Futari no Waltz
Aqua Rain
Disclaimer:The site is named fanfiction, so VOCALOID is absolutely not mine.
Futari no Waltz III: Realm of the Two
Kau... kau yang telah meraih tanganku, berbicaralah! Hentikan tawamu!
Kau...
Mengapa kau hanya berlari seraya menarikku jauh dari kegelapan?
Tanganku berusaha untuk menggapai langit-langit kamar yang kosong begitu aku membuka mataku. Aku kembali memimpikan hal aneh. Hanya saja kali ini aku merasa mampu mengingat mimpi itu.
Aku bergegas menuju dapur, menyiapkan sarapan. Hari ini adalah hari pertama di tahun ajaran baru. Tentu saja perutku tidak boleh melolong ketika aku sedang menebarkan pesonaku di kalangan anak baru. Dua telur mata sapi dan dua potong roti, serta dua gelas susu aku hidangkan di atas meja. Aku menoleh ke arah kamar anak perempuan yang kini tinggal bersamaku. Apa ia belum bangun? Aku lalu mendatangi kamarnya dan mengetuk pintunya.
"Rin, ayo bangun! Ini hari pertama kita sekolah, jangan sampai telat!" Seruku sambil mengetuk pintu kamarnya. Tak ada jawaban. Aku mengetuk pintu kamarnya lebih keras dari sebelumnya, namun tetap tidak ada jawaban.
Aku memutar gagang pintu kamar Rin yang ternyata tidak terkunci. Dengan hati-hati, aku membuka pintu kamarnya kemudian masuk ke dalam. Kamarnya gelap, hanya sedikit cahaya matahari yang masuk. Sepertinya Rin menggunakan gorden yang tidak tembus cahaya. Di tempat tidur, aku melihat seorang anak perempuan yang tertidur lelap. Sambil menghela napas, aku mendatanginya.
"Rin, ayo bangun," ujarku seraya mengguncangkan tubuh mungil Rin.
Rin membuka matanya secara perlahan. Wajahnya ketika bangun tidur terlihat imut.
Tiba-tiba, aku teringat kejadian semalam, kejadian memalukan antara diriku dan Rin, setidaknya menurutku. Mukaku tiba-tiba terasa panas, dan dengan segera aku berpaling, tidak mau Rin melihat wajahku. Aku merasa Rin sedang memperhatikanku, kemudian aku dengan hati-hati melirikkan mataku ke arahnya.
"Len-kun, kau aneh," ujar Rin sekenanya.
"H-hee? A-apa maksudmu?" tanyaku gugup.
Rin tidak menjawab pertanyaanku. Ia bangun dari tempat tidurnya sambil terus menatapku. Tatapan dari matanya yang sayu karena baru saja bangun dari tidurnya terasa tajam bagiku.
"A-ada apa?" tanyaku yang masih gugup.
"Aku mau ganti baju, bisakah Len-kun keluar?" ujarnya.
"He? A-ah, iya! Baiklah, aku tunggu kau di meja makan ya!" Dengan segera aku melangkah keluar kamarnya sambil menutup wajahku yang terasa panas. Len, kau memalukan sekali!
Ia terus menarikku keluar dari kegelapan, menuju secercah cahaya yang aku lihat jauh berada di ujung. Namun, cahaya itu tetap jauh dari pandangan, tak sedikitpun mendekat. Tak ada yang bisa kurasakan, kecuali genggaman tangan yang terasa hangat. Tak ada yang bisa kudengar, kecuali tawa yang keluar dari mulut orang yang menarikku ini.
Tiba-tiba, ia melepaskan genggamannya. Aku tak bisa melihat ia sekarang berada di mana, namun setitik cahaya itu semakin lama semakin mendekat dan menyilaukan mataku. Suara tawa kembali terdengar di telingaku. Cahaya itu membutakan mataku. Aku merasakan seseorang secara tiba-tiba mendorongku dari belakang. Tubuhku melangkah maju menuju cahaya.
Aku melihat seorang anak perempuan yang terus berlari ke depan, suara tawanya yang riang terus memenuhi telingaku. Tanpa pikir panjang, aku memutuskan untuk mengejarnya, memperpendek jarak di antara kami. Tanganku berusaha untuk mencapainya. Terengah-engah, aku terus mengulurkan tanganku, berusaha untuk meraih lengannya. Akhirnya, aku berhasil meraih lengannya. Ia berhenti berlari, kemudian menoleh ke arahku...
