"Lepaskan aku, baka!" aku mendorong tubuhnya kuat-kuat, namun ia tetap bersi kukuh untuk memelukku, "Apa yang kau lakukan ini, ha? Lepaskan!"

"Jadi kau lebih memilih dipeluk Sasori yang sudah dua kali menyakitimu dari pada aku, hn?" ia semakin mengeratkan pelukannya.

"Diam kau!" aku berteriak sekuat tenaga untuk menolak pernyataannya barusan.

"Tenanglah, kita akan selesaikan ini."

Aku memilih diam, setelah mendengar perkataanya barusan, entah mengapa aku jadi sedikit lebih tenang dari biasanya. Dan sepertinya aku telah tenggelam dalam dekapan hangat dari Uchiha bungsu ini.

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Warning : Typo(s), abal, gaje, EYD berantakan, rush, dll

Pair : SasuSaku slight SasoSaku

.

.

If you dont like, dont read!

Happy Reading (^,^)

Aku menggerutu di dalam hati sembari bersender. Rupanya dia mengambil kesempatan dalam kesempitan untuk kedua kali, dengan memelukku karena aku sedang kesal karena Sasori! Ternyata dia pintar dalam hal ini, tak pernah menyia-nyiakan kesempatan sekecil apapun. Pertama saat dia menciumku di restoran, alasannya karena noda ice cream yang ada pada bibirku, aku tak akan melupakan perlakuan si Pantat Ayam itu! Kedua, dia membujukku untuk pulang bersamanya dengan mobil. Oh bodohnya aku yang menerima ajakannya. Kau bisa lihat wajah penuh kemenangan yang terus ia pampang sepanjang jalan. Ini menyebalkan! Belum sempat amarahku karena Sasori mereda, kini semakin bertambah karena Uchiha ini.

Aku terus mengerucutkan bibirku dengan mataku yang menatap ke arah jalan. Sejak tadi, aku tidak berbicara apapun, meski ia terus memanggil namaku. Hey, sejak kapan dia menjadi secerewet ini?

"Hey ...," ia menepuk pelan pundakku dengan iris onyx hitamnya yang tak luput menatap lurus ke depan.

"Apa!" jawabku ketus seraya menepis tangan itu.

"Hn. Tetap sama," kulihat ia kembali fokus untuk menyetir.

"Apa maksudmu?"

"Keras kepala."

Mendengar perkataanya barusan telah sukses membuatku memberi deathglare padanya, "Apa yang barusan kau katakan, ha?"

"Aku ingin menjelaskan tentang Hinata."

DEG!

Seketika itu juga mataku terbuka lebar. Lekas aku kembali memalingkan pandanganku darinya. Seolah tersengat listrik, aku tidak dapat berkata apapun lagi. Mendengar nama itu saja, sudah mampu mengembalikan rasa sakit itu, apa jadinya kalau dia menjelaskan bahwa mereka itu benar-benar sepasang kekasih dan akan tunangan? Mungkin aku akan lompat dari mobilnya.

Eh? Tu—tunggu dulu ... a-aku tidak akan melakukan hal seperti itu hanya karena Sasuke kan? Tentu saja tidak. Aku tidak keberatan jika memang dia pacarnya Hinata dan akan segera tunangan. Itu benar kan? Semoga.

"Dia itu bukan kekasihku."

"Tak ada urusannya denganku."

"Dia sepupuku. Kaa-san menyuruhku untuk menjaganya selama disekolah, makanya dia selalu menggandengku kemana pun," jelasnya lagi.

Aku sempat tersentak kaget sekaligus merasa senang saat dia mengatakannya, namun aku segera menutupi rasa keterkejutanku. Dari pada aku dibilang telah lebih dulu cemburu karena Hinata sebelum mendengar penjelasan dari Sasuke. Eh? Cemburu?

"Itu tidak mempengaruhiku," ucapku masih sama ketusnya seperti sebelumnya.

"Hn," sebelah bibirnya tersungging seolah meremehkan, "Seorang gadis itu memang tidak pintar menyembunyikan perasaan ya?"

Hatiku bergetar karenanya. Tidak pintar menyembunyikan perasaan? Perasaan? Oh astaga! Apa dia mampu membaca perasaanku sekarang? Tidak, tidak. Aku harap dia hanya menggertak saja agar aku dapat memperlihatkan perasaanku sebenarnya. A—apa?

"Kau ini terlalu banyak bicara, Uchiha. Seharusnya kau fokus menyetir saja. Aku tidak mau kehilangan nyawa karena sebuah kecelakaan. Jika itu sampai terjadi, aku akan menteror seluruh keturunanmu," aku melipat kedua tanganku di depan dada.

"Hn," ia tersenyum licik, "Baka."

"Ba-baka?"

Wajahku mengeras. Aku mendelik ke arahnya dengan tajam. Dengan seketika aku membalikkan tubuhku hingga menghadap ke arahnya. Sepertinya dia hobi sekali berkelahi denganku. Baiklah, ini kemauannya.

"Siapa yang kau sebut baka, Pantat Ayam?"

"Pan—Pan—apa?" ia pun kini mendelik ke arahku dengan raut wajah yang terlihat penuh amarah.

"PANTAT AYAM!" ucapku sekali lagi dengan lantang dan keras.

"JIDAT LEBAR! KECILKAN VOLUME BICARAMU!"

"MEMANGNYA INI SALAH SIAPA, HA? KAU YANG PERTAMA MENGAJAKKU BERKELAHI, PANTAT AYAM!" aku semakin berteriak keras di dekatnya, berhasil membuat sebelah tangan miliknya menutup rapat sebelah telinganya yang berdekatan denganku.

