Yaahuuu! Saya pulang!~

Disclaimer : Kuroshitsuji punya Yana Toboso. Gesang punya Allah. Indonesia negara saya.

Warning : Cerita AU. Tokoh OOC. Author OON. Latar waktu ngaco. Don't like don't read. Silakan putar lagu Bengawan Solo di Youtube supaya lebih khusyuk.


Selamatkan Indonesia!

Selamatkan Indonesia ya, Ciel

Itulah pesan Ratu yang ditulis di bagian terakhir suratnya buat Ciel. Pesan yang singkat, tapi super ngerepotin. Paling gak buat Ciel itu sendiri. Dia, Sang Earl Phantomhive mau gak mau—sebenernya emang gak mau—harus nurutin pesan itu. Nyelametin Indonesia, dia bilang? Emangnya ini negara siape? Ogah banget.

"Setelah ini ingin menyelidiki apalagi, Tuan Muda?" tanya Sebastian sambil ngebetulin pita merah di kerah baju Ciel yang rada-rada miring.

"Hmm.. sebaiknya apa, ya?" jawab Ciel gak niat.

"Kasus UAN sudah. Kasus markus juga paling tidak berhasil ditangani. Selanjutnya pun terserah anda ingin menangani apalagi," Sebastian narik diri sambil senyum, selesai ngebetulin pitanya Ciel.

"Aku sendiri juga bingung. Apa tidak ada berita menarik di koran?" Ciel jalan nyamperin bangku di—lagi-lagi—Taman Monas. Bedanya, sekarang lebih elit. Udah ada bangku. Gak ngaso lagi deh.

"Hmm.. biar saya lihat," Sebastian ngambil seabreg koran dari balik punggungnya. Tau deh tadi diumpetin di mana, kan ini fanfic. Lalu dibacanya satu-satu.

Maestro keroncong Gesang tutup usia pada pukul 18.10, Kamis (20/5). Pencipta lagu Bengawan Solo dan Jembatan Merah ini meninggal dalam usia 92 tahun setelah dirawat selama sembilan hari di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Solo, Jawa Tengah. (1)

Jenazah seniman legendaris, Gesang Martohartono, akan dimakamkan secara militer di pemakaman keluarga. Meskipun Gesang seorang warga sipil, namun penghargaan bintang budaya Parama Dharma yang diberikan negara kepadanya, telah menyejajarkan dirinya dengan seorang pahlawan. (2)

Wafatnya Gesang Marto Hartono sang maestro keroncong 20 Mei lalu menjadi momentum untuk merefleksi diri bagi kalangan seniman dan budayawan. Betapa tidak, di era global sekarang ini, ternyata banyak generasi muda yang sudah melupakan sejarah bangsanya. Terutama kebanggaan terhadap hasil karya seni dan budaya perjuangan yang mulai ditinggalkan. (3)

"Tumben kali ini isi beritanya normal..," pikir Sebastian. "Nampaknya ada seorang maestro dari negeri ini yang baru saja meninggal, Tuan Muda," kata Sebastian sambil nengok ke Ciel.

"Oh ya? Siapa?"

"Bapak Gesang. Di sini ditulis bahwa beliau adalah pencipta lagu Bengawan Solo dan Jembatan Merah. Dan nampaknya, kedua lagu tersebut sangat dicintai oleh bangsa Indonesia."

"Bengawan Solo? Rasa-rasanya aku pernah dengar.." Ciel mikir sambil garuk-garuk kepala.

"Ya. Seingat saya Ratu memang suka menyenandungkan lagu itu ketika anda sedang menghadap beliau.." Sebastian nutup koran-koran itu, dirapiin lagi dan dimasukin ke dalem jas. Jangan tanya kenapa bisa muat.

"Oh iya aku ingat! Ng.. seperti apa ya lagunya?" Ciel nyoba nginget-nginget. "Bengawan.. solo.. ri.. ri..," dia mulai nyenandung-nyenandung kecil.

"Riwayatmu ini..," Sebastian nyoba nambahin, "Sedari dulu.. dulu.. dulu.. wah saya lupa."

"Ya, aku juga. Tapi seingatku itu lagu yang bagus," Ciel senyum. Kayanya dia lumayan suka lagu ini. "Aku jadi penasaran.. bagaimana lagunya, ya?"

"Kita tanya saja pada masyarakat Indonesia langsung, Tuan. Mereka pasti lebih tahu," Sebastian juga senyum.

