Disclaimer: Kuroshitsuji poenja Jana Toboso. Indonesia poenja kita semoea, MERDEKA!

Warning: AU. OOC. OON. Timeslip. Apalah terserah. Don't like don't read. MERDEKA!


Selamatkan Indonesia!

MERDEKA!

MERDEKA!

Ulang ulang kurang semangat, MERDEKA!

Sekali lagi ayo ayo MERDE—Wah, ada bakiak terbang.

Heeei para pembaca yang sangat saya sayangi! Apa kabar? Merdeka, ya!

Hmm.. dipagi yang cerah ini marilah pertama-tama kita panjatkan puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat-Nya pulalah kita semua bisa bertemu dalam fic ini dengan sehat walafiat.

Kemudian kepada seluruh guru beserta murid-murid yang saya banggakan, sudah sepa—aduh salah-salah. Ketuker. Ini teks pidato Kepala Sekolah.

Kepada Bapak Walikota yang sudah repot-repot hadir dalam aca—aduh salah lagi. Ini teks pidato Pak RT.

Tak lupa kepada para ibu di seluruh Indonesia, ASI itu sehat, Bu! Berikanlah gizi terbaik pada bayi dengan rutin memberi AS—anjrit salah lagi. Ini kan teks pidato sambutan di kampanye ASI.

Okeh, jangan tembak bazooka-nya.

Di pagi yang cerah nan meriah serta segarah dan sejukrah ini, suasana di Istana Negara lagi spesial-spesialnya.

Bukan, bukan karena di sini lagi diadain pidato kenegaraan yang tayangannya disiarin di seluruh saluran televisi Indonesia.. itu sih udah biasa. Yang bikin spesiale al dente adalah, bakal diadain lomba tujuh belasan di sini! Waaah senang ya senang. Tepuk tangan, dong.

Dan dan dan yang bikin lebih spesiale al dente makan pete adalah peseta yang ikutan di acara tujuh belasan ini semuanya tokoh Kuroshitsuji! Yah, mumpung Ciel dan kawan-kawan lagi di Indonesia, SBY spesial ngadain acara tujuh belasan di Istana Negara. Ih ih ih SBY baik yaaa.

Gak tanggung-tanggung, semua lomba yang udah umum diadain di masyarakat, bakal diadain di sini juga! Mulai dari lomba makan gabus—karena lagi puasa jadi gak boleh makan kerupuk, akhirnya panitia ganti pake gabus yang mirip-mirip kerupuk, lomba balap karung, lomba bawa gundu pake sendok, lomba tangkep belut, lomba masukin benang ke jarum, dan yang paling seru.. lomba tarik tambang! Ihiy hiy hiy asik ya, Ciel. Kamu kan jarang main-main karena harus jaga image sebagai bangsawan, inilah kesempatan untuk menyatu lebih dekat dengan alam!

"Anu.. Pak SBY," sapa Ciel agak ragu.

"Ya? Ada apa, Nak Ciel?" ujar SBY.

"Sebenarnya aku sangat berterima kasih anda mau mengadakan perlombaan tujuh belasan khusus untuk kami, tapi.."

"Ya?"

"KENAPA LOMBANYA HARUS PER-TIM?"

Oh iya saya lupa bilang. Lombanya diadain per-tim, ya. Maksutnya, dua tim yang beranggotakan masing-masing enam orang bakal nurunin tiap anggota tim-nya di tiap satu unit lomba. Yang paling banyak menang lomba, dapet hadiah sendal jepit eksklusif.

"Oh.. hahaha soalnya beberapa hari yang lalu ada beberapa orang yang datang dan mengaku sebagai teman-temanmu. Jadi kupikir, aku juga harus memberikan pelayanan terbaik untuk mereka, makanya kuadakan lomba ini agar lebih akrab!" jelas SBY.

"Pak SBY.. biar kuberi tahu saja.." Ciel ngelirik jijay. "MEREKA BUKAN TEMAN-TEMANKU!"

"Hai, Earl!"

