Futari no Waltz
Aqua Rain
Disclaimer: Vocaloid is not mine.
Futari no Waltz IV: Concerns of the Two
Tidak... sama sekali tidak ada apapun di sini... Dia meninggalkanku sendiri!
Aku terbangun dan menemukan Rin yang tertidur lelap di depanku. Sedikit merasa sakit kepala, aku mencoba mengingat apa yang terjadi di antara kami berdua.
Rin sama sekali tidak menolak, namun juga tidak membalasku. Aku merasakan bibirnya sepuas hatiku... hingga aku sadar bahwa ia tertidur.
Sadar dengan apa yang telah aku lakukan, aku menjauh darinya, mukaku terasa panas. Aku merasa senang sekaligus kecewa. Aku senang karena Rin tidak mengetahui hal memalukan apa yang aku lakukan padanya, namun aku juga merasa kecewa, kecewa karena perasaanku tidak sampai kepadanya.
Perasaan? Perasaan apa? Memang aku punya perasaan apa terhadapnya?
Aku benar-benar merasa seperti orang bodoh, hingga ingin rasanya aku membenturkan kepalaku di dinding. Bayangkan saja, aku sudah berani untuk mengambil langkah, namun berhasil 'dimentahkan' secara tidak sengaja olehnya. Aku lupa kalau dia adalah Akita Rin, seseorang yang tinggal bersamaku, tetapi aku sama sekali tidak mengetahui apapun tentang dirinya.
Aku melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Aku memandang Rin yang tertidur lelap di atas karpet.
"...Rin... ayo bangun, tidurlah di kamarmu..." panggilku, berusaha untuk membangunkannya.
Tidak ada jawaban. Sepertinya anak ini memang sulit untuk dibangunkan.
"Rin!" Panggilku lagi, kali ini lebih keras.
Tetap tidak ada jawaban. Sebenarnya aku bisa saja mengangkatnya dan membawanya ke kamarnya, hanya saja aku tidak ingin menyentuhnya. Tiba-tiba aku mendapatkan ide untuk membangunkannya. Kudekatkan bibirku ke telinganya, dan dengan lembut aku tiup telinganya. Tubuh Rin tiba-tiba menggigil, sepertinya ideku berhasil. Takut ketahuan, aku menjauhkan diriku dari Rin.
Rin lalu bangun dan terlihat bingung sambil memegangi telinganya. Aku berpura-pura tidak tahu.
"Aku... merasakan ada seseorang yang meniup telingaku..." kata Rin, sepertinya ia masih setengah sadar.
"He? Kurasa angin masuk ke dalam telingamu, malam ini dingin sekali. Sebaiknya kau tidur di kamarmu," ujarku dengan alasan yang dibuat-buat, sambil berpura-pura menuangkan air ke dalam gelas.
Rin yang terlihat sangat mengantuk, langsung pergi menuju kamarnya tanpa mengatakan apapun. Aku mendapati diriku sendiri memperhatikan Rin yang pergi menuju kamarnya. Tiba-tiba aku merasa haus, dan dengan segera aku meneguk air yang aku tuangkan ke dalam gelas tadi.
Aku... berada di mana? Aku... apakah aku sendiri lagi?
Tubuhku berkeringat sangat banyak ketika aku membuka mataku. Kepalaku terasa sakit dan tubuhku sangat sulit digerakkan. Napasku terengah-engah. Aku berusaha mengingat mimpiku, namun tidak bisa. Kepalaku terasa sangat sakit untuk mengingat apapun. Tiba-tiba, seseorang mengetuk pintu kamarku.
"Len-kun? Apakah kamu sudah bangun?" Suara kecil yang berasal dari balik pintu memanggilku.
"..." Aku tidak mampu menjawab panggilannya.
"Len-kun? Aku masuk ke kamarmu, ya?" Suara itu berkata, tak lama kemudian pintu kamarku terbuka. Sesosok perempuan mungil dengan warna mata dan rambut yang sama denganku masuk ke dalam kamarku.
