Disclaimer: Kuroshitsuji punya Yana Toboso. Indonesia negara saya jadi punya saya. Malaysia punya Warga Negara Malaysia.

Warning: OOC. OON. Terdapat kata-kata gak pantas yang diucapkan para demonstran untuk Malaysia. Mohon maklum. Don't like? Don't read, then!


Selamatkan Indonesia!

"Dubidubapap~ Dubidudamdam~ Dubidubapap~"

Ciel Phantomhive, 13 tahun. Makanan kesukaan, semur jen*kol (disensor demi nama baik). Minuman kesukaan, es teh tawar. Hobi, ngintilin orang-orang yang dianggap mencurigakan di dunia belakang. Kata mutiara (?), jengkol itu sedap, loh.

Saat ini sang bangsawan muda nan imut kayak lolipop abis dikemut dikerubungin semut itu, lagi lari-lari pagi dihari yang cerah ini sambil ngelilingin Monas. Seraya bersiul-siul dan mendendangkan lagu gak jelas, dia jogging dengan santainya, "Syubidupapap, Dubidudamdam~ Syubidupap!~"

Tentu aja hal gak wajar yang dilakukan tuan muda-nya ini, mengundang kecurigaan si butler, Sebastian Michaelis. Umur, tidak diketahui. Tapi kalo nyoba neliti dari fisik sih.. sekitar 65 tahunan mah ada, lah. Makanan kesukaan, jiwa manusia tumis asam pedas. Minuman kesukaan, akua gelas (lah?). Hobi, jadi rentenir yang sok-sokan baik ngedatengin manusia terus nawarin kontrak, giliran kontraknya udah abis langsung dicao. Kata mutiara (?), kucing itu lucu, loh.

Si butler pun—daripada nantinya mati penasaran (ya kali iblis bisa mati cuma gara-gara penasaran)—dengan hati-hati dan berusaha gak nyinggung perasaan, nanyain tuannya itu, "Nampaknya ada yang berbeda pada anda hari ini, Tuan Muda," katanya, "Anda tampak lebih riang."

Sang majikan yang masih lari-lari ringan sambil menikmati sejuknya udara kota Jakarta dipagi hari yang damai dan tenteram (yang ngetik muntah), nolehin kepala sedikit ke arah butlernya, "Ha?" ujarnya, "Beda? Lebih riang? Kayaknya biasa aja. Syubidupap~ Dubidudamdam~ Syudamdampap~"

"Tapi tidak biasanya anda bersenandung seperti itu," kata Sebastian sambil jalan santai di sebelah Ciel. Iye, jalan santai. Sementara Ciel lari-lari kecil. Kaki Sebastian kan panjang. Tibang langkah bocah cebol gitu mah, jalan pelan juga sejajar.

"Kalau saya tidak salah duga, anda mulai riang seperti ini sejak menerima hadiah sandal jepit eksklusif dari Pak SBY," tambah Sebastian lagi.

"Geh." Sedetik kemudian Ciel berenti lari-lari kecil dan berdiri kayak patung. "Ma.. masa, sih?"

"Iya.." Sebastian ngeluarin senyum berkilaunya ke Ciel, "Bahkan sekarang pun anda memakai sandal jepit eksklusif itu untuk berlari pagi."

"I.. ini hanya.." Ciel berusaha nyari alasan yang masuk akal, "Hanya sebagai bentuk apresiasiku pada Pak SBY. Sayang, kan, kalu tidak dipakai. Ratu juga akan kecewa.."

"Oh." Sebastian masang tampang whatever. Dalem hati dia mikir, 'Bisa aja lu ngeles kayak bajaj. Pake bawa-bawa nama Ratu, lagi.'

"Ngomong-ngomong setelah perlombaan kemarin itu.. Semuanya sudah pada pulang?" tanya Ciel ngalihin topik pembicaraan.

"Ya." Sebastian ngerenggangin tangan nyoba-nyoba streching. "Claude Faustus dan Alois Trancy langsung kembali ke Inggris. Tuan Lau akan singgah dulu di pub-pub daerah Blok. M, William T. Spears dan Grell Sutcliff mampir ke daerah Senayan karena katanya orang-orang di waiting list mereka kebanyakan ada di sana, dan Undertaker juga ikut untuk membantu kalau-kalau ada yang mau dikubur."

