Sebelumnya :
nattually : Kagak tau dah. Aneh banget si Sasu xD
cherry kuchiki : Iya ini juga udah diperpanjang *kayak ktp aja* #plak!
Kitty Kuromi : Siap bos, udah apdet!
"Te-terimakasih sudah mengantarku," Ucapku seraya membunguk, sedangkan dia hanya mengangguk pelan. Terlihat jelas, sepertinya dia masih marah padaku.
"Ya sudah, aku pulang dulu, Bi."
"Iya, hati-hati ya."
Pria berambut raven itu segera menyalakan motornya, lekas berlalu pergi meninggalkan aku. Sedangkan aku hanya menatap sosoknya yang semakin lama semakin menghilang di ujung jalan. Sasuke, kesalahan apa yang membuatmu bersikap seperti ini padaku?
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Warning : Typo(s), gaje, abal, EYD belum benar, rush, dll
Summary : Perasaan aneh ini muncul karenamu! Semua ini karena ulahmu! Seharusnya kau mempertanggungjawabkan atas perasaan aneh yang saat ini aku terima!
Pair : SasoSaku, SasuKari, SasuSakuSasoKari (?)
.
.
If you dont like, dont read!
Happy Reading (^,^)
Setelah selesai mandi dan makan malam, aku lekas mengurung diri di kamar. Rasanya aku sedang tidak ada semangat untuk melakukan aktifitas lain selain melayangkan pikiranku ke masa lalu, saat aku masih bertengkar dengannya. Untunglah, ibuku tidak heran dengan kelakuanku hari ini, karena aku telah mengeluarkan berjuta alasan padanya. Menjelaskan bahwa aku memang baik-baik saja, namun sebenarnya aku berbohong. Aku merebahkan diriku di tempat tidur, sejenak pikiranku melayang entah kemana. Mungkin wajahku pun kini menunjukkan ekspresi bersalah karena kejadian tadi ... umm ... Sasuke. Apa yang telah aku lakukan? Mengapa dia sampai mengacuhkan aku? Apa yang salah denganku?
Kelakuannya aneh setelah aku menceritakan siapa Sasori sebenarnya bagiku. Terutama saat dia mengerem motornya secara mendadak, dia melakukan itu saat aku berkata bahwa Sasori adalah mantan kekasihku, benarkan? Lalu, sejak saat itu dia mengacuhkanku. Tak menjawab satu pun pertanyaan yang aku lontarkan, bahkan untuk melempar senyum ke arahku saja, mungkin sangat terpaksa baginya. Apa dia marah saat aku mengatakan bahwa Sasori adalah mantan kekasihku? Umm ... hah? Tunggu dulu ... kenapa dia harus marah saat aku mengatakannya? Memangnya apa yang salah jika Sasori pernah menjadi raja di hatiku?
"Ai no uta wo kuchizusamu ... sono egao ni fureta ni anata ga ima mitsumeteru hito ga iru to wakatte mo ..."
Sebuah lagu yang berjudul Love and Truth mengalun secara mulus dari hp yang aku letakan di atas meja yang bersampingan dengan tempat tidurku. Saat indera pendengaranku menangkap suaranya, secara refleks tanganku langsung mengambil hp itu dari tempatnya semula. Secara perlahan aku melihat layar hpku, ternyata aku menerima sebuah pesan dan tanpa pikir panjang aku langsung membukanya.
Sasori
2012/09/01 08.12 p.m
Hey, gadis cantik berambut pink! Besok kau harus temani aku berjalan-jalan ke taman sebagai hukuman karena kau tak bisa berada lebih lama di dekatku saat di jembatan itu. Hnn.. oia, aku jemput kau tepat jam 09.00 pagi. Jangan lupakan itu! Pakailah pakaian, tas dan sepatu yang bagus, serta dandan yang cantik, aku tak mau permaisuriku terlihat jelek dengan jidatnya yang lebar! Hahaha... dan, cepat tidur. Aku tau kau pasti masih membuka mata indahmu itu saat kau membuka pesan ini. Jangan balas pesanku, kau harus tidur! Aku tak mau kau terlambat bangun.