"Hihihihihi lama tak jumpa, Earl Phantomhive.."

"Hei, Ciel! Aku akan mengejarmu sampai ke ujung dunia pun!"

"…"

"Kyaaa~ Sebastian-chaaan!~ Sudah takdir kita untuk bertemu d siniii!~"

"Grell Sutcliff, ayo cepat pulang ke Inggris!"

..Ah, ternyata orang yang datang dan ngaku-ngaku teman itu adalah.. Lau, Undertaker, Alois, Claude, Grell, sama William? Bencana..

"Haha tidak perlu malu, Nak Ciel. Kau kan sudah agak lama di Indonesia. Senang, kan, bisa punya teman yang rela jauh-jauh datang dari Inggris karena rindu padamu?" tanya SBY inncocent.

"Pak SB—"

"Benar, Earl. Lelah, loh menempuh perjalanan dari Inggris."

"Hihihihihihi kau harus memberi hamba sebuah lawakan yang lucu untuk membayar kelelahan ini, Earl.."

"Bayarkan tiket pesawatku dan Claude! Jangan pikir kau bisa kabur dari kami!"

"Sebastian-chaaan~ Demi ketemu kamu, badai lautan pun kuterjang, loooh~"

"Huh. Kau harus mengganti kerugian ini, iblis. Pekerjaan kami masih menumpuk di Inggris."

Ciel kehilangan kata-kata. Percuma rasanya ngejelasin situasi juga. Orang-orang gak normal kayak gini.

"Sebastian," bisik Ciel ke Sebastian yang dari tadi berdiri di sebelahnya.

"Ya?"

"Bagaimana ini?"

"Turuti saja.."

"Ha?"

"Rasanya sulit memulangkan orang-orang ini apalagi menjelaskan situasi sebenarnya kepada Pak SBY. Untuk sementara ini, kita turuti saja dulu keinginan beliau," bisik Sebastian.

"Begitu ya?"

"Iya."

"..Oh iya ngomong-ngomong, Sebastian," bisik Ciel lebih pelan.

"Ya?"

"Buat menu buka puasa nanti, aku request semur jengkol, ya."

"…"

Gak nyambung deh, Ciel.

"Jadi bagaimana, Nak Ciel? Ikut lomba?" tanya SBY dengan tampang innocent dan bijaksananya.

"Oh, iya. Ikut sajalah."

"Bagaimana dengan anggota tim? Berdua saja dengan butler-mu?"

"Ah, tentu tidak." Ciel nengok ke arah Sebastian. "Sebastian, cepat tarik paksa tiga orang itu dan Tanaka. Bawa kemari."

"Yes, My Lord."

Sebastian pun langsung ngacir ke Monas sebentar. Dengan kecepatan super dan kaki emas yang sudah dilatih dengan menjadi budak selama 10 tahun, hanya sekejap mata Sebastian udah balik lagi.

"Ng? Waaah! Halooo, Tuan Mudaaa!"

"Ng.. a.. ada apa, ya?"

"Ck! Padahal sedikit lagi emas Monas itu berhasil kuambil!"

"Ho. Ho. Ho. Ho.."

"Waah sudah datang. Ini anggota tim-mu?" tanya SBY.

"Iya."

"Kalau begitu kita mulai saja. Author, tolong jadi komentator ya. Saya mau nonton dari jauh aja," perintah SBY.

Baik, Pak. MULAI! MERDEKA!

-Lomba 1, Makan Gabus-

"Siapa yang mau ikut lomba ini nih?" bisik Ciel.

"Aku saja, Tuan Muda!" kata Finny semangat.

"Saya juga tidak apa-apa!" tambah Maylene.

"Oh! Biar aku saja!" Bard juga semangat.

"Ho. Ho. Ho. Ho.."

"Bagaimana kalau untuk lomba pertama Tuan Muda saja?" tawar Sebastian. "Seorang majikan harus memberikan contoh yang baik kepada bawahannya."

Ciel melengos, "Cih! Iya iya.."

