Futari no Waltz
Aqua Rain

Disclaimer: The site is named fanfiction, so VOCALOID is absolutely not mine.

Futari no Waltz II: Relationship of the Two


Seseorang, tolonglah aku agar aku bisa melihat apa yang terjadi di sini! Jawablah aku! Siapapun, tolonglah aku! Raihlah tanganku dan tariklah aku keluar dari kegelapan ini! Kumohon...

Hey...

Kenapa... kalian tidak meraih tanganku?


Aku terbangun dengan tangan seolah-olah ingin meraih sesuatu. Ah, mimpi buruk itu lagi! Ingin sekali rasanya untuk mengingat mimpi itu, tapi aku tak pernah mampu untuk mengingatnya. Namun entah mengapa, aku merasakan mimpi tadi berbeda dengan mimpi-mimpi sebelumnya. Aku mengernyitkan mataku, sinar matahari pagi yang masuk ke ruanganku dari celah-celah gorden terasa menyilaukan. Aku menoleh ke arah jam dinding, sudah pukul 8 pagi. Sebaiknya aku segera bergegas untuk sarapan dan segera merapikan barang-barang Rin.

Ketika aku tiba di ruang tengah, aku melihat Rin yang sedang duduk termenung melihat ke arah beranda. Kutepuk pundaknya untuk sekedar mengejutkannya. Ia kemudian menoleh menatapku. Rupanya ia tidak kaget.
"Selamat pagi, kau mau sarapan apa? Biar aku yang buatkan," kataku menyapanya. Rin tetap diam dan terus menatapku. Matanya yang berwarna biru laut menatapku dengan tatapan kosong.
"...Je...ruk..." jawabnya dengan lemah. Aku tertegun. Anak ini ingin sarapan jeruk di pagi hari, bisa-bisa dia sakit perut!
"Baiklah, bagaimana kalau hotcake dengan marmalade jeruk? Aku yakin kau pasti akan menyukainya," usulku seraya tersenyum kepadanya, tidak mengharapkan adanya penolakan. Rin kemudian mengangguk, menyetujui usulku.

Aku segera beranjak, pergi menuju ke dapur dan membuat sarapan untukku dan Rin. Apakah sebaiknya aku juga membuat hotcake untukku ya? Hotcake dengan marmalade pisang mungkin akan terasa enak? Akhirnya aku membuat dua porsi hotcake untukku dan Rin. Satu porsi dengan marmalade jeruk, sedangkan yang satu lagi dengan marmalade pisang... yang sebenarnya tidak dapat disebut marmalade. Aku membawa sarapan kami berdua ke ruang tengah, aku melihat Rin sudah menunggu untuk menyantap sarapannya. Kemudian aku meletakkan sarapan kami di atas meja dan mulai menyantapnya.

Seperti makan malam kemarin, kami berdua menikmati sarapan kami dalam keheningan. Rin juga tidak mengomentari hotcake buatanku, ia terus menyantap sarapannya dalam diam. Sekali-kali aku melihat pipinya yang memerah karena memasukkan hotcake yang panas ke dalam mulutnya, manis sekali. Aku berusaha keras untuk menyembunyikan tawaku yang melihat hal itu.
"Biar aku yang... membereskannya..." kata Rin menawarkan dirinya untuk membantu.
"Wah, tolong ya!" Jawabku. Hee, aku kira dia pemalas.
Rin kemudian membereskan piring dan gelas kami berdua, kemudian mencucinya.