"HEY, JAGA BICARAMU, JIDAT BAKA!"

"BAKA NO OMAE DA! KAU YANG HARUS MENJAGA BICARAMU, PANTAT AYAM!"

CIIITTT! Bunyi rem terdengar sangat nyaring seiring berhentinya laju mobil hitam milik sang Uchiha. Dengan segera ia membalikkan tubuhnya hingga menghadap ke arahku, mata obsidian-nya memancarkan rasa kesal yang teramat sangat. Aku yang melihatnya hanya menggembungkan kedua pipiku seraya bertolak pinggang.

"Apa kau lihat-lihat?" tanyaku dengan kasar.

"Yang aku lihat adalah JI-DAT LE-BAR!"

Seketika itu juga kedua mataku terbuka lebar. Emosiku serasa sudah memuncak. Terlebih saat dia mengatakan 'Jidat Lebar' dengan penekanan di dalamnya.

"PAN-TAT A-YAM!" aku menggeram kesal dengan tak henti-hentinya menatap tajam ke arahnya.

"Ternyata aku baru sadar, pesawat pun bisa aku daratkan di JIDAT LEBAR-mu itu," ia terkekeh geli dengan senyuman liciknya.

"Balon pun bisa meletus karena berdekatan dengan rambut PANTAT AYAM-mu itu."

"Apa kau bilang!" ia mulai mendekatkan wajahnya ke arahku.

"Kau tuli ya? Tidak ada REPLAY!"

"Sepertinya kau lupa ya dengan perkataanmu tadi sehingga kau tidak mau mengatakannya lagi. Dasar PELUPA!"

"Sepertinya kau tidak cukup pintar untuk membalas perkataanku sehingga kau mengatakan bahwa aku lupa. Dasar PANTAT AYAM!"

"Apa kau bilang!"

"Aku bilang ...," secara tidak sadar aku mendekatkan wajahku ke arahnya hingga kedua kening kami bertemu, "TIDAK ADA REP—eh?"

Aku cengo sesaat ketika menatap wajahnya yang semula terlihat kesal, kini tersenyum lebar. Aku pun lantas tersentak kaget saat menyadari bahwa posisiku denganya sangatlah dekat, terutama wajah kami. Seketika itu juga mataku melebar dan aku lekas menarik kepalaku agar terjauh darinya.

"Kau mudah terpancing," ucapnya terkekeh geli seraya mulai kembali menyalakan mobilnya.

Wajahku terasa panas, aku merasa seperti kepiting rebus setelah mendengar perkataannya barusan. Kenapa juga aku tidak menyadari hal itu? Dia itu benar-benar memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan! Menyebalkan!

Hening.

Setelah itu tak ada lagi pembicaraan. Dia masih asyik tersenyum jahil dengan sesekali melirik ke arahku. Sedangkan aku hanya menekuk wajahku dan mengeluarkan ekspresi sebal. Bagaimana tidak? Dia sudah melakukan hal yang menyebalkan padaku sebanyak 3 kali!

Menggerutu di dalam hati sejak 5 menit terakhir sama sekali belum menghilangkan rasa sebalku padanya. Walaupun kini dengan perlahan mobil hitam miliknya mulai berhenti tepat di depan rumahku. Dengan cepat aku menyambar pintu mobil dan lantas membukanya.

"Terimakasih sudah mengantarku," ucapku masih saja ketus.

"Hn."

Aku mulai mengeluarkan sebelah kakiku dan diakhiri dengan seluruh tubuhku yang telah berada di samping mobil. Sekilas aku menatap wajahnya dari jendela mobil yang terbuka, dia masih saja tersenyum jahil padaku, membuatku semakin bertambah kesal.

"Apa kau lihat-lihat?" kembali aku bertolak pinggang dengan melayangkan tatapan tajam ke arahnya.

"Hn."

Dia memalingkan pandangannya. Mulai menyalakan kembali mesin mobil hitam itu. Sepintas, entah mengapa aku teringat tentang puding strawberry yang di letakan di atas mejaku. Terlebih tentang perkataan Shikamaru setelah melihat tulisan singkat yang terdapat di secarik kertas yang ditempatkan besama puding tersebut.

.

"Itu adalah tulisannya Sasuke."

.

"Sasuke, tunggu!" mendadak aku merasa aneh karena memanggilnya seperti itu.

"Hn?" ia mengangkat sebelah alisnya seraya menatapku heran.

"Te—terimakasih untuk puding strawberry yang selau kau letakan di atas mejaku," aku tertunduk malu, seolah aku tak mampu menatap kilauan iris onyx hitamnya.

"Ya. Aku pergi dulu."

Mobil yang berada di hadapanku perlahan melaju, menjauhi tempatku berada. Aku yang masih tertunduk lekas mendongak tatkala merasa mobil tersebut telah berada sangat jauh dariku. Satu senyumanku pun mengembang saat itu juga.

Jika aku tidak salah dengar, tadi Sasuke mengatakan 'Ya' itu berarti orang yang memberi puding strawberry padaku selama ini adalah dia. Ternyata dia. Aku tak pernah menyangka bahwa dia akan sebaik itu.

Setelah menghela nafas karena kepergian mobil tersebut, aku mulai membalikkan tubuhku dan lantas masuk ke dalam rumah.

=0=0=0=

Kurebahkan diri di tempat tidur. Setelah makan malam selesai, rasanya aku merasa lelah sekali. Atas apa yang terjadi seharian ini, telah sukses membuat tubuhku terasa remuk. Bukan itu saja, perasaanku juga seperti sudah dipermainkan. Terutama oleh Sasori. Aku sudah seperti orang tidak waras yang dengan begitu saja hampir mempercayai si Brengsek itu. Padahal jelas-jelas dia sudah meninggalkanku 6 bulan lalu.

