"Sakura ..."
"Sasuke ..." gumamku pelan tatkala melihat sosok pemuda berambut model pantat ayam itu tengah menggandeng seorang gadis.
Black onyx bertemu green emerald. Seketika itu juga dadaku terasa sesak, cairan bening pun mulai berkumpul di pelupuk mata. Entah mengapa aku merasa sakit. Aku melihatnya bergandengan dengan gadis itu, Sasuke menggandeng gadis lain. Tapi kenapa aku merasa sakit?
"Sasuke-kun, kenapa berhenti? Apa ada sesuatu?" tanya gadis itu seraya menatap kosong ke depan, seolah tidak menyadari keberadaanku dan Sasori.
"Ti-tidak, Hinata. Ayo pulang," ia mulai melangkahkan kakinya menjauhi kami berdua.
Aku masih saja terdiam memandangi pasangan itu. Perasaan aneh yang sempat menghilang itu kini datang kembali. Lebih menyakitkan, lebih menusuk. Sasori yang melihat keadaanku yang menyedihkan ini lekas membalikkan tubuhku ke arahnya, lalu kemudian ia memelukku dengan erat.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Warning : Typo(s), abal, gaje, EYD berantakan, rush, dll
Pair : SasuSaku slight SasoSaku
.
.
If you dont like, dont read!
Happy Reading (^,^)
Hari ini hari dimana aku harus masuk sekolah lagi setelah libur selama seminggu akibat renovasi sekolah. Dan pagi ini terlihat mendung, tidak seperti biasanya. Dengan segera aku bersiap-siap sekolah. Menyiapkan buku-buku, memakai seragam, mengambil tas di lemari, dan setelah sarapan dan pamitan, aku lantas berangkat menuju halte bis.
Kulangkahkan kakiku perlahan menjauhi rumah. Bayangan Sasuke selalu terbersit di pikiranku sepanjang jalan. Aku masih merasakan perasaan itu, perasaan yang entah mengapa muncul setelah aku melihatnya menggandeng seorang gadis yang ia panggil dengan Hinata. Jujur saja, aku baru tahu bahwa paras gadis itu begitu cantik. Ya meski pun aku memang mengenalnya, namun itu pun hanya diberitahu namanya saja oleh Ino, dan aku juga hanya sekilas melihat wajahnya. Aku benar-benar tidak tahu bahwa dia akan secantik itu kalau dilihat dari dekat. Ternyata Sasuke beruntung ya? Dia mendapatkan gadis cantik.
Semenjak kemarin, aku sama sekali tidak bisa menjauh dari bayang si Pantat Ayam itu karenanya, terlebih saat aku berpikir bahwa apakah dia benar-benar menyukaiku? Aku sudah merasa seperti orang gila! Namun, saat melihatnya menggandeng Hinata, aku sudah seperti vas bunga yang telah hancur.
"Forehead!" seseorang memanggil namaku dengan lumayan keras, tentu saja itu membuatku menghentikan laju kakiku dan lantas menoleh ke belakang, mencari asal dari suara itu.
"Eh?" aku menatap heran pada gadis pirang yang tengah berlari kecil mendekatiku, aku sempat tidak mengenali sosok itu, namun setelah aku mempertajam penglihatanku, akhirnya aku tahu siapa dia, "Ternyata itu kau, Pig!"
"Hehehe ...," ia terkekeh pelan setelah sampai di sampingku, "Hisashiburi ne?"
"Hn," aku mengangguk pelan seraya tersenyum.
"Oh iya, aku dengar dari tetangga sebelah, katanya kau habis diculik dan disiksa ya? Apa itu benar? Aku harap itu hanya gosip," mata aquamarine-nya menatapku dengan lekat.
"Sepertinya kau tidak salah mendapat informasi, Pig," aku tersenyum simpul seraya menyenggolnya menggunakan sikut.
"Uwaaaahhh!" ia berterak keras dengan kedua tangan yang ia letakan di kepala, "Jadi itu benar? Lalu bagaimana keadaanmu? Apa kau masih merasa sakit? Ayo ceritakan padaku yang sebenarnya."
"Hn," aku menggeleng pelan, "Maaf, aku tidak ingin menceritakannya."
"Ayolah ... onegai ..."
"Aku tidak bisa. Lain kali saja, aku masih merasa shock," dustaku padanya.
"Oh begitu," wajahnya terlihat lesu karena kecewa, "Ya sudah tidak apa-apa, aku tidak akan memaksamu. Hnn ... apa sekarang lukamu masih terasa sakit?"
"Tidak terlalu ... aku sudah mendingan."
"Syukurlah."
Aku dan Ino terus berjalan sembari mengobrol. Memang pada dasarnya dia itu cerewet ya? Sekarang saja dia tengah asyik menceritakan seluruh kegiatannya saat sekolah libur. Aku yang mendengarnya pun hanya tersenyum penuh seraya menggelengkan kepala perlahan.
TESTES!
Aku merasakan tetes air hujan mulai turun membasahi kulitku, aku pun menengadah ke atas. Melihat ratusan rintikkan air yang dengan cepat jatuh ke bumi.
"Hujan," gumamku pelan.