"Len-kun... kau tidak apa-apa?" Tanya anak perempuan yang bernama Rin itu dengan nada sedikit khawatir. Tentu saja terjadi apa-apa padaku!
"Err... ya... kau lihat, aku merasa tidak enak badan. Tubuhku terasa berat dan kepalaku juga terasa sakit," kataku lirih.
"Bisa bangun? Hari ini pergi ke sekolah?" Rin bertanya lagi. Entah mengapa hari ini ia terlihat... lebih hidup.
"Sepertinya tidak bisa..." ujarku.
"Mau aku buatkan sesuatu untukmu?" Rin bertanya untuk ketiga kali seraya menempelkan telapak tangannya ke keningku. Aku merasa sedikit senang karena ia memperhatikanku.
"Ja-jangan! Nanti kau telat ke sekolah!" teriakku, membuatku tubuhku semakin berat dalam seketika.
"Tapi... Len-kun sakit... kalau begitu aku juga tidak usah masuk sekolah..." kata Rin dengan polos.
"Hee? Jangan, kau harus masuk sekolah. Ingat hari ini baru hari kedua kita masuk sekolah..." aku berkata, mencoba untuk menasihatinya.
"Nanti... siapa yang merawat Len-kun...?" Rin bertanya. Aku bingung menjawab pertanyaannya. Mengalihkan pandanganku darinya, aku mulai berpikir dengan cepat.
"Baiklah.. aku akan masuk sekolah. Jadi kau jangan bolos ya?" jawabku, merasa keputusan ini adalah yang terbaik. Alis mata Rin mengerut, seolah-olah menunjukkan bahwa ia tidak setuju dengan keputusanku.
"Tapi, Len-kun..."
"A-aku bilang aku akan masuk sekolah, kau sebaiknya segera bersiap-siap!" aku memotong ucapannya, dengan nada yang cukup tegas meski terdengar sangat memaksa. Rin sedikit terkejut karena suaraku, dan sepertinya, dengan sedikit rasa takut segera pergi meninggalkan kamarku.
Dengan lunglai, aku segera beranjak dari tempat tidurku, berjalan keluar kamar dan menuju kamar mandi. Kamar mandi tidak pernah terasa sejauh ini. Aku mendengar suara dari dapur, Rin sedang melakukan apa ya?
Air dari keran terasa sangat menyejukkan. Aku merasa sedikit lebih baik setelah mencuci muka dan berganti pakaian. Dengan segera, aku berjalan menuju dapur dan mendapati dua mangkuk oatmeal serta dua gelas susu hangat berada di atas meja. Rin yang melihatku segera membantuku untuk duduk di kursi. Hei, aku tidak sesakit yang kau bayangkan.
Oatmeal yang aku makan terasa hambar, namun segelas susu hangat terasa sangat membantu nafsu makanku. Seraya menghabiskan bagiannya, Rin terus memperhatikanku. Merasa sangat tidak nyaman karena terus diperhatikan, aku membuka mulutku.
"Aku tidak apa-apa. Kau tidak perlu khawatir," ujarku. Rin tidak membalas perkataanku, namun ia mengalihkan pandangannya dariku.
Setelah menghabiskan sarapanku, aku segera mengambil obat dari kotak obat yang tidak jauh dari meja makan. Rin dengan cekatan segera memberiku segelas air putih. Hee, anak pemalas yang sama sekali tidak membantu ketika datang, ternyata bisa diandalkan juga pada saat seperti ini. Selesai meminum obat, aku segera mengambil tasku.
"Ayo kita berangkat sekarang," ajakku. Anak perempuan dengan pita besar di kepalanya itu hanya mengangguk dan mengambil tasnya, lalu mengikutiku.
Perjalanan ke sekolah terasa begitu panjang. Aku dan Rin berjalan tanpa mengucapkan sepatah kata, tapi aku tahu Rin sesekali memperhatikanku, bukan karena ia suka padaku, namun lebih karena ia khawatir dengan kondisiku. Aku sebenarnya merasa jauh lebih baik setelah meminum obat, namun aku memilih untuk diam, tentu saja karena merasa senang menyadari kalau Rin memperhatikanku.