"I wish that I was strong ... yeah ... I wish that I was strong ... you got it, dont lose it ... the wall are caving in, I'll try to keep strong .. 'cause the world is moving on."

Salah satu lagu favorite-ku telah mengalun indah dari handphone yang aku letakan di atas meja. Aku mendengus pelan tatkala menyadari bahwa ada satu panggilan masuk di sana. Dengan malas aku beranjak duduk, lalu kemudian meraih handphone-ku.

"Sasuke is calling ..."

Begitulah yang tertera di layar handphone. Baru saja aku berpikir tak ingin mengangkatnya, namun sesuatu seolah mendorongku agar segera mengangkat telepon itu.

"Moshimoshi ... konbanwa," ucapku dengan nada malas tingkat tinggi seraya mengucek sebelah mata.

"Hn, konbanwa," jawab seseorang di ujung sana, "Besok 'kan hari libur, aku akan menjemputmu jam 08.00 pagi, kau harus bersiap-siap. Dandan yang cantik, aku akan membawamu ke suatu tempat."

FLIP! "ttuuuuttt ... ttuuttt ... tuuttt ..."

Mataku terbuka lebar, lalu dengan kasar aku lantas membanting handphone-ku ke atas tempat tidur. Aku menggeram kesal seraya mengepalkan kedua tanganku. Bagaimana tidak? Dia berbicara secara padat, singkat, dan jelas lalu menutup teleponnya tanpa memberi salam dan tanpa persetujuan dariku. Bahkan aku sama sekali belum menjawab ajakannya tadi.

"SIALAN KAU! PANTAT AYAM!" geramku kesal, "Lagipula memang siapa yang mau pergi denganmu? Baka!"

Aku membenamkan seluruh wajahku di bantal. Sepintas menggerutu tak jelas lalu kemudian tanpa sadar seluruh mataku telah terpejam. Mengingat aku memang merasa lelah sejak tadi.

=0=0=0=

Di pagi ini, setelah aku selesai sarapan aku menikmati suasana pagi di teras rumah bersama Kaa-san. Dengan santai aku mulai duduk di sebuah kursi, sedangkan Kaa-san sepertinya tengah asyik menyiram tanaman. Sepintas aku teringat perkataan Sasuke semalam. Dia tidak akan benar-benar menjemputku 'kan? Mungkin dia hanya bercanda saja. Semoga.

"Ne, Sakura-chan?"

"Hn?" aku melirik ke arah Kaa-san yang berdiri di depan sana, "Ada apa?"

"Inikan hari minggu, kenapa kau tidak pergi jalan-jalan?" tanya Kaa-san seraya tersenyum jahil, membuat raut wajahku memanas.

"A-apa maksud Kaa-san? Aku sedang tidak ingin jalan-jalan," jawabku sekenanya, "Lagi pula teman-temanku sedang sibuk."

"Oh, begitu ..."

"Ya, semuanya melupakanku. Terlalu sibuk mengurusi urusannya masing-masing," aku mendengus pelan dengan tatapan malas.

"Benarkah?" Kaa-san mengangkat sebelah alisnya, membuatku mengernyit tak mengerti, "Lalu, bagaimana dengan Sasuke?"

DEG!
"A-apa?" aku tersentak kaget seraya mulai beranjak berdiri, "Sa—Sasuke?"

"Hn," Kaa-san mengangguk pelan, "Mikoto-san sudah memberitahu ibu semalam."

"Me-memberitahu a-apa?" tanyaku gugup sembari menggigit bibir bawahku.

"Semalam itu katanya Sasuke sibuk sekali memilih pakaian yang cocok untuk hari ini. Sampai-sampai Itachi kewalahan saat membantunya memilih pakaian yang pas. Terus katanya lagi, Sasuke seperti ingin terlihat sempurna di depanmu. Bukankah hari ini kau akan jalan-jalan dengan Sasuke, hn?" jelasnya panjang lebar.

Seketika itu juga rasanya degup jantungku seolah berhenti. Aku seperti lupa bagaimana caranya bernafas. Terlebih saat Kaa-san mengatakan bahwa si Pantat Ayam itu ingin terlihat 'SEMPURNA' di depanku. Aku sama sekali tidak mempercayai satu kata pun yang dilontarkan Kaa-san. Mana mungkin dia seperti itu? Tidak mungkin!

"Ti—tidak, Kaa-san pasti bercanda. Mana mungkin dia—"

"Ibu sangat senang kalau kau bisa menjalin hubungan dengan Sasuke, Sakura."

"Ta-ta—" suaraku seolah tercekat sesuatu. Aku tidak bisa membalas perkataan Kaa-san barusan.

"Sasuke itu anak yang baik. Memang kelihatannya begitu cuek dan seolah tidak peduli, namun ibu yakin Sasuke itu dapat bersikap baik padamu, Sakura."

TING TONG

Tiba-tiba saja bel pintu berunyi nyaring. Kaa-san lantas melirik ke arah pagar, lalu mulai berjalan mendekatinya. Suara bel tadi, sempat membuatku terkejut, namun dengan segera perasaan waswas menyelimuti sekujur tubuhku. Secepat kilat aku berusaha mencari handphone-ku di dalam saku celana, lalu kemudian mengeluarkannya dan lantas menatap tajam ke arah layar.

"Oh tidak! Jam 08.00 tepat!" gumamku dengan mata terbuka lebar, "Jangan-jangan yang membunyikan bel itu—"

"Ahhh ... ohayougozaimasu, Sasuke," ucap Kaa-san di depan sana, mampu membuat tubuhku terpaku, tak bisa bergerak.

