"Wah, wah, senang bertemu denganmu lagi, Sa-ku-ra," seseorang itu kini berbicara padaku. Seseorang yang aku kira juga perempuan.
DEG! Aku terkejut, bahkan sangat terkejut dibandingkan saat tadi aku dibawa paksa oleh Shino. Sejenak aku terdiam, kembali mengingat suara itu. Suaranya berbeda dengan suara perempuan tadi, perempuan yang disebut Shino dengan nama Anko. Suara ini ... suara perempuan yang khas dan sangat familiar di telingaku. Mungkinkah aku mengenal suara itu?
"Sepertinya akan menarik bila kita bermain-main sebentar disini," ucapnya lagi.
DEG! Aku semakin tidak percaya. Suara ini memang pernah aku dengar. Suara ini ... aku memang mengenali suara ini, apa ini ... apa ini suara ... Karin?
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Warning : Typo(s), gaje, abal, EYD belum benar, rush, dll
Summary : Sekujur tubuhku terasa sakit, lini, dan pegal, namun semuanya hilang saat tanpa sadar dia telah memelukky erat.
Pair : SasuSakuGaa
.
.
If you dont like, dont read!
Happy Reading (^,^)
"Jadi ini, bocah yang kau ceritakan tempo hari?" suara perempuan yang bernama Anko itu pun kembali terdengar di telingaku.
Aku yang kebingungan dengan obrolan mereka, hanya menggerakkan kepala tak menentu, mencoba menajamkan indera pendengaranku. Dan, kalau tadi aku tidak salah dengar, benarkah tadi suara Karin?
"Iya, bocah ini telah merenggut Sasuke dariku. Tchh ...," suara yang aku kenali sebagai suara Karin itu kembali terdengar. Lebih dekat, atau lebih tepatnya orang yang memiliki suara itu benar-benar berada tepat di hadapanku.
Otakku mulai mencerna perkataannya barusan. Dan ... Astaga! Apa barusan dia mengatakan bahwa aku telah merenggut Sasuke darinya? Demi Kami-sama! Apa ini benar-benar Karin? Oh ayolah! Tidak mungkin ini Karin, emm- maksudku dia tidak akan melakukan hal semacam ini terhadapku 'kan? Semoga saja.
"Wah wah ... aku kira takkan ada yang berani mendekati Sasuke selain dirimu. Hnn ... lalu, apa yang akan kau lakukan padanya?"
"Aku akan sedikit bermain dengannya," tangannya yang dingin mulai mengusap pipiku perlahan, membuatku sedikit merinding, "Benar 'kan Sakura?"
SREBEET! Dia menarik paksa kain yang sempat membekap seluruh mulutku. Astaga! Dia kasar sekali! Aku sampai meringis kesakitan saat ia menariknya, dan itu membuat kepalaku sedikit tersungkur ke depan.
"Oh tidak. Maafkan aku. Apa aku terlalu kasar?" kini nada bicaranya terdengar menyesal dan sedikit manja.
Ahh ... mana mungkin dia menyesali perbuatannya barusan. Lagi pula jika dia memang menyesal, harusnya dia segera membuka seluruh ikatanku. Jangan sampai aku terlalu percaya pada Kar- maksudku pada perempuan ini.
Tch ... jangan katakan bahwa kini aku menganggapnya benar-benar Karin. Jangan! Jangan! Aku percaya Karin adalah orang yang baik, aku yakin Karin tak akan melakukan hal seperti ini padaku, aku yakin sekarang Karin tengah berada di rumahnya dan bukan sedang menyiksaku di sini.
"Hnn ... kau bilang itu kasar? Kau harus melihat yang satu ini, ketua," ucap Anko dengan sedikit terkekeh pelan.
Aku merasa heran, mengapa Anko menyebut perempuan itu dengan ketua? Memangnya dia ketua apa? Ketua organisasi penculikan begitu?
"Baiklah. Dengan senang hati aku akan melihatnya," ucap sang ketua.
DEP! DEP! DEP! Untuk kesekian kalinya, suara langkah kaki terdengar mendekat ke arahku. Aku yakin bahwa itu pasti Anko. Aku berharap dia tak akan melakukan hal yang lebih buruk ketimbang dengan apa yang telah dilakukan oleh perempuan yang berada di hadapanku ini.
Tanpa aku sadari, kedua lengan Anko kini telah menarik kerah bajuku dengan kasar. Menariknya ke atas, membuatku kesakitan dan terpaksa untuk berdiri walau pun aku merasa nyeri di bagian kaki.
Sejenak aku meringis, tubuhku bergetar, aku merasa takut. Bayangkan saja, di culik dengan paksa, menjatuhkan seluruh tubuhku di tempat yang sepi, dan di siksa oleh kedua perempuan ini yang wajahnya pun sama sekali tidak aku ketahui, ini benar-benar mimpi buruk.
"Ternyata kau punya nyali juga untuk mendekati Sasuke-kun."
PLAKK! Tamparan kasar nan keras mendarat di pipiku dengan sangat mulus. Aku merasakan sakit dan panas di bagian bekas tamparan itu. Lidahku merasakan suatu cairan yang rasanya asin bercampur rasa besi menetes dari ujung bibirku. Dan darah segar itu pun aku telan dengan terpaksa. YAAKK! Rasanya menjijikan! Namun, apa boleh buat.
"Dengar ya, bocah. Yang boleh mendekati Sasuke itu hanya anggota SFC saja, yaitu aku dan Karin!"