Aku terdiam sejenak, tak menyadari bahwa seragamku mulai basah karenanya. Namun, aku tidak peduli, mau hujan atau tidak, mau basah atau tidak, mau sakit atau tidak, aku benar-benar tidak peduli. Pikiranku sedang kacau.
"Forehead, ayo cepat, ini hujan," Ino terlihat terburu-buru dengan kedua tangan yang memegang tas selempangnya di atas kepala, mungkin ia takut bajunya menjadi basah.
"Kau duluan saja," ucapku enteng.
"Tapi kau 'kan baru saja sembuh."
"Aku bilang kau duluan saja," aku menatap sungguh-sungguh pada sahabatku itu, membuat mata aquamarine-nya berkilat.
"Hn ...," Ino mengangguk dengan ekspresi wajah yang sedikit kecewa, lantas ia mulai berlari meninggalkanku di tengah hujan.
Setengah seragamku sudah basah kuyup, suara gemuruh petir di langit terdengar sangat keras, terkadang memancarkan kilatan cahaya disertai suara yang lebih nyaring. Sedangkan aku yang mendengar itu hanya terus berjalan menuju halte bis seperti biasa, namun hari ini halte itu terasa sangat jauh walaupun sebenarnya dekat. Tiba-tiba aku merasa tetesan air hujan itu berhenti membasahi tubuhku, aku merasa heran dan lekas menoleh ke samping.
"Hey ...," seseorang telah berada di sampingku, dia memegang sebuah payung yang melindungiku dan dia dari tetes air hujan.
"Sasori?" emerald-ku membulat saat menatapnya, seolah tak percaya dia ada disini. Dia hanya tersenyum ramah seraya mengusap kepalaku.
"Kenapa kau tidak memakai payung, eh?"
"A-ano ... a-aku lupa," aku kembali berdusta pada orang terdekatku. Berharap Kami-sama mengampuni dosaku.
"Sou ka?"
"Hn," aku mengangguk pelan, "Kau kenapa jalan kaki? Mobilmu kemana ?" tanyaku seraya menatap wajahnya yang lebih tinggi dariku.
"Ada," jawabnya dengan santai, "Aku hanya malas membawanya saja, karena saat aku melihatmu lewat di depan rumah tanpa memakai payung padahal sedang hujan seperti ini, tanpa sadar aku segera membawa payung dan lantas menyusulmu. Hehe ..." dia hanya terkekeh pelan.
Aku sedikit tersenyum senang karena melihatnya tingkahnya barusan, namun tetap saja ekspresiku kembali seperti semula, muram. Berterimakasihlah pada Uchiha bungsu itu yang telah membuatku seperti ini.
"Eh? Kenapa wajahmu cemberut seperti itu, hn?" sebelah tangannya merangkul bahuku, membuatku semakin merapat ke arahnya.
"Ti-tidak, Sasori-kun."
"Kau masih mengingat kejadian kemarin, ya?"
DEG!
Mataku terbuka lebar tatkala mendengarnya, degup jantungku kembali tak karuan serta kedua tanganku yang bergetar hebat. Kejadian kemarin dia bilang? Mengingat kejadian kemarin?
.
"Sasuke-kun, kenapa berhenti? Apa ada sesuatu?"
"Ti-tidak, Hinata. Ayo pulang."
.
Tanpa sadar air mataku kembali mengalir dengan deras. Dadaku mulai terasa sesak, bahkan lebih sesak dibanding kemarin. Kalau boleh jujur, padahal baru saja kemarin siang aku menganggap si Pantat Ayam bodoh itu menyukaiku, tapi apa yang aku lihat pada sore harinya? Dia menggandeng seorang gadis berambut indigo yang sangat manis, dan kau harus dengar bagaimana gadis itu memanggilnya dengan 'Sasuke-kun'.
Aku memang tidak keberatan dengan semua itu, namun aku juga tidak mengerti mengapa hatiku terasa sangat sakit saat melihat dan mendengarnya. Sekilas aku sempat berpikir jika aku ini telah mencintainya, tapi itu TIDAK MUNGKIN! Aku tidak akan mencintai pemuda itu. Tidak mungkin ... tidak mungkin ... iya 'kan?
DEP!
Aku tersentak kaget saat mendapati kedua tangan kekar menarikku ke dalam pelukannya. Pemuda bermarga Akasuna itu memelukku dengan erat di tengah hujan. Aku merasa ada yang salah dengan dirinya, sesuatu yang rasanya dia sembunyikan sejak pertemuan kami di Jembatan dekat air terjun itu.
"Hey, apa yang kau lakukan? Lepaskan aku," ucapku dengan nada yang lumayan tinggi.
Dia hanya terdiam, terus memelukku. Sejenak aku mencoba untuk meronta, aku tepis tangannya, aku ingin melepaskan pelukannya, namun detik selanjutnya aku tidak bisa menyangkal bahwa pelukannya itu ... hangat. Mampu membuat aku tenang. Tanganku yang sedari tadi memberontak ingin dilepaskan, perlahan mulai terdiam dan lebih memilih untuk membalas pelukan itu.
"Ne, Sakura-chan?"
"Hn?"
"Apa aku boleh mengatakan sesuatu padamu?"
"Mengatakan apa Sasori-kun?" jawabku masih dalam pelukannya.