"Betul juga. Ng..," Ciel celingak-celinguk nyari orang. "Ah! Mas, Mas! Sini deh, Mas!" teriak Ciel sambil bangun dari bangku manggilin mas-mas yang kebetulan lagi ngaso deket tempat Ciel sama Sebastian lagi santai-santai sekarang. Gak tau juga kenapa si Ciel bisa tau kosakata 'mas-mas'. Biarin aja, deh.

"Apaan, dek?" tanya tuh mas-mas.

"Tahu Gesang gak, Mas?" tanya Ciel semangat dengan muka berbinar-binar kayak bocah abis dikasih tau, "Dek, Dek! Saya punya permen satu truk buat Adek, loh! Mau gak?"

"Gesang? Oh iya saya tau.. buah-buahan yang warnanya kuning itu, kan?" jawab tuh mas-mas PD.

"Ha?" Ciel cengo episode 1.

"Itu pisang," kata Sebastian ngeralat.

"Ah Mas payah!" Ciel meletin lidahnya. Mas-masnya cuma bisa senyum kecut malu. Asem!

"Dia tidak tahu, Sebastian. Sebaiknya tanya siapa lagi ya..," Ciel masih nyari-nyari orang yang bisa ditanya, "Ah! Mbak! Sini deh, Mbak! Tahu Gesang gak?" tanya Ciel lagi sama mbak-mbak yang kebetulan lewat.

"Gesang? Tau. Ini yang di tangan saya gesang.." jawab tuh mbak-mbak polos sambil ngasih unjuk tangannya.

"Haa?" Ciel cengo episode 2.

"Itu gelang, Mbak," Sebastian ngeralat lagi. Ralat edisi 2.

"Mbak payah juga gak tahu Gesang..," Ciel nyari orang lagi. "Ah.. Bu! Sini deh, Bu! Tahu Gesang gak?" kali ini Ciel nanya sama ibu-ibu berbaju daster. Bisa-bisanya tuh ibu-ibu masuk Monas cuma modal daster doang.

"Gesang? Ya tau, lah. Kemaren masakan saya pada gesang gara-gara kelamaan ditinggal nonton acara gosip.." jawab ibu-ibu itu ngoyo.

"Haaa?" Ciel cengo episode 3.

"Itu gosong," Sebastian ngeralat edisi 3 juga.

"Hah..," Ciel mulai putus asa. Masa pada gak tau Gesang, seh?

Ciel celingak-celinguk lagi. Ada anak kecil lewat sambil lari-lari maen layangan. "Dek, tahu Gesang gak?" tanya Ciel to the point.

"Gesang? Iya, kak aku tau. Aku punya, kok. Yang diputer-puter itu, kan?" jawab tuh anak kecil innocent dengan ingus meler dari idungnya.

"Haaaa?" Ciel cengo lagi episode 4. Kalo ngemeng Ha Ha mulu kayak gini lama-lama dia bisa gabung sama Jumonji Kuroki Togano si Trio Haha.

"Itu gasing, Dek," dengan sabar Sebastian ngeralat lagi. Udah edisi empat, pembaca sekalian. Empat!

Eh buset masyarakat Indonesia udah pada kelamaan ngeremin telor di kamar mandi kali, ya? Masa Gesang aja gak tau, seh?

Ciel masih gak nyerah. Dia nanya sama remaja cowok yang lewat sambil joget-joget ngedengerin I-Pod. "Permisi, anda tahu Gesang gak?" tanya Ciel.

"Gesang? Hahaha ya taulah men, masa gesang aja gak tau seeh?" jawab remaja cowok itu pake nada hip hop. Yo, yo, yo..

Ciel agak lega. Baguslah dia tau. Dengan gak sabar Ciel nanya lagi, "Tahu lagunya?"

"Hahaha ya elah ya taulah bro! Gak gahol banget lo bro!" si remaja cowok itu masih joget-joget, terbuai sama I-Podnya.

"Kayak gimana lagunya?" dengan harapan gede Ciel nanya lagi. Akhirnya! Ada yang tau!

"Yang itu loh men, yang super gahol itu.. Panaaas! Panaaas! Panaaas! Panas.. badan ini! Gesang! Gesang! Gesang! Gesang.. pala ini!" si remaja cowok nyanyi-nyanyi heboh. Lengkap sama gaya rocker dan metal. Gak lupa dengan tanah airnya, dia juga goyang-goyangin jempol ala dangdut.

"Haaaaa?" Selamat, Ciel. Anda lulus menjadi anggota keempat Trio Haha.

"Itu lagu dengan judul Nakal dari band Gigi. Dan liriknya bukan gesang, tapi pusing," Sebastian ngeralat edisi 5. Ckck.. kok si Sebastian bisa tau lagu Gigi, ya?

Ya sudahlah. Ciel speechless. Dia udah nanya sama lima orang berbeda, dan dapet lima jawaban ajaib yang berbeda pula. Jelas semua buat dia. Gak ada yang tau Gesang. Sumpah, negeri ini menyedihkan banget. Udah korupsi di mana-mana, kemiskinan merajalela, kok ya bisa-bisanya kurang ajar dan lupa sama maestro tanah air sendiri?

"Kelihatannya artikel di koran itu benar. Para generasi muda Indonesia kini sudah lupa akan kebanggan hasil karya negeri mereka sendiri," Sebastian tersenyum hambar. Mungkin dia turut prihatin atas hal ini?

"Ya.. sungguh sayang sekali. Padahal Indonesia merupakan negara yang melimpah ruah sumber daya alam dan manusianya. Keragaman aneka makanannya—ehem, semur jengkol dan pete rebus contohnya—juga mengagumkan..," kata Ciel sambil duduk lagi di bangku taman.

ooo

Ketika Ciel sama Sebastian lagi ngobrolin keprihatinan mereka ini, lewatlah seorang nenek-nenek renta yang jalannya pelaaan banget. Saking rentanya, rasanya ada kucing bersin juga dia bakal langsung mental ke Arab. Pelan-pelan tapi pasti, dia masuk ke areal Monas itu.

Sebastian—tau ada angin apa—nyamperin nenek-nenek itu, dan ngebantuin dia jalan. "Biar saya bantu, Nek," kata dia lembut.

"Wah. Terima kasih, Cu," si nenek tersenyum. Walau gak tau bisa dibilang senyum manis ato gak, secara mukanya juga udah keriputan gitu.

Ciel yang ngeliat Sebastian nuntun nenek itu pun ikutan jalan di belakang nenek itu. Dengan pelan. Pelaaan sekali tapi pasti nenek itu makin deket ke Monas.

"Ingin pergi ke Monas, Nek?" tanya si Sebastian sambil tetep nuntun nenek itu.

"Iya, Cu. Udah lama nenek gak ke Monas. Sekarang udah berubah begini, ya.." jawab si nenek dengan nada.. nada nenek-nenek, lah.

"Memangnya dulu Monas seperti apa, Nek?" Ciel tiba-tiba nyeletuk dari belakang.

"Dulu gak begini. Waktu baru dibangun, gak ada taman atau tukang layangan atau orang-orang rame begini. Dulu cuma ada jalan setapak kecil, terus rumput-rumput masih terbentang luas di sini..," si nenek mulai bernostagila. Dia ngeliat pemandangan di sekitar Monas sambil tetep senyum, senyum nenek-nenek.

"Waktu Monas baru dibangun dulu, nenek senang sekali. Soalnya dulu masih jarang gedung-gedung tinggi di Jakarta. Rasanya bangga bisa ngeliat ada bangunan menjulang megah di tengah-tengah kota Jakarta ini."

Ciel paham perasaan itu. Bukan.. bukan perasaan jadi nenek-nenek. Tapi perasaan bangga yang nenek itu bilang waktu ngeliat Monas pertama kali. Rasanya bangga, kan bisa ngeliat negeri sendiri maju.

"Sekarang jaman udah berubah begini.. sadar-sadar saya udah jadi nenek-nenek. Keh keh keh..," nenek itu ngekeh. Ketawanya polos gak dibuat-buat.

"Anda tahu Gesang?" tiba-tiba Sebastian nanya ke nenek itu.

"Gesang? Tentu saja saya tahu.." nenek itu ngedongak ngeliat Sebastian yang jalan di sampingnya, "Dia baru meninggal kemarin, kan?"

"Iya.. begitu menurut berita yang saya baca di koran," kata Sebastian.

"Dia adalah maestro besar, Nak. Dengan penuh rasa bangga akan sungai Bengawan Solo, dia ciptakan lagu ini.." si nenek keliatan mulai kecapekan jalan kaki. Dia megang tangan Sebastian kenceng-kenceng.

"Keh keh padahal dia gak bisa main musik, tapi karena rasa percaya diri dan rasa cinta dengan negara ini, dia tetep bikin lagu. Dia cuma nulis lirik, barulah temen-temennya disuruh mainin melodinya pake alat musik," nenek itu ketawa kecil lagi. Walau dari gerak-geriknya dia udah agak capek, toh dia tetep bersikeras mau ke Monas.

"Begitukah? Orang yang baik, ya," Sebastian cuma bisa senyum sambil ngebimbing nenek itu.

"Negeri ini baru saja kehilangan rakyat terbaiknya.." Monas udah di depan mata. Karena kecapekan, nenek itu duduk di tangga tempat masuk ke Monas-nya. Dengan pelan-pelan Sebastian ngedudukin nenek itu.

"Anda tahu lagunya, dong?" Ciel nanya sambil duduk di sebelah nenek itu. Sebastian tetep berdiri, di samping Ciel.

"Ya, tahu," si nenek senyum lembut ke Ciel. "Bengawan.. solo," dia mulai nyanyi.

"Riwayatmu.. ini, sedari dulu jadi.. perhatian insani.." Lirik-lirik itu dinyanyiin lancar sama si nenek. Ayo para pembaca juga ikut nyanyi sama-sama.

Bengawan Solo

Riwayatmu ini

Sedari dulu jadi..

Perhatian insani

Musim kemarau

Tak seberapa airmu

Di musim hujan air..

Mengalir sampai jauh

Mata airmu dari Solo

Terkurung gunung seribu

Air mengalir sampai jauh

Akhirnya ke Laut

Itu perahu

Riwayatnya dulu

Kaum pedagang selalu..

Naik itu perahu

Si nenek selesai nyanyi. Walau nafasnya agak ngos-ngosan karena udah gak kuat lagi ngambil nafas panjang-panjang, wajahnya bilang kalo dia puas. Dia tersenyum lega. Lega karena di sisa-sisa ingatannya yang hampir pudar dia masih bisa inget baik lirik Bengawan Solo.

Ciel sama Sebastian juga—entah karena kebawa suasana ato apa—ikut-ikutan senyum. Syukurlah mereka masih nemuin masyarakat Indonesia yang masih inget Gesang dan lagu Bengawan Solo-nya. Sebenernya tiga orang yang senyum-senyum di tangga Monas itu banyak diliatin orang-orang yang lalu lalang. Mereka pada bisik-bisik, "Ngapain nih orang bertigaan nyanyi-nyanyi plus senyum-senyum gak jelas?", "Lagi ngamen, ya? Aduh ada recehan gak, ya?", ato "Aduh yang pake jas item ganteng juga nih. Tapi kok rambutnya belah tengah, ya?" Kurang lebih bisikan-bisikan kayak gitulah. Tapi dikacangin aja sama mereka. Biarinlah. Karena cuma ini yang mereka bisa, paling gak sebagai manusia yang masih hidup dan masih tau diri.

"Kalau begitu kami permisi, Nek," Ciel bangun dari duduknya.

"Iya.. hati-hati, ya? Terima kasih udah ngebantuin nenek, kalian berdua.." kata nenek itu.

"Tidak. Justru kami yang seharusnya berterima kasih, Nek. Syukurlah anda tidak lupa dengan maestro kebanggaan Indonesia," ujar Ciel, "Semoga saja para generasi muda Indonesia bisa menjadi bangsa yang mampu menghargai para pahlawannya."

"Keh keh keh, yah.. semoga saja," nenek itu terkekeh sekali lagi.

ooo

Ciel sama Sebastian pun mulai jalan lagi ke arah Taman Monas.

Ketika mereka berdua udah agak jauh dari Monas, Sebastian nanya, "Jadi, kasus apa yang akan kita selidiki, Tuan Muda?"

"Hmm.. pertama-tama, kita melayat Gesang dulu. Sungguh tidak sopan bagi seorang utusan kepercayaan Ratu sepertiku jika tidak melayat seniman legendaris Indonesia, Sebastian," jawab Ciel.

Sebastian tersenyum.

"Ayo, Sebastian!"

"Yes, My Lord."

Selamat jalan, Pak Gesang. Semoga anda diterima di sisi-Nya. Terima kasih atas jasa anda pada Indonesia. Dan, sampai jumpa di surga.


(1) Sumber : metrotvnews. com

(2) Sumber : detiknews. com

(3) Sumber : suarasurabaya. net


Ya, selesai pembaca sekalian. Selesai! Terima kasih buat review-review kalian yang bilang pada sedih saya hiatus (siapa juga yang sedih? PD banget lo). Buat kalian yang gak review, tapi tetep setia baca fic saya juga makasih! Berkat dukungan kalian lah, saya jadi semangat lagi. Jika ada kritik saran masukan cacian dan makian yang membangun, silakan review! Ayolah jangan malu-malu. Review kalian adalah bahan bakar saya! Terima kasih udah baca~

PS : Saya mau ulangan semester! Mohon doa restu kalian supaya saya bisa naik kelas dengan selamat! Terima kasih!~