DEG! Mataku terbelalak saat mendapati tangannya menyusup diantara pinggangku, sontak membuatku kaget, namun entah mengapa aku tetap terdiam. Kemudian, tanpa persetujuan dariku, dia menarik tubuhku ke dalam pelukannya dan dia memelukku sangat erat membuat ketiga pria yang berada di sampingku ini semakin terkejut, dan tak percaya. Mereka saja sudah kaget setengah hidup, apalagi aku!
"Jangan bersikap bodoh lagi, Jidat," ucapnya seraya membenamkan kepalanya di leherku.
"Sa-Sasuke ... a-apa yang ka-kau lakukan?"
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Warning : Typo(s), abal, gaje, EYD belum benar, rush, dll
Summary : Di ruangan ini, keempat pria itu membicarakan hal yang tidak aku mengerti. Dan ujung-ujungnya berakhir pada pengakuan secara tidak langsung mereka bahwa mereka mencintaiku. Ini gila!
Pair : SasuSakuGaaSasoNaru (?)
.
.
If you dont like, dont read!
Happy Reading (^,^)
"He-Hey, Teme. Apa yang kau lakukan?"
Sebuah pertanyaan singkat yang dilontarkan Naruto telah sukses membuat tangan kekar yang tadi sempat memelukku erat, kini terlepas dengan cepat. Wajah yang terkenal stoic dengan ekspresi datarnya pun berubah seketika. Aku dapat melihat semburat merah berada di kedua pipi Uchiha bungsu itu.
"Ti-tidak," ucapnya enteng masih dengan menggenggam erat rasa gengsinya yang terlalu tinggi.
Yang mendengar jawaban singkat, padat, dan jelas itu pun langsung menutup mulut mereka yang tadi sempat terbentuk seperti huruf 'O'. Mereka tidak percaya akan apa yang barusan mereka dengar, terlebih lagi mereka begitu merasa tidak yakin akan semburat berwarna merah yang tengah bersarang di wajah stoic milik seorang bermarga Uchiha itu.
"Kenapa kau memeluknya?" tanya Gaara yang langsung ikut andil dalam pembicaraan. Mungkin karena begitu penasaran, makanya dia lekas bertanya, mungkin.
"Kau sedang tidak sakit jiwa 'kan?" Sasori kelihatannya juga tak ingin melewatkan pembicaraan ini.
Sedangkan aku ... aku masih terbaring lemah dengan tatapan heran yang aku layangkan tepat pada sosok berambut pantat ayam itu. Memang benar apa kata mereka bertiga, aku saja heran mengapa si pantat ayam ini tiba-tiba datang dan langsung memelukku. Setan apa sih yang sedang merasukinya?
Aku sedang tidak bermimpikan? Seorang Uchiha bungsu yang terkenal dingin, cuek dengan ekspresi datar, rambut model pantat ayam, dan egois itu memelukku? Bahkan tadi dia sempat melontarkan sederet pertanyaan yang seolah sedang mengkhawatirkanku.
"Aku tidak melakukan apapun padanya, aku hanya ... err~"
Ekspresi perdana! Haha ... wajahnya merona, coy! Senyuman penuh kemenangan pun mengembang menghiasi wajahku. seharusnya anggota SFC itu tidak melewatkan acara seperti ini, acara gratis menonton ekspresi si Pantat Ayam ini yang tiba-tiba berubah. Aahhh ... aku tidak habis pikir, aku dapat melihatnya langsung, jelas, tanpa penghalang, tanpa rekayasa.
"Kau berbohong. Kau baru saja memeluknya!" hardik Sasori dengan nada tinggi yang cukup membuat beberapa orang langsung menutup telinga mereka. Matanya terus menatap Sasuke dengan sinis, seolah tak suka, dan benci.
