" aku merenggangkan pelukanku dan aku mendongakkan kepalaku, mencoba melihat apa yang dikatakan Sasori.

"Itu matahari terbenam," ia tersenyum seraya terus menatap sang surya yang sedang terbenam. Langit senja hari ini begitu indah, mungkin karena aku sedang bersamanya atau ... entahlah.

"Wahh ... indah sekali," aku pun tersenyum sama sepertinya, tak ku sangka matahari begitu indah saat terbenam.

"Iya," Sasori mengangguk pelan, "Aku berharap bisa terus melihat matahari terbenam itu disini bersamamu, di jembatan ini, dekat air terjun. Bagaimana Sakura? Kau juga mau 'kan?"

"Tentu saja," jawabku dengan nada girang seraya mempererat pelukanku.

*End of flashback

=0=0=0=

Fyuuhh~ tidak terasa sore telah menjelang, aku akan mandi dulu lekas segera bersiap. Sore ini aku akan bertemu dengannya, dan aku harus mengenakan pakaian itu, pakaian yang disukai Sasori. Aku ingat betul, dia sangat suka saat aku mengenakan pakaian semacam gaun putih selutut, berpadu dengan rompinya yang berwarna merah muda seperti rambutku, lalu aku hanya mengikat rambutku secara sederhana, yah didukung dengan make up simple yang natural. Menurutnya itu membuat kesan sangat cantik untukku. Huaaa! Hal seperti itu saja masih ingat. Ckck~ ya sudah, aku harus cepat bersiap.

Aku bersiap kurang lebih 45 menit, tentu saja sekarang ini sudah siap semuanya. Setelah rasanya cukup, aku berjalan menuju ruang depan. Aku memilih-milih sepatu yang berderet di rak dekat pintu. Umm... pake sepatu yang mana? Hn ... ini? Tidak! Apa yang itu? Ugh! Jangan yang itu. Aha ... yang ini saja, sepatu berwarna putih. Sepadan dengan warna pakaianku. Aku lekas memakainya, lalu berjalan keluar rumah. Menulusuri setiap jalan yang aku lewati.

Sasori, seperti apa kau sekarang? Jujur, aku juga merindukanmu. Aku ... aku rindu dengan rambut merah itu. Sepanjang jalan, aku terus memikirkan hal itu seraya tersenyum, tak peduli dengan orang-orang yang mengamatiku. Mau menganggap tidak waras atau gila aku tak peduli.

Aku terus berjalan, dan eh? Aku menatap ke sekeliling, ternyata sampai juga! Tapi ko? Tidak ada siapa-siapa. Katanya jam 05.30, tapi dia belum datang juga. Sejenak aku menatap sekeliling dengan lebih teliti, ternyata belum ada yang berubah dari jembatan ini. Umm ... aku teringat masa itu, eh? Tidak! Tidak! Aku menggeleng pelan. Tak mau lagi mengingat kenangan itu. Aku harus sadar, tujuanku ke sini hanya untuk bertemu dengan Sasori, bukan untuk menjalin kembali cinta yang telah lama kandas.

"Ehm ..." seru seseorang dari belakang, dan sedikit membuyarkan lamunanku. Dengan refleks, lekas aku menoleh dan...

"Wah wah, ternyata benar. Ternyata itu kau, Sakura-chan. Aku sudah mengetahuinya dari warna rambut itu," ucap pria yang berada di belakangku dan ia mulai berjalan mendekat, senyumnya terpampang jelas. Senyum itu, sudah lama aku tak melihatnya.

"Sa-Sasori," bibirku yang mulai bergetar tiba-tiba saja menyebut nama itu saat melihat pria tinggi berambut merah pekat sedang menghampiriku. Hatiku bergetar, begitu juga dengan tangan dan bibirku, lalu tanpa sadar aku berlari ke arahnya, tanganku terbuka lebar, begitu pun dengan dia.

Aku terus berlari mendekatinya hingga langkahku berhenti saat jarakku dan dia hanya 5cm. Tubuhku kaku seketika, namun tanganku masih terbuka lebar, sama seperti dia. Wosh! Wajahku langsung merona merah. Lekas aku menurunkan kedua lenganku, lalu tertunduk malu. Haduuhh ... kenapa seperti ini? Salting! Salting!