Aku melihat tumpukan kotak-kotak yang belum sempat dibereskan kemarin. Aku harus... maksudku, aku dan Rin harus membereskannya hari ini, karena besok tahun ajaran baru akan dimulai.
"Rin, ayo kita bereskan barang-barangmu yang tersisa!" Ajakku. Rin kemudian mengangguk lalu mulai mengeluarkan buku-buku dari kotak-kotak besar itu. Aku melihat bukunya yang semuanya berbahasa Jerman atau Inggris, dengan judul buku yang sepertinya berisikan tentang teori-teori ilmiah. Gila, anak ini pasti pintar sekali! Batinku. Aku kemudian ikut mengeluarkan buku-buku tersebut, seperti layaknya buku ilmiah, tebalnya bukan main. Pantas saja rak bukunya besar sekali. Rin, tetap dalam diam, kemudian membawa buku-buku tersebut ke dalam kamarnya. Aku mengikutinya.

Kamar Rin tidak seperti kamar anak perempuan, lebih terlihat seperti ruangan kerja seorang professor hanya saja memiliki tambahan sebuah tempat tidur. Rak bukunya berukuran sangat besar, cukup untuk menyimpan ribuan, atau mungkin puluhan ribu komik. Aku baru menyadari hal ini, karena Neru tidak mengizinkanku untuk masuk ke kamar Rin, dia hanya mengizinkan karyawan-karyawan jasa pindahan itu untuk menata kamar Rin. Rak buku Rin tingginya sampai menyentuh langit-langit. Sepertinya langit-langit apartemenku cukup tinggi. Kemudian kulihat Rin menaiki sebuah tangga kecil, lalu ia mulai menyusun buku-bukunya secara teratur. Rin menjulurkan tangannya ke arahku, memintaku untuk mengambil buku-buku yang belum disusun.

Seperti sebelum-sebelumnya, kami berdua tetap bekerja dalam keheningan. Rin sama sekali tidak berbicaraku. Tak usah ditanya, sesekali aku mencuri pandang ke arah Rin. Rin dalam ekspresi datar terus menyusun buku-bukunya. Tiba-tiba aku merasakan pipi dan dadaku menjadi hangat, sedangkan mataku tidak bisa melepaskan pandangan dari Rin. Ia sepertinya mulai menyadari kalau aku menatap wajahnya, dan menoleh ke arahku. Dengan segera kupalingkan wajahku, namun saat ini aku juga merasakan panas di telingaku, Rin pasti melihatnya. Aku melirikkan mataku, mencoba melihat Rin, wajahnya menatapku dengan ekspresi datar, kemudian ia menoleh lagi dan kembali menyusun buku-bukunya ke dalam rak, seakan-akan tidak merasa curiga kepadaku.

Sinar matahari yang hangat masuk ke dalam kamar Rin, menerangi sekaligus menghangatkan ruangan ini. Aku sendiri juga merasakan kehangatan, bukan hanya dari cahaya matahari itu, namun juga dari suasana di ruangan ini. Entah mengapa, aku tidak ingin segera menyelesaikan pekerjaanku. Rin kembali menjulurkan tangannya ke arahku, matanya juga menatapku dengan tatapan yang kosong. Kurasakan jantungku berdetak lebih cepat, dan aku merasakan sesuatu, hal yang kurasakan setiap terjaga dari tidurku, setiap aku tersadar dari mimpi itu. Aku merasakan tubuhku bergetar, aku merasakan atmosfer dalam ruangan ini berubah dan dadaku tiba-tiba merasa sesak. Rin tetap menatapku sambil menjulurkan tangannya, memintaku untuk memberikan buku-buku yang sedang aku pegang. Tanganku yang juga bergetar segera memberikan buku-buku itu.

Buku-buku yang tadinya ada dalam peganganku kemudian terjatuh sebelum sempat digapai oleh Rin. Rin sedikit membelalakkan matanya dan menatapku dengan tatapan terkejut. Aku sendiri mulai merasakan keringat dingin keluar di sekujur tubuhku. Lidahku kelu, sama sekali tidak bisa mengeluarkan suara apapun . Ada apa ini? Aku tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya. Rin kemudian turun dari tangga kecil itu dan mengambil buku-buku yang kujatuhkan barusan, namun matanya terus menatapku. Kemudian secara tiba-tiba, tubuhku berhenti bergetar dan aku mulai bisa menggerakkan tubuhku seperti biasa. Rin sudah tidak lagi menatapku, dan ia tetap melanjutkan menyusun buku-bukunya ke dalam rak. Aku menelan ludahku sebagai tanda bersiap, kemudian aku kembali membantu Rin menyusun buku-bukunya. Kami berdua tetap bekerja dalam diam sampai semua buku sudah masuk ke dalam raknya.