Kedua tanganku bergetar hebat, hampir saja menjatuhkan handphone yang sedari tadi aku pegang. Emerald-ku menatap lurus ke depan, tepatnya ke arah pagar rumah. Ternyata benar, dia datang.

"Hey, Sakura. Lihat siapa yang datang?" ucap Kaa-san seraya berjalan ke arahku. Dan tiba-tiba saja Sasuke muncul dari balik punggung Kaa-san dengan senyuman liciknya.

Aku hanya menatap tajam padanya dengan mulutku yang menganga. Aku tidak percaya bahwa dia benar-benar datang. Aku kira dia hanya bercanda, namun ternyata tidak.

"Ohayou, Sakura," ucap Sasuke dengan lembut dan hanya mendapatkan deathglare dariku.

"Hey, Sakura!" Kaa-san menepuk bahuku, membuat aku terkejut dan lantas menatap Kaa-san yang entah sejak kapan telah berada di sampingku.

"Eh? A—apa?" jawabku gelagapan.

"Ayo sana, kau sudah tahu kan dia mau apa datang kesini?" ucap Kaa-san seraya senyum-senyum tak jelas ke arah Sasuke.

"He? Tapi aku ... aku ..."

"Sudahlah, kau sudah terlihat cantik. Anak ibu cocok sekali dengan Sasuke," Kaa-san terkekeh geli seraya menatapku dan Sasuke secara bergantian.

"Kaa-san!" aku setengah berteriak dengan wajahku yang sudah terlihat seperti kepiting rebus.

Sekilas aku lihat si Pantat Ayam itu ikut terkekeh geli karena melihat wajahku seperti ini. Tak lelah aku memberinya deathglare, mengisyaratkan agar dia tetap terdiam.

"Ayo cepat sana," Kaa-san sedikit mendorong tubuhku agar aku mau berjalan.

"Tapi Kaa-san ... aku ... aku kan—"

"Sudahlah, cepat sana," Kaa-san mendorong tubuhku hingga aku berdiri di samping Sasuke.

Kaa-san hanya tersenyum lebar seolah puas saat melihatku berdampingan dengan Sasuke. Sedangkan aku hanya mengerucutkan bibirku dengan kedua tangan yang aku lipat di depan dada.

"Hn," Sasuke hanya mendelik seraya tersenyum sinis ke arahku.

"Apa!" jawabku ketus.

"Hey hey ... jangan seperti itu, Sakura," Kaa-san menolakkan tangannya di pinggang seraya menatapku tajam.

"Tch ...," aku mendengus kesal.

"Ya sudah, sepertinya kami akan pergi sekarang, bibi," ucap Sasuke seraya menarik tanganku, memaksaku untuk berjalan di sampingnya.

"Hati-hati ya ...," Kaa-san melambaikan tangan seraya menahan tawa lalu menutup pintu pagar rumah setelah aku dan Sasuke keluar dari kediaman keluarga Haruno.

Sasuke terus menarik lenganku, memaksaku agar secepatnya masuk ke dalam mobil. Namun sebelum itu terjadi, aku hempaskan tangannya kuat-kuat hingga genggamannya terlepas. Saat itu juga, tatapan tajam dilayangkan entah itu dariku maupun dari Sasuke.

"Kau senang, ha?" ucapku dengan nada tinggi.

"Kalau iya memang kenapa?" ia menolakkan tangannya dipinggang.

"Kau!" geramku kesal dengan tangan yang terkepal, siap untuk menonjok wajahnya.

"Hey, ayo cepat masuk ke mobil."

"Tidak mau!"

"Cepat, Jidat!"

"Aku bilang tidak mau, Pantat Ayam!"

"Ayo cepat, atau aku panggil ibumu lagi supaya dia yang memaksamu?" dia memicingkan matanya ke arahku seolah meremehkan.

"Apa?" aku membelalakkan kedua mataku, "Beraninya kau! Jangan melibatkan ibuku!"

"Biarkan saja. Asalkan kau bisa terus berada di sampingku"

DEG!

Perasaan itu muncul kembali. Aku pun terdiam setelah mendengarnya, sepintas menatap onyx hitamnya yang berkilat. Lalu, tanpa sadar aku pun segera masuk ke dalam mobil hitam miliknya.

"Hn," sepertinya dia mengerti dengan apa yang aku rasakan, dia pun ikut terdiam, lalu segera memasuki mobil dari pintu yang lain. Kemudian ia mulai menghidupkan mobilnya dan langsung membawaku pergi.

=0=0=0=

Langit yang tiba-tiba saja terlihat mendung semakin menghancurkan mood-ku untuk tetap bersama dengan pemuda ini. Aku hanya menatap heran pada tempat dimana aku berada. Sasuke yang kini berada di sampingku hanya tersenyum simpul seraya merentangkan kedua tangannya, membiarkan hembusan angin masuk dari celah-celah setelan kaos dan jaket yang di kenakannya.

"Untuk apa kau membawaku ke Danau Konoha?" tanyaku memecah keheningan.

"Disini, tempat ini ...," ia membuat jeda pada perkataannya, "Pertama kalinya aku memelukmu."

"Apa?" aku tersentak kaget dengan mulutku yang menganga, "Hanya itu? Hanya karena itu? Karena hal itu kau membawaku kesini?"

"Hn."

"Oh astaga! Bagaimana sih cara berpikirmu itu?"

Sasuke tak menjawab pertanyaanku, ia malah mulai berjalan mendekatiku. Membuatku sedikit merasa waswas dan perlahan berjalan mundur. Ia tetap mendekat, hingga akhirnya ia meraih kedua tanganku dan menggenggamnya erat.