BRUUK!
"Aaahh!" aku berteriak seketika, saat tubuhku ia hempaskan dengan keras ke tanah. Rasanya tubuhku seperti remuk, terus di banting dengan kasar seperti ini bisa-bisa membuatku masuk rumah sakit.
"Uuppzz! Sakit ya?" ucap Anko dengan santainya.
Aku hanya merutuk dalam hati. Tentu sakit! Jika kau mau tau rasanya, aku bisa mempraktekannya padamu sekarang. Hatiku terus berkicau-kicau tak jelas. Tapi... sayang sekali, aku tak punya cukup keberanian untuk berkata seperti itu dengan mulutku sendiri. Payah!
"Wanita lemah! Murahan! Tidak tau malu! Seenaknya saja merebut kekasih orang!" ucap perempuan yang dipanggil Anko sebagai ketua. Mungkin dia ketua SFC atau apalah itu namanya, aku tidak peduli.
Kata-kata yang menusuk hati itu terdengar sangat jelas ditelingaku. Membuatku ingin berontak melawannya. Memangnya siapa dia? Seenaknya saja menilaiku seperti itu. Seenaknya saja berbuat seperti ini padaku dengan alasan telah merebut Sasuke. Memangnya apa yang aku lakukan dengan Sasuke? Lagi pula aku tak pernah dekat dengannya –kecuali kemarin- dan aku sama sekali tak pernah mau ada di dekatnya.
Tak lama, aku merasa aneh pada diriku sediri. Entah datang dari mana, tapi semua keberanianku kini telah terkumpul. Aku ingin melawannya, bahkan berkelahi dengannya pun akan aku layani. Aku tidak terima dia berkata seperti itu padaku.
"Pengecut ..." dengan refleks mulutku mengucapkan kata itu sebagai tanda peperangan akan dimulai.
Aku rasa kini aku mulai berani melawan mereka meski aku tau pasti aku akan kalah dan babak belur oleh kedua orang ini. Dan, akan bertambah babak belur lagi jika orang yang bernama Shino itu kembali kesini.
Lalu detik selanjutnya, aku merasa rambutku dijambak dengan keras dan sedikit tertarik ke belakang, "Apa yang barusan kau katakan, heh?" si ketua berbicara dengan nada tak suka padaku, dan tangannya semakin keras menjambak rambutku. Sedangkan aku hanya menyunggingkan sebelah bibirku, mencoba untuk tidak meringis kesakitan.
"Aku bilang kau pengecut," jawabku enteng.
DUAAK!
"Aaaahhhh!"
Kepalaku ia hantamkan ke tembok dengan keras. Membuatku merasakan pusing yang amat sangat. Hampir saja aku pingsan, namun aku segera menyadarkan diriku sendiri, mencoba agar tetap terjaga.
"Kau bilang aku pengecut?"
PLAAKK! Untuk kedua kalinya tamparan keras itu kembali mendarat di pipiku. Dan darah segar pun kembali mengalir dari ujung bibirku. Sakit memang, tapi aku sedikit merasa lega, setidaknya karena kini aku telah berhasil membela harga diriku sendiri. Aku kira rasa sakitku ini tak akan cukup sampai disini, karena ...
DUUAKK! Kakinya menendang perutku, membuatku ingin memuntahkan seluruh isi yang berada di perutku. Pusing, mual, sakit di seluruh anggota tubuh. Ahh ... mungkin sebentar lagi aku akan mati. Pikiranku mulai tak waras akibat tadi kepalaku di hantamkan ke tembok.
"Katakan sekali lagi!" pintanya dengan nada tinggi.
"Aku bilang kau pengecut. Kau bahkan menutup mataku dengan kain dan tak menampakkan wajahmu di hadapanku," aku berkata seperti itu dengan susah payah menahan semua sakit yang aku rasakan, terutama sakit di kepala dan perutku.
Hening.
Untuk beberapa saat ini suasana menjadi hening. Sang ketua atau pun Anko tidak menjawab pertanyaan yang aku lontarkan. Dan dalam keadaan seperti itu, aku mencoba memulihkan diriku dari rasa pusing, mual, dan sakit yang telah mereka berikan.
"Tch ... Hnn ... Hahaha!" sang ketua itu tiba-tiba tertawa dengan sangat kerasnya, membuatku sedikit mengernyitkan keningku. Apa pernyataanku tadi itu lucu? Aku rasa tidak. Tapi mengapa dia tertawa?
"Jadi kau ingin tau aku sebenarnya, heh? Baiklah," Lanjutnya dengun penuh percaya diri, "Anko, bukakan penutup matanya."
Aku terdiam tak bergeming saat Anko membuka penutup mataku dengan kasar. Akhirnya aku akan melihat wajahnya itu. Aku ingin tau siapa sebenarnya dia? Mengapa suaranya sangat mirip dengan Karin?
Setelah kain itu terlepas, perlahan aku mulai membuka kelopak mataku. Secercah cahaya menyilaukan langsung tertangkap jelas, refleks mataku agar tertutup setengah, mencoba menghalangi sinar itu untuk menembus mataku.
"Lihat aku!" ucap si ketua masih dengan nada tinggi.
Perlahan tapi pasti, mataku mulai terbiasa dengan sinar yang menyilaukan itu. Sejenak aku memperhatikan sosok perempuan yang kini tengah berdiri di hadapanku. Sosoknya masih terlihat buram, namun ... satu detik ... dua detik ...