Aku menghela napas ketika selesai menyusun PC milik Rin. Aku dengan sukarela bersedia menyusunnya karena tidak terbiasa melihat anak perempuan mengutak-atik barang elektronik. Rin sendiri tertidur di tempat tidurnya, kelelahan menyusun buku-bukunya yang sangat banyak itu ke dalam rak. Aku lalu beranjak, dan meninggalkan Rin yang tertidur, menuju dapur untuk menyiapkan makan siang un tuk kami berdua. Lemari esku tidak memiliki persediaan makanan, yang ada hanyalah telur, memaksaku untuk membuat dua porsi oyakodon.

Begitu makananku dan Rin siap, aku segera mengetuk kamar Rin, menyuruhnya untuk bangun dari tidur. Rin sama sekali tidak merespon, membuatku harus masuk ke dalam kamarnya. Rin masih terlelap di atas tempat tidurnya sambil memeluk boneka kelinci kesayangannya. Aku kemudian mendekatkan wajahku ke wajahnya, berusaha untuk melihat wajahnya yang kini tertidur lebih dekat. Aku menyibakkan rambutnya yang menghalangi wajahnya, Rin jauh lebih manis dari yang kubayangkan.
"Rin, bangunlah... Ini sudah waktunya untuk makan siang," ujarku seraya menggerakkan tubuh Rin.
"...Hmm..." Rin mulai membuka matanya dengan perlahan. Secara refleks aku langsung menjauhkan wajahku dari wajahnya. Rin kemudian mengucek matanya secara perlahan dan beranjak dari tempat tidur. Aku dan dia segera menuju ruang tengah, menyantap makanan kami.

Ketika sedang menyantap makananku, aku tiba-tiba teringat akan Neru. Mungkin aku harus menghubunginya nanti. Aku kemudian mempercepat makanku.
"Rin, tidak apa kan kalau kau yang membereskannya?" Tanyaku. Seperti biasa, Rin hanya mengangguk. Dengan segera aku segera menuju ke kamarku dan mengambil carikan kertas bertuliskan nomor ponsel dan alamat e-mail Neru. Aku dengan cepat memijat nomor ponsel Neru dan segera meneleponnya. Panggilanku kemudian diangkat.
"Halo?" Neru menyapa.
"Halo, Neru? Ini aku Len," sapaku.
"Iya ini aku Neru. Ada apa Len?" Tanya Neru dari seberang sana.
"Err... aku ingin bertanya soal Rin, ia tidak mengerti moji ya?" Kataku.
"Ah, haha. Kau benar Len, Rin memang tidak mengerti moji," balas Neru.
"Selain itu... sebenarnya aku ingin bertanya, sikap Rin aneh sekali, ia tidak akan berbicara kalau tidak ditanya dan menatap orang lain dengan tatapan kosong. Kau tahu sesuatu Neru?" Tanyaku. Diam sejenak.
"Ah... haha... apa maksudmu, Len? Mungkin itu hanya perasaanmu saja! Oh iya, kamu belikan dia ponsel ya, aku lupa membelikannya kemarin. Setelah itu jangan lupa e-mail nomor ponsel dan alamat e-mailnya kepadaku ya!" Ujar Neru kemudian ia langsung memutuskan panggilan. Neru... dia tidak menjawab pertanyaanku. Aku merasa Neru menyembunyikan sesuatu tentang Rin. Mungkin saja aku tidak sepatutnya untuk tahu hal itu, dan memutuskan untuk tidak menanyakannya lebih jauh.