Dan lomba pun dimulai. Peserta dari tim (ancur) yang satu lagi adalah.. Alois.

"Hai, Ciel," sapa Alois sambil senyum licik. Sekarang mereka berdua lagi siap-siap di depan tali gantungan gabus. "Lama tidak bertemu."

Ciel diem aja. Sabodo teuing. Mending cepet-cepet nyelesain lomba daripada ngemeng sama dia. Dan lomba pun di.. MULAI!

Ciel sama Alois langsung loncat-loncat nyoba buat nangkep gabus pake mulut sendiri. Tapi maklumin aja pembaca, mereka masih bocah. Terutama Ciel yang lebih uhuk—pendek—uhuk dari Alois, dia lebih kesusahan lagi.

"Berjuaaang, Tuan Muda!" Finny bertiga sama Maylene sama Bard nyorak-nyorak gaje kayak cheerleader.

Give me C! Badan mereka melengkung kayak huruf C.

Give me I! Mereka berdiri tegak lurus biar kayak huruf I.

Give me E! Aduh bikin badan jadi huruf E kayak gimana, ya? Susah ah. Ya udah skip aja.

Give me L! Mereka duduk sambil selonjorin kaki biar badannya kayak huruf L somplak.

CIEL! Dance cheerleading mereka pun selesai, tapi apa mau dikata tinggi badan merupakan penentu utama ketika lomba makan kerupu—gabus maksut saya.

Alois yang menang. 1-0.

"Ho. Ho. Ho. Ho.."

-Lomba 2, Balap Karung-

"Bah! Biar kali ini giliranku!" Bard udah gulung lengan baju dengan semangat.

"Berjuang, Bard!" Finny nabuh genderang biar lebih semangat.

"Ka.. kau pasti bisa, Bard!" Maylene naburin bunga biar meriah.

"Ho. Ho. Ho. Ho.."

"Anda memalukan sekali tadi, Tuan Muda. Makanya sudah saya katakan minum susu yang rajin."

"Bawel, kau!" Ciel sama Sebastian malah bisik-bisik.

Dan peserta satu lagi dari tim lawan adalah.. Lau.

"Hooh.. rupanya aku melawanmu, Tuan Koki," kata Lau enteng.

"Heh!" Bard ngebuang puntung rokok, "Akan kubuktikan bahwa seorang koki dari Keluarga Phantomhive mampu melakukan hal kecil seperti balap karung!"

"Waah.. kita lihat saja," Lau siap-siap berdiri di posisi.

"Tsch!" Bard juga siap-siap.

Satu.. Dua.. TIGA, MULAI!

Dengan segenap kekuatan yang ada Bard langsung lompat-lompat segera setelah pake karung. "Aku pasti bisa!"

"Hahahaha sayang sekali, Tuan Koki..," ledek Lau dengan tenangnya sambil lompat-lompat santai. "Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa vampir dari Cina adalah yang terbaik dalam hal lompatan, dan aku mempelajarinya. Selamat tinggal!"

Tuing Tuing Tuing Lau langsung lompat-lompat sampe dengan sukses ke garis finis.

Lau menang. 2-0.

"Ho. Ho. Ho. Ho.."

-Lomba 3, Bawa Gundu Pake Sendok-

"Gawat, Tuan Muda! Kita sudah ketinggalan 2 angka!" kata Finny ketakutan.

"Ba.. bagaimana ini? Kalau kita kalah, sendal jepit eksklusif itu tidak akan jadi milik kita!" teriak Maylene khawatir. Wah, ternyata ada juga yang ngiler sama hadiah (gak modal) dari saya. Jadi malu.

"Kenapa kau kalah, Bard?" Sebastian senyum-senyum nakutin ke arah Bard.

"Ah.. Eh.. Soalnya si vampi—bangsawan Cina itu cepat sekali lompatnya." Bard ketakutan.

"Hh.." Ciel helain nafas. "Yasudahlah. Kita pikirkan ke depannya saja. Berikutnya lomba membawa gundu dengan sendok. Siapa yang akan ikutan?"