"Umm ... hisashiburi , Sakura-chan?" dia mulai membuka pembicaraan, wajahnya juga terlihat malu-malu. Dengan masih tersenyum manis, ia mulai mengusap lembut rambutku.

"Iya, kau benar," aku mengangguk pelan merasakan sentuhan lembut di puncak kepalaku, "Lama tidak bertemu, Sasori."

"-kun," tambahnya.

"Eh?" emeraldku membulat ketika mendengarnya, tentu saja degup jantungku menjadi tak karuan.

"Sasori-kun," jelasnya, "Panggil aku Sasori-kun seperti dulu."

Aku hanya terdiam dengan mataku yang menatap lurus pada mata berwarna cokelat terang itu, dan seulas senyum pun telah terpampang jelas di wajahku. Sebenarnya aku tidak mengerti, untuk apa dia memintaku memanggilnya seperti itu? Lagipula aku bukan lagi kekasihnya.

"Sakura?"

"Iya?"

"Aku tak mengira, ternyata kau mengenakan pakaian ini, seperti dulu, dan aku ... aku suka," jawabnya lembut seraya terus menatap ke arahku, "Kau tetap terlihat cantik."

"Terimakasih, kau juga tetap terlihat tampan," jawabku dengan membalas pujiannya yang sering aku sebut 'gombal'.

"Hnn ..." dia menyunggingkan sudut bibirnya, "Terimakasih."

"Sama-sama."

Hening.

Suasana hening sesaat. Hanya terdengar suara air terjun dan hembusan angin yang terasa dingin menusuk kulit, membuat hatiku kembali bergetar. Jujur saja, baru kali ini lagi aku berdampingan dengan pria berambut merah ini, Sasori.

"Maaf, Sakura-chan. Bagaimanapun, setelah 6 bulan itu aku tetap memikirkanmu hingga hari ini. Kau tau 'kan? Aku tipe orang yang sulit melupakan cinta, dan aku terlalu gegabah untuk memutuskan hubungan kita," dia mulai membuka pembicaraan disela-sela hembusan angin. Dia melontarkan perkataan yang menurutku tidak pantas dibahas untuk saat ini! Perkataannya barusan itu membuat hatiku berdesir mendengarnya, cairan bening mulai berkumpul di pelupuk mata.

Aku hanya memilih terdiam dari pada harus menjawab pernyataannya itu, akan jauh lebih sakit jika dia terus membicarakan hal ini, oleh karena itu aku diam, berharap dia mulai kesal dan membahas hal lain.

"Aku benar-benar menyesal akan kejadian itu. Aku tersiksa sendirian saat mengingatmu, nilai pelajaran di sekolahku yang baru pun kian menurun, orangtuaku hanya menggelengkan kepala dan berdecak seolah kecewa. Lalu, apa kau tau? Aku berjanji pada mereka bahwa nilaiku pasti akan kembali naik dengan syarat aku bisa tinggal disini, di Konoha, agar aku memiliki semangatku lagi saat aku melihatmu seperti sekarang ini," jelasnya panjang lebar.

"Cukup!" bentakku dengan keras, "Sudah cukup aku mendengar penjelasanmu, itu sama sekali tak ada artinya untuk sekarang, Sasori-kun. Lupakan hal itu, aku sudah tak ingin mengingatnya. Aku datang kesini bukan untuk membicarakan hal itu, namun hanya sekadar melihat wajahmu yang selama 6 bulan ini menghilang dari pandanganku," ucapku dengan sungguh-sungguh.

Mendengar perkataabku yang seperti itu, mata cokelat terang yang sempat terlihat sayu kini membelalak seolah tak percaya, dan kepalanya pun mulai tertunduk, "Ma-maaf, Sakura-chan. A-aku hanya belum bisa melupakannya."

"Tidak masalah. Berarti mulai saat ini kau harus mencoba melupakan semua itu."

