Dengan hati-hati tapi pasti, aku mulai beranjak turun dari tempat tidur ini dan tentu saja dengan bantuan Naruto. Setelah itu kami mengendap-endap, berjalan menuju pintu kamar. Aku lihat mereka bertiga masih asyik berdebat satu sama lain. Entahlah, aku tidak peduli. Dan saat aku dan Naruto telah sampai di dekat pintu, tangannya mulai meraba kenop pintu itu dan perlahan membukanya.

CIIITT! Deritan pintu yang terbuka terdengar sangat pelan. Tentu saja pelan, Naruto membukanya dengan sangat perlahan dan hati-hati. Ia tidak mau mereka mengetahui bahwa Naruto akan membawaku pulang tanpa seizin mereka. Dan langsung saja saat pintu telah terbuka aku dan Naruto berjalan keluar.


Disclaimer : Masashi Kishimoto

Warning : Typo(s), abal, gaje, EYD berantakan, rush, dll

Pair : SasuSaku slight SasoSaku dan SasuHina

.

.

If you dont like, dont read!

Happy Reading (^,^)


"Huh, aku bisa gila," keluhku seraya merebahkan diri di jok mobil silver milik Naruto.

"Eh? Memangnya kenapa?"

Aku hanya memalingkan pandanganku ke luar jendela, sekilas menatap pemandangan di luar sana. Sedikit menghela nafas panjang, mencoba meredam kekesalanku. Dan aku baru menyadari bahwa aku belum menjawab pertanyaan sahabatku ini.

"Tch ...," aku hanya berdecih sebal saat hendak menjawabnya, mengingat perdebatan mereka bertiga di rumah sakit, "Kau tidak lihat? Kau tidak dengar?" aku balik bertanya padanya.

"Err ... maksudmu apa?"

"Awalnya mereka berdebat seperti itu lalu ...,"

"Lalu apa?"

"Lalu jelas-jelas secara tidak langsung mereka menyatakan bahwa mereka menyukaiku! Tidak bisa dipercaya," ucapku dengan nada yang lumayan keras seraya mengepalkan kedua tanganku.

Hening.

Usai aku menjawabnya, Naruto terdiam, ia tak memberiku pertanyaan lagi. Sejenak aku menatap ke arahnya, dan aku lihat dia menyunggingkan sebelah bibirnya seraya menatap sinis ke jalan raya. Tentu saja itu membuatku kebingungan. Ada apa dengan si Cebol ini?

"Naruto kau tak apa?" tanyaku kemudian seraya menepuk pundaknya perlahan

"Hahaha," ia malah tertawa renyah, membuatku semakin kebingungan, "Kau harusnya beruntung, disukai banyak pria."

Emerlad-ku membulat dengan sempurna, jika aku tidak salah dengar, dia mencantumkan kata 'beruntung' dalam perkataannya barusan. Eh? Apa? Beruntung? Beruntung dicintai seorang lelaki berambut merah yang sudah memutuskan hubungan karena ia pindah sekolah? Beruntung dicintai seorang lelaki berambut merah dengan mata hazel hijau yang bahkan aku tidak menyukainya? Beruntung dicintai seorang lelaki berambut pantat ayam nan cuek, jelek, dan egois itu?

"Jika seperti itu, jadi kau tinggal memilih yang terbaik, itu mudah. Kenapa kau menganggapnya gila?" lanjutnya tanpa rasa bersalah.

"Baka!" geramku kesal, "Dengar ya, aku tidak suka diperebutkan! Aku muak!"

"Maksudmu?"

"Aku tidak ingin menyakiti mereka dengan harus memilih salah satu diantara mereka, dan ... eemmm ...," aku menunduk pelan seraya mulai memainkan kedua jari telunjukku. Entah kenapa, tiba-tiba saja emosiku terasa mereda, "A-aku ... aku tidak mau menyakitimu."

CLEB! Hatiku lantas tak karuan setelah aku mengatakan hal itu. Aku sama sekali tidak tahu apa yang aku bicarakan ini. Oh ayolah, kenapa aku tiba-tiba saja jadi terang-terangan seperti ini?

"Eh? A-aku?" wajahnya terlihat heran dengan telunjuk yang mengarah pada dirinya sendiri, "Kenapa aku?"

"Bu-bukankah ka-kau juga salah satu dari mereka, eh?"

CIIITTT! Tiba-tiba saja mobil silver ini berhenti mendadak akibat ulah sang sup- emmm ... maksudku ulah Naruto, membuatku mengernyitkan kening tanda tak mengerti. Naruto yang masih memegang setir mobil hanya menatap kosong pada jalan yang berada di hadapannya.

"Kau kenapa, Naruto?" tanyaku seraya menatapnya heran.

"Kau menganggap aku sama seperti mereka?" wajahnya menoleh ke arahku, dan dapat aku pastikan mata itu menatapku dengan sungguh-sungguh.

"I-iya, bukankah memang begitu?" tanyaku gugup.

Kembali ia tak menjawab pertanyaanku, sorot matanya menyiratkan sesuatu yang tak aku mengerti. Kepala pirangnya tertunduk lesu dan ia hanya menghela nafas panjang sebelum kembali menatapku.