"Waaay! Gunduuu! Akuuu! Aku mau!" Finny nunjuk-nunjuk tangan.

"Jangan bodoh, Finny. Sendoknya bisa langsung hancur karena kau gigit nanti." Ciel langsung nolak mentah-mentah.

"Ya. Atau gundunya yang jatuh terguling karena kau terlalu bersemangat," kata Maylene.

"Hmm.. yang paling cukup tenang untuk bisa membawa gundu selamat hingga garis finis.." Sebastian mikir.

Semua mikir. Suasana hening.

"TANAKA!"

"Ho. Ho. Ho. Ho.."

Dan lomba pun dimulai. Peserta dari tim lawan yang turun adalah.. Undertaker.

MULAI! Sang author ganteng yang udah dititipin tugas buat jadi komentator sama SBY langsung ngamatin lagi jalannya pertandingan.

"Ayooo! Tanaka-san! Kau pasti bisa!" Finny dan (tiga orang idiot) lainnya sekali lagi dance-dance cheerleader gaje.

"Hihihihihi.. jangan kau pikir bisa mengalahkan hamba, Tanaka.." Undertaker jalan dengan pelan-pelan sambil ngemut sendok bawa gundu tapi sambil nyengir juga. Gimana caranya? Ah, sudahlah.

"Ho. Ho. Ho. Ho.." Tanaka dengan tenang ngebawa gundu di sendok itu.

"Tanaka-saaan!"

"Hihihihihihihi.."

"Ho. Ho. Ho. Ho.."

"Hihhihihihhi.."

"Ho. Ho. Ho. Ho.."

"Hihihihi—"

Ah, stop. Tolong hentikan hihi hoho kalian berdua ituuu! Dan, garis finis di depan mata! Kedudukan mereka sejajar! Siapakah yang akan sampai duluan?

"Ho. Ho. Ho. Ho.." Masih dengan tenang seolah tanpa beban, Tanaka ngebawa sendok isi gundu ke garis finis.

"Hihihihihi.." Undertaker juga buru-buru ngibrit ke garis finis sambil nyengir. Tapi, JDUAGH!

Ah, dia keserempet baju itemnya sendiri yang panjang itu. Lagian sih. Siapa suruh pake baju panjang-panjang begitu pas lagi lomba.

"Ho. Ho. Ho. Ho.."

Pemenangnya.. Tanaka. 2-1.

"Ho. Ho. Ho. Ho.."

-Lomba Empat, Tangkep Belut-

"Kerja bagus, Tanaka-saaan!" Finny langsung nyambut dengan senang riang hari yang kunantikan capai ilmu setinggi awan (?) sesaat setelah Tanaka balik.

"Ho. Ho. Ho. Ho.."

"Bagus, Tanaka," kata Ciel. "Selanjutnya lomba apa?"

"Tangkap belut. Maylene..," ujar Sebastian.

"I.. iya?" Maylene kaget dateng-dateng dipanggil Sebastian.

"Kau saja yang maju selanjutnya. Perasaanku tidak enak." Sebastian neguk ludah. Perasaan gak enak? Kenapa, sih?

"Kyaaaaa!~ Sebastian-chaaan!~ Aku akan berjuang loooh~ Lihat aku, ya!~"

Glek. Pantes. Peserta selanjutnya yang bakal tanding dari tim lawan dia, sih. Si shinigami ban—aneh.

MULAI!

Dengan mempertaruhkan jiwa raga (lebay) Maylene sama Grell berusaha keras nangkep belut-belut itu.

"Uuugh! Aaah.."

"Kyaaa~ Jijik deeeh!~"

Tanpa ditambah kalimat penjelasan pun, pasti ketahuan yang mana yang dialog Maylene yang mana yang Grell.

"Iiiihh! Susah deeeh!~"

"Aaa.. tu.. tunggu!"

Mereka berdua kesusahan buat nangkep belut. Susah bet. Licin, sih. Ayo ayo berjuang dech~ (ah, saya ketularan, gawat).