Yang mendapat hardikan tadi hanya memasang wajah bingung. Sedangkan yang lainnya hanya menatap sinis kecuali aku. Yaahhh ... aku hanya senyum-senyum tak jelas karena saking senangnya melihat perubahan ekspresi dari wajah stoic-nya. Lagi pula aku tidak ingin terlibat dengan pembicaraan yang entah kapan selesainya, kepalaku masih pusing, lebih baik aku menjadi penonton saja, itu sudah lebih dari cukup aku rasa.
"Hey, Sasuke ..." Gaara memanggil nama itu dengan malas, masih saja menatap sosok itu dengan sinis.
"Apa?" ia pun menjawabnya dengan malas pula. Dasar, sama-sama pemalas!
"Kau kesurupan, eh? Tumben sekali kau memeluk Sakura yang katamu adalah gadis menyebalkan dengan jidatnya yang lebar," sebelah alisnya terangkat, dan bibirnya nampak tersenyum tanda meremehkan.
"Hey ... jangan kau bawa-bawa jidatku!" aku pun angkat bicara setelah nama- errr~ maksudku 'jidat'-ku disangkut pautkan dengan tuduhan itu.
Gaara hanya terkekeh pelan mendapati aku yang tengah protes terhadap perkataannya. Tangan kanannya menepuk kepalaku perlahan, lalu ia menunjukkan senyuman yang mengembang seolah berkata 'Maaf.'
Meski aku telah menangkap isyarat dari senyumannya itu, tetap saja aku merasa kesal. Seenaknya saja 'jidat'-ku disangkut pautkan dengan Sasuke. Dan kenapa mesti 'jidat' sih?
"Bagaimana, Sasuke? Kau belum menjawab pertanyaanku."
Sasuke yang mendengar itu pun merasa tidak terima. Tidak terima dengan ucapan Gaara, dan tidak terima saat ketiga pria ini sedang memojokkannya seperti seorang narapidana yang tengah berada dalam persidangan. Karena hatinya sangat kesal, ia pun langsung menjawab, "Aku tidak sakit! Aku baik-baik saja. Aku normal! Aku sedang tidak mengidap penyakit kelainan jiwa. Dan aku tidak kesurupan! Dan soal aku memeluknya ... eerrr~ lupakan saja! Itu sama sekali tidak penting!" lekas ia memalingkan wajahnya ke arah lain dan menolak untuk menatap mata berwarna hazel hijau itu.
Gaara malah tersenyum penuh mendengar penjelasannya yang panjang lebar. Bagaimana tidak? Lihat saja! Semburat berwarna merah yang berada di pipi Sasuke kian terlihat dengan jelasnya. Ketauan sekali bahwa tadi ia sedang berbohong.
"Teme, ka-kau ..." Naruto mengarahkan telunjuknya tepat pada kedua belah pipi Sasuke.
Tentu saja itu membuat semuanya –termasuk aku- memperhatikannya dengan seksama. Sasuke pun yang tadinya acuh tak acuh dengan memalingkan wajahnya ke arah lain, kini sempat terkejut saat mendapati pipinya yang memerah.
"Hey, aku tidak salah lihat 'kan? Pipimu merona! Hahah ..."
"I-ini ...," tangannya dengan refleks menyentuh kulit wajahnya yang sedang merona, "Tch ... aku tidak merona bodoh! A-aku ... aku hanya sedang kepanasan! Makanya wajahku jadi merah!" sebuah alasan yang bisa dibilang alasan mengada-ada itu telah sukses keluar dari mulutnya. Kembali ia memalingkan pandangannya, lalu tangannya ia silangkan tepat di depan dada.
Naruto dan yang lainnya hanya terkekeh geli mendengar alasan tidak masuk akal itu. Mana ada yang namanya panas di urangan ini jika benda elektronik yang bernama AC sedang menyala mengeluarkan udara yang lumayan dingin.
"Sejak kapan seorang Uchiha menjadi bodoh, eh?" salah satu alis pria berambut merah dengan tato 'Ai' di sudut kanan keningnya itu pun mulai terangkat.
"Apa maksudmu?" jawab Sasuke ketus dan seolah tidak peduli.
"Kau lihat itu?" tanya Naruto seraya mengangkat telunjuknya dan ia arahkan ke sudut paling atas ruangan ini.