"Aku tidak sama dengan mereka," jawabnya dengan datar, "Yah, kau memang benar bahwa aku ... umm ... ya, mempunyai ... emm ... sedikit perasaan terhadapmu tapi ..."

"Tapi?"

"Aku tidak memaksamu untuk memilihku," ucapnya dengan penekanan pada akhir kalimat, "Dan lagi pula ... aku ini punya hati yang kuat! Aku takkan pernah terpuruk jika kau tidak memilihku, Sakura-chan! Hehehe ...," ia tersenyum penuh dengan mata yang menyipit, serta sebelah tangannya menepuk puncak kepalaku pelan.

Aku pun ikut tersenyum padanya. Aku merasa beruntung memiliki sahabat seperti dia. Selalu ceria, perhatian, suka menolong, baik, dan ... oh tentu! Dia tak pernah sekali pun merasa dendam jika aku dengan tidak senga- emmm .. maksudku dengan sengaja telah menyakitinya.

"Arigatou na, Naruto."

"Douitte," jawabnya masih dengan tersenyum.

"Ummm, ya sudah. Ayo jalan lagi," aku menggenggam sebelah tangannya yang masih ia letakan di atas setir mobil, seolah memberi semangat untuk kembali melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda karena obrolan tadi.

"Sakura-chan?" ia membalikkan tubuhnya menghadap ke arahku, kedua matanya menatapku dengan heran, membuatku kembali dibingungkan karenanya.

"Apa?"

"Kau mau jalan kemana lagi?" ia sedikit mencondongkan tubuhnya ke arahku, menatap wajahku dari dekat.

"Ya pulang. Aku ingin pulang ke rumah," jawabku seraya berkacak pinggang dan mengangkat sebelah alisku serta bibirku yang tersenyum sinis, membuat ia kembali menjauhkan tubuhnya dariku, "Memang mau kemana lagi?"

"A-ano ..."

"Kenapa Naruto?"

"Kita sudah sampai dari tadi."

"Hah?"

Aku cengo sesaat dengan tubuhku yang kaku seketika, dengan cepat ku edarkan pandanganku ke sekeliling, aku melihat sebuah rumah berwarna biru dongker dengan pagar putih, di seberangnya terdapat rumah yang cukup sederhana dengan warna pink cerah serta pagar hijau, lalu di sampingnya terdapat tiang listrik, dan ... eh? Tunggu dulu ... whuuaaaa! Inikan komplek perumahanku! Benar saja sudah sampai. Kenapa aku sampai tidak sadar? Jadi, tadi Naruto ngerem mendadak itu karena memang sudah samapi? Astaga!

Setelah menyadari itu, refleks aku pun tersenyum malu-malu pada Naruto yang mungkin tengah sweatdrop melihat tingkahku.

"Hehehe, kau benar. Kita sudah sampai," ucapku malu-malu dengan tak hentinya tersenyum pada bocah pirang itu, sedangkan Naruto hanya menggeleng pelan seraya berdecak.

"Ya sudah, mau aku antar sampai ke dalam? Apa kepalamu masih pusing, Sakura-chan?"

"Aa, tidak usah. Aku bisa sendiri," ucapku seraya mulai membuka pintu mobil dan lekas keluar.

"Kau yakin?" kepalanya menyembul dari jendela pintu mobil.

"Iya, terimakasih sudah mau mengantarku."

"Tidak masalah," jawabnya sembari tersenyum ke arahku, "Ya sudah, aku pulang dulu. Jaga kesehatanmu, ya?"

"Pasti."

Dia mengedipkan sebelah matanya ke arahku sembari mulai menyalakan mesin mobilnya. Karena ulahnya tadi, wajahku dengan sukses menjadi panas, ah ... sepertinya semburat berwarna merah itu tengah bersarang di wajahku.

Seusai mengucapkan selamat tinggal, mobil silver yang terkesan mewah itu mulai melaju meninggalkanku. Dan dengan senang hati aku melambaikan tanganku seiring mobilnya melaju semakin jauh, jauh, jauh, dan sampai menghilang di persimpangan.

=0=0=0=

Ku rebahkan tubuhku yang masih terasa sakit di atas tempat tidur berwarna pink kesayanganku. Tubuhku serasa hancur, semuanya terasa linu dan nyeri. Tak henti-hentinya aku menggerutu kesal pada si Pantat Ayam itu. Kenapa? Coba pikirkan. Kalau saja saat aku dan dia ada di danau dan dia tidak memelukku dengan seenaknya, mungkin Karin tak akan melihatnya, mungkin Karin tak akan salah paham dan ... dan ... ugh! Lupakan!

Sekilas aku menatap kosong ke arah langit-langit kamar. Aku menyerah! Aku tak ingin mengingat kejadian yang memuakkan itu. Mataku yang tadi sempat menatap sebal ke atas kini perlahan berubah. Entah mengapa, aku teringatkan sesuatu yang begitu saja terlintas di benakku. Sesuatu yang begitu saja membuatku merasa ... aneh.

"Sasuke ..."

Aku masih terpikirkan perdebatan tadi saat aku masih di rumah sakit. Aku tak habis pikir, mengapa mereka dengan seenaknya berdebat dengan nada yang cukup memekakkan telinga? Sedangkan di samping mereka itu ada yang tengah terbaring lemah, siapa lagi kalau bukan aku? Dan aku selalu merasa aneh jika mengingat ...