"Dengarkan aku—"

"Sakura ...," tiba-tiba saja aku mendengar suara lain memanggilku dari belakang.

Sontak aku terkejut, dan dengan cepat aku membalikkan tubuhku ke belakang dimana seseorang telah berdiri dengan tegap seraya menatapku sendu. Seketika itu juga tanganku terasa lemas, kedua tanganku terhempas ke bawah seiring mataku menatap sosok itu dengan jelas.

"Sa—Sa—Sasori?"

Sasuke kembali menggenggam tanganku dengan erat, dari tatapannya aku sudah mengetahui bahwa Uchiha bungsu itu tidak suka dengan kehadiran Sasori disini, ya ... tidak suka, bahkan benci, seperti apa yang aku rasakan saat ini. Tiba-tiba saja Sasuke mulai berjalan hingga berhenti tepat di hadapanku. Dia seolah ingin melindungiku dari Sasori. Apa itu benar, Sasuke?

"Tetaplah di belakangku," bisiknya pelan, aku hanya mengangguk tanda mengerti.

Kini kedua pemuda itu saling bertatapan dengan tajam. Sedangkan aku hanya terdiam di belakang Sasuke seraya mengeratkan genggaman tangannya di sebelah tanganku. Tak aku sangka, Sasori ada disini. Untuk apa dia disini? Sedang apa dia? Kenapa juga aku harus bertemu dengannya lagi?

"Sedang apa kau disini?" tanya Sasuke dengan ekspresi datarnya.

"Hanya sekadar lewat," jawab Sasori dengan singkat, "Kau sendiri?"

"Tidak ada urusannya denganmu."

Jujur saja, saat aku melihat Sasori, itu seperti membuka kembali luka lama. Perlahan rasa sakit itu mulai menjalar ke seluruh tubuh. Iris emerald-ku mulai basah mengingat kejadian lalu. Saat Sasori mengkhianatiku 2 kali.

Sepintas aku melihat sepasang mata dengan warna cokelat terang itu terus menatapku sendu. Aku hanya berusaha menahan cairan bening ini agar tidak menyeruak ke luar dari mataku.

"Sakura ...," suara itu kembali memanggilku, sekilas aku lihat pemuda Akasuna itu mulai berjalan mendekatiku.

"Jangan mendekat!" ucap Sasuke dengan tajam dan tegas, "Atau kubunuh kau."

"Sakura, maafkan aku," Sasori tetap mendekat, seolah tak menggubris peringatan Sasuke, "Kau salah paham, Sakura. Aku bisa menjelaskannya."

Tubuhku semakin bergetar hebat saat pemuda itu kian dekat ke arahku. Cairan bening yang sedari tadi aku tahan, perlahan mulai menyerak ke luar, mengalir membasahi pipiku lalu menetes ke tanah.

"Aku tak mau melihatmu lagi. Pergi dariku," ucapku dengan gemetar, "PERGI!"

Seketika itu juga Sasuke membalikkan tubuhnya hingga menghadap ke arahku. Aku mendapati kedua onyx hitamnya itu menatapku lekat-lekat. Sekilas wajah stoic-nya menunjukkan kemarahan, dengan cepat ia membalikkan tubuhnya kembali.

"Aku bilang jangan mendekat!" ucap Sasuke setengah berteriak saat mendapati Sasori terus saja berjalan ke arahku.

"Apa masalahmu?"

"Jangan coba-coba mendekatinya."

"Coba sa—"

BUUGHTTT! Secepat kilat Sasuke melayangkan sebuah pukulan keras di perut Sasori, membuat pemuda berambut merah itu hampir terjengkang ke belakang dengan cairan berwarna merah pekat mengalir dari ujung bibirnya.

"Sudah kubilang jangan dekati—" Sasuke mencoba mengatur nafasnya yang tersenggal, "—Jangan dekati kekasihku!" bentaknya dengan keras.

"Tch ...," Sasori berjalan mundur sembari mengusap darah segar dari bibirnya, "Kekasihmu, hn? Dia itu mencintaiku!"

BUGHT!

TAP!

Sasori membalas pukulan Sasuke dengan keras, namun sayang pukulannya dapat ditangkis oleh pemuda Uchiha itu. Sepintas aku yang melihatnya hanya bernafas lega, tatkala melihat Sasuke dapat mengatasinya degan baik.

"Bicara apa kau ini?" Sasuke mencengkram erat tangan Sasori yang terkepal, "Kau buat dia sakit, kau buat dia menangis, kau membohonginya, kau tak pantas jadi kekasihnya! Kau kira seberapa khawatirnya aku saat aku tahu bahwa kau meninggalkannya 6 bulan lalu, hn? Kau kira seberapa khawatirnya aku saat aku tahu bahwa kau sudah mempermainkan perasaannya, ha? BAKA!"

BUUGHHTT! Kini Sasori benar-benar mendarat di atas tanah saat pukulan keras melayang ke arah wajahnya.

"Aku tidak akan—"

BUGHT!

"—membiarkan kau untuk—"

BUUGHT!

"—menyakitinya—"

BUUGHT!

"—LAGI!"

DEG!

"Sasuke hentikan!" teriakku tanpa sadar sembari terisak menahan tangis.

Sasuke yang hampir memukul Sasori untuk ke sekian kalinya, mengurungkan niatnya setelah mendengar teriakanku. Dia hanya berdecih kesal seraya mulai berjalan meninggalkan pemuda itu.

Aku hanya menggigit bibir bawahku, mencoba menahan kembali cairan bening yang sampai saat ini masih terus mengalir. Sejenak aku menghela nafas panjang untuk menenangkan hatiku, saat Sasuke telah sampai di hadapanku. Aku tidak mau membuatnya khawatir hanya karena aku menangis seperti bayi.