Refleks mata obsidian itu mengikuti arah yang ditunjukkan jari telunjuk Naruto. Dan, matanya pun terbelalak dan kerongkongannya yang hendak mengatakan sesuatu pun terhenti seolah tercekat, saat mata itu menangkap bayangan sebuah benda elektronik berada disana.
"AC itu menyala, kau tau? Tidak mungkin kau kepanasan."
Mata obsidian itu tak berkedip sedikit pun, dia merasa ... kalah. Alasannya memang tidak masuk akal, dan seharusnya dia tau kalau AC itu sedang dinyalakan, karena aku kegerahan. Aku yakin, pria itu kini sedang merutuki dirinya di dalam hati.
Kini kedua kaki Gaara mulai melangkah mendekati Sasuke, masih dengan senyuman sinis terlihat jelas menghiasi wajahnya. Mata hazel hijau itu tak henti-hentinya menatap onyx hitam yang berada di hadapannya.
"Nah, sekarang sudah jelas ..."
Si pemilik mata onyx itu hanya mengernyitkan kening tanda tak mengerti. Kini ia melihat tangan Gaara mulai menepuk pelan pundaknya. Pria berambut merah itu mulai berlaga seolah ia adalah seorang detektif terkenal yang sudah mengupas habis sebuah misteri di ruangan ini. Eh? Misteri?
"Menurutku, kau itu 'kan terkenal dingin, cuek, tidak mau tau, egois, menyebalkan dan entah apa lagi, namun sikapmu yang kini tiba-tiba berubah dengan menunjukkan rasa khawatir, cemas, takut, pipimu pun merona sesaat setelah kau memeluk Sakura. Jadi aku rasa ...," Gaara menggantungkan kalimatnya yang telah ia beberkan dengan panjang lebar, seringainya pun terpampang jelas dalam raut wajahnya.
Blue shapire, green emerlad, dan brown eyes, tak henti-hentinya menatap kedua mata berwarna hazel hijau dan onyx hitam itu. Entah mengapa aku menjadi merasa tegang, aku juga penasaran akan apa yang hendak dikatakan Gaara pada Sasuke. Apa dia mengetahui sesuatu dibalik berubahnya sikap si Pantat Ayam ini? Mungkin saja.
"Hey, apa yang sedang kau bicarakan ini? Aku tidak mengerti, baka!" matanya mendelik ke arah Gaara.
Sepertinya Sasuke memang tidak peduli akan permasalahan ini. Tu-tunggu dulu, dia memang tidak peduli atau dia sedang mengelak? Demi Kami-sama! Ayolah, Gaara. Cepat katakan sesuatu yang membuatku tak sabar ini. Emerald-ku terus menatap ke arah Gaara yang sedari tadi belum juga menyelesaikan kalimatnya, dia hanya menyeringai lebar saat mendegar perkataan Sasuke barusan.
"Ayolah Uchiha, mungkin aku sudah mengetahui semuanya," ucapnya masih dengan menyeringai lebar.
"Hey, sebenarnya apa yang kau tau? Jangan membuatku penasaran!" akhirnya Naruto pun bicara setelah beberapa detik menunggu. Beberapa detik bagi orang yang sedang penasaran itu bagaikan beratus tahun lamanya, kau tau?
Aku hanya mengernyitkan keningku karena tidak tahan akan rasa penasaran yang bersarang dalam hatiku, sedangkan Sasori hanya bisa menatap Sasuke dan Gaara dengan tatapan heran.
"Apa maksudmu tau semuanya?" tanya Sasuke dengan tangan yang bergetar. Hey, aku lihat itu.
"Jangan gugup seperti itu, Uchiha. Tenang saja, semua orang disini akan tau semuanya."
"Sebenarnya apa yang kalian bicarakan ini?" Sasori pun angkat bicara dan lekas berdiri, lalu menghampiri kedua orang pria yang sedang asyik berdebat itu.