Dia terdiam, hanya mengangguk pelan. Bisa-bisanya dia membahas hal itu saat ini! Tch ... aku benar-benar tak ingin mengingatnya lagi.

Detik selanjutnya, aku lihat ia mendongak, "Sakura-chan aku rasa kau harus melihat itu," tangannya menunjuk ke arah barat, yang berbalikan dengan arah timur dimana air terjun itu berada.

Deg! Mataku terbelalak melihatnya. Sang surya sedang terbenam, menyisakan secercah cahayanya yang masih terlihat, dan kini dengan sukses cahaya itu menerpa wajahku.

"Indah ya, Sakura? Sama seperti waktu itu," ucapnya dengan senyuman penuh.

"..." tanpa berkata apapun aku hanya mengangguk pelan. Menyaksikan pemandangan itu, pemandangan saat pertama kali aku bertemu dengannya di jembatan ini.

"Ai no uta ga kikoeta n' da, sore wa chiisana ai ga ..."

Sebuah lagu melantun dari hp-ku, dari awal aku sudah tau kalau ada lagu itu pasti ada panggilan masuk. Isshhh! Siapa yang menelpon sih? Lagi enak-enak lihat sunset juga! Dengan rasa sebal, akhirnya tanganku lekas mengambil hp-ku dari dalam tas. Setelah telpon itu aku genggam, sekilas aku menatap layarnya, dan ...

'Sasuke is calling ...'

Eh? Aku pun langsung tersentak kaget. Mau apa dia menelponku? Tumben sekali, biasanya dia tak pernah menghubungiku. Angkat jangan? Ahhh ... paling hal yang tidak penting. Dengan pemkiran yang seperti itu tentang Sasuke, aku pun lekas mematikan telponnya, tak peduli dengan urusan yang mungkin penting sekali yang ingin Sasuke bicarakan denganku.

"Eh? Siapa itu, Sakura-chan?" Sasori menatapku heran. Sepertinya ia tau bahwa tadi ada panggilan masuk untukku.

"Umm ... bukan siapa-siapa. Hanya orang yang iseng," jawabku sekenanya.

"Oh. Aku kira siapa."

Aku dan Sasori kembali menikmati pemandangan itu. Sesekali tangannya mulai menyentuh tanganku, namun tidak menggenggamnya. Ini membuat wajahku kembali merona merah, dan jantungku berdebar kencang, merasa bahwa aku dan dia masih ...

"Ai no uta ga kikoeta n' da, sore wa chiisana ai ga ..."

Lagu itu kembali melantun, pasti dia menelpon lagi. Ugh! Dengan malas aku segera melihat layar hp, dan benar saja! Idih ... mau apa sih dia? Matikan jangan? Angkat jangan? Iisshhh! Kalau aku matikan, pasti dia nelpon terus. Huuuhh ... terpaksa aku angkat.

"Emmm ... Sasori?"

"Iya?"

"Sebentar ya, ada yang menelpon," ucapku ragu-ragu.

"Ok, tidak masalah," jawabnya seraya mengguratkan senyuman di wajahnya.

Dia tersenyum ramah, aku pun ikut tersenyum. Lekas tanpa dikomando lagi, kakiku berjalan sedikit menjauh dari tempat Sasori berada. Dan refleks aku mengangkat telpon dari si Pantat Ayam itu.

"Moshimoshi konbanwa ..." ucapku dengan nada yang sangat malas.

"Hey, Jidat! Kau dimana?" ia berteriak keras membuatku menjauhkan teleponnya dari telingaku.

"Heh! Pantat ayam!" aku pun ikut berteriak keras ke arah telpon yang masih aku genggam, "Kecilkan suaramu! Kau ini tidak sopan sekali! Setidaknya jawab dulu salamku!"

"Iya, iya cerewet! Konbanwa. Nah sudah, sekarang kau dimana?" ucapnya dengan nada yang bisa dibilang terburu-buru.

"Err~ dasar! Memangnya kenapa?"

"Tch ... tadi aku bertemu ibumu dijalan, dia menanyakanmu. Katanya kau membawa kunci rumah, apa itu benar, heh?"

"Iya aku yang bawa, kau bilang kau ketemu Kaa-san? Dia sudah pulang?"