DEG! Emerald-ku terbuka lebar, kerongkonganku seakan tercekat sesuatu, dan tubuhku kaku seketika. Aku tercengang tak percaya dengan sosok yang aku lihat ini. Padahal aku sangat berharap kalau itu bukan dia, tapi sepertinya harapanku tidak terkabul.
"Karin ...," gumamku pelan setelah mengenali sosok perempuan berambut merah dengan kacamata yang menghiasi wajahnya.
Karin hanya terkekeh pelan seraya menolakkan kedua tangannya di pinggang. Mungkin merasa puas saat aku telah mengetahui bahwa yang menculikku adalah dia. Masih dengan rasa terkejut, aku melihat di sampingnya ada seorang perempuan yang tengah bersender manis ke tembok. Perempuan bermata coklat terang, berambut ungu dengan poni yang meruncing di bagian depan dan rambut bagian belakang yang dikuncir. Ia mengenakan kaos hitam dengan mantel coklat dan rok mini berwarna orange tua. Aku yakin dia pasti perempuan bernama Anko. Eh? Tunggu dulu ... bukankah dia adalah siswi kelas 1-D? Ahhh ... kenapa aku baru ingat sekarang?
Tak lama, aku gulirkan mataku menatap sekitar. Dari atas sampai bawah, dan dari kiri ke kanan. Batinku kembali tercengang saat mengetahui tempatku berada sekarang, ternyata aku dibawa ke sebuah gang sempit nan kotor yang berada di sela-sela bangunan pertokoan tua yang sudah lama tak terpakai.
"Kau tak menyangkanya 'kan?" ucap Karin masih dengan percaya diri.
"Itu tidak masalah, aku sudah menduganya," jawabku lagi seraya tersenyum licik, "Apa yang kau inginkan sekarang?"
"Tch! Dasar sombong!" mata Anko terus memberi deathglare padaku, aku hanya menatapnya dengan santai. Entah mengapa, kali ini aku benar-benar merasa tidak takut meski sekujur tubuhku merasakan nyeri yang amat sangat.
Kaki jenjang Anko pun terlihat mulai berjalan ke arahku. Ia hentakkan kakinya dengan keras, dan menimbulkan suara aneh. Saat Anko telah berada 3 langkah dariku, sebuah tangan menghentikkan langkahnya.
"Biar aku saja," ucap Karin.
Anko hanya mengangguk pelan seraya kembali bersender ke tembok. Dan kini, Karin yang tengah menghampiriku. Kembali rambutku ia jambak dengan keras, membuat merasakan sakit untuk yang kesekian kali. Detik selanjutnya, senyuman licik terlihat jelas dalam raut wajah perempuan berambut merah itu.
"Aku akan memberimu hadiah," ucapnya dengan nada manja.
Tangannya yang lain merogoh sesuatu dalam saku celana jeansnya. Sesuatu yang katanya adalah hadiahku. Aku tidak tau itu apa, tapi yang jelas aku harap itu bukanlah sesuatu yang buruk.
"Ini untukmu."
Emerald-ku terbelalak, degup jantungku seolah berhenti. Dengan mataku ini, aku melihat sebuah korek api telah digenggamnya. Apa yang akan dia lakukan? Karin kembali tersenyum licik ke arahku.
CKLEK! Ia mulai menyalakan korek api itu. Aku merasa waswas terhadap apa yang akan dilakukan olehnya kali ini, untuk apa dia menyalakan korek api itu?
"Warna rambutmu ini sangat jelek, kau tau?" dia mulai berbasa-basi dengan tangannya yang masih menjambak rambutku.
"A-apa yang akan kau lakukan?"
"Sepertinya rambutmu akan terlihat lebih bagus jika aku-" dia menggantungkan kalimatnya, membuatku semakin waswas dan rasa takut mulai menyelimutiku lagi, "-jika aku membakarnya."
DEG! Apa yang bausan dia katakan? Membakarnya? MEMBAKAR?
"Ti-tidak! Ja-jangan kau lakukan itu!" aku berteriak, meronta, mencoba menjauhkan korek api yang menyala itu dari rambutku. Perasaanku mulai tak karuan, demi Kami-sama! Aku mohon jangan lakukan.
"Hahaha ...," Karin tertawa layaknya seperti penyihir yang akan membunuh mangsanya, "Akan ku buat lebih bagus, dan kau harus berterimakasih padaku!"
Karin mulai mendekatkan korek api itu pada rambutku, tak henti-hentinya ia tertawa mengerikan di hadapanku. Sedangkan Anko yang menyaksikan hal ini, hanya menyunggingkan sebelah bibirnya. Dan aku? Aku panik! Aku telah melakukan segala cara agar dia menjauhkan korek api itu, namun sial! Usahaku terus gagal dan dia tidak mau mendengarkan aku.
"Rasakan ini!"
Aku memejamkan mataku rapat-rapat, aku tidak mau melihatnya. Jarak antara rambutku dan korek api itu hanya beberapa cm lagi. Aku membayangkan jika rambutku habis dibakarnya, apa yang akan dikatakan Kaa-san padaku nanti? Oh Kami-sama, selamatkan aku!
"Hey! Berhenti!"
Teriakan seorang tiba-tiba menggema keras hingga sudut gang sempit ini. Aku sedikit terkejut mendengarnya, lekas aku membuka kedua mataku. Aku melihat Karin dan Anko melihat ke arah datangnya suara –begitu juga aku-. Dalam samar, aku melihat sosok itu. Aku yakin dia adalah seorang pria, kau bisa mengetahuinya dari cara ia berteriak, dan dari postur tubuhnya.