*Flashback on

"Tch ... cepat katakan! Aku tau, itu pasti hal yang tidak penting."

"Baik. Jangan katakan ..."

"Jangan katakan apa?"

"Jangan katakan kalau kau menyukai Sakura."

"Sasuke, kau menyukainya?"

"Menjauh dariku!"

"Kau suka padanya, iya 'kan Sasuke?"

"Diam kau, Sabaku!"

"Ternyata benar, kau menyukainya, Uchiha."

.

"Ckck ... maling teriak maling."

"Apa maksudmu?"

"Baiklah, aku mengerti sekarang."

"Tch ... ada apa lagi ini?"

"Hey, Gaara. Kau bilang Sasuke menyukai Sakura, ingat?"

"Iya, memangnya kenapa?"

"Bukankah kau sendiri juga menyukai gadis itu, hn?"

"A-apa maksudmu, Sasori?"

"Kau menuduh Sasuke menyukai Sakura, tapi jauh di lubuk hatimu kau juga mencintai gadis itu 'kan? Ironis. Kau menahan semua rasa sakitmu hanya untuk mengungkap kebenaran tentang perasaan Sasuke? Aku tidak menyangka."

.

"Kau! Dan kau! Kalian berdua munafik! Bagus sekali!"

"Hey, apa yang kau bicarakan ini?"

"Lucu sekali. Lucu sekali! Tadi kalian menuduhku menyukai gadis itu, dan setelah itu ... kau! Kini kau menuduh Gaara menyukai Sakura, tch .. padahal kau sendiri masih mencintai gadis yang pernah menjadi mantan kekasihmu itu 'kan! Iya kan!"

*Flashback off

Ok, aku memang merasa aneh karena itu semua. Tapi, aku merasa berbeda saat mendengar sendiri bahwa Sasuke menyukaiku. Apa mereka tidak salah bicara? Dan kenapa juga si Pantat Ayam itu tidak memberikan jawaban atau alasan yang jelas untuk menolak pernyataan seperti itu? Kenapa dia diam? Seolah-olah kalau dia itu ... kalau dia ...

TIDAK! TIDAK! TIDAK! DAN TIDAK!

Oh ayolah ... jangan sampai aku berpikiran kalau dia itu benar-benar telah ehm-menyukaiku-ehm. Maksudku, mana mungkin? Dia itu sudah menjadi musuhku semenjak aku masih duduk di bangku SMP, dan itu masih berlanjut hingga sekarang. Hampir setiap hari aku selalu bertengkar dengannya. Lalu, apa ini? Tiba-tiba saja pernyataan konyol itu lantas terdengar jelas oleh telingaku. Ini gila!

"Aaarrrgggghhhtt!"

Aku mengacak-acak rambutku sendiri karena kesal. Tak memperdulikan lagi tentang rasa sakit yang meyelimuti seluruh tubuhku. Setelah itu, sudah ku putuskan untuk mengambil selimut dan lekas memejamkan kedua mataku, serta membenamkan kepalaku di bantal, dari pada harus mengingat hal konyol yang tak bermutu!

=0=0=0=

Pagi ini, tepatnya setelah aku baru saja berpakaian sehabis mandi, aku dikejutkan dengan serentetan pertanyaan yang Kaa-san berikan. Aku pun terpaksa mendengar Kaa-san berteriak terus menerus di dekat telingaku.

"Sakura, ayo ceritakan pada ibu. Apa yang terjadi padamu hingga penuh luka seperti ini?"

Dengan sedikit malas karena masih terlalu pagi, aku menceritakan semuanya dengan detail. Sesekali aku mengucek kedua mataku dan kadang kala menguap ketika aku tengah bercerita, sepertinya aku mash mengantuk, padahal tadi sudah mandi. Berbeda denganku, ekspresi Kaa-san sepertinya tegang, agak sedikit marah, dan terlihat antusias mendengarkan setiap kata yang aku ucapkan.

Terlebih lagi saat aku mengatakan bahwa aku diculik dan disiksa seorang perempuan. Kau pasti akan lagsung merinding, merasakan aura hitam yang dikeluarkan Kaa-san. Dan tentu saja, Kaa-san lagsung bertanya siapa dia. Mungkin aku sedikit berdosa karena telah berbohong. Aku katakan bahwa aku tidak sempat melihat wajah gadis tersebut, tahu-tahu aku sudah berada di rumah sakit bersama Gaara.

Hey, aku tidak ingin masalah ini diperpanjang, ok? Aku ini gadis yang cinta damai, dan lagi pula ini semua karena kesalahanku juga. Untunglah Kaa-san percaya pada perkataanku, ya walaupun aku merasa bersalah sedikit. Oh Kami-sama ampuni dosaku.

Setelah Kaa-san benar-benar kehabisan pertanyaan, ia mulai pergi meninggalkanku sendiri beserta sarapan pagi yang Kaa-san letakan di atas meja. Sedangkan aku kembali berbaring, kembali menatap heran ke atas langit-langit rumah. Rasanya, ingatan itu selalu muncul, lagi dan lagi.

.

"Ternyata benar, kau menyukainya, Uchiha."

.

"Ayolah, mana mungkin!"