Aku memang telah banyak mengeluarkan air mata, namun asal kau tahu saja, aku menangis bukan karena Sasori. Aku menangis karena Sasuke. Aku merasa ... terharu. Entahlah. Orang yang selama ini aku benci dan aku tidak pernah mau berada dekat dengannya, kini aku menangis untuknya. Aku tak pernah mengira bahwa Sasuke akan berkata seperti itu.

"Ka—kau tidak harus me-melakukannya," ucapku sembari menghapus air mataku.

"Hn."

"A-akan kubalas kau nanti," ucap Sasori tiba-tiba, ia terlihat sangat babak belur dengan luka yang terlihat cukup parah dan darah segar yang menetes dari sudut bibirnya, kini dengan tubuh gemetar ia mencoba untuk berdiri.

Sasuke yang tadi sempat menatapku kini menoleh ke belakang tatkala menyadari bahwa Sasori berkata sesuatu. Aku lihat ia menyunggingkan sebelah bibirnya seolah meremehkan.

"Aku tunggu," jawabnya enteng.

"Lihat saja nanti," Sasori mulai berjalan sempoyongan meninggalkanku dan Sasuke.

Aku merasa lega setelah Sasori pergi dari pandanganku. Aku berharap tak akan pernah bertemu dengannya lagi. Seketika itu juga, snyuman bahagia terukur jelas dalam raut wajahku, tanpa sadar aku lantas berhambur memeluk Sasuke yang masih saja menolehkan lehernya ke belakang.

Tubuh Uchiha itu sedikit bergetar saat menyadari kedua tanganku mendekapnya dengan erat. Mata yang sedari tadi menunjukkan kebencian, kini perlahan tergantikan oleh tatapan sendu.

"Terimakasih, Sasuke," ucapku dalam pelukannya.

"Hn."

"Baiklah," aku mulai melepas dekapanku padanya, "Kembali ke masalah tadi, untuk apa kau mengajakku kesini?"

"Aku mencintaimu."

DEG!

"A-apa?"

Entah apa yang dipikirkan pemuda itu, dia telah berhasil membuat tubuhku kembali terpaku dengan tatapan heran. Tadi itu ... aku salah dengar kan? Mulutnya yang salah bicara atau jangan-jangan dia hanya ingin mempermainkanku seperti Sasori?

"Aku bilang aku mencintaimu, Haruno Sakura," ucapnya dengan jelas seraya mulai menggenggam kedua tanganku.

"A—apa maksudmu?"

"Aku mencintaimu. Apa itu kurang jelas untukmu?"

"Ti—tidak mungkin," aku menggeleng pelan, "Kau bercanda."

"Tidak, Sakura. Aku mencintaimu."

"Kau pasti hanya ingin mempermainkan perasaanku kan? Sama seperti Sasori," aku menghempaskan kedua tangannya dengan kasar.

"Caraku mencintaimu berbeda dengan Sasori."

TES TES TES!

Rintikkan air mulai berjatuhan dari langit yang terlihat mendung. Sasuke hanya menatapku lekat seolah mengisyaratkan agar aku mempercayainya. Sedangkan aku, entah mengapa perasaan itu kembali datang. Perasaan aneh yang selama ini aku rasakan selama berdekatan dengannya.

Kurengkuh dadaku yang mulai terasa sesak, aku membalikkan tubuhku seraya menggigit bibir bawahku. Ini tak mungkin terjadi. Ini tidak boleh. Aku terus merutuk di dalam hati seraya memejamkan kedua mataku.

Air hujan mulai terlihat deras, aku beruntung, aku tak perlu menutupi tangisanku lagi. Ia takkan mengetahuinya, karena air mataku telah bercampur dengan hujan.

"Sakura," Sasuke menepuk pundakku perlahan, namun dengan cepat aku menepisnya.

"Jangan sentuh aku!"

Kaki kecilku mulai berlari meninggalkannya di belakang. Aku tidak mungkin ... tidak mungkin! Ini tidak boleh. Aku tak ingin menyakiti Naruto dan Gaara. Aku sudah mengatakan hal itu pada Naruto, aku harap ini hanya perasaan biasa saja.

Aku terus berlari menembus rintikkan hujan hingga langkahku terhenti saat Sasuke berteriak dari kejauhan.

"Apa itu artinya kau membenciku, Sakura?"

Aku membuka kedua mataku, rasa sesak ini semakin menjadi. Aku mempererat rengkuhanku, berharap rasa ini cepat menghilang.

"Kau benci padaku karena perlakuanku selama ini, iya?"

Isakan tangisku mulai tak tertahankan, aku bersumpah ingin sekali berteriak. Namun aku tidak bisa. Apapun yang terjadi, perasaan ini tak boleh menjadi perasaan yang membuatku melekat dengannya.

"Apa salah jika aku mencintaimu, Sakura?"

DEG!

*Flashback

"Aku rindu bertengkar denganmu." (Sasuke)

.

"Kau dimana? Aku jemput sekarang." (Sasuke)

.

"Benarkah? Aku tidak tau hal itu. Jika seperti itu adanya, mulai sekarang kau harus memanggilku Sasuke-kun." (Sasuke)

.

"Kau kira untuk apa dari dulu aku memacari gadis bodoh itu, hah?Ingin mengetahui respon darimu, perasaanmu, hatimu, kebencianmu, kecemburuanmu, semua yang kau rasakan saat aku bersama gadis bodoh itu!" (Sasuke)

.

"Sasuke, kau menyukai Sakura?" (Sasori)

.

"Ternyata benar, kau menyukainya, Uchiha." (Gaara)

.

"Jangan pernah membawa kekasihku pergi!" (Sasuke)

.

