"Sasori-kun, aku bil-"
Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, rasa shock telah berhasil membuatku terdiam. Emeraldku terbelalak menatap matanya, aku tidak menyangka dia ada disini. Sedang apa dia disini? Memelukku?
"Hey, Jidat," ucapnya seraya tersenyum lebar, membuat degup jantungku kembali tak karuan.
"Sasuke ..."
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Warning : typo(s), abal, gaje, alur kecepetan, dll
Summary : Setelah kejadian kemarin, kini aku dibawa oleh seseorang. Seseorang yang entah siapa dengan paksa menyeret tubuhku ke suatu tempat. Dan disana, aku mendengar seorang perempuan bicara padaku. Dia tau namaku, dan kalau tidak salah aku mengenali suara itu. Apa dia?
Pair : SasuSakuSasoKari
Note : Whhuaaa~ akirnya apdet juga! Chap ini lebih panjang dari pada chap sebelumnya, sengaja dibuat panjang karena selama seminggu kedepan Author udah mulai UAS, jadi harus fokus dulu sama pelajaran. Harus berpisah sementara sama FFn *dadah* T,T minta doanya aja sama readers suapaya UASnya lancar dan Author dapet nilai yang memuaskan. Tolong dibantu ya dibantu ya xD Yosh! Mungkin segini aja ngoceh sessionnya, langsung ke cerita.
.
.
.
If you dont like, dont read!
Happy Reading (^,^)
"Sasuke ..."
Emerlad-ku terbelalak, jantungku berdegup tak karuan, bibirku bergetar tatkala menyebut namanya. Aku tak percaya! Aku terkejut! Sangat, sungguh! Aku tak menyangka bahwa ... memelukku ... dia ... Sasuke ... yang ... aku ...
DEG! DEG! DEG!
Aku terdiam menatap onyx hitam itu, menatap wajahnya, menatap rambutnya, dia ... Sasuke. Sedang apa dia disini? Untuk apa dia ada disini? Kenapa dia bisa tau bahwa aku ada di tempat ini? Apa dia mengikutiku? Tapi, bagaimana dengan Karin? Sasori? Apa yang dia lakukan pada mereka? Bukankah tadi dia masih bersama mereka?
Sial! Padahal aku pikir tadi itu Sasori, wajar saja kan jika Sasori memelukku? Lagi pula meski aku dan dia kini hanya berteman baik, tapi memangnya salah jika aku dipeluk olehnya? Tidak 'kan? Ya sudah~ kembali ke masalah tadi, sebenarnya aku berharap itu Sasu ... eh tidak! Maksudku Sasori. Ya, Sasori. Tapi kenapa yang muncul malah dia?
PLETAK! Aku yang sedang melamun pun segera meringis kesakitan, tentu saja! Dengan seenaknya dia menyentil jidatku menggunakan kedua jarinya. Er~ menyebalkan! Kenapa mesti di 'jidat' sih? Aku terus merutuk dalam hati seraya mengelus bekas sentilan tidak elitnya tadi. Dasar baka!
"Kau jangan melamun saja, Jidat!" dia mulai berbicara padaku dengan nada mengejek seperti biasa, dan itu membuatku sedikit tersenyum. Loh? Kenapa? Mungkin karena mengingat kejadian kemarin saat dia mengacuhkanku, tidak menjawab pertanyaanku, bahkan sulit sekali untuk tersenyum di hadapanku, wajar saja jika sekarang aku senang secara dia sudah mau mengobrol dan tersenyum lagi padaku ya meski senyuman licik nan mesum yang aku lihat. Eh? Tadi aku bilang apa? Senang? Hah? Senang karena Sasuke? Yang benar saja! Aku senang hanya karena dia mau berbicara dan tersenyum padaku lagi? Apa? Aduuuhh... Kami-sama, tolong! #gubraakk! Masa sih seorang Haruno Sakura murid kesayangan dari Tsunade-shishou bisa senang karena hal sepele seperti ini? Please deh!
"Woy!" dia mulai mengibaskan lengan kanannya tepat di hadapan wajahku dan itu sukses membuat seluruh tubuhku bergetar pertanda bahwa aku telah keluar dari dunia khayal.
Lekas mataku menatapnya tajam, tanganku menepis tangannya yang tadi berkibas di depanku, "Kau sedang apa disini, heh? Kemana Karin dan Sasori?" ucapku ketus seraya menyilangkan kedua tanganku, dan kakiku tentu saja dengan refleks segera berjalan mundur beberapa langkah, menghindar untuk terlalu dekat dengan si pembawa perasaan aneh itu.
"Hn ... Aku tinggalkan mereka, aku bilang aku di suruh pulang sama Itachi-nii. Berdekatan bersama mereka itu membuat aku muak," dia menggerakkan lehernya ke kiri dan ke kanan mungkin untuk melepas rasa pegal yang bersarang di lehernya. Aku lihat dia mulai berjalan mendekati danau dengan tangannya yang ia masukkan ke dalam saku celana dan ia melewatiku begitu saja. Aroma khas Sasuke pun tercium jelas oleh hidungku saat dia melewatiku, ku cium sebanyak mungkin aromanya yang telah terurai di udara, rasanya aroma ini entah mengapa membuatku tenang.
Sejenak aku baru sadar, apa yang aku lakukan ini? Mencium aroma orang menyebalkan itu? Tch ... aroma seperti ini 'kan sering aku cium dari Sasori, tapi ... hnn ... bersikap jujur sepertinya lebih baik, apalagi jujur pada hati sendiri. Benarkan? Tentu saja! Baiklah, jujur ... sungguh aku sangat benci mengakui ini tapi aroma tubuh Sasuke benar-benar membuatku tenang, amarahku hilang, sedihku lenyap, hanya ada satu rasa ... bahagia.
DEG! Hatiku berdesir saat menyadari kenyataan itu. Shit! Perasaan itu lagi! Kenapa perasaan aneh ini terus datang saat aku mengingat atau pun sedang bersama si pantat ayam ini?
"Kenapa kau menangis?" disaat aku terus merutuk di dalam hati, dia mulai bertanya padaku. Eh? Ko dia tau aku menangis? Jangan-jangan mataku ... dengan segera ku usap kedua mataku, menghilangkan sisa-sisa aliran air mata yang mengering di pipiku. Lalu aku berbalik, berjalan menghampirinya.