Pesan yang lumayan panjang itu telah ku baca dengan seksama, dan pesan itu telah sukses membuat mulutku menganga! Lihat saja bagaimana Sasori menjelaskan secara panjang lebar apa yang harus aku lakukan sekarang, besok, dan apa yang harus aku kenakan saat aku menemaninya ke taman sebagai hukumanku.
Eh? Kyaaa~ beraninya dia! Untuk apa dia menghukumku? Baka! Dia ini ... keterlaluan! Selalu saja seperti itu, tak ada satu pun yang berubah dari dirinya. Huuhhh ... aku mengambil nafas panjang. Meski begitu, entah kenapa hatiku merasa senang, sepertinya pikiranku ini merubah kata hukuman itu menjadi kata kesenangan. Dan itu membuatku merasa aneh! Sungguh. Huuhhh ... kembali aku mengambil nafas panjang. Berarti aku harus tidur sekarang –sesuai perkataannya- jika dia memang akan menjemputku jam 09.00 pagi. Wajahku kini mungkin terlihat aneh, ku tekuk wajahku dengan lidah yang terjulur, sedikit meledek terhadap pesannya itu.
Perasaan sebal yang masih menaungi pikiranku, membuatku terus mengoceh tidak jelas tentang Sasori. Tak terhitung beberapa detik, tubuhku telah menyesuaikan diri, bersiap untuk segera pergi ke alam mimpi, lalu detik selanjutnya mataku telah terpejam.
=0=0=0=
Suara riuh pikuk terdengar jelas di dalam kamarku. Langkah kaki begitu cepat terdengar jelas hingga memenuhi ruangan, mungkin itu karena aku yang berlari kesana kemari mencari sesuatu yang aku perlukan. Err~ sial! Dimana aku menyimpan benda itu? Aku terus mencari, tas kesayanganku! Dandananku pun perlahan-lahan mulai terlihat hancur. Namun, aku tak memperdulikannya karena aku harus temukan tas itu! Aku mencari di lemari, tak ada. Aku cari di laci, tak ada. Aku cari di dekat koper, tak ada. Kemana benda itu? Sejenak aku memelototi jam dinding, sial! Sebentar lagi dia akan menjemputku, dan aku belum menemukan tasku? Menyebalkan! Aku terus mencari tas itu, dari tengah kamar hingga sudut-sudut kamar.
Dan apa hasilnya? Huaa ... aku menyerah! Aku tak menemukannya. Sejenak aku mendudukkan diri di tepi tempat tidur, mendengus dengan wajahku yang tertunduk. Bukannya berpikir dimana tas itu aku simpan, tapi aku malah melamunkan Sa- umm ... si pantat ayam it- umm ... maksudku Sasuke, aaahhh! Kenapa jadi terpikirkan dia sih? Aku terus merutuk dalam hati dan menghentakkan kakiku keras-keras ke lantai agar pikiran itu cepat menghilang.
"tiiitttt ... tiittt ..."
Klakson sebuah motor terdengar jelas oleh telingaku. Ku dongakkan wajahku seketika, emerald-ku membulat, pikiranku berkata bahwa itu pasti ... Sasori! Kyaa~ gawat! Aku beranjak berdiri, segera berlari ke meja rias. Sedikit ku perbaiki dandananku yang rusak dengan polesan tipis bedak dan lipbalm cherry kesukaanku. Setelah itu aku bergegas memakai sendal yang lumayan sederhana dengan hak tidak terlalu tinggi. Dan langsunglah aku berlari menuruni tangga menuju pintu rumah.
DUG! DUG! DUG!
Sepertinya kakiku terhentak di anak tangga dengan cukup keras hingga menimbulkan suara seperti itu. Saat kakiku melewati anak tangga yang terakhir, betapa terkejutnya aku saat melihat tas kesayanganku berada di atas sofa. Aih! Sialan! Dari tadi aku frustasi mencari tas ini di kamar dan ternyata dari tadi tas ini ada di sofa? Bagus! Mungkin kemarin malam ibu sempat mencoba tas ini, minggu lalu kan dia pernah bilang bahwa hari ini yang bertepatan dengan pernikahan sahabatnya, ibu ingin pergi ke sana menggunakan tas ini. Namun, sepertinya tidak jadi, kan tas nya dia tinggal di sofa.
