Kevv keparat. Berani-beraninya publish cerita sendiri di akun orang.

ITB! BISAAAAAAAAAA!

Disclaimer: Kuroshitsuji punya Yana Toboso. Indonesia negara saya, jadi punya saya!

Warning: Cerita AU. Tokoh OOC. Author OON. Latar waktu ngaco. Don't like don't read.


Selamatkan Indonesia!

Nguooong! Jess Jess! Jess Jess!

Naik kereta api~ Tuut tuut tuuut!~ Siiiapa hendak turuuun?~ Ke Banduuung.. Suraba—Okeh-okeh jangan lempar granat itu. Saya kan cuma bercanda.

Ciel sama Sebastian kembali lagi!

Kenapa tadi saya nyanyi lagu kereta? Karena Ciel sama Sebastian sekarang lagi naik kereta!

Kenapa mereka naik kereta? Karena Ciel sama Sebastian abis pulang dari Sukoharjo abis ngelawat Gesang!

Kenapa harga saham naik? Karena Ciel sama Seba—Hah? Gak ada hubungannya sama fic ini!

Ciel sama Sebastian lagi di dalem kereta api Argo Layu tujuan Jakarta. Mereka mau balik ke Jakarta setelah urusan ngelawat Gesang kelar. Tadinya, mumpung lagi di Jawa Tengah mereka mau ngelanjutin perjalanan ke Jawa Timur buat ngebenahin kasus Lumpur Lapindo. Ato minimal, poto-poto bentar di jembatan Suramadu buat di aplot ke Pesbuk. Ato minimal, belajar jadi tukang sate profesional di Madura. Ato minimal, maen-maen dulu ke Bali biar jadi bule macho.

Tapi eh eh tapi, sebuah telepon dari SBY dengan ringtone Kopi Dangdut, bikin semua rencana itu buyar.

Kala kupandang kerlip bintang nun jauh di sana~ Saat kudengar melodi cinta yang menggema~ Terasa kemba—Iya-iya mangap. Saya kan cuma mau ngasih tau lagunya, jangan dilempar dong keyboard-nya.

"Halo?" kata Ciel pas ngangkat telepon pake tangan kanan. Soalnya jempol kiri lagi asik berjoget.

"Heeei! Ciel!" Kedengeran suara bapak-bapak dari seberang sana. Iya, suaranya SBY.

"Ada apa?"

"Aku butuh bantuanmu! Ce.. cepaaat! Cepaaa—Cklik! Tuut Tut Tut!"

Pembicaraan telepon berenti sampe di situ. Ciel nengok ke Sebastian dengan muka tegang, "Terputus, Sebastian.."

"Apa ada sesuatu yang terjadi dengan Pak SBY?" Sebastian ngambil HP merek Noki, ya? Tipe B360 yang dilengkapi dengan fitur Kamera 3,5 megapiksel dan memori internetan hingga 5 gigabait dari tangan Ciel, dan disimpen lagi di balik saku jas dia. 'Lumayan buat dijual di Taman Puring nanti..,' pikir Sebastian.

..Apa? Ketikan megapiksel dan gigabait-nya salah? Wah maaf soalnya saya dodol, sih.

"Entahlah! Yang pasti, kita harus cepat-cepat kembali ke Jakarta!"

Maka dari itulah, sesaat setelah kereta api Argo Layu sampe di Gambir, mereka langsung ambil seribu langkah buat ke Istana Negara. Sayangnya kocokan dadunya kurang hoki. Terpaksa mereka mundur lagi lima langkah dan ketangkep di penjara. Belom lagi harus bayar denda karena berenti di lahan orang. Syukurlah mereka dapet kartu 'dana' dan berhak maju tujuh langkah.

..Apaan, sih? Emang lagi maen monopoli?

Sesampainya di Istana Negara, mereka langsung nyari-nyari SBY dengan dramatisnya.

"Pak SBY..!" Diiringi lagu D'Massiv, Rindu Setengah Mati, mereka nyari SBY kesana-kemari tralala trilili senangnya rasa hati.