"A-ku ..."
"Kau apa?"
"Aku masih mencintaimu," dia semakin memelukku erat seolah tak mau kehilanganku, "Jadilah milikku, seperti 6 bulan lalu."
DEG!
"A-apa?"
Aku membelalakkan kedua mataku, aku merasa terkejut saat kata itu terucap dari bibirnya. Aku tidak percaya pemuda ini akan mengatakan hal itu. Belum sempat rasa terkejutku ini mereda, aku kembali dikejutkan tatkala mendapati seseorang telah berada tidak jauh di belakang Sasori. Seseorang yang memakai setelan seragam putih dan jas yang sama dengan yang dikenakan Sasori, seseorang yang dengan terdiam menatapku seraya menggenggam payung hitamnya.
"Sa-Sa ... Sasuke?" gumamku pelan saat melihat pemuda bermata onyx hitam itu tertegun menatap lurus ke arahku.
Setelah tahu bahwa Sasuke melihat Sasori memelukku, bukannya langsung melepaskan pelukkan Sasori, aku malah membalas pelukan itu bahkan sangat erat.
"Aku juga mencintaimu, Sasori-kun."
Tiba-tiba saja kata itu terlontar dari mulutku. Entah mengapa aku lantas mengatakannya, namun saat kata itu terlontar, hatiku merasa puas. Puas saat Sasuke melihat Sasori memelukku, puas saat dia mendengar kata bahwa Sasori mencintaiku, puas saat aku mengatakan bahwa aku juga mencintai Sasori.
Sejenak aku berpikir, perasaan apa ini? Kebencian, kemarahan, rasa puas? Ada apa denganku? Apa ini dendam? Apa aku ingin membalas dendam pada Sasuke atas kejadian kemarin sore? Tapi kenapa aku ingin membalas dendam? Apa aku merasa cemburu, lalu dengan egoisnya aku membalas dendam dengan cara seperti ini? Demi Kami-sama! Ada apa denganku ini?
Onyx hitam milik Sasuke melihatku tajam seolah tidak percaya, di mata itu bukan saja terlihat satu kekecewaan tapi juga rasa sakit dan kebencian. Beberapa detik kemudian dia kembali berjalan hendak melewati kami, saat dia berpapasan denganku matanya tak melirik ke arahku, walaupun kedua mataku ini terus memperhatikannya.
Dengan segera, rasa bersalah lantas menjalar di seluruh tubuhku, aku merasa sangat bersalah, aku ingin menjelaskan semua ini, seolah bahwa aku aku pernah ingin membuatnya salah paham.
Setelah yakin sosok Sasuke menghilang di ujung jalan, aku melepaskan pelukanku dari Sasori. Dapat aku pastikan mata cokelat terang itu kini tengah menatap sungguh-sungguh ke arahku.
"Aku masih mencintaimu," kata itu kembali terlontar dari bibirnya, sebelah tangannya mulai menyentuh pipiku dengan lembut lembut.
"Sasori," aku menurunkan lengannya dari pipiku, "Kau pasti bercanda."
"Aku sedang tidak bercanda Sakura-chan," ucapnya berusaha untuk membuatku percaya.
"Tidak, kau bercanda," aku mulai mengambil langkah untuk meninggalkan pemuda itu, namun baru saja hendak ku langkahkan kaki ini, sebelah tangannya menggenggam tanganku, menahanku untuk pergi darinya.
"Percayalah padaku, aku masih mencintaimu."
"Tapi kenapa?"
"Eh?"
"Kenapa!" tanyaku dengan nada tinggi, "Kenapa kau meninggalkanku jika kau masih mencintaiku, ha? Kau meninggalkan aku sendiri saat 6 bulan lalu! Kau memutuskan hubungan kita, Sasori!"
"Karena aku memang mencintaimu! Karena aku tak ingin kehilanganmu, itu sebabnya aku kembali kesini. Karena aku tak rela saat kau berada dekat dengan pemuda lain, itu sebabnya aku ingin selalu disampingmu, mengertilah Sakura-chan."
Hatiku bergetar mendengarnya, kesungguhan terlukis jelas di matanya. Aku tidak percaya, dia benar-benar masih mencintaiku. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa aku harus menerimanya kembali? Sedangkan perasaanku mengatakan bahwa aku tidak merasakan apa pun selama berada di dekat Sasori. Aku ini hanya merasakan getaran aneh yang entah dari mana datangnya, serta aku selalu gugup, nyaman, dan serasa terlindungi jika aku berada dekat dengan Sasu- err... maksudku ... pokoknya aku ini tidak mencintai siapa pun! Dan terlebih lagi, aku tidak mencintai pemuda Uchiha itu, juga Sasori!
"Aku masih mencintaimu," lanjutnya.
Hening.
Suasana di sekitar kami hening sesaat, hanya suara tetesan air hujan yang terdengar. Sejenak terlintas dipikiranku untuk menerimanya kembali, mungkin saja dia bisa menghilangkan perasaan aneh yang selama ini muncul karena Sasuke. Namun, aku belum percaya terhadap perkataannya, aku tidak mau mengambil resiko jika aku langsung menerimanya. Jadi sudah aku putuskan untuk mempertimbangkannya kembali, ya walaupun aku memang tak mencintai pemuda itu lagi. Hey, hati manusia itu bisa berubah 'kan? Tentu saja! Dan sepertinya untuk saat ini aku harus mengatakan tidak terlebih dahulu.