"Hey, Gaara. Ayo cepat katakan! Apa yang kau tau?" ucap Naruto seraya mengepalkan tangannya karena kesal. Dan kakinya mengikuti Sasori dari belakang untuk menghampiri Sasuke dan Gaara yang berada di pojok ruangan.
"Bagaimana? Apa aku boleh mengatakannya?" tanya Gaara dengan senyuman liciknya.
"Apa! Mengatakan apa! Tau apa! Aku tidak mengerti!" Sasuke berteriak tepat di hadapan Gaara, tentu saja itu membuat Gaara menutupi kedua telinganya.
"Tenanglah, aku akan mengatakannya sekarang."
"Tch ... cepat katakan! Aku tau, itu pasti hal yang tidak pennting."
"Baik. Jangan katakan ..."
"Jangan katakan apa?"
"Jangan katakan kalau kau menyukai Sakura."
"Apa!" secara refleks mulutku berteriak keras, dengan mata yang terbuka lebar, dan tanganku mencengkram erat sprei tempat tidur pasien ini.
Detik selanjutnya ...
Hening.
Suasana benar-benar menjadi hening, bahkan suara khas yang dikeluarkan jangkrik pun tidak terdengar. Semua orang yang berada di dalam ruangan ini terkejut bukan main. Terkejut karena sebuah pernyataan singkat yang Gaara tuduhkan pada Sasuke.
Aku tidak percaya, pernyataan konyol macam apa itu? Kenapa si redhead itu dengan seenaknya berkata seperti itu. Lalu, kenapa Sasuke tidak protes? Dia malah tertunduk seraya berdecih sebal. Apa berarti dia mengiyakan tuduhan Gaara?
Gaara menoleh ke arahku dengan senyuman licik masih terpapang jelas dalam raut wajahnya, "Dia menyukaimu, Sakura-chan."
Aku yang melihatnya hanya menggeleng pelan tanda bahwa aku benar-benar tidak percaya akan semua ini. Lalu ia membalikkan tubuhnya lagi untuk menatap si Pria Uchiha di sudut ruangan.
"Hey, Teme. A-apa benar itu?"
Yang ditanya hanya terdiam membisu. Mata obsidian itu melirik ke arah lain, mencoba tidak menatap keenam mata yang terus menatapnya dengan intens. apa itu berarti semua yang dikatakan Gaara itu benar? Di-dia menyukaiku? Oh ayolah, mana mungkin!
"Sasuke, kau menyukainya?" tanya Sasori seraya berjalan mendekati pria dengan rambut emo itu.
Pria itu mendongakkan kepalanya saat menyadari bahwa pria berambut merah itu sedang berjalan mendekat, "Menjauh dariku!" ucapnya dengan nada tinggi seraya menatap Sasori dengan tajam.
"Kau suka padanya, iya 'kan Sasuke?" kembali Gaara menggodanya dengan pertanyaan yang mendesaknya semakin terpojok.
"Diam kau, Sabaku!"
"Hahaha ...," gelak tawa Gaara pun menggelegar seketika hingga sudut ruangan saat indera pendengarannya menangkap satu kalimat pendek yang diucapkan Sasuke. Entah apa yang dia pikirkan, sepertinya ucapan Sasuke barusan sangat amat lucu baginya, "Ternyata benar, kau menyukainya, Uchiha."
DEG! Emerald-ku membulat dengan sempurna, jantungku seolah berhenti bekerja, sel-sel syarafku seolah tau apa yang aku pikirkan, karena tiba-tiba saja mulutku lekas berteriak.
"Kau gila! Dia tidak mungkin menyukaiku!"
Tanpa menunggu beberapa detik, kini semua pandangan tertuju ke arahku. Ku dapati masing-masing wajah mereka terlihat shock berat, terutama Sasuke, dan kecuali Gaara.
Sasuke menatapku dengan tatapan sayu, dan baru kali ini aku melihatnya seperti itu. Pertama kalinya aku melihat dia kalah dalam berperang, dalam berdebat, dan dalam hal yang lainnya. Lihat pria itu! Ia tak menunjukkan respon atau berontak seperti yang sering ia lakukan, ia hanya pasrah saja.