Saat aku telah berada di sampingnya, aku lihat dia menatap lurus ke arah danau, tapi tatapannya ... kosong.
"Si-siapa juga yang menangis? Aku tidak menangis," aku keluarkan ekspresi sebalku padanya, mencoba membuatnya percaya bahwa tadi aku tidak menangis. Namun, sepertinya ini akan sulit! Mengingat dia 'kan bukan tipe orang yang bodoh dan gampang untuk dibohongi, secara keturunan Uchiha gitu loh!
"Jidat no baka!" kembali ia menyunggingkan sebelah bibirnya, lalu dia menoleh ke arahku, "Jangan bilang kau menangis karena aku."
SRREEETTT! DDUUAARR! Seperti mobil yang kehilangan kendali lalu menabrak tembok rumah dan langsung meledak, itu yang aku rasakan saat ini. Bagaimana dia bisa tau? Apakah perasaanku ini memang mudah untuk ditebak? Masa sih? Tidak mungkin! Paling itu hanya asal tebak saja. Kembali aku mencari alasan logis disetiap perkataan Sasuke yang tepat sasaran tentang aku.
"Kau itu terlalu percaya diri tuan muda Uchiha!" jawabku ketus seraya mengerucutkan bibirku, dengan pikiran yang menahan malu karena memang perkataannya tadi benar. Aku menangis karena dia, karena ulahnya, bagus!
"Hahaha ..." dia tertawa keras masih dengan menatapku, namun entah mengapa aku merasa tertawaannya itu ... hambar. Lekas ia kembali menatap keindahan danau. Sejenak aku menatapnya heran, sepertinya ada yang berubah darinya, tapi apa? Perasaanku tidak enak, apa ini masih menyangkut hal kemarin?
Hening.
Ku layangkan tatapanku padanya sekitar 10 detik hingga dia kembali menatapku dengan tatapan sayu, onyx hitam itu terlihat sayu dan itu membuat sekujur tubuhku membeku. Tatapan itu, terlihat sekali dari matanya bahwa ia sedang tertimpa masalah. Eh? Masalah?
"Jadi tadi kau pergi ke taman untuk kencan bersama kekasihmu itu, heh?" dia mulai bertanya lagi padaku, namun kali ini pertanyaannya terdengar lebih ... lembut. Kekasih? Siapa yang dia maksud sebagai kekasihku? Aku 'kan tidak punya kekasih. Eh? Atau jangan-jangan ... Sasori.
"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti," aku mencoba mengelak dari pertanyaannya. Yang aku bingung, apa dia menganggap bahwa Sasori adalah kekasihku? Tch ... seenaknya saja mengambil kesimpulan!
"Kau jangan berpura-pura di depanku, Jidat! Bukankah si rambut merah itu kekasihmu? Buktinya saat tadi aku memelukmu, namanya yang kau panggil. Sa-so-ri-kun, manis sekali," dia mulai melangkah mendekat, sangat dekat hingga jarak tubuhku dan dia hanya 1cm. Sebenarnya aku merasa risih saat berdekatan dengannya seperti ini, namun di sisi lain hatiku tersenyum bahagia. Apa? Isshh! Ada apa lagi dengan hatiku ini?
"Ka-kau sen-sendiri, kekasihmu juga berambut merah! Lagipula itu bukan sebuah alasan untuk mencap aku sebagai kekasih Sasori, itu konyol! Aku bisa saja memanggil pria lain yang bukan kekasihku dengan embel-embel '–kun' seperti Sasori," ucap ketus, entah aku grogi atau bagaimana tapi mulutku ini serasa bergetar saat menatap wajahnya sedekat ini.
"Benarkah? Aku tidak tau hal itu. Jika seperti itu adanya, mulai sekarang kau harus memanggilku Sasuke-kun," seringai lebar nan mesum itu terlihat jelas menghiasi wajahnya.
Memanggilnya Sasuke-kun? Hahahaha! Menggelikan sekali! Seperti lelucon di bulan april, demi Kami-sama itu konyol! Tapi kenapa aku merasa berbeda seperti ini? Seolah aku memang ingin memanggilnya dengan sebutan itu. Eh?
"Aku tidak mau! Untuk apa aku memanggilmu seperti itu? Kenapa aku? Padahal kau bisa saja setiap saat mendengar Karin memanggilmu dengan sebutan seperti itu, dia 'kan kekasihmu."
"Aku bukan kekasihnya," jawabnya enteng. Tangan kanannya mulai terangkat lalu didaratkan di atas pipi sebelah kiriku, dia mengelusnya lembut. Jelas hatiku langsung berdesir, belum pernah ada seseorang lagi yang mengelus pipiku selembut ini setelah 6 bulan lalu, kepergian Sasori.
Tanpa pikir panjang aku lekas menepis tangan itu, mencoba menghilangkan desiran di dalam hati, "Pintar sekali! Kau berbakat jadi seorang pembohong," ucapku seraya menyunggingkan sebelah bibirku, "Entah bagaimana bisa Karin begitu antusias dengan keberadaanmu didekatnya, ia begitu senang. Dan apa kau tidak merasa? Sepertinya dia selalu menggandeng erat kedua tanganmu. Lalu sekarang kau berkata dia bukan kekasihmu? Lucu sekali," ucapku berbelit-belit, saat aku mengatakan itu hatiku kembali merasakan perasaan aneh yang membuat aku sakit! Aku pikir aku tak akan kuat bila harus menatap wajahnya dalam jarak seperti ini jadi aku putuskan untuk berbalik membelakanginya, bermaksud ingin menjauh darinya namun ...
DEP! Kedua lengan kekarnya menghentikanku, dia mencengkram bahuku erat seraya onyx hitam itu menatap emeraldku sangat lekat.
"Kau kira untuk apa dari dulu aku memacari gadis bodoh itu, hah?" nada bicaranya terdengar keras di telingaku, membuatku sedikit ketakutan. Aku hanya menatap matanya heran, aku berharap agar dia mau melepaskan aku, namun sepertinya tidak akan! Dia sudah seperti orang yang sedang ... marah. Mata itu memancarkan rasa tidak senang saat aku menyebut nama Karin, entah apa yang teradi padanya namun aku merasa di dalam hatinya sedang terjadi peperangan.