"Len? Hei, bisa-bisanya kamu tertidur di saat upacara pembukaan tahun ajaran baru!" Piko, teman sekelasku berusaha membangunkanku seraya mengguncangkan tubuhku.
Aku terdiam, apa yang kumimpikan tadi? Entah mengapa aku mengingat semua kejadian dalam mimpi itu. Mimpi itu terasa sangat aneh bagiku. Maksudku, aku pernah dengar bahwa kita bermimpi tentang seorang dan kita berhasil untuk mengingat mimpi itu, berarti orang itu ditakdirkan untuk bersama kita. Siapa yang mau ditakdirkan untuk bersama dengan anak kecil?
Piko terus melihat ke arahku dan terlihat kesal. Aku lupa, ia adalah ketua kelas kami. Pantas saja ia terlihat kesal ketika aku tertidur. Mataku berusaha mencari Rin, sedikit khawatir karena ia sama sekali tidak mengenal orang-orang yang berada di sini. Aku mendapati dirinya duduk di sebelah Hatsune Miku, salah seorang temanku. Aku mengernyitkan mataku, berusaha untuk melihatnya lebih jelas... Hei, dia juga tertidur!
"Len!" Piko berseru dengan suara berbisik. Wajahnya terlihat sangat kesal sekarang.
"Mengapa kau hanya memarahiku? Lihat, Ri- maksudku Akita-san juga tertidur di depan!" ujarku berusaha membela diri.
"... Dia duduk jauh dari jangkauanku. Lagipula untuk murid asing yang menggunakan bahasa Jepang sebagai bahasa kedua, aku yakin ia kesulitan untuk menangkap apa yang dikatakan kepala sekolah," Piko menjelaskan teorinya. Teori macam apa itu...
Pidato kepala sekolah yang terasa sangat panjang itu akhirnya selesai. Aku dan Piko kembali ke kelas kami. Aku sama sekali tidak melihat Rin di kelas, aku pikir ia bersama Hatsune, namun Hatsune sudah berada di kelas. Merasa khawatir, aku bangun dari kursiku, memutuskan untuk mencari Rin.
"Mau ke mana kamu?" tanya Piko penuh dengan curiga.
"Toilet," jawabku.
"Kamu mau mencari Akita-san kan? Berusaha mencuri start ya? Apa yang akan terjadi pada dirimu kalau aku mengatakan hal ini pada yang lain?" ujarnya sambil tersenyum iseng. Piko, aku sudah mencuri start dari dua hari yang lalu.
"Terserah apa katamu, yang jelas aku mau ke toilet," kataku seraya pergi keluar dari kelas.
Aku sangat takut terjadi apabila terjadi sesuatu kepada Rin. Neru sudah percaya kepadaku untuk menjaga Rin. Aku mengelilingi bangunan sekolah namun tidak berhasil menemukannya. Putus asa, dengan lunglai aku berjalan menuju belakang auditorium, satu-satunya tempat yang belum kudatangi, namun hasilnya tetap nihil. Aku melihat sebuah lubang di pagar kawat.
Jangan-jangan Rin masuk ke dalam sini, pikirku.
Dengan hati-hati aku masuk ke dalam lubang tersebut. Aku ingat bahwa satu-satunya bangunan di bukit ini adalah sekolah kami, jadi wilayah lainnya masih berupa hutan. Aku sedikit merasa bodoh karena baru saja menyadari kemungkinan yang sangat kecil untuk Rin datang ke sini.
Harga diri yang terlalu tinggi untuk kembali ke kelas tanpa menghasilkan apapun, membuatku terus merangkak di balik semak belukar sampai akhirnya aku keluar. Aku melihat lurus ke depan dan menemukan Rin yang sedang duduk terdiam.
"Rin! Apa yang kamu lakukan di sini? Kau membuatku khawatir!" Seruku dengan nada kesal.
Rin kemudian menoleh dan memandangku. Matanya terlihat ketakutan dan air matanya mengalir.
"Len-kun... apa yang harus aku lakukan? Aku mengejar anak ini... lalu ia menunjukkan sesuatu yang tidak ingin kulihat..." Rin berkata lemah, di pangkuannya aku melihat seekor anak kucing yang tengah tertidur. Rin kemudian kembali memandang lurus.