Aku.. Rindu.. Setengah mati kepadamu. Sungguh kuingin ka—Mangap! Turunin dong, pancinya!

Ciel bagian nyari di dalem, dia bolak-balik keluar masuk kamar-kamar yang lumayan banyak di Istana Negara.

Sebastian bagian nyari di luar. Dia nyoba nyari di atas genteng, di kolong mobil, di dalem kolam ikan, di bawah tanah dan di tempat-tempat lain yang Sebastian pikir bakal didatengin SBY. Si Sebastian pikir SBY kecoak kali, ye?

Tapi gak ada!

Oh.. dimanakah kau berada, Pak? Wot hepen tu yu? Ay mis yu! Bohong, sih.

Dan ketika mereka berdua mulai kewalahan nyari SBY, terdengar teriakan dari arah belakang, "Aaah! Tolong! Cepaaat! Saya udah gak tahan, nih!"

Dengan sonido kecepatan tinggi yang gak kalah dari para Espada, Ciel sama Sebastian langsung dateng ke lokasi asal suara: WC.

SBY ada di sana, sambil megangin perutnya.

"Aaah, Ciel!" Dengan susah payah SBY nyapa Ciel.

"Apa yang terjadi?" Dengan pose aku-siap-membantumu-asal-kau-menjamuku-semur-jengkol-lagi, Ciel nanyain keadaan SBY yang keliatannya gak bagus.

"Syukurlah kau sudah sampai! Perutku sakit kebanyakan makan semur jengkol! Tolong belikan obat diare di warung rokok Pak Haji Mamat, ya! Kalo ada kembaliannya beliin rokok! Tapi kalo gak ada, beli permen Kopi, kok juga gak apa-apa.."

GUBRAAAK!

Kirain ada apaan. Tibang diare doang. Kampret.

"Sebastian, belikan."

"Yes, My Lord."

ooo

"Haah, lega. Terima kasih, Nak Ciel..," kata SBY sambil ngehirup kopinya. Sekarang mereka lagi duduk di ruang santai Istana Negara (ruang apaan, tuh?). Sebastian gak duduk, dia tetep berdiri di belakang Ciel mirip-mirip patung Bung Karno di Tugu Proklamasi.

Wah, Sebastian! Jangan lempar garpu itu!

"Bagaimana perjalananmu ke Sukoharjo? Kau sudah melayat Gesang?"

"Sudah. Saya sudah ziarah ke makamnya."

"Baguslah. Dia memang maestro berharga yang dimiliki Indonesia."

SBY ngirup kopi lagi. Ciel ngirup es teh manis. Sebastian berdiri kayak patung pa—Stop! Jangan asah dulu goloknya! Dan saya sebagai orang ketiga serba tahu (menurut buku Bahasa Indonesia untuk kelas XI), lagi nemplok di tembok bersaing dengan cicak.

"Ada kasus lain lagi yang harus ditangani, Pak?" Es teh manis punya Ciel abis. Sekarang dia ngambil toples kacang sisa lebaran taun lalu buat dicemil.

"Hmm.. Banyak, sih.." SBY nyenderin badannya ke kursi. "Tapi ada satu kasus yang aku ingin cepat-cepat kau selesaikan."

"Apa?" Kacang~ Kacang~ Kacang~ Telur~ Telur~ Telur~ Terdengar suara iklan kacang telur Garuda edisi orang India entah dari mana.

"Masalah video parno yang direkam Arel Squarepants dengan pacarnya, Luna Mayat."

"Squarepants? Namanya aneh." Krauk Krauk Krauk Ciel masih ngemil kacang.

"Squarepants nama band-nya. Arel adalah seorang vokalis di grup band Squarepants yang sebagian besar lagu-lagunya ber-genre dangdut."

"Oh.." Krauk Krauk Krauk "Terus?"

"Video parno yang katanya merekam adegan tidak senonoh tersebar kemana-mana."

Krauk Krauk Krauk "Terus?"

"Itu tidak boleh terjadi. Arel Squarepants harus cepat-cepat diadili."