Tetap saja aku tidak bisa menyembunyikan rasa penasaranku akan Rin. Maksudku, Rin tidak seperti anak-anak perempuan pada umumnya yang biasanya memiliki dua hobi, yaitu bersolek dan bergosip. Penampilan Rin biasa saja, bahkan ia terlihat seperti sama sekali tidak bersolek, terlihat dari kulit wajahnya yang berwarna putih dan pucat.

Ketika aku kembali ke ruang tengah, aku mendapati Rin sudah membereskan bekas makan siang kami dan sepertinya ia sudah pergi ke kamarnya. Aku kemudian ingat bahwa lemari es tidak memiliki persediaan, sehingga aku harus pergi ke supermarket. Kuketuk pintu kamar Rin, kemudian ia membukakan pintu kamarnya.
"Rin, aku akan pergi ke supermarket. Apa kau mau menitip sesuatu?" Tanyaku.
"Je...ruk..." jawab Rin dengan suaranya yang lembut. Jeruk lagi? Dia sangat suka dengan jeruk ya?
"Baiklah, untukmu akan kubelikan jeruk yang paling enak!" Kataku seraya tersenyum kepadanya. Kulihat wajahnya sedikit memerah ketika aku bilang 'jeruk yang paling enak'. Aku lalu berpamitan kepadanya dan segera pergi menuju supermarket.


Dalam perjalananku menuju supermarket, aku terus memikirkan peristiwa yang terjadi ketika aku dan Rin sedang merapikan kamar Rin. Aku berusaha membuang pikiran burukku jauh-jauh. Tidak, tidak mungkin mimpi itu berhubungan dengan Rin, kami berdua baru saja saling mengenal.

Sesampaiku di supermarket, aku mulai berbelanja barang-barang yang kubutuhkan. Aku berencana untuk membuat miso shiru dengan tahu, dan karaage untuk makan malam. Setelah mengambil barang-barang yang kubutuhkan, aku pun berjalan menuju konter buah-buahan. Aku kemudian mengambil sesisir pisang, setelah itu mulai memilih jeruk yang kujanjikan kepada Rin sebelumnya. Lalu aku berjalan menuju kasir, dan membayar seluruh belanjaanku.

Begitu sampai ke rumah, aku menemukan Rin yang sedang menatap langit dari pintu kaca menuju beranda. Tubuhnya yang terlihat rapuh bermandikan cahaya matahari sore yang berwarna kemerahan. Aku terpaku, ingin sekali rasanya untuk merekam pemandangan yang sangat indah ini dalam memoriku. Rin menyadari bahwa aku memandanginya, lalu ia menoleh.
"...Len...?" Rin bertanya sambil memandangku melalui mata biru lautnya yang indah namun terlihat seperti tidak hidup itu. Aku tersentak, ini baru pertama kalinya ia memanggil namaku. Rin kemudian berjalan ke arahku, lalu meraih tanganku yang sedang memegang kantong belanjaan.
"Je…ruk?" Rin berkata sambil menggoyangkan tanganku. Ternyata dia hanya ingin meminta jeruk yang kujanjikan.
"Sebentar, aku akan meletakkannya di keranjang, tunggulah," ujarku. Rin kemudian melepaskan pegangannya dari tanganku duduk di sofa. Aku kemudian pergi menuju dapur, dan mulai merapikan barang belanjaan. Tak lupa aku meletakkan jeruk-jeruk milik Rin di keranjang buah.