"Mendokusai ne!" geramku kesal seraya mengambil paksa tas itu. Lekas memasukkan barang-barang yang aku rasa akan butuhkan seperti hp, tisu, kosmetik, dan umm ... yah mungkin hanya itu.
Sekian detik setelah aku memasukkan barang-barang, dengan cepat kakiku melesat ke arah pintu rumah, lekas ku buka kuncinya karena aku tidak mau membuat Sasori menunggu lama. Saat kunci sudah terbuka, aku membuka pintunya dan ...
ENG ING ENG!
Wajahku menjadi pucat, degup jantungku tak karuan, tangan dan bibirku bergetar. Betapa terkejutnya aku melihat Sasori yang sudah berada di ambang pintu seraya menyilangkan kedua lengannya, dan kakinya menghentak bumi perlahan secara beberapa kali. Aku yang melihat ekspresi Sasori seperti itu, lekas tersenyum jahil berharap dia tidak marah karena mungkin aku terlambat dan telah membuatnya menunggu. Sedangkan dia hanya menggelengkan kepalanya pelan seolah kecewa.
"Aku tau kau pasti terlambat. Kau tak baca pesanku, heh? Aku kan bilang supaya kau cepat tidur," dia mulai membuka pembicaraan, ia memicingkan matanya ke arahku seolah meremehkanku.
"Aku baca pesanmu tau!" aku menatapnya sebal dan mungkin sekarang pipiku telah menggembung, "Lagipula aku terlambat gara-gara aku mencari tas ini," aku menunjukkan tasku padanya berharap agar dia percaya.
"Hnn ... benarkah?" sebelah alisnya terangkat, tatapannya masih sama, iisshh! Ayolah Sasori, kau harus percaya.
"Benar, kau harus percaya."
"Sungguh?"
"Iya."
"Kau tidak berbohongkan?"
Ugh! Aku menyerah! Aku memang paling tidak bisa membujuk hati orang. Payah sekali. Aku tertunduk lesu, mungkin emeraldku terlihat sayu, "Iya aku tidak berbohong. Jika kau tidak percaya, itu tidak masalah."
"Eh?" ekspresi Sasori berubah seketika, mungkinkah dia tersentuh oleh perkataanku? Entahlah, aku hanya berharap dia segera percaya, itu saja. "Kenapa kau jadi seperti ini Sakura-chan?" sebelah tangannya menyentuh bahuku lembut, namun aku tak merespon perkataannya. Akhirnya sebelah tangannya lagi juga menyentuh bahuku yang lain, alhasil saat aku mendongakkan kepala, wajah kami benar-benar sangat dekat. Aku bingung hendak berkata apalagi, tubuhku rasanya kaku, emeraldku tak henti-hentinya menatap mata Sasori.
"Sakura-chan ..." dia mengatakannya lirih sekali, wajahnya semakin dekat ke arahku dan ku lihat matanya telah setengah terpejam. Entah mengapa aku hanya bisa diam saja, aku seperti tak sadarkan diri. Namun saat bibirnya hampir menyentuh bibirku...
DEG! Sasuke ... tiba-tiba saja bayangan Sasuke terlintas dipikiranku, dengan refleks tanganku mendorong tubuh Sasori untuk menjauh. Aku tidak tau apa ini benar atau salah. Kini Sasori menatapku heran, aku tidak bisa menatap kedua mata itu. Lekas aku mengalihkan pandanganku ke arah lain, tanganku mencengram erat dadaku, perasaan tak karuan ini seperti menyiksaku.
"Sakura ... maafkan aku," Sasori menatapku sayu, dia mencoba kembali mendekat, mungkin sekadar membuatku tenang, "Maaf Sakura ..."
Dengan keberanian yang secuil, akhirnya aku menatap sepasang bola mata itu. Mencoba memberinya pengertian, ini semua hanya sebuah kecelakaan kecil. Aku tak bermaksud untuk melakukannya, namun entah mengapa bayangan Sasuke seperti menyuruhku untuk melakukan itu. Sasuke ... oh Sasuke! Kenapa aku jadi selalu terpikirkan dirimu? Aku merasa aneh bila aku bersama Sasori, karena aku merasa seperti bersamamu, bukan bersama Sasori. Ugh! Kenapa jadi begini?