"Maaf, aku tak bisa," aku menggeleng pelan seraya tersenyum penuh.
"Tapi Sakura-chan ... Padahal tadi kau mengatakan bahwa kau mencintaiku juga. Tapi kenapa sekarang kau seperti ini?"
"Eh? Ta—tadi?" aku memutar bola mataku. Dia telah berhasil membuatku bingung, aku mulai sibuk mencari alasan untuk menutupinya, "A—ano ... i—itu ..."
"Hn ... karena Sasuke, ya?"
Emerald-ku membulat saat dia menyebut nama itu. Kembali hatiku berdesir dibuatnya. Bagaimana bisa tiba-tba saja Sasori menyebut nama itu? Padahal ia tahu bahwa aku ini masih merasa sakit, terutama karena orang yang menyandang marga Uchiha itu.
"Kau mengatakan itu karena ada Sasuke di belakangku, 'kan ?"
DEG!
"A—apa?"
Aku cengo sesaat. Merasa heran dengan perkataannya barusan. Bagaimana bisa dia tahu bahwa di belakangnya tadi ada Sasuke? Sasori yang melihat ekspresiku yang terlihat bingung hanya mendengus pelan, lalu mencoba tersenyum ke arahku.
"Sudahlah, lupakan," ucapnya seraya menepuk pundakku, "Ini ...," tiba-tiba saja ia melepaskan jas-nya, lantas menyodorkannya padaku, "Pakai ini supaya tidak sakit."
"Ini?" aku menatap jas hitam itu dengan lekat, "Kalau aku pakai ini, nanti kau pakai apa?"
"Tidak apa-apa, seragamku masih kering, sedangkan kau? Seragammu sudah setengah basah kuyup. Kalau kau tidak memakai jas lagi, kau bisa sakit."
"A—arigatou na, Sasori-kun," aku hanya tersenyum padanya seraya memakai jas yang tadi disodorkannya.
Detik selanjutnya, kami berdua mulai berjalan, tiba-tiba saja tangan kananku digenggam dengan erat olehnya. Aku tak bisa melepaskan genggamannya, ya sudah aku biarkan tangannya terus menggenggam tanganku. Kami masih terus berjalan menuju halte bis. Selama perjalanan, kami berdua tertawa, tersenyum, tak ada lagi perasaan itu, perasaan aneh yang aku rasakan kemarin, rasanya semua beban telah hilang. Perlahan-lahan, seragamku yang basah kuyup juga mulai kering terkena angin.
Saat kami tiba di halte, aku melihat Ino tengah berdiri disana, dia memeluk tubuhnya sendiri, terlihat jelas bahwa ia sangat merasa kedinginan. Dengan segera, aku pun mulai menghampirinya.
"Forehead!" Ino tersenyum sumringah tatkala menyadari keberadaanku di sampingnya.
"Hai, Pig!" aku pun tersenyum padanya.
Aku lihat kini ia hanya cengo sesaat seraya menatap ke arah tangan kananku, mungkin merasa heran saat tanganku digenggam erat oleh Sasori.
"Hey, Forehead ... siapa dia?" Ino berbisik pelan padaku, matanya terus melirik ke arah Sasori dengan penasaran.
"Sasori," jawabku seraya tersenyum pada Sasori, dan Sasori pun membalas senyumanku, "Murid baru di sekolah kita."
"Oh," ia membentuk mulutnya seperti huruf 'O' dengan sikut yang menyenggol pinggangku pelan, "Jadi tadi kau berangkat dengannya, eh?"
"Iya."
"Kalian jalan berdua?"
"Iya."
"Pakai payung itu?"
"Iya."
"Lalu jas yang kau pakai ini, apa itu miliknya?"
"Iya."
"Dia kekasihmu?"
"Iy— eh?" aku menatap tajam ke arah Ino yang kini tengah terkekeh geli, "Tentu saja bukan."
"Jangan bohong, kau mesra sekali dengannya."
"Hey, jaga bicaramu, Pig. Aku tidak berpacaran dengannya tahu," wajahku merona merah, sedangkan Ino mulai memicingkan matanya ke arahku, menatapku curiga.
"Hey sudahlah jangan membohongiku, kalau kau kekasihnya Sasori lalu bagaimana dengan dia?" Ino kembali berbisik di telingaku, membuatku mengernyitkan keningku.
"Dia siapa maksudmu?" aku mengangkat sebelah alisku seraya menatapnya heran.
"Dia ...," Ino menunjuk seseorang dengan dagunya, mataku menoleh pada seseorang yang ditunjuknya, seseorang yang berdiri dekat tiang di sudut halte.
"Aku tidak ada urusan dengannya," aku palingkan kembali pandanganku darinya. Sebelah tanganku mulai merengkuh dadaku yang kembali terasa sesak setelah melihat sosok itu.
"Loh? Bukannya kau dan dia it—"
"Jangan penah membicarakannya lagi," ucapku dengan pelan namun tajam dan tegas.