Aku menutup rapat seluruh wajahku dengan kedua telapak tangan. Aku tidak percaya. Sama sekali tidak! Seorang Uchiha seperti dia mencintaiku? Ralat. Maksudku menyukaiku? Bisa-bisa kiam- ups! Astaga! Bicara apa aku ini? Dengan tangan yang masih menempel di wajahku, aku menggerutu tak jelas di dalam hati, bahkan aku hampir saja mencakar wajah mulusku karena kesal.

CIIITTT! Suara deritan pintu yang terbuka telah sukses mengalihkan perhatianku dan lantas menoleh. Dari sana muncul bayangan hitam yang cukup tinggi, aku sempat mengira bahwa itu Tou-san yang sudah pulang dari tugasnya di Iwa.

"Ohayou, Sakura-chan ..."

DEG!

Suara baritone disertai langkah kaki berat kini meghampiriku. Kedua mataku terbuka lebar saat menyadari sosok pemuda di hadapanku. Aku tidak menyangka dia akan kesini sepagi ini, dan ... memangnya dia tak bisa menunggu nanti siang atau bahkan sore? Hey, ini masih terlalu pagi untuk seorang tamu datang berkunjung!

"Sa-sa ... Sasori?"

"Bagaimana keadaanmu?" pemuda berambut merah itu mulai duduk di tepi tempat tidurku, mata cokelat terangnya tak lepas memandangiku, dan ia terus tersenyum sejak memasuki kamar ini.

"A-aku sudah mendingan," jawabku seraya mulai beranjak duduk menghadap pemuda bermarga Akasuna itu.

"Baguslah," ia mengusap puncak kepalaku dengan perlahan, "Ayo sarapan."

"Eh?"

"Kau belum sarapan, kan?"

Aku mengernyit tatkala melihatnya mengambil semangkuk bubur ayam yang diletakkan Kaa-san. Dengan tetap tersenyum, dia mulai menyodorkan sesendok bubur hangat ke arahku.

"Katakan aaaa ..."

"Sa-Sasori?"

"Hn?" melihat ekspresiku yang terlihat aneh, lekas tangannya menurunkan kembali sendok tersebut, "Apa?"

"Sejak kapan kau kemari?"

"Sejak tadi malam."

"Hah?" aku mengerjapkan mata beberapa kali, sekilas menatap tak percaya ke arahnya, "Ja-jadi semalam kau menginap disini?" dan pertanyaanku yang terakhir hanya mendapatkan sebuah anggukan pelan darinya.

Aku cengo sesaat. Masih tak percaya bahwa semalam dia berada disini, menginap di rumah ini. Bagaimana bisa Kaa-san memperbolehkannya menginap disini? Ya, meskipun Kaa-san dan Sasori dari dulu sudah sangat akrab saat aku dan dia masih jadi ehm-kekasih-ehm, tapi 'kan sekarang ini aku bukan lagi kekasihnya. Dan, kenapa pula Kaa-san tidak memberitahukan aku tentang hal ini?

"Ibumu yang mengizinkan aku menginap disini," ucapnya dengan santai.

"Ta-tapi bagaimana ka-ka-"

"Sssttt ...," sebelah jari telunjuknya ia tempelkan di bibirku, menandakan bahwa ia menyuruhku untuk diam, "Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan, sebaiknya kau sarapan dulu, kau ingin cepat sembuhkan?"

Aku hanya mengangguk pelan ketika mendengarnya. Setelah itu, dia mulai menyuapiku dengan tak henti-hentinya tersenyum puas, terlebih lagi matanya itu terlihat berkilat, menyiratkan pandangan yang aneh terhadapku.

=0=0=0=

"Konnichiwa, Sakura-chan."

"Eh?"

Aku yang sedang duduk termenung di teras rumah lekas mengalihkan pandanganku ke arah pintu gerbang. Senyumku mengembang tatkala melihat kedua pemuda berambut pirang dan merah itu tengah berjalan menghampiriku.

"Siapa yang datang, Sakura?" Sasori yang mungkin mendengar teriakan Naruto tadi lantas keluar dari ruang tamu.

"Ini ...," jawabku singkat seraya menunjuk kedua pemuda yang kini tengah berdiri di hadapanku.

"Eh?" Naruto dan Gaara saling bertatapan heran tatkala melihat Sasori keluar.

"Wah wah, Naruto, Gaara ...," Sasori tersenyum licik ke arah mereka berdua, "Sedang apa kalian disini?"

"Hey, bukannya kami yang harus bertanya? Sedang apa kau disini?" tanya Naruto seraya berkacak pinggang.

"Aku menginap disini."

"Apa?" Gaara membuka matanya lebar-lebar, mungkin ia merasa terkejut seperti halnya Naruto. Sejenak mereka berdua kembali bertatapan.

"Memangnya kenapa?"

"USO!" keduanya berteriak keras, refleks aku menutup kedua telingaku. Sedangkan Sasori hanya merangkulkan tangannya pada pundak kananku, ia mulai menarikku untuk lebih dekat dengannya.

"Tak usah berteriak seperti itu."

"Tapi, bagaimana bisa, ha?" wajah mulus pemuda pirang itu berubah menjadi merah padam dengan kedua tangan yang ia kepal kuat-kuat.