Aku mendekati Rin dan berusaha melihat apa yang sedang dilihatnya.
Seekor kucing dewasa terlihat kaku dan membiru. Rin hanya terpaku, seolah-olah tidak mau untuk melihat lebih dekat. Ia terlihat sangat sedih, namun juga ketakutan.
"Sebaiknya kita kubur saja," ujarku, seraya mendekati bangkai kucing itu. Rin kemudian berusaha untuk menghapus air matanya dan mendekatiku.
"...B-bagaimana caranya? T-tidak ada cangkul ataupun sekop di sini..." Rin bertanya pelan. Aku tersenyum, mencoba untuk memberi tanda kepada Rin bahwa aku mampu untuk melakukan hal ini tanpa cangkul ataupun sekop.
Aku melihat sekitarku, berusaha mencari sesuatu yang bisa kugunakan. Aku melihat sebuah dahan yang berbentuk layaknya tongkat tidak jauh dari tempatku berdiri. Dengan segera, aku mengambil dahan itu dan mulai mencari tempat yang cocok untuk menggali. Tanah di bawah pohon ek besar cukup lunak dan teduh menurutku, membuatku memutuskan untuk menggali di sana. Dengan sekuat tenaga aku mulai menggali dengan dahan yang kupegang. Ternyata melakukan hal ini tidak semudah perkiraanku.
Telapak tanganku terasa perih, namun aku terus menggali. Rin hanya memandangiku tanpa berusaha membantu. Matanya terlihat sembap, akibat menangis. Setelah lubang yang kugali sudah cukup besar dan dalam, aku menoleh pada Rin.
"Ayo kita kubur," ujarku seraya tersenyum lemah.
Aku kemudian mengeluarkan sapu tanganku dan membalutkannya pada bangkai kucing tersebut. Dengan hati-hati, aku meletakkan kucing tersebut dalam liang, kemudian menguburnya dengan segera. Dahan yang kupakai untuk menggali aku patahkan, untuk kemudian ditancapkan.
Anak kucing yang berada dalam pelukan Rin kemudian mengeong. Ia terlihat senang dan seperti ingin berterima kasih karena telah menguburkan temannya, atau mungkin induknya. Ia langsung melepaskan diri dari Rin dan bermain di kakiku. Aku tertawa kecil melihat tingkahnya.
Rin mendekatiku, kemudian mengeluarkan sapu tangannya. Ia berusaha untuk menghapus peluhku. Entah mengapa aku merasa sangat senang, merasa bahwa jarak di antara kami semakin dekat. Setelahnya, kami berdua diam, terhanyut dalam suasana tenang dan pemandangan indah di hutan yang sepi ini.
Aku dan Rin kembali ke wilayah sekolah. Rin terus memeluk anak kucing yang ia temukan, seperti tidak ingin berpisah dengannya. Tak terasa kami telah melewatkan dua jam di dalam hutan.
"Ayo kita kembali ke kelas," ajakku.
Rin hanya mengangguk. Ia kemudian melepaskan anak kucing yang berada di dalam dekapannya, yang kemudian menghilang ke dalam hutan. Kami berdua berjalan melewati lapangan olahraga. Aku mencuci tangan dan mukaku yang sangat kotor, sedangkan Rin hanya mencuci tangannya.
Kami berdua kemudian kembali ke kelas. Seluruh penghuni kelas mengarahkan pandangan mereka pada kami berdua. Aku mencoba mengabaikan pandangan mereka dan melihat sekeliling kelas, tidak ada guru. Rin duduk di sebelahku, mengambil buku berbahasa asing dari dalam tasnya dan mulai membaca, tidak peduli pada pandangan yang tertuju padanya.
Para anak laki-laki langsung mengelilingiku.
"Apa yang kamu lakukan dengan Akita, Kagamine?" Tanya seorang teman sekelasku.
"Tidak, tidak ada," jawabku, berusaha untuk tetap tenang.