"Nii-san," Karin tersentak kaget melihat sosok itu.
Aku juga ikut tersentak mendengar Karin berkata seperti itu. Nii-san? Karin memanggil sosok itu dengan panggilan Nii-san? Sejak kapan dia punya Aniki? Karena merasa penasaran akan sosok itu, mataku terus mencoba untuk melihatnya meski penglihatanku setengah buram. Lekas saja aku mengerjapkan beberapa kali kelopak mataku, agar dapat melihat sosok itu dengan jelas.
DEP! DEP! DEP!
Langkah kaki yang berat terdengar tengah mendekat, kian lama kian mendekat. Setelah beberapa kali aku mengerjapkan mata, aku mencoba melihat sosok yang sedang mendekat itu. Aku penasaran, seperti apa seorang Aniki dari ketua SFC ini?
DEG! Emerald-ku membulat tatkala melihat dengan jelas sosok pria berambut merah pekat itu tengah mendekat dengan raut wajah yang terlihat marah. Aku juga melihatnya mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. Degup jantungku tak karuan, seluruh tubuhku serasa bergetar, jadi ini Anikinya Karin?
"Lepaskan dia!" tangan kekarnya menarik Karin menjauh hingga tersungkur ke belakang, "Aku tak menyangka kau akan sekejam ini."
Karin dan Anko hanya menatap sosok itu dengan tatapan memelas. Tch... menjijikkan! Sebenarnya aku tidak menyangka akan apa yang aku lihat ini, tapi... dia ... Gaara? Dia datang kesini, dan dia Aniki Karin? Astaga! Demi Kami-sama! Aku sungguh tak menduganya.
"Nii-san ... ti-tidak. Ini tidak seperti yang ka-"
"Menjauh darinya!" ia mendorong tubuh Imouto-nya dengan keras. Kini tangannya terbentang menghalangi jarak antara aku dan Karin, dia seperti ... melindungiku.
"Gaara, kami tid-" Anko mulai ikut andil dalam pembicaraan antara kakak-beradik itu, namun ia tidak sempat menyelesaikan kalimatnya.
"Tutup mulutmu! Baka!" geramnya kesal dan penuh amarah, matanya menyiratkan tatapan tak suka.
Gaara mulai berbalik mendekatiku, aku masih menatapnya dengan tatapan tidak percaya. Bagaimana bisa Gaara adalah ... Aniki dari Karin? Mata hazel berwarna hijau itu menatapku lekat. Sekarang posisinya tengah berjongkok di hadapanku, ia tersenyum samar dengan tangan yang mengelus pipiku perlahan.
"Kau tidak apa-apa, Sakura?" ucapnya dengan lembut, dan ia hanya mendapat anggukan pelan dariku.
"Nii-san, dia sudah merebut Sasuke dariku! Kenapa kau membelanya?" Karin memprotes sang kakak karena ia menganggap bahwa Gaara lebih membelaku dari pada dia sendiri.
Mendengar protesan dari sang adik, Gaara menoleh ke belakang, tatapannya berubah seketika, "Kau yang merebut Sasuke darinya," jawab Gaara dengan tegas.
Aku dan Karin sama-sama tersentak kaget mendengar apa yang barusan dikatakan oleh putra sulung keluarga Sabaku ini. Aku berusaha mencerna setiap katanya, namun sulit sekali. Aku tidak mengerti! Lagi pula, untuk apa dia berkata seperti itu?
"A-apa maksudmu?" tubuh Karin terlihat sedikit bergetar, matanya memancarkan tatapan tidak percaya, aku tau bahwa sekarang dia sedang shock.
"Tch ... kau pasti mengerti apa yang aku maksudkan, tak usah kau bertanya lagi. Lagi pula, Uchiha bungsu itu tak menyukaimu dari awal, lalu apa lagi yang kau harapkan darinya?" Gaara mengangkat sebelah alisnya, bibirnya tersungging sebelah nampak meremehkan, "Hey, bukankah gadis yang tidak tau malu itu kau? Sudah tau dia tidak menyukaimu, tapi kau malah keras kepala."
Karin terdiam tak bergeming, tangannya membekap mulutnya sendiri. Yah, aku rasa perkataan Gaara tadi memang menyakitkan dan menusuk hati, tapi aku tidak peduli lagi terhadap Karin.
"Pulanglah, sebelum aku membunuhmu karena menyakiti Sakura," ucap Gaara lagi seraya membalikkan tubuhnya ke arahku.
Aku lihat Karin mulai meneteskan air mata, lalu ia membalikkan tubuhnya dan pergi dengan langkah kaki yang berat. Di belakangnya terlihat Anko sedang mengikutinya. Sedangkan aku, mulutku menganga saat Gaara berkata seperti itu. Sampai sebegitukah dia mau melindungiku?
Setelah melihat Karin menghilang di persimpangan gang, tatapanku kini beralih pada mata hazel hijau milik Gaara. Sebenarnya aku masih bingung dengan apa yang barusan terjadi, aku masih tak percaya bahwa Gaara adalah Anikinya Karin. Maksudku- sejak kapan? Kenapa kau baru tau sekarang?
"Hey, Sakura?" ia bertanya padaku dengan tangannya yang sedang melepas seluruh ikatan pada tangan dan kakiku, "Lukamu parah, kau harus ke rumah sakit."