"Begitu.. lalu tiga idiot itu dan Tanaka?"

"Seperti biasa, mereka semua—terutama Bard—masih berambisi untuk memanjat Monas dan mengambil emas-nya."

"Ya, terserah." Ciel masang tampang swt. "Lalu mengenai tugas kita di Indone—"

Dasar kau, siput racun~ Baru kenal udah ngajak lembur~ Nyuruh gak sopan santun~ Kau anggap aku orang kampung~

Di tengah pembicaraan Ciel dan Sebastian yang hangat-hangat paha ayam itu, terdengarlah sebuah lagu dangdut. Oh, bunyi apa ini gerangan?

"Apa itu Sebastian?" tanya Ciel sambil ngelirik ke arah kantong jas Sebastian. Seperti biasa, jempol tangan dia sebenernya udah sit up pemanasan buat ajeb dangdut. Tapi malu ah. Masa pewaris tunggal Keluarga Phantomhive joget-joget dangdut?

"Ah, ini ringtone handphong. Ada telepong.." Sebastian ngeliat ke layar hape. "Dari Pak SBY."

"Sini." Ciel ngulurin tangan minta hape, terus dibawa kabur ke Taman Puring buat dijual—ah, salah dialog. Makasudnya, ditempelinlah hape itu ke kupingnya, "Selamat Pagi, Pak SBY."

"Pagi, Nak Ciel," kata suara si penelepon dari seberang sana, "Ini aku."

"Ya, ada apa?"

"Anu.. bisa pergi ke alamat yang akan kusebutkan nanti?"

"Bisa saja. Memangnya ada apa?"

"Aku tidak bisa menjelaskan situasinya dengan baik.. Coba kau lihat dulu sendiri."

"Baiklah. Alamatnya?"

"Jalan Rusana Sakit No. X Kavling XX di daerah Kuningan, Jakarta."

"Kuningan?"

"Iya.. posisimu sekarang di mana?"

"Di Monas."

"Kalau begitu kamu naik busway ke arah Blok. M lalu turun di halte Dukuh Atas. Dari sana kamu transit dan pindah ke jalur 6 busway yang jurusan Halimun-Ragunan, lalu turun di halte GOR Sumantri. Mengerti?"

"..Iya."

"Baiklah. Kalau kamu sudah lihat situasi apa yang sedang terjadi di sana, tolong langsung ke Istana Negara."

"Baik."

PIP!

Pembicaraan di telepon selesai. Ciel ngasih lagi hape ber-ringtone nista itu ke Sebastian.

"Apa kata Pak SBY, Tuan Muda?"

"Katanya kita harus ke Kuningan."

"Kuningan? Di mana?"

"Tidak tahu. Tadi katanya kita harus naik busway dulu lalu transit untuk beli duku. Kemudian jalan-jalan ke Ragunan sambil minum jus limun, lalu berolahraga di GOR bersama trainer bernama Sumantri."

"…"

Dasar cebol mata satu buta arah. Disuruh naik busway, turun di Dukuh Atas lalu lanjut naik ke jalur jurusan Halimun-Ragunan dan turun di GOR Sumantri, kok, malah disangka disuruh beli duku terus jalan-jalan ke Ragunan sambil minum jus limun dan olahraga di GOR bareng trainer Sumantri? Geblek.

ooo

Untunglah Sebastian Michaelis bukan butler sembarangan. Walopun tadi dia gak ikut dalam pembicaraan di telelpon, tapi rupanya kuping iblisnya itu bisa denger dengan jelas percakapan SBY-Ciel barusan. Fuh.. ternyata dikau berguna di saat begini, Nak. Mereka pun naik busway lagi untuk kedua kalinya. Asik asik~

Pemberhentian berikutnya, halte GOR Sumantri. Perhatikan barang bawaan anda, dan hati-hati melangkah. Maacii~ (?)

"Kita sudah sampai, Tuan Muda," kata Sebastian sambil bangun dari duduknya dan ngebantuin Ciel bangun juga (ih kayak kakek-kakek).