"A-apa mak-maksudmu? Lepaskan aku!" seluruh tubuhku bergetar hebat merasakan takut. Takut dia melakukan hal yang buruk padaku. Segera ku mencoba melepaskan cengkramannya dengan sekuat tenaga namun sial, tenaganya jauh lebih besar dibandingkan denganku. Eh? Sejak kapan aku menjadi lemah seperti ini?
"Hn ..." kembali ia sunggingkan sebelah bibirnya, nampak jelas di hadapanku senyuman licik seorang Uchiha. Senyuman itu mampu membuatku semakin ketakutan.
"Le-lepaskan aku, hey!" aku mencoba berontak, ingin pergi dari jeratannya, aku coba mengendurkan cengkramannya namun sulit sekali! Sial! Usahaku kembali gagal. Dia malah semakin erat mencengkram bahuku. Dan hampir saja tadi aku tendang perutnya karena saking ingin keluarnya dari cengkraman Uchiha yang satu ini.
Dia mulai mendekatkan wajahnya ke arahku dengan perlahan, "Kau tak akan ku lepaskan sebelum kau mengerti semuanya," senyum itu kembali terukir di bibirnya, dan aku benci senyuman licik seperti itu!
"Lepaskan aku! Aku tidak mengerti dengan ucapanmu itu!"
"Kau harus mengerti!"
"Aku tidak mengerti!"
"Err~ Bagaimana bisa kau tidak mengerti tentang semua ini, heh?" dia mengguncangkan tubuhku dengan keras, aku takut, air mataku mulai berkumpul di pelupuk mata. Aku ... aku belum pernah melihatnya seperti ini, berlaku seperti ini, dan menatapku seperti ini seolah bahwa aku memang salah karena tidak mengerti akan apa yang terjadi, "Ingin mengetahui respon darimu, perasaanmu, hatimu, kebencianmu, kecemburuanmu, semua yang kau rasakan saat aku bersama gadis bodoh itu!" onyx hitamnya terbuka lebar, sejenak aku perhatikan mata itu berkilat seolah menunjukkan kesungguhan.
"Aku tetap tidak mengerti! Aku ... hiks ... aku tidak menger- hiks ... mengerti," yang semula aku berteriak keras di depan wajahnya, kini berakhir dengan aliran cairan bening yang tadi sempat berkumpul di pelupuk mata. Sungguh aku tidak mengerti! Tidak mengerti apa maksudnya, tidak mengerti mengapa dia melakukan ini, tidak mengerti dengan perasaan aneh yang selalu aku rasakan saat bersama dia!
Teman sekolahku, teman sekelasku yang sangat aku benci, yang sangat menyebalkan ini sekarang mampu membuatku merasakan hal aneh yang menurutku tidak penting! Dan bagusnya, perasaan ini benar-benar menyiksaku! Berterimakasihlah padanya, Sakura!
Dia mulai mengendurkan cengkramannya pada bahuku, masih dengan tatapan sayu pada matanya. Melihatku menangis seperti ini, mungkinkah dia tersentuh? Tch ... mana mungkin!
"Kau mengerti, Sakura. Kau tidak mungkin sebodoh itu untuk tidak mengerti akan semua ini," nada bicaranya melembut, onyx hitamnya menatapku lekat. Dan, apa ini? Dia memanggil nama asliku? Dia tidak memanggilku jidat lagi? Ada apa?
"Aku benar-ben- hiks ... benar tidak mengerti, Sa- hiks ... Sasuke," cairan bening itu terus mengalir sebanyak detak jantungku yang tidak beraturan, aku menggigit bibir bawahku sendiri menahan isak tangis.
Dia mengambil nafas pajang, tangannya yang semula berada di bahuku kini ia pindahkan tepat di kedua pipiku, "Apa aku terlalu kasar?" ucapnya lembut, lalu kedua tangannya mengusap air mataku yang masih mengalir, dengan lembut ia mengelus pipiku –lagi!-.
Aku hanya mengangguk pelan seraya menikmati elusan tangannya pada pipiku. Oh tidak! Sadar Sakura! Bukan saatnya kau merasa seperti itu.
Emerald-ku membulat saat menyadari perasaan aneh ini datang kembali, segera aku menepis keras-keras tangannya, "Jangan sentuh aku!" aku berteriak dengan keras, dan teriakkanku barusan berhasil membuatnya terdiam. Tangannya mulai menjauh dari wajahku. Dan lekas saja kaki kecilku mulai berjalan mundur, menjauhinya.
"Sa-Sakura, gomen ne," dia kembali melangkah mendekat, dengan tangannya yang seolah hendak meraih tanganku. Aku hanya terdiam seraya menahan tangis. Tak aku sangka, sekeras inikah sifat Uchiha? Berbeda sekali dengan klan Namikaze! Begitu lembut dan sopan, seperti Naruto yang mirip dengan ayahnya, Minato. Ah... kenapa aku baru sadar sekarang, bodoh!
Dia terus mendekat, mencuri beberapa langkah untuk meraih tanganku. Aku hanya tertunduk tak mampu melihat matanya hingga beberapa saat kemudian tangannya telah sukses meraih kedua tanganku dan menggenggamnya erat.
"Maaf Sakura ..." onyx itu terlihat menyesal, sedikit terlihat berkaca-kaca seperti hendak ... menangis. Eh? Aku sedikit heran. Dia menangis? Masa sih? Tidak mungkin! Pasti aku hanya salah lihat, "Maafkan aku Sakura. Aku ... aku ... aku hanya ..."aku menatapnya sayu meski penglihatanku masih tak jelas akibat air mata yang masih menggenang. Dia mendekatkan kedua tanganku ke dadanya, bibirnya terlihat hendak mengatakan sesuatu, namun seolah sulit sekali, "Aku ... aku hanya mencin-"
"Sasuke-kun!" teriakan seseorang tepatnya teriakan seorang gadis menggema keras di telingaku. Sontak aku kaget, lekas aku lepaskan tanganku dari genggaman Sasuke dan lalu aku mengusap mataku secepat mungkin agar setidaknya aku terlihat sedang tidak menangis. Setelah itu refleks leherku tertoleh ke arah suara itu berasal, dan ...