Aku hanya terdiam merasakan sakit. Ya, aku memang masih merasa pusing –sangat pusing- dan aku sangat lelah, bahkan perkataannya barusan hampir tidak aku dengar. Setelah Karin pergi, dan setelah Gaara melepas ikatanku, entah mengapa penglihatanku kembali menjadi buram. Sejenak aku mengerjapkan mata, namun tetap saja buram.
"Sa-Sakura? Kau tidak apa-apa?"
Melihat keadaanku yang seperti ini, kelihatannya Gaara mulai khawatir padaku. Atau mungkin, ini hanya perasaanku saja?
Langit terasa berputar-putar, bayangan tubuh Gaara serasa banyak dan berkerumun di sekelilingku. Dalam suara deru angin serasa memenuhi telinga, terdengar sayup-sayup Gaara terus memanggil namaku.
"Hey, Sakura. Sadarlah," tangannya mengguncang tubuhku perlahan, mencoba menyadarkanku.
Keseimbanganku mulai runtuh meski sekarang aku telah terduduk lemas. Kepalaku terasa sangat berat, kelopak mataku telah setengah terpejam, aku tidak tau apa yang akan terjadi saat ini. Aku merasa lelah sekali, aku ingin beristirahat.
"Gaara, arigatou," gumamku sangat pelan, entah dia mendengar atau tidak, tapi aku harap dia mendengarnya.
"Cherry ..."
Begitulah kata terakhir yang aku dengar dari mulut Gaara sebelum aku benar-benar memejamkan mataku sepenuhnya, dan tubuhku terkulai lemas dalam pelukannya.
=0=0=0=
"Dok, bagaimana keadaannya?"
"Haruno-san harus beristirahat disini selama tiga hari.
"Apa? Disini?"
"Iya."
"Maaf, dok. Tapi Sakura ... umm ... maksud saya, apa dia bisa dirawat di rumah?"
"Hnnn ... sepertinya bisa, namun istirahatnya harus ditambah dua hari."
"Benarkah? Lalu, kapan saya bisa membawanya ke rumah?"
"Sore ini juga bisa."
"Oh, terima kasih dok."
"Sama-sama. Kalau begitu, saya permisi dulu."
"Iya, silahkan."
Suara-suara berisik itu telah tertangkap oleh indera pendengaranku, dan itu telah berhasil membangunkanku. Suara siapa sih itu? Berisik sekali. Aku merasakan seluruh tubuhku linu, pegal, dan sakit. Bahkan untuk membuka kelopak mataku saja, rasanya sangat sulit. Aaahhh ... sesakit inikah?
Perlahan aku mulai membuka kelopak mataku meski masih terasa berat, sangat pelan namun pasti. Sebuah cahaya yang amat terang dan menyilaukan langsung tertangkap oleh indera penglihatanku.
"Umm ... silau," gumamku pelan seraya berusaha menutupi mataku dengan tangan.
"Eh? Sakura kau sudah sadar?"
Dalam samar, aku melihat sosok Gaara sedang berdiri disampingku. Sejenak aku mengernyitkan kening, merasa ada yang aneh dengan tempat dimana aku berada sekarang. Serba berwarna putih dan berbau obat yang sangat menyengat.
"Dimana aku?"
"Kau di rumah sakit, Cherry ..."
Tangannya mengelus rambut berwarna merah mudaku dengan sangat lembut, dari tatapannya aku sudah mengetahui bahwa dia mengkhawatirkanku. Oh Gaara ... terimakasih sudah menolong dan membawaku ke rumah sakit. Syukurlah Kami-sama mengirimmu sebagai penolongku. Aku tersenyum pada pria bermata hazel hijau itu, dan dia pun ikut tersenyum.
"Arigatou," ucapku lirih.
Dia masih tersenyum, senyuman yang baru pertama kali aku lihat secara dekat dari seorang Gaara. Detik selanjutnya dia mendekatkan wajahnya ke arahku, memang sempat membuatku terkejut namun aku cepat terbiasa. Dia mengecup keningku penuh perasaan, setelah itu ia menatap emerald-ku dengan tatapan penuh perhatian.
"Douitte ... aku pernah bilang, jika kau membutuhkan seseorang untuk melindungimu, aku siap kapan saja."
Aku mengangguk pelan, pertanda bahwa aku mengerti akan perkataannya. Ahh ... ternyata dia itu baik sekali, kenapa aku baru menyadarinya? Aku jadi merasa bersalah karena waktu itu menolaknya dengan cara yang ... yaahhh ... lumayan kasar. Aku terus bergumam sendiri dalam hati tentang pria ini, tentang Gaara. Sekilas terbersit sebuah pikiran dalam otakku, teringat saat tadi aku masih disiksa oleh Karin. Mengapa Gaara bisa mengetahui bahwa aku ada disana? Apa dia mengikuti Karin? Oh iya! Aku baru saja mau menanyakan tentang Karin, dan bagaimana bisa dia menjadi Anikinya?
Dalam keheningan, aku mulai bertanya padanya, "Gaara?"
"Hn?" dia mengangkat sebelah alisnya, masih dengan menatapku lekat-lekat.
"Apa aku boleh bertanya?" ucapku penuh harap.
"Anything for you, Cherry," jawabnya seraya terkekeh pelan, dan tangannya masih dengan asyik mengelus bagian atas kepalaku.
"Kau tau dari mana kalau aku tadi ada disana? Apa kau mengikuti Karin?"