"Ng..," kata Ciel dengan muka jutek.

"Ada apa?" tanya Sebastian.

"Tidak. Tapi wajahmu itu seakan bilang aku ini bocah bodoh yang tidak tahu arah."

"Benarkah? Saya yakin itu hanya perasaan anda," ledek Sebastian sambil senyum-senyum.

"Jangan salah paham. Tadi itu aku hanya salah dengar. Maklum, masih pagi."

"Yes, My Lord. Saya percaya.. mungkin."

ooo

Setelah Ciel sama Sebastian turun dari busway dan jalan kaki sebentar nyari alamat yang dituju, sampailah mereka di depan sebuah gedung. Sebenernya tanpa ngeliat desain gedungnya yang rada unik, gak ada yang spesial lagi di tempat ini. Tapi mereka berdua dikejutin sama banyaknya orang yang berkerumun di depan gedung ini.

"Malingsial!"

"Woo wooo alay siaaal!"

"Plagiat sialaaan! Keluar sini lo kalo berani!"

Yang bikin nambah gak biasa, orang-orang yang berkerumun itu nampak marah-marah. Mereka keliatan emosi. Ada yang bakar-bakar bendera, ada yang ngelemparin pagar gedung pake telor, ada yang teriak-teriak ngumpat kasar, dan ada yang nyuci singkong (?).

"Ada apa ini, Sebastian?" tanya Ciel kaget sama situasi yang lagi terjadi. Cepet-cepet mereka narik diri dan berdiri agak menjauh dari kerumunan orang-orang itu.

"Kelihatanya mereka semua sedang melakukan aksi demonstrasi, Tuan Muda," kata Sebastian sambil clingak-clinguk ngeliatin keadaan rame-rame ini.

"Ada masalah apa.. ini gedung apa, sih?" Ciel nyari-nyari plat nama gedung, dan tertera dengan jelas tulisan 'Keduataan Besar Malaysia'.

'..Malaysia?'

"Persetan kau, maling sial! Plagiat murahan!"

"Maling! Maling! Maling! Maling!"

"Malaysia negara sial! Malaysia negara terkutuk! Kau berdosa besar, Maling!"

"Kau curi semua milik negaraku, Maling! Bertobatlah!"

Suasana makin rame. Orang-orang yang lagi demonstrasi makin lantang teriak-teriak hinaan ke Malaysia. Gedung Kedubes itu gak bergeming. Ya kali gedung bisa ngomong.

"Sebastian.. Malaysia itu negara jajahan Inggris, kan?" tanya Ciel bisik-bisik.

"Sekarang sudah tidak, Tuan Muda..," bisik Sebastian, "Mereka sudah merdeka."

"Ha? Kok bisa?" tanya Ciel.

"Anda ini bagaimana? Kan negara anda sendiri yang memberikan kemerdekaan pada Malaysia." Bisik-bisik-bisik.

"Oh iya aku lupa. Tahun berapa itu?" kata Ciel bego. Bisik-bisik-bisik.

"Tahun 1957, tanggal 31 Agustus." Bisik-bisik.

"Wah, mestinya aku udah mati, dong? Aku kan lahir tahun 1875?" Bisik-bisik-bisik.

"Tidak apa-apa, Tuan Muda," ujar Sebastian, "Ini kan fanfic." Bisik-bisik-bisik.

"Oh iya benar." Bisik-bisik-bisik-bisik.

Yee.. bleguk.

"Ya sudah. Terus kita ngapain, dong?" tanya Ciel dodol lagi. Bisik-bisik-bisik-bisik.

"Ngapain, ya?" tanya Sebastian balik lebih dodol lagi. Bisik-bisik-bisik.

"Main petak umpet saj—"

'LU SAMPERIN ITU ORANG-ORANG, TANYA ADA APAAN, TERUS BALIK KE ISTANA NEGARA!'

Tiba-tiba kedengeran suara gaib entah dari mana, menanggapi kesablengan Ciel sama Sebastian yang malah berencana mau main petak umpet padahal udah capek-capek ke Kedubes Malaysia.