"Ba—baiklah," Ino hanya mengangguk mantap seraya menatapku dan sosok itu seraya bergantian.
Dari balik rintiknya air hujan, terdengar geruman sebuah mesin kendaran tengah mendekat. Ternyata bis yang kami tunggu telah datang, semua orang begitu juga dengan aku, Sasori, dan Ino pun lantas masuk ke dalam bis tatkala kendaraan yang cukup besar itu berhenti tepat di depan halte.
=0=0=0=
Sehabis makan siang di Kantin dan setelah aku menjawab pertanyaan semua teman-temanku, yang menanyakan tentang peristiwa penculikan itu, aku lantas melangkahkan kakiku untuk kembali masuk ke kelas.
Sebelumnya aku sempat mendengar sebuah pembicaraan siswi kelas 2 tanpa sengaja. Pembicaraan yang menyangkut kedua orang yang pernah melukaiku. Aku tidak percaya bahwa seisi sekolah ini telah mengetahui bahwa mereka melakukan tindakan yang diluar hukum.
Kini, saat aku tengah berjalan memasuki kelas, pikiranku seolah melayang. Aku terus teringatkan perkataan siswi kelas 2 tadi saat aku berjalan di koridor.
.
"Hey, kau tahu tidak? Karin yang dari kelas 2-IPA 1 itu katanya kena skors selama sebulan."
"Oh iya iya, aku tahu. Dan, aku dengar juga sisiwi kelas X yang tomboy dari kelas 1-D itu juga diskors selama sebulan."
"Ada apa ya dengan mereka?"
"Entahlah. Tapi menurut guru-guru yang sudah tahu hal ini sih, mereka bilang kalau kedua perempuan itu sudah seperti calon kriminal."
"Wah, benarkah?"
"Iya. Katanya kalau mereka sampai ketahuan melakukan hal itu lagi, mereka berdua akan dikeluarkan dari sini."
"Kasian sekali ... hal apa sih yang membuat mereka seperti itu?"
"Aku juga tidak tahu. Kepala sekolah seperti menutupi masalah ini."
.
Aku seperti tersengat listrik saat mendengarnya. Jadi, Karin dan Anko diskors selama sebulan? Siapa yang memberitahu hal ini pada pihak sekolah? Dan lagi, Kepala sekolah menutupi masalah ini? Kenapa? Apa dia tidak ingin reputasi sekolah ini menurun?
Ugh! Ini semua salahku. Kalau saja aku tidak berpelukan dengan si Bodoh itu saat di danau, mungkin kejadiannya tak akan separah ini. Seraya mendengus pelan, aku mulai duduk di bangku.
"Huh .. dasar bodoh," gumamku pelan seraya melipat kedua tangan di atas meja, "Kenapa ini sam- eh?"
Emerald-ku tiba-tiba saja terfokus pada satu cup puding strawberry yang dengan manisnya telah berada di depan mataku. Di bawah puding tersebut terdapat secarik kertas kecil, dan setelah aku buka lipatannya, isinya adalah:
Untuk Sakura
"Eh?"
*Flashback on
Sebenarnya apa yang dia maksud? Apa dia benar mencintaiku? Eh? Haha lucu sekali, itu hanya omong kosong. Naruto itu 'kan sahabatku dari kecil. Mana mungkin dia bersikap ... lho?
Pandanganku lekas fokus tertuju pada satu cup puding strawberry yang berada tepat di atas mejaku. Tanpa pikir panjang aku lekas menghampirinya, wah beruntung sekali! Tapi, dari siapa?
"Untuk Sakura"
*Flashback off
"I-ini kan ...," aku menatap heran kertas tersebut, "Tulisan yang sama seperti waktu itu."
Aku penasaran, tulisan siapa ini? Dan mengapa setiap aku kembali ke kelas, puding ini selalu ada di atas mejaku? Ok, aku akui siapapun yang meletakkannya disini adalah orang baik, yang dengan senang hati selalu memberiku puding yang lezat ini. Tapi apa salahnya jika aku hanya ingin tahu orang itu?
"Oi, Naru kesini ...," aku berteriak seraya menolehkan pandanganku ke belakang, dimana pemuda pirang itu tengah mengobrol santai dengan Shikamaru.
Mungkin, aku akan coba tanyakan pada Naruto. Dari pada aku terus merasa penasaran. Siapa tahu dia mengenali tulisan ini, dan jika dia memang tahu, aku 'kan bisa berterimakasih pada orang yang meletakkan puding ini di atas mejaku.
"Ada apa, Sakura-chan?" tanya Naruto yang kini telah menghampiriku bersama pemuda berambut nanas.
"Ini," aku menyodorkan kertas yang sedari tadi dalam genggamanku, "Apa kau tahu tulisan siapa ini?
"Hn?" ia mengangkat kedua alisnya, "Ahh ... Ini kan ...," mata sebiru langit itu berkilat tatkala melihat dengan teliti tulisan dalam kertas itu, "Shika, lihat ini."
"Apa ini?" dengan malas, pemuda itu juga menatap teliti tulisan singkat itu, "Loh, ini kan ..."
"Apa kau mempunyai pemikiran yang sama denganku, Shika?" tanya Naruto seraya melirik ke arah sahabatnya itu.