"Ya, tidak bagaimana. Aku diperbolehkan menginap disini oleh ibunya."

"Err! Mana mung- eh?" blue shapire-nya mengkilat tatkala aku menyentuh wajahnya.

Aku yang sedari tadi memperhatikan Naruto, baru menyadari bahwa wajah pemuda pirang itu terlihat seperti habis dipukuli. Tak heran jika sekarang aku menyentuhnya, sekadar ingin mengetahui kondisinya.

"Wajahmu kenapa, Naru? Kau habis dipukuli?"

"Ee? Ummm ...," ia menggaruk belakang lehernya, "A-aku ti-tidak-"

"Jangan berbohong padaku!" hardikku dengan nada yang lumayan keras, "Kau dipukuli oleh siapa?"

Naruto tak menjawab, ia hanya memalingkan penglihatannya dariku. Sejenak aku mengernyit, tak mengerti dengan apa yang dilakukan pemuda itu. Detik selanjutnya, aku baru menyadari bahwa sikap Sasori dan Gaara tiba-tiba saja berubah. Sasori yang tadi merangkulku dengan semangat, kini ia melepaskannya, malah berdehem ria dengan tangan yang ia sembunyikan di belakang. Sedangkan Gaara, ia malah asyik bersiul seraya memandang ke arah lain.

"Hey, kalian ini kenapa?" tanyaku heran.

Sekilas, terbersit pemikiran aneh di benakku. Melihat sikap Naruto yang tidak menjawab pertanyaanku, terlebih sikap Sasori dan Gaara yang tiba-tiba saja berubah, aku menyimpulkan bahwa ...

"Kau dipukuli Sasori dan Gaara, eh?"

Hening.

Semuanya terdiam, membeku, dengan posisi yang berdiri tegap seraya menatap yang lainnya dengan tajam. Lagi-lagi aku merasa heran dengan tingkah mereka, lalu kemudian aku memfokuskan mataku ke arah dimana pemuda pirang itu berdiri.

"Benarkah itu, Naru?" tanyaku sekali lagi padanya seraya berkacak pinggang. Tak lupa, sebelah alisku pun terangkat, serta kedua emerald-ku yang menatap tajam terutama pada Sasori dan Gaara.

Naruto masih saja berpegang teguh pada pendiriannya untuk tidak menjawab pertanyaanku. Tentu saja, itu membuatku sedikit curiga dengan kedua pemuda yang berada di sampingnya.

"Jawab aku, Naru!"

Kepala pirangnya makin tertunduk dalam-dalam. Dan itu telah berhasil membuatku mengambil kesimpulan bahwa dia benar-benar dipukuli oleh kedua redhead ini.

"Jadi benar?"

"Dengarkan aku dulu, Sakura," tiba-tiba saja Sasori membalikkan tubuhku hingga menghadap ke arahnya

"Kau memukuli Naruto?" tanyaku dengan alis yang berkerut.

"Sakura, aku dan Gaara tid-"

"Lepaskan!" aku mengibaskan tangan Sasori yang tadi sempat memegang kedua pundakku, "Jadi benar, hn? Kalian memukuli Naruto hanya karena dia membawaku pulang tanpa seizin kalian, ha?"

"Cherry, dengarkan kami dulu," Gaara menggenggam tangan kiriku dengan erat, dan hazel hijau itu menatap lekat ke arahku.

"Diam kau!" aku kibaskan tangannya hingga genggamannya terlepas, "Aku tidak percaya kalian akan mela-"

"Sasuke yang memukulku."

DEG!

"A-apa?"

"Sasuke yang memukul wajahku, Sakura-chan."

Kalimat yang diucapkan Naruto secara dua kali itu telah sukses membuat tubuhku menjadi kaku. Mataku terbuka lebar seiring degup jantungku yang tak karuan. Sa-Sasuke dia bilang? Sasuke yang memukulnya? Tapi ... kenapa?

"A-apa maksudmu, Naru?"

"Sasuke yang memukulku," jawabnya sekali lagi dengan jelas, "Apa kau mengerti?"

"Ta-tapi ... ta-tadi kenapa ka-"

"Aku, Naruto, dan Sasori telah berjanji tidak menceritakan ini padamu," tambah Gaara yang sukses membuatku kembali terkejut.

"Iya, dia benar. Sasuke mengancam kami untuk tidak memberitahumu."

Aku terdiam setelah mendengar penuturan dari mereka bertiga. Rasanya aku tidak percaya bahwa Sasuke akan mengancam ketiga pemuda ini. Mereka yang merasa aneh karena tiba-tiba saja aku terdiam, refleks membuat tangan mulus milik seorang keturunan Namikaze itu mengguncang tubuhku.

"Sakura-chan kau kenapa?" tanya Naruto dengan tatapan cemas.

"Naru ..."

"Hn?" padahal hanya satu orang yang aku sebut namanya, tapi yang mendekat ke arahku malah semuanya.

"Ada apa, Cherry?" tanya Gaara seraya kembali menggenggam erat tanganku.

"Ceritakan padaku ..."

"Eh?"

"Ceritakan padaku mengapa dia sampai memukulmu."

Ketiga pemuda itu menghela nafas panjang secara bersama-sama. Keenam mata mereka berkilat, sekilas bertukar pandang sebelum akhirnya kembali menatap ke arahku.