"Tapi kalian berdua pergi dalam waktu yang cukup lama! Dan kalian berdua datang sambil bergandeng tangan!Pasti kalian habis melakukan 'ini'... dan 'itu''!" Honne, seorang temanku berkata dengan suara lantang. Seluruh siswa di kelas langsung menatapku dengan tajam, kecuali Rin yang tetap asik dengan bukunya. Bergandeng tangan? Rin yang memegangi ujung lengan blazer-ku!
"Ja-jangan berkata sembarangan! Aku dan Rin– maksudku Akita-san tidak memiliki hubungan apapun!" Seruku setengah berteriak, berusaha menepis tuduhan mereka.
"Rin kau bilang? Bahkan kau menyebutnya dengan nama kecilnya!" Piko berusaha untuk memanaskan suasana. Kupikir kau adalah ketua kelas yang baik, Piko.
Aku benar-benar tidak tahu harus menjawab apa. Mereka semua menghujani diriku dengan pertanyaan yang bahkan tak mampu lagi kutangkap.
Kemudian aku mendengar suara anak perempuan yang aku kenali.
"Akita-san, apa hubunganmu dengan Kagamine-kun?" Suara itu bertanya kepada Rin. Ah, aku tahu suara itu! Itu suara Hatsune!
"...Tidak ada..." Rin menjawab sekenanya. Aku menghela napas lega. Jawaban yang bagus, Rin!
"Sungguh? Maksudku, tadi kamu dan Kagamine-kun datang berdua dan kalian bergandengan tangan –bukan maksudku kamu memegang ujung lengan blazer Kagamine-kun," tanya Hatsune dengan penuh rasa ingin tahu.
"...Aku memegangi ujung lengan blazer Len-kun karena takut tersesat,"jawab Rin dengan tenang.
Hatsune kemudian memandangiku sesaat sebelum kembali ke mejanya, sementara Rin kembali tenggelam dalam dunianya.
Hari pertama masuk sekolah selesai lebih cepat dari biasanya. Aku dan Rin kembali menuju hutan di belakang sekolah. Anak kucing yang tadi bersama kami terlihat tertidur di dekat makam kucing yang tadi kami kubur. Rin meletakkan sekaleng ikan sardin di atas makam itu, seakan-akan memberikan persembahan kepada kucing itu. Aku dan Rin duduk bersebelahan.
"Bagaimana hari pertamamu di sekolah, Rin?" Tanyaku, mencoba untuk membuka percakapan.
"...Biasa saja..." jawab Rin.
"Benarkah? Kalau kamu merasa kesulitan, bilang padaku ya? Aku pasti akan membantumu," kataku.
Rin hanya mengangguk. Tidak tahu apalagi yang ingin kubicarakan, kami berdua kembali duduk dalam diam.
Rin memandang lurus makam kucing tersebut.
"...Len-kun... apa yang akan terjadi setelah kita mati?" tanya Rin.
"Huh? Aku tidak tahu. Ada banyak teori tentang hal itu, tapi tetap saja tidak ada yang tahu kebenarannya," jawabku. Pandangan Rin tetap lurus menuju makam tersebut.
"...Aku ingin mati..." ujarnya. Aku membelalakkan mata, tidak percaya dengan apa yang ia katakan. Dia mau bunuh diri ya?
"H-hah? Benarkah?" Tanyaku tidak percaya.
"...Tidak... tidak benar-benar ingin mati... hanya saja ingin tahu bagaimana rasanya mati..." Rin berkata sambil mengalihkan tatapannya ke arahku. Matanya berubah, tatapannya menjadi kosong. Tiba-tiba, dadaku terasa sakit.
Anak itu menolehkan wajahnya ke arahku, namun aku sama sekali tidak bisa melihat matanya.
Aku menekan dadaku, mencoba menahan rasa sakit yang tiba-tiba kurasakan. Lidahku membeku, dan aku sama sekali tidak mampu untuk mengeluarkan suara apapun.
Sebuah senyum tersungging dari bibir mungilnya, kemudian ia...
Aku meraih pundak Rin dan meremasnya dengan sekuat tenaga. Rin merintih kesakitan dan berusaha melepaskan dirinya dari cengkeramanku. Rasa sakit di dadaku sedikit-sedikit menghilang. Air mata menggenangi mata Rin yang merintih kesakitan karena cengkeramanku. Mengapa tubuhku selalu merasakan sesuatu yang tidak mengenakan apabila ia menatapku?
