Terima kasih yang sudah review. (Lagi-lagi) saya terharu. Makasih Canonine.9x'y-san atas sumbangan idenya. Akan saya coba. Sabar aja yee. 17goingon12-san sama Ryuu Arasa-san juga. Benar! Ciel-nya OOC! Bagaimana iniiiii? niii niii niii (gema, Author jatoh ke jurang) err.. saya tulis di warning deh. Shim Eunha-san juga. Apakah anda masih waras sampai-sampai jatuh cinta sama fic Author? Jangan, Shim Eunha-san! Jangan! Sebelum anda diseret paksa ke RSJ karena kecanduan fic-fic abal buatan Author! *digeplak Shim Eunha-san*
Disclaimer : Kuroshitsuji punya Jeng Yana Toboso. SBY Presiden Indonesia yang saya plesetin jadi Si Bapak Yankee di fic ini. Indonesia punya saya! Wong negara saya! (bangga)
Warning : Ciel-nya OOC (out of character), Authornya OON (out of normal). Waspadalah, waspadalah! Don't like don't read.
Selamatkan Indonesia!
Ciel dan Sebastian akhirnya sampe di Indonesia. Tepatnya di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Tepatnya lagi Terminal 2. Tepatnya lagi Itu tuh.. yang di samping tiang listrik deket rumah Pak Haji Mamat, yang ada pohon jambunya. *dipanah gara-gara kebanyakan bacot*
Mereka berdua naik bis Damri tujuan Gambir. Rencana pertama, tentu aja ketemu sama Si Bapak Yankee dulu di Istana Negara. Tunggu.. berdua? *Author ngitung jumlah penumpang* Bukan! Berenam! Para pelayan-pelayan unik hasil didikan keluarga Phantomhive rupanya ikut juga!
"Heeh.. jadi ini yang namanya Indonesia? Panas, ya?" Bard ngipas-ngipas di dalem bis sambil mangku flamethrower kesayangannya.
"Mataharinya terang sekali. Silau.." Maylene nempelin muka di kaca jendela sambil ngeliat keluar.
"Waaahh! Apa itu? Apa itu? Ada kendaraan warna oranye yang rodanya tigaaa!" teriak Finny sambil loncat-loncat pas ngeliat ada Bajaj lewat.
"Ho. Ho. Ho. Ho.."
"Oi, Sebastian!" Ciel yang duduk di deket jendela di belakang tempat duduk mereka berempat, narik-narik baju Sebastian yang duduk di sebelah dia.
"Ya?"
"Kenapa makhluk-makhluk aneh ini ikut juga, sih?"
"Apa boleh buat, Tuan Muda. Jika kita tinggalkan mereka di Inggris justru akan lebih repot lagi. Anda ingat saat terakhir kali kita meninggalkan mereka berempat di Manor House? Saat kita pulang, Manor House sudah lenyap dari peradaban bumi."
"Hh.. iya, sih," ujar Ciel BT.
"Lagipula sepertinya kita akan berada di Indonesia cukup lama. Kalau kita meninggalkan mereka dan tidak segera pulang, bisa jadi malah Inggris itu sendiri yang akan lenyap dari peradaban bumi."
Halah. Si Sebastian ngelawak.
"Terserah saja." Ciel nengok ke luar jendela. Ngeliat-liat indahnya pemandangan jalan raya kota Jakarta (yang penuh polusi).
ooo
Setelah mendaki gunung lewati lembah~ Sungai mengalir indah~ Ke samudera~ Bersama teman.. bertualang!~ *BUAAAGGH* Bis Damri pun sampe di Gambir.
"Ayo Pak Bu udah sampe Gambir. Turun turun turun!" kata kenek bis.
"Wah, sudah sampai, Tuan Muda," Sebastian pun ngambil koper di bagasi.
"Oh, sudah?" Ciel bangun, turun dari bis.
"Waaaayy~ Sampai! Sudah sampai!~" keempat makhluk aneh dengan girang juga turun dari bis.
"Habis ini kita ke mana?" Ciel celingak-celnguk.
"Hmm.. menurut peta ini, Istana Negara tidak terlalu jauh dari Gambir," Sebastian narik-narik koper sambil ngeliat peta.
"Tuan Muda! Ituuu~ Apa ituuu?~" Finny loncat-loncat (lagi) sambil nunjuk-nunjuk ke kejauhan.
"Apa?"
"Ituu!~ Ada es krim! Es krim!~"
"Itu bukan es krim." Sebastian nyeletuk, "Itu adalah emas yang dipasang di puncak teratas Monumen Nasional."
"Appaaa? Emaaaaass?" Bard langsung tertarik.
"Ya.."
"Ayo kita ke sanaaaaa!" degan semangat 45 Bard langsung ngacir lari ke arah Monas.
"Waaaaayy!~ Ayooooo! Es krim!~" Finny ikut-ikutan lari.
"Tu.. tunggu saya. Saya juga ikut!" Maylene juga ngejer.
"Ho. Ho. Ho. Ho.."
"Oi, tunggu dulu!" Ciel nyoba mencegah, tapi itu makhluk 4 biji udah keburu jauh duluan.
"Hmm.. jarak antara Gambir, Monumen Nasional, dan Istana Negara sepertinya memang berdekatan. Ayo, Tuan Muda." Sebastian siap-siap mau jalan.
"Loh? Mereka bagaimana?"