"Karin," mulutku begitu saja menyebut nama itu setelah melihat sosok gadis berambut merah berkacamata berdiri tak jauh dariku dan Sasuke. Matanya terlihat nanar dengan air mata yang memenuhi mata indahnya, itu sangat terlihat jelas walau kedua matanya terhalang oleh kacamata.
"Sa-Sasuke ... kena-kenapa... Kenapa kau memeluknya? Kenapa kau menggenggam erat kedua tangannya? Kenapa kau menghapus air matanya?" Karin berjalan mendekati Sasuke dan YOSH! Air matanya berlinang dengan deras disela-sela langkah kakinya. Bibirnya terlihat bergetar dengan kedua tangannya yang terkepal. Oh Kami-sama! Apa yang aku lakukan? Merusak hubungan seseorang itu tidak baik, Sakura! Dasar bodoh!
"Ka-Karin, aku bisa menjelaskannya," aku mulai angkat bicara, mencoba menjelaskan semuanya, namun Karin yang kini menatapku seolah tidak mau mendengarkan aku.
"Diam kau!" dia berteriak dengan keras seraya menunjukku dengan telunjuknya. "Aku sudah lihat semuanya! Beraninya kau! Padahal aku baru saja mengenalmu!" aku lihat kakinya mulai berubah haluan, dia ... kini dia sedang berjalan ke arahku. Degup jantungku mulai tak beraturan merasakan takut. Astaga! Apa yang akan dia lakukan?
Aku hanya sedikit berjalan mundur seraya terus menatap Karin yang kini telah berada di hadapanku. "Karin, kau salah paham. Ini ... ini tidak seperti yang kau ..."
"Tutup mulutmu wanita murahan!"
PRRAAKKK! Seperti vas bunga yang jatuh, hatiku hancur berkeping-keping. Emeraldku membulat tatkala mendengar kata yang barusan diucapkan Karin. Wanita murahan? Aku wanita murahan? Belum ada yang pernah memanggilku seperti itu. Itu kata-kata yang sangat menyakitkan, itu seperti menyayat harga diriku, seperti merendahkanku atas kesalah pahaman ini. Aku hanya menahan sakit, mencoba sabar, dan berharap agar Karin cepat mengerti dengan keadaan ini.
"Kau hanya wanita murahan yang senang merebut kekasih orang lain! Brengsek!" ku lihat kini tangannya mulai terangkat, ah ... aku tau, dia pasti hendak menamparku. Tampar saja! Mungkin itu akan membuatmu lebih baik. Tampar sebanyak yang kau mau jika itu harga yang harus aku bayar untuk menebus salah paham ini.
Tangannya kini mulai melayang, kian detik kian mendekat ke arah wajahku, tepatnya ke arah pipiku. Aku hanya bisa terdiam menatap tangan itu, pasrah dengan apa yang akan Karin lakukan padaku, hingga ...
TAP! Sebuah tangan yang kekar menahan tangan Karin yang hampir saja menampar pipiku dengan keras. Tangan itu mencengkram tangan Karin dengan kuat, membuat Karin sedikit meringis kesakitan. Aku menatap sayu pada pemilik tangan kekar itu, Sasuke ... untuk apa kau menahannya? Biarkan saja dia menamparku!
Sasuke menatap Karin dengan tajam seolah mengisyaratkan agar Karin tidak boleh menamparku bahkan menyentuhku sedikit pun. Lalu dia menghempaskan tangan Karin ke bawah, tentu saja dengan keras. Karin hanya menatap tak percaya pada kekasih yang sangat dia cintai.
"Sasuke ... kenapa kau menahanku? Kenapa, heh? Seolah-olah kau mencintai gadis itu! Sasuke ... kenapa?"
Sasuke terlihat acuh tak acuh saat mendapati gadis itu berteriak memaki dirinya. Ada apa dengannya? Kenapa malah diam? Dia berdecih seraya memalingkan pandangannya dari Karin seolah tak senang gadis itu berada disini. Hey! Ada apa denganmu Pantat Ayam? Seharusnya kau menghapus air mata Karin, seharusnya kau menghibur Karin, seharusnya kau bisa menenangkan Karin, seharusnya kau memeluk Karin, seharusnya ... seharusnya ...
DEG! Perasaan itu kembali datang. Ah ... bagus, mulai menyiksa lagi. Berterimakasihlah kepada Sasuke karena membuatmu merasakan ini, Sakura!
"Sa-Sasuke ... kau tega padaku! Beraninya kau berselingkuh dengan dia!" Karin berteriak histeris, tangannya memukul keras dada Sasuke yang bidang. Dia mengeluarkan seluruh amarahnya, sedangkan Sasuke hanya terdiam seolah tidak peduli, bahkan sepertinya dia tidak merasa sakit saat kedua tangan Karin memukulnya dengan keras.
Beberapa menit telah berlalu, pukulan Karin pada Sasuke kini mulai melemah, namun air matanya masih mengalir dengan deras."Sa-Sasu-ke ... kena- hiks ... kenapa?" Karin membenamkan kepalanya di dada Sasuke, dia masih terisak menahan tangis, lalu tangannya merangkul erat pada pinggang Uchiha bungsu itu.
WOSH! Tubuhku kaku melihat pemandangan itu di depan mataku, jelas... sangat ... terlihat. Bagiku perasaan aneh ini semakin menyiksa, aku bahkan tidak dapat berkata apa-apa.
Sasuke menatapku sekilas, onyx hitamnya berkilat, lalu dengan cepat ia mendorong tubuh Karin sepertinya ia tengah mencoba melepaskan pelukan Karin pada tubuhnya, namun Karin berontak, ia tetap tidak mau melepaskan tangannya dari tubuh atletis pemuda berambut raven itu.
Beberapa kali Sasuke mencoba melepaskannya namun tetap saja sulit. Wajahnya mulai memerah karena amarahnya sudah memuncak. Ia mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat, lalu ...
"Errr! Menjauh dariku!" Sasuke mendorong tubuh Karin dengan keras, membuat Karin melepaskan pelukannya dan hampir saja tersungkur ke belakang.