"Baiklah, jika itu maumu," Naruto terlihat pasrah mendengar permintaanku.

"Sepertinya kita memang harus mengatakannya," ucap Sasori seraya menundukkan kepalanya, begitu juga dengan Gaara.

Aku menatap penuh harap ke arah Naruto, menandakan agar dia cepat menceritakan yang sebenarnya padaku. Tentang masalah Sasuke yang berkaitan denganku. Dan sepertinya pemuda pirang itu mengerti dengan isyarat mata yang aku berikan.

"Ini dimulai saat aku baru saja mengantarmu pulang."

Mendengar kalimat pembuka dari ceritanya itu, mataku lantas benar-benar terfokus ke arah Naruto. Dengan seksama aku mendengar setiap kata yang diucapkannya.

"Saat di tengah jalan ketika aku hendak pulang, aku melihat seseorang sedang berdiri tegak di tengah-tengah jalan, aku sempat berpikir bahwa dia itu gila atau bagaimana, karena dengan seenaknya menghalangi jalan yang akan dilalui kendaraan," sejenak ia menghela nafas sebelum akhirnya melanjutkannya kembali, "Ketika jarak mobilku dengannya benar-benar dekat, aku baru menyadari bahwa aku mengenal seseorang itu."

Matanya berkilat dengan tak hentinya menatap ke arahku seolah memberitahu sesuatu. Jelas saja itu membuatku mengambil sebuah kesimpulan yang belum pasti kebenarannya.

"Apa dia Sa-"

"Ya, itu Sasuke," jawabnya mantap seraya mengangguk, "Setelah menyadari hal itu, refleks aku memberhentikan mobilku dan lekas keluar, niatnya sih hanya ingin bertanya padanya saja mengapa dia sampai berdiri di tengah jalan seperti itu, tapi ..."

"Tapi?" aku mengangkat sebelah alisku.

"Saat aku keluar, tiba-tiba saja dia mendekat dan langsung memukulku."

Emerald-ku membulat dengan sempurna ketika mendengarnya, terutama saat Naruto memberi penekan pada kata 'memukulku'.

"Yah, memang keadaan jalan waktu itu cukup sepi. Jadi tak ada yang melihatnya. Dan untungnya dia hanya memukulku sekali saja."

Aku hanya mengangguk perlahan tanda mengerti, "Lalu?"

"Kau tahu kalimat terakhir yang dia katakan sebelum dia meninggalkanku?"

"Hah? Ka-kalimat terakhir?"

"Hn," Naruto mengangguk kemudian menangkap bayangan emerald-ku dengan blue shapire-nya, "Aku tidak mengerti mengapa dia mengatakan hal itu, entah karena dia sedang marah besar atau apalah aku tak yakin."

"La-lalu a-apa yang dia katakan?"

"Dia bilang ..."

.

"Jangan pernah membawa kekasihku pergi!"

.

Aku yang merasa shock berat lekas ambruk ke bawah, kakiku rasanya lemas, seluruh tubuhku bergetar, serta mataku yang menatap kosong lurus ke depan. Degup jantungku serasa berhenti, darah segar di tubuhku serasa berhenti mengalir. Kalimat terakhir yang dikatakan Sasuke pada Naruto itu benar-benar telah membuatku terkejut. Aku sama sekali tidak mengira bahwa Uchiha itu akan mengatakannya, bahkan ia begitu jelas mengakui bahwa aku ini 'kekasihnya'. Demi Kami-sama! Cerita konyol macam apa ini?

Mereka bertiga yang melihatku terkulai lemah di lantai, lantas berjongkok di hadapanku. Kembali mengguncangkan tubuhku yang tak bergeming sama sekali.

"Sakura-chan?"

"Cherry?"

"Kau tak apa?"

Karena terbawa emosi dan rasa tidak percaya, entah keberanian yang datang dari mana, aku lantas menarik kerah kemeja putih yang dikenakan Naruto. Sorot mataku memancarkan rasa tidak percaya begitu kuat, walaupun ada setetes cairan bening yang tengah bersarang di pelupuk mata.

"Naruto, kau jangan berbohong padaku! Mana mungkin dia berkata seperti itu!"

Sasori dan Gaara terlihat shock melihat tingkahku ini, terutama Naruto. Mata sebiru langit itu seolah mengatakan bahwa 'Ini bukan Sakura. Sakura tak mungkin melakukan hal ini.'

"Naruto jawab aku!"

"Demi Kami-sama, aku berkata jujur, Sakura."

Sejenak aku terdiam, menyadari bahwa Naruto tidak menambahkan sufix –chan pada namaku. Apa aku terlihat berbeda di matamu Naru? Sampai-sampai kau tak memanggilku seperti biasanya. Sekilas aku menatap kedua tanganku yang dengan erat menarik kerah kemeja Naruto, seketika itu juga mataku terbuka lebar. Aku baru sadar dengan apa yang aku lakukan padanya, dengan segara aku menarik tanganku kembali lalu kemudian tertunduk.

"Go-gomen, Naru. A-aku ti-tidak tahu apa yang terjadi pada diriku sendiri."

Ketiganya menatapku dengan heran. Sedangkan Naruto mulai merapikan kembali kerah kemejanya yang kusut akibat ulahku. Dengan posisi yang masih tertunduk, aku merutuki diriku sendiri, aku benar-benar hilang kendali.