"Sa-Sasori, a-aku minta maaf. Aku tak bermaksud ..."
"Tidak, Sakura. Aku yang harus meminta maaf," belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, dia sudah memotongnya. Mendengarnya berkata seperti itu, aku hanya tersenyum dan dia pun ikut tersenyum.
Selang beberapa detik setelah kami tersenyum pada sesama, lalu tangannya meraih tanganku, "Ayo, kita berangkat sekarang," ucapnya lembut, aku hanya mengangguk pelan.
=0=0=0=
Sasori kini berjalan di sampingku, tangannya tak mau melepaskan tanganku. Aku lihat, dia tersenyum senang. Entah apa yang dia rasakan, aku hanya bisa menatapnya tanpa berkata apa pun. Kami terus berjalan, menyusuri sudut-sudut taman yang sedikit ramai oleh beberapa orang yang mungkin juga ingin menikmati keindahan taman pagi ini. Selang beberapa detik, aku merasa langkah kaki Sasori terhenti, ia lekas duduk di atas bangku taman.
"Ternyata lumayan lelah juga ..." ucapnya seraya merebahkan diri di atas bangku.
Sedangkan aku masih menatap sekeliling taman, merasa aneh melihat para pengunjung yang kebanyakan adalah sepasang kekasih. Untuk apa Sasori mengajakku ke sini, ke tempat yang di penuhi puluhan pasangan kekasih yang sedang asik merajut cinta?
Aku pun mulai mendudukkan diri di atas bangku, mencoba menghiraukan pikiranku tadi. Mungkin itu hanya pikiranku saja, tidak semua pengunjung taman adalah sepasang kekasih, 'kan? Semoga! Saat aku telah duduk, aku merasa aneh, ada yang mengganjal. Lekas aku berdiri untuk melihat sesuatu itu. Dan ... hah? Sebuah gelang? Gelang berkilau berwarna merah mencolok yang dihiasi beberapa ukiran ternyata ada di sana. Pantas saja ada yang mengganjal. Tapi punya siapa ini? Sejenak aku perhatikan, gelang yang bagus, hanya... warnanya terlalu mencolok. Dan aku tidak suka dengan warna merah seperti ini. Perlahan aku mengambil gelang itu, melihatnya dari berbagai sisi. Memang benar, gelang ini cantik.
"Hey, kau sedang apa?" Sasori tiba-tiba angkat bicara membuatku sedikit terkejut. Lekas aku membalikkan tubuhku untuk menatapnya.
"Aku menemukkan ini," jawabku seraya menunjukkan gelang tadi.
"Eh? Gelang siapa itu?"
"Entahlah."
Aku kembali duduk, masih menatap gelang itu. Rasanya aku pernah melihat warna merah mencolok seperti ini, tapi dimana? Saat aku sedang memandang gelang itu dengan seksama, indera pendengaranku menangkap suara sesuatu dari depan sana, lekas aku mencari dari mana asal suara itu. Aku melihat ke ujung depan sana terlihat dua orang yang tak jauh dariku dan Sasori sedang berdebat. Tanpa pikir panjang aku beranjak berdiri dan lekas melangkah, tak memperdulikan Sasori yang terus berbicara tak jelas di belakangku. Perlahan aku mendekati mereka, gelang itu masih aku genggam erat. Perasaanku mengatakan bahwa orang ini adalah orang yang mempunyai gelang ini. Mungkinkah? Entahlah.
Kini setelah aku mencuri beberapa langkah untuk mendekati mereka, akhirnya kini aku berdiri berada tak jauh di belakang mereka. Aku belum berani memulai pembicaraan, kalian pasti tau 'kan kalau aku ini pemalu, jadi aku hanya terdiam menatap mereka.
"Kemana gelang itu yah?" ucap seseorang yang ternyata adalah seorang gadis. Aku sontak kaget, dia bilang gelang? Apa dia sedang mencari gelang? Apa dia mencari gelang ini? Sejenak aku perhatikan gadis itu memiliki warna rambut merah mencolok, seperti gelang ini. Apakah dia yang punya? Aku tetap terdiam menatap gadis itu dan gelang ini secara bersamaan.