"Aaah~ Biar kubunuh kalian, belut-belut menjijikaaan!~" Grell nodongin gunting ke belut. Mana gergajinya? Belom dibalikin.. kan masih dihukum sama si shinigami kacama—William.

"Huh." Dark Maylene datang. Dengan sangat cepat dia tembak belut-belut itu pake Tokalev.

Dor! Dor! Dor!

Sementara Grell masih sibuk ngeguntingin belut, Maylene langsung ngacir bawain belut yang udah pada koit ketembak.

Pemenangnya? Jelas, lah. Maylene, 2-2.

-Lomba Lima, Masukin Benang Ke Jarum-

"Bagus, Maylene!" kata Bard. "Kita berhasil menyamakan kedudukaaan!"

"Te.. terima kasih.." Maylene malu-malu kucing. Apa? Kucing? Ah, iblis itu bereaksi.

"Kerja bagus, Maylene," ujar Sebastian. "Selanjutnya giliranku."

"Pastikan kau menang, Sebastian." Ciel natap tajem ke Sebastian. "Kau tidak akan kalah, kan?"

"Tentu saja. Paling tidak tinggi badan tidak dipermasalahkan dalam perlombaan ini," sindir Sebastian.

"Grr..!"

Sebastian pun langsung turun ke arena. Dan lawannya adalah.. Claudia.

Apa? Salah? Waaah.. maaf. Jangan diasah dulu goloknya. Okeh okeh. Claude.

"Sebastian Michaelis," sapa Claudi—Claude dengan tampang datar.

"Claude Faustus," bales Sebastian sambil senyum.

"Saya tidak akan kalah."

"Waah.. kebetulan. Saya juga berniat sama."

Udah dah jangan pada banyak bacot sambil sapa-sapaan. MULAI!

Dengan sigap Sebastian dan Claude berusaha buat masukin benang ke ja—APA? UDAH MASUUUK?

Ah, saya melupakan bagian terpenting, pembaca! Saya lupa kalo mereka butler profesional! Masukin benang ke jarum maaah.. kecil!

"Huh, jangankan memasukkan benang ke jarum. Aku bahkan bisa menjahit gaun hingga garis finis," pamer Claude, dengan tampang tetep datar pastinya.

"Benarkah? Meski begitu gaun itu pasti tidak bisa menandingi kain songket palembang yang sedang saya jahit," Sebastian gak kalah pamer.

Sat! Set! Sat! Set! Mereka berdua terus ngejait gaun dan kain songket palembang dengan kecepatan mengagumkan yang bahkan gak bisa diliat pake gerakan slow motion. Ini udah gak bisa disebut lomba masukin benang ke jarum lagi! Ini lomba ngejait baju! Dan, sampailah mereka di garis finis. Si.. siapa yang menang?

"Pasti Sebastian!" terak Ciel dari jauh.

"Jangan bercanda, Ciel! Claude-ku tidak pernah kalah!"

"Bawel, kau, laba-laba!"

"Apa? Kau sendiri anjing!"

"Laba-laba!"

"An—"

Heh udah deh berenti ngomong kotor pas lagi bulan puasa. Biar saya yang nentuin siapa yang menang.

Suasana jadi tegang.

Hmm.. gaun buatan Claude benar-benar bagus! Ini adalah mahakarya nan agung yang pertama kali saya liat. Dan, kain songket palembang buatan Sebastian.. Aah! Masterpiece warisan Indonesia yang selama ini terpendam telah bangkit! Kain songket palembang! Benar-benar mengharukan! Pelestari—

"Tadi kau sendiri yang bilang jangan banyak bacot," kata Ciel dengan nada horor.

"Cepat putuskan pemenangnya!" tambah Alois dengan nada yang gak kalah horor. Mereka marah-marahin juri (saya) masa.. jahatnya.

Baiklah baiklah. Ehem. Sebenernya gaun dan kain songket ini bener-bener bagus dua-duanya, tapi..

Sekali lagi suasana jadi tegang.