Krauk Krauk Krauk "Terus?" Krauk Krauk Krauk

"Aku ingin ka—"

Krauk Krauk Krauk Krauk "Terus. Kiri lagi, kiri lagi. Ya, stop! Kanan dikit, pak!" Krauk Krauk Krauk

Apaan sih, Ciel? Lagi jadi tukang parkir, ye?

"Aku mengerti," ujar Ciel sambil naro toples kacang yang udah kosong sambil bangun dari kursi. "Kau mau Arel Squarepants mendapat hukuman yang sepantasnya?"

"Iya."

"Okeh. Ayo, Sebastian!" Ciel ngejentikkin jarinya dengan gaya 'Kemon, Bebeh!' ke Sebastian.

"Yes, My Lord." Sebastian jalan ngikutin Ciel dari belakang.

"Tunggu dulu, Nak Ciel!" SBY ngejegat Ciel.

"Ada apa lagi?"

"Pulangnya beliin Vegeti sekalian, ya. Perut saya masih belum terlalu sembuh, nih."

"..Okeh."

ooo

"Jadi, sekarang kita kemana?" tanya Ciel.

Cklik!

"Betul, rumah nenek!" kata Ciel. "Apa kalian melihat rumah nenek?"

Cklik!

"Itu dia, Tuan Muda!" teriak Sebastian.

"Bagus! Ayo—"

WOOOY! Pada mau maen Ciel The Explorer apa ngelanjutin fic, nih? Pernah ketelak biji duren kagak sih lu padaan?

Ehem. Okeh, kita lanjutin.

"Ayo kita ke warnet, Sebastian," ajak Ciel sambil narik-narik baju Sebastian kayak anak kecil baru pertama kali ngeliat ondel-ondel terus ngasih tau ke papanya, 'Papa, itu ada boneka mirip Papa! Ke sana yuk, ke sana!'

Sebastian heran. "Untuk apa ke warnet, Tuan Muda?"

"Buat apdet status Pesbuk sama main Omegle—Ya gak lah! Pertama-tama kita liat pake jidat jenong kita sendiri kayak apa video parno itu!"

"Oh." Sebastian ngebentuk mulutnya kayak ban pelek. "Benar juga."

"Mana warnet yang deket-deket sini, ya?" Ciel celingak-celinguk. Nyari apa, neng? Kalo nyari cinta nih hati saya ada buat eneng.

Jayus kampret gombal kacrut.

"Itu Tuan Muda." Sebastian nunjuk ke sebuah bangunan kecil yang di temboknya dipasang spanduk dengan tulisan 'Nyari Warnet? Ini warnet, loch!'.

"Itu warnet?"

"Tulisannya bilang begitu."

"Mencurigakan."

"Daripada tidak ada?"

Tik. Tik. Tik. Waktu berdetik. Biar ter—Ampun. Taro telor busuknya, dong.

Ciel sama Sebastian pun masuk ke bangunan terdakwa warnet itu. Mereka milih komputer di pojok dalem, dan mulai ngetik 'Video Parno Arel Squerpants' di Yutup.

Dan! Ya Dewa Jashin! Keluarlah rekaman video nista yang direkam Arel Squarepants dan kekasihnya, Luna Mayat!

Bentar.. saya periksa dulu. Apakah video parno ini masih pantas untuk masuk fic dengan rated T?

1 menit

Wohoo! Bentar! Saya belum selesai periksa! Pantes gak ya, video parno ini masuk fic rated T?

5 menit

Waow! Ckckck mantap.. Bentar ya, pembaca. Saya lagi meriksa apa video parno ini cukup pantas untuk masuk fic rated T?

5 jam

Gileee. Gua demen dah yang kayak gi—Eh? Kok kayanya ada aura membunuh, ya? Loh? Ada yang ngelempar galon Akua juga? Wadaow! Siapa yang barusan nerbangin bumerang?