Mendengar perkataanku barusan, dia malah terdiam seraya memalingkan wajahnya dariku, terlihat jelas bahwa keningnya berkerut, apa dia sedang berpikir?
"Gaara?" aku mulai memanggil namanya –lagi- berharap dia menoleh dan menjawab pertanyaanku. Namun tetap saja, dia masih terdiam dengan matanya yang melirik ke arah lain. Seperti enggan untuk menatap mataku.
Yah, aku tau sekarang, mungkin dia sedang tidak ingin menceritakannya padaku. Ok, aku mengerti. Mungkin lain kali saja aku menanyakannya.
"Tidak apa jika kau tidak mau menjawab," aku tersenyum padanya seolah mengatakan 'Aku tidak memaksamu untuk menceritakannya.'
Mungkin dia mendengar perkataanku itu, beberapa detik kemudian wajahnya kembali menatapku, "Bu-bukan begitu, Cherry. Aku hanya ..."
"Sudahlah, aku mengerti."
"Tidak. Aku bisa menceritakannya bila kau mau."
Aku pun tersenyum saat Gaara berkata seperti itu, "Baiklah, ayo ceritakan," ucapku penuh semangat. Berharap dia menceritakan yang sebenarnya dan tidak berbohong padaku. Semoga!
"Ok," dia menganggukkan kepalanya pelan, sejenak ia menghela nafas panjang sebelum memulai ceritanya yang mungkin sangat panjang lebar, "Ini berawal saat tadi pagi ibu menyuruhku mencari Karin."
"Lalu?"
"Yah, pertamanya aku menolak. Aku malas mencarinya lagi pula dia 'kan sudah besar. Tapi ibu tetap saja memaksaku mencarinya. Ok, aku akui saja memang sejak pernikahan ibuku dan ayahnya Karin, aku sudah tidak suka pada si redhead berkacamata itu."
Apa? Aku membelalakkan kedua mataku, seolah tak percaya. Jadi ibunya menikah dengan ayah Karin? Sejak kapan? Melihat ekspresiku yang seperti itu, Gaara mengernyitkan keningnya, seraya mengibaskan sebelah tangannya di depan mataku.
"Hey, Sakura ... kau tidak apa-apa?"
"Eh? A-apa?" aku gelagapan sendiri saat menjawabnya.
"Kenapa kau melamun?" dia menatapku heran, keningnya berkerut, dan tatapannya pun berubah.
"Ti-tidak. Hehehe ...," aku terkekeh pelan seraya menyipitkan kedua mataku, "Oh iya, katamu barusan, ibumu menikah dengan ayah Karin? Sejak kapan? Ko aku baru tau sekarang?"
"Yah, mereka menikah 3 bulan lalu. Jelas saja kau tidak tau, teman-temanku juga belum tau semuanya, pernikahannya tidak meriah, hanya antara dua keluarga saja. Dan sejak saat itu lah aku membenci Karin, pada sikapnya, sifatnya, omongannya, segalanya. Tapi aku bingung mengapa dia selalu bersikap baik padaku? Padahal aku selalu memojokkan si redhead berkacamata itu," jelasnya panjang lebar.
"Hey, kau juga redhead, kau tau?" aku sedikit bercanda di hadapannya, berharap agar suasana tidak terasa tegang dan terlalu serius.
Ternyata perkataanku barusan telah sukses membuatnya tertawa meski pelan seraya tangannya menggaruk kepala tak gatal, "Kau ini bisa saja. Mau dilanjut tidak?"
"Hehe ... iya, lanjutkan."
"Eh? Sampai mana tadi?" ia bertanya dengan wajahnya yang berubah menjadi bingung, matanya menatap ke langit-langit kamar, dan telunjuknya yang ia letakkan di dagu, yaahhh ... dia sampai lupa.
"Huuhh ..." aku menghela nafas saat melihat wajahnya, "Kau bilang ibumu menyuruhmu mencari Karin."
"Oh iya, sampai disitu. Baru saja aku mau bilang, kau malah bilang duluan," ucapnya enteng tanpa rasa bersalah.
Haddeehh ... gubrak! Dasar kau ini pintar sekali mencari alasan. Aku hanya menatapnya sinis, namun dia tak memperdulikannya. Wajahnya tetap terlihat tenang tanpa beban. Ugh! Dasar!
"Baik, aku lanjut ya? Dengan terpaksa aku mencarinya, walau aku tak tau dia pergi kemana. Ya sudah, akhirnya tempat pertama yang aku datangi adalah rumah Anko, sahabatnya."
Aku manggut-manggut tanda mengerti, "Terus?"
"Kata ibunya Anko, tadi dia pergi ke toko ayahnya di pasar bersama Karin. Dengan berat hati, aku pun kembali melanjutkan perjalananku ke pasar. Dan apa kau tau?"
"Apa?"
"Saat aku tiba di tokonya, ayahnya bilang Anko pergi dengan Karin ke arah pertokoan tua itu," Gaara menghela nafas lagi, "Astaga! Aku sempat berpikir, untuk apa dia pergi ke tempat itu? Kalau saja bukan ibu yang menyuruhku, malas sekali aku pergi mencari si redhead berkacamata itu."
Aku hanya ber-oh- ria seraya terus manggut-manggut kepala tak jelas, "Biar aku tebak, pasti kau tetap ke sana, lalu kau menemukan aku, begitu?"
Dia menepuk kepalaku pelan, matanya menyipit, dan senyuman terlihat mengembang di bibirnya.