"Sayang, ayo kita cari lagi!" ucap gadis itu pada seseorang yang berada di sampingnya, aku lihat tangan gadis itu merangkul erat pada tangan seseorang itu. Sepertinya mereka sepasang kekasih, huuhhh ... aku mendesah pelan. Kapan aku punya kekasih lagi? Tanpa sadar hatiku mengucapkan hal itu.
"Tch ... kau cari saja sendiri. Aku cape," ucap salah seorang lagi yang berada di samping gadis itu, seorang lelaki tinggi memakai jas dengan rambut ... apa? Rambut itu ... mataku terbelalak mendapati gaya rambut itu, gaya rambut yang sangat jarang digunakan oleh orang lain, gaya rambut yang setauku hanya digunakan seseorang, gaya rambut ... raven! Dan ... suara itu? Aku mengenalnya! Suaranya yang bergetar, tidak serak, perkataannya yang kasar dan selalu mengeluh, aku kenal suara dan perkataan itu! Suara itu ... apakah dia ... Sasuke?
Mendengar suaranya barusan, jantungku berdegup tak karuan, perasaan aneh mulai aku rasakan. Aku merasa bahwa tangan dan bibirku bergetar, jika itu Sasuke... apakah gadis yang sedang merangkulnya itu ... Karin?
DEG! Aku merasa dihujani berjuta jarum yang sangat menusuk. Aku ... aku ... sakit. Aku merasa sakit, aku tidak mengerti mengapa aku merasa seperti ini. Lekas aku menggenggam erat dadaku, beharap rasa sakit ini cepat menghilang. Namun rupanya itu tidak berhasil. Rasa sakit ini semakin menjadi saat aku mencoba menepis kenyataan bahwa kini Sasuke berada di hadapanku dan... dia... dia... dia bersama Karin, kekasihnya.
"Hey, Sakura-chan!" seseorang menepuk bahuku dari belakang membuat aku terkejut lalu menolehkan leherku menatapnya.
"Sasori?"
"Kau sedang apa Sakura?" pemuda berambut merah itu berjalan mendekat ke samping kananku, sedangkan aku hanya tertunduk lesu karena masih merasakan perasaan itu.
"Eh? Ada orang ternyata."
Panggilan Sasori tadi telah sukses membuat kedua orang yang tadi sempat membelakangi aku dan Sasori kini berbalik, mungkin karena tadi Sasori sempat memanggil namaku dengan lumayan keras.
Masih dengan tertunduk, mataku terbelalak. Tadi ... apa tadi suara Karin? Dengan perlahan aku mendongakkan kepalaku, dan ... ah! Mataku terbuka lebar menatap gadis berambut merah mencolok seperti Sasori itu tersenyum ke arahku, dan aku lihat mata onyx hitam itu juga menatap ke arahku dengan tatapan seolah tak percaya bahwa aku telah berada di sini. Bagus! Satu lagi masalah yang akan membuat sesak dadaku.
Sasori menatap gadis itu heran, secara perlahan ia mulai mendekati gadis itu, berjalan memutarinya, melihatnya dari berbagai sisi, "Oi, kau ... kau Karin, 'kan?" Sasori tiba-tiba mengucapkan kata itu, wajahnya tersenyum penuh semangat.
Gadis itu menoleh ke arah Sasori, laki-laki dan perempuan yang sama-sama berambut merah itu kini saling bertatapan seolah heran. Sejenak gadis itu membenarkan letak kacamata yang menghiasi wajahnya.
"Eh? Kau ..." gadis itu menatap Sasori dengan seksama, mencoba mengenali sosok pemuda berambut merah yang kini tengah berada di hadapannya.
"Haha ... ternyata benar itu kau, nenek sihir merah berkacamata!" Sasori tertawa keras saat menyadari bahwa ia mengenali gadis itu.
"Uwaaahh! Kau itu 'kan kumbang merah berjalan!" gadis itu membuka matanya lebar-lebar dengan telunjuknya yang menunjuk tajam ke arah Sasori. Sedangkan Sasori masih saja terkekeh menahan tawa melihat tingkah laku si gadis.
"Kau sama sekali belum berubah ya, nenek?" ujar Sasori seraya memicingkan matanya, lalu tangannya ia masukkan ke dalam saku celana, terlihat jelas bahwa ia sedang mencoba so keren di hadapan Karin. Ugh! Dasar laki-laki.