"Samperin katanya, Sebastian."

"Ya.."

Cih, apa boleh buat. Sebenarnya malas, sih.." Ciel jalan keluar dari tempat persembunyian di balik tembok (?), dan jalan nyamperin orang-orang itu.

"Ada ribut-ribut apa ini?" tanya Ciel dengan tampang (sok) ganas ke para demonstran itu. Kebanyakan demonstran, sebaliknya, malah ngeliatin Ciel dengan tampang cengo.

"Ngapain nanya-nanya, Dek?" tanya salah satu demonstran.

"Kamu sendiri ngapain di sini, Dek?" tanya demonstran lain.

"Nyasar ya, Dek?" tanya demonstran lain-lain.

"Wah kasian banget," kata demonstran lain-lain-lain.

"Aku tidak tersasar.." gerutu Ciel pelan. Ih kesel banget. Pake acara dipanggil dek segala pula. Dikira Ciel tuh onde-onde, apa? (gak lucu).

"Namaku Ciel Phanto—"

"Maafkan majikan saya yang egois ini.." Kemudian datenglah Sebastian sambil nutup mulut Ciel rapet-rapet. "Dia memang kurang tahu sopan santun."

"Kiyaaa! Ada orang cakeeep!" beberapa demonstran cewek langsung mabuk kepayang pas ngeliat Sebastian yang tampannya gak beda-beda tipis sama Bread Pitt versi belateng ini (yang ngetik muntah lagi). "Ganteng bangeeet! Keren, kereeen!"

"Ck!" Para demonstran cowok ngerasa minder, terus nanya dengan kasar ke Sebastian, "Lo penjaganya?"

"Kurang lebih begitu..," jawab Sebastian sambil senyum, "kalau boleh saya tahu, apa yang sedang kalian lakukan di sini?"

"Bukan urusa—"

"Kami sedang demonstrasi di sini!" jawab para demonstran cewek antusias, ngalahin suara demonstran cowok. "Sedang protes kepada Malaysia!"

"Wah.." Sebastian nambah pesonanya dengan senyum lebih terang. Ingat, semakin banyak yang terpesona, semakin mudah memperoleh informasi. "Memangnya apa yang sudah dilakukan Malaysia sehingga nona-nona mau bersusah-payah demo seperti ini?"

"Banyak!" jawab salah satu demonstran cewek.

"Mereka mengaku-akui kebudayaan Indonesia!"

"Mereka mengaku-akui batik khas Indonesia!"

"Mereka mengaku-akui lagu-lagu daerah dari Indonesia!"

"Mereka mengaku-akui tarian khas Indonesia!"

"Mereka mengaku-akui kuliner tradisional Indonesia!"

"APAAA?" Tiba-tiba Ciel yang tadinya diem aja sambil ditutup mulutnya sama Sebastian, langsung berontak. "Mengakui kuliner tradisional Indonesia? Apa yang diakuinya? Jengkol-kah?"

"Bukan.." kata si demonstran.

"Mereka mengakui rendang dan tempe. Padahal jelas-jelas rendang itu makanan khas daerah Sumatera Barat."

"..Oh. Baguslah," kata Ciel lega. "Kukira jengkol."

"Baguslah nenek moyang lu, bocah!" sewot demostran cowok.

"Bahkan jengkol pun paling tinggal nunggu waktu sampe akhirnya nanti di-klaim Malaysia!"

"Tidak!" Ciel natap demonstran cowok itu tajam. "Hal itu tidak akan kubiarkan terjadi!"

"Loh? Gak apa-apa, dong?" sanggah demonstran cowok lain, "Jengkol kan emang bukan punya Indonesia."

"Tapi ya mestinya Malaysia jangan egois meng-klaim jengkol, dong. Jengkol kan bukan punya negara dia sendiri."

"Oh iya, bener-bener."

"Loh? Jengkol bukan asli Indonesia?" tanya Ciel dengan muka rada shock.

"Bukan. Jengkol itu emang cuma tumbuh di kawasan Asia Tenggara, tapi bukan punya Indonesia."

"Oh berarti jengkol tuh milik kita bersama dong?"