Aku lalu membawa keranjang buah itu ke ruang tengah, meletakkannya di atas meja. Rin dengan segera mengambilnya. Ia dengan cepat mengupas jeruk itu kemudian melahapnya. Aku hanya bisa tersenyum, melihat tingkahnya yang sangat kekanakkan. Aku menyalakan televisi dan mulai mengganti channel, mencari siaran yang dapat kutonton. Tidak lama, Rin menarik lengan bajuku, seperti menginginkan sesuatu.
"Ada apa, Rin?" Tanyaku. Rin mempererat pegangannya pada lengan bajuku.
"...ofuro…" Katanya dengan canggung.
"Eh? Oh, sebentar aku akan menyiapkannya," ujarku sambil beranjak dari tempat dudukku. Rin lalu mengikutiku kea rah kamar mandi.
"Rin… kau tidak perlu ikut ke kamar mandi…" Kataku dengan malu-malu. Hey, siapa yang tidak malu kalau pergi ke kamar mandi bersama seorang anak perempuan?
Rin tetap diam, seolah mempertahankan keinginannya untuk ikut ke kamar mandi.
"Err… baiklah, aku juga akan memperlihatkanmu bagaimana cara menyiapkan ofuro…" Ucapku, menyerah.

Di kamar mandi, aku mulai menyiapkan semuanya, seperti mengisi ofuro dengan air panas sampai penuh, kemudian menyalakan water heater guna menjaga suhu air dalam ofuro tetap panas. Rin memperhatikanku dengan seksama, seperti seorang murid yang sedang memperhatikan materi yang sedang diberikan oleh gurunya.
"Rin, kau mengerti sekarang?" Tanyaku. Seperti biasa, Rin hanya menjawabku dengan anggukan. Ia kemudian berlari kecil menuju kamarnya, mulai mempersiapkan peralatan mandinya. Aku lalu kembali ke ruang tengah dan menonton televisi.


Tak terasa sudah 45 menit berlalu, mungkin sebaiknya aku juga segera masuk ke dalam ofuro. Rin seharusnya sudah selesai sekarang. Aku pun berjalan menuju ruang cuci, membawa prasangka bahwa Rin sudah selesai mandi. Ketika aku menggeser pintu dan masuk, terlihatlah sebuah pemandangan Rin yang sepertinya baru saja selesai mandi. Rin, dia hanya dibalut oleh sehelai handuk!
"Ma-maafkan aku!" seruku sambil menutupi mataku dan berusaha melindungi diri, karena amarah anak perempuan itu biasanya menakutkan .

Setelah beberapa saat, aku sama sekali tidak merasakan hantaman ataupun cakaran apapun. Dengan ragu, aku mulai membuka mata dan mendapati Rin yang kini telah berpakaian lengkap. Ia menatapku dengan wajah bingung.
"R-Rin, kau tidak marah denganku?" Tanyaku dengan ragu.
"... Kenapa aku harus marah...?" Rin balas bertanya dengan pertanyaan teraneh yang pernah kudengar selama hidupku.
"M-maksudku, aku masuk tanpa permisi dan err... melihatmu... y-yang... err... kau tahu apa maksudku, kan...?" Ujarku. Wajahku terasa sangat panas saat ini.
"...Bukankah hal itu biasa...?" Ia bertanya lagi.
"K-kau ini kan seorang perempuan! Tidak sopan seorang laki-laki melihat perempuan dalam keadaan seperti tadi! Me-memangnya itu sudah biasa bagimu ya?" Kataku terpatah-patah. Ah, ingin sekali rasanya aku membenamkan mukaku ke laut.
"Tidak, lagipula Len-kun adalah anak laki-laki pertama yang aku kenal selain ayah dan keluargaku," Rin berkata. Eh?
Rin kemudian keluar dari ruang cuci dan meninggalkanku sendiri.

Aku masih memikirkan kata-kata Rin. Aku teman laki-laki pertamanya? Entah kenapa aku merasa sangat senang ketika mendengar hal itu. Selama berendam di dalam ofuro, pikiranku sama sekali tidak bisa lepas dari ucapan Rin tadi. Aku merasakan jantungku berdetak sedikit lebih cepat, dan di dalam anganku terdapat wajah polos Rin yang membuat hatiku serasa melayang.