Dan Gaara, dia tersenyum licik ke arahku. Namun itu palsu! Hey, aku sudah mengenalnya 3 tahun, ok? Dan meski aku dan dia tidak terlalu dekat, tapi setidaknya aku tau dikala ia sedang berbohong. Dan saat ini ia menunjukkan sebuah kebohongan.
"Itu mungkin saja, Sakura. Dia telah menyukaimu, ingat?"
Sebuah topeng kebohongan itu menghalangi wajah aslinya. Gaara kau pengecut! Buka topeng itu! Aku tidak bisa berkata apa-apa, mataku hanya menatap Gaara seolah berkata 'Jangan membohongi dirimu, Gaara.'
Namun, ia tidak merespon, karena dengan cepat ia mengalihkan pandangannya dariku. Naruto yang mungkin saja merasa kasihan padaku, ia mulai berjalan mendekat.
"Sakura, tenangkan dirimu. Kau masih sakit," ucapnya dengan nada lembut, tangannya menggenggam erat tangan kananku, blue shapire-nya menatap jauh ke dalam mataku, dan seketika itu pun aku luluh karenanya.
"Bagaimana, Sasuke. Kau mau mengakui bahwa kau menyukai Sakura?" ia menepuk pelan pundak Uchiha bungsu itu, dan tentu saja tangan itu segera ditepis oleh si empunya pundak.
"Jauhkan tanganmu dariku, Sabaku!" geramnya kesal.
"Wow! Santai ... tak akan ada perkelahian disini, 'kan?"
Kedua pria yang memiliki rambut yang berbeda itu saling bertatapan dengan tajam. Sedangkan yang satunya lagi –Sasori- ia menopang dagunya dengan tangan kanan, keningnya berkerut, dan tangan kirinya mengepal dengan kuat, ia seperti memikirkan sesuatu, memikirkan hal yang mungkin saja ia anggap penting.
"Kau bisa memintanya jika kau menginginkan perkelahian," jawab Sasuke dengan kasar.
"Hey, aku tak memintanya, kau tau? Aku hanya minta kau mengakui bahwa kau benar menyukai Sakura," ucap Gaara seraya menunjukku yang berada tepat di belakangnya.
"Ckck ... maling teriak maling," ucap Sasori tiba-tiba dengan kepala yang menggeleng perlahan dan tangan yang ia silangkan di depan dada.
Perkataannya barusan telah sukses mengundang perhatian seluruh manusia yang berada di ruangan ini. Aku yang masih terbaring lemah pun dengan sigap mendengarkan perkatan mereka satu demi satu. Tak ada yang terlewatkan, bahkan yang barusan itu pun tak terlewat oleh indera pendengaranku.
Selain terkejut dengan perkataan Gaara bahwa Sasuke menyukaiku, sekarang aku kembali dikejutkan dengan perkataan Sasori barusan. Aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan ini, terlalu berbelit-belit dan tidak langsung pada inti pembicaraan.
Namun, karena berbelit-belit itulah rasa penasaranku kembali membesar. Mati satu tumbuh seribu, mungkin itu pepatah yang cocok untuk menggambarkan rasa penasaranku sekarang ini.
Sekilas ku perhatikan dari jarak yang lumayan jauh, kening Gaara berkerut, dengan refleks tubuhnya membalik dan menghadap ke arah Sasori yang berada di belakangnya.
"Apa maksudmu?" ucapnya dengan nada heran.
"Baiklah, aku mengerti sekarang," jawab Sasori seraya terkekeh pelan.
"Tch ... ada apa lagi ini?" ucap Sasuke seraya menghempaskan tangannya ke bawah.
"Hey, Gaara. Kau bilang Sasuke menyukai Sakura, ingat?" ucap Sasori seraya berjalan memutari kedua pria itu. Kini, ia yang berlaga seperti detektif, aku baru tau bahwa Gaara dan Sasori sangat menyukai peran sebagai detektif. Eh?