"Jadi kau lebih memilih dipeluk Sasori yang sudah dua kali menyakitimu dari pada aku, hn?" (Sasuke)

.

"Ibu sangat senang kalau kau bisa menjalin hubungan dengan Sasuke, Sakura." (Miss. Haruno)

*Flashback off

DEP!

Seketika itu juga lamunanku terbuyarkan karena sepasang tangan kekar telah mendekapku dari belakang. Aku sempat terkejut dibuatnya, tangisanku semakin menjadi tatkala menyadari bahwa Sasuke yang memelukku.

"Jadilah kekasihku."

Emosiku semakin tidak terkontrol, aku menutup seluruh wajahku dengan kedua telapak tangan. Aku sama sekali tidak bisa berhenti untuk menangis. Isakanku semakin mengeras saat Sasuke mengeratkan dekapannya, dan yang aku rasakan hanyalah ... hangat.

"Sakura, tolong jawab aku."

Kedua tangannya terlepas, ia mulai membalikkan seluruh tubuhku hingga menghadap ke arahnya. Dengan lembut ia membelai helaian rambutku yang basah terkena hujan.

"Bisakah kau jawab aku, Sakura?"

'Tidak! Aku tidak akan ... aku tidak akan ...,' aku terus merutuk di dalam hati seiring degup jantungku yang tidak beraturan.

"Aku mencintaimu, aku ingin selalu bersamamu, aku akan melindungimu."

Seluruh tubuhku bergetar hebat. Perasaan aneh ini semakin membuncah. Aku sudah tidak dapat menahannya lagi. Secepat kilat aku mendekap tubuh Sasuke dengan erat.

"Saku—"

"Iya, iya! Aku juga mencintaimu ... hiks—"

Aku menggigit bibir bawahku. Aku merasa sedikit lega setelah mengatakannya. Ternyata sebanyak apapun aku berusaha, sebanyak apapun aku mengingkarinya, aku tidak dapat berbohong pada diriku sendiri. Jujur saja, aku benci mengakui ini, mengakui bahwa aku ...

"AKU MENCINTAIMU UCHIHA SASUKE!"

Dentuman petir terdengar sangat nyaring seiring rintikkan hujan yang semakin deras. Bersamaan dengan itu, Sasuke membalas pelukanku dengan erat. Aku yang masih saja menangis, merasakan hal lain yang menyelip di dalam hatiku, perasaan itu ... bahagia. Apa sekarang ini aku tengah menangis bahagia? Jawabannya, iya.

Sedari tadi, aku menangis bukan karena rasa sakit yang menusuk, namun karena rasa cinta yang belum terungkapkan. Rasa itu semakin kuat tatkala Sasuke mengatakan bahwa ia mencintaiku, perasaan itu semakin kuat sehingga mampu membuatku menangis seperti ini.

"Terimakasih, Sakura."

Biarkan alam menyaksikan bahwa sebenci apapun perasaanku terhadap Uchiha yang satu ini, aku takkan pernah dapat memungkiri bahwa aku sangat sangat mencintainya. Tak akan pernah.

=0=0=0=

"Huuaattchhii ..."

"Sakura, kau sakit?" ia menempelkan sebelah tangannya di keningku, "Kenapa kau tidak bilang?"

"Ini kan salahmu yang kemarin membiarkanku terus berada di tengah hujan," ucapku ketus seraya mengerucutkan bibirku.

"Tapi aku memelukmu, jadi kau tidak langsung terkena air hujan," jawabnya dengan datar, "Lagi pula, kenapa kau memaksa ingin masuk sekolah?"

"Aku—"

"Yo, Teme!" seseorang berteriak keras dari arah pintu.

Aku dan Sasuke yang tengah duduk di dalam kelas, lekas menoleh ke arah pintu dimana sang pemuda pirang tengah berlari kecil menghampiri kami.

"Eh? Jadi itu benar, ya?" tanya Naruto setelah sampai di hadapanku.

"Apa?" aku menutup seluruh hidung dan mulutku menggunakan sapu tangan.

"Kalian berdua pacaran?"

DEG!

Wajahku menegang. Sepintas aku melirik ke arah Sasuke, rona merah telah bersarang di kedua pipinya. Mungkin jika aku melepaskan sapu tangan ini, wajahku juga akan terlihat merona, sama seperti Sasuke.

"Dobe, i—itu ..."

"A-ano ... Naru ... ummm ..."

"Wah, selamat ya!"

"Eh?"

Kedua mataku menangkap sebuah senyuman tulus yang terukir dalam raut wajah pemuda Namikaze itu. Aku kira dia akan merasa marah karena aku telah mengingkari perkataanku sendiri. Nyatanya dia malah nyengir seperti biasanya.

"Maaf, Naru. Aku tidak bemaksud menya—"

"Tidak apa, Sakura-chan. Aku mengerti," jawabnya masih dengan tersenyum lebar seraya melipat kedua tangan di depan dada, "Tapi, aku tidak akan menyerah untuk mengejar cintamu, Sakura-chan."

Mendengar perkataannya barusan, mampu membuatku tersenyum. Aku melihat kobaran api semangat di dalam mata secerah langit yang ia miliki. Aku suka itu. Perasaan semangat yang selalu ada dalam diri Naruto, aku menyukainya. Tidak salah jika aku selalu ingin menjadi sahabat dekatnya.

"Tolong katakan maaf pada Gaara, jika nanti kau bertemu dengannya ya, Naru?"

"Baiklah!" ia memamerkan sebelah jempolnya padaku tak lupa disertai cengirannya seperti biasa.

"Terima—eh?" aku mengernyitkan keningku, "Luka bekas pukulan di wajahmu sudah sembuh?"