"Gadis, pintar," ucapnya bangga. Membuatku sedikit kegeeran dan sedikit malu, pasti sekarang semburat berwarna merah telah telihat jelas di kedua pipiku.
"Hehehe ..." aku terkekeh pelan dengan tangan menggaruk kepala tak gatal, "Kau bisa saj-"
BRRAAAKK! Suara pintu yang dibuka paksa telah membuatku tersentak kaget, begitu juga dengan Gaara. Astaga! Ini rumah sakit! Siapa sih yang dengan seenaknya menggebrak pintu dengan elitnya? Aku terus menggerutu dalam hati tentang seseorang itu.
Mataku tak henti-hentinya menatap ke arah pintu yang belum menampilkan sosok seseorang, sepertinya Gaara juga sama sepertiku. Lalu indera pendengaranku menangkap suara sesuatu dari luar sana.
"Hey! Minggir, dasar senpai yang menyebalkan!"
"Kau yang minggir, dasar junior rese!"
Kedua suara pria telah terdengar jelas. Tentu saja! Mereka 'kan berteriak kok, mana mungkin aku tidak dengar? Dan bagusnya, kedua suara itu terdengar sangat familiar di telingaku. Tapi siapa?
BRUUKK! Tiba-tiba saja tubuh dua orang pria telah terjatuh hingga menubruk pintu kamar. Lagi-lagi aku tersentak kaget. Aku lihat, keduanya sedang memukul satu sama lain meski pun dalam keadaan terbaring di lantai, sepertinya tak ada yang mau mengalah. Sejenak aku perhatikan rambut dari kedua pemuda itu seperti pernah aku lihat. Eh? Tu-tunggu dulu ... Astaga! Tentu saja aku pernah melihatnya, bahkan sering!
"Sasori? Naruto?" panggilku pada kedua pria itu.
"Eh?" semuanya lekas menghentikan aktivitas mereka dan langsung menatap ke arahku.
Aku hanya menatap mereka heran dengan alisku yang terangkat sebelah, "Kalian sedang apa?"
Tanpa berkata sepatah atau dua patah kata pun, keduanya cepat-cepat beranjak berdiri. Membersihkan pakaian mereka masing-masing dan lekas berlari menghampiriku.
Setelah posisi mereka berada di sampingku, aku kembali merasa bingung dengan beberapa pertanyaan yang mereka lontarkan tanpa henti.
"Sakura kau tidak apa-apa?"
"Bagaimana keadaanmu?"
"Kau baik-baik saja?"
"Siapa yang melakukan ini?"
"Tch ... dia belum menjawab pertanyaanku! Kau diam saja junior rese!"
"Memangnya apa peduliku? Dasar senpai menyebalkan!"
Aku menggulirkan mataku ke arah lain, merasa bosan dengan tingkah mereka ini. Tak ada yang berubah, tak ada yang berbeda, selalu bertengkar, tak ada yang mau mengalah, Sasori dan Naruto, dua insan yang saling bertolak belakang, dari dulu sampai sekarang. Hadeeehh ... rasanya kepalaku mau meledak mendengar mereka terus bertengkar di hadapanku.
"Ehm ..."
Pertengkaran antara Naruto dan Sasori pun terhenti seketika, lalu semua mata -begitu juga aku- lekas menatap pria berambut merah yang tadi ber-ehm- ria di sampingku. Untunglah, karena dia pertengkaran itu bisa berhenti. Hey! Aku sedang tidak menatap ke arah Sasori, ok? Aku sedang menatap ke arah Gaara.
"Eh?" Sasori nampak heran saat matanya menangkap sosok pria yang rambutnya berwarna merah sama seperti dia, "Apa kau yang bernama Gaara?"
"Iya, memangnya kenapa?" Gaara pun membalas tatapan Sasori padanya.
"Tadi aku yang menelpon ke hp Sakura. Dan kau yang menjawabnya 'kan? Terimakasih sudah memberitaukan keadaan Sakura."
"Sama-sama, jadi kau yang bernama Sasori?"
Pertanyaan Gaara hanya membuahkan sebuah anggukan kepala dari Sasori. Sedangkan Naruto yang mendengarkan percakapan itu, hanya diam tak bergeming. Aahhh ... paling dia tidak mengerti akan apa yang mereka bicarakan.
"Hey, apa sih yang kalian bicarakan?" pria berambut pirang itu hanya menggaruk kepalanya tanda tak mengerti, "Oh iya, aku sampai lupa, terimakasih kau sudah memberitaukan aku, Gaara."
Gaara mengangguk pelan seraya tersenyum ke arah Naruto, seolah berkata 'Ok, tidak masalah," Dan Naruto pun membalas senyumannya. Lalu ...
Hening.
Suasana menjadi hening saat keenam mata yang berbeda itu lekas menatapku kembali. Aku pun merasa tak enak hati ditatap seperti itu oleh ketiga orang ini. Jelas saja aku mengernyitkan keningku dan mengangkat salah satu alisku.
"Apa?" tanyaku pada mereka.
Secepat kilat, tatapan mereka terlihat sayu seperti mengkhawatirkan sesuatu. Astaga! Aku semakin tak enak hati saja. Ayolah, jangan menatapku seperti itu. Kalian pasti tau aku tidak tahan jika terus ditatap dengan tatapan aneh begitu.
"Hey, maaf ... tadi aku berisik, ya?" ucap Naruto tiba-tiba seraya menggenggam erat sebelah tanganku. Membuatku semakin tidak mengerti dengan keadaan sekarang.