Berhubung sekarang lagi perayaan kemerdekaan Indonesia, Sebastian-lah pemenangnya karena telah menjahit salah satu kain berkualitas tinggi dari Indonesia! (1)

"Uwooo!" Finny langsung loncat kegirangan. "Kita menaaang!"

"Syukurlaaah!" Maylene nari samba (?).

"Kau jenius, Sebastian!" Bard nepok-nepok punggung Sebastian.

"Terima kasih.." Sebastian senyum. "Sudah saya duga akan begini, karenanya saya menjahit kain songket palembang."

Claude ngeliat Sebastian dari jauh dengan tajem, tapi mukanya tetap datar.

Sebastian menang. 2-3.

"Ho. Ho. Ho. Ho.."

-Lomba Enam, Tarik Tambang-

Ini lomba terakhir! (2) Tarik tambang!

"Osh! Semuanya maju di sini, kan?" Sekali Bard ngegulung lengan baju. "Aku pasti bisa!"

"Benar! Kita pasti bisa!" Maylene juga ngegulung lengan baju dan ngeganti rok maid-nya pake celana. Katanya, biar gampang gerak.

"Kita pasti menaaang!" Finny juga semangat. Dia mah gak perlu gulung lengan baju ato apa. Bajunya udah simple, kok.

"Ho. Ho. Ho. Ho.." Yayaya, Tanaka. Kau gak perlu ngegulung lengan baju ato apa. Minum teh aja.

"Sebastian." Ciel ngerenggangin tangan kanannya.

"Ya?"

"Buka."

"Buka.. apanya?"

"Ini."

"Apa?"

"Bukakan jas-ku! Aku sudah sengaja merenggakan tangan, kan!"

"Oh.." Dengan sigap (tapi lemot) Sebastian langsung ngebuka jaket Sebastian.

"Baiklah semuanya.. kita maju! Pasti bisa!"

"Ooo!"

Ciel dan kawan-kawan pun maju dan langsung berhadapan sama Alois dan kawan-kawan.

"Heeeh.. Ini pertandingan terakhir kita, ya.." Alois masih nyengir ngeremehin.

"Hihihihihi.. Kali ini hamba tidak akan kalah.."

"Kyaaa! Sebastian-chaaan!~ Apakah ini cobaan Tuhan? Lagi-lagi kita harus berlawanan jalan!~"

"Wah, Earl. Bawahanmu hebat-hebat juga, ya."

"…"

"Cih. Akan cepat-cepat kuakhiri agar bisa segera kembali ke Inggris."

Tambang telah disiapin.. masing-masing udah nafsu mau narik.. okelah siap.. MULAI!

"Uwooo!" Dengan semangat Finny langsung narik tambang kenceng-kenceng.

"Aku tidak akan kalah!" Alois ikutan narik.

"Tahan terus, Bard! Maylene!" Ciel ngasih komando.

"Ya!"

"Tanaka! Kau juga ta—"

"Ho. Ho. Ho. Ho.."

"Ya sudah, minum teh saja." Ciel langsung ngalihin pandangan.

"Sebastian!"

"Wah.. anda tidak bisa berusaha sendiri, ya?" Sebastian ogah-ogahan narik.

"Jangan bercanda, Sebastian.. kalau aku kalah hanya karena perlombaan cetek seperti ini, mau dibawa ke mana nama Phantomhive?" kata Ciel sambil sekarat berusaha narik tambang yang makin condong ke arah tim Alois. Mau dibawaaa~ Ke manaaa~ Hubungan kitaaa~

"Hihihihihihi.."

"Lihat aku, Sebastiaaan-chaaan!~"

William—tanpa disuruh juga berusaha narik dengan semangat. Biar cepet balik ke Inggris daaah!

"Sebastian Michaelis," panggil Claude dari seberang sambil tetep narik tambang. "Jangan main-main. Cepat tarik."

"Ng? Anda tidak senang dengan tidak berpartisipasinya saya? Bukankah itu jadi lebih mudah untuk anda, Claude Faustus?"