Ketika kami sudah berada di dekat sekolah, aku sadar bahwa murid lainnya yang juga menapaki jalan yang sama sedang memperhatikan kami. Maksudku, aku ini populer di sekolah. Aku dikenal sebagai murid favorit para guru karena pintar. Selain itu aku juga dikenal sebagai orang yang atletis, dan... tampan, meski aku sendiri sebenarnya malu untuk mengakuinya. Jadi wajar saja apabila aku berjalan dengan anak perempuan, murid-murid akan mulai membicarakanku.
"Len-kun, kau tidak apa-apa?" Rin menatapku dengan matanya yang besar dan bulat itu. Aku membalas tatapannya, jarak kami berdua cukup dekat. Mulutku terbuka, namun tidak ada suara apalagi kata yang keluar.
"Wajahmu merah... Len-kun yakin tidak apa-apa?" Rin bertanya sekali lagi, menempelkan telapak tangannya ke dahiku. Tentu saja ada apa-apa, kau terlalu dekat dan semua orang memperhatikan kita!
"Wah! Apa yang terjadi?!" Aku menoleh ke belakang, mendengar suara tinggi yang terdengar menyebalkan, "Ternyata memang ada apa-apa denganmu dan Akita-san!".
Hatsune, teman sekelas sekaligus teman dekatku yang cukup menyebalkan berlari mendekati kami berdua. Matanya terlihat berbinar-binar seakan siap untuk mendengar pengakuan cinta kami berdua, yang tentu saja mustahil... setidaknya untuk saat ini.
"Itu hanya perasaanmu, Hatsune-san," ujarku singkat.
"Benarkah? Kau tahu kalau firasatku tidak pernah salah, dan kini ia mengatakan bahwa ada sesuatu antara kau dan Akita-san!" Hatsune tampak belum menyerah.
"...dan untuk pertama kalinya ia salah," aku mengomentari firasat Hatsune yang hebat, setidaknya menurut dia sendiri. Mendengarkan suara Hatsune yang terasa menusuk di telinga membuat kepalaku kembali terasa pusing. Rin tidak bersuara, ia terlihat sedang berusaha untuk memahami pembicaraan kami.
Aku, Rin, dan Hatsune segera menuju ke kelas sesampainya kami di sekolah. Aku merasa benar-benar ingin beristirahat. Suara Rin dan Hatsune terdengar di sebelahku, sepertinya mereka berdua sedang bercakap-cakap. Dengan lemas, aku meletakkan kepalaku di atas meja dan memejamkan mataku.
"Len... Hei Len!" Seseorang memanggilku seraya mengguncangkan tubuhku yang lunglai.
"..." Aku tidak mampu menjawab panggilannya.
"Len! Kau baik-baik saja?!" Nada suaranya terdengar mengkhawatirkanku.
Tiba-tiba aku tidak mampu mengingat apa-apa lagi.
Mengapa semuanya menjadi tidak terlihat?
Aku membuka mataku. Langit-langit sebuah ruangan yang tidak terlalu besar terlihat seperti sedang menyapaku.
"Dasar bodoh, kalau tahu sedang sakit, seharusnya kau tidak usah datang ke sekolah," seseorang berkata kepadaku. Aku mengenal suaranya, suara Piko.
"..." Aku berusaha untuk menjawabnya namun tidak ada suara yang keluar dari mulutku.
"Dokter jaga menyuruhku untuk menjagamu karena beliau ada urusan sebentar. Kau tahu, Akita-san terlihat sangat khawatir tadi," Piko meneruskan celotehnya. Aku tidak mendengarkan lanjutannya. Satu hal yang aku pikirkan adalah, Rin khawatir kepadaku. Entah mengapa aku merasa sangat senang.