Begitu keluar dari ofuro aku melihat Rin dengan serius membaca sebuah buku berbahasa Jerman. Buku yang tebal dan sangat menyebalkan untuk dibaca menurutku. Namun, Rin terlihat begitu serius dan antusias terhadap buku itu, membuatku penasaran.
"Rin?" sapaku seraya menepuk pundaknya.
Rin menoleh menghadapku dan memandangiku dengan tatapan bingung.
"Kamu sedang membaca buku apa?" Tanyaku.
"Candide..." Rin menjawab sekenanya. Candide? Novel klasik era romantis karya Voltaire yang cukup tidak menarik untuk dibaca bagi anak-anak seumuran kami.
"C-Candide? Wah, aku tidak menyangka anak seumuran kita ada yang membaca novel klasik begitu..." Komentarku.
Rin sendiri hanya diam dan tidak mengacuhkanku dan kembali membaca novel tersebut sampai waktunya makan malam.


Selesai makan malam, Rin dengan serius menatap layar televisi, menonton drama yang sangat cheesy menurutku. Kemudian aku duduk disebelhanya, Rin kemudian menoleh dan menatapku.
"Ada apa, Rin?" Tanyaku dengan bingung.
"Len... pacar itu apa...?" Rin bertanya. Aku tertegun mendengarnya.
"Err... pacar itu... seperti... seseorang yang kita sayangi, orang yang kita sayangi itu juga menyayangi kita... dan memiliki hubungan lebih dari sekedar teman atau sahabat..." Aku berusaha menjelaskan. Sulit sekali menjelaskan definisi tentang hal seperti itu.
"Apa yang mereka lakukan...?" Rin bertanya tentang pertanyaan yang sangat tidak mau aku jawab.
"Mereka... ya, kau tahu melakukan hal-hal yang tidak biasa dilakukan kepada teman atau sahabat... contohnya, err... ber-berciuman..." Aku merasakan sekujur tubuhku memanas.
"Kalau begitu... Len punya pacar?" Seketika, pertanyaan itu terasa begitu menohok dadaku.
"Be-belum..." Jawabku dengan jujur. Aku memang memiliki banyak teman perempuan dan cukup populer di sekolah, tapi mereka hanya sebatas teman saja, tidak lebih.

Ketika drama televisi yang kami tonton itu habis, aku menyadari bahwa Rin telah tertidur pulas di sudut sofa. Mataku terus menatapnya, tidak berkedip barang sedikit pun, seolah-olah tidak ingin menyia-nyiakan sedetik pun untuk melihat malaikat yang tertidur di depanku ini. Dengan hati-hati, aku bergerak memposisikan tubuhku di atas tubuh mungilnya yang terlihat lembut dan berwarna pucat. Jantungku berdetak sangat cepat dan pikiranku mulai bekerja untuk mengetahui apa yang harus aku lakukan. Rin tiba-tiba bergerak dalam tidurnya dan hal itu membuatku sangat terkejut. Secara tidak sengaja, tubuhku menimpa tubuh mungil Rin dan aku merasakan sesuatu yang lembut dalam cengkeramanku.
"...Len...?" Rin memanggilku dengan lemah, merintih kesakitan. Ia tampaknya sudah sadar dari tidurnya.
"R-Rin, m-maafkan aku!" Kataku terbata.
"...Pundakku..." Rin merintih. Kemudian aku menyadari bahwa tanganku mencengkeram pundaknya. Dengan segera aku melepaskan cengkeramanku dan beranjak bangun. Rin kemudian bangun dan memandangiku.
"...Maafkan aku! Aku sungguh-sungguh tidak bermaksud untuk melakukan apapun ketika kau sedang tertidur!" Seruku meminta maaf. Wajahku terasa sangat panas dan aku yakin bahwa wajahku ini sudah semerah tomat.
"...Aku melihatnya di televisi, mereka melakukan hal yang sama... Begitu pula dengan Candide dan Nona Cunegonde..." Rin berkata.
"Be-benarkah?" Tanyaku. Sebenarnya aku sudah tahu, namun aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan untuk merespon pernyataan Rin tadi.
"Mereka melakukannya karena mereka sepasang kekasih... pacar... Len, apakah kau... pacarku?" Rin bertanya dengan polosnya.
Aku hanya bisa terdiam. Kami baru saja bertemu satu sama lain selama dua hari, tidak mungkin kalau kami langsung menjadi sepasang kekasih.
"...Len...?" Rin memanggilku.
"Rin... aku ini bukan siapa-siapamu, teman saja sepertinya bukan, apalagi kekasihku..." Aku menarik napas, "tetapi Rin, suatu saat nanti apabila hatiku ingin terus bersamamu, aku tidak akan membiarkanmu pergi dari sisiku. Aku... akan menangkap hatimu dengan tanganku sendiri. Aku berjanji jika saat itu tiba, kau akan jadi milikku."
Rin lanngsung membelalakkan matanya, lalu segera pergi ke kamarnya tanpa mengucapkan sepatah kata apapun.