"Haha kayak slogan stasiun TV aja, lu."

Eh eh eh bentar-bentar. Kok malah jadi ngomongin jengkol sih? Beda urusan dong, Mas! Ini lagi ngebahas Malaysia, nih! Bek tu da topik, cepetan!

"Balik lagi ke pembicaraan awal. Jadi kalian sengaja berdemonstrasi di sini karena kecewa dengan tindakan Malaysia?" tanya Sebastian masih dengan muka lembut.

"Iye. Kita gak sudi si maling itu seenaknya aja ngaku-ngakuin kekayaan Indonesia."

"Apalagi dia juga udah ngerebut Sipadan-Ligitan."

"Ambalat juga lagi di ambang gawat, tuh!"

"Cewek gua juga direbut!"

Suasana jadi hening sesaat. Apa hubungannya Malaysia sama cewek lu? Serentak mereka semua ngeliatian si demonstran cowok yang berkoar tadi.

"Sekarang dia pacaran sama orang Malaysia! Sakit hati, gua!"

Yee itu mah derita lu.

"Sepertinya saya dapat memahami rasa kesal kalian," kata Sebastian. "Tapi bagaimana dengan kalian sendiri?"

"Apa?" tanya si demonstran.

"Apa kalian sendiri sudah menjaga baik-baik kebudayaan negara kalian sendiri?"

SIIING

Suasana jadi hening. Lagi.

"Apa kalian masih menggandrungi makanan khas seperti tempe yang kalian bela mati-matian itu? Bukankah kalian sendiri lebih memilih untuk menyantap masakan luar negeri?"

SIIING

"Apakah kalian menguasai tari-tarian yang di-kalim itu? Saya berani bertaruh kalian lebih menguasai koreografi barat daripada tarian dari negeri kalian sendiri."

SIIING

"Saran saya, sih, sebelum menghujat kasar si pencuri, kita harus introspeksi terlebih dahulu diri kita, apakah kita sudah menjaga barang yang dicuri itu baik-baik atau belum."

SIIING

Para demonstran jadi diem sendiri. Mereka semua terbungkam sama kata-kata Sebastian.

"Baiklah, Tuan Muda," kata Sebastian, "Ayo kita kembali."

Dan keheningan itu masih berlanjut sampe Ciel dan Sebastian pergi. Entah apa yang para demonstran itu pikirin selanjutnya.

ooo

"Jadi bagaimana, Nak Ciel?" tanya SBY segera setelah Ciel sampe di Istana Negara dan mereka langsung berembuk di ruang santai (lagi). "Kamu sudah lihat keadaannya?"

"..Sudah," jawab Ciel singkat. "Satu yang bisa saya simpulkan, mengenaskan."

SBY nengok ke arah Ciel, "Sebenarnya ini masalah lama."

Ciel ngemil Konde Butter Cookies sisa lebaran selama SBY ngomong, "Masalah ini sudah ada terhitung sejak Malaysia merdeka, sejak masa Indonesia masih dipimpin oleh presiden pertama."

"Dan tidak pernah selesai?" tanya Ciel.

"Tidak pernah. Terus berlanjut dan berlanjut hingga sekarang. Jujur, aku lelah."

"Kalau begitu perang saja," tantang Ciel, "Kelihatannya semua Warga Negara Indonesia siap untuk itu."

"Tidak," kata SBY tegas. "Perang itu bukan perkara mudah, hanya berlomba-lomba menghabisi lawan dan menambah dendam baru. Aku tidak ingin itu."

"Anda takut dengan Five Power Defence Arrengement?"

"Tidak sama sekali. Aku percaya seluruh masyarakat Indonesia mampu melawan Malaysia sendirian."

"Lalu apa? Anda ingin menjadi si pecinta damai dan menutup mata atas perlakuan Malaysia?"

"Tentu saja bukan. Aku siap dengan perang, tapi sebisa mungkin hal itu tidak akan kulakukan. Sudah kubilang tadi, kan? Perang hanya menghabisi nyawa dengan sia-sia."