"Sa-Sasuke ..." Karin hanya bisa menatap kekasihnya dengan tatapan pilu, "Ka-kau ini kekasihku, Sasuke," dia mencoba mendekati Sasuke –lagi!-, langkahnya tertatih-tatih mungkin merasa tidak kuat dan tidak percaya bahwa kekasihnya akan bersikap seperti ini padanya.
"Aku bukan kekasihmu!" Sasuke berteriak keras, jelas sekali terlihat kebencian dan amarah dari matanya.
"Aku ini kekasihmu! Hiks ... hiks ..."
"Cukup! Apa kau tidak sadar? Selama ini aku menerimamu jadi kekasihku karena aku malu selalu ditembak olehmu di depan orang banyak, aku malu karena setiap saat kau memperhatikan dan memerintahku, aku malu karena kau selalu mengikutiku, dan ah ... kau sudah tau semuanya sekarang. Jujur saja, aku tak pernah merasa menjadi kekasihmu."
Mata gadis berambut merah itu terbuka lebar mendengar pernyataan panjang lebar dari Sasuke tentang hubungan mereka. Sedangkan aku ... hatiku bergetar, aku tak percaya Sasuke akan mengatakan hal itu. Jadi ini jawabannya mengapa ia memacari Karin dari dulu. Aku menatap iba pada Karin yang kini telah terkulai lemah, ia ambruk, terjatuh ke tanah dengan seluruh tubuh yang bergetar. Kasihan gadis itu, aku mencoba mencuri beberapa langkah untuk mendekatinya.
"Karin ...," aku memanggil namanya dengan lembut, raut wajahnya tidak meunjukkan ekspresi apapun, tatapannya terlihat kosong. Jelas sekali ia sedang shock karena Sasuke.
Aku tau, bahkan sangat tau bahwa Karin sangat dan begitu mencintai Sasuke. Aku pernah mendengar gosip dari Ino bahwa Karin telah menembak Sasuke di depan umum sebanyak 32 kali, mungkin lebih. Pantas saja Sasuke merasa risih, tapi aku tidak habis pikir bahwa Sasuke akan menerimanya, bukan karena cinta tapi karena terpaksa. Bukankah itu sama saja dengan mempermainkan perasaannya? Kejam sekali.
"Karin ...," aku berjongkok di depannya seraya kembali memanggil namanya lembut. Masih dalam keadaan yang sama, dia tidak merespon perkataanku. Aku merasa prihatin padanya.
"Kau jangan mendekati dia, bodoh! Apa kau mau wajahmu diberi goresan dengan cakaran indahnya?" Sasuke mendelik ke arahku kemudian dia mengalihkan pandangannya dariku. Aku hanya mendengus pelan mendapati sikapnya seperti itu.
Mungkin Karin mendengar apa yang dikatakan Sasuke, karena dengan seketika itu Karin berdiri, sontak membuatku kaget dan hampir terjengkang ke belakang. Aku lihat ia berdiri dengan sekuat tenaga, aku tau itu, sekilas ia menghapus dan membersihkan air mata yang mengalir dari matanya. Lalu dengan cepat ia melangkahkan kakinya menjauh dari tempat ini, ia berlari dengan kaki yang bergetar, aku lihat itu. Tangannya menutupi mulut dan hidungnya, aku tau ia sedang berusaha untuk tidak menangis -lagi- saat mengetahui kenyataan pahit yang dilontarkan tuan Uchiha muda ini.
"Kariiinnnn ...," aku memanggil namanya dengan keras saat melihat dia berada jauh dari pandanganku, ia tidak merespon maupun menoleh, ia terus berlari hingga menghilang di antara pepohonan.
Aku sangat merasakan kondisi Karin yang hancur, bagaimana pun aku juga wanita, pasti ia sangat terpukul, hatinya hancur. Err~ Sasuke no baka! Kau berhasil membuat seorang gadis merasakan sakit yang amat sangat, itu karena ulahmu!
Aku yang tidak terima melihat Karin seperti itu, lekas aku beranjak berdiri, ku langkahkan kakiku untuk mendekat ke arah Sasuke, lalu aku tarik tangan kekarnya agar dia mau berbalik dan menatap ke arahku, "Kau sama sekali tidak berperasaan, Uchiha! Kau tega membuatnya seperti ini padahal dia amat mencintaimu. Lihat! Semuanya jadi hancur!"
Dia menghela nafas panjang dengan sesekali menatapku dan danau secara bergantian, "Dasar tidak peka. Bukankah selama ini kau juga bersikap seperti itu padaku?"
Eh? Emerald-ku terbuka lebar, aku terkejut dengan pernyataannya barusan. Aku bersikap sama dengan apa yang dia lakukan terhadap Karin? Aku? Aku? Kapan aku melakukannya? Aku yang tidak peka atau dia yang berbohong? Aku terus bertanya-tanya dalam hati, tentu saja hatiku pun tidak tau menau soal ini. Saat aku sedang berbelit-belit dengan hati dan pikiranku sendiri, aku merasa seseorang sedang berlari mendekat, langsung saja aku menoleh untuk menatap sosok seseorang itu.
"Sasori?"
Pemuda berambut merah itu berlari kencang hingga berhenti di hadapanku. Nafasnya terengah-engah, setelah larinya terhenti ia menumpukkan tangannya pada kedua lututnya. Terlihat sekali bahwa ia sedang kelelahan.
"Pulanglah. Kekasihmu sudah menjemput," Sasuke berbicara pelan seraya menatap danau, walau pun suaranya pelan namun terdengar jelas olehku.
Aku hanya menatap Sasori dan Sasuke secara bergantian. Nampaknya Sasuke masih saja menganggap bahwa aku adalah kekasih Sasori, isshh! Dasar baka!
"Ternyata benar kau berada disini Sakura-chan," Sasori mulai mengatur nafasnya, dan tubuhnya mulai berdiri tegak seraya menatapku lekat-lekat.
"Hnn ... aku ... aku ...," perkataanku terbata-bata, aku bingung hendak menjawab apa atas pertanyaan Sasori. Darimana dia tau bahwa aku datang kesini?
"Untung saja tadi aku mengikuti Karin kesini, perasaanku memang benar, kau sedang disini bersama ..." matanya sekilas melirik ke arah Sasuke yang berada di sampingku, "Bersama Sasuke."