"Sudahlah Cherry ...," Gaara menarik kepalaku ke dalam pelukannya, ia mengelus puncak kepalaku perlahan.

"Gomen, Sakura-chan. Apa ada yang salah dengan perkataanku barusan?" Naruto menggenggam sebelah tanganku dengan erat, membuatku sedikit tenang dibandingkan dengan sebelumnya.

"Tidak, Naru," jawabku pelan.

"Sakura-chan ...," Sasori memanggil namaku pelan, membuatu menolehkan leherku ke arahnya.

"Ya?"

"Ada satu hal lagi yang ingin aku ceritakan."

DEG!

Perasaan kaget yang ditimbulkan akibat cerita Naruto saja belum sepenuhnya hilang, dan sekarang aku harus mendengarkan sebuah cerita lagi yang kemungkinan menyangkut masalah Sasuke.

"Apakah ini menyangkut dirinya lagi?"

Sasori mengangguk mantap, lalu kemudian menghela nafas sebelum memulai ceritanya, "Saat kami masih berdebat dengan Sasuke di rumah sakit, entah mengapa perdebatan kami menjadi tak terarah. Terlebih saat aku yang pertama menyadari ketiadaan sosokmu di kamar pasien, tiba-tiba saja dia langsung menanyakan pada Gaara tentang siapa yang membuatmu terluka seperti ini, dan ..."

Aku membalikkan tubuhku, mencoba menangkap bayangan sosok pemuda bermarga Akasuna itu secara keseluruhan. Sekilas dapat terlihat mata cokelat terang miliknya menatap penuh harap pada Gaara, refleks pandanganku pun ikut tertuju pada pemuda dengan tato 'Ai' itu.

"Kau ingin aku menceritakan padanya, Sasori?"

"Tentu."

Alisku berkerut tatkala mendengarnya, hal apa lagi yang harus aku tahu tentang Sasuke? Hal apa lagi yang mampu membuat perasaanku ini tak karuan? Aku selalu berpikir, mengapa aku selalu saja merasakan hal aneh saat aku berada dekat dengan Uchiha itu? Terlebih lagi, saat ketiga orang ini menuduhnya menyukaiku, kau harus tahu seberapa shock-nya aku hingga menyuruh Naruto untuk segera membawaku pulang. Aku seperti tak bisa mengendalikan perasaanku sendiri, benci, marah, kesal, bahagia, senang, terharu, bercampur menjadi satu. Dan parahnya lagi, aku sama sekali tidak mengerti mengapa aku merasakan itu!

"Cherry, kau yakin ingin mendengarnya?" hazel hijau itu menatap lekat ke arahku, dan aku pun mengangguk pelan pertanda mengiyakan pertanyaannya.

Suasana yang tadinya normal kini berubah menjadi tegang. Aku bisa merasakan aura ketegangan serta kesedihan dari ketiga pemuda ini, aku pun bisa merasakan aura aneh yang keluar dari tubuhku sendiri. Aku hanya bisa berharap cerita ini sama sekali tak akan membuktikan tuduhan mereka pada Sasuke saat di rumah sakit.

"Baiklah," ia tersenyum simpul, "Saat dia bertanya padaku tentang siapa yang dengan kejamnya menyiksamu, aku sedikt ragu untuk menjawabnya. Entah mengapa, aku merasakan hal buruk akan terjadi jika aku memberitahunya."

"Lalu?"

"Setelah itu, dia mengancamku, dia memaksaku untuk mengatakannya. Karena aku tidak mempunyai pilihan lain, akhirnya aku katakan yang sebenarnya."

Mataku berkilat, aku tertegun, menunggunya untuk segera melanjutkan cerita konyol yang aku harap bisa membuktikan bahwa tuduhan mereka pada Sasuke itu tidak benar.

"Dan apa kau tahu, apa yang Sasuke katakan padaku setelah aku menjawab pertanyaannya?"

"A-apa?"

"Dia bilang ..."

.

"Jaga kelakuan adik tirimu, Sabaku! Jika kau tak ingin melihatnya terbunuh!"

.

Entah kenapa, tiba-tiba saja cairan bening mengalir dengan derasnya dari mataku. Aku tak sanggup berkata apapun lagi. Hey, aku sudah bilangkan? Aku selalu merasa aneh saat mengetahui hal-hal tentang Sasuke yang berkaitan denganku.

Aku langsung membenamkan seluruh kepalaku di dada bidang milik Gaara. Apa aku merasa senang? Sedih? Bahagia? Kesal? Terharu? Marah? Aku tidak tahu! Yang pasti, dari kedua cerita itu aku ... aku ...

Apakah ini artinya bahwa Sasuke benar-benar menyukai atau bahkan mencintaiku?

Sampai-sampai dia mengatakan bahwa aku kekasihnya dan memukul Naruto karena membawaku pulang tanpa seizinnya.

Sampai-sampai ia mengancam akan membunuh Karin jika Gaara tidak menjaga kelakuan adik tirinya itu.

Sasuke ... apa itu benar?

=0=0=0=

Menikmati langit senja bersama Sasori di sudut taman, sedikit membuat perasaanku menjadi lega. Sasori seperti penyembuh bagiku, ya dari dulu ia memang seperti itu. Ia selalu tahu saat yang tepat untuk menghiburku.