"Ya tentu saja sudah, dasar Jidat! Kau ini bodoh sekali."

Hah? Kembali aku tersentak kaget. Kaa-san pulang jam segini? Tumben sekali. Biasanya juga Kaa-san pulang jam 07.00 p.m. aku pun lekas tersenyum simpul. Bagus, berarti aku akan segera pulang. Jujur saja, meski aku merindukan Sasori tapi aku tak mau terus membahas hal itu.

"Woy, Jidat?"

"Nande?"

"Kau dimana? Aku jemput sekarang."

Mataku terbelalak seketika, dengan mulutku yang menganga. Jemput? Sejak kapan dia mau menjemputku? Bukannya kemarin saat mau pergi ke restoran, dia bilang tidak mau memboncengku? Tapi ko sekarang? maen seenaknya saja dia bilang mau menjemputku.

"Ne? Menjemputku? Tidak usah, aku bisa pulang sendiri," ucapku acuh tak acuh

"Ck! ibumu yang menyuruhku!"

"Uwwaahh!" lagi-lagi aku tersentak kaget, wajar saja bila tadi aku sempat berteriak, "Yang benar saja! Kau pasti berbohong, dasar Pantat Ayam!"

"Kalau tidak percaya, kau tanyakan sendiri nanti pada ibumu, Jidat!"

Aku hanya terdiam tak merespon perkataannya. Bisa-bisanya ibu menyuruh si Pantat Ayam itu menjemputku. Mimpi apa aku semalam? Jadi, sekarang? Dia menjemputku, begitu? Ne? Tidak salah?

"Jidat? Err~ kau ini dimana, sih?" ia mulai menggeram kesal dengan nada yang cukup tinggi, membuatku harus menjauhkan telpon selular itu dari telingaku.

"Berisik! Aku ada di jembatan dekat air terjun," ucapku dengan spontan.

"Baiklah, tunggu aku disana. Awas saja kalau aku tak menemukanmu!"

"Tapi ..."

'tuuuttt...tuuttt...'

Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, dengan seenaknya ia menutup telponnya, membuatku semakin merasa kesal. Menyebalkan kau! Tidak sopan! Hari ini, tepat saat aku bertemu Sasori, kenapa aku masih harus berurusan dengan si Pantat Ayam ini? Sial! Dengan perasaan yang masih kesal, aku lekas berjalan mendekati Sasori.

"Umm ... siapa?" tanya Sasori saat aku telah berada di sampingnya. Keningnya berkerut, jelas dia sedang menatapku heran.

"Teman," jawabku sekenanya untuk kedua kali.

"Oh, teman ya? Hnn ..." dia menyunggingkan sebelah bibirnya seraya menatapku.

"Oia, Sasori-kun?"

"Ne?" dia mengangkat sebelah alisnya.

"Maaf, aku tak bisa lama-lama disini. Aku harus pulang," aku tertunduk lesu, aku tak mau melihat ekspresi yang akan ditunjukkan Sasori nanti.

"Hnn ..." dia mengacak-acak rambutku pelan, membuatku mendongakan kepala dan menatapnya sebal.

"Hey, jangan memberantakkan rambutku!" ucapku kesal seraya menggembungkan kedua pipiku.

"Hehe, gomen. Ya sudah, kalau kau mau pulang, aku antar ya?"

"Tidak usah."

"Loh? Memangnya kenapa Sakura-chan?"

"Ada yang akan ..."

Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, seseorang datang dengan menggunakan motor. Seseorang yang mengenakan kemeja biru dongker, dengan celana hitam panjang, sepatu putih, bermata hitam kelam, dan rambut ... Hah? Aku membelalakkan kedua mataku, aku tak percaya. Si Pantat Ayam? Dia sudah datang? Cepet banget! Seseorang yang datang itu hanya menunjukkan ekspresi datar padaku. Seperti biasa, dasar Pantat Ayam! Setelah memarkirkan motor miliknya, ia lekas berjalan mendekat.

Menyadari ada yang datang menghampiri, Sasori lekas membalikkan tubuhnya dan langsung menatapnya.