"Iya, memangnya kenapa?"
"Bukankah kau sendiri juga menyukai gadis itu, hn?"
Mata green hazel dan black onyx itu terbuka lebar. Bisa ku lihat wajah mereka menegang. Sedangkan aku hanya terdiam, karena aku sudah tidak aneh dengan itu. Ingat tidak saat Gaara menembakku di aula dengan bantuan Naruto? Ya, sampai saat ini aku ingat betul setiap detik kejadian itu.
"A-apa maksudmu, Sasori?" cara bicara pria keturunan Sabaku itu gelagapan, entah menahan malu atau apalah, aku tak mengerti.
"Kau jangan berpura-pura di hadapanku, Gaara," kaki itu berhenti melaju tepat di hadapan pria bermarga Sabaku itu, "Untuk apa kau memanggilnya Cherry jika kau tak menyukainya?"
"Cherry?" Sasuke nampak heran dengan kata tersebut, "Kau memanggilnya Cherry?"
"A-aku ... i-itu hanya sebuah panggilan menandakan bahwa aku menganggapnya sebagai adik," elak Gaara dengan wajah yang sebisa mungkin menampilkan ekspresi datar.
"Tch ... kau ini pintar memutar balikkan fakta, Gaara," ucap Sasori seraya tersenyum penuh kemenangan, "Kau menuduh Sasuke menyukai Sakura, tapi jauh di lubuk hatimu kau juga mencintai gadis itu 'kan? Ironis. Kau menahan semua rasa sakitmu hanya untuk mengungkap kebenaran tentang perasaan Sasuke? Aku tidak menyangka."
Sasori menggelengkan kepalanya seolah tak percaya, Gaara hanya tertegun mendengar penjelasan Sasori, namun aku perhatikan pria yang satunya lagi –Sasuke- mulai bersikap aneh. Lihat saja, kini ia tersenyum tak jelas, tangannya terkepal, nafasnya memburu, dan mata obsidian itu menatap bergantian ke arah Gaara dan Sasori.
"Hahahaha!" tiba-tiba saja ia tertawa mengerikkan yang membuatku merinding, "Kalian munafik, brengsek!" ucapnya dengan nada tinggi.
"Sasuke ...," Sasori menatap pria yang berada di hadapannya dengan tatapan heran. Tentu saja, siapa yang tidak heran menatap pria berambut emo itu sedang berteriak dengan keras seperti orang gila.
"Kau kenapa, Teme?" ucap Naruto yang kini sedang berada di sampingku.
"Ada apa denganmu?" tanya Sasori untuk kedua kalinya.
"Kau!" jari telunjuknya menunjuk tepat ke hadapan mata cokelat terang milik Sasori membuatnya tersentak kaget dan membelalakkan matanya, "Dan kau!" kini jari itu berpindah tepat di depan hidung mancung Gaara, "Kalian berdua munafik! Bagus sekali!"
"Hey, apa yang kau bicarakan ini?" tanya Gaara seraya mengernyitkan keningnya dan menepis jari itu dari hidungnya.
Aku dan Naruto yang mengamati mereka hanya saling berpegangan erat satu sama lain, aku tidak ingin ada perkelahian di ruangan ini, terutama perkelahian yang dipicu oleh Uchiha bungsu itu.
"Naruto ... aku takut mereka berkelahi," ucapku seraya mempererat genggaman tanganku pada tangan Naruto, mataku tak henti-hentinya menatap ketiga orang yang berada di pojokan sana.
"Tidak akan ada yang berkelahi, mereka itu sama-sama mencintaimu, aku tau mereka tak mau terlihat buruk di hadapan gadis yang mereka cintai," tangannya dengan refleks lekas menarik tubuhku dalam dekapannya.
"Kalian berdua munafik!"
"Apa yang kau bicarakan ini?" kakinya mulai berjalan mendekati Sasuke untuk menenangkan amarahnya yang kian memuncak.