Aku hanya tertunduk lesu, dan terus berkutat dengan jari-jari tanganku yang aku belit-belitkan satu dengan lainnya. Aku menggigit bibir bawahku pelan, berharap Sasori tidak menanyakan hal-hal yang lainnya. Oia! Pasti sebelum ke sini dia berpapasan dengan Karin, waduh gawat! Semoga saja ia tidak menanyakan mengapa Karin berlari seraya menangis saat pergi meninggalkanku dan Sasuke.
"Tch ... sebaiknya kau bawa gadismu pulang, Sa-so-ri," Sasuke berkata tanpa menatap wajah Sasori. Sekilas aku melihat Sasori mendengus kesal dengan nafas berat.
"Tentu saja. Lain kali aku tak akan membiarkan dia pergi sendiri terutama dengan orang yang mungkin saja bisa melukainya," Sasori mendelik ke arah Sasuke dengan bibirnya yang tersungging menampilkan senyuman licik.
"Itu bagus," Sasuke terkekeh pelan.
Aku tetap terdiam menatap Sasori dan Sasuke secara bergantian. Aku sama sekali tidak mengerti akan apa yang mereka bicarakan. Hhuuuaa~ aku ini bodoh sekali! Sejenak aku merutuk di dalam hati, merutuki kebodohanku.
"Aku sudah tau semuanya, Sakura-chan," Sasori meraih tangan kananku dengan lembut, "Dia menangis bukan karena salahmu, tenang saja."
DEG! Apa yang dia bicarakan? Apa dia sedang membicarakan Karin padaku? Aku membeku seketika itu juga, mengingat wajah Karin yang terbasahi oleh air mata. Ini salahku, Sasori! Jika saja aku tidak ke sini, jika saja aku cepat pergi saat aku tau Sasuke ada disini.
"Tidak, Sasori ... kau sal-"
"Sssttt ...," telunjuk Sasori menutup bibirku lembut, "Sudahlah, jangan dibahas lagi," tangannya mulai mengelus pipiku, mencoba menenangkanku, mencoba agar aku tidak selalu terpiirkan masalah ini.
Aku kembali terdiam membayangkan rasa sakit yang dirasakan Karin, itu mengerikkan! Sangat menyiksa dan benar-benar menyakitkan. Aku semakin merasa bersalah pada Karin, tak sepantasnya aku berada disini bersama dia, Sasuke. Harusnya aku segera sadar dan langsung pergi meninggalka Sasuke disini sejak awal, namun entah mengapa sesuatu seperti menghalangiku, mencegahku untuk pergi menjauh dari jangkau lingkup keturunan klan Uchiha itu.
"Hey, tak bisakah kalian lihat? Aku ada disini! Mendengar apa yang kalian katakan dan melihat apa yang kalian lakukan, jangan bermesraan di depan mataku, itu menjijikkan!" bentak Sasuke yang baru aku sadari kini dia tengah menatapku dan Sasori dengan tatapan tajam, amarah, kebencina, kekesalan, kejengkelan dan ... eh? Apa itu? Kecemburuan?
"Sepertinya penunggu tempat ini sedang marah, ayo kita pulang," Sasori berbisik pelan di telingaku membuatku sedikit kegelian, lekas ia menarik tanganku, membawaku pergi menjauh dari tempat itu. Menjauh dari ... Sasuke, tanpa tatapan, ucapan salam, atau pun lambaian tangan dari pemuda Uchiha itu. Eh? Tung... tunggu dulu! Apa aku sedang mengharapkan Sasuke berbuat seperti itu saat aku pergi? Uwaaahh~ yang benar saja! Tidak dapat dipercaya!
Saat aku melangkah pergi menjauh, Sasuke kembali membalikkan tubuhnya, kembali menatap danau sepi nan indah di hadapannya.
*Keesokan harinya*
Tumben sekali hari ini aku bangun siang, tak seperti biasanya. Apa karena semalam aku terus memikirkan kejadian kemarin? Demi Kami-sama! Aku masih saja merasa sangat bersalah pada Karin. Err~ aku mengacak-acak rambutku menjadi semakin kusut dari semula saat aku barusaja membuka kedua mataku, terbebas dari alam mimpi. Dasar bodoh! Kau merusak hubungan orang lain, Sakura! Bagus, sekarang kau mulai menjadi malaikat kecil yang mengerikkan! Aku terus merutuk dalam hati, padahal baru saja aku mengenal Karin, aku kira aku dan dia akan berteman baik, tapi ... ugh! Lupakan!
Aku terdiam sejenak, aku tak akan memikirkan itu lagi, sekarang yang lebih penting aku harus memutuskan apa aku akan kembali tidur atau akan bangun dan membantu ibu –aih! Dasar pemalas!-. Setelah ku putuskan, kau lebih memilih untuk membantu ibu, segera aku beranjak turun dari tempat tidur dan langsung menuju kamar mandi.
=0=0=0=
"Sakura-chan, tolong bantu ibu. Tolong belikan lobak dan tomat di pasar ya, saying," Ibuku menyerahkan kantung belanja padaku. Aku hanya menghela nafas panjang, mau bagaimanapun hari ini aku harus membantu ibu memasak dan membereskan rumah. Sudah lama juga aku tidak membantu ibu seperi ini karena kesibukkan dengan tugas-tugas di sekolah.
Dengan berat hati tapi mencoba ikhlas, akhirnya aku meraih kantung itu. Bersiap pergi ke pasar untuk membeli lobak dan tomat sesuai permintaan ibu. Lalu setelah ibu memberikan uang belanjanya, aku langung pergi ke pasar Konoha yang tak jauh dari rumahku.
Ku lihat jalan menuju pasar Konoha begitu ramai, dipenuhi oleh orang-orang yang berdomisili tinggal di Konohagakure. Aku tetap berjalan, mencari toko sayuran yang pemiliknya adalah Asuma-san, teman dekat ayah, dan tentu saja setiap ibu akan membeli sayuran, toko Asuma-san yang paling ibu percaya, dan telah bertahun-tahun ibu berlangganan di toko itu. Asuma-san itu sangat baik, terkadang selalu memberi bonus beberapa sayuran atau potongan harga disetiap sayuran yang ibu beli, mungkin karena sudah lama berlangganan jadinya seperti itu.