"Kau juga belum berubah ya, kumbang," gadis itu tersenyum ramah seraya menatap Sasori dari atas hingga bawah. "Selalu tampil so keren di depanku. Baka."
"Heheh ..." Sasori hanya terkekeh, mugkin ia memang merasa selalu so keren di depan Karin, juga di hadapanku! Isshhh! Sering malah, "Oh iya, sedang apa kau disini, nenek?"
"Umm ... aku sedang mencari gelang merahku yang hilang, kumbang," nada bicaranya sedikit terdengar kecewa, mungkin kecewa karena gelagnya telah hilang. Apa gelang ini sangat berharga baginya?
"Gelang?" sejenak Sasori menatap ke arahku, eh tidak! Maksudnya menatap gelang yang ada dalam genggamanku. Lalu ia berbisik pelan, "Sakura, apa itu gelang milik Karin?"
"Mungkin," aku balas berbisik dengan entengnya.
"Eh?" Karin kini menatap ke arahku –lagi!- "Sasori, apa itu kekasihmu?"
JLEB! JLEB! JLEB! Tiga pisau tajam serasa menusuk bagian jantungku. Semakin sakit. Apa yang sebenarnya terjadi padaku?
Sasori menatap Karin malu-malu, pipinya mulai merona merah, tangannya menggaruk kepala tak gatal. Apa yang akan dia katakan? Awas saja kalau dia mengatakan bahwa aku ini kekasihnya! Takkan ku beri ampun. Dengan cepat, aku memberi deathglare padanya, berharap agar dia tidak macam-macam. Dia hanya menatapku seolah takut, lalu dengan susah payah menelan ludahnya sendiri. Bagus! Jangan bicara yang macam-macam ya, Sasori.
"Bu-bukan, dia hanya teman dekatku."
"Oh, aku kira itu kekasihmu. Siapa namanya?"
"Umm ... namanya, Sakura."
"Wah, nama yang bagus. Salam kenal ya Sakura, aku Karin," ia kembali tersenyum padaku, ia juga mengulurkan tangannya tanda perkenalan.
Aku hanya melohok tidak percaya, tangannya masih terulur ke hadapanku. Karin menatapku heran, mungkin karena aku tidak menjabat tangannya, karena pikiranku kini entah kemana.
Karin adalah kekasih Sasuke, Sasuke adalah kekasih Karin, lalu aku sakit karenanya, kenapa? Kenapa? Pikiranku terus menghayal tak jelas, lalu selang 5detik kemudian, Sasori mengguncang tubuhku pelan, itu membuat lamunanku terbuyar.
"Hey, jabat tangannya. Ayo, Sakura," Sasori berbisik pelan seraya terus tersenyum pada Karin. Aku hanya mengangguk pelan menuruti perintahnya.
"I-iya, sa-salam ken-kenal juga," dengan kata yang terbata-bata kau membalas salam perkenalannya lalu aku raih tangannya.
Sejenak aku perhatikan, pemuda berambut merah yang berada disisiku ini memperhatikan seseorang. "Karin, kau membawa siapa?" ucap Sasori tiba-tiba seraya menatap tajam ke arah pemuda disamping Karin. Ayolah! Masa kau tidak mengenali dia? Dasar bodoh!
"Oh ini, dia Sasuke, kekasihku."
Hening.
Suasana hening sesaat setelah Karin berkata seperti itu. Sasori menatap Karin seolah tak percaya, namun aku cepat-cepat mengenggam erat tangan Sasori, memberi isyarat agar dia jangan bertanya apa-apa lagi dan sepertinya ia mengerti, aku tau hal itu saat dia balas menggenggam erat tanganku. Sejenak aku perhatikan Sasuke, ia nampaknya tidak peduli. Lihat saja bagaimana ia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Apa dia masih marah padaku soal kejadian waktu itu? Entahlah. Oh iya! Aku baru ingat, gelang ini. Aku harus menanyakannya pada Karin.
"Umm ... Karin?"
"Iya, Sakura?"
"Apa kau mencari gelang ini?" aku menunjukkan gelang yang sedari dalam genggamanku padanya, seketika itu wajahnya merona, senyum pun terlihat jelas menghiasi wajahnya. Dari sana aku sudah tau bahwa Karin memang orang yang mempunyai gelang ini.