"Tidak salah lagi," jawabnya dengan mantap.
Aku yang mendengarkan pembicaraan mereka hanya mengernyitkan kening, aku sama sekali tidak mengerti. Tapi, pasti mereka tahu tulisan siapa ini.
"Aku tahu tulisan siapa itu," ucap Naruto dan Shikamaru secara bersamaan.
"Benarkah?" mataku berbinar senang, "Tulisan siapa?"
"Itu ..."
.
.
.
"Adalah ..."
.
.
.
"Tulisannya ..."
.
.
.
"Sasuke."
DEG!
Kertas itu lepas begitu saja dari genggamanku hingga terjatuh ke lantai. Kedua mataku terbuka lebar dengan tatapan kosong yang aku layangkan lurus ke depan. Tak bisakah sehari saja aku terlepas dari jerat bayang sosok Uchiha itu?
=0=0=0=
Bel pulang sekolah telah berbunyi dengan keras. Aku pun lekas berhambur keluar seraya terburu-buru. Entah mengapa aku ingin cepat-cepat pulang dengannya. Aku yang tengah berlari terus teringat kata itu, kata yang diucapkan Sasori saat di bis tadi.
.
"Nanti saat pulang sekolah, kau pulang bersamaku, ya?"
.
Aku terus berjalan melewati lapangan menuju gedung sekolah bagian barat, gedung dimana kelas Sasori berada, kelas 2-IPA 5. Gedung itu sangat tinggi, saking tingginya aku harus menengadah ke atas sekedar ingin tahu seberapa tingginya gedung itu.
"Uwaaahhhh ... tinggi sekali," gumamku pelan seraya menurunkan kecepatan laju kakiku, aku terus berjalan seraya masih menengadah ke atas, "Aku baru sadar kalau gedung ini sa—"
BUUGGHHTT!
Tubuh tegap seseorang telah aku tabrak dengan tak sengaja. Itu membuat perhatianku lekas tertuju padanya.
"Ma-maafkan ak— eh?"
Belum sempat aku mengakhirinya, suaraku terasa tercekat sesuatu. Ya, aku melihatnya lagi. Untuk kedua kali, aku melihatnya menggandeng gadis itu. Gadis berambut indigo yang kini tengah memakai seragam yang sama denganku.
"Sakura ..."
"Sasuke ..."
Hening.
"Ne, Sasuke-kun? Apa sekarang kita ada di depan pohon Sakura?" ucap gadis itu memecahkan keheningan, seraya mengeratkan gandengannya.
Aku hanya cengo sesaat. Pohon sakura? Saat Sasuke memanggil namaku, gadis itu menyangka bahwa kini mereka berdua berada di depan pohon sakura? Apa-apaan dia ini?
"Tidak, Hinata," jawabnya dengan ekspresi datar.
"Lalu?"
"Temanku," mata obsidian itu menatap ke arahku, "Ada temanku disini, namanya Sakura."
"Wah? Benarkah? Yoroshiku ne, Sakura," ia mengulurkan tangannya ke depan, padahal aku ini ada di depan Sasuke, bukan di depannya, "Namaku Hinata."
"Yo-yoroshiku," jawabku gugup seraya meraih tangan putih miliknya.
Dengan sikapnya yang seperti itu, aku mengira bahwa dia itu ... buta. Tapi, apa mungkin? Oh ayolah, aku tak akan mengambil kesimpulan secepat itu 'kan? Baiklah. Ok, dari pada aku nanti mati penasaran dibuatnya, mending aku langsung tanyakan saja.
"Maaf sebelumnya, Hinata," ucapku dengan sopan.
"Ya, kenapa Sakura?"
"A-apa ... apa kau buta?"
"Hahaha," gadis itu tertawa renyah sembari mengangguk pelan, "Kau ini lucu sekali. Bukankah kau dapat melihat semuanya dari diriku ini?"
"Eh?"
"Ya Sakura, aku ini buta. Bahkan sejak lahir."
Demi Kami-sama! Jadi dia benar-benar buta? Aku benar-benar baru mengetahui kalau gadis itu buta. Bahkan Ino tidak menceritakannya padaku, ia hanya menceritakan gosip tak penting tentang hubungan Naruto dan Hinata.
Dan, oh iya! Sekarang aku mengerti, ternyata gosip itu tidak benar. Yang menjadi kekasih Hinata itu bukan Naruto, tapi Sasuke, mungkin. Hey, kalian tidak lihat seberapa mesranya mereka? Kalau mereka tidak pacaran, lantas apa? Dan seperti yang aku lihat, Sasuke nampaknya sangat perhatian pada kekasihnya yang mempunyai kekurangan. Itu bagus 'kan? Menerima apa adanya. Ya, sama denganku. Menerima apa adanya, menerima rasa sakit yang sekarang mulai menjalar.
"La-lalu, bagaimana caranya kau belajar di sekolah ini?"
"Oh itu. Gampang saja Sakura," ia terkekeh pelan, "Aku selalu mendengarkan materi pelajaran, tidak melihatnya. Aku selalu merekam materi itu, tidak mencatatnya. Dan, kau pasti akan terkejut jika melihat berpuluh-puluh kaset rekaman tentang materi pelajaran yang ada di rumahku."