"He?" Naruto menatapku heran sembari mengelus wajahnya sendiri, "I-iya."

Aku menatap penuh teliti ke arahnya. Ya, luka bekas pukulan itu sudah tidak ada. Mungkin dia sudah mengobatinya. Beruntung sekali Naruto hanya sekali dipukul oleh—eh?

Lantas aku mendelik ke arah Sasuke yang tengah asyik bersandar di sampingku. Seraya mendengus kesal, aku menurunkan sapu tangan yang sedari tadi menutupi hidung dan mulutku.

"Sasuke-kun," ucapku dengan tatapan tajam.

"Hn," ia melirik ke arahku dengan ekspresi datar, "Apa?"

"Aku baru ingat, kenapa kau memukul Naruto dan mengancam Gaara saat aku pergi dari rumah sakit?"

"Oh soal itu. Maafkan aku, Dobe," onyx hitamnya menatap dingin ke arah Naruto yang berada di hadapanku.

"Hey, minta maaf itu bukan begitu caranya!" ucapku setengah berteriak dengan tangan yang dilipat di depan dada.

"Yang penting aku sudah minta maaf."

"Sasuke—"

"Sudahlah Sakura-chan," Naruto menepuk pelan sebelah pundakku, "Aku sudah memaafkannya."

Aku hanya mendengus kesal. Jika saja Naruto tidak berkata seperti itu, mungkin tanganku ini sudah membuat bekas berwarna merah di pipi sang Uchiha. Masih merasa kesal karena tingkah buruk yang dilakukan kekasihku sendiri, lantas aku menanyakan satu hal lagi yang mengganjal pikiranku.

"Lalu, untuk apa kau melakukan itu semua?"

"Jika seorang wanita yang dicintai menghilang atau bahkan terluka, insting seorang lelaki itu akan bekerja. Apa yang aku lakukan pada mereka berdua, itu karena instingku terhadapmu itu bekerja sangat kuat," jelasnya seraya menatapku lekat.

Aku hanya ber'oh' ria semabari bertopang dagu. Emosi yang tadi sempat aku rasakan, kini entah kemana telah menghilang setelah Sasuke mengatakan hal itu.

"Jadi, lelaki juga punya insting ya? Aku kira hanya perempuan."

"Hn," ia tersenyum licik, "Baka."

"Eh? Ba-baka?"

Wajahku mengeras seketika. Aku mendelik ke arahnya dengan tajam. Dengan seketika aku membalikkan tubuhku hingga menghadap ke arahnya. Sepertinya dia hobi sekali berkelahi denganku walau sekarang aku dan dia sudah menjadi kekasih. Baiklah, ini kemauannya.

"Siapa yang kau sebut baka, Pantat Ayam?"

"Pan—Pan—apa?" ia pun kini mendelik ke arahku dengan raut wajah yang terlihat penuh amarah.

"PANTAT AYAM!" ucapku sekali lagi dengan lantang dan keras.

"JIDAT LEBAR! KECILKAN VOLUME BICARAMU!"

"MEMANGNYA INI SALAH SIAPA, HA? KAU YANG PERTAMA MENGAJAKKU BERKELAHI, PANTAT AYAM!" aku semakin berteriak keras di dekatnya, berhasil membuat sebelah tangan miliknya menutup rapat sebelah telinganya yang berdekatan denganku.

"HEY, JAGA BICARAMU, JIDAT BAKA!" ia mulai beranjak berdiri seraya menolakkan tangannya di pinggang. Aku yang melihatnya pun tak mau kalah, aku juga lekas berdiri dan bertolak pinggang.

"BAKA NO OMAE DA! KAU YANG HARUS MENJAGA BICARAMU, PANTAT AYAM!"

Dengan segera, Sasuke menutup kembali telinganya karena teriakkanku yang memekakkan telinga. Kemudian dia mulai berjalan mendekati Naruto dan lalu meraih sebelah tangannya.

"Ayo pergi dari sini, Dobe."

"Eh? Tu—tunggu dulu, Teme."

"Ayo, cepat."

Aku yang melihatnya hanya membelalakkan kedua mataku. Jadi, sekarang dia ingin kabur begitu? Hah! Tidak semudah itu.

"HEY! MAU KEMANA KAU?"

Secepat kilat Sasuke menarik tangan Naruto, sehingga tubuh sang pemuda pirang mengikuti kemana Sasuke melangkah.

"Sampai jumpa nanti, JIDAT LEBAR!" teriak Sasuke setelah melewati pintu kelas.

"SASUKE!"

OWARI

Horeeee~ akhirnya selesai juga fic ini xD

Gomen ya, kalo akhir ceritanya ga memuaskan.

Minta review!

Special thanks for everyone :

Karikazuka, nattually, Huicergo Montediesberg, Kitty Sevalinka Kuromi, Lucifionne, miyank, Hiruma Hikari, Guest, Sslove, cherry kuchiki, myelf, Michelle , Dian Elf UchiHaruno, Kira-chan Narahashi, Retno UchiHaruno, otaku-chan, KagamineHime, sapa aja boleh, mitchiru1312jo, kanginbrother, icha kuchiki, , Reza Reynaldi Putra, HachimitsuOukan, Uchiha Itu Sasuke, , yukarindha yoshikuni, Deauliaas, Yukina Itou Sephiienna Kitami.

ARIGATOU GOZAIMASHITA!

Makasih banget udah nyempeti baca dan review fic abal ini dari awal ampe akhir, ya meski ada yang dari pertengahan ampe akhir, atau bahkan hanya baca akirnya saja.

Saya mengucapkan terimakasih banyak!

Omong-omong, ada yang mau minta sequel?