"Uwaaahhh! Gelangku!" ia mulai mengambil gelang itu dari tanganku, sejenak ia melihatnya dari berbagai sisi, "Iya! Ini gelangku! Kyaaa~" ia berteriak kegirangan, ku lihat tangannya kini mulai merangkul kembali ke tangan si Pan- umm ... Sasuke, "Sasuke-kun, gelangnya ketemu!"
JLEB! Entah keberapa sekian kalinya, rasanya jantungku, eh yang lebih tepatnya hatiku merasa tertikam benda tajam. Mendengar Karin memanggil Sasuke dengan embel-embel '-kun' rasanya itu menyakitkan sekali. Aku melihat Karin sangat senang karena gelangnya sudah ketemu, sedangkan Sasuke masih melihat ke arah lain sepertinya ia tak peduli dengan apa yang Karin lakukan, atau ... apa dia berusaha menghindari bertatapan denganku?
Karena Karin yang terlihat begitu senang, terpaksa aku harus ikut tersenyum, tak mungkin 'kan aku harus cemberut menahan sakit karena Karin memanggil Sasuke seperti itu? Wajar, dia itukan kekasihnya. Ya, dia ... itu ... ke-ka-sih-nya!
"Sakura, dimana kau menemukan ini?" ucapnya tak sabaran.
"Di bangku sana," aku menunjuk sebuah bangku di belakang sana, tempat tadi aku dan Sasori sejenak melepas lelah.
Karin hanya ber'oh' ria di depanku dengan bibirnya yang sesekali masih menampakkan senyumannya, "Pasti gelang ini tertinggal disana saat aku sedang berduaan dengan Sasuke-kun," jawabnya dengan nada manja.
Astaga! Kami-sama, haruskah aku mendengar sekali lagi Karin memanggil Sasuke dengan sebutan 'Sasuke-kun'? Aku terus mencoba sabar menghadapi perasaan aneh ini yang sebenarnya aku tidak tau perasaan ini datang dari mana. Yang jelas, aku hanya merasa sakit. Itu saja.
"Berhenti bersikap manja seperti itu, nenek sihir merah berkacamata!" Sasori nampaknya tau apa yang aku rasakan, mungkinkah dia berkata seperti itu agar perasaanku lebih baik? Entahlah.
"Hey, memangnya apa urusanmu, kumbang merah berjalan? Dia ini kan kekasihku!" jawab Karin lantang.
JLEB! Sabar ... sabar ... a-aku ha-ha-harus ... sa-sa ... huuuuaaaaaa! Aku tak ingin mendengar penegasan itu lagi darinya, dasar Sasori baka! Seharusnya tadi kau jangan berkata apa-apa! Tch!
Emerald-ku lekas menatap Sasuke yang sedri tadi menatap ke arah lain, dan langsung saja hatiku berkicau-kicau tak jelas. Kau membuat aku menderita Sasuke, waktu itu kau acuhkan aku, kau tak menjawab pertanyaanku, bahkan kau tak ingin tersenyum padaku! Dan sekarang kau hadir di hadapanku dengan membawa malaikat kecilmu? Sedangkan kau tak pernah mau menatapku. Bagus! Itu memang keahlianmu!
Aku tertunduk –lagi!- aku tak mau mereka menatap wajahku yang menyedihkan. Aku mencoba mencari alasan agar aku dapat menjauh dan pergi dari mereka.
"Ummm ... maaf," ucapku lemah.
"Eh? Ada apa Sakura?" tanya Karin khawatir. "Kau sakit? Kenapa wajahmu tertunduk?"
"Umm ... aku ... aku ... aku harus ke pergi sekarang, maaf ya," Aku segera membalikkan tubuhku, hendak pergi menjauh.
"Kau mau kemana?"
"Aku harus pulang, Kaa-san sudah menunggu," bibirku bergetar, begitu juga kedua tanganku, aku tidak tahan!
"Oh begitu ya, ya sudah hati-hati di jalan. Oia terimakasih kau mau mengembalikkan gelangku," seru Karin.