"Kurasa aku tidak punya hak apa-apa untuk berpendapat, Pak SBY," kata Ciel, "Aku dari Inggris, dan sejak lama Inggris merupakan penopang Malaysia. Anda tidak curiga kalau-kalau saran dariku nanti hanya akan menguntungkan Malaysia?"

SBY nolehin sedikit kepalanya, "Aku percaya padamu, dan aku percaya pada Victoria."

"Puh!" Ciel ketawa kecil, "Anda menarik."

"Terima kasih atas pujiannya, aku menginginkan yang terbaik untuk negaraku, namun bukan dengan perang."

"Kalau begitu lakukan hal yang menurut anda paling baik. Anda cinta Indonesia, kan?"

"Tentu saja."

Dan besoknya langsung SBY nyiarin konferensi pers buat nanggapin masalah Indonesia sama Malaysia.

"Akhir-akhir ini hubungan Indonesia-malaysia sedang diuji lagi."

Seluruh orang nyimak dengan baik pidato beliau.

"Sebagai kepala negara, saya paham benar perasaan bangsa Indonesia yang sakit hati atas perlakuan negeri sahabat, tapi saya juga yakin, bahwa kita mampu meredam kemarahan itu dan berpikir jernih demi perdamaian kita semua."

SBY ngedarin pandangannya ke seluruh penjuru, "Mari, kita jauhi tindakan-tindakan yang berlebihan karena hanya akan menambah masalah yang ada."

Pidato beliau singkat, cuma dua belas menit dibanding ukuran konflik panjang dua negara ini yang udah berjalan selama puluhan tahun. Tapi semoga dengan pidato itu, seluruh WNI bisa ngerti kalo perang bukan segalanya.

-TBC-

.:Berikut saya ketik sebagian isi pidato Presiden Soekarno tanggal 27 Juli tahun 1963:.

Kalau kita lapar, itu biasa.

Kalau kita malu, itu juga biasa.

Namun kalau kita lapar atau malu itu karena Malaysia, kurang ajar!

Kerahkan pasukan ke Kalimantan, hajar cecunguk Malayan itu!

Pukul dan sikat! Jangan sampai tanah dan udara kita diinjak-injak oleh Malaysian keparat itu!

Doakan aku, aku kan berangkat ke medan juang sebagai patriot bangsa, sebagai martir bangsa, dan sebagai peluru bangsa yang tak mau diinjak-injak harga dirinya.

Serukan, serukan ke seluruh pelosok negeri bahwa kita akan bersatu untuk melawan kehinaan ini.

Kita akan membalas perlakuan ini dan kita tunjukkan bahwa kita masih memiliki gigi yang kuat dan kita juga masih memiliki martabat.

Yo.. Ayo kita ganyang!

Ganyang Malaysia!

Ganyang Malaysia!

Bulatkan tekad!

Semangat kita baja!

Peluru kita banyak!

Nyawa kita banyak!

Bila perlu satu-satu!


Luxam's Note:

Oke saya tau fic ini yang paling ancur di antara fic-fic ancur lain yang pernah saya bikin. Saya juga tau kalo fic ini gak meaning apa-apa. Sebenernya saya sendiri mau, sih, bikin fic tentang Malaysia yang bener-bener menggelegar gitu (apa sih bahasanya). Tapi daripada nanti cuma nyulut perang, saya kelepasan ngata-ngatain Malaysia, dan ada yang tersinggung, mending gak usah.

Makasih buat semua yang udah baca chapter kemarin. Makasih juga yang udah review: marianne de Marionettenspieler, BlackKiss'Valentine, dheeSafa, Mikachu de Zaoldyeck, nekochan-lovers, siklomika, Kanna Ayasaki, Yukiko Arlovskaya, meshi-chan, wie179, Yunoki touya, Diesty Sutcliff, reiyu chan, Krad Hikari vi Titania, Umiikpmft, Mayumi del Procella, Astrella Kurosaki, Dita Luph Ciel, hamazaki youichi, BlueSky-BlackShadow, Eka Kuchiki, Violetta Carmilla Gottschalk, Aletha-rizu09, Ritsu-ken, Fhaska, tako-agni, ael fyragh, dan Ichikawa Fue.

Makasih udah baca. Ada cacian makian? Silakan review.