"Jangan bercanda. Lakukanlah apa yang harus dilakukan. Saya tidak akan kalah lagi."

"Hmm.. kalau boleh jujur, sih, saya sendiri kesulitan menarik tambang jika semuanya semangat seperti ini, tapi.." Sebastian nengok ke arah Finny.

"Finny, keluarkan tenagamu! Tarik tambang itu dengan segenap kemampuanmu!" perintah Sebastian. Lah. Kok malah dia yang jadi merintah? Bukannya Ciel?

"UWOOO!" Kali ini Dark Finny yang bangkit, dan dengan satu tarikan yang bahkan membuat Claude sekalipun terkejut..

SEET! Hanya sekejap mata tali tambang yang lagi masing-masing orang pegang lenyap. Nge? Mana, nih?

Maylene, Bard, Ciel, Alois, Undertaker, William, Grell, Claude, dan Lau kebingungan. Cuma Tanaka yang tetap tenang sambil minum teh dan Sebastian yang senyum-senyum sendiri.

Eh, mana tambangnya, blis?

"Di sana..," tunjuk Sebastian ke arah depan. Ada Finny.

Owalah! Tambangnya ketarik semua sama Finny!

"Eh?" Finny sendiri cengo, terus ngeliat ke arah tangannya. "Hehehehe.." Dan cuma bisa nyengir gaje setelah sadar kalo semua tambangnya ketarik sama dia.

Pemenangnya! Tim Ciel, Finny! 2-4!

"Berhasiiil!" Maylene sama Bard pun langsung lari-lari nyamperin Finny. Mereka berpelukan, makan puding Tabi (?), makan kue Tabi (?) dan nyanyi lagu Dori: Berhasil! Berhasil! Berhasil, horeee! Wi did it!

Dan perlombaan gaje tujuh belasan yang diikutin tokoh-tokoh Kuroshitsuji itupun selesai seiiring terbenamnya matahari. Dengan diiring lagu Indonesia Raya, SBY menyerahkan hadiah utama berupa sendal jepit eksklusif ke Ciel. Walo enggan dan dengan muka gw gak butuh, Ciel tetap nerima sendal jepit itu. MERDEKA!

Aku kecewa dengan keadaanmu, aku kecewa dengan para koruptor yang ada di dalammu, aku kecewa dengan semua hal buruk yang terjadi padamu. Tapi bagaimanapun juga, aku cinta kamu. Selamat ulang tahun yang ke-65, Indonesia. Semoga kau semakin tegar dan kuat serta berhasil menjadi negara yang benar-benar merdeka. Amin.


(1) Setelah saya tanya sama kakek saya (Google), kain songket ternyata bukan asli Indonesia. Tapi barang dagangan antara Tiongkok ke India. Makanya, saya gak ngetik kalo kain songket warisan budaya asli Indonesia.

(2) Rencana awal saya lomba terakhir bakal diadain panjat pinang, sebagai lomba yang paling identik sama lomba tujuh belasan. Tapi karena satu dan lain hal, gak jadi.


Okeh selesai. Maaf TELAT BANGET apdetnya. Makasih yang udah review di chapter sebelumnya: Recchii-Re-chan, hitomi hitsugaya, BlackKiss'Valentine, meshi-chan, NaruEls, Raf Kowalski, silVer, reichi michaels, akai chibi seme, Maharu P Natsuzawa, Astrella Kurosaki, Kanna Ayasaki, Cha-13elieveSuJuELF, Zerosazhou, fi-kun31, nekochan-lovers, Mika de Zaoldyeck, 17goingon12, LicarlineAidaClyne, HikariVongola80, miruna. sakuralover, Heiwajima BeenBin Amewarashi, tako-agni, dan Yunoki touya.

Kalian yang udah baca tapi gak review juga, makasih! Karena kalianlah saya bisa terus bertahan (halah). Kritik, saran, cacian, makian, diterima. Silakan tumpahkan semua di review. Gak punya akun juga gak apa-apa. Bisa review juga, kok. Dadaaah~