"Sou ka."
"Hn," ia mengangguk pelan, "Oh iya, jadi kau temannya Sasuke-kun?" tanya Hinata secara tiba-tiba dengan senyuman hangat terukir dalam raut wajahnya.
"Iya," jawabku singkat, "Sementara kau, kekasihnya Sasuke, ya?"
DEG!
Entah pemikiran dari mana, aku lantas menanyakan hal itu padanya. Seperti begitu saja terlintas di benakku. Sekilas aku menatap pemuda Uchiha itu, aku lihat matanya terbuka lebar seraya menatap balik ke arahku. Sedangkan, Hinata masih saja tersenyum. Bersamaan dengan itu, rasa sakit ini semakin menusuk. Karena kebodohanku barusan, aku harus menanggung rasa sakit yang lebih sakit dari biasanya. Bagus!
"Bu-bukan a-aku ..."
"Haha ... sudahlah, kalian itu cocok sekali, mesra lagi," aku tertawa hambar dengan ekspresi yang dibuat-buat.
"Sakura ...," wajah stoic itu berubah, menunjukkan rasa kekhawatiran.
Sekilas aku hanya menatap heran pada Sasuke. Sejak kapan dia memanggilku Sakura? Apakah panggilan bodohnya itu telah ia lupakan jauh-jauh? Atau ... apa ia ingin terlihat baik di hadapan kekasihnya? Yah ... satu lagi sifatnya yang berhasil membuatku bingung.
Aku yang terus menatap intens pasangan kekasih ini, hanya meregkuh dadaku sendiri menggunakan sebelah tangan. Sakit memang. Namun, bukan berarti aku cemburu 'kan? Ingin menangis memang. Namun, bukan berarti aku jatuh cinta pada Sasuke 'kan? Dari pada aku harus terus menerus merasa sakit tatkala mlihat mereka, mending aku segera menemui Sasori, aku takut dia sudah lama menunggu.
"Oh iya, aku sampai lupa. Aku harus menemui seseorang sekarang."
"Sou? Baru saja bertemu masa sudah pergi?" paras cantik gadis itu berubah muram tatkala mendengar perkataanku barusan.
"Ah ... iya, gomen ne. Tapi aku benar-benar harus pergi sekarang."
Sejenak ia menghela nafas panjang, kemudian tersenyum, "Ya sudah, mau bagaimana lagi."
"Hn ... aku pergi dulu," aku pun membalas senyumannya, walaupun ia tak bisa melihatku, "Senang bertemu denganmu, dan ... selamat bersenang-senang dengan kekasihmu, Hinata. Jaa~"
"Hn."
Aku mulai melangkahkan kaki, rasa sakitku sedikit berkurang tatkala kedua mata ini tak melihat mereka berdua. Rasanya melegakan. Namun, baru saja aku melangkah, tiba-tiba saja langkahku terhenti saat Sasuke menggenggam erat tanganku.
"Dengarkan aku dulu."
Aku terdiam sejenak, aku tahu apa yang akan ia jelaskan, dan aku sama sekali tak ingin mendengarnya. Karena melihatnya seperti ini saja aku sudah tahu bahwa kini dia telah memiliki sebuah hubungan dengan Hinata.
"Urusai," jawabku seraya mengibaskan tangannya.
Aku segera berjalan meninggalkan mereka berdua. Mengeratkan rengkuhanku di dada, berharap rasa sakit ini cepat menghilang seiring langkahku yang mulai memasuki gedung tersebut.
=0=0=0=
Aku tertegun beberapa menit menatap kosong sebuah kelas, 2-IPA 5. Tak ada siapapun disini, kecuali aku. Yah, sepertinya Sasori marah dan lekas pulang meninggalkan aku. Ugh! Kalau saja tadi aku tidak bertemu dengannya, mungkin sekarang aku tengah berada di jalan bersama Sasori.
Tanpa pikir panjang, aku lantas mengeluarkan handphone-ku dari dalam saku jas, lalu kemudian mencari sebuah nomor dan langsung menekan tombol 'Calling'.
'tuuutttt ... ttuuuttt ... ttuuuttt ..."
"Ayolah, Sasori, angkat telponnya," aku bergumam sendiri di tengah keheningan. Mengharapkan pemuda itu segera mengangkat telponnya, aku ingin meminta maaf.
"Konbanwa ...," ucap seseorang di sebrang sana.
Aku termangu sesaat setelah telepon itu diangkat. Suara ini bukan suara Sasori. Ini ... ini suara perempuan. Ah ... mungkin ini kakak perempuannya Sasori. Aku tidak boleh berprasangka buruk dulu terhadapnya.
"Ko-konbanwa," jawabku sedikit gugup, "Ma-maaf, a-apa Sasori ada?"
"Eh? Sasori?" nada bicaranya terdengar heran mendengar perkataanku barusan.
"Iya."
"Ummm ... tunggu sebentar, kau siapanya Sasori ya?"
"He? A-aku ..."
"Sayang, siapa itu?" suara lain terdengar menyahut.
DEG!
Aku tersentak kaget saat suara baritone itu menyahut. Suara pemuda yang aku kenal sebagai suara ... Sasori. Aku tertegun dengan mulut yang menganga. Apa ini? Dia menyebut gadis itu dengan panggilan sayang? A-apa dia kekasih Sasori?