"Biarkan saja. Akan lebih baik bertemu presiden tanpa mereka berempat. Nanti kalau urusan kita sudah selesai, baru kita jemput mereka di Monas."
"Begitu. Ya sudah."
ooo
Singkat cerita (sok disingkat-singkat, bilang aja males ngetik), Ciel dan Sebastian pun sampe di Istana Negara.
TETTERERERETERERETETT TETTERERETRETRET TREEEEEEEEEEEEETT (disambut alunan terompet nada lagu Indonesia Raya versi Author Bego)
"Selamat datang, Ciel Phantomhive!" Si Bapak Yankee keluar nyambut Ciel dan Sebastian yang lagi jalan di halaman Istana Negara.
"Ya, terima kasih. Bapak.. SBY?" Ciel agak bingung ngeliat penampilan Si Bapak Yankee ini. Rambutnya disisir rapi. Bajuya rapi. Penampilannya juga biasa-biasa aja. Sebelah mananya yang Yankee?
"Ada apa?" tanya SBY.
"Ti.. tidak apa-apa."
"Hahahaha! Kau pasti heran kenapa aku dipanggil Si Bapak Yankee, padahal penampilanku biasa-biasa saja, kan?" SBY nepok-nepok pundak Ciel.
"Tidak.. tidak terlalu."
"Sebenarnya itu sudah lama sekali. Sewaktu aku masih muda memang aku adalah seorang Yankee. Berdua dengan Victoria, kami sering membuat keonaran dimana-mana! Hahahahahaha!"
"Oh.." Ciel sama Sebastian dropsweat. 'Ratu.. ternyata dulu ketika masih muda anda seperti itu?'
"Daripada lama-lama ngobrol panas-panas di sini, ayo kita ke dalam! Hahahaha!"
ooo
Ciel sama Sebastian masuk ke dalem. Mereka ngeliat-liat suasana Istana Negara. Ada banyak foto. Foto sewaktu masih jaman sebelum kemerdekaan Indonesia, foto waktu Presiden Soekarno berdua sama Presiden Soeharto lagi hadirin acara 'Lomba Bayi Kurang Sehat Indonesia' (dijuarai oleh Author), foto Presiden Habibie lagi manjat pohon, foto Presiden Gus Dur lagi tidur ngorok, foto Presiden Megawati lagi joget-joget sambil nyuci baju, sampai foto Presiden SBY lagi nari hula-hula. Semuanya ada!
"Ayo silakan duduk!"
"Ya.." Ciel pun duduk. Sebastian dengan setia berdiri di samping Ciel.
"Hmm.. baiknya aku mulai bicara dari mana, ya. Kau sudah dikirimi surat oleh Victoria, kan?"
"Iya. Dia bercerita lumayan banyak tentang Indonesia."
"Bagaimana pendapatmu?"
"Saya rasa Indonesia negara yang bagus. Kekayaan alamnya melimpah ruah, kan?"
"Hahahaha baguslah kau tahu. Itu memang benar. Tapi itu dulu."
"..mengapa?"
"Masa-masa kejayaan itu sudah berlalu, Ciel. Sama seperti foto-foto yang kau lihat tadi. Itu semua hanya masa lalu."
"Ada masalah apa sebenarnya?"
"Bagaimana bilangnya, ya..? Tapi menurutku sendiri sebagai pemimpin negara ini, Indonesia sudah bukan lagi negara kaya seperti yang kalian orang Barat ketahui. Kami punya banyak masalah di sini. Dan buruknya, aku tidak punya kemampuan untuk memperbaiki semua itu sendiri."
Ciel ngebetulin poisis duduknya. Suasana mulai serius.
"Korupsi merupakan hal paling parah di Indonesia. Belum lagi masalah bencana alam yang terjadi di mana-mana. Pencurian atau perampokan bahkan hingga pembunuhan. Kupikir aku akan gila menghadapi semua ini!"
SBY nunduk, dia lemes.
"Ketika aku mengrim surat pada Victoria untuk menumpahkan semua rasa putus asa ini, dia bilang kalau dia akan mengirimkan bantuan. Kaulah bantuan itu, Ciel! Kau bisa bisa membantuku?"
"Sesuai perintah Ratu, tentu saja bisa. Sebastian!" Ciel mulai semangat.
"Ya?"
"Kumpulkan semua informasi mengenai masalah-masalah yang melanda Indonesia secepat mungkin!"
"Yes, My Lord." Sebastian bungkukin badannya, segera setelah itu dia langsung ngilang kayak angin topan.
SBY Cuma cengo ngeliat Sebastian. Kayanya dia kagum.
"Dia butlermu?"
"Ya." Ciel masang muka serius.
"Kau menyuruhnya mencari informasi tentang masalah-masalah di Indonesia?"
"Ya, begitulah."
"Kenapa tidak minta padaku? Aku punya fotokopiannya jika kau mau."
GUBRAAAK!
"Sebastiaaaaaaaaaaaann! Kembaliiiiiiiii!"
Howaaah sampe sini dulu ya. Chapter selanjutnya baru mulai Ciel dkk keliling-keliling Indonesia (mungkin). Maaf humornya sedikit. Soalnya gak enak ah masa di depan presiden ngelawak melulu. Entar saya dipecat jadi WNI. Kalo ada kritik saran masukan cacian makian muntahan, silakan klik tombol di bawah ini. Makasih udah baca!~