"Hnn ... aku juga minta maaf, ya? Mungkin aku sudah mengganggu tidurmu," ucap Sasori seraya mengelus puncak kepalaku.
Aku masih saja merasa heran dengan sikap mereka yang tiba-tiba berubah, mataku lekas menatap ke arah Gaara yang ada di samping Naruto. Dia hanya tersenyum, seolah berkata 'Jangan bingung, mereka hanya mengkhawatirkanmu.'
Eh? Apa benar? Lekas saja aku melihat mata mereka satu persatu, aku menatapnya dengan lekat-lekat, dan ... memang sih ada sedikit kekhawatiran disana.
"Jangan khawatir, aku baik-baik saja," ucapku pada Naruto dan Sasori yang masih saja menatapku dengan tatapan yang aku rasa adalah tatapan kekhawatiran.
"Ya sudah, aku mengerti. Kau harus istirahat, bukankah nanti sore Gaara akan membawamu ke rumah?"
"Eh?"
Gaara membawaku ke rumah? Bukannya aku memang harus dirawat di rumah sakit? Tanpa berpikir dua kali, mataku langsung menatap ke arah Gaara.
"Kau akan membawaku ke rumah?"
"Iya," Gaara tersenyum, "Menurut dokter, kau boleh dirawat di rumah selama 5 hari."
Aku pun ikut tersenyum padanya. Aku tidak menyangka, dia tau sekali kalau aku membenci rumah sakit. Pasti suara berisik tadi saat aku bangun adalah suara Gaara yang sedang membicarakan aku bersama dokter.
"Terimakasih, Gaara," ucapku kemudian.
"Ok."
"Nah, kalau begitu, sekarang kau istirahat. Supaya nanti sore kau bisa pulang, ok?" ucap Sasori masih dengan mengelus puncak kepalaku. Anak ini, sepertinya terlalu mengkhawatirkanku seperti Naruto.
"Iya, dia benar. Kau harus banyak istirahat, Cherry ..." ucap Gaara menyetujui pernyataan Sasori.
"Hah?" Sasori dan Naruto pun sontak kaget dan berteriak dengan keras hingga sudut ruangan, membuat tanganku secara refleks menutupi telingaku. Mata mereka sama-sama terbuka lebar dan sedang menatap ke arah Gaara.
Aku lihat, Gaara seperi kebingungan dengan apa yang membuat kedua pria itu berteriak kaget seperti itu. Aku juga tidak mengerti mengapa mereka berteriak dengan teriakan yang memekakkan telinga.
"Hey, sejak kapan kau memanggilnya Cherry?" ucap Naruto dengan tatapan tak suka pada Gaara.
"Eh? A-aku ..." Gaara terlihat gelagapan saat menjawabnya. Wajahnya tertunduk, lalu tangannya menggaruk kepala tak gatal.
Oh jadi karena panggilan itu mereka berteriak tak jelas? Uumm ... oh iya, aku juga baru sadar, sejak kapan dia memanggilku seperti itu? Dan kenapa aku tak menyadarinya?
"Cherry? Panggilan macam apa itu?" Sasori ikut nimbrung dalam pembicaraan Naruto dan Gaara.
"I-itu ... aku hanya-"
BRAAKK! Untuk kedua kalinya, pintu telah dibuka secara paksa oleh seseorang. Ish! Siapa lagi sih ini? Kenapa harus membuka pintu dengan kasar? Membuatku jantungan saja!
Tanpa dikomando lagi, aku dan ketiga pria yang berada di sampingku ini lekas menatap ke arah pintu yang kini telah sukses terbuka lebar. Dari sana muncul sosok pria yang membuat degup jantungku tak karuan, dan mataku terbuka dengan lebar. Sedang apa dia disini? Siapa yang memintanya kesini?
Sosok itu berjalan dengan langkah kaki yang berat ke arahku, tangannya terkepal, nafasnya memburu, dan matanya menyiratkan tatapan yang aku tak mengerti.
DEP! DEP! DEP! Sosok itu terus mendekat, seluruh mata yang berada di ruangan ini tak henti-hentinya menatap sosok itu. Kain lama, langkah kakinya terus mendekat hingga akhirnya ia berhenti tepat di sampingku.
"Heh, bodoh! Kenapa kau tidak bilang kalau kau ada masalah? Kenapa kau tidak menghubungiku? Kenapa kau tidak memintaku mengantarmu? Kenapa kau ini begitu keras kepala? Dasar bodoh!"
Sosok itu terus berbicara tak jelas, membuatku mengernyitkan keningku, sedangkan yang lainnya hanya membentuk mulutnya seperti huruf 'O' dan menatapnya seolah tak percaya.
"Huuuhhh ...," ia menghela nafas seraya menepuk keningnya sendiri, "Dasar bodoh."
DEG! Mataku terbelalak saat mendapati tangannya menyusup diantara pinggangku, sontak membuatku kaget, namun entah mengapa aku tetap terdiam. Kemudian, tanpa persetujuan dariku, dia menarik tubuhku ke dalam pelukannya dan dia memelukku sangat erat membuat ketiga pria yang berada di sampingku ini semakin terkejut, dan tak percaya. Mereka saja sudah kaget setengah hidup, apalagi aku!
"Jangan bersikap bodoh lagi, Jidat," ucapnya seraya membenamkan kepalanya di leherku.
"Sa-Sasuke ... a-apa yang ka-kau lakukan?"
TBC
Arigatou gozaimashita
jangan lupa
V
V
V