Aku mulai mempercepat langkah kakiku, melalui deretan toko yang menawarkan berbagai jenis dagangan yang menarik. Sejenak mataku tertuju pada Restoran Ramen Ichiraku yang berada di samping kananku, aku lihat di depan restoran itu ada Naruto dan Kiba, sepertinya mereka sedang berdebat, lihat saja pergerakan mulut mereka yang cepat dan kedua tangan mereka saling ditolakkan di pinggang masing-masing. Berdebat? Memperdebatkan apa? Si bodoh itu bisa juga berdebat, hahah ... Dan tanpa pikir panjang aku langsung menghampiri mereka.
"Ohayou, Naruto, Kiba," ucapku riang seraya menghentikan langkah kakiu tepat di hadapan mereka. Mereka yang menyadari keberadaanku lekas menghetikan perdebatannya, tuh kan apa kataku! Mereka sedang berdebat. Secara bersamaan mereka menoleh ke arahku dan secara bersamaan pula mulut mereka berkata "Eh?" dengan alis yang terangkat sebelah secara bersamaan pula. Huuhh ... benar-benar mirip sekali tingkah laku mereka ini, seperti inikah namanya sahabat sejati?
"Eh? Ternyata ada Sakura-chan. Ohayou Sakura," ucap Naruto seraya nyengir seperti biasa dengan tangannya yang ia letakkan di belakang kepala.
"Eh? Ada Sakura ... Ohayou Sakura. Senang melihatmu ada disini," Kiba menurunkan lengannya yang sedari tadi ia tolakkan di pinggangnya, lalu ia tersenyum ramah padaku.
"Kalian sedang apa disini?" aku tatap Naruto dan Kiba secara bergantian. Sejenak aku berpikir, apa pertanyaanku ini dapat memancing perdebatan mereka lagi atau tidak? Semoga saja tidak!
"Ah itu ... ano~ kami mau makan ramen. Hehe ..." ucap Naruto enteng.
"Eh? Makan ramen? Aku bilang aku mau sushi! Aku tidak suka ramen," Kiba mulai memprotes perkataan Naruto. Wajahnya mulai memerah menunjukkan amarah. Sudah ku duga, pasti perdebatannya akan dimulai lagi, "Sudah ku bilang, hari ini kita makan di restoran sushi!"
"Hey, kau curang!" Naruto pun kelihatannya mulai memanas karena perkataan Kiba. Tangannya pun mulai berpindah lagi ke pinggangnya, "Sekarang kita makan ramen! Kemarin 'kan kita sudah makan sushi, Kiba!"
Yosh! Sakura, kau berhasil membuat mereka berdebat lagi. Bertepuk tanganlah untuk Sakura.
"Hey, kalian! Berhenti bertengkar!" aku berbicara dengan nada yang lumayan tinggi membuat kedua pemuda itu terdiam dan menatapku bersamaan.
"Gomen ne, Sakura-chan," Naruto menggaruk kepala tak gatal seraya tertunduk, "Ini bukan bertengkar, kami hanya sedang berunding. Hehe ..." ucap Naruto kembali menatap ke arahku dengan cengiran khasnya.
PLETAK! Satu pukulan yang lumayan keras mendarat di kepala pirang pemuda itu, Kiba mengepalkan tangannya kuat-kuat. Naruto hanya meringis mendapatkan pukulan itu, lekas ia mengusap-usap lembut bekas pukulan tadi dengan kedua tangannya.
"Dasar, bodoh! Apanya yang berunding, heh? Baka!" ucap Kiba seraya memejamkan mata, mungkin itu caranya untuk meredam amarahnya yang sedang membara.
"Kau ini, sakit tau! Awas saja, akan ku balas kau nanti," ucap Naruto penuh dendam, matanya mendelik ke arah Kiba. Dengan rasa sakit yang masih bersarang di kepalanya, Naruto mulai mengalihkan pandangannya ke arahku, "Oia, Sakura-chan... kau mau kemana?"
Aaahhh ... iya! Aku hampir lupa. Aku harus pergi sekarang, takut ibu lama menunggu. Untung saja Naruto menanyakan hal itu, aku jadi ingat lagi. Arigatou Naruto-kun.
"Oia, aku harus membeli lobak dan tomat di toko Asuma-san. Umm ... ya sudah, aku pergi dulu ya, khawatir ibuku menunggu lama. Jaa ne~" tanpa persetujuan dan ucapan salam dari mereka, aku langsung berlari menjauh meninggakan mereka dengan tanganku yang melambai tanda perpisahan.
Fyuuhh ... untung saja aku ingat. Kalau tidak, ibu pasti sudah marah karena aku terlalu lama. Kembali aku berjalan menulusuri setiap sudut pasar Konoha. Sekilas aku melirik ke arah toko perhiasan di ujung sanas, di balik kaca estalase tersebut terpampang jelas gelang yang sangat berkilau, bentuknya indah, dengan gantungan bintang di tengahnya. Setiap batu permata yang menempel di seluruh gelangnya, benar-benar menambah kilau keindahan gelang tersebut. Uuwaaahhh ... rasanya ingin sekali aku memakai gelang itu, mungkin akan terlihat bagus saat aku mengenakkan gaun putih selutut yang pernah aku pakai saat bertemu Sasori. Aku tersenyum dari kejauhan, menatap gelang itu, tapi... satu hal yang mengganjal kepalaku, harganya! Tentu saja harganya sangat mahal, huuuhhh ... aku menghela nafas panjang dengan berat. Ku langkahkan lagi kakiku menjauhi toko itu.
Pikiranku terus membayangkan betapa bagus dan berkilaunya gelang itu, aku ingin gelang itu, dan aku harap seseorang akan menghadiahkan gelang itu saat ulang tahunku nanti. Aku tersenyum-senyum sendiri hingga langkah kakiku terhenti tepat di depan sebuah toko sayuran.
"Ahh ... sudah sampai."
Sejenak aku melirik ke kanan dan ke kiri, mencoba mencari seseorang. Eh? Aku tak melihat Asuma-san, kemana dia? Ko tidak ada?