Dan saat ini, sebelum ia kembali pulang ke rumahnya, ia sempat menemaniku pergi ke taman. Tak terasa, besok sudah waktunya untuk kembali sekolah. Dan, Sasori yang telah resmi diterima di Konoha High School akan terus menemaniku sepanjang hari. Setidaknya sampai perasaan aneh ini hilang.

Aku bersyukur, ternyata 'mantan kekasihku' ini masih perhatian seperti dulu. Apa nanti aku akan kembali berpacaran dengannya ya? Hahaha ... konyol!

"Langit itu indah ya, Sakura-chan?" ucap Sasori yang kini tengah duduk di sampingku.

"Hn, kau benar Sasori-kun."

"Eh?" ia menoleh ke arahku dengan tatapan heran, membuatku mengernyitkan keningku tanda tak mengerti.

"A-apa aku salah bicara?" tanyaku dengan gugup.

"Hehehe ...," ia terkekeh pelan seraya merangkulkan tangannya di leherku, "Tidak. Aku hanya heran saja."

"Heran?"

"Hn," ia mengangguk mantap, "Baru sekarang ini lagi aku mendengarmu memanggilku dengan Sasori-kun."

BLUSH!

Wajahku merona merah. Lantas aja aku menundukkan kepalaku. Memang benar, baru kali ini lagi aku memanggilnya dengan 'Sasori-kun' seperti saat 6 tahun lalu, seperti saat aku masih menjadi kekasihnya.

Ah sial! Aku jadi malu karenanya. Lihat! Wajahku sudah seperti kepiting rebus. Tak bisakah dia diam dan jangan membahas soal nama panggilan seperti itu? Dia membuatku mengingat kembali masa lalu. Oh astaga! Aku tidak mungkin jatuh cinta padanya lagi 'kan?

"Hey, mau pulang sekarang?"

Aku mendongakkan kepalaku seketika itu juga, "Memangnya kau mau pulang sekarang?" tanyaku dengan tatapan heran.

"Jika kau mau sekarang, atau kau masih mau berduaan denganku disini?" ia terkekeh pelan dengan tangannya yang mulai mengacak-acak rambutku, membuatku merasa sebal dan kemudian mengerucutkan bibirku.

"Siapa juga yang mau berduaan denganmu," jawabku ketus, "Ya sudah ayo pulang."

Tak perlu menunggu beberapa detik, aku lekas beranjak berdiri, kemudian mengambil langkah duluan. Sasori yang masih di belakang hanya memanggil namaku seraya berlari kecil menghampiriku.

"Sakura-chan, tunggu aku," teriaknya di belakangku.

"Ayo cepat, kau ini lama sekali Sasori-kun."

Aku berlari menjauhinya. Di bawah langit senja ini, aku kembali tersenyum dan tertawa bersamanya. Sesekali aku membiarkannya mengejarku, dan tanpa sadar ia malah memelukku dari belakang. Tentu saja itu membuatku berontak dan kembali berlari.

"Senang sekali," teriakku seraya membentangkan kedua tanganku.

"Sakura-chan ..."

"Ayo cepat, Saso-"

DEG!

Langkahku terhenti setelah melihat pemandangan tak mengenakkan di hadapanku. Mulutku yang baru saja hendak memanggil Sasori, serasa tercekat sesuatu. Aku terdiam membisu, Sasori yang kelihatannya sudah berada di sampingku hanya menggenggam erat tangan kananku.

"Sakura ..."

"Sasuke ..." gumamku pelan tatkala melihat sosok pemuda berambut model pantat ayam itu tengah menggandeng seorang gadis.

Black onyx bertemu green emerald. Seketika itu juga dadaku terasa sesak, cairan bening pun mulai berkumpul di pelupuk mata. Entah mengapa aku merasa sakit. Aku melihatnya bergandengan dengan gadis itu, Sasuke menggandeng gadis lain. Tapi kenapa aku merasa sakit?

"Sasuke-kun, kenapa berhenti? Apa ada sesuatu?" tanya gadis itu seraya menatap kosong ke depan, seolah tidak menyadari keberadaanku dan Sasori.

"Ti-tidak, Hinata. Ayo pulang," ia mulai melangkahkan kakinya menjauhi kami berdua.

Aku masih saja terdiam memandangi pasangan itu. Perasaan aneh yang sempat menghilang itu kini datang kembali. Lebih menyakitkan, lebih menusuk. Sasori yang melihat keadaanku yang menyedihkan ini lekas membalikkan tubuhku ke arahnya, lalu kemudian ia memelukku dengan erat.

TBC

Hyaaaatttt! Ga sia-sia juga mantengin layar laptop dari tadi xDD

Apdet juga akhirnya! Maaf ya kalau gaje, jelek, dan abal.

Sudah diusahakan supaya memuaskan readers ._."

Oia, sekadar pemberitahuan aja (?) Fic ini bakal author tamatin di chap 11 x) horeeee *jingkrakjingkrak*

Sebenarnya author juga udah kepikiran buat sequel-nya, menurut minna gimana?

Yosh! Minta repiyuw aja dulu deh x3

Makasih udah nyempetin baca ^^a