"Eh? Sasori, ini ada telepon untuku sayang."
"Dari siapa?" tanya sang pemuda.
"Entahlah, ini. Lebih baik kau saja yang berbicara. Oh iya, jangan sampai kau nakal dengan wanita ini."
"Eh? Wani—"
CUPP!
Suara kecupan begitu terdengar jelas olehku. Aku yang mendengarnya hanya menggelengkan kepala seraya menutup rapat mulutku. Kalau aku tidak salah dengar, pasti gadis itu telah mencium Sasori.
"Ti-tidak mungkin," ucapku tanpa sadar.
"Halo? Maaf, tadi kau berbicara apa?" tanya Sasori, mungkin tadi dia mendengar perkataanku yag terlontar tanpa sengaja.
Aku terdiam tak menjawabnya. Masih merasa tak percaya bahwa dia ... Sasori ... tadi ... kekasihnya. Ia sudah mempunyai kekasih! Disaat aku baru saja mempertimbangkan untuk menerimanya kembali, tapi ... apa yang aku dengar sekarang?
"Halo? Kau siapa?" suara itu kembali muncul.
"Kau pembohong!" ucapku dengan spontan.
"Apa maksudmu? Kau siapa?"
"Kau membohongiku Sasori! Kau berbohong bahwa kau masih mencintaiku! Kau penipu!" aku menghentakan kakiku dengan keras seraya mengepalkan tanganku, "Beraninya kau berbohong padaku! Padahal aku baru saja berpikir bahwa kau ini sungguh-sungguh! Namun sepertinya aku salah. Kau sudah memiliki gadis lain! Aku benci padamu!"
"Sa—Sakura?"
"Sudah cukup aku mempercayaimu!"
"Ka—kau Sakura 'kan?" ia bertanya dengan nada terburu-buru, "Sakura-chan ... dengarkan aku dulu, i—ini tidak seperti yang kau pikirkan ..."
"Diam kau! Aku muak denganmu!"
"Tapi Sakura-chan ..."
"Berhenti memanggilku dengan sebutan menjijikan seperti itu!"
"Saku—"
FLIP! 'tuutttt ... tuuuttt ... tuuuttt ..."
Dengan kasar aku lekas menutup teleponnya, tak peduli dengan Sasori yang ingin menjelaskan semuanya. Aku mulai bersender di dinding. Aku merasa sangat bodoh sekali untuk mempercayai pemuda itu. Bisa-bisanya aku masuk dalam jeratannya, padahal ia telah menyakitiku dulu, ditambah dengan sekarang.
"Baka! Baka!" bentakku seraya megacak-acak rambut, "Sakura, kau ini bod-"
TAP!
Sebuah tangan mencengkram sebelah tanganku, membuatku tersentak kaget dan lekas berhenti untuk mengacak-acak surai merah mudaku. Dengan cepat kulayangkan pandanganku pada pemilik tangan tersebut.
"Kau ini memang bodoh, jadi tidak usah kau katakan lagi," ucap pemuda bermata obsidian itu dengan ekspresi datar seperti biasa.
"Mau apa kau kesini?" tanyaku ketus seraya menatap tajam padanya.
"Hn."
"Pergi kau dari sini!" ucapku dengan nada tinggi, "Tinggalkan aku sendiri!"
"Hn," ia hanya menggulirkan bola matanya ke arah lain, seoalah meremehkan perkataanku.
"Aku bilang pergi!"
"Hn."
"Pergi! Atau aku—"
DEP!
Dengan cepat ia menariku dalam pelukannya. Sontak membuatku terkejut dan lantas memberontak di dalam pelukannya.
"Lepaskan aku, baka!" aku mendorong tubuhnya kuat-kuat, namun ia tetap bersi kukuh untuk memelukku, "Apa yang kau lakukan ini, ha? Lepaskan!"
"Jadi kau lebih memilih dipeluk Sasori yang sudah dua kali menyakitimu dari pada aku, hn?" ia semakin mengeratkan pelukannya.
"Diam kau!" aku berteriak sekuat tenaga untuk menolak pernyataannya barusan.
"Tenanglah, kita akan selesaikan ini."
Aku memilih diam, setelah mendengar perkataanya barusan, entah mengapa aku jadi sedikit lebih tenang dari biasanya. Dan sepertinya aku telah tenggelam dalam dekapan hangat dari Uchiha bungsu ini.
TBC
Hoyaaaa ... gomen ne, author salah memprediksikan *nyengir*
Ternyata tamatnya chap 12 v(^^)v
Yosh! Tinggal satu chap lagi.
Masih bersediakah untuk memberi repiyuw? Ditunggu!
Balasan Review:
-Sapa aja boleh : ehm ... Sakura emang tahu Karin, tapi cuma sekadar namanya saja. dia belum tahu kalau wajah Karin itu bagaimana. Jadi Sakura merasa terkejut saat melihat wajah Karin pertamakalinya saat di Taman. Ya, cuma itu jawabannya, makasih udah nyempetin RnR ^^v
-KagamineHime : yosh! ini udah apdet xD makasih udah nyempetin RnR.