"Diam kau, Sasori!" bentaknya dengan keras seraya mendorong kedua pundak pria berambut merah itu menjauh.
"Hey, ada apa denganmu!" Sasori yang kesal dengan tingkah Sasuke hanya mengepalkan kedua tangannya, ia hendak meninju wajah mulus Uchiha bungsu itu namun usahanya dicegah oleh Gaara.
"Tenangkan dirimu, Sasori," ucap Gaara seraya menahan tubuh Sasori dengan sebelah tangannya.
"Lucu sekali," ia terkekeh pelan, "Lucu sekali! Tadi kalian menuduhku menyukai gadis itu, dan setelah itu ... kau!" telunjuknya mengarah kembali ke hadapan pria dengan mata cokelat terang itu, "Kini kau menuduh Gaara menyukai Sakura, tch .. padahal kau sendiri masih mencintai gadis yang pernah menjadi mantan kekasihmu itu 'kan! Iya kan!"
DEG! Tak wajar wajah Gaara dan Sasori, serta Naruto kembali menegang. Mata mereka berkilat, menunjukkan rasa heran yang amat sangat. Sasuke yang baru saja mengatakan hal itu hanya tersenyum sinis ke arah Sasori, Gaara yang tentu saja masih menahan tubuh Sasori itu hanya mngernyitkan kening seraya menatap tajam ke arah Sasori. Dan yang mendapat tuduhan itu hanya tertegun, lalu menudukkan kepalanya. Lalu aku?
Hey, aku ini kaget! Aku kembali tersentak kaget, untuk kesekian kalinya mataku terbuka lebar dengan mulutku yang menganga. Astaga! Jadi ketiga pria yang ada di hadapanku ini ... mereka ... menyukaiku? Dan aku juga tau, belum lagi pria yang sedang bersamaku ini juga salah satu dari mereka bertiga! Jujur kali ini aku benar-benar merasa lemas sekali, mungkinkah ini efek dari terlalu banyak dikejutkan dengan hal-hal yang belum sempat terpikirkan sebelumnya? Aku renggangkan genggaman tanganku ada Naruto, dan kepalaku begitu saja bersender ke pundaknya, dan mataku hanya menatap kosong ke arah langit-langit kamar.
"Sa-Sakura, kau tidak apa-apa?" tanya Naruto seraya menempelkan punggung tangannya ke atas keningku.
"Naruto ... aku mau pulang sekarang," jawabku enteng masih dengan tatapan kosong.
"Tapi Sakura, bagaimana dengan mer-"
"Aku ingin cepat pulang, kau tidak inginkan aku terkena serangan jantung akibat insiden ini?"
Wajahnya tiba-tiba menegang, mata itu tak henti-hentinya menatap lekat ke arahku, dan detik selanjutnya ia hanya mengangguk pelan tanda setuju. Aku pun lekas tersenyum hambar padanya, tanda terimakasih.
"Baiklah, aku akan membawamu pulang," ia membalas senyumanku, lalu ia mengarahkan pandangannya ke arah ketiga pria itu, "Aku harap mereka tidak akan menyadarinya."
"Mereka terlalu sibuk berdebat, Naruto."
"Hn."
Dengan hati-hati tapi pasti, aku mulai beranjak turun dari tempat tidur ini dan tentu saja dengan bantuan Naruto. Setelah itu kami mengendap-endap, berjalan menuju pintu kamar. Aku lihat mereka bertiga masih asyik berdebat satu sama lain. Entahlah, aku tidak peduli. Dan saat aku dan Naruto telah sampai di dekat pintu, tangannya mulai meraba kenop pintu itu dan perlahan membukanya.
CIIITT! Deritan pintu yang terbuka terdengar sangat pelan. Tentu saja pelan, Naruto membukanya dengan sangat perlahan dan hati-hati. Ia tidak mau mereka mengetahui bahwa Naruto akan membawaku pulang tanpa seizin mereka. Dan langsung saja saat pintu telah terbuka aku dan Naruto berjalan keluar.
TBC