"Hei, Len? Kau mendengarkanku tidak sih?" Piko menatapku, terlihat sebal karena aku tidak mengacuhkannya.
"...Aku mendengarkanmu kok," ujarku dengan susah payah disertai senyum lemah yang sepertinya terlihat sangat dipaksakan.
"Memangnya tadi aku bicara apa?" Piko bertanya, ia terlihat curiga dan tidak percaya dengan ucapanku.
"..."
"Ha! Aku tahu kalau kamu berbohong Len. Ah... sudahlah, sebaiknya kau beristirahat saja. Aku akan kembali ke kelas. Semoga lekas sembuh, Len," Piko berkata seraya meninggalkanku di ruang kesehatan.
Aku terus menatap langit-langit ruang kesehatan yang berwarna putih. Senyap, tak ada satu pun sumber suara dalam ruangan ini. Lampu ruangan juga tidak dinyalakan, namun ruangan terasa sejuk karena pendingin ruangan menyala.
Tiba-tiba aku mendengar suara pintu bergeser dan langkah kaki. Suara langkah kaki itu terdengar semakin dekat.
"Kagamine... Len? Itu namamu, bukan?" Seorang perempuan dengan jas putih bertanya padaku, sepertinya ia adalah dokter ruang kesehatan.
"...Iya," jawabku.
"Jujur saja, aku tidak mau sembarangan memberikan obat. Jadi kupikir, lebih baik kau beristirahat, siapa tahu kondisimu akan jauh lebih baik dengan beristirahat," ujar dokter sambil menulis catatan kecil, "kalau ada apa-apa bilang saja padaku," tambahnya sebelum meninggalkanku.
Aku mendengar seseorang membuka tirai pembatas yang menutupi tempat tidur yang sedang kugunakan. Mataku masih terpejam, sehingga aku tidak mengetahui siapakah yang membuka tirai.
"..." kudengar suara bisikkan yang sangat pelan, aku tidak bisa mengenali suaranya.
"AAH!" terdengar sebuah teriakkan yang cukup keras dan memekakkan telingaku.
"Sssh! Kau berisik sekali, Hatsune!" ujar seseorang setengah berbisik, aku mengenali suaranya.
Kubuka mataku, mendapati Piko dan Hatsune yang saling menatap. Piko kemudian menoleh ke arahku
"Len, kau sudah bangun ternyata!" Piko berkata seraya tersenyum, meski terlihat dipaksakan.
"Kagamine, kau harus tahu, seluruh siswa di kelas berusaha mendekati Akita-san!" ujar Hatsune dengan bersemangat.
Eh?
"Wajar saja sih, maksudku Akita-san kan siswi baru yang juga manis. Semua siswa langsung menanyainya macam-macam, dari alamat e-mail sampai alamat rumah!" Hatsune melanjutkan ceritanya.
"Lagipula, ia terlihat belum punya pacar," Piko menambahkan.
"...Dia sepopuler itu, ya?" ujarku, agak terkekeh. Haha, aku sudah mendekatinya lebih dulu dari kalian semua! Bahkan aku sudah menciumnya!
"Mengapa kau terkekeh, Len? Jangan-jangan benar kata Hatsune, ada sesuatu di antara kau dan Akita-san," tanya Piko, ia terlihat curiga.
"Firasatku benar, kan?" timpal Hatsune seraya menolakkan tangannya di pinggang.
"Bu-bukan begitu maksudku! Biasanya anak baru sulit mendapatkan teman, bukan? A-aku senang Akita-san bisa mendapatkan teman begitu cepat!" kataku mecari-cari alasan.
"Kau baik sekali, Kagamine, memikirkan orang sampai seperti itu," ujar Hatsune. Piko mengangguk, ia sepertinya setuju dengan perkataan Hatsune. Ahaha, mereka bodoh sekali. Padahal apabila Rin dikelilingi oleh para siswa, bukan berarti mereka adalah teman Rin.
