Haloo readers semua, perkenalkan saya Yuki, atau phii, atau dorami, atau fil, atau *readers: udah cepat aja mulainya! Bawel banget sih lo! Gue gak peduli sama nama lo asal cepat mulai!* iya iya maaf deh, kan Cuma mau kenalin diri doang T3T
Ya udah langsung saja, karena saya orang baru disini, jadi mohon bantuannya ya senpai ^^ *bungkuk 90 derajat* ini adalah ff pertama yuki ^^
DISCLAIMER : KUBO TAITO-sensei ^^
*n.b.:pairing : ichiruki
Warning: gaje, abal, jelek
Yak, selamat menikmati cerita dan semoga suka ^^v
HE IS… ?
-Chapter 1-
Ibu.
Merah.
Dua hal yang sangat kubenci.
"Kak Momo, aku sangat bangga pada ibu," sang gadis cilik berambut hitam legam sebahu berkata seperti itu kearahku, gadis yang menginjak masa remaja dengan suara yang menggemaskan dan ceria.
"Kenapa begitu, Rukia?"
"Karena ibu sangat cantik dan baik, dan aku ingin menjadi seperti dirinya, persis seperti diri ibu!" adikku Rukia menjawab dengan nada yang semakin ceria.
"Oh, begitukah?" senyumku padanya.
"Ya!" senyuman terukir di wajahnya yang berpipi chubby itu, menggemaskan. Segera aku berjongkok dan agak membungkuk agar tinggi kami menjadi sama dan segera kucubit pipinya.
"Cacak! Cakiiik! Lepaciiin!" teriaknya padaku sambil memberontak dengan nada yang kesakitan. Aku hanya ketawa melihatnya seperti itu.
"Oh iya, Rukia mau ikut kakak tidak kesuatu tempat?" aku melepaskan cubitanku padanya dan mulai berdiri lagi.
"Kemana, kak?"
Tanpa menjawab pertanyaan Rukia, aku menarik tangannya dan memakaikan dia baju lalu mengganti bajuku sendiri dan segera mengunci rumah. Aku tidak perlu takut akan ayah yang akan memarahiku karena aku mengurungnya didepan rumah, karena ayahku sendiri sedang ada kerja yang perlu diselesaikan diluar kota. Lagipula ayah pun mempunyai kunci cadangan.
"Kakak?"
"Hmm? Ada apa?"
"Kita mau kemana sih?"
Aku tak menjawabnya. Hanya tersenyum pada gadis kecil berumur 3 tahun itu yang masih polos itu, membuat dia semakin tak mengerti maksudku.
"Rukia, lihatlah apa yang ada didalam ruangan ini, dan jangan berisik." Kataku padanya.
"Eeh? Kenapa kak?"
"Ayo, lihat saja."
Rukia segera menghampiriku yang tadi terlihat takut-takut karena belum pernah ketempat ini sebelumnya. Dia segera melirik kedalam ruangan itu dengan aku yang menggendongnya agar bisa melihat jelas. Sekilas kulihat wajahnya yang tak mengerti dengan apa yang sedang terjadi didalam. Tapi aku yakin gadis kecil ini mengetahui wanita yang menurutku nista itu sedang melakukan perbuatan tidak senonoh dengan tangan mesum beberapa laki-laki yang sedang menggerayangi bagian-bagian tubuhnya. Apa kalian tahu aku dan Rukia ada dimana sehingga ada tontonan gratis seperti ini? Benar, kami sedang ada di depan club dan sedang mengintip, karena kami masih terlalu kecil untuk masuk kesana. Bayangkanlah, gadis kecil berumur 3 tahun berada di sebuah club.
"Kakak, itu ibu kan?"
"Ya."
"Apa yang ibu lakukan disana kak? Kenapa banyak om-om yang memegang ibu? Dan kenapa ada cairan merah kental? Itu darah kak?" fuh, pertanyaan polos adikku akhirnya keluar juga.
Lagi-lagi, tak kujawab pertanyaan Rukia. Segera kutarik tangan mungil itu menjauh dari tempat itu.
"Sudah malam, ayo kita pulang, Rukia. Dan jangan masuk kesana hanya untuk mengajak ibu pulang juga," kulanjutkan kata-kataku padanya saat kulihat dia mau melepas genggamanku untuk kesana.
"Rukia, om-om yang memegang ibu tadi itu namanya monster merah." Jelasku pada Rukia.
"Monster merah?"
"Ya, monster merah itu jahat, Rukia. Yakinlah, banyak laki-laki didunia ini adalah monster merah. Tetapi tenang saja, ayah kita bukan monster merah. Kamu mengerti, kan?"
"Iya, aku mengerti. Tapi monster merah itu suka apa kak?"
"Mereka suka darah perempuan. Makanya, kamu harus berhati-hati terhadap laki-laki yang sebenarnya berwujud monster merah. Mengerti kan?"
"Un, baiklah. Tapi jika aku mempunyai teman laki-laki, bagaimana cara membedakannya dengan monster merah?"
"Hmm, laki-laki yang bukan monster merah adalah laki-laki yang baik."
"Hmm…" Rukia hanya manggut-manggut dengan apa yang kukatakan.
"Nah, sudah ya? Sekarang sudah malam, lebih baik kita tidur dulu, sepertinya ibu kita bakal pulang pagi."
Aku segera mengakhiri cerita tentang 'monster merah' itu. Aku tahu sebenarnya Rukia sama sekali tak mengerti, tapi ya sudahlah, dia masih terlalu kecil. Sebenarnya aku tahu aku salah mengatakan hal yang tidak seharusnya didengar oleh anak kecil seperti Rukia, tapi aku sudah terlanjur membenci ibu kandungku sendiri.
"Oh, dan Rukia." Panggilku padanya.
"Hn?"
"Apa kamu masih ingin menjadi seperti ibu yang sudah dinodai monster merah?"
Kulihat dia sedang berpikir sambil menggembungkan pipinya, lucu sekali.
"TIDAK!" teriaknya mantap. Aku segera mendekatinya lalu menepuk kepalanya.
"Bagus. Dan berjanjilah pada kakak jangan pernah mendekati monster merah, oke? Dan jangan menceritakan apa yang kita lakukan hari ini pada ibu ataupun siapapun. Ayo kita lakukan janji jari kelingking."
"OKE!" teriaknya lagi.
Dan rumah, bintang-bintang dilangit, dan malam itu menjadi saksi bisu perjanjian jari kelingking antara aku, gadis berumur 14 tahun yang membenci ibuku dengan adikku, anak kecil berumur 3 tahun yang masih sangat polos, Rukia.
Nah, bagaimana? Jelekkah? Abalkah? Gajekah? Burukkah? Banyak kekurangannyakah? Terlalu pendekkah? Jorokkah? *?* maaf bila jelek yah, senpai, senior, readers… yuki mengharapkan sekali review nya agar bisa membuat ff yang lebih bagus dari ini… katakan saja kekurangan yuki, pasti diperbaiki! ^^* jangan sungkan sungkan, yuki gak gigit kok! Hehe. Malahan ruki seneng kalo dapat review, mau berupa komentar, kritik, saran, atau malahan pujian! Waah ^^ asal kata katanya gak menyinggung. Mohon reviewnya ya, karena yuki masih pemula, jadi gak tau kesalahan yuki apa aja… makasih yang udah mau review nanti, dapat pahala, amiin! *puppy eyes* hoho, sekali lagi terima kasih… ini masih chapter satu kok, masih cerita jadulnya si Rukia, kemunculan ichigo nanti ada di chapter 2 ^^v oke, keep spirit for review, thanks! ^^ *ego mode: on*