"Permisi ..." aku berteriak seraya menatap ruangan di balik toko itu, namun tak ada satu pun yang menyahut. Sejenak aku mundar-mandir di depan toko itu, menunggu Asuma-san datang. 10 menit berlalu sudah, tapi tak ada tanda-tanda kemunculan teman dekat ayah itu. Ugh! Kemana sih dia? Apa mungkin dia sedang sibuk di belakang? Ya sudahlah, ku putuskan untuk menunggunya sebentar lagi.
Aku duduk di sebuah kursi yang tidak jauh dari tempatku berdiri. Sejenak menghela nafas, rasanya lama sekali. Setiap saat aku tatap jam tangan yang aku pakai, huuhhh... sudah ¾ jam aku pergi ke pasar, tapi belum juga membeli apa yang disuruh ibu. Aku terdiam, suasana menjadi hening. Suara langkah kaki orang-orang yang berlalu lalang kini mulai jarang terdengar telinga. Sesaat pikiranku melayang, masih saja dengan membayangkan Karin.
Kasihan gadis itu. Aku terus mengasihani Karin di dalam hati, dan tentu saja merutuki kebodohanku saat itu. Err~ perasaan bersalah ini tak kunjung pergi dari pikiranku. Apa yang harus aku lakukan? Saat aku sedang sibuk memikirkan Karin, tiba-tiba saja perasaanku tidak enak, tubuhku kaku. Aku tidak tau apa yang membuatku seperti ini, jadi aku acuhkan saja perasaan itu, hingga ...
DEP!
"Kyaaa~" mataku ditutup paksa oleh seseorang. Rasa terkejut dan takut menjalar ke seluruh tubuh, keranjang belanjaan yang sedari tadi aku genggam kini terlepas karena tanganku sedang meronta-ronta berharap seseorang itu melepaskan kau. Siapa ini? Siapa yang menutup paksa mataku ini?
BRUUKK! Tangannya yang kekar menarikku dengan keras dari kursi tadi sehingga aku terjatuh dengan keras ke atas tanah, dan jika kau mau, itu sangat sakit!
"Lepaskan aku!" bentakku entah pada siapa. Tangan dan kakiku meronta, mencoba berontak padanya, namun usahaku sia-sia karena dia langsung mengikat kedua tangan dan kakiku dengan tali tambang.
"Hey! Lepaskan ak- uumm! Uumm!" belum sempat aku menyelesaikan perkataanku, dia membekap mulutku dengan kain. Membuatku sama sekali tidak bisa berteriak minta tolong.
SRREETTT! Oh tidak! Dia menarik sekujur tubuhku dengan kasar, sehingga bergesekkan dengan tanah yang membuat aku sedikit meringis kesakitan. Demi Kami-sama! Seseorang tolong aku! Aku berteriak sekeras yang aku bisa, namun suaraku terhalang oleh kain yang menutupi seluruh bibirku.
Kami-sama, kemana orang ini akan membawaku? Tubuhku yang masih dia seret tiba-tiba bergetar hebat, jujur saja aku takut. Apa dia akan menculikku? Tapi ... untuk apa dia menculikku? Atau jangan-jangan ... oh tidak! Aku tidak mau kehilangan harga diriku sebagai seorang perempuan! Lepaskan aku! Aku kembali berteriak, kembali meronta, tapi menurutku itu sia-sia. Kami-sama tolong selamatkan aku.
BUUGGHHT! Aawww! Setelah lumayan lama dia menyeret sekujur tubuhku ke suatu tempat, ia melemparkan tubuhku dengan keras ke sebuah sudut. Dengan mata dan bibir yang masih tertutp, lalu tangan dan kaki yang masih terikat, aku membayangkan hal buruk apa yang mungkin bisa terjadi padaku saat ini juga. Aku ... aku takut.
"Kau lama sekali Shino," ucap seseorang, dan dari gaya bicaranya aku tau bahwa dia adalah seorang perempuan. Dan, apakah orang yang tadi dia sebut Shino itu adalah orang yang membawaku kesini?
"Maafkan aku, Anko. Tadi sangat ramai sekali, sulit bagiku membawa gadis ini saat suasana masih ramai," ucap seorang laki-laki yang aku rasa adalah Shino.
"Ya sudah, kau boleh pergi sekarang."
"Aku harap kau membayarku seperti apa yang telah kau janjikan."
"Iya, iya, terserahlah," ucap perempuan itu acuh tak acuh. Beberapa detik kemudian, telingaku mendengar suara langkah kaki berat yang mulai menjauh. Apa dia sudah pergi? Mungkin saja. Tapi aku tidak boleh senang secepat itu. Pasti masih ada serangkaian kejadian yang aku alami hari ini, dan jika aku boleh meminta, aku harap semua ini lelucon, aku harap ini adalah serentetan tes kemampuan berakting dan menghayati keadaan untuk merekrut seseorang agar menjadi seorang bintang film. Aih! Permohonan apa itu? Konyol!
Detik selanjutnya, aku kembai mendengar suara langkah kaki, namun ini ... dia mendekat. Sedikit ku pertajam indera pendengaranku, aku harus lebih peka! Dan saat aku sadar, seseorang itu telah berada di hadapanku. Ugh! Siapa lagi ini?
"Wah, wah, senang bertemu denganmu lagi, Sa-ku-ra," seseorang itu kini berbicara padaku. Seseorang yang aku kira juga perempuan.
DEG! Aku terkejut, bahkan sangat terkejut dibandingkan saat tadi aku dibawa paksa oleh Shino. Sejenak aku terdiam, kembali mengingat suara itu. Suaranya berbeda dengan suara perempuan tadi, perempuan yang disebut Shino dengan nama Anko. Suara ini... suara perempuan yang khas dan sangat familiar di telingaku. Mungkinkah aku mengenal suara itu?
"Sepertinya akan menarik bila kita bermain-main sebentar disini," ucapnya lagi.
DEG! Aku semakin tidak percaya. Suara ini memang pernah aku dengar. Suara ini ... aku memang mengenali suara ini, apa ini ... apa ini suara ... Karin?
TBC
Makasih buat yang udah nyempetin baca fic ini. Arigatou gozaimashita! Thanks a lot! Jangan lupa repiuw!
Mata Raishuu ^,~