Aku menghela napas panjang, masih tidak percaya dengan ucapanku sendiri. Apa aku sudah gila? Mendapatkan Rin? Jangan bercanda! Jantungku kembali berdebar. Lagipula, aku suka pada Rin? Kami baru saja saling mengenal. Aku menatap pintu kamar Rin yang kini telah tertutup rapat. Jatuh cinta pada malam pertama, hah? Dalam benakku semuanya dipenuhi oleh Rin, dan aku sama sekali tidak bisa mengusirnya.

Seorang laki-laki sejati harus menepati janjinya, semustahil apapun itu. Rin, aku... aku akan menepati ucapanku sendiri...


A/N: Akhirnya Chapter II selesai. Setelah sebulan lebih mengalami hibernasi yang disebabkan oleh Ujian Nasional, akhirnya saya sempat untuk meng-update cerita ini. Untuk semua yang sudah review, alert, dan favorite kan cerita ini saya juga mengucapkan terima kasih... ;_;

Sekali lagi maafkan kekakuan saya dalam cerita ini (maklum saya di RL juga sangat kaku). ;_;


Notes: Novel satir Candide karya Voltaire tahun 1759, bercerita tentang Candide yang selalu optimis, ia mendapatkan apa yang ia harapkan, namun tidak ada yang sempurna. Ada yang baca? Waktu tugas review novel di sekolah, saya memilih novel ini untuk di-review.


For anyone who reviewed the first chapter, thank you so much, I really appreciate it...

ReiyKa e: Mereka itu paling imut kalau lagi berdua, kan saling melengkapi satu sama lain... *batting eyelashes ala YM*

Yuuki Arakawa07, Rin 'aichii' Kagamine, Rena Kagamine e: saya beberkan, narasinya Len yang hiperbola, jadi kelihatannya Rin sangat manis dan imut! Kalau tidak ada Len tidak mungkin Rin bisa semanis dan seimut itu. *Len tersedak di suatu tempat

Arasa Koneko-chan e: Ha-habisnya saya nggak jago nulis cerita yang bergaya pop dengan bahasa gaul... Di rumahku hanya ada novel-novel terjemahan yang sudah usang...

Once again, a review will motivate me to continue this story!


Listening to:Sphere (Spring is here Album), Shimamiya Eiko (Higurashi no Naku Koro ni, Naraku no Hana, Super scription of data), Ayane (DOLPHIN JET), Toyosaki Aki (Dill, Boku o Sagashite, Harukaze SHUN PU Single), Shimoda Asami (Prism Cover Album), Okui Masami (Rondo –revolution, Toki ni Ai wa..., truth –cover-, TRUST), Chihara Minori (Rondo –revolution -cover-, Paradise Lost), Hidamari-sou (Dekiru Kanatte , ? de Wasshoi, Sketch Switch), marble (Sakura Sakura Saku ~Ano Hi Kimi o Matsu Sora to Onaji de~)