Di luar kesadaranku aku langsung memeluk Rin dengan erat. Rin hanya diam, tidak berusaha melepaskan diri, namun juga tidak mengembalikan pelukanku. Begitu kesadaranku kembali, dengan cepat aku melepaskan pelukanku. Gurat merah terlihat di pipi Rin.
"M-maaf...ayo kita pulang saja..." kataku dengan penuh penyesalan.
Rin hanya mengangguk tanpa mengeluarkan suara apapun.
Kami berdua pulang tanpa mengucapkan sepatah kata apapun. Rin berjalan di belakangku, seraya menunduk, mengikuti bayanganku.
Aku sama sekali tidak bersemangat untuk melakukan apapun ketika aku dan Rin sampai di rumah. Kami berdua hanya duduk diam di ruang tengah tanpa mengucapkan sepatah kata apapun sampai matahari terbenam. Perutku sudah berbunyi karena aku tidak makan siang. Aku sama sekali tidak berniat untuk memasak, sehingga aku hanya memasak ramen instan. Aku ingat Rin juga tidak makan siang, kemudian aku memasak satu lagi ramen instan untuknya.
Setelah makan, kami tetap duduk dalam diam. Dengan hati-hati, aku melirikkan mataku ke arah Rin yang sedang membaca buku.
"R-Rin?" Dengan ragu aku memanggil namanya.
Rin mengalihkan pandangannya ke arahku, "Ada apa?" Tanyanya.
"Bolehkah... aku bertanya dua hal padamu?" Aku balik bertanya dengan ragu-ragu.
"... Silahkan saja," jawabnya.
"Mengapa kamu bisa masuk ke dalam hutan itu?" Tanyaku.
Rin kemudian terdiam sejenak.
"Dia memanggilku memintaku untuk ikut dengannya," jawab Rin sambil terus membaca bukunya.
"Kucing tidak mampu berbicara, kecuali kau memiliki kemampuan untuk mengerti bahasa binatang," kataku, tidak puas dengan jawaban yang ia berikan.
"Aku tidak mengerti apa yang dia sampaikan, tapi aku tahu kalau dia ingin aku mengikutinya," jawab Rin.
"Satu lagi, mengapa kamu suka memandangku dengan tatapan yang menjijikan? Kamu aneh," tanyaku dengan suara merendahkan.
Rin menatapku namun tidak menjawab pertanyaanku. Ruangan seketika menjadi sunyi senyap dan dengan cepat suasana di dalamnya berubah, terasa berat.
Tubuhku tiba-tiba berkeringat dingin dan kepalaku terasa sangat sakit. Benar dugaanku, aku selalu mengalami hal yang tidak mengenakan apabila ia menatapku dengan tatapan kosongnya.
"Jadi... kamu juga berpikir seperti itu, Len-kun?" tanya Rin yang tiba-tiba sudah berdiri di depanku. Kepalaku terasa sangat sakit sehingga aku tidak mampu untuk mengeluarkan sepatah kata apapun.
"Kamu... juga pasti membenciku, kan?" Suaranya terdengar sedih, seperti menangis.
Suara Rin terasa seperti menusuk jantungku. Aku menarik lengannya dan memeluknya. Rasa sakit di kepalaku berangsur-angsur menghilang.
Rin membenamkan wajahnya di dadaku sambil terus memelukku dengan erat.
"Maafkan aku..." ucapku dengan sungguh-sungguh.
Ia tidak menjawab permintaan maafku, hanya pelukannya yang terasa semakin erat. Tubuhnya bergetar dan terlihat seperti menggigil. Aku memperdalam pelukanku, mencoba untuk memberikannya kehangatan yang kumiliki.
"Len-kun... kamu membenciku, kan...?" Rin bertanya dengan pelan.
"...Tidak..." jawabku.
Rin menghadap ke atas, menatap wajahku dengan mata yang terlihat berkaca-kaca, seperti ingin menangis. Napasnya terasa sekali di leherku.
Aku mencoba untuk membalas tatapan Rin, namun sedikit merasa takut. Tak terjadi apa-apa ketika aku membalas tatapannya. Dengan kesadaran penuh, aku mendekatkan wajahku ke wajahnya. Hati-hati, aku menempelkan dahiku di dahinya. Mata kami saling menatap, kehangatan menjalar di seluruh bagian tubuhku yang bersentuhan dengannya. Entah mengapa aku ingin untuk merasakan kehangatan ini dalam kesunyian.