Kami berbincang mengenai banyak hal, lebih tepatnya Hatsune dan Piko yang berbicara, sedangkan aku lebih banyak diam. Sejak pertama kali berkenalan, kami bertiga merasa cocok satu sama lain, meski aku harus mengakui Piko terlalu rewel, seperti seorang ibu, sedangkan Hatsune terlalu berisik. Piko dan Hatsune berusaha untuk mengecilkan volume suara mereka, karena kami sedang berada ruang kesehatan sekolah.
Secara mengejutkan, terdengar suara pintu yang bergeser cukup keras. Kemudian terdengar langkah kaki yang terburu-buru mendekat ke arah kami.
"Len-kun?" sebuah suara yang tidak asing bagiku memanggil namaku. Dia memanggilku diselingi dengan napas yang terengah-engah.
"Rin!" seruku karena terkejut. Aku langsung terbangun dari tempatku berbaring. Wajah Rin terlihat kusut, sepertinya ia datang ke sini dengan berlari. Rin kemudian mendekatiku.
"...Aku sudah bilang tadi pagi... sebaiknya Len-kun istirahat saja di rumah..." ujar Rin, ia terlihat sangat khawatir.
"...Aku sudah merasa lebih baik, Rin. Kamu tidak usah khawatir," aku berkata seraya mengusap kepalanya. Haa... rasanya seperti menjadi seorang kakak.
"Tadi pagi... di rumah..." ucap sebuah suara.
"Len-kun... Rin..." satu suara lagi menambahkan. Aku kemudian mengalihkan pandanganku ke arah suara tersebut.
...
Aku lupa ada Piko dan Hatsune!
"Benar kataku! Memang ada sesuatu antara kalian berdua!" Hatsune terlihat sangat gembira.
"Ternyata... kalian berdua menyembunyikan hal ini ya..." Piko terlihat masih tidak percaya.
"Ti-tidak! Tidak ada apapun di antara aku dan Rin!" Piko dan Hatsune tersenyum menyeringai, "Kami berdua hanya tinggal serumah dan..."
Aku menghentikan ucapanku.
Apa yang telah aku katakan?!
"Jadi kalian berdua tinggal dalam satu rumah?!" seru Hatsune tidak percaya.
"Sssh! Pelankan suaramu, Hatsune!" seru Piko dengan setengah berbisik.
"..." aku tidak mampu menjawab pertanyaan itu.
"Apa itu benar, Akita-san?" Piko bertanya kepada Rin.
Rin menjawabnya dengan anggukan.
Rasanya aku mau mati saja.
Meski sudah merasa jauh lebih baik, aku merasa malas untuk kembali ke kelas. Sebenarnya aku lebih ingin pulang, tapi begitu ingat Rin dan hal yang diceritakan oleh Piko dan Hatsune, aku mengurungkan niatku. Jangan sampai ada seseorang yang berani menyentuh Rin!
Piko dan Hatsune sudah berjanji untuk menjaga rahasia bahwa Rin tinggal bersamaku. Tentu saja, aku tidak menceritakan apa yang sudah kulakukan terhadap Rin kepada mereka. Sejujurnya aku tidak begitu percaya dengan ucapan mereka. Mungkin Piko bisa dipercaya, tapi untuk Hatsune, kira-kira berapa lama ia mampu menjaga rahasiaku?
Aku menggeser pintu kelas dan masuk. Seluruh kelas menatapku, namun aku tidak peduli. Aku kemudian duduk di kursiku, yang berada tepat di sebelah Rin. Rin sendiri memandangku, sepertinya ia masih khawatir.
Aku baru ingat kalau sekarang adalah waktu home room.
Wali kelas kami berbicara sesuatu di depan kelas, aku tidak memperhatikannya. Ia kemudian duduk di kursi. Piko, ketua kelas kami lalu maju ke depan kelas.
"Apakah ada dua orang yang bersedia untuk menjadi anggota komite pertamanan?" tanya Piko.
Anggota komite pertamanan? Tidak mungkin ada yang mau melakukan hal itu kecuali kalau ia memang benar-benar mencintai tanaman dan alam...