Aku hanya mengangguk pelan seraya mulai berjalan pergi, lagi lagi aku tak memperdulikan Sasori yang memanggil namaku, aku terus berjalan. Aku mencengkram erat tas kesayanganku, cairan bening mulai berkumpul di pelupuk mata, sialan! Harusnya tadi aku tak usah pergi bersama Sasori. Aku terus merutuk dalam hati, menyesali perbuatanku tadi.
Saat jarakku dan mereka sudah lumayan jauh, aku mulai berlari kencang, ku kepalkan tanganku keras-keras berharap semua ini cepat berakhir. Kakiku terus membawaku ke suatu tempat, tempat sunyi di dekat danau Konoha yang tak jauh dari taman.
=0=0=0=
Langkahku terhenti di dekat sebuah pohon besar, tepat di depan sana terbentang danau Konoha yang indah, sejenak ku pandangi keindahan itu untuk mengusir perasaan aneh ini, tapi tak berhasil.
Aku mulai mengatur nafasku yang sedari tadi tak karuan, dan ku cengkeram erat dadaku kuat-kuat.
"Kenapa aku merasa seperti ini? Sa-Sasuke, ada apa denganmu, heh! Kau menyiksaku! Apa kau tau itu? Kau membuatku merasakan perasaan aneh ini, dan aku benci itu! Ini menya- hiks ... menyakitkan," aku berbicara sendiri dalam sepi, tangisanku pecah saat itu, ini benar-benar menyiksa. Aku bahkan belum dapat mengartikan perasaan apa ini, dan aku tidak mau tau! Yang aku mau, perasaan ini cepat menghilang dari hatiku.
Aku terus mencaci diriku sendiri dan menyalahkan Sasuke atas semua yang etrjadi, aku keluarkan semua amarahku. Dengan kesal, ku lempar batu, ku tendang pohon, ku berteriak sekeras mungkin di tepi danau hanya untuk membuang perasaan aneh ini.
Setelah puas memaki diri sendiri dan Sasuke, aku pun terdiam. Berusaha menenangkan diri dengan melihat pemandangan indah yang disuguhkan tepat di hadapanku. Mataku terpejam, hidungku muai menghirup udara segar sebanyak mungkin, ku rentangkan tanganku lebar-lebar membiarkan angin berhembus masuk lewat celah-celah pakaianku, hingga ...
DEP! Seketika mataku terbuka, tubuhku kaku, mendapati seseorang memelukku dari belakang. Aku tidak bisa bergerak, padahal otakku telah bekerja sangat baik untuk menyuruh sel-sel syaraf tangan dan kaki agar bergerak, tapi itu tidak terjadi. Aku sempat berpikir bahwa orang ini adalah Sasori, jadi aku biarkan dia tetap memelukku, rasanya sudah lama juga aku tak merasakan pelukkannya.
"Sasori-kun?" aku panggil namanya pelan, namun ia tidak menjawab, "Sasori-kun?" kembali aku memanggil namanya pelan, namun tetap tidak ada jawaban. Dan ini membuatku sedikit kesal, "Hey! Jawab aku Sasori-kun," aku setengah berteriak, namun kembali ia tidak menjawab.
Aku heran mengapa ia tidak menjawabku, ada apa dengannya? Padahal tadi saat di taman dia selalu mengoceh tak jelas, dan tentu saja aku tak mendengarkan ocehannya itu. Karena penasaran dengan sikapnya ini, dengan perlahan tanganku mulai melepaskan pelukkannya dan tubuhku berbalik untuk menatapnya.
"Sasori-kun, aku bil-"
Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, rasa shock telah berhasil membuatku terdiam. Emeraldku terbelalak menatap matanya, aku tidak menyangka dia ada disini. Sedang apa dia disini? Memelukku?
"Hey, Jidat," ucapnya seraya tersenyum lebar, membuat degup jantungku kembali tak karuan.
"Sasuke ..."
TBC
HOREEE~ APDET JUGA! Setelah 2hari mikir ceritanya mau seperti apalagi, ternyata beginilah jadinya :D
Kisahnya masih berlanjut, panjang malah. kalo banyak yang repiyuw, insyaallah dilanjutin, kalo ngga? author ga tau ya. hehe
jadi, repiyuw ya! ditunggu!
arigatou gozaimashita ^,~