"Eh?" mata cokelat terang itu berkilat saat matanya mennagkap bayangan dari sosok itu, "Sasuke?"

"Kau?" mata onyx hitam itu membulat tatkala menatap pria berambut merah yang berada di sampingku, "Sasori."

Cukup lama keempat mata itu saling bertemu pandang, entah itu tatapan tajam, tatapan memelas atau apalah, aku pun tidak mengerti. Yang jelas, mereka hanya saling menyunggingkan sebelah bibirnya seolah sedang meremehkan satu sama lain.

"Hisashiburi, Sasuke?" Sasori tersenyum ramah, namun balasannya ia hanya mendapat tatapan tajam dari Sasuke.

"Tch ..." dia hanya berdecih, lekas mata onyx hitam itu menatap ke arahku yang tentu saja berada di samping Sasori, "Hey, Jidat! Ayo cepat."

"Eh? Ba-baik," lekas aku menghampiri Sasuke. Saat aku telah berada di samping Sasuke, sejenak aku menatap ke arah Sasori.

"Oh, jadi kau dijemput Sasuke, ya?" tanya Sasori saat aku telah berada di samping pria berambut pantat ayam ini.

"Hn!" aku mengangguk pelan, "Ya sudah, aku pulang dulu ya, Sasori-kun."

"Iya, hati-hati ya Sakura-chan."

"Apa? '-kun'? '-chan'?" sejenak wajah Sasuke terlihat marah, mata itu tak henti-hentinya menatap tajam ke arahku dan Sasori secara bergantian.

"Sudahlah, ayo cepat," jawabku seraya mulai menaiki motornya, begitu pun dengan dia.

"Kau harus menjelaskan ini, Jidat!" bisiknya pelan.

"Iya, terserah kau saja," jawabku acuh dan tidak peduli.

Dengan segera, ia menyalakan motornya lalu membawaku pulang. Saat dalam perjalanan, dia terus mengoceh tak karuan. Membuat kepalaku serasa ingin meledak! Dia menanyakan beribu pertanyaan, dan sialnya aku belum sempat menjawab itu semua karena dia terus saja mengoceh.

"Hey, Jidat! Jawab aku!" bentaknya dengan keras.

"Ck! Bagaimana aku bisa menjawab semua pertanyaanmu kalau kau terus saja berbicara? Bodoh!" jawabku tak kalah kerasnya.

"Oke, aku akan diam," suaranya mulai melemah, "Tapi kau harus menjelaskan, Sasori itu siapa? Kenapa kau memanggil namanya dengan embel-embel –kun? Kenapa dia juga memanggilmu dengan embel-embel –chan? Apa kalian kekasih?"

"Baik, dengar ya?"

"Hn."

"Kau pasti tau, dia adalah kakak kelas kita yang pindah sekolah."

"Iya, lalu?" ia bertanya dengan penuh rasa penasaran.

"Lalu ..." aku terdiam sejenak, perasaanku merasa tidak enak. Apa aku harus mengatakannya? Aku merasa hal buruk akan terjadi jika aku mengatakannya.

"Loh? Kenapa kau diam, Jidat? Cepat jawab!"

"Lalu ... ummm ... kau yakin ingin tau?" tanyaku untuk meyakinkannya tentang hal ini.

"Astaga, Jidat!" geramnya kesal, "Tentu saja aku ingin tau, kalau tidak, untuk apa aku bertanya padamu?"

"Baiklah jika kau tetap bersikeras," sejenak aku menghela nafas panjang sebelum benar-benar menjawab pertanyaannya, "Sebenarnya dia juga adalah mantan kekasihku."

CCIIITTTT! Suara rem motor berbunyi dengan mendadak, menandakan bahwa motor ini sekarang tengah berhenti. Sebelumnya, aku tidak mengira dia akan mengerem mendadak seperti ini, dan lagi rem mendadak tadi membuat aku sedikit tersungkur ke depan. Untung tidak jatuh. Apa sih yang dia pikirkan? Bisa mengendarai motor tidak sih? Maen rem seenaknya saja!

"Hey, hati-hati!" hardikku padanya.