"Akita-san?" Piko berkata.
Aku dan seluruh kelas langsung menoleh ke arah Rin. Ia mengacungkan tangannya. Seluruh isi kelas menjadi berisik.
Kalau begini aku harus segera...
"Tanaka-san, ya?" Piko berkata lagi.
"YAA!" siswa yang bernama Tanaka mengayun-ayunkan tangannya di udara. Ia terlihat senang sekali.
"Kalau begitu sudah diputuskan, anggota komite pertamanan dari kelas kita adalah Akita-san dan Tanaka-san. Kalian berdua ditunggu di ruangan komite pertamanan setelah pulang sekolah," Piko terlihat senang, "jarang sekali ada dua orang yang mau menjadi sukarelawan."
Setelah Piko kembali ke tempat duduknya, bel tanda pelajaran sudah usai berdentang. Siswa dan siswi segera berberes dan berhamburan keluar. Hatsune kemudian mendekat ke arahku.
"Seharusnya kau mengacungkan tangan! Bisa-bisa Akita-san dekat dengan Tanaka!" ujar Hatsune.
"I-itu bukan urusanku!" kataku.
"Terlihat sekali loh, kalau Tanaka-san ingin mendekati Akita-san," timpal Piko.
Rin kemudian mendekati kami bertiga.
"Len-kun... pulang duluan saja hari ini...?" Rin berkata.
"Err... aku akan menunggumu. Aku masih tidak yakin kau bisa pulang sendiri," jawabku, meski sebenarnya hanya alasanku untuk tidak membiarkan Rin berdua dengan orang lain. Ha! Mau mencoba mendekati Rin, tidak akan kubiarkan!
"Kita bertemu lagi di sini, ya," ujarku menambahkan.
Rin mengangguk.
Tanaka-san berjalan mendekati Rin, wajahnya terlihat sangat berseri-seri.
"Akita-san, bagaimana kalau kita segera menuju ruang komite pertamanan? Kau belum tahu letaknya di mana, kan? Aku akan menunjukkannya padamu," ujar Tanaka. Celotehnya terdengar sok akrab di telingaku. Rasanya aku ingin meninjunya.
Rin mengangguk lalu mengambil tas miliknya. Mereka berdua berjalan berdampingan keluar kelas. Kami bertiga melihat tangan kiri Tanaka yang berusaha untuk memegang tangan Rin, namun Rin memindahkan tasnya dari tangan kiri ke tangan kanan, sehingga Tanaka mengurungkan niatnya. Piko dan Hatsune menahan tawa mereka.
"Sekarang, apa yang akan kita lakukan?" Piko bertanya.
"Kita akan mengikuti Akita-san dan Tanaka! Benar, Kagamine?!" Hatsune terlihat sangat bersemangat.
Sepertinya Hatsune bisa membaca pikiranku.
A/N: Ah sekali lagi saya berterima kasih buat semua yang sudah me-review fanfic saya ini. Maaf saya tidak bisa update cepat karena saya tidak punya banyak waktu. Sebenarnya sih, chapter ini udah cukup lama mendekam di laptop. Akhirnya baru dibuka dan dilanjutkan lagi ketika liburan sudah mau usai, ahaha.
Miki Abaddonia Lucifen e: Berasa jadi Len? Wah, ternyata sampai segitunya... Jadi serasa karena pujiannya...
Chisami Fuka e: Len sebenarnya lagi puber, jadi maklum ya jadi mesum. :P
Toki no Miko e: Masuk ke dalam cerita... waduh saya bingung mau balas apa, tapi entah mengapa sekarang merasa sangat tersipu.
ReiyKa e: Nggak hiatus kok, saya aja yang nggak pernah sempat buat nulis. Iya nih, saya udah jadi mahasiswa Sastra Jepang di sebuah PTN. ^^
Sekali lagi, terima kasih banyak untuk review-nya ya!
Listening to: Aimer