Cobaan terberatku adalah ketika melihat bibir mungilnya yang membentuk huruf o. Bukan hal sulit bagiku apabila aku ingin mencium bibirnya sekarang, namun aku tidak merasa percaya diri kalau Rin akan menerimanya. Untuk sementara, aku sama sekali tidak membuat gerakan apapun.
Kami baru saja mengenal satu sama lain selama tiga hari. Akan tetapi, apa yang kami lakukan sekarang sama sekali bukanlah hal yang akan dilakukan oleh seseorang yang baru kenal tiga hari. Hubungan kami sama sekali tidak terasa alami.
Napas Rin yang terengah-engah begitu terasa di hidungku. Wajahnya memerah dan terasa panas.
"Rin..." panggilku berbisik.
Rin tidak menjawab panggilanku. Ia hanya mengalihkan tatapannya dariku, kini menghadap ke bawah. Aku mencoba mendekatkan bibirku ke bibirnya, tidak ada perlawanan.
"Maaf..." bisikku, sebelum menempelkan bibirku ke miliknya.
Rin sama sekali tidak menolak, namun juga tidak membalasku. Aku merasakan bibirnya sepuas hatiku, beranggapan bahwa aku akan memiliki Rin seutuhnya. Meski bukan saat ini, aku yakin akulah yang akan memiliki Rin.
Sebenarnya, hubungan kami itu hubungan yang seperti apa?
Ia... menjadi debu.
A/N: Saya minta maaf sebesar-besarnya atas keterlambatan ini. Hal ini disebabkan karena saya sibuk di RL dan sudah mulai menjadi mahasiswa. Selain itu banyak sekali hal yang terjadi sehingga mental saya tertekan. MegaMan Legends 3 dibatalkan, harddisk saya yang secara tiba-tiba sudah penuh, dan yang paling penting, saya menyerahkan seluruh jiwa saya kepada Kunihiko Ikuhara dan Mawaru Penguindrum selama bulan Juli sampai dengan bulan Desember. Meski sempat meng-update satu fanfic, cerita itu sudah ada dan saya hanya perlu sedikit memperbaikinya.
Sekali terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua yang sudah review, alert, atau bahkan menjadikan cerita ini sebagai favorite.
ReiyKa e: Nagato Yuki? Agak berbeda sih sebenarnya, karena Rin memiliki sifat yang lebih manusiawi dibanding Nagato. Sebenarnya konsep sifat Rin sudah matang dari dulu, cuma saya berniat untuk tidak mengatakan apapun secara eksplisit, jadinya lebih berupa hint dan spekulasi.
Rin . aichii e: Kurang enter, baiklah saya perbaiki di bab ini. Saya baru berikan sedikit hint, bagaimana kalau mencoba berspekulasi soal sifat Rin? Yang jelas saya membuat sifat Rin seperti tidak konsisten di setiap bab.
Dio anime lover e: Saya sengaja membuat Rin menjadi pendiam dan misterius, untuk sesuatu yang sudah direncanakan. Isn't it electrifying?
arasa koneko e: Wah, benarkah tidak terasa kaku? Robot? Tenang saja, saya tidak minat bikin kisah percintaan yang melibatkan robot, jadi Rin yang jelas 100% manusia.
Sekali terima kasih untuk review-nya ya!
Listening to:CLANNAD Original Soundtrack (Key), Sorarado (riya, Key), Sorarado Append (riya, Key), -Memento- (Key), MABINOGI (Higuchi Hideki, Key), Gekijouban CLANNAD Soundtrack (Inomata Yoshichika), Yakusoku (Lia), Meg Mell/Dango Daikazoku (eufonius, Chata), Toki o Kizamu Uta/TORCH (Lia), Meg Mell –frequency = e Ver. (eufonius), Toki o Kizamu Uta/TORCH –Piano Arrange Disc- (Mizutsuki Ryo), HHH (Triple H), Nornir/Shounen yo Ware ni Kaere (Yakushimaru Etsuko), Mawaru Penguindrum OST (Hashimoto Yukari), Heavenly Days (CooRie), Kumori GARASU no Mukou (Hikita Kaori), Chizu Sanpo (kukui).