"..." tanpa berkata apa-apa, dia langsung menyalakan motornya, kembali pada tujuannya untuk membawaku pulang. Aku yang merasa dia terus terdiam dari tadi, hanya menatap heran.

"Hey ..." aku sedikit mengguncang tubuhnya, namun tak ada respon, "Hey, kau dengar tidak?"

"..."

"Hey!"

"..."

"Kau ini kenapa sih?"

"..."

"Jawab aku!"

"Kau ini berisik!" ia membentakku dengan keras, seolah dia sedang tidak ingin mendengar aku bicara, seolah dia sedang tak ingin diganggu

Emerald-ku membulat saat mendengarnya. Ada apa dengannya? Sikapnya tiba-tiba saja berubah. Apa aku tadi salah bicara? Kini hatiku terasa aneh, sedikit sedih dan merasa bersalah. Ugh! Aku sama sekali tidak mengerti tentang perasaan aneh ini, kenapa juga aku harus merasakannya? Ok, aku memang merasa bersalah sekarang, tapi aku tidak tau salahku apa. Dengan hati yang berdebar kencang, aku mencoba memanggil namanya.

"Sasuke?"

"..."

"Sasuke?"

"Nande!" nada bicaranya terdengar keras dan kasar di telingaku, membuatku sedikit ketakutan dan merasa heran dengan sikapnya.

"Sa-Sasuke, kau ini kenapa? Apa aku mengatakan hal yang salah?"

"..."

"Sasuke, tolong jawab aku."

"Diam kau."

Deg! Memang nada bicaranya barusan sedikit melemah, namun entah mengapa hatiku rasanya sakit. Aku tidak tau harus berkata apa, perkataannya tadi seperti menunjukkan bahwa ia membenciku. Sasuke, ada apa denganmu? Aku benar-benar tidak mengerti. Aku dan dia terus terdiam, tak ada sepatah katapun yang terlontar. Hanya terdengar beberapa suara kendaraan yang berlalu lalang.

=0=0=0=

15 berlalu sudah, dia memberhentikan motornya tepat di depan rumahku. Ternyata disana ibuku telah menunggu, aku lekas turun dari motornya dan menghampiri ibuku.

"Sakura-chan, kau dari mana saja?" tanya ibuku sesaat setelah melihat kepulanganku, "Dari tadi ibu tidak bisa masuk rumah, kuncinya kau bawa."

"Hnn ... gomen ne," aku sedikit membungkuk tanda maaf, setelah itu tanganku mulai merogoh kunci rumah yang aku simpan di tas, "Ini bu, kuncinya."

Tangan ibu terulur, mengambil kunci itu dari tanganku. Ia mulai berjalan menuju pintu rumah, dan lekas membukanya.

"Akhirnya bisa terbuka," ucap ibu dengan perasaan lega. Sejenak aku perhatikan, setelah membuka pintu itu, mata ibu tertuju ke arah Sasuke, "Eh? Ibu sampai lupa, ternyata ada Nak Sasuke ya? Ayo silahkan masuk dulu."

"Umm ... tidak usah Bibi, terimakasih. Aku harus segera pulang," jawab Sasuke dengan nada lembut dengan wajah tersenyum, namun menurutku itu adalah senyuman terpaksa.

"Wah benarkah? Sayang sekali."

"Hnn ... maaf."

"Baiklah, tidak masalah. Oia, terimakasih sudah mengantar Sakura pulang."

"Tidak masalah, Bibi."

"Hey, Sakura cepat berterimakasih," Ibu berbisik pelan di daun telingaku.

TBC


Chap 5 publish juga. yeyeye! *heboh sendiri* xD

Ceritanya lebih panjang dari biasanya o.O

Gomen ne, jadi ada sosok Sasori disini, kyaa~ *ditimpukin readers*

Nah, Sasori ini lah yang jadi masalah. Pokonya liat aja, maksudnya baca aja chap selanjutnya. ^^

Oia, doumo arigatou gozaimashita buat yang udah baca fic ini :D

Makasih makasih, ditunggu repiyuwnya! Ok, jaa ne in the next chapter ^,~