Ciel sama Sebastian, jangan ngeliatin saya pake pandangan curiga gitu, dong. Saya kan Author yang bertanggung jawab. Memeriksa dulu isi video parno-nya sebelom diputuskan bisa ditampilin di fic ato gak.

Alesan aja Emang lu mesum, kan?

Siapa yang barusan ngomong, tuh?

Ah udah ah capek.

Ciel sama Sebastian udah selesai nonton video parno-nya. Walau terkadang ditengah-tengah tayangan Sebastian nutup mata Ciel supaya dia gak ketularan mesum kayak saya (ngaku), tapi karena emang tugas utama Ciel buat nyelesain kasus ini, mau gak mau dia harus nonton semua.

Gak baik, kan kalo nuduh orang sembarangan tanpa kita sendiri ngeliat buktinya?

Alesan aja. Emang si Ciel dasaran pengen nonton, kan?

Hush! Siapa tuh yang barusan ngomong kenyataan sebenernya?

"Parah ya, Sebastian," komentar Ciel datar setelah keluar dari warnet.

"Ya, bisa rusak moral bangsa Indonesia kalau begini," kata Sebastian setuju.

"Memang si Arel Squarepants itu harus dapat hukuman berat.." Ciel ngegeleng-gelengin kepalanya. "Ckckck.."

"Sekarang apa yang akan kita lakukan, Tuan Muda?"

"Menemui si Arel Squarepants."

ooo

Dan di sanalah, di atas bukit nan jauh di daerah terpencil, Arel Squarepants sedang mengasingkan diri bareng sama pacarnya, Luna Mayat, dengan numpang di rumah Teletubbies.

Kenapa mereka mengasingkan diri? Karena mereka lagi menghindar dari kasus video parno.

Kenapa mereka menghindar dari kasus video parno? Karena mereka gak mau ditangkep polisi.

Kenapa Jakarta macet? Karena mere—Woy! Dibilangin gak ada hubungannya sama fic ini!

Di tempat yang asing itu, Arel sedang berduet lagu dangdut sama Luna, bareng-bareng nyanyiin lagu 'Mandul' yang pernah dinyanyiin Bang Roma feat Elvi Sukaesih.

Sepuluh tahun sudah.. kita berumah tangga. Tapi belum juga mendapatkan putraaa..~

Jangan bersediiiiih.. Jangan berduka~ Mohon pada-Nya.. dalam berdoa..~

Ciel sama Sebastian cuma dropsweat. Kirain ini orang mengasingkan diri buat merenungi kesalahan atau menempa jiwa untuk memperbaiki diri. Taunya malah lagi duet dangdut, euy? Saya ikutan, atuh.

"Hei, Arel!" panggil Ciel sok kenal.

"Hei! Mau apa kamu?" tanya Arel sambil tetep duet dangdut.

"Kau joget dangdut gak ngajak-ngaja—Ups, salah dialog—Kau merekam video parno gak tanggung jawab!"

Sebastian gak usah dipikirin. Dia lagi asik ngangon kambing buat latihan buka peternakan di Inggris. Okeh, Sebastian. Jangan diarahin ke saya dong, moncong pistolnya.

"Memangnya kenapa aku harus tanggung jawab?"

"Karena kamu sudah melanggar hukum!"

"Kenapa saya melanggar hukum?"

"Karena kamu merekam video parno itu!"

"Kenapa Indomie Kari Ayam rasanya enak?"

"Karena bumbu utama—Hei! Gak ada hubungannya sama omongan kita, kan?"

Suasana jadi hening. Cuma ada suara angin bertiup, burung berkicau, dan kambing yang diangon Sebastian mengembek.

"Mbee.."

"Saya gak akan bertanggung jawab," kata Arel keras kepala. "Saya gak salah."

"Kamu salah," kata Ciel gak setuju. "Bisa-bisanya kamu merekam video parno!"

"Memangnya kenapa? Apa yang salah dengan itu? Sesuai lagu yang kami nyanyikan tadi, saya dan Luna kepengen punya anak! Apa salahnya merekam anak angkat kami, Parno, sedang mandi di Kali Ciliwung?" teriak Arel toa di dareah bukit terpencil itu. Gema teriakannya pun kedengeran, 'Ciliwung.. liwung.. wung.. wung.."

"Tentu saja gak boleh! Itu berarti anda sudah melanggar UU pornografi karena memperlihatkan video Parno bugil, melanggar UU perlindungan anak karena memandikan anak bukan di tempat yang layak, dan melanggar UU kebersihan kota karena mencemari Kali Ciliwung dengan air mandi si Parno!" Ciel gak mau kalah. Dia teriak juga pake toa. Gema teriakannya juga kedengeran, "Si Parno.. parno.. no.. no.."

"Pokoknya aku tidak mau tahu! Kau harus menyerahkan diri! Bawa dia, Sebastian!"

"Yes, My Lord."

"Mbee.."

Dan akhirnya Arel Squarepants pun ditangkap karena melanggal UU berapa lapis? Ratusan! Dia dipenjara karena merekam adegan Parno, anak angkatnya yang sedang mandi. Di sini gunung di sana gunung, di tengah-tengahnya pulau Jawa. Pembacanya bingung, lah! Authornya lebih bingung yang penting bisa ketawa.

..Apa? Anda gak ketawa?

Iya aduduh mangap. Jauhin pisau itu dari leher saya, dong.

ooo

Omake

"Ciel! Cepat beli Vegeti-nya! Sudah belum? Uukh.."

"Wah, Vegeti-nya abis, Pak! Adanya Pond's Age Miracle doang!"

"Uukh.. yaudah gak apa-apa deh yang penting obat! Cepat beli!"

"Sebastian, cepat beli!"

"Yes, My Lord."

"Mbee.."


Yak, selesai. Bagaimana? Ceritanya beda sama kenyataan asli? Iya soalnya yang asli terlalu vulgar. Jadi saya ubah. Jayus, kan? Maaf. Itu salah satu alasan kenapa 'Selamatkan Indonesia!' telat apdet, karena sense of humour saya hilang!

Sekarang saya mau bales review. Yang gak mau baca, langsung skip aja dan klik tombol paling sekseh di halaman ini, yang ada tulisan 'review'.

siklomika: Syukurlah kalo fic saya bisa menyadarkan anda! XD

Meguhana: Terus dukung saya, ya (maunya)! XD

FrenzyRenzy-Ren.9x'y: Makasih atas doa-nya! XD

Violetta Carmilla Gottschalk: Makasih atas doa-nya, kita sama-sama berjuang! XD

Diesty Sutcliff: Sama-sama mendoakan, ayo sama-sama berjuang! XD

ai-mage dheechan: Iya, semoga kita berhasil! XD

marianne vessalius: Wah, ada Sebastian ikutan review! Makasih doa-nya, ya! XD

17goingon12: Syukurlah nenek anda gak ilang! Bukan saya yang nyulik, kok! Okeh kita sama-sama berjuang, ya! XD

Ayasaki Rin: Iyaaa gak apa~ Makasih atas doa-nya, ya! XD

silVer: Saya juga kangen! Saya masih idup, kok! XD

Mika de Zaoldyeck: Makasih ya, udah di fav! XD

ael fyragh: Iya ini udah apdet! Pelayan-pelayannya ngerepotin, tinggalin aja di Monas! XD

seCreT aRs: Iya, saya bangga! makasih, ya! XD

Hikari-chann: Makasih udah didoa-in, ya! XD

hitomi hitsugaya: Iya sama-sama! Makasih, ya! XD

schneeglocke: Syukurlah! Makasih doa-nya, ya! XD

Selesai. Gak ada yang ketinggalan, kan? Emang jawabannya sama semua, sih. Tapi saya mau ngetik satu persatu karena saya sayang kalian semua!

PS: Berkat doa kalian, saya berhasil naik ke kelas tiga (dengan semaput)! Makasih, ya. Makanya diawal fic saya teriak ITB karena saya mau masuk ITB. Doa-in lagi, ya!

Makasih udah baca